Destiny 7

destiny3Destiny

by cloverqua | main cast Im Yoona – Kris Wu

other cast Huang Zhi Tao – Choi Sooyoung – Kim Joonmyun – Jung Krystal – Kim Jongin

genre Family – Friendship – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

.

Chap 1 Chap 2Chap 3Chap 4 | Chap 5

Chap 6

.

 

Yoona memandangi dirinya yang berdiri di depan cermin kamar. Ia sudah berpakaian cantik dan anggun. Dress selutut berbahan satin dengan warna maroon itu, terlihat pas di tubuh ramping Yoona. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Wajahnya sudah dipoles dengan make up natural.

Sekali lagi Yoona memeriksa penampilannya. Bibir mungil itu melengkung. Ia puas dengan hasil berdandan yang dilakukannya sejak 1 jam yang lalu.

Malam ini, ia akan menghadiri pembukaan galeri lukisan Choi Sooyoung, wanita yang baru dikenalnya tadi siang. Yoona sama sekali tidak mengetahui, jika pelukis yang turut menjadi tokoh inspirasinya itu adalah sahabat Kris.

*flashback*

“Senang bisa bertemu denganmu, Huang Yoona . . .”

Yoona tersenyum dengan ucapan senang yang disampaikan Sooyoung. Ia kembali fokus dengan makan siangnya. Acara makan siangnya bersama Kris tetap dilakukan. Hanya saja sedikit berbeda. Tadinya mereka ingin makan berdua saja. Tapi karena sudah bertemu dengan Sooyoung, mereka memutuskan untuk makan siang bersama wanita itu.

Awalnya Kris sempat mengajak Suho ikut menemani mereka, terutama untuk menemani Sooyoung. Sayang, pria itu tengah disibukkan dengan pekerjaannya, khususnya dalam menyiapkan kontrak kerjasama dengan Yoona.

“Kau pelukis yang sangat berbakat. Meskipun kita berbeda aliran, tapi aku sangat mengagumi lukisanmu,” puji Sooyoung dan membuat Yoona tersipu.

“Aku juga sangat mengagumimu, Sooyoung-ssi. Kita seumur, tapi kau lebih dulu berkecimpung dalam dunia melukis. Jadi, kau sudah kuanggap seperti seniorku,” balas Yoona.

Sooyoung tertawa kecil sambil meletakkan peralatan makannya. Ia menatap Yoona dengan wajah senangnya.

“Kau adalah kekasih temanku. Otomatis, kau menjadi temanku juga. Jadi, janganlah bersikap formal padaku,” ujar Sooyoung. Yoona lagi-lagi hanya meringis. Sebenarnya ia masih kaget saat mengetahui teman Kris adalah orang yang menjadi inspirasinya dalam dunia melukis. Sesekali wanita itu melirik ke arah Kris yang sedari tadi hanya diam. Pria itu memilih menjadi pendengar setia dua wanita yang tengah asyik bertukar pujian.

Sadar jika diperhatikan, Kris langsung menunduk dan fokus dengan makanannya. “Kau datang ingin bertemu denganku?”

Sooyoung mengangguk, “Aku hanya ingin mengingatkan jika malam ini adalah pembukaan galeri lukisanku di Seoul. Datanglah bersama Yoona.”

Yoona membulatkan matanya, “Pembukaan galeri lukisan?”

Ne, sebelumnya aku sudah tinggal cukup lama di Italia. Kini aku kembali ke Seoul dan akan membuka galeri lukisan sendiri,” jelas Sooyoung.

“Tentu. Aku dan Yoona akan datang ke pembukaan galeri lukisanmu,” sambut Kris dengan pandangan terus fokus pada makanannya.

Kris lagi-lagi tidak menyadari jika Yoona memperhatikannya. Lebih tepatnya, Yoona memperhatikan ekpsresi wajah Sooyoung. Ia menangkap ada yang tidak biasa dari tatapan Sooyoung untuk Kris.

*end flashback*

“Sepertinya hubungan mereka tidak hanya berteman,” gumam Yoona. “Aku merasa, Sooyoung menaruh perhatian khusus pada Kris. Kurasa wanita itu menganggapnya lebih dari sekedar teman.”

Yoona terdiam. Kali ini bukan memikirkan Sooyoung, melainkan Kris. Tangannya menyentuh bibirnya perlahan. Ia kembali teringat dengan kejadian memalukan saat bersama Kris di hotel. Apalagi jika bukan ciuman tidak langsung yang melibatkan keduanya.

“Aish, kenapa kejadian memalukan itu harus terjadi?” runtuk Yoona sambil memukul pelan kepalanya. Wajahnya kini memerah hingga membuat Yoona sesekali menghela nafas, sambil mengibaskan kedua tangan ke arah wajah.

“Tenangkan dirimu, Yoona. Kau harus bersikap biasa di depannya,” Yoona mengusap dadanya perlahan dan mengatur nafasnya.

TOK! TOK!

Suara ketukan pintu kamar membuat wanita itu bangkit dan bergegas membukanya. Ia mendapati Tao sudah berdiri di depan kamar. Mata pria itu menatap takjub pada penampilan Yoona yang terlihat cantik.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Yoona malu sambil memegangi pipinya.

Tao tersenyum, “Kau terlihat cantik.”

Yoona memicingkan matanya, “Kau bicara jujur?”

Tawa Tao meledak. Tangannya refleks mencubit gemas pipi Yoona sampai wanita itu menjerit kesakitan.

“Sakit!” amuk Yoona dan dibalas seringaian Tao.

“Siapa suruh meragukan pendapatku,” balas Tao sambil merengut. “Tentu aku bicara jujur, Yoong.”

Yoona terkekeh, lalu bergelayut manja di lengan Tao. Sikapnya tersebut sempat membuat Tao merasa gugup. Namun pria itu berhasil mengendalikan diri.

“Kris akan datang menjemputmu?” tanya Tao tiba-tiba saat keduanya tengah berjalan menuju ruang tengah.

Anggukan pelan dari Yoona membuat wajah Tao terlihat masam. Siapapun yang melihatnya, bisa menangkap aura kecemburuan dari wajah Tao tiap kali mereka membicarakan sosok Kris.

“Kenapa?” Yoona sepertinya menyadari perubahan raut wajah Tao.

Pria itu hanya menggeleng, “Tak apa. Kebetulan sekali jika dia datang ke sini. Kami belum pernah bertemu secara langsung.”

Yoona tertawa kecil, “Benar juga. Kris baru bertemu dengan ahjussi dan ahjumma.”

“Jangan harap aku akan bersikap lembut padanya,” ujar Tao dan langsung membuat Yoona menoleh kaget.

“Apa yang akan kau lakukan padanya?” tanya Yoona penasaran.

Tao tersenyum menyeringai, “Lihat saja nanti. Akan kubuat pertemuan pertama kami mengesankan.”

Bibir mungil Yoona melengkung. Walau seperti mengancam, ia tahu jika Tao hanya bercanda.

“Yoona, Kris sudah datang,” suara Nyonya Huang berhasil menyela pembicaraan Yoona dan Tao. Yoona mengangguk dan melepas tangannya yang bergelayut manja di lengan Tao. Tanpa diduga, Tao justru menariknya kembali agar Yoona tetap pada posisi semula.

“Tao?”

Lagi-lagi Tao hanya tersenyum menanggapi reaksi bingung Yoona, “Biar saja. Aku mau lihat reaksinya seperti apa.”

Yoona menahan tawanya dan mengikuti saja kemauan Tao. Keduanya berjalan menuju pintu rumah mereka.

Kris sudah menunggu dengan ditemani Tuan dan Nyonya Huang. Pria itu berdiri di dekat pintu rumah dan tampak asyik mengobrol dengan mereka. Saat Yoona datang, mata pria itu segera beralih padanya. Tatapannya terpaku pada penampilan Yoona yang terlihat cantik dan anggun. Kris bisa merasakan hawa panas di sekitar wajah, serta debaran jantungnya yang tidak beraturan. Pria itu menelan saliva­-nya. Untuk kedua kalinya, ia terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Yoona.

Namun, kekaguman pria itu tak bertahan lama, saat ia menyadari tangan Yoona bergelayut manja di lengan Tao. Kris memang belum mengenal bahkan bertemu secara langsung dengan pria itu. Wajar jika raut wajahnya berubah drastis saat mengetahui Tao menatap lurus padanya.

