MONO SCANDAL 2nd

mono scandal 1 copy

[Aku mencintainya, lalu kau mau apa?]

Teaser|1st|

||

“Kau mau berjanji sesuatu padaku?”
Aku menatap anak laki-laki di hadapanku lalu mengangguk. Dia tersenyum lalu memegang jemariku. “Ingatlah Im Yoona, saat dewasa nanti. Aku akan menemuimu, menjemputmu dan membawamu agar tinggal bersamaku. Lalu kita akan memiliki keluarga yang bahagia. Kau mau kan?”
Aku menggeleng, “Aku tidak mau Oppa, kau kan kakak-ku. Appa akan marah pada kita jika kita menikah”
“Kita hanya saudara tiri. Kita sepantaran, dan aku mencintaimu. Aku akan tetap menikahimu. Kau akan tetap menjadi Im Yoona-ku. kau mau menungguku kan?” kekehnya. Aku tertawa kencang lalu mencubit lengannya.
“Oppa! Kita baru berusia 10 tahun. Mengapa kau sudah bicara soal ini? Menyebalkan!”

“Kau benar-benar tidak mengenalku?” aku membuka mataku lalu menatap di sekitar. Mengapa bayangan itu muncul lagi? Mataku ku kerjapkan berkali-kali. Aku menatap sosok yang telah berdiri dengan jarak tidak jauh dariku. Dia menatapku, dengan tatapan yang beda. Jauh lebih lembut. Aku benar-benar tidak mengenalnya. Kepalaku ingin meledak, aku memberikan kode pada asistenku untuk pergi, mengabaikan makian Appa dan tatapan pria itu.

Di sepanjang perjalanan, aku hanya diam. Menatap pemandangan di luar, kepalaku benar-benar sakit. Perasaanku sangat kacau. Aku membenci Appa yang tidak menyadari keadaanku. Aku menoleh ke arah asistenku ketika merasakan jemariku digenggam olehnya. Dia tersenyum manis meski pandangannya lurus menatap jalanan. “Kau yakin tidak mengenal