MONO SCANDAL 1st

mono scandal 1 copy

[Aku mencintainya, lalu kau mau apa?]

Teaser|

||

W-Building 2014, Seoul South Korea

            “Putar badanmu.. ya seperti itu.. oh tidak rambut kananmu biarkan tergurai.. apa ini? Kenapa make up-nya luntur?”

Aku mendengus seraya memutar bola mataku. Jengah. Sudah dua jam yang lalu kerjaanku hanya tersenyum di depan kamera seperti ini. Beberapa menit kemudian, asistenku menghampiri sambil memberikanku sebotol air mineral. Dia tersenyum. Aku membalas senyumannya sebentar.

            “Kau lelah?” tanpa ku jawab, aku hanya mengangguk lalu meneguk minumanku.

            “Yoong, apa kau lelah?” ulangnya sekali lagi yang entah mengapa membuatku semakin jengah. Kubalas pertanyaannya dengan gerakan kilat menarik handukku yang tersampir dibahunya. Kudengar ia menggerutu kesal, agak samar. Tapi aku tau dia menggerutu seperti ini: Hei-kau-belum-jawab-pertanyaanku-ish. Aku sedang tidak ingin bicara hari ini. Jika saja Appa tidak menyetujui perusahaan ini mengontrakku menjadi modelnya mungkin aku tidak akan selelah ini. Istirahat 15 menitku telah habis, kini aku harus kembali menarik kedua ujung bibirku dan memperlihatkan gigiku yang berderet rapi.

*

13 pm. Seoul South Korea

Aku bekerja seminggu 7 hari, dan dalam 20 jam setiap harinya. Kalian bisa membayangkan kapan saatnya bagiku untuk tidur atau hanya beristirahat memejamkan mataku. Awalnya, aku begitu menikmati semua ini. Namun aku tau, mereka seolah memanfaatkan wajahku dan keindahan tubuhku untuk menjadi pajangan disetiap media massa. Setiap harinya aku ditemani oleh seorang asisten yang Appa bilang adalah orang yang sudah terlatih mengurus orang sepertiku.

            “Yoong, akan kemana kita setelah ini?” tanyanya saat ia sedang mengemudikan mobilku. Kami biasa menggunakan mobil kantor. Appa bilang, ini untuk keamananku. Dia selalu bilang begini : Seoul adalah kota yang juga punya banyak catatan sejarah kejahatannya. Appa tidak ingin mengambil resiko jika ada musuh Appa yang mengincar nyawamu. Terkadang aku tidak mengerti dengan ucapannya. Terkesan begitu protective dan .. kolot mungkin.

                 “Yoong?”

            “Bisa tidak kau berhenti memanggilku dengan nama itu?” sinisku. Dia tertawa pelan saat menyadari tatapanku ia menutup mulutnya rapat-rapat.

            “Kita ke Café dulu. Tenggorokanku kering ingin mencicipi cappuccino buatan ahjumma Kim” tanpa berucap apapun. Ia menarik persneling mobil kemudian mengenjak pedal dengan kencang. Kecepatan penuh, seperti yang biasa dia lakukan. Tidak sampai 10 menit kami tiba di café langgananku saat SMA. Saat aku ingin melepas seat beltku ia memberikan ku topi dan masker. Ia bilang aku adalah public figure tidak baik berkeliaran tanpa penyamaran. Aku dengan kasar mengambil topi dan masker itu dari tangannya kemudian menggulung rambut panjangku dan memakainya. Tak lupa kaca mata hitam sebagai pelengkapnya.

Bel penanda tamu masuk ke café itu berbunyi. Aku dan asistenku melangkah menuju meja paling pojok dekat dengan jendela besar penyekat café ini dan dunia luar.

          “Anda ingin pesan apa Tuan dan Nyonya?” seorang wanita muda menghampiri meja kami. Lalu menyerahkan buku resep kepada kami dan asistenku yang mengambilnya. Aku memperhatikan wajah wanita muda itu dengan seksama sementara asistenku menyebutkan pesanan kami.