Reaksi yang sama juga diperlihatkan Tuan dan Nyonya Huang. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. keduanya meyakini jika Tao sengaja melakukannya.

“Ini untuk pertama kalinya kita bertemu,” suara Tao memecah keheningan. Ia mengulurkan tangannya ke arah Kris sambil tersenyum. “Huang Zhi Tao.”

Kris menyambut uluran tangan Tao, “Kris—”

Yoona mengerutkan dahinya saat kalimat Kris terhenti. Ia menangkap perubahan raut wajah pria itu yang seolah sedang menahan sakit. Yoona langsung menoleh ke arah Tao. Ia mendapati senyum Tao penuh arti. Hal itu membuat Yoona paham dengan rencana Tao sebelumnya.

Rupanya, maksud dari rencana Tao yang ingin membuat pertemuannya dengan Kris mengesankan, dengan sengaja meremas tangan Kris ketika keduanya berjabat tangan. Yoona mati-matian menahan tawanya. Sementara Kris langsung melepas tangannya dari Tao sambil menahan sakit dan menatap tajam ke arah Tao. Namun ekspresi wajah Tao yang terlihat hanya tersenyum lebar, membuat Kris mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan kekesalannya.

“Panggil saja Kris,” lanjut Kris sambil memegangi tangan kanannya. Raut wajahnya masih terlihat kesal.

“Kuharap kau tidak mengajak Yoona pergi sampai larut malam,” balas Tao dan langsung ditanggapi Kris dengan senyum smirk­-nya.

“Jangan khawatir. Aku sudah meminta izin pada ahjussi dan ahjumma. Kami akan kembali sebelum jam 10 malam,” ujar Kris. Kemudian melirik ke arah Yoona yang masih berdiri di sebelah Tao.

Kris langsung memberi isyarat pada Yoona untuk berpindah ke sebelahnya. Yoona hanya memutar bola matanya dengan malas, lalu mendekat sesuai keinginan Kris. Yoona juga terkejut saat Kris tiba-tiba menarik tangannya, memposisikan agar tangannya memeluk erat lengan Kris. Dahi Yoona semakin berkerut saat melihat senyum Kris yang begitu lebar.

Kris menatap lurus ke arah Tao. Ya, ia memang sengaja melakukannya untuk membalas perlakuan Tao sebelumnya. Kris berpamitan pada Tuan dan Nyonya Huang dengan sangat sopan. Lalu hanya membungkuk tanpa berkata apapun pada Tao.

“Kami pergi dulu,” ucap Yoona sambil tersenyum. Namun senyumnya tidak berlangsung lama saat Kris dengan cepat menariknya keluar menuju mobilnya.

Sikapnya tersebut memancing kekesalan Tao, tapi ia bisa mengendalikan diri. Sementara Tuan dan Nyonya Huang tidak mau berkomentar banyak. Keduanya memang telah sepakat belum mau membahas masalah perasaan Tao yang mencintai Yoona.

“Tao­-ya, apakah ada orang yang menanyakan sesuatu padamu?” pertanyaan tiba-tiba dari Tuan Huang berhasil mengalihkan perhatian Tao. Putranya itu hanya menatapnya dengan raut kebingungan.

“Apa maksud appa?

“Tadi siang, ibumu diberitahu tetangga sekitar. Ada orang yang bertanya pada mereka, seperti mencari informasi. Orang-orang itu mencari informasi tentang Yoona,” jawab Tuan Huang.

Wajah Tao berubah kaget, “Benarkah itu, eomma?

Nyonya Huang mengangguk, “Sepertinya, ada yang mulai menyelidiki jati diri Yoona. Eomma yakin, mereka yang melakukannya karena tidak suka dengan hubungan Yoona dan Kris.”

Appa hanya berpesan, berhati-hatilah. Jika sampai ada seseorang yang menanyakan tentang jati diri Yoona, kau jangan bertindak ceroboh. Kita tidak boleh bertindak gegabah yang nantinya akan mempersulit Yoona,” ingat Tuan Huang.

Tao mengangguk, “Aku pastikan Yoona akan baik-baik saja.”

“Suamiku, apakah kau belum berhasil menemukan keberadaan Jung Soo?” tanya Nyonya Huang.

“Masih belum,” jawab Tuan Huang terlihat putus asa.

Tao penasaran dengan obrolan orang tuanya, “Jung Soo? Bukankah dia teman appa yang membawa Yoona ke sini?”

Tuan Huang mengangguk, “Sudah hampir 1 bulan ini, appa berusaha mencari keberadaannya. Rasanya wajar jika kita harus segera menemukannya. Apalagi sekarang Yoona mulai dikenal banyak orang.”

“Kita harus menemukan Jung Soo. Eomma yakin jika Jung Soo mengetahui semua tentang Yoona. Peristiwa yang menimpa Yoona waktu itu dan juga jati dirinya,” lanjut Nyonya Huan.

Tao terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk setuju dengan tindakan orang tuanya. “Kalau memang diperlukan, aku akan membantu mencari keberadaannya, appa,” ucapnya penuh keyakinan.

.

.

.

Selama perjalanan, Kris hanya diam dengan wajah kesal. Yoona yang duduk di sebelahnya mulai dilanda rasa bosan. Tak banyak yang dilakukannya, selain menikmati pemandangan luar yang terlihat cantik saat di malam hari.

“Pria itu— ” Kris akhirnya bersuara dan membuat Yoona menoleh padanya.

“Sepertinya dia menyukaimu,” lanjut Kris.

Yoona mengerutkan dahinya, “Maksudmu?”

“Kau bilang, kau diangkat anak oleh orang tuamu yang sekarang. Itu artinya, kau sama sekali tidak ada hubungan darah dengan Huang Zhi Tao kan?” tanya Kris lagi dan dibalas anggukan Yoona.

“Benar. Memangnya kenapa?”

“Sepertinya dia menyukaimu,” jelas Kris.

Mata Yoona melebar, “Tao menyukaiku? Itu tidak mungkin. Meskipun kami seumur dan tidak ada hubungan darah, aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri.”

“Kau tidak lihat sikapnya tadi? Dia sengaja meremas tanganku saat kami berjabat tangan. Dia bahkan mengingatkanku untuk mengantarmu pulang tidak larut malam. Menurutku, perhatiannya itu lebih dari sekedar saudara angkat. Justru lebih terlihat layaknya perhatian seorang pria pada wanita yang dicintainya,” jelas Kris panjang lebar.

Yoona tertawa mendengar penjelasan Kris. Ia kembali teringat ekspresi wajah Kris saat menahan sakit karena perlakuan Tao.

“Kenapa tertawa?” tanya Kris kesal.

“Apa kau cemburu?” Yoona tersenyum jahil sambil menyentil hidung Kris. Sikapnya itu membuat wajah Kris memerah.

“Cemburu? Kata siapa aku cemburu? Percaya dirimu tinggi sekali,” bantah Kris dengan suara meninggi.

“Kalau begitu terserah Tao mau melakukan apa padaku. Itu bukan urusanmu,” balas Yoona sambil memicingkan matanya. “Wajahmu tadi benar-benar menggelikan. Baru diremas seperti itu saja sudah kesakitan.”

Kris tidak percaya dengan kata-kata pedas yang keluar dari mulut Yoona. Ia menatap tajam pada wanita di sebelahnya.

“Kau menganggapku lebih lemah dari Tao?”

Yoona tersenyum, “Bagaimana pun Tao itu adalah atlet wushu. Sudah jelas jika dia lebih kuat darimu, Tuan Kris Wu.”

Kris mengepalkan tangannya. Ia tak terima dengan pernyataan Yoona yang lebih membanggakan Tao daripada dirinya. Berkali-kali Kris mengelak, sebenarnya ia terpancing dengan ucapan Yoona. Kris tidak menyadari jika ia cemburu dengan sosok Tao.

Ingin rasanya Kris membalas Yoona. Tapi penampilan wanita itu yang terlihat sangat cantik, lagi-lagi membuatnya luluh dan menyerah. Apalagi Kris teringat kembali dengan kejadian di ruang kerjanya tadi siang. Saat mereka tak sengaja berciuman.

