P.A.R.I.S

PARIS copy

Im Yoona- Oh Sehun

*

[Persahabatan dan cinta, jika yang ada hanya dua pilihan itu mana yang akan kau pilih?..]

            Persahabatan keduanya begitu terlihat sempurna. Karna mereka dikaruniai wajah yang sangat rupawan. Tidak pernah ada yang tau perasaan apa saja yang ada didalam persahabatan mereka. Apakah murni persahabatan atau cinta? Entahlah,

||

           “Sehunnie, kau mau mengantarkanku ke toko buku siang nanti?” gadis itu menatap pria di depannya yang sedang sibuk dengan I-phonenya. Dia menunggu beberapa saat pria itu meresponnya. “Sehun..”

            Kini pria itu mendongak menatapnya. “Buku apalagi yang ingin kau beli Yoona?”

            Yoona, -gadis itu mempoutkan bibirnya kesal. Dia mendengus kemudian membenturkan kepalanya diatas meja. “Kalo kau tidak mau mengantarku ya sudah”

Pria berkulit porselen yang dia panggil dengan nama Sehun itu tertawa pelan kemudian membelai rambut halus milik Yoona. Dia selalu tertawa dengan tingkah gadis yang sudah sejak kecil menjadi sahabatnya ini. “Baik-baiklah aku akan mengantarmu pergi ke toko buku nanti. Sepulang sekolah aku akan menunggumu di parkiran. jika kau terlambat semenit saja.. kau tau kan aku akan pergi kemana?”

            Yoona mengangguk dengan wajah datarnya. “Ya,ya aku tau. Kau pasti akan menjalankan misimu untuk merebut hati Taeyeon unnie”

            Sehun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Yoona. “Kau memang pintar sekali. Aku bangga menjadi sahabatmu” Setelah itu Sehun beranjak pergi meninggalkan Yoona yang masih meletakkan kepalanya diatas meja dengan pasrah. Dia tau, Sehun hanya menganggapnya sebagai sahabat. Ya, seharusnya dia menyadarinya sejak awal. Meskipun Sehun adalah cassanova di kampusnya. Meskipun dia adalah gadis satu-satunya yang bisa setiap saat dekat dengannya. Tapi, dia hanyalah sahabatnya. Tempat pria itu mengeluarkan segala keluh kesahnya.

            “Hey, bro. pasti habis bertemu dengan Yoona?” Kim Jongin atau Kai. Menyapa Sehun ketika baru masuk kedalam ruang kelasnya. Sehun mendengus ketika melihat teman-temannya, menatap bodoh kearah dirinya. “Ada apa dengan tatapan kalian ini?”

            Suho, tertawa kemudian menarik lengan Sehun agar duduk disebelahnya. “Kau harus tahu Sehun, kau itu adalah pria bodoh yang menyia-nyiakan gadis secantik Yoona” cetus Chanyeol.

            Sehun menatap tajam kearahnya. “Apa maksudmu?”

            “calm down bro, Chanyeol hanya bercanda” Kai menimpali. Chanyeol menggeleng dengan tatapan tidak bersalah. “Aku serius, jika aku menjadi Sehun. Aku sudah memacari Yoona dan aku akan bahagia. Bukan bertindak naïf karna menganggapnya sebagai sahabat saja”

            “Kenapa kalian jadi membicarakan Yoona sih?” sungut Sehun.

            Suho, memegang bahu Sehun menenangkan. “Kau menyukainya kan Sehunnie?”

            “Hey- jangan memanggilku seperti itu. Hanya Yoona yang boleh memanggilku sepe-” Sehun menghentikan ucapannya ketika melihat teman-temannya semakin menatap bodoh kearahnya. “Kau marah? Kau menyukainya Sehunnie..”

            Sehun berdiri lalu meninggalkan ruangan kelasnya. Diluar kelas Sehun terdiam, mungkinkah aku benar-benar menyukai Yoona?

            Yoona berdiri di parkiran sejak satu jam yang lalu. Dan sejak saat itu belum ada tanda-tanda Sehun akan datang. Berkali-kali dia melirik arlojinya, mungkin setelan jamnya terlalu cepat, atau mungkin Sehun masih ada pelajaran tambahan dikelasnya. I-phonenya bergetar, dan tertera nama Sehun dilayarnya

“Hallo,.. kau dimana Sehun?.. Apa? Mengantar Taeyeon unnie?.. Yasudah baik, aku akan pergi sendiri.. tidak, aku tidak apa” Flip. Sambungan dengan Sehun terputus. Yoona merasa seperti ada sebuah batu yang menghantam jantungnya, sehingga dia terasa begitu sesak. Matanya mulai memerah, Yoona mencoba berjalan pelan meninggalkan area kampus. Sampai ada sesuatu yang menempel dibahunya. Sebuah tangan, Yoona lekas menoleh. Itu Soo Young Unnie-nya.

“Sedang apa kau disini Yoong? Bukankah kau ada janji pergi ke toko buku dengan Sehun?” Tanya Soo Young. Yoona menggeleng lemah, mencoba membuang muka dihadapan Soo Young agar gadis itu tidak tau bahwa dia sedang menahan tangis. “Yoong..”

Yoona menghembuskan nafasnya. “Batal unnie..”

“Yoong..” tanpa babibu Soo Young memeluk adiknya itu. Awalnya Yoona hanya terdiam, kemudian Soo Young mulai merasa tubuh gadis itu bergetar. Tangisnya tumpah. “ssshh- sudah Yoong, sudah. Ayo aku kita pulang”

Sehun berlari dengan nafas tersengal-sengal. Andai saja motornya tidak mogok. Mungkin dia masih keburu untuk mengantar Yoona ke toko buku. Sehun merasa teramat bersalah pada Yoona yang sudah menunggunya. Larinya terhenti ketika memastikan bahwa suasana kampus telah sepi. Sehun menundukkan kepalanya menyesal. “Maaf, maafkan aku Yoongie” gumamnya

            Yoona mengetuk-ngetukan jarinya diatas meja belajarnya. Pikirannya menguar pada kejadian saat Sehun membatalkan janjinya. Memang Sehun tidak pernah mengingkari janji padanya. Tapi kenapa dirinya harus menangis? Untung saja dia hanya menangis didepan Unnienya. Bagaimana jika didepan orang lain? Uh, Ini benar-benar memalukan buat Yoona. Dia hanya sahabat Sehun.

