Misconception [PART 2]

misconception-ly

 

qintazshk’s present

  Misconception 

staring

Luhan and Im Yoona

PG-17 ||  chaptered  ||  Romance ||  Poster by KISSMEDEER 

Author Note 

you can read this fanfiction with another pairing in here and here 

♥ leave your review for better fanfiction in the future from me ♥

[TEASER] [PART 1] 

Enjoy this fanfiction and create your imagination ^^ 

MISCONCEPTION

“kau jadi mengantar Yuri fitting tadi?”

yup,”

“dengan Yoona?”

yup,”

“hey, Luhan! Jangan menyebalkan begitu. Tadi kudengar kau dan Yoona dipaksa untuk memakai baju pengantin, benar?” Luhan yang sedari tadi memegang handphone-nya malas, seketika bangkit saat hyung-nya mengungkit masalah yang ia kesalkan.

“astaga, hyung! tidakkah kau sadar kalau Yuri noona itu menyebalkan? Jessica noona dan Jonghyun hyung juga sama menyebalkannya! Mana aku disuruh foto pula dengan Yoona.Okay, berfoto dengan Yoona itu sudah biasa. Tapi, apa hyung tahu-“

Minho segera menghampiri adiknya itu dan menutup mulut Luhan yang sedari tadi mengoceh tidak jelas. Luhan segera melepas paksa dirinya dan menjauh dari kakaknya itu sambil menatapnya sinis.

“aku sedang cerita, hyung. kenapa kau menutup mulutku? Kau tahu aku sudah-“

“hey, Luhan! Tenanglah! Kau ini benar-benar ya. Pantas hanya Yoona yang mau dekat denganmu. Perempuan lain mana tahan mendengar ocehanmu itu? Bersyukurlah kau punya sahabat seperti Yoona.”

Luhan mendengus kesal. Oh, betapa ia sangat tidak suka jika hyung-nya itu sudah berbicara tentang hubungan sahabat antaranya dengan Yoona. “Yoona mana?”

“tentu saja di rumahnya. Dimana lagi?” Luhan kembali menatap handphone-nya malas. Biasanya kalau ada Yoona, Luhan akan dengan senang hati bermain sampai larut malam dengan sahabatnya itu. Minho yang mengetahui kebiasaan adiknya itu mengulum senyum.

“dia tidak menginap?”

eomma-nya bilang ada urusan penting. Mau bagaimana lagi?” lagi, Minho tersenyum saat melihat wajah murung adiknya itu. “kenapa kau tidak menginap saja dirumahnya?”

“aku sudah membawanya menginap disini tiga hari, hyung. Aku benar-benar bosan kalau tidak ada Yoona, sebenarnya.” Luhan merebahkan badannya di sofa. Matanya yang bulat itu menatap langit-langit ruang keluarganya. Kalau Yoona ada disini, pasti ribut sekali sekarang. Pikir Luhan.

“kau kan bisa membawa Yoona menginap terus. Bahkan, kau bisa membawanya kemanapun, kapanpun.”

Luhan bangkit dari tidurnya. Perkataan hyung-nya itu seolah penawaran yang menarik untuknya. Ya tentu saja, bagaimana caranya agar Yoona terus berada di sampingnya?

“bagaimana caranya?” mata bulatnya itu bersinar-sinar. Bersiap melakukan apapun agar Yoona terus dengannya. Bersamanya.

“menikahlah dengannya.”

Sebuah bantal kursi dengan mulus mendarat di perut Minho. Lelaki itu mengerang kesakitan. Tentu saja. Luhan tidak melemparkan bantal itu dengan main-main. Ia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa.

“jangan mulai, hyung.”

“sakit tahu. Lagipula, apa susahnya menikah dengan Yoona?”

Luhan mendesahkan napas berat. Bingung? Tentu saja lelaki itu bingung. Lelaki bodoh mana yang tidak mau memiliki perempuan sesempurna Yoona? namun satu hal yang Luhan tahu dengan pasti.