Mobil yang mereka naiki sudah berhenti di depan sebuah galeri lukisan yang berukuran cukup besar. Galeri tersebut terlihat ramai dengan banyaknya tamu undangan yang hadir serta beberapa wartawan. Menyadari kehadiran mobil Kris, para wartawan itu langsung bersiap dan mendekati mobil Kris.

Yoona menghela nafas. Sepertinya ia memang harus terbiasa dengan para wartawan yang memburu berita tentang dirinya bersama Kris.

“Selama di dalam nanti, teruslah tersenyum. Aku yakin mereka akan sering mengambil foto kita,” ujar Kris.

“Aku tahu,” balas Yoona ringan sambil mengikuti Kris yang sudah lebih dulu keluar dari mobil.

Kris menunggu sampai Yoona keluar, sebelum akhirnya menggandeng wanita itu masuk ke dalam galeri. Sinar kamera langsung menyoroti keduanya. Mereka hanya tersenyum tanpa berkata apapun.

Saat keduanya masuk, banyak pasang mata menatap mereka. Di antara mereka terlihat senang dan antusias dengan kedatangan Kris dan Yoona. Hanya satu orang yang tampak tidak senang—Presdir Choi. Ia kesal karena mereka menjadi pusat perhatian dalam acara Sooyoung. Pria paruh baya itu langsung mendekati putrinya yang berdiri tak jauh dari posisinya. Sooyoung baru saja ingin mendekati Kris dan Yoona. Namun langkahnya terlanjur dihentikan oleh ayahnya.

“Segera naik untuk memberikan sambutan,” titah Presdir Choi dan dibalas anggukan pelan dari Sooyoung.

Presdir Choi menyuruh Sekertaris Han untuk mendampingi Sooyoung. Acara pembukaan galeri Sooyoung tengah berlangsung dengan MC yang sudah memimpin jalannya acara. Kini acara memasuki sambutan dari pihak terkait, terutama Sooyoung. Sebelum akhirnya masuk ke acara inti.

Kris dan Yoona berdiri di antara tamu undangan. Keduanya tetap menjadi pusat perhatian dari seluruh tamu undangan yang hadir. Hal itu membuat Presdir Choi semakin tidak menyukai mereka.

Sooyoung sudah berdiri di dekat pita panjang yang dibentangkan di tengah-tengah podium. Pita yang dihiasi bunga itu sebagai simbolis, yang nantinya akan digunting sebagai tanda dibukanya galeri lukisan tersebut. Sooyoung terlihat cantik dengan balutan dress panjang berwarna putih. Ia tampak bahagia dengan senyum yang merekah.

Setelah Sooyoung menggunting pita tersebut, tepuk tangan riuh terdengar keras. Tamu undangan yang hadir mengucapkan selamat atas dibukanya galeri lukisan Sooyoung. Ia tersenyum senang dan menyuruh seluruh tamu undangan untuk berkeliling galeri sambil melihat-lihat lukisannya.

Sooyoung langsung turun dari podium dan bergegas menghampiri Kris dan Yoona.

“Terima kasih kalian sudah datang,” ujar Sooyoung senang. Kris dan Yoona membalasnya dengan tersenyum.

“Selamat ya. Aku turut senang dengan kesuksesanmu membuka galeri lukisan sendiri,” ucap Kris memberikan selamat. Senyum Sooyoung mengembang usai mendengar ucapan selamat dari Kris. Ia lalu menoleh ke arah Yoona. Sesaat, wajah Sooyoung tampak datar ketika melihat tangan Yoona yang memeluk erat lengan Kris.

“Selamat ya, Sooyoung. Galeri ini sangat luas dan indah. Sangat menakjubkan,” puji Yoona.

Sooyoung mengangguk senang, “Terima kasih.”

“Kalian sedang berkumpul di sini rupanya,” suara Presdir Choi menyela pembicaraan mereka. Wajah Kris terlihat malas, sementara Yoona hanya menatap bingung ke arah Presdir Choi.

“Kris, tidak kusangka kau sudah mempunyai kekasih. Kenapa kau tidak pernah memperkenalkannya pada kami?” tanya Presdir Choi sambil tersenyum.

Kris tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Yoona. Ia membisikkan sesuatu padanya, “Dia adalah ayah Sooyoung. Presdir Choi Kangta, pemilik dari Hotel Lofty.”

Yoona mengangguk lalu mengulurkan tangannya ke arah Presdir Choi.

“Huang Yoona. Senang bertemu dengan Anda, Presdir Choi,” sapa Yoona.

Awalnya Presdir Choi tak berniat menyambut uluran tangan Yoona. Namun ia tak punya pilihan, karena ada Sooyoung di dekatnya. Pria paruh baya itu pun menjabat tangan Yoona dan mengeluarkan senyum khasnya.

“Senang bertemu denganmu, Yoona-ssi,” balas Presdir Choi.

DEG!

Tiba-tiba tubuh Yoona terasa kaku. Ekspresi wajah Presdir Choi membuat Yoona seakan kembali ke masa lalu. Seperti ada sebuah peristiwa yang terlintas di kepalanya.

“Yoona, kau baik-baik saja?” Kris terlihat cemas saat Yoona terdiam usai berjabat tangan dengan Presdir Choi.

“Ah, ne. Aku baik-baik saja,” balas Yoona setelah fokus kembali. Ia menunduk dan memalingkan wajahnya dari Presdir Choi. Sikapnya itu mengundang rasa penasaran Presdir Choi.

“Kris, jangan lupa besok kita ada acara makan malam bersama. Bukankah orang tuamu akan kembali ke Seoul?”

Kris mengangguki ucapan Presdir Choi, “Aku sama sekali tidak lupa, Presdir Choi. Nanti akan kusampaikan pada orang tuaku tentang acara makan malam tersebut.”

“Ajaklah kekasihmu. Pasti menyenangkan jika Yoona ikut dalam acara makan malam nanti,” lanjut Presdir Choi sambil melirik sinis pada Yoona.

Yoona bisa merasakan aura tidak menyenangkan dari Presdir Choi. Wanita itu tampak gugup. Kris sepertinya berhasil menangkap gelagat aneh dari ayah Sooyoung, yang secara tidak langsung mempertegas kesan tidak suka pada Yoona. Pria itu memeluk Yoona erat, bermaksud menenangkannya.

“Tentu. Dia juga akan ikut bersamaku,” balas Kris dengan senyum smirk-nya. Sementara Yoona hanya meringis sambil melirik ke arah tangan Kris yang memeluk pinggangnya. Matanya lalu beralih pada Sooyoung yang terlihat murung. Hal itu membuat Yoona yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan Sooyoung. Terlebih lagi saat Yoona memperhatikan wajah Presdir Choi. Ia tak bisa menyembunyikan rasa takutnya ketika mendapati wajah kemarahan dari pria paruh baya tersebut.

Yoona melirik ke arah Kris yang tampak santai. Ia kembali teringat permintaan Kris yang menyuruhnya berpura-pura menjadi kekasihnya. Yoona ingat, sandiwara yang mereka lakukan bertujuan agar Kris bisa menolak permintaan teman ayahnya. Permintaan untuk menjadi pendamping putrinya. Mungkinkah orang yang dimaksud Kris adalah Presdir Choi dan Sooyoung? Walau Kris tak mengatakannya secara langsung, namun dengan kejadian malam ini, Yoona sudah mendapatkan jawabannya.

.

.

.

Selesai menghadiri acara di galeri lukisan Sooyoung, Kris langsung mengantarkan Yoona pulang ke rumah. Mobilnya sudah berhenti di depan rumah Yoona. Namun setelah sampai, Yoona tak segera turun. Ia masih penasaran dengan sosok Presdir Choi dan Sooyoung.

“Sudah sampai. Masuklah,” titah Kris. Namun pria itu malah mendapati Yoona masih terdiam di sebelahnya.

“Ada apa?” tanya Kris penasaran.

Yoona menoleh. Wajahnya terlihat serius, “Ada hubungan apa antara kau dan Sooyoung? Benar kalian hanya berteman saja?”

Mendengar pertanyaan itu, Kris justru tersenyum lebar, “Kenapa? Kau cemburu?”

Yoona memutar bola matanya malas, “Aku sedang tidak ingin bercanda, Kris. Aku serius.”