         “Yoong, kau pesan apa?”

          “mm, cappuccino” aku masih sibuk memperhatikan wanita muda itu.

          “Hanya itu?” Tanya asistenku lagi. Aku mengangguk. Kemudian ia menyebutkan pesanan kami pada wanita muda itu. Ketika ia mengerti ia pun tersenyum membuat aku semakin mengenal wajahnya.

             “Soo Jung?” desisku pelan. Pelayan itu menatapku bingung. Ah, kemudian aku segera membuka penyamaranku meski dilarang oleh asistenku.

              “Yoona unnie..” pekiknya kencang hingga membuat seluruh pengunjung café menatap kami. Aku mengisyaratkan agar ia mengecilkan volume suaranya. Ia mengangguk. “Bagaimana kabarmu unnie?”

Aku mengindikkan bahu dan tersenyum tipis. Kulirik asistenku yang sibuk memainkan handphonenya. “Seperti yang kau lihat. Aku masih berdiri di tempat yang sama dan bernafas dengan udara yang sama seperti mu”

Kami berbicara hanya sebentar kemudian ia pamit ke dapur untuk membuatkan pesananku dan asistenku ini. Aku kembali mengenakan topi dan maskerku.

*

              “Jadi, itu temanmu?”

Aku mengangguk. “Ya, lebih tepatnya dia, adik dari sahabat baikku”

Kini giliran dia yang mengangguk. Aku mengalihkan pandanganku menatap rintik hujan diluar sana. Hujan, banyak mereka yang bilang membenci hujan dan menyukai hujan karna hal yang berbau pribadi. Tapi menurutku, seharusnya hujan hanya perlu di syukuri karna itu adalah berkah dari Tuhan. Aku menoleh ketika merasakan sesuatu yang bergetar mengagetkanku. Kemudian aku merogoh tasku mengambil handphoneku. Sebuah pesan singkat dari Appa.

Fr : Appa

 

Calista, malam ini kita akan makan malam di rumah relasi perusahaan Appa

Aku menarik nafas sedalam-dalamnya kemudian kuhembuskan lagi. Oh, mungkin kalian bingung mengapa Appa memanggilku dengan nama berbeda. Sejujurnya, itu adalah identitasku saat ini. Aku adalah Calista Im. Dulu namaku adalah Im Yoona, nama pemberian dari Ummaku. Namun aku tidak ingin dan tidak akan pernah mempergunakan nama itu lagi karna aku tidak menyukainya. Aku nyaris menjatuhkan handphoneku ketika mendapati asistenku menatap dengan tatapan bingung sekaligus heran. Dia menatapku seolah bertanya ada apa. Kuhembuskan nafasku (lagi).

                 “Appa, mengajakku untuk makan malam di rumah relasi perusahaannya”

Dia mengindikkan bahunya tidak peduli. Aku hendak membuka mulutku namun Soo Jung datang membawa pesanan kami setelah itu dia pamit lagi kembali ke dapur. “terima kasih Soo Jung-ah” dia tersenyum manis lalu mengangguk. Aku menyesap aroma cappuccino buatan ahjumma Kim.

*

Im House. South Korea

2 jam aku menghabiskan waktu di café milik ahjumma Kim. Sesampainya aku di rumah. Kulihat Appa, sudah berdiri di depan pintu dengan kedua tangannya yang terlipat di dada. Persis seperti yang dia lakukan saat aku sekolah dulu. Dia mendengus sambil menatap tajam bergantian kearahku dan asistenku.

                “Bukankah pemotretan sudah selesai sejak 2 jam yang lalu?” tanyanya sinis.

              “Aku habis mampir ke café Ahjumma Kim” balasku sambil melangkah masuk ke dalam rumah di ikuti oleh asistenku. Appa membalikkan tubuhnya menatap kepergianku menuju kamar. “Calista, bukankah sudah kubilang. Nanti malam kita akan ada acara makan malam dirumah relasiku?”