Tok-Tok. “Yoong, kau sibuk?”

Itu suara Sehun, dalam hati Yoona bersorak. “Yoongie, kau didalam kan? Ayolah ini aku Sehun”

Yes! Yoona menarik kepalanya dari atas meja. Dia merapihkan bajunya yang berantakan. Dengan cepat berlari kearah pintu, namun dia menginjak sesuatu dan… Bruuuuk

“awww..” ringisnya pelan.

“Yoona ku mohon maafkan aku” Ucap Sehun sekali lagi. Yoona mengangguk. Iya, iya sabar dong. Aku kesakitan nih.. batin Yoona.

Cklek!

Yoona tergelak melihat Sehun didepan kamarnya dengan style yang.. err –Tampan-. Senyum tipis terpancar dari wajah Yoona, namun dengan cepat raut wajah itu berubah datar.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yoona tanpa menatap Sehun. Sehun menghela nafas pelan. Dia mencoba menatap Iris madu dihadapannya.

“Aku.. ingin meminta maaf padamu Yoongie” Yoona menarik nafas dalam-dalam. Sehunnie.. Kau tidak perlu meminta maaf padaku batin Yoona.

Sehun masih menatap Yoona yang menunjukkan wajah datarnya. Pria itu berkali-kali menarik nafasnya dengan pelan.

“Aku dan Taeyeon, kami hanya teman” jelas Sehun. Yoona mengernyit tanpa menatap wajah Sehun. Hanya teman? Bukankah dia mengatakan jika dirinya menyukai Taeyeon unnie?

“Terus?”

“Ayolah Yoong, hentikan suasana ini. Aku ingin meminta maaf padamu. Aku ingin bercerita kalau aku-”

Yoona menatap Sehun. “Kalau kau sedang patah hati, gitu?” potong Yoona.

“Aku lelah Sehun..” bisik Yoona. Sehun menatap wajah Yoona dengan bingung.

“Kau tidak mengerti, bagaimana mungkin aku memiliki sahabat yang dijuluki Cassanova sepertimu? Padahal kau selalu gagal dalam hubungan” ejek Yoona.

Sehun tertawa pelan. “Kau menyindirku? Kau.. aish!!!” Sehun mengelitiki pinggang Yoona membuat gadis itu kegelian.

“Hentikan, Sehunnie. Hentikaaaaan” pinta Yoona. Sehun masih tertawa pelan. “Aku mau menghentikannya jika kau memaafkan sahabatmu yang tampan ini Yoong”

Yoona meringis. “baiklah-baiklah. Aku memaafkan mu Sehun-ah, Karna sesungguhnya aku tidak marah pada mu”

“Jadi kau?” Tanya Sehun sambil berhenti mengelitiki Yoona. Yoona mengangguk.

“Ya, aku hanya berpura-pura” ucap gadis itu sambil memeletkan lidahnya dan mengambil langkah seribu untuk menghindari Sehun. “Aish, Im Yoona. Awas kauuuuu!!”

Yoona tertawa lebar menunjukkan alligator khasnya. Gadis itu kini bersama dengan teman-teman wanitanya. Sesekali, dia tidak bisa menghentikan tawanya itu. Tanpa dia ketahui Iris hazel itu menatap tak jauh dari tempatnya. Bahkan bibir mungil itu sesekali melengkung melihat sang gadis tertawa lebar.

“Berhenti menatapnya terus-menerus. Kau bisa membunuhnya Sehun-ah” ucap Suho mengejutkannya. Wajah Sehun memerah ketika dipergoki sedang memandang Yoona. “Yoona cantik sekali. Meskipun tawanya begitu lebar” samber Kai. Pletakk

Sehun menjitak kepala Kai. “awww, apa yang kau lakukan sih?”

“berhenti melihat Yoona dengan tatapan se-intens itu” ancam Sehun pada Kai.

Suho tersenyum tipis sambil ikut menatap Yoona dan kawan-kawannya. “Semakin lama- kau benar-benar terlihat sangat menyukainya Sehun-ah”

Sehun mendesah. “Tsk, Hyung sudah ku katakan jangan bicara soal itu lagi”

“Sehun-ah, kau yakin tidak menyukainya?” Sehun mengangguk.

“Bagaimana bisa kau tau tidak menyukainya?” ikut Suho. “Mudah saja Hyung, karna dia sahabatku”

“Kau mau membuktikannya pada kami?” Tantang Kai. Sehun mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Kau harus berpacaran dengan Yoona, dengan begitu kau bisa tau kau menyukainya atau tidak” Sehun membulatkan matanya. Kedua tangannya tanpa sadar mengebrakan meja. “Apaaa!”

Kini semua tatapan pengunjung kantin kearah Sehun. Begitu juga Yoona yang menatapnya bingung. Ketika Iris itu saling bertemu. Sehun hanya menunjukkan deretan giginya.

“suaramu menyakiti telingaku” ejek Kai. Sehun masih terdiam. “apa maksud kalian dengan berpacaran? Bagaimana mungkin kami berpacaran? Kami hanya bersahabat”

Suho menatap Kai lalu mengangguk. “Aku dan Kai mengadakan taruhan. Jika kau berhasil menjadikan Yoona kekasihmu. Aku dan Kai akan memberikan porche terbaru untukmu. Dan sebaliknya, Jika kau kalah dan tidak berhasil kau memberikan kami porche. Mobilnya hanya satu. Kau setuju?”

“Jika aku berhasil berpacaran dengannya bagaimana?” Tanya Sehun. Suho menampilkan smirknya. “Jika kau berhasil, kita akan melihat dari lamanya kau bertahan. Apa hanya 1 minggu atau 1 bulan dan seterusnya”

Sehun menopang wajahnya dengan kedua tangannya. “Baiklah.. Aku setuju”

            Sehun memutuskan untuk ikut taruhan yang dibuat oleh, Suho dan Kai. Tidak ada yang tahu bahwa keputusan asal Sehun akan mengubah segala jalan kehidupannya selama ini. Bertaruh untuk menjadikan Yoona kekasihnya? Sehun hanya ingin membuktikan bahwa dirinya memang tidak menyukai Yoona. Ya, hanya itu..