“bagaimana bisa aku menikah dengan Yoona kalau dia tidak mencintaiku, hyung?

Minho hampir saja melemparkan bantal kursi tadi kembali. Namun niat itu diurungkannya saat melihat wajah Luhan. Guratan kekecewaan terlukis jelas disana. Maka Minho memutuskan untuk menghampiri adiknya itu.

“kau tidak akan tahu kalau kau tidak menanyakan hal itu pada Yoona.” Luhan  terlonjak. Hal itu sama sekali belum di pikirkannya. “aku tidak mau.” Luhan  menyandarkan punggungnya pada kursi.

“kalau Yoona menolak, bagaimana?”

“kau itu benar-benar. Dicoba saja belum. By the way, terima kasih karna kau mau mengantar Yuri.”

“bukan masalah, hyung.” dengan sangat terpaksa, Luhan harus tersenyum saat mendengar ketulusan dalam nada suara kakaknya itu.

“jadi, difoto dengan Yoona dengan gaya pre-wedding pun bukan masalah?”

ya, hyung!

 

MISCONCEPTION

-author pov end-

 

Rumah keluarga kami sedang sangat ramai sekarang. Ralat. Lebih tepatnya berantakan oleh barang-barang untuk pernikahan Minho hyung dan Yuri noona yang akan dilangsungkan dua puluh empat jam dari sekarang.

Matahari sudah tenggelam dan tidak ada satu pun anggota keluarga kami yang terlelap. Yoona? tentu saja ia hadir dengan kedua orangtuanya.

eomma, appa, dan oppa tidak akan tidur?”

Dan semua orang menoleh. Well, itu terjadi karena aku memanggil kedua orangtua mereka ‘appa’ dan ‘eomma’ , dan dia juga begitu. “aku dan Luhan akan membereskan sisanya.”

Siapa dia bilang? Luhan?

Kutolehkan kepala ke arahnya yang sedang duduk di sebelahku dan memandangnya dengan tidak terima. Sebenarnya aku ada disini hanya karena Yoona ada disini. Tidak mungkin bukan kalau aku hanya berdiam di kamar sedangkan Yoona ada disini? Menyia-nyiakan kesempatan bermain itu namanya.

“sst, diam saja. Kau tidak lihat kalau mereka lelah?” ia berbisik pelan padaku. Oh ayolah, apa aku harus mengiyakan padahal aku juga lelah?

“aku ada hadiah untukmu. Mau?”

Hadiah bukan sesuatu yang buruk, kan?

“iya. Lebih baik appa, eomma, dan hyung tidur saja dulu.”

“benar tidak apa?”

“tentu saja.” Jawabku dan Yoona bersamaan dengan anggukkan. Setelah melambaikan tangan, kedua orangtua kami segera beranjak dari duduk mereka. Orangtuaku masuk ke kamar mereka, sedangkan orangtua Yoona masuk ke kamar tamu.

oppa tidak tidur?”

“kan aku yang menikah, kenapa kalian yang repot?”

hyung memang sudah merepotkan dari awal, kan?”

Yoona memukul keras lenganku dengan kekuatan super-nya itu. “ya! kau itu yeoja atau namja? Kekuatanmu seperti tukang angkat beban.” Ringisku sembari mengusap-usap lengan kiriku yang menjadi sasaran pukulannya.

“lagian, mana boleh kau berbicara seperti itu pada hyung-mu sendiri? Dan, yang ada juga atlet angkat beban bukan tukang angkat beban. Seenaknya saja kau mengganti nama profesi orang.”

“ya ampun, kalian berdua ini selalu saja. Aku tak ikut-ikutan. Selamat malam!” Minho hyung dengan santainya berlari ke lantai dua untuk menuju kamarnya. Dan Yoona membalas lambaian tangan Minho hyung. Hyung itu benar-benar.

“mana hadiahku?”