Aku tertawa kencang kemudian memelototinya. “Aku bahkan tidak melupakannya. Sudah kurekam jelas di otakku” jawabku sambil memegang kepalaku.

“Dan oh iya, apakah relasi ini begitu penting sampai kau menyempatkan dirimu pulang cepat kali ini? Kau bahkan tidak pernah melakukan itu sebelumnya meski saat hari kematian Umma” lanjutku lalu berlari ke kamar.

Aku begitu sensitive dengan sikap Appa-ku. Sejak dulu, dia tidak pernah memikirkan aku atau bahkan Umma. Yang dia tau hidup hanya dihabiskan untuk mencari uang. Umma-ku sudah meninggal sejak 15 tahun yang lalu saat aku berusia 8 tahun. Dia bahkan hanya sempat menghadiri saat pemakamannya selama 10 menit setelah itu kembali ke kantor dengan alasan ada meeting dengan kliennya. Aku akan menceritakannya pada kalian sedikit tentang aku. Aku adalah Calista Im, aku adalah anak dari Im Seulong. Appa-ku adalah pemilik sah Im Coorporation. Perusahaan yang bergerak di bidang fashion. Di Negara kami, Appa-ku memiliki 20 saham di daerah yang berbeda-beda. Tidak, aku tidak bermaksud menyombongkan diri. karna aku tidak bangga dengan semua itu. Dan aku, sejak berusia 15 tahun aku telah di kontrak oleh W-Entertainment sebagai modelnya. Aku tidak mengerti mengapa Appa menyuruhku untuk menjadi seorang public figure, apa uang yang telah dia miliki kurang sehingga ia menyuruhku untuk mencari uang juga? Entahlah.

Dan asistenku adalah orang kepercayaan Appa. Namun aku seperti telah mengenalnya sejak lama. Padahal aku dan dia bertemu saat aku berusia 19 tahun dan ternyata kami sebaya. Membuat kami menjadi layaknya saudara. Satu hal yang aku tidak pernah bisa mengerti sejak awal pertemuan kami adalah. Dia memanggilku dengan nama korea-ku. Nama yang selalu aku kubur sejak lama. Aku tidak pernah menanyakan padanya kenapa dia selalu memanggilku dengan nama berbeda. Dan aku tidak pernah bertanya, dari mana dia mengetahuinya.

*

            Tok-tok

            “Yoong, bolehkah aku masuk?” aku tau itu adalah suaranya. Aku berdehem kemudian menarik selimutku hingga menutupi seluruh tubuhku. Kurasakan tempat tidurku bergetar saat ia duduk disampingku.

            “Kenapa kau belum bersiap-siap?” tanyanya sambil menyampirkan selimutku agar wajahku terlihat. Kemudian dia membelai rambutku. “aku malas. Kenapa kau terkesan seperti memaksaku?” balasku sengit. Aku mendengarnya tertawa kencang. Dia selalu seperti itu, dia mengingatkan aku pada seseorang.

            “Aku hanya bertanya Yoong, Appamu berpesan agar aku membantumu bersiap-siap. Sepertinya ini relasi yang berbeda mungkin?” aku mengiyakan ucapannya. Apa makan malam dengan relasi kali ini akan berbeda?

            “Kurasa juga begitu. Apa kau mau menemaniku nanti? Akan membosankan pasti jika makan malam ini begitu berbeda” tanyaku penuh harap. Dia tersenyum sambil masih terus membelai rambutku. “Tidak Yoong, tapi aku akan mengantarmu nanti. Dan aku akan menunggumu di meja yang lain. Jika terjadi apa-apa kau hanya perlu teriak. Lalu aku akan menghapirimu dan-BLAM..” ucapnya penuh semangat. Sambil memperagakan gaya meninju seseorang. Aku tertawa lalu memeluk tubuhnya. hanya dia yang mengerti apa yang aku rasakan. Hanya dia yang tau seberapa buruknya hidupku ini. Dan aku tidak ingin dia pergi meninggalkan aku.