“Kau hari ini ada acara Yoongie?” Tanya Sehun antusias. Yoona menaikkan kedua alisnya heran. Tidak biasanya Sehun bersikap lembut seperti itu padanya. “Tidak ada, kenapa?”

Sehun tersenyum manis membuat jantung Yoona berdetak lebih cepat. “Hari ini ada film baru launching. Apa kau mau menonton premiere-nya bersama ku?”

Lagi-lagi Yoona mengernyit tak percaya. Sehun mengajak ku nonton. Apa itu artinya aku dan Sehun akan … kyaaaaa batin Yoona bersorak.

“Baiklah, jam berapa?” Yes! Ternyata mengajak Yoona untuk pergi bersama sangatlah mudah. Semoga rencana ku berhasil “Jam 7 malam. Aku akan menjemputmu dan izin pada Im ahjumma dan Soo noona”

“eung, baik-lah Sehun-ah” ucap Yoona ragu. Sehun tertawa pelan, kemudian dia mengecup dahi lebar gadis itu. “Sampai ketemu nanti malam ya Yoongie, berdandanlah yang cantik” akhir Sehun lalu berjalan meninggalkan Yoona yang masih mematung. Yoona menatap punggung Sehun yang kian menjauh. Barusan Sehun mencium keningku? Ya tuhan apa ini mimpi?. “Sampai ketemu nanti malam juga Sehunnie..” gumam Yoona sambil tersenyum manis

Yoona berdiri didepan gedung bioskop seperti yang dijanjikan oleh Sehun. Sore tadi, Pria itu menelfon Yoona dan meminta maaf bahwa tidak bisa menjemputnya. Yoona teramat kecewa. Bukankah Sehun bilang ingin meminta izin pada kedua orang tuanya? Sekali lagi, Yoona melirik arloji rilakkuma miliknya. Sudah lebih 30 menit dari waktu yang dijanjikan. Kemanakah Sehun? Tangan mungilnya merogoh kedalam tas-nya. Kemudian mengambil I-phone miliknya.

Bip!

“Hallo” Yoona tersenyum ketika suara berat itu menyapanya.

“Kau dimana?” tanyanya to the poin. Terdengar helaan nafas dari sebrang.

“Aku dijalan nona cantik. Disini macet sekali”

“Apa kau masih lama? Pemutarannya sudah dimulai..” balas Yoona pelan.

“5 menit, aku akan datang Yoona”

“baiklah..”

Flip!

Yoona lagi-lagi menghela nafas pelan. Harusnya dia sadar makhluk seperti Sehun itu jauh dari kata on-time. Dan kini dia harus rela merasakan terpaan udara malam yang begitu dingin.

“Ini sangat dingin, seharusnya aku memakai cardigan tadi” gerutu Yoona. Matanya mulai berair dan sesekali menguap. mengapa tiba-tiba dirinya merasa kantuk? Yoona memilih duduk didekat sebuah pohon besar lalu menyenderkan tubuhnya. Perlahan matanya mulai terpejam. Dari sana, terparkir sebuah porche keluaran terbaru. Didalamnya sosok pria sedang memperhatikan Yoona yang mulai terlelap.

“Sampai kapan kau akan biarkan dia tidur diudara sedingin ini Sehun-ah?” Tanya Suho. Sehun tersenyum tipis. “beberapa detik lagi hyung, ketika Yoona menggigil. Aku akan menghampirinya”

Bibir mungil itu mulai gemetar. Berkali-kali kedua tangan mungil itu saling bergesekan. Meski mata terpejam, gadis itu Nampak tidak tertidur pulas. Tapi, kemudian dia merasa udara disekitarnya mulai menghangat. Apa angin sudah pergi? Batinnya.

Kedua kelopak mata itu terbuka. Iris madu itu menatap Iriz hazel dihadapannya. Sehun- Pria itu tersenyum manis sambil mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Yoona. “Kau memang tukang tidur” ejeknya.

Yoona mendengus kasar. “Kau lama sekali Sehun-ah. Disini sangat dingin” gumam Yoona. Sehun tersenyum manis. “Kau sudah mengenakan Jaketku. Apa masih dingin juga?” ejek Sehun(lagi)

Yoona mengangguk. “Tentu saja, lihatlah aku memakai pakaian seperti ini diudara dingin begini” Sehun lagi-lagi tersenyum. “baiklaah..”

Greep!

Yoona hendak ingin berteriak jika saja Sehun tidak terus membenamkan wajahnya. Keduanya sama-sama terdiam merasakan angin yang semakin berhembus. Bahkan gadis itu sejak tadi membulatkan matanya sambil bergumam sesekali. Ya Tuhan, apa yang Sehun lakukan? Memelukku diudara seperti ini. Kyaaa jantungku. Ku mohon jangan berdetak terlalu kencang.. jangan sampai Sehun mendengarnyaa batin Yoona.

“Rambutmu sangat wangi”

“hmm,” Yoona hanya berdehem.

“eternity flame.. aku menyukainya”

“ya..”

“Yoona-ah..”

Yoona lagi-lagi berdehem. “hmm”

“Aku mencintaimu..” ucap Sehun dengan tenang. Yoona terbatuk. Kemudian mendongak menatap iris hazel itu dengan tajam. “Apa maksudmu?”

“Aku menyukaimu Im Yoona. Oh Sehun mencintaimu” tegas Sehun. Yoona menelan salivanya perlahan.

“Tidak.. Kau hanya bercanda. Kau pasti ingin mengerjaiku” Yoona menggeleng dalam pelukan Sehun, kemudian mendorong tubuh Sehun agar menjauhinya. Matanya mulai memerah. “Kau jahat Oh Sehun! Kau jahat!”

Yoona berlari menjauh dari Sehun, air matanya lagi-lagi tumpah. Dia tidak percaya semua ini adalah akal-akalan Sehun untuk membuat lelucon dengannya. Dia membenci Sehun, dia tau pria itu memang tidak benar-benar menyukainya. Dia membenci Sehun, sangat.

“Im Yoona..” Sehun berteriak ketika melihat sosok Yoona sedang berjalan dikoridor kampus. Yoona mempercepat langkahnya, berjalan menuju kelasnya. Sehun tidak tinggal diam, ia melebarkan langkah kakinya berusaha menjangkau Yoona. “Yoong..”