“ikut denganku,”

 

MISCONCEPTION

-author pov-

 

11.22 PM

Rumah keluarga Luhan yang awalnya penuh sesak dengan barang-barang persiapan pernikahan Minho dan Yuri kembali rapih berkat kerja keras Luhan dan Yoona. Kini keduanya beristirahat di balkon lantai dua. Tepatnya di balkon yang ada di kamar depan kamar Luhan.

“jadi, hanya green tea ini hadiah untukku?” perkataan Luhan membuat Yoona mendesis kesal. Perempuan itu menuangkan green tea hangat yang sudah dibuatnya kedalam mug hijau kesukaan Luhan.

“kan waktu kau jalan-jalan denganku, kau bilang mau green tea, kan? Ingat?” ditanya seperti itu, bukannya menjawab, lelaki itu terdiam. Bukan, lebih tepatnya berpikir.

“jadi, kau masih ingat kejadian empat hari lalu? Astaga, Im Yoona, kau benar-benar yang terbaik.” Luhan mengambil mug yang disodorkan oleh Yoona sembari mengelus puncak kepala Yoona senang.

“aku tahu itu.”

Yoona lalu duduk di sebelah Luhan. Keduanya terdiam sambil menatap pepohonan yang ada di perkarangan rumah Luhan. Ya, kegiatan ini adalah kegiatan yang akan mereka lakukan sebelum ada acara meriah di keluarga mereka.

Apa arti dari kegiatan mereka itu sebenarnya?

Mengetahui perbedaan langit. Apakah langit senang akan senang atau justru sedih dengan acara mereka.

“ada bulan dan bintang, Luhan. Ini pertanda baik untuk hubungan Minho oppa dan Yuri unnie, kan?” Yoona mendekat pada Luhan lalu memeluk lengan kekar lelaki itu. Yoona menaruh mug-nya di meja dan begitu pula dengan Luhan. Dengan tenang, Yoona menyandarkan kepalanya pada pundak Luhan. Seperti yang biasa mereka lakukan.

“Luhan,

“hem?”

“menurutmu, sampai kapan persahabatan kita bisa bertahan?”

 

-author pov end-

 

“menurutmu, sampai kapan persahabatan kita bisa bertahan?”

Aku terbelalak kaget. Aku tidak pernah menyangka bahwa Yoona akan menanyakan pertanyaan macam ini. well, sudah banyak orang yang menanyakan hal itu padaku. Tapi, rasanya berbeda jika Yoona yang langsung menanyakannya padaku.

Ada perasaan yang tiba-tiba membludak di dadaku.

Takut kehilangan.

Benarkah? Aku tidak tahu persisnya seperti apa. Satu yang aku tahu pasti. Hidupku akan sangat hampa tanpa adanya Yoona. Memikirkannya saja sudah membuatku uring-uringan, apalagi sampai benar terjadi.

Tidak.Tidak akan.

“menurutmu sendiri?”

Aku tahu Yoona gelisah. Lengannya yang mengalung di lenganku gemetar. Keringat meluncur dari dahinya dan aku bisa merasakan keringatnya menembus kausku. Yoona tidak akan seperti ini jika ia tidak benar-benar gelisah.

“aku ingin selamanya.”

so do I, Im Yoona.”

Yoona mendesahkan napas. Napas lega.

“memangnya kenapa kau menanyakan hal itu?”

“kau tidak tahu, Luhan? Orang-orang selalu bilang kalau tidak ada persahabatan yang suci diantara lelaki dan perempuan. Semua orang menceritakan hal itu padaku. Jadi aku penasaran. Lagipula, persahabatan kita suci, kan?”

“tentu saja.

Persahabatan ini tidak suci jika aku mencintaimu, Im Yoona.

 

MISCONCEPTION

-author pov-

 

chukkae, unnie!

Yoona segera memeluk Yuri segera setelah acara pemberkatan pernikahan Minho  dan Yuri dilaksanakan. Luhan menghampiri hyung-nya dan berjabat tangan.