“Dia itu hanya temanku. Tidak lebih,” jawab Kris ringan.

Yoona memicingkan matanya, “Apa—teman ayahmu yang kau maksudkan itu Presdir Choi?”

Kris menghela nafas kasar. Sebenarnya ia malas membicarakan masalah tersebut. Tapi, rasanya tidak bisa jika harus menyembunyikannya pada Yoona. Lebih baik berkata jujur.

Ne, memang dia orangnya. Presdir Choi, sangat ingin agar aku bisa menikah dengan Sooyoung,” jawab Kris.

Yoona tidak terlalu kaget karena sudah menduganya. Wanita itu hanya memijat keningnya sambil menggigit bagian bawah bibirnya.

“Pantas. Dari cara menatapku, Presdir Choi terlihat tidak suka. Aku sudah menduga jika dia orangnya,” ujar Yoona pelan. Ia memandangi Kris yang masih memperhatikannya.

“Jika kau hanya menganggap Sooyoung sebagai teman, lalu bagaimana perasaan Sooyoung sendiri?”

Kris menaikkan salah satu alisnya, “Apa maksudmu?”

“Kurasa dia menganggapmu lebih dari sekedar teman. Aku yakin dia menyukaimu, Kris,” jawab Yoona.

Kris mendesah, “Tidak mungkin. Dia sama sekali tidak pernah mengatakan apapun padaku. Hubungan kami benar-benar hanya sebatas teman.”

“Tapi—”

“Sudahlah, jangan membahasnya lagi,” potong Kris mulai kesal. “Masuklah. Nanti Tao bisa mengamuk jika aku terlambat mengantarmu pulang.”

Yoona tidak bertanya lagi dan tersenyum kecil. Ia keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Melihat hal itu, kekesalan Kris justru bertambah. Pasalnya, Yoona sama sekali tidak berpamitan padanya.

“Sikap macam itu? Kenapa tidak berpamitan pada kekasihnya sendiri? Dasar!” umpat Kris kesal. Lalu segera menyuruh Supir Kang untuk melajukan mobilnya.

Seertinya, Kris mulai menikmati permainan sandiwara yang dilakukannya dengan Yoona. Bahkan ia seolah larut dan menganggap mereka memang benar-benar berpacaran. Memang baru dua hari sandiwara itu berlangsung. Tapi, Kris tak menyadari jika sebenarnya ia telah jatuh cinta pada Yoona. Sangat terlihat dari setiap tingkah laku Kris saat berinteraksi dengan Yoona. Apa yang dilakukannya seolah murni dari hatinya yang terdalam.

.

.

.

.

.

.

Sejak munculnya scandal antara Yoona dan Kris, galeri lukisan Yoona terpaksa ditutup selama dua hari. Dengan tujuan untuk menghindari para wartawan yang akan memburu berita mereka. Kini galeri tersebut telah dibuka kembali. Yoona tengah merapikan beberapa lukisan dengan dibantu Min Young.

Eonni, aku benar-benar rindu sekali denganmu,” ujar Min Young senang saat Yoona sudah kembali beraktivitas di galeri.

Yoona menoleh sambil tersenyum, “Benarkah?”

Min Young mengangguk, “Dua hari tidak di galeri, aku merasa bosan. Sejak scandal itu, aku seperti hilang kontak denganmu, eonni.”

“Maaf, aku tidak memberimu kabar karena kemarin aku juga dalam situasi sulit,” ucap Yoona merasa bersalah.

“Tak apa, eonni. Aku tahu itu,” balas Min Young tersenyum. Ia lalu mendekati Yoona dan memasang wajah jahil.

“Apa kau dan Kris-oppa memang benar-benar berpacaran?” tanya Min Young curiga. “Aku tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang kalian katakan selama konferensi pers.”

Yoona terdiam, lalu menoleh ke arah Min Young. Ia sadar, percuma jika membohongi Min Young. Asistennya itu tahu persis kapan ia bertemu dengan Krystal.

“Anggap saja aku dan Kris memang berpacaran. Aku tak bisa bicara banyak padamu,” ujar Yoona. Secara tidak langsung meminta Min Young untuk tidak bertanya lagi tentang hubungannya dengan Kris.

“Baiklah. Terlepas benar atau tidak, aku senang bisa melihatmu mempunyai kekasih. Apalagi orang seperti Kris-oppa. Kurasa dia itu menyukaimu, eonni,” kata Min Young setelah duduk di kursinya. Yoona memandangi asistennya itu dengan tanda tanya besar di wajah.

“Aku bisa melihatnya, dari perhatian yang diberikan padamu saat kakimu terluka waktu itu,” lanjut Min Young.

Yoona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menanggapi ucapan Min Young.

KLEK!

Terdengar suara pintu yang dibuka. Yoona dan Min Young menoleh kompak. Keduanya mendapati sosok pria paruh baya sudah masuk ke dalam galeri. Mata Yoona membulat sempurna. Ia berdiri kaku. Untuk apa Presdir Choi datang menemuinya?

“Presdir Choi,” Yoona membungkuk sopan.

Presdir Choi belum membalas sapaan Yoona. Ia justru asyik mengamati seisi galeri. Yoona membiarkannya berkeliling dan hanya berdiri terpaku. Entah kenapa ia justru merasa takut dengan kedatangan Presdir Choi yang begitu tiba-tiba. Tubuhnya semakin menegang saat pria itu berjalan mendekatinya.

“Aku ingin bicara denganmu,” ucapnya dingin.

Yoona menelan saliva­-nya dan mengangguk pelan. Ia mengantar Presdir Choi ke ruangannya.

“Min Young, tolong buatkan minuman untuk Presdir Choi,” suruh Yoona pada Min Young.

Asistennya itu hanya mengangguk. Matanya masih mengawasi gerak-gerik Yoona dan Presdir Choi. Min Young bisa melihat perubahan sikap Yoona begitu tegang.

“Apa yang ingin Anda bicarakan denganku?” tanya Yoona saat keduanya sudah duduk berhadapan di sofa ruang kerja Yoona.

“Aku tidak akan berbasa-basi lagi padamu, Yoona-ssi,” ujar Presdir Choi. “Ini tentang hubunganmu dengan Kris.”

Jantung Yoona berdebar semakin tidak karuan. Ia bisa merasakan keringat dingin di sekujur tubuhnya.

“Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang kalian katakan selama konferensi pers. Aku merasa, ini hanya akal-akalan Kris agar bisa terhindar dariku,” lanjut Presdir Choi.

Yoona mati-matian menahan rasa gugupnya yang semakin menjadi. Ia salah mengira jika Presdir Choi bisa menahan diri. Kenyataanya, intuisi Presdir Choi sangat tepat tentang permainan yang dilakukannya bersama Kris.

“Maafkan aku, Presdir Choi. Tapi, apa yang kami katakan selama konferensi pers itu benar adanya. Kami memang berpacaran,” ucap Yoona berusaha membantah tudingan Presdir Choi. Meski wanita itu ragu apakah Presdir Choi mau mempercayainya.

Tepat dugaan Yoona, Presdir Choi hanya tersenyum sinis padanya.

“Benarkah?” Presdir Choi menaikkan salah satu alisnya. “Jika kalian memang berpacaran, aku ingin lihat berapa lama kalian bisa bertahan.”

Usai mengatakannya, Presdir Choi langsung bangkit dan bersiap keluar dari ruangan Yoona.

“Jangan lupa kau datang ke acara makan malam kami. Nantinya kau akan bertemu dengan orang tua Kris. Kita lihat, bagaimana respon mereka terhadapmu,” ujar Presdir Choi sebelum keluar dari ruangan Yoona.

“Ah, satu hal lagi,” Presdir Choi menghentikan langkahnya dan menatap Yoona yang masih menatapnya ketakutan.

“Aku ini bukan tipe orang yang suka berbasa-basi,” ucapnya dingin. “Siapapun yang menghalangi kebahagiaan putriku, akan kusingkirkan dengan cara apapun. Ingatlah pesanku ini, Yoona-ssi.”

Yoona bisa merasakan sekujur tubuhnya bagai tersengat aliran listrik. Secara tidak langsung, Presdir Choi telah mengancamnya. Ia biarkan pria itu keluar dari ruangannya. Yoona memilih diam dan hanya duduk membeku di sofa. Mata wanita itu masih menatap lurus ke arah meja di depannya.