Sehun berhasil mencekal lengan Yoona, kemudian dia menarik lengan gadis itu agar mengikuti langkahnya. “Sehun stop! Kau mau membawa aku kemana? Stop Sehun!” pekik Yoona.

Semua orang menatap kearah mereka berdua, tapi Sehun tidak peduli. Dia tetap menarik Yoona, hingga langkah mereka terhenti di lapangan basket. Keduanya terlihat ngos-ngosan. Apalagi Yoona, yang kini telah menatap tajam kearahnya. “Kau gila Sehun! Kenapa membawaku kesini? Hah? Tidak cukup kau mempermainkan aku semalam?” teriak Yoona mulai terisak. Rasa sakit akibat kejadian semalam saja belum habis, kini Sehun mulai berulah lagi.

“Yoong, dengar aku..” Yoona menutup telinga dengan kedua tangannya. Sehun lantas menarik kedua tangan itu dan menggenggamnya. “Im Yoona, aku benar-benar serius dengan ucapanku yang semalam. Aku memang mencintaimu Yoong, sejak aku tau hanya kau yang selalu ada untukku. Hanya kau yang rela menjadi tempat keluh kesahku. Hanya kau yang mengulurkan tangannya untuk memelukku. Memberikkan bahunya ketika aku rapuh. Im Yoona, aku benar-benar serius dengan semua ini. Maukah kau menjadi kekasihku?”

“Terima..terima.. terima” Yoona sontak menyapu pandangannya kesekitar lapangan. Sejak kapan lapangan ini ramai? Setahunya tadi hanya ada dia dan Sehun. Kemudian semua banner mulai terpampang di atas ring basket. Sebuah tulisan Im Yoona, would you be my girlfriend? “Sehun.. hentikan.”

“Aku serius Im Yoona, apa kau tidak merasakan hal yang sama sepertiku?” Tanya Sehun. Yoona memejamkan matanya, apa yang harus dia jawab? “Sehun..”

Sehun memegang erat jemari Yoona. “Hanya iya atau tidak Yoong. Iya atau tidak?”

10 menit Yoona terdiam, kemudian dia menghela nafas, lalu mengangguk. “Baiklah aku mau Sehun”

“Yeeaay,” semuanya lantas berteriak kencang. Sehun langsung memeluk Yoona dengan erat dan berkali-kali mencium puncak kepala gadis itu. Senyumannya merekah, seperti ada kupu-kupu terbang di perutnya. Sensasi ini beda seperti sensasi yang dia rasakkan saat menyatakan perasaan pada Kim Taeyeon itu. Sedang, Yoona. Gadis itu hanya tersenyum manis sambil menikmati wangi farfum Sehun. Dan tentu berkali-kali berterima kasih pada Tuhan. Terima kasih Tuhan, terima kasih, batinnya.

Yoona berjalan pelan dikoridor kampus, entah pagi ini cuaca membuat ia menguap berkali-kali. Ini adalah hari pertama yang ia jalani di kampus sebagai kekasih Sehun. Kemarin ketika di rumah, dia bercerita pada Unnienya. Dan tanggapan unnienya berbanding terbalik dengan yang diharapkannya. Yoona memejamkan matanya mengingat ucapan unnienya itu

“Apa yang terjadi padamu Im Yoona? Sejak tadi kau tidak berhenti tersenyum?”

Yoona menatap SooYoung, kemudian memeluk unnienya. “Aku dan Sehun berpacaran unnie. Aku menjadi kekasihnya Oh Sehun” teriaknya.

SooYoung melepaskan pelukkan adiknya itu, kemudian memegang kedua lengannya. “Yoong, kau bercanda kan? Kenapa bisa? Astaga”

            Yoona mempoutkan bibirnya kesal. “Unnie, harusnya kau bahagia. Ternyata Sehun memiliki rasa yang sama seperti aku”

            “Yoong, kau harus pikirkan lagi. Sehun adalah playboy kelas atas. Kau pasti tau kan, kau sahabatnya sejak kecil. Selama ini dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda dia menyukaimu. Kau harus berhati-hati dengannya. Entah mengapa, aku.. punya firasat tidak enak” Jelas SooYoung. Yoona menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan ke kamarnya.

            “Sehun mencintaiku Unnie! Aku, tau itu!” pekiknya, meskipun ia merasa ucapan unnienya ada benarnya juga.

            “Hei, kau kenapa?” Sehun memeluk Yoona dari belakang membuat lamunan gadis itu buyar. Yoona menoleh kearah Sehun dan tersenyum. “Sejak kapan kau ada disini Sehunnie?”

            Sehun tertawa pelan lalu membenamkan wajahnya di bahu Yoona sesekali berpindah ke arah rambut Yoona, mencium aroma gadis itu. Kemudian semakin mempererat pelukannya. Yoona mendesah pelan ketika Sehun menyampirkan rambutnya sehingga tengkuk gadis itu terlihat. Kemudian mengecupnya. “Sehun, hentikan..”

            “Yoong,” desah Sehun.

            Yoona mencoba melepaskan pelukkan Sehun. Namun tidak berhasil, tenaganya kalah kuat dengan Sehun. “Lepas Sehun, kau tidak lihat. Mereka melihat kita”

            Sehun tertawa kencang lalu melepaskan pelukannya pada Yoona, tawanya semakin keras ketika ia melihat Yoona tengah menekuk wajahnya kesal.

            “Itu tidak lucu!” geram Yoona kemudian ia berjalan menuju kelasnya meninggalkan Sehun. Melihat itu Sehun segera berlari menyusul Yoona, Yoona memperlebar langkahnya sehingga semakin menjauhkan jaraknya dari Sehun. Jantungnya tidak berhenti berdetak kencang sejak tadi. Pikirannya menguar Apa yang Sehun lakukan tadi? Batinnya sambil memegang dadanya.

            Menurut Yoona, hari-hari yang telah dilewatinya semenjak menjadi kekasih Sehun tidak jauh berbeda dengan hari-harinya sebelum menjadi kekasih Sehun. Dia masih terus saja mendengar bahwa Sehun berkencan dengan gadis lain. Namun Yoona mengabaikannya, Yoona tau. Ucapan Unnienya itu memang harus benar-benar dipikirkannya matang-matang.