“selamat, hyung.” Luhan dan Minho berpelukan erat. Ya, Luhan tidak bisa dengan begitu mudahnya melepas hyung satu-satunya yang sudah seperti sahabat. Kakaknya seperti Yoona.

“kau kapan menyusulku?”

hyung!” Luhan melepas pelukannya dan memukul dada bidang kakaknya. Keduanya tertawa lepas. Volume suara mereka yang nyaring lantas menarik perhatian Yoona dan Yuri yang berada di sebelah mereka.

waktunya pelemparan bunga, girls!”

“ayo,  Yoona!” Yuri mendorong Yoona dengan semangat menuju depan panggung. “aku tidak mau, unnie.” Yoona berusaha keras untuk meronta saat didorong Yuri. Namun, Luhan dengan senang hati membantu kakak iparnya itu.

ya! Luhan! Apa yang kau lakukan?” Yoona bertanya frustasi pada Luhan yang kini tengah mendorongnya dengan semangat. Senyum tak lepas dari wajah tampan lelaki itu.

“diam saja disini dan ambil bunga yang Yuri noona lempar, arra?

Yoona memukul lengan sahabatnya itu kesal. “siapa juga yang tidak tahu? Sudah sana!” dan kini giliran Yoona yang mendorong Luhan untuk menjauh darinya. Yuri  sudah berdiri di depan panggung bunga di depannya. Ah, lihatlah perempuan-perempuan yang sudah antusias menunggu Yuri untuk melemparkan bunganya.

“1,2,3!”

“Luhan! Aku dapat!”

 

-author pov end-

MISCONCEPTION

 

“berhentilah tertawa seperti itu, Im Yoona. Itu menggelikan.”

Sejak kejadian pelemparan bunga di acara pernikahan tadi, sampai kami duduk di mobil sekarang, Yoona tidak melepaskan senyum yang terpatri di wajahnya. Sesenang itukah anak ini?

“segitu senangnya kau dapat bunga lemparan Yuri noona? Sampai kau meneriakkan namaku keras-keras tadi.” Aku mendengus napas kesal. Tentu saja, siapa yang tidak akan kesal?

“teriakanmu itu membuat orang-orang melihatku seolah-olah kau itu pasanganku, tahu.”

“oh ayolah, Luhan. Semua orang sudah kelewat sering mengira kita sebagai pasangan. Lalu, apa masalahnya?”

Masalahnya adalah aku ingin menjadi pasanganmu, bodoh.

“hah?” tahu-tahu, Yoona mendekatkan tubuhnya ke arahku dan wajahnya itu seolah-olah penasaran. Astaga, jangan bilang kalau kata-kata tadi keluar begitu saja tanpa kusadari. Jangan.

“aku tadi mendengar kau berkata bodoh. Siapa yang bodoh?”

“tentu saja kau! Sudah, cepat pakai sabuk pengamanmu dan kita pulang.”

 

MISCONCEPTION

 

Jam tanganku menunjukkan pukul 11.06 PM dan itu artinya sudah hampir tengah malam. Kepalaku menoleh saat mendengar dengkuran halus dari sebelahku. Seorang wanita dengan damainya tidur di jok mobil. Sudah kebiasaannya memang.

Tanganku terjulur untuk membelai rambut cokelatnya yang panjang. Kuselipkan rambutnya yang menghalangi wajahnya ke belakang telinganya. Napas teratur terdengar dari hidungnya.

“uh, dasar menyebalkan. Aku jadi harus menggendongmu, kan?”

Aku segera membuka pintu mobilku dan menutupnya perlahan. Well, aku tidak berniat untuk membuat Yoona terbangun. Kutekan kontak yang tertera di ponselku lalu ponselku tersambung dengan orang di seberang sana.

“iya, Luhan?”

“ah, eomma. Hari ini Yoona menginap disini tidak apa-apa kan, eomma?”

“Yoona pasti ketiduran, ya? Yoona tidak merepotkan, nak?”

“ayolah, eomma. Yoona sudah sering menginap disini, kan? Aku justru senang Yoona bisa menginap disini lagi.” tentu saja. Hal mutlak.