Eonni!” suara keras Min Young berhasil membuyarkan lamunan Yoona.

“Min Young?” Yoona terlihat gemetar sambil menatap wajah Min Young.

Min Young meletakkan nampan yang membawa minuman untuk Presdir Choi. Ia lalu duduk di sebelah Yoona.

“Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat pucat?” tanya Min Young cemas.

Yoona menggeleng dan hanya tersenyum tipis, “Tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan.”

Min Young terdiam. Ia tahu Yoona berbohong lagi padanya.

“Apa orang tadi mengatakan sesuatu yang mengancammu?” tanya Min Young seperti detektif dan langsung dibalas gelengan keras dari Yoona.

“Tidak, kau jangan berpikir seperti itu,” elak Yoona.

“Tapi, aku bisa merasakannya, eonni. Sejak dia datang ke sini, aku melihatmu sangat gugup dan seperti ketakutan padanya,” sahut Min Young.

Yoona menggeleng, “Sudahlah, aku tidak apa-apa.”

Min Young terlihat cemas dengan kondisi Yoona. Ia pun mengambil teh yang seharusnya diberikan untuk Presdir Choi.

“Minumlah. Kau akan merasa jauh lebih tenang, eonni,” ujar Min Young dan dibalas anggukan Yoona.

“Terima kasih,” balas Yoona usai meneguk teh tersebut.

“Sebaiknya kau beristirahat dulu,” saran Min Young seraya bangkit.

Yoona mengangguk pelan dan menyenderkan punggungnya di sofa. Sesekali ia memijat keningnya sambil menghela nafas. Terlihat sekali jika kondisinya tidak baik.

Sebelum keluar dari ruangan Yoona, Min Young tampak beberapa kali mengawasinya. Gadis itu sudah menganggap Yoona seperti kakaknya sendiri. Wajar jika ia begitu mencemaskan Yoona. Perlahan Min Young menutup pintu itu agar tak menimbulkan suara.

“Apa Yoona ada di ruangannya?”

Min Young melonjak kaget saat mendengar suara seseorang. Ia menoleh cepat dan mendapati Kris sudah berdiri di depannya.

“Kris-oppa? Kau mengagetkanku,” ucap Min Young kesal sembari mengusap dadanya.

Kris terkekeh lalu melirik pintu ruang kerja Yoona, “Dia ada di dalam kan?”

Min Young mengangguk, “Ne, tapi kondisinya sedang tidak baik.”

Kris yang baru ingin masuk langsung menghentikan langkahnya, “Apa maksudmu?”

“Aku sendiri juga tidak tahu, oppa. Sebelumnya dia baik-baik saja. Tapi, setelah orang bernama Presdir Choi tadi datang, wajahnya langsung berubah pucat. Saat berinteraksi dengan orang itu pun, eonni terlihat sangat gugup dan ketakutan,” terang Min Young.

Penjelasan Min Young membuat Kris bergegas masuk ke dalam ruangan Yoona. Pria itu terperanjat saat melihat Yoona dalam kondisi lemas. Wanita itu masih duduk di sofa dengan wajah pucat.

“Apa yang terjadi?” Kris tanpa pikir panjang langsung duduk di sebelah Yoona. Tangannya meletakkan sebuah amplop besar di meja.

Yoona terkejut dengan kedatangan Kris, “Kapan kau datang?”

“Baru saja,” jawab Kris cepat. “Katakan apa yang terjadi? Kudengar dari Min Young, Presdir Choi datang menemuimu.”

“Dia hanya datang berkunjung ke galeriku sambil mengingatkan acara makan malam nanti. Itu saja,” jawab Yoona berusaha menutupi dari Kris. Ia mencoba tersenyum, tapi terlihat sangat memaksakan.

“Jangan berbohong padaku! Katakan yang sejujurnya,” pinta Kris mulai tak sabar. “Aku tahu persis siapa orang itu. Apa dia sudah mengancammu?”

Helaan nafas pelan keluar dari Yoona. Tak ada pilihan lain. jika menyangkut permainan yang mereka lakukan, ia memang harus terbuka dengan Kris. Begitu pun sebaliknya. Mereka memang harus saling terbuka dan menanggung bersama apapun resiko dari tindakan yang mereka lakukan.

“Sepertinya dia tahu jika kita hanya berpura-pura,” ujar Yoona akhirnya berkata jujur. “Meskipun sudah kutegaskan jika kita memang berpacaran, Presdir Choi tetap tidak percaya. Dia bahkan mengatakan, jika kita memang berpacaran, berapa lama kita akan bertahan.”

Kris tercengang, “Dia berkata seperti itu?”

Yoona mengangguk, “Ia juga menambahkan, siapapun yang menghalangi kebahagiaan putrinya, dia tidak akan segan menyingkirkannya.”

Amarah Kris tak bisa dibendung lagi. Ia tersinggung dengan ucapan Presdir Choi yang telah mengancam Yoona.

“Orang itu—tidak kusangka dia benar-benar keras kepala,” runtuk Kris.

“Sepertinya kita harus berhati-hati pada Presdir Choi. Kurasa ucapannya itu tidak main-main,” ucap Yoona.

“Masalah Presdir Choi, serahkan saja padaku. Kau cukup mengikuti apapun yang aku lakukan,” ujar Kris.

Yoona mengangguk seraya tersenyum tipis.

“Aku datang ke sini untuk mengantarkan kontrak kerjasama kita. Kau bisa membacanya dulu sebelum menandatangani,” lanjut Kris.

Ne, arraseo. Nanti akan kubaca,” balas Yoona.

Kris terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Yoona yang masih terlihat pucat. Refleks, tangan pria itu menyentuh kening Yoona. Kontan saja wajah Yoona dibuat memerah olehnya.

“Sebaiknya kau beristirahat. Kau tampak kurang sehat,” Kris kembali menunjukkan perhatiannya pada Yoona.

“Aku tidak apa-apa. Kau jangan khawatir,” ucap Yoona.

Hening. Entah kenapa atmosfer di ruangan tersebut terasa panas bagi keduanya. Wajah mereka sama-sama memerah. Tanpa sadar interaksi yang baru saja mereka lakukan justru terlihat seperti pasangan kekasih sungguhan.

“Baiklah aku harus pergi ke bandara. Hari ini orang tuaku akan kembali dari Canada,” pamit Kris seraya bangkit. Yoona hanya menanggapinya dengan senyuman.

Mata wanita itu masih memandangi punggung Kris sampai tak terlihat lagi. Kedatangan Kris seperti membawa angin segar bagi Yoona. Ia terlihat lebih tenang, dibanding saat Presdir Choi datang menemuinya. Bibir mungil Yoona kembali melengkung. Ia heran, kenapa suasana hatinya menjadi baik setelah Kris datang menemuinya.

.

.

.

Kris bergegas menuju bandara internasional Incheon, setelah menemui Yoona. Kris pergi seorang diri, tanpa ditemani Suho. Sekertaris pribadinya itu menggantikannya sebentar selagi ia pergi menjemput orang tuanya. Untuk pertama kalinya, Kris menyempatkan waktu menjemput orang tuanya yang baru saja kembali bertugas dari luar negeri. Biasanya, Kris memilih sibuk dengan pekerjaannya.

Selama perjalanan, Kris kembali merenungi kejadian yang dialami Yoona terkait Presdir Choi. Kris berpikir, ada kemungkinan Yoona dalam bahaya. Ia tahu persis jika Presdir Choi memang tidak akan menyerah begitu saja, untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Sebaiknya aku harus berhati-hati. Aku tidak bisa membiarkannya dalam bahaya,” gumam Kris seraya memandangi jalanan kota.

Setibanya di bandara, Kris segera turun dari mobil. Ia melirik jam tangannya. Waktu kedatangan pesawat dari Canada sudah hampir tiba. Kris lalu berjalan mendekati pintu kedatangan.

Oppa!

Kris terkesiap saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Ia memperhatikan sekeliling, mencari sumber suara. Benar saja seperti dugaannya. Sang adik, Krystal, sudah berdiri manis di dekat pintu kedatangan bersama Kai. Kedua remaja itu masih mengenakan seragam lengkap.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Kris dengan suara meninggi. Pasalnya, jam sekolah belum selesai. Bagaimana bisa Krystal dan Kai sudah berada di bandara?