            “Kau senang Im Yoona? Kau senang karna telah menjadi kekasih Oh Sehun?” Yoona mendongak menatap gadis bertubuh mungil yang berdiri di depan mejanya.

            “Taeyeon Unnie..” Taeyeon-gadis itu mendengus.

            “Aku tau aku adalah sahabat baik kakak-mu Im Yoona, tapi bukan berarti kau bisa merebut apapun dariku!” Yoona mengerjapkan matanya. “Unnie, apa maksudmu? Aku tidak.. aku tidak merebut apapun darimu Unnie”

            Taeyeon menatap angkuh kearah Yoona. “Tidak merebut apapun? Kau tidak sadar? Kau mengambil Oh Sehun dariku Im Yoona!”. Yoona memejamkan matanya mendengar pekikan nyaring Taeyeon. “Unnie, aku dan Sehun hanya..”

            “Dengar, Aku akan memberitahumu satu kebenaran Im Yoona. Kau akan bernasib sama seperti aku dan gadis-gadis lain yang telah dicampakkan oleh Oh Sehun. Saat ini, Sehun akan terus mengatakan kata-kata manis padamu. Tapi setelah dia bosan, kau akan.. bussshhh! Hilang bagai debu di matanya” Taeyeon mendorong bahu Yoona pelan membuat tubuh gadis itu sedikit menubruk tembok dibelakangnya. Yoona menatap sayu kepergian Taeyeon. Lagi-lagi dia merasakan nyeri didadanya. Rasa sakit yang sama ketika melihat Sehun dengan gadis-gadis diluar sana.

            Inikah rasanya menjadi kekasih seseorang yang kamu cintai? Apakah rasanya sesakit ini? Yoona merasa ucapan Taeyeon ada benarnya. Apalagi beberapa hari ini Sehun seolah menghilang dari penglihatannya. Sekali lagi dia menarik nafas kemudian menghembuskannya.

“Apa benar aku akan dicampakkan seperti yang lainnya?” gumam Yoona

            “Kau seperti sedang menjauhi Yoona belakangan ini bro” Tanya Kai ketika Sehun sedang meminum bubble tea. Sehun mengindikkan bahunya. “Aku hanya melakukannya seperti biasa”

            Suho merangkul pria yang sudah dianggap adiknya itu. “Tapi Sehun-ah, kau akan menyakiti Yoona jika seperti itu”

            Sehun mendengus menatap ketiga temannya. “Bukankah aku berpacaran dengan dia hanya karna taruhan kita? Aku sudah melakukkan hal yang seharusnya aku lakukan. Lalu apalagi yang harus aku lakukan? Mengucapkan kata romantis setiap pagi untuknya? Atau merangkul dan menggandeng tangannya didepan umum?”

            Suho, Chanyeol dan Kai mendadak berkeringat dingin, buka karena ucapan Sehun melainkan karna seseorang yang telah berdiri dibelakang Sehun. “Sehun-ah..”

            “Aku benarkan Hyung, Kai? Aku benarkan? Lagipula, hubunganku dan Yoona sudah memasukki bulan ke dua dan itu adalah hubunganku terlama dari pada dengan hubungan-hubunganku yang sebelumnya. Jadi, aku ingin besok pagi porche itu sudah terparkir di depan rumahku” ucap Sehun sambil tersenyum bangga.

            “Seharusnya aku mendengarkan ucapan Unnie-ku sejak awal..” Sehun mematung ketika mendengar suara itu. Tubuhnya mendadak gemetar, suara itu begitu familiar ditelinganya. Suara yang sudah dia dengar semenjak dia berusia 5 tahun. Suara yang bahkan dari dulu tidak pernah berubah hingga sekarang. Perlahan dia membalikkan tubuhnya.

            Jantungnya mencelos ketika melihat gadis itu berdiri dibelakangnya, dengan tubuh yang sama gemetarnya seperti dirinya. Bahkan iris mata itu memerah, seolah ingin memberitahu padanya bahwa pemilik iris mata itu begitu terluka. Sehun memejamkan matanya, dia tidak bisa dan bahkan tidak mampu menatap iris mata itu. “Yoong..”

            Yoona memejamkan matanya, kedua tangannya terkepal. “Aku..” Yoona menarik nafas kemudian menghembuskannya pelan. “Aku membencimu Oh Sehun..”

Yoona berlari meninggalkan genk Sehun. Sehun menatap kosong kepergian Yoona. Dia tau, dia telah menyakiti gadis itu. Jadi Sehun akan memutuskan untuk menemui Yoona ketika suasana hati gadis itu sudah membaik. Dia tau, Yoona tidak akan pernah bisa marah padanya. Ya, Yoona tidak bisa marah padanya.

            “Kau begitu menyedihkan Oh Sehun..” desis Kai beranjak meninggalkan mereka juga.

            “Yoong, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?” Soo Young menatap khawatir kearah Yoona. Aneh memang, sejak pulang dari kampus tadi sore. Yoona hanya diam, bahkan makanan yang telah dia sediakan tidak dihabiskan oleh Yoona. Yoona tersenyum menatap Unnienya. Senyum yang begitu dipaksakan. Soo Young bergidik ngeri, Terakhir kali dia melihat senyuman itu ketika Yoona kecewa pada Sehun yang tidak menepati janjinya. “Yoong..”

            “Unnie, bisakah kau tinggalkan aku sendiri? Aku ingin sendiri Unnie” Yoona menatap Soo Young dengan tatapan memohon. Soo Young menghela nafas. Kemudian mengangguk. “Aku ada di luar jika kau perlu apa-apa Yoong”

            Yoona menatap sekeliling kamarnya yang terdapat banyak foto dirinya bersama Sehun. Dia tertawa sinis, inikah rasanya? Inikah perasaan yang dialami oleh gadis-gadis yang telah dicampakkan oleh Oh Sehun? Yoona ingin menangis, tapi entah mengapa air matanya sulit untuk keluar. Tawanya semakin keras, ketika mengingat kebodohannya mencintai seorang playboy seperti Oh Sehun.