“baiklah. Eomma titip Yoona ya, nak. Annyeong.”

“ne, eomma.”

Sambungan telepon terputus begitu saja. Kulangkahkan kakiku cepat menuju pintu mobil samping supir. Yoona menggeliat kecil saat aku mengangkat tubuhnya yang kurus itu.

“harusnya kau tidak lagi bermimpi jadi model, Yoona. badanmu jadi kurus begini.”

Ya, Yoona ingin sekali menjadi model setelah melihat pesona seorang model di fashion week yang beberapa bulan lalu ia datangi bersama teman-temannya. Demi menjadi model seperti impiannya, ia sampai rela mengabaikan makanan kesukaannya.

“Luhan!”

“sst, noona.

Refleks aku mengecilkan suaraku saat badan Yoona bergerak gelisah dalam gendonganku. Suara Yuri noona terlalu melengking tadi. “Yoona menginap?” aku mengangguk saat Yuri noona berbisik padaku. Aku menunjuk lantai dua dengan kepalaku sembari bergegas untuk masuk ke kamarku. Kurebahkan tubuh mungil Yoona ke kasur besar yang ada di kamarku.

Kututupi tubuh Yoona yang masih berbalut gaun sampai sebatas dada dengan selimut biruku. Samar-samar, aku dapat melihat Yoona tersenyum dalam tidurnya. Aku merapihkan rambutnya dan mencium dahinya sekilas. Kumatikan lampu kamarku dan menyisakan cahaya rembulan yang masuk lewat jendela kamarku.

“selamat tidur, sweetie.

Aku berlari kecil keluar dari kamarku dan menuruni tangga untuk mencapai lantai bawah. Aku meyakini bahwa Minho hyung dan Yuri noona ingin berbicara denganku. Dan memang benar.

“sini, Luhan.”

Aku menghampiri Minho hyung dan Yuri noona yang sedang duduk dengan cangkir di hadapan mereka di dapur. Aku mengambil mug hijau pemberian Yoona lalu menuangkan green tea hangat ke dalamnya.

“Yoona sudah tidur?”

“tentu.”

“jadi?”

“apa?” dahiku berkerut bingung saat Minho hyung bertanya ‘jadi?’. Apa maksudnya dengan kata itu?

“oh ayolah, Luhan. Aku saja tidak menggendong Yuri tadi dan kau belum menikah dengan Yoona, sudah mendahuluiku.” Minho hyung mendapatkan pukulan di tangannya dari Yuri noona.

“itu salahmu, hyung. seharusnya kau mengurus apartemenmu. Jadi, kau bisa melakukan apapun dengan istrimu. Bukan berakhir disini-“

ya! harusnya kau membantuku mengurus pekerjaan di kantor dan-“

“hey, aku sudah membantumu, hyung. Mengantar Yuri noona fitting, mengurus pekerjaan di kantor, ikut bersama Yuri noona dan Yoona mempersiapkan pernikahan kalian. Kurang apalagi?”

“itu belum-“

“sudah, Minho-ah. Kalian bisa berakhir di ring tinju kalau begini terus.”

Berhasil. Ucapan Yuri noona berhasil membuat mulut Minho hyung yang terus berbunyi itu tertutup rapat. Ya, walaupun matanya itu masih melotot padaku, tidak apa. Aku meneguk green tea-ku yang belum sempat kuminum.

“ah iya, aku punya kejutan untukmu, Luhan.”

Mata Yuri noona berbinar saat mengumumkan bahwa ia punya kejutan untukku. “noona harus menjamin aku bisa terkejut, ya.” belum puas melolotiku tadi, kini Minho hyung ikut-ikutan Yuri noona melolotiku. Pasangan ini benar-benar.

“tutup matamu.”

Yuri noona memaksaku untuk menutup mataku dengan tangannya. Ia membawaku melangkah entah kemana. Menurut tebakanku, istri Minho hyung ini sedang membawaku menuju ruang keluarga.