            “Ayo bersiap, aku tidak ingin Appa-mu akan memarahimu saat tau kau belum bersiap-siap” dia menarikku dari tempat tidur kemudian memberikan aku handuk.

*

            Sekitar jam 7 malam aku tiba di Restaurant mewah tempat Appaku mengadakan janji. Kami berbeda mobil, karna dia berangkat lebih dulu dari aku. Lebih baik begini, karena aku sungguh tidak nyaman ketika bersamanya. Meskipun dia adalah Orang tua kandungku sendiri. Asistenku mengendarai mobil porche milikku dengan kecepatan di atas rata-rata. Untung saja jalanan begitu sepi yang entah mengapa seolah mendukungku agar sampai disana tepat waktu.

            “Kita sampai..” ucap asistenku.

Aku menghempaskan tubuhku pada senderan bangku. Aku merasa, ini akan membosankan dan.. eergh. Seharusnya sejak awal aku mengajukan perjanjian dengan Appa, agar aku tidak pernah mengikuti acara penting bersama relasinya seperti ini. Aku bukan istrinya. Karna aku mungkin hanyalah putrinya, aku hanyalah tamengnya.

             “Yoong, kenapa kau tidak turun?” aku mengerjapkan mataku pelan. Kemudian aku menoleh menatap asistenku. Tatapan memelas, agar ia mengerti bahwa aku tidak ingin datang kesana. Kulihat dia menghela nafas, kemudian melepaskan seat belt yang dia kenakan. Lalu meraih seat beltku dan melepaskannya. Setelah itu dia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Menatapku seolah-olah aku adalah wanita-nya. Tatapan yang biasa dia lakukan ketika aku rapuh. “Kau percaya padaku bukan Yoong? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan ikut masuk kedalam. Dan aku akan menjagamu. Kau percaya padaku kan Im Yoona?”

Rasanya aku ingin sekali meremukkan wajahnya seketika saat aku mendengar dia menyebut nama itu lagi. Namun aku hanya mengangguk, aku percaya padanya. Karna memang hanya dia satu-satunya orang yang bisa kupercaya. Tapi, entahlah perasaanku benar-benar tidak enak saat ini. “Sekarang kau harus bersikap seperti seorang bangsawan yang disegani setiap orang Yoong. Kau harus bisa. Aku di belakangmu. Tidak perlu khawatir” ucapnya sambil membuka pintu mobilku. Aku bahkan tidak sadar kapan dia keluar dari mobil.

Aku menarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan sebelum akhirnya aku melangkahkan kaki kananku keluar dari mobil. Dia ada di sampingku, menarik lenganku agar berpegangan dengan lengannya. Saat kami sampai di depan pintu masuk seorang pelayan tersenyum ramah pada kami.

*

Beverly Restaurant, South Korea

               “Selamat malam, apakah ada yang bisa Saya bantu?” dia menarik pintu itu agar terbuka.

Aku mengangguk, “Aku sudah membuat janji dengan Tuan Im”

Kemudian dia berjalan di depan kami, saat mataku menjelajah setiap sudut restaurant ini. Aku melihat Appa melambaikan tangannya kearah kami. Saat aku ingin melangkah ke arahnya. Asistenku menarik lenganku pelan. Aku menoleh kearahnya. Ia memegang kedua lenganku. “Aku akan tunggu disini. Di meja sebelah sini. Kau percaya padaku bukan?” tanyanya lagi.

            Aku mengangguk dan tersenyum tipis padanya. Kemudian aku membalikkan badanku kembali berjalan menuju meja yang terkesan mewah itu. Ketika tiba di sana pelayan yang mengantarku berpamitan untuk pergi, aku pun mengangguk. “Selamat malam, maaf aku sedikit terlambat” ucapku sambil memaksakan tersenyum.