            Sehun melirik kearah meja kantin disebrangnya. Meja yang ditempati oleh beberapa mahasiswi yang sedang tertawa. Tidak, Sehun tidak memperhatikan mereka semua. Hanya seseorang, gadis yang tawanya paling kencang dan paling lebar dari yang lainnya. Sehun tidak percaya, apa yang diperkirakannya ternyata meleset total. Dia pikir Im Yoona akan butuh waktu untuk sendiri beberapa hari. Tapi ini? Dia melihat gadis itu tertawa lepas seperti tidak ada yang terjadi kemarin. Apa Yoona juga tidak menganggap serius hubungan mereka? Entahlah, tapi saat memikirkan itu Sehun seolah merasa ada sesuatu menghantam dadanya. Baiklah, dia memutuskan untuk memotong urat malunya dan menemui gadis itu. Dia harus berbicara dengan Im Yoona.

            “Aku ingin berbicara denganmu..” ucap Sehun singkat membuat penghuni meja itu membisu, riuh yang tadi terdengar kini berganti keheningan. Penghuni meja itu melirik kearah Yoona yang memilih membaca bukunya. Sehun menarik nafas kemudian mengulang lagi ucapannya.

            “Aku ingin berbicara denganmu..” Kwon Yuri, salah satu dari mereka melirik takut-takut kearah Yoona. Kemudian menatap Sehun. “Emm, Sehun-ssi. Disini ada 7 orang dan kau ingin berbicara dengan siapa?”

            Sehun rasanya ingin mencakar wajahnya sendiri. Jelas saja sejak tadi Yoona mengabaikannya. Astaga, bodohnya dia. “Aku ingin berbicara dengan Im Yoo-”

            “Oh girls, maafkan aku. Aku ada janji dengan Unnieku hari ini. Jadi aku harus pulang duluan ya. Yuri Unnie tolong bayar pesananku ya. Ini uangnya” Ucap Yoona sambil meletakkan beberapa lembar uang diatas meja kemudian memasukkan bukunya dan menyampirkan tasnya dibahu. Sehun mematung melihat tingkah Yoona, dugaanya lagi-lagi meleset. Ternyata Yoona masih marah dengannya.

            “Dicuekkin sama Im Yoona, hem?” Tanya Chanyeol, diikuti dengan dengusan serta tatapan tajam oleh Sehun. Dia tidak mengerti, mengapa Yoona tega mempermalukan dirinya didepan umum. Apalagi, .. Oh, Sehun menatap Suho dan Chanyeol. Dimana Kai? Apa dia juga marah padanya? Tapi karna apa?

            Yoona tertawa melihat tingkah konyol Unnienya dengan sang kekasih. Awalnya dia ingin mencakar kekasih Unnienya itu ketika tau siapa orangya. Ya, Kim Jongin atau Kai adalah kekasih dari Im Soo Young Unnienya. “Unnie berhentilah bermanja-manja seperti itu di depan Unnie-ku”

            SooYoung dan Kai menghentikan kegiatan mereka dan menatap Yoona kemudan tertawa. Bagus, kini Yoona jadi bahan tertawa mereka. Harusnya tadi dia biarkan SooYoung bermanja-manjaan dengan Kai. “Maafkan aku sayang..”

            “Jadi..” Yoona menatap Kai dan Unnienya bergantian. “Sejak kapan kalian berpacaran?”

            “Sudah 2 tahun, tepatnya semenjak kau masuk Universitas. Saat Ospek aku dan Kai memiliki kejadian manis yang membuat kami semakin dekat” jelas Soo Young. Yoona mengangguk paham. Lalu Kai merubah raut wajahnya menjadi serius. “Aku minta maaf Yoona, seharusnya aku tidak membiarkan Sehun mengikuti taruhan itu dan menyakitimu”

            Yoona tersenyum lalu menggeleng. “Tidak, semua bukan salahmu, atau salah Sehun. Ini salahku. Seharusnya sejak awal aku tidak menerimanya. Aku tau, meskipun aku adalah satu-satunya gadis beruntung yang bisa selalu bersamanya. Aku tidak pernah memiliki cintanya. Aku hanyalah sahabatnya, tempat dia menceritakan segala keluh kesahnya”

            “Sehun pasti mencintaimu Yoona, hanya mungkin.. bocah itu belum menyadarinya” jelas Kai. Yoona tertawa pelan. “Tidak usah berbicara untuk membuat aku senang Kai”

            “Tap-”

            “Sudahlah, aku bersedia makan bersama kalian siang ini karna aku ingin memberitahukan sesuatu pada kalian. Sesuatu yang penting..” Yoona menatap Sehun dan Kai bergantian. “Kalian salah jika kalian berfikir aku baik-baik saja setelah semua kejadian menyakitkan kemarin. Tidak, aku sangat tidak baik. Tapi aku tidak bisa membenci Sehun. Aku pun tidak mengerti. Maka dari itu, aku memutuskan agar aku yang pergi. karna semakin sering aku melihatnya. Luka ini semakin membesar”

            Soo Young membulatkan matanya. “Kau akan pergi kemana Yoong?”

            “Aku akan menyusul Umma dan Appa ke Paris” jawab Yoona. Kai dan Soo Young saling berpandangan. Kemudian Soo Young menatap Yoona. “Jadi, kau akan tega meninggalkan Unnie sendiri Yoong?” raut wajahnya berubah sedih.

            Yoona tersenyum memegang erat jemari Yoona. “Awalnya aku tidak bisa. Tapi kini aku tau. Kau sudah berada di tangan seseorang yang sangat tepat bagimu. Aku percaya Kai bukan seperti Sehun, dan dia tidak akan menyakitimu. Aku benarkan Oppa?”

            “Y-yoong. Kau memanggilku Op-pa?” Tanya Kai tergagap. Yoona mengangguk.

            “Huh, padahal kan kita sepantaran. Jika begini aku terlihat seperti lebih tua darimu” sungut Kai. “Kau tidak suka dia memanggilmu Oppa, Kim Jongin?” Tanya Soo Young

            “A-ti-tidak”

            “Kau kan kekasih Unnieku, itu berarti kau akan menjadi kakak iparku bukan? Akan sangat tidak sopan jika aku tidak memanggilmu Oppa, sayangnya keluarga kami begitu menjunjung tinggi kesopanan”

            “Baiklah-baiklah. Kurasa tidak ada salahnya jika kau memanggilku Oppa. Dan kapan kau akan berangkat?” Tanya Kai. Yoona tersenyum manis. “Kurasa secepatnya itu lebih baik. Aku akan berangkat besok”

            Sehun menghentak-hentakan kakinya beberapa kali. Ini sudah jam 10 pagi namun belum ada tanda-tanda Yoona di kampus. Apa gadis itu tidak kuliah hari ini? Atau dia sudah datang tapi Sehun tidak melihatnya? Dia menghela nafas. Baiklah, dia akan menemui Yoona lain kali.