Krystal mengerucutkan bibirnya, “Tentu saja menjemput appa dan eomma.”

Kris mendesah, “Sudah kubilang biar aku saja yang menjemput mereka. Lagipula, ini masih jam sekolah. Kenapa kalian ada di sini? Bagaimana jika pihak sekolah tahu kalian membolos?”

Kai tersenyum geli mendengar omelan Kris. Ia sudah hafal dengan sikap Kris yang begitu disiplin terhadap apapun. Baik pekerjaan maupun pendidikan.

“Jangan khawatir, hyung. Kami sudah meminta izin dengan pihak sekolah,” jawab Kai sambil menepuk pundak Kris dan tersenyum.

Kris masih ragu dengan jawaban Kai, “Benar kalian sudah meminta izin?”

Kai dan Krystal mengangguk kompak. Kris menggelengkan kepala sambil mengusap keningnya.

“Baiklah, terserah kalian. Tapi, jika sampai kalian berbohong—” tangan Kris mengepal ke atas. Mengisyaratkan ia tak segan memukul Kai dan Krystal jika ketahuan berbohong padanya. Kai dan Krystal mengangguk lagi sambil tersenyum geli.

Ketiganya pun berdiri berdampingan sambil menunggu kedatangan orang tua Kris dan Krystal. Dari kejauhan, mereka mulai menyadari ada beberapa wartawan yang tengah menunggu. Sesekali wartawan tersebut mengambil foto mereka.

“Aish, wartawan itu memang tidak pernah bosan mengambil foto,” gerutu Kris kesal.

Reaksi berbeda justru terlihat dari Kai dan Krystal. Dua remaja itu malah kompak mengacungkan dua jari mereka ke arah wartawan.

“Tidak juga, oppa. Menurutku menyenangkan,” sahut Krystal cuek dan terus asyik melayani para wartawan dengan berfoto bersama Kai.

Kris memandangi adik dan sepupunya dengan tatapan risih. Ia tak habis pikir dengan kebiasaan mereka yang justru menikmati ulah para wartawan tersebut.

30 menit berlalu. Terdengar suara pemberitahuan jika pesawat dengan keberangkatan dari Canada telah mendarat. Para penumpang mulai berhamburan keluar dari pintu kedatangan.

“Itu mereka . . .” ucap Kai sambil menunjuk ke arah sepasang suami istri yang baru saja keluar dengan kacamata hitam mereka. Krystal tanpa ragu langsung berteriak keras memanggil orang tuanya.

Appa! Eomma!” suara keras Krystal tepat terdengar di telinga Kris. Hal itu membuat Kris langsung menutup telinganya dan melotot ke arah Krystal.

“Jangan berteriak!” amuk Kris. “Kau membuat telingaku sakit.”

Krsytal hanya menjulurkan lidah dengan pandangan terus tertuju pada orang tua mereka. Ia tak peduli dengan amukan kakaknya. Kai lagi-lagi hanya tertawa melihat tingkah laku dua kakak-beradik di sebelahnya itu.

“Selamat datang Presdir Wu,” ucap Kris pada ayahnya. Ucapannya itu membuat Krystal dan Kai tertawa. Di luar dugaan, Kris justru menyambut ayahnya sendiri dengan sangat formal.

“Apa-apaan kau ini?” Presdir Wu terlihat geli dengan sikap putra sulungnya. Nyonya Wu justru sudah tertawa lebih dulu di sebelahnya.

“Kebiasaanmu ini memang tidak pernah berubah, Kris,” sambung Nyonya Wu dan dibalas tawa oleh Kris. Ia langsung mendapatkan pelukan hangat dari Kris.

“Selamat datang, eomma . . .”

Nyonya Wu tersenyum senang. Setelah melepas pelukannya dengan Kris. Ia menoleh ke arah Krystal. Wajahnya tampak sumringah.

“Kau juga ikut menjemput kami?” tanya Nyonya Wu sambil memeluk erat putri bungsunya.

Ne, eomma. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu kalian,” jawab Krystal senang.

Nyonya Wu kembali tersenyum, lalu menoleh ke arah Kai. “Kau juga datang?”

Kai mengangguk dan membalas pelukan bibinya, “Ne, ahjumma.”

“Oh iya, appa. Nanti malam, Presdir Choi mengundang kita untuk makan malam bersama,” ucap Kris tiba-tiba.

Presdir dan Nyonya Wu saling memandang satu sama lain. Keduanya masih terkejut karena ajakan tersebut terbilang mendadak untuk mereka.

“Kenapa mendadak sekali?” tanya Presdir Wu kaget.

Kris meringis sambil menggaruk kepalanya, “Maaf, appa. Aku lupa menyampaikannya kemarin. Akhir-akhir ini aku—”

“Sibuk dengan Yoona-eonni,” potong Krystal cepat sambil terkekeh.

Kris menoleh dengan tatapan tajam menusuk. Sementara Krystal langsung bersembunyi di balik punggung ibunya.

“Kris?” Presdir Wu tersenyum misterius. Ia memicingkan matanya ke arah Kris yang hanya terkekeh pelan.

“Kau benar-benar keterlaluan. Punya kekasih tapi tak pernah memberitahu kami,” sambung Nyonya Wu semakin menyudutkan Kris.

Kris menghela nafas, lalu menatap tajam ke arah Krsytal yang terlihat mengacungkan dua jarinya sambil membentuk simbol ‘V’.

“Malam nanti kau harus mengajaknya. Kami ingin melihat, seperti apa wanita yang sudah berhasil menaklukan hatimu,” lanjut Nyonya Wu.

Kris mengangguk, “Ne, eomma jangan khawatir. Yoona akan ikut dalam acara makan malam nanti.”

Presdir dan Nyonya Wu tersenyum senang. Terlalu senangnya sampai tak peduli dengan sinar kamera yang terus menyorot ke arah mereka. Beberapa dari wartawan itu terlihat berupaya untuk mencoba melakukan wawancara dengan keduanya. Namun sepasang suami istri itu hanya menanggapinya dengan senyuman manis.

“Sebaiknya kita segera pulang. Para wartawan itu sudah membuatku risih sejak tadi,” ajak Kris dan dibalas anggukan Presdir Wu. Ayah dan anak itu memang mempunyai sifat yang sama. Tidak suka dengan keberadaan wartawan yang selalu memburu berita tentang mereka. Sementara Krystal, sifat dari ibunya memang lebih menurun, yaitu sama-sama selalu bersikap ramah kepada wartawan.

.

.

.

Presdir Choi terlihat sibuk memeriksa berkas-berkas di ruangannya. Wajahnya terlihat bersemangat. Ia sudah tidak sabar dengan acara makan malam hari ini. Ia juga senang, karena sudah berhasil mempengaruhi kondisi Yoona. Sejak awal mendatangi galeri lukisan Yoona, ia memang berniat untuk mengintimidasi Yoona. Terbukti memang berhasil. Ia bisa melihat dari raut wajah Yoona yang begitu pucat setelah ia menemuinya.

“Presdir Choi?”

Presdir Choi menoleh ke arah Sekertaris Han yang baru saja masuk ke ruangannya.

“Ada apa?” tanyanya dengan pandangan terus tertuju pada berkas yang diperiksanya.

“Saya mendapat informasi jika Presdir dan Nyonya Wu sudah kembali ke Seoul,” jawab Sekertaris Han.

Gerakan tangan Presdir Choi terhenti. Matanya menatap binar, “Benarkah?”

Anggukan pelan Sekertaris Han membuat bibir Presdir Choi melengkung sempurna.

“Bagus. Aku senang mendengarnya,” ujar Presdir Choi. “Artinya malam nanti aku bisa melanjutkan rencanaku.”

“Rencana?” Sekertaris Han terlihat bingung. Terlebih saat melihat seringaian kecil dari atasannya tersebut.

“Apalagi jika bukan mempermalukan Huang Yoona di hadapan orang tua Kris. Dengan latar belakangnya itu, aku yakin Yi Lan dan istrinya tidak akan semudah itu menerima keberadaan Yoona. Dengan begitu, mereka tidak akan mengakui hubungan putranya dengan Yoona. Sudah pasti rencanaku agar putriku bisa menikah dengan Kris akan berjalan mulus,” terang Presdir Choi.