            Aku melihat hanya ada Appa dan seorang pria yang mungkin usianya berada 1 tahun di atasku. Mereka menatapku dengan tatapan menusuk, seolah aku adalah buronan yang sedang mereka cari. Appa mengangguk, kemudian menyuruh aku duduk.

            “Kau mengajaknya?” Tanya Appa sinis sambil menatap asistenku yang sedang berbicara dengan pelayan di meja sebrang. Aku mengindikkan bahuku tak peduli.

            “Disini tidak ada larangannya kan? Lagipula dia adalah asistenku dan dia harus berada ditempat saat aku berada” sahutku sengit. Aku melirik pria itu yang masih terdiam sambil menatap cappuccino dihadapannya. Apa dia menyukai cappuccino juga? Saat aku menatapnya, dia balik menatapku seolah dia merasa sejak tadi aku menatapnya.

            “Ada apa?” tanyanya dingin. Aku menggeleng, Appa berdehem mencoba membuat keakraban diantara kami. “Calista, ini adalah relasi Appa yang baru. Dia adalah bussines man yang sedang di bicarakan di dunia usaha” jelas Appa.

            Aku nyaris tertawa sebelum aku segera menutup mulutku, apa hubungannya dia seorang pebisnis muda dengan aku? Apa Appa berniat untuk menjodohkan kami? Aku mengindikkan bahu, kemudian aku mencoba mengambil cappuccino dihadapanku. Namun sebuah tangan dingin menahanku. Aku melihat tangan pria itu berada di atas tanganku. Aku menyipitkan mataku menatap tajam kearahnya. Segera ku hempaskan tangannya dari tanganku.

            “Saya menghormati Anda sebagai relasi dari Appa saya Tuan. Tapi bisakah Anda membalas untuk menghormati Saya sebaliknya?” tanyaku sinis. Kemudian aku membuang muka menatap asistenku yang kini tersenyum manis menatapku. Dia biasa melakukan ini padaku, namun entah mengapa senyumannya kali ini membuatku begitu tenang. Aku kembali menatap pria di sebelahku saat tawa nyaring kudengar. Suara tawa darinya. Kurasa dia sudah tidak waras.

             “Aku harus pergi sepertinya..” aku bangkit mencoba berdiri dari kursiku saat itu juga aku mendengar Appa menggeram layaknya singa kelaparan. Dia menatapku menyuruhku kembali duduk. Tidak, aku tidak ingin berada dalam situasi ini lagi. “Calista! Duduk kembali” pekiknya.

Aku menggeleng, “Maafkan aku, Appa..”

Aku memutar tubuhku meninggalkan Appa dengan pria tidak waras yang tidak kukenal sama sekali. Kulihat asistenku juga ikut berdiri saat aku ingin berjalan ke arahnya.

                 “Calista..” suara berat itu menghentikan langkahku. Namun aku tidak memutar tubuhku.

                 “Kau benar-benar tidak mengenalku?”

To Be Continued

Oh, Maaf beribu maaf aku telat ngepost. aku udah mulai sibuk buat persiapan kuliah dan internetnya.. Errr ini menyebalkan banget. Kalian maukan maafin aku? untuk Chap selanjutnya aku usahain cepet deh. sebagai permintaan maafku, ini aku post cerita abal-abal buatanku lainnya di sini. Dan maaf ya buat kalian yang komen nggak sempet aku bales-satu-persatu. salam sayang buat kalian. salam kenal jugaa😀

88 thoughts on “MONO SCANDAL 1st

  1. Bagus ffnya aku suka🙂
    Aku penasaran yg jadi asisten yoona siapa ya?cewe atau cowo?

    Sama relasi temen papanya yoona penasaran nih🙂

  2. thoor,,,,,
    tiap baca harus comen pa gak sih,,,
    q sering lupa critanya,, jadi kalo ada chapter baru, q harus baca dari awal….

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s