            Sementara itu..

            “Kau yakin tidak ingin memberitahu soal kepergianmu pada Sehun?” Tanya Soo Young. Yoona mengangguk yakin. Beberapa menit lagi pesawat menuju paris akan segera berangkat. pagi-pagi sekali bahkan Kai sudah stand by dirumah mereka untuk mengantar Yoona untuk yang terakhir kalinya.

            “Pesawat tujuan Paris akan segera berangkat..” Yoona menoleh ke papan pemberitahuan. Pesawatnya sudah harus berangkat. “Unnie.. Oppa. Tolong jangan katakan apapun pada yang lainnya tentang kepergian aku. Jangan pernah memberitahukan alasan aku pergi dan kemana aku pergi” Yoona memeluk erat Soo Young.

            “Kau harus menjaga kondisi dan pola makanmu Unnie, aku tidak ingin mendengar kau sakit. Kau mau berjanji kan?” Soo Young terkekeh lalu mengangguk. “Aku janji sayang. Kau juga harus menjaga kesehatan Yoong. Tolong sampaikan salamku untuk Umma dan Appa”

            Setelah itu Yoona melepaskan pelukan Soo Young dan memeluk Kai singkat. “Kau harus menjaga Unnieku Oppa. Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan menuntutmu hehe”

            “Tentu saja. Dia akan menjadi tanggung jawabku”

            Yoona menatap arlojinya. “Baiklah, kurasa saatnya aku pergi”

            Yoona menarik koper beserta barang-barangnya. Dia menoleh dan tersenyum kearah Kai dan Soo Young yang mulai menangis. Kemudian berjalan lagi meninggalkan mereka.

            Ini salah satu yang terbaik Sehun-ah. Rasa sakit ini, aku tidak pernah menyesalinya. Kuharap kau akan bahagia setelah kepergianku. Mulai sekarang, aku akan menyimpan rasa sakit ini sendiri. Aku mencintaimu Oh Sehun. –Im Yoona-

­-

2 tahun kemudian.

            Gadis itu tersenyum manis menatap anak-anak yang sedang bermain di taman. Saat ini dia sedang berada di salah satu taman terbesar di Kota Perancis. Sembari menikmati hembusan angin yang menerbangkan satu-persatu anak rambutnya. Sudah 2 tahun, sejak kepergiannya dari Korea. Bagaimana kabar Unnienya? Kabar Kai atau teman-temannya yang lain? Dan.. Bagaimana kabar Oh Sehun? Apa pria itu masih sering mempermainkan hati para gadis? Entahlah. Keputusannya untuk tinggal di Paris menurutnya begitu tepat. Karna ia sama sekali tidak mendengar kabar apapun disana.

            “Excusez-moi Mlle₁ -Permisi Nona-” Yoona mendongak menatap seseorang dihadapannya. Sepertinya itu seorang pria, karna tubuhnya jangkung dan suaranya yang sedikit serak. Pria itu mengenakkan topi dan kaca mata hitam sehingga Yoona sulit melihat wajahnya.

            “Oui monsieur. qu’Est-ce que c’est₂ -Ya Tuan, ada apa?-” jawab Yoona sambil masih menatap pria itu. Kemudian pria itu tersenyum. “Appartements prѐs d’ici lă?₃ -Apartemen didekat sini ada?-

            “Intersection, tourner ă droite, dans le supermarcѐ dѐ l’autre cōte de l’appartement de₄ -Perempatan belok kanan. Di sebrang apartemen itu ada apartemen-” pria itu mengangguk lalu permisi meninggalkan Yoona. Yoona masih mengamati pria itu, entah mengapa dia merasa mengenali pria itu dari postur tubuhnya.

            Pria itu menghentikan langkahnya ketika jarak dengan Yoona sudah begitu jauh. Dia tersenyum ketika melihat Yoona tersenyum tadi. Kau terlihat begitu baik Yoong, aku benar-benar senang bisa melihatmu. Aku merindukanmu Yoong

            Yoona terlihat begitu cantik dengan simple dress berwarna peach yang dia kenakan. Malam ini, seperti biasa ia akan makan malam bersama kedua orang tuanya dan terkadang ada beberapa clien yang makan bersama mereka. Kini semua pengunjung restaurant menatap kearahnya.

            “Yoong, lihatlah semuanya menatap kearahmu. Benarkan Putri Umma memang begitu cantik” puji Ny. Im. Yoona tertawa pelan, “Umma, berhentilah memujiku”

            “Appa, apa kali ini kita akan makan malam dengan clienmu?” Tanya Yoona pada Appanya. Appanya tertawa seraya mengangguk. “Kali ini lebih dari clien, ini benar-benar tamu special”

            Entah mengapa, Yoona merasa makan malam kali ini begitu berbeda. Dan jantungnya pun sejak tadi berdetak begitu cepat. Ting!

Yoona menatap bel tanda ada pelanggan baru berbunyi, kemudian datanglah pria bertubuh jangkung dengan kaca mata hitam. Persis dengan pria yang tadi sore ia temui. Appanya tersenyum lalu melambaikan tangannya kearah pria itu. Mungkinkah itu tamu special Appa?

            Yoona lantas menundukkan kepalanya, semakin pria itu mendekat, nyalinya semakin menciut. Ia begitu grogi dan takut.

            “Maaf saya sedikit terlambat” Yoona semakin yakin bahwa pria itu, adalah pria yang tadi sore ia temui. Karna suaranya yang begitu menyerupai. Appa Yoona tersenyum lalu menggeleng. “Tidak masalah, apa kau tersesat?”

            Kali ini pria itu tersenyum lalu menggeleng, “Tidak Appa..”

            Deg! Dia memanggil Appa dengan sebutan Appa? Siapa dia? Batin Yoona. Pria itu menoleh menatap Yoona yang sedang menundukkan kepalanya. Lalu dia membuka kaca mata hitamnya dan tersenyum manis kearah Yoona meskipun gadis itu tidak melihatnya.