Sekertaris Han hanya tersenyum tipis menanggapi penjelasan panjang lebar dari Presdir Choi. Tadinya, ia ingin melaporkan hasil penyelidikannya terkait latar belakang Yoona. Melihat suasana hati Presdir Choi yang begitu gembira, Sekertaris Han mengurungkan niatnya tersebut. Ia memilih mencari waktu yang tepat, untuk menyampaikan hasil temuannya tentang Yoona.

.

.

.

Sesuai rencana, malam harinya Yoona ikut menemani Kris dalam acara makan malam keluarganya dan keluarga Sooyoung. Mobil yang dinaiknya bersama Kris baru saja berhenti di sebuah restoran ternama di Seoul.

Yoona terlihat gugup. Entah sudah berapa kali ia membuang nafasnya sambil memijat keningnya. Kris menyadari kondisi Yoona yang tidak baik. Saat pria itu menjemputnya, raut wajah pucat itu masih terlihat, meski sudah ditutupi oleh make up.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kris cemas. Yoona hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Hal itu justru semakin menambah rasa cemas Kris padanya.

“Kau yakin?” tanya Kris memastikan.

Ne, aku tidak apa-apa,” jawab Yoona. “Kurasa hanya sedikit kelelahan.”

Kekhawatiran Kris semakin menjadi. Apalagi saat ia melihat wajah Yoona mulai berkeringat. Kris mengambil saputangan yang dibawanya. Dengan cekatan ia usapkan saputangan tersebut ke wajah Yoona.

Yoona sempat memundurkan tubuhnya saat Kris mendekat. Ia bisa merasakan debaran jantungnya yang begitu kuat. Serta hawa panas yang mengitari wajahnya. Yoona merasa aneh. Jika di hadapan semua orang, mereka bersandiwara. Tapi, jika hanya berdua saja, entah kenapa interaksi mereka terjadi begitu saja. Sangat natural dan tidak dibuat-buat.

“Sudah,” ucap Kris seraya tersenyum.

Yoona membulatkan matanya saat melihat senyuman Kris yang begitu tulus, untuk pertama kalinya. Ia biarkan Kris mengulurkan tangan ke arahnya. Yoona tahu, Kris bermaksud menuntunnya keluar dari mobil. Bahkan mungkin akan menyuruhnya untuk kembali memeluk lengannya.

“Santai saja. Jangan terlalu gugup,” ujar Kris. “Ikuti saja semua yang kulakukan.”

Ne, arraseo,” balas Yoona sambil tersenyum tipis.

Kris menyuruh Yoona untuk memeluk erat lengannya. Keduanya disambut oleh pelayan restoran. Kris dan Yoona langsung diantar menuju ruang VIP yang sudah dipesan oleh Presdir Choi.

Semakin mendekati ruang VIP, kaki Yoona serasa lemas. Ia benar-benar gugup. Ia teringat dengan ucapan Presdir Choi tadi pagi saat datang menemuinya. Bagaimana respon kedua orang tua Kris nanti? Apakah mereka akan menerima dan mengakui hubungan mereka?

“Kita sudah sampai Tuan Muda,” ucap pelayan tersebut sambil membuka pintu sebuah ruangan. Kris dan Yoona langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.

Eonni!

Suara keras Krystal berhasil membuyarkan lamunan Yoona. Ia terkejut begitu mendapati Krystal langsung berlari memeluknya.

“Aku senang bertemu lagi denganmu, eonni,” ujar Krystal meluapkan rasa senangnya. “Kau terlihat sangat cantik.”

Siapapun yang melihat penampilan Yoona, memang tidak bisa menolak pesonanya. Malam ini Yoona mengenakan dress panjang berwarna putih.

Yoona tersenyum dan membelai lembut kepala Krystal, “Kau juga terlihat sangat cantik.”

Kris berdeham lalu menyuruh Krystal untuk kembali ke kursinya. Pria itu langsung menarik Yoona untuk mendekati kedua orang tuanya yang sudah duduk berhadapan dengan Presdir Choi dan Sooyoung.

Presdir dan Nyonya Wu terlihat senang dengan kedatangan Yoona. Mata keduanya menatap takjub pada sosok wanita yang begitu cantik dan anggun di depan mereka.

Appa, eomma. Kenalkan dia kekasihku, Huang Yoona,” ujar Kris.

Bibir mungil Yoona melengkung, seiring gerakan tubuhnya yang membungkuk sopan.

“Namaku Huang Yoona. Senang sekali bisa bertemu dengan kalian, ahjussi, ahjumma,” sapa Yoona memperkenalkan diri.

Presdir dan Nyonya Wu sangat senang dengan sikap sopan yang diperlihatkan Yoona. Keduanya tanpa segan langsung berdiri dari kursi mereka. Nyonya Wu tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ia bahkan tidak sungkan memeluk Yoona dan membelai wajahnya.

“Tidak kusangka, Kris bisa mendapatkan wanita seperti dirimu. Sudah cantik, berbakat, dan sangat sopan,” puji Nyonya Wu.

Yoona tersipu dan menunduk dalam, “Ahjumma terlalu memuji.”

“Apa yang dikatakan istriku benar, Yoona-ssi. Kami sangat senang akhirnya Kris bisa memiliki kekasih. Apalagi wanita secantik dirimu,” sambung Presdir Wu.

Yoona hanya tersenyum menanggapi pujian orang tua Kris yang dilontarkan padanya. Sesekali wanita itu melirik ke arah Presdir Choi dan Sooyoung. Yoona menyapa keduanya, walau tahu tak akan mendapatkan sambutan baik. Presdir Choi terlihat sangat tidak suka, sementara Sooyoung hanya tersenyum getir. Hal itu membuat Yoona merasa tidak nyaman.

Makan malam pun dimulai. Semua orang sudah duduk di kursi masing-masing. Yoona tampak duduk di sebelah Kris. Ia berhadapan langsung dengan Sooyoung. Entah kenapa keduanya merasa canggung. Sedari tadi hanya melempar senyum satu sama lain.

“Kudengar Sooyoung baru saja membuka sebuah galeri lukisan,” ucap Presdir Wu di tengah-tengah acara makan malam mereka.

Sooyoung mengangguk, “Ne, ahjussi. Baru resmi dibuka kemarin.”

“Benarkah? Selamat atas dibukanya galeri lukisanmu di Seoul. Lain kali, jika aku ada waktu luang, aku akan berkunjung ke sana,” sahut Presdir Wu dan dibalas senyuman oleh Sooyoung.

“Yoona-ssi, bukankah kau juga seorang pelukis, sama seperti Sooyoung?” tanya Nyonya Wu pada Yoona.

Yoona terkesiap dan langsung menoleh cepat. Ia mengangguk pelan, “Ne. Hanya saja kami berbeda aliran. Sooyoung memilih aliran ekspresionisme, sementara aku memilih aliran naturalisme.”

“Oh, begitu rupanya,” ucap Nyonya Wu. “Lalu—sekarang kau menjadi guru melukis Krystal?”

Ne, kebetulan Krsytal juga memiliki minat terhadap aliran yang sama denganku. Sehingga kami merasa cocok dan aku tak ada alasan untuk menolaknya,” jawab Yoona.

“Bagaimana dengan kemampuan melukis Krystal?” kali ini Presdir Wu yang bertanya.

“Dia sangat berbakat, ahjussi. Pertama kali aku melihat hasil lukisannya, aku bisa melihat, di masa depan nanti Krystal akan meraih kesuksesannya sebagai pelukis,” jawab Yoona. “Asalkan dia tekun dan terus melukis.”

Presdir dan Nyonya Wu tampak senang dengan penuturan Yoona. Keduanya kagum dengan kepintaran yang dimiliki Yoona. Sedari tadi, Kris tersenyum sambil menikmati makan malamnya. Hal itu berhasil ditangkap oleh Sooyoung yang langsung murung.

Presdir Choi merasa tidak senang dengan perhatian yang lebih terpusat pada Yoona dibanding pada putrinya sendiri. Ia tak tahan dan segera melakukan rencananya.

“Yoona-ssi, kudengar kau tinggal bersama orang tua angkatmu. Apakah itu benar?”

DEG!