Aku dapat mendengar Yuri noona dan Minho hyung berbisik di sampingku.

“jangan bilang kalau kalian ingin mengerjaiku,”

“tidak,” aku tidak akan percaya jika kalian tertawa seperti itu. “buka mata pelan-pelan, ya.”

Setelah memastikan tangan Yuri noona menjauh dari mataku, aku membuka mata perlahan sesuai instruksinya. Mataku menangkap meja kecil di ruang keluarga. Mana kejutannya?

noona, mana ke- Astaga! Ini apa?”

Shock?  Tentu saja. Aku baru saja menoleh ke dinding dan mendapati foto ‘pre-wedding’ yang aku dan Yoona lakukan beberapa minggu yang lalu terpajang di hadapanku.

“kenapa ini dipajang disini? Aku dan Yoona bahkan tidak akan menikah.”

“belum, bukan tidak.” Sedikit-banyak aku merasa senang, tentu. Tapi, ya aku menunggu reaksi Yoona akan foto ini. “segera percepat pernikahan kalian, ya.”

hyung! kalian benar-benar. Kalau orang lain lihat, bagaimana?” mataku tidak bisa lepas untuk tidak memandangi foto itu. Kecantikan dan pesona Yoona terlihat jelas disana. Apalagi, gaun pernikahan itu pas sekali di tubuhnya. Yeppeo.

“tapi kau suka, kan? Akui saja.”

“Yoona cantik sekali di foto itu. lihatlah, pipimu memerah, Luhan.”

“mana mungkin,” aku memegang pipiku yang memang memanas karena melihat pantulan diri Yoona di foto itu. ayolah, mana ada seorang namja terpana hanya karena foto? Menggelikan.

Ya, seandainya saja foto pre-wedding ini bukan hanya foto. Tapi kenyataan yang kita alami, Yoona-ya. kau terlalu bodoh untuk memahami apa yang kurasakan, benar? Kau terlalu rapat menutup matamu.

“aku tidur dulu, hyung dan noona. Selamat menikmati malam pertama kalian.”

ya! Luhan!

“lihatlah, pipi kalian memerah.” Seketika, Minho hyung dan Yuri noona memegang pipi mereka bersamaan. Dengan langkah lebar, aku berjalan menjauhi mereka dengan tawa yang tak lepas dari bibirku.

Aku menutup pintu kamarku pelan dan menghentikan tawaku yang mungkin saja bisa membangunkan Yoona. Tapi nyatanya, perempuan itu masih betah bergulung di dalam selimut.

Kurebahkan tubuhku di sebelah Yoona dan memandang wajah cantiknya yang terpantul cahaya bulan. Sesekali, bibir pink-nya itu bergerak-gerak seolah bergumam.

“bisakah kau tidak lebih lucu dari ini?”

Rambut cokelatnya yang indah itu bergerak perlahan tertiup angin. Hidung mancung yang terpatri di wajahnya, bibirnya yang sexy itu dan matanya yang terpejam itu indah.

Ah, iya. Semua indah karena aku mencintainya.

“aku tunggu reaksimu setelah melihat foto pre-wedding kita, Yoona-ya.”

 

 MISCONCEPTION

Halo!

ada yang nunggguin part 2 ini kah? sebelumnya, makasih banyak karena kalian udah ngasih respon positif di part satu😀 part 2 ini aku post hari ini karna liat reaksi kalian ^^

fyi, aku ngga bisa bikin FF yg alurnya cepet langsung ke inti masalah.. aku bikin FF itu pelan-pelan, biar kalian ngerasain moment couple yang jadi cast FF aku😀 mungkin di part 3 nanti, baru muncul deh yaa ^^ aku peringatkan sekali lagi, FF INI NGGA NYAMBUNG SAMA TEASERNYA! kalian bener. aku ngarang banget bikin FF ini.

Sorry, ya😀

review, please?

79 thoughts on “Misconception [PART 2]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s