            “Senang bertemu denganmu lagi nona” kali ini pria itu berbicara dengan Yoona dengan bahasa korea sepertinya. Yoona memejamkan matanya, ia sangat takut bertatap muka dengan pria itu. Seolah-olah makhluk dihadapannya begitu menyeramkan.

            “Yoong, dia berbicara denganmu sayang” tegur Ny. Im. Yoona menghela nafas kemudian perlahan mendongakkan kepalanya. Jantungnya mencelos dan matanya terbelalak. Pria dihadapannya masih tersenyum menatapnya.

            “Oh Sehun..”

            Kedua orang itu masih terdiam menatap beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar Menara Eiffel. Salah seorang dari mereka-gadis itu. Menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Memang ketika di malam hari suhu di kota Paris sangatlah dingin. Sementara –sang pria menoleh menatap gadis itu. “Kau kedinginan?”

            Hening, gadis itu tidak menjawab pertanyannya dan memilih meniup-niupkan kedua telapak tangannya agar menghangat. Pria itu tersenyum, gadis disebelahnya ini memang tidak berubah. Masih selalu bersikap yang membuat orang melihatnya berfikir ia-menggemaskan mungkin-. Lalu ia melepaskan tuxedo hitamnya dan menyampirkannya ke bahu gadis itu membuatnya menghentikkan kegiatannya. Pria itu lantas memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya bersamaan. “Kini aku tau, mengapa mereka menyebut Kota Paris sebagai salah satu Kota yang punya sejarah indah. Terlebih soal cinta”

            Gadis itu menghela nafas. “Maksudmu?”

            Sehun-pria itu tersenyum lebih manis, meskipun gadis itu tidak menyadarinya. “Aku menemukkan cintaku di sini. Dan itu sudah cukup bagiku untuk membuktikannya”

            Ia memutar tubuhnya menatap gadis itu yang masih membuang muka kepadanya. “Aku tau, kau mungkin sulit memaafkanku Yoona. Tapi percayalah, kali ini aku benar benar serius. Aku mencintaimu. Sejak dulu, dan Kai bodoh itulah yang membuat ku menyadarinya. Aku ingin kita memulainya dari awal. Membuka lembaran sejarah cinta kita yang baru Yoona”

            Yoona tersenyum sinis menatap Sehun. “Aku tidak pernah marah padamu Sehun. Kau harus tau itu. Hanya saja, aku tidak ingin kau ada dalam hidupku lagi”

            “Tapi Yoong..”

            “Kau tau, tanpa perlu kau datang ke sini menemuiku. Aku pun sudah memaafkanmu. Tapi untuk memenuhi permintaanmu. Aku butuh waktu Sehun, aku butuh kesungguhanmu. Aku ingin kau membuktikan semua ucapanmu”

            Sehun tertawa lalu memeluk Yoona. “Aku akan membuktikan apapun untukmu Yoona. Aku mencintaimu”

            “Aku juga mencintaimu Oh Sehun..” balas Yoona kemudian tersenyum dalam pelukan Sehun. “Dan, oh iya. Bagaimana kau tau aku ada di Paris?”

            “begini ceritanya..”

            Epilog

            “Mau apalagi kau kesini?” Tanya Soo Young ketus. Dia menatap angkuh pada Sehun yang telah berdisi di depan rumahnya. Kai memegang bahu SooYoung untuk menenangkan kekasihnya itu. “Noona, aku minta maaf. Aku ingin bertemu Yoona dan meminta maaf kepadanya”

            “Cih, setelah apa yang telah kau lakukan? Sehun, aku tau kau adalah sahabat baiknya. Tapi bukan berarti kau bias seenaknya menyakitinya. Aku tidak akan pernah memberitahu padamu dimana Yoona” pekik Soo Young lalu masuk ke dalam rumahnya. Kai menghela nafas dan menatap iba kearah Sehun

            “Maafkan aku Sehun-ah”

            Sehun menghela nafas kemudian pergi dari rumah Yoona. Ia tidak putus asa, mungkin hari ini ia gagal. Tapi ia akan terus dan terus datang untuk menemui Soo Young.

            Hari ke -2

            “Pergi! Aku tidak ingin menemuimu!” pekik Soo Young

            Hari ke-3

            “Kau tidak tau diri! Enyahlah dari hadapanku!”

            Hari ke-4

            “Aku mohon noona..” pinta Sehun

            “Pergilah Oh Sehun!”

            Hari ke-5

            “Soo Noona, aku mohon aku ingin meminta maaf pada Yoona”

            Soo Young menggeleng lalu menutup pintu rumahnya

            Hari ke-6

            “Cukup Sehun. Pergilah!

            Hari ke-7

            “Baiklah, aku akan memberitahumu alamat Sehun. Datanglah dan temui aku lagi tapi setelah kau bias memperbaiki dirimu. Buat aku yakin kaulah orang yang tepat untuk Yoona. 2 tahun lagi datanglah ke sini”

END

 Sekedar info aja nih. haha ini fanfic udah lama banget kesimpen di draft aku. jadi maaf ya kalo ceritanya agak ngalor ngidul😀

54 thoughts on “P.A.R.I.S

  1. aaaaaahhh~ awalnya aku kecewa sama Sehun yg udah nyakitin Yoona seperti itu,
    tapi akhirnyaaa~ so sweet binggow:D di epilog sepertinya perjuangan Sehun buat cari tau keberadaan Yoona itu cukup keras yah, hehe😀
    ah, daebaak~ trus buat FF YoonHun ya author😉 ^_^

  2. bagus bagus aaaa aku suka. tapi pas yoona berinteraksi sama orangtuanya di restoran itu, agak aneh karena orangtuanya pake bahasa korea sedangkan mereka tinggalnya di prancis. terus pas awal2 juga bahasa koreanya kurang, jadi kurang ngena._.
    tapi ceritanya bagus, keep writing ya! semangat!^^~

  3. Sehun LOLA… ._.v Emang cinta tuh kadang membingungkan dan kalo udah cinta tuh kadang…buta😀 *ciehsokbgt. Nice eon, tapi kurang romantis nih *eaaaa. Ditunggu karyanya yg lain😉

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s