Tubuh Yoona membeku saat Presdir Choi melontarkan pertanyaan tentang keluarganya. Kris membelalakkan matanya ke arah Presdir Choi. Reaksi yang sama juga diperlihatkan oleh semua orang, termasuk Sooyoung. Selain Yoona yang tengah menunduk dalam, mereka tampak fokus memandangi Presdir Choi.

“Apa maksudmu, Kangta?” tanya Presdir Wu penasaran.

“Maafkan aku, Yi Lan. Aku hanya mendengarnya saja dari seseorang,” jawab Presdir Choi. “Kudengar, Yoona diangkat anak oleh keluarga Huang Zhi Lei. Mantan atlet wushu yang berasal dari China.”

Tangan Yoona mulai gemetar. Ia tak menduga jika Presdir Choi akan membuka latar belakang keluarganya di depan orang tua Kris. Yoona teringat akan pesan Presdir Choi sebelumnya. Apakah ini maksud dari Presdir Choi yang ingin melihat reaksi orang tua Kris terhadapnya? Dengan membeberkan informasi tersebut, apakah Presdir Choi berniat membuatnya terlihat tidak setara dengan keluarga Kris.

“Apa itu benar?” tanya Nyonya Wu turut penasaran.

“Itu benar, eomma,” di luar dugaan, Kris justru menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk Yoona.

“Yoona memang diangkat anak oleh keluarga Huang Zhi Lei,” lanjut Kris.

Yoona menoleh kaget dengan sikap Kris. Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk padanya. Memberi isyarat agar Yoona tetap tenang dan menyerahkan semuanya pada Kris.

“Memangnya kenapa jika Yoona tinggal bersama orang tua angkatnya?” tanya Kris dingin pada Presdir Choi. “Bagiku itu sama sekali bukan masalah, ahjussi.”

Suasana menjadi hening. Ketegangan semakin terasa kental di antara mereka. Tampak Kris dan Presdir Choi saling beradu tatapan tajam.

“Kris benar, Kangta,” akhirnya Presdir Wu bersuara. Ia mencoba mengembalikan situasi seperti semula.

“Jika Kris sudah berkata demikian, kami sama sekali tidak mempermasalahkannya. Asalkan Kris bisa hidup bahagia bersama wanita pilihannya, bagi kami itu sudah cukup,” lanjut Presdir Wu.

Nyonya Wu mengangguki ucapan suaminya lalu mengulum senyum ke arah Yoona. Yoona tersenyum senang karena orang tua Kris sama sekali tidak mempermasalahkan latar belakang keluarganya. Itu artinya, mereka menerima hubungan ‘sandiwara’ yang dilakukannya bersama Kris.

Yoona kembali memperhatikan Presdir Choi. Tubuhnya terasa kaku saat Presdir Choi menatap tajam padanya. Ia merasa tak nyaman dengan suasana di ruangan tersebut.

“Maaf, aku permisi sebentar,” ucap Yoona seraya bangkit dari kursinya. Lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan tanpa sempat memberi penjelasan pada Kris. Wanita itu hanya bermaksud pergi ke toilet untuk menenangkan diri. Namun, Kris terlanjur cemas padanya karena Yoona tak mengatakan apapun.

“Tidak menyenangkan,” suara Krystal tiba-tiba terdengar setelah Yoona keluar. Gadis itu langsung mendapat peringatan dari orang tuanya. Ia menatap kesal ke arah Presdir Choi. Rupanya, tak hanya Kris yang tidak menyukai Presdir Choi. Krystal pun kurang menyukai teman ayahnya tersebut.

Sooyoung meneguk minumannya, lalu menghela nafas pelan. Ia merasa malu dengan sikap ayahnya. Ia tahu ayahnya itu berupaya menjatuhkan Yoona di depan keluarga Kris. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kris membela wanita itu depan matanya sendiri. Bukankah itu sudah cukup memperlihatkan betapa Kris sangat melindungi Yoona?

Di sisi lain, Yoona yang berniat pergi ke toilet, tampak berjalan merapat ke dinding bangunan restoran. Kakinya terasa lemas. Untuk berdiri tegak pun sangat susah. Ia senderkan punggungnya sejenak, sambil berulang kali menghela nafas untuk menenangkan diri.

Raut wajah Presdir Choi kembali terlintas dalam benaknya. Yoona merasa takut, sekaligus bingung dan penasaran. Yoona merasa tidak asing dengan ekspresi wajah yang diperlihatkan Presdir Choi padanya. Sejak kemarin, kepala Yoona terus dipenuhi sosok Presdir Choi. Kenapa setiap kali bertemu dengannya, Yoona seperti teringat sesuatu akan masa lalunya?

“Sebenarnya siapa orang itu?” gumam Yoona dibuat penasaran.

Karena terlalu memaksakan diri, kepala Yoona terasa sakit. Semakin lama semakin sakit, sampai tak sanggup untuk berdiri tegak. Meski begitu, Yoona tetap berusaha berjalan menuju toilet yang tak jauh dari posisinya.

Sayang, saat Yoona berhenti di depan pintu toilet, wanita itu justru tak sadarkan diri. Ia jatuh pingsan.

Dari kejauhan, tampak pria paruh baya berlari menghampiri Yoona. Rupanya pria itu berjalan di belakang Yoona.

“Nona, kau bisa mendengarku? Nona!”

Seorang wanita yang tidak lain adalah istrinya turut bergegas menghampirinya. Raut wajahnya tak kalah berbeda.

“Suamiku, ada apa?” tanyanya cemas.

“Entahlah. Aku menemukannya sudah jatuh pingsan di sini,” jawabnya. Keduanya berusaha membangunkan Yoona tapi tetap tak ada reaksi.

Tak berapa lama kemudian, tampak tiga orang pria berpakaian serba hitam menghampiri mereka. Diduga ketiga orang tersebut adalah pengawal mereka.

“Presdir Im?” salah satu dari tiga orang tersebut langsung memanggil pria paruh baya yang mengangkat tubuh Yoona.

“Bantu aku membawanya ke dalam mobil,” titah pria yang dipanggil Presdir Im tersebut. Ia menoleh ke arah istrinya, “Sebaiknya kita bawa ke rumah saja.”

Sang istri hanya mengangguk dan mengikuti suaminya dari belakang. Keduanya sepakat membawa Yoona ke rumah mereka.

.

.

.

.

.

­-To Be Continued-

Halo, akhirnya bisa selesai juga. Maaf membuat kalian lama menunggu *bow*.

Untuk beberapa bulan ke depan, aku memang nggak bisa sesering sebelumnya untuk menulis FF. Karena kali ini harus bener-bener fokus dengan skripsiku. Lagi cari ide buat proposal skripsi yang baru *curcol*

Jika ada waktu luang aku sempatin nulis. Kemungkinan memang banyak yang bakal molor kelanjutan FF-nya. Maaf banget dan mohon pengertiannya.

Terima kasih sudah membacanya❤😉

Maaf kalau kurang memuaskan dan jika ada typo yang bertebaran (^_^)v

-cloverqua-

77 thoughts on “Destiny 7

  1. Omgg…. Yoong ketemu org tua kandungnya….
    Ff ini semakin seruuu
    Ak suka ceritanya..
    D tunggu lanjutannya y thor
    Gomawo😉

  2. presdir choi jahat banget. ga sukaaa sma dia😛
    wah yoona udh mulai ketemu sma orang tua kandungnya. tambah seru aja nih🙂

  3. Aaa…
    Maafkeun kak, aku telat baca.

    Dan dan… Yes! Yoona kayaknya mulai bertemu ama orang tua aslinya. Dan dia kayaknya mulai inget ama masa lalunya. Semoga aja.

    Kesel banget ama si Tuan Tuan Choi Choi itu. Jahat banget! Tapi kasian ye, niat buruknya malah tetep diterima baik tuh oleh keluarga Kris.

    Dan aku bener-bener iri ama Krystal di ff ini. Selain punya kakak ganteng, juga punya sepupu seketjeh Kai.. Adeuh… Envy.

    Aku mau terbang dulu ke chapter selanjutnya see you kak.

  4. ya ampun yoona eonni smpe pingsan gtu.. untung yg bntu yoonaeonni tuh orang tua kandung yoona eonni.. jgan2 presdir choi itu orang yg udh buat yoona eonni kecelakaan.. dtggu ya chap slnjutnya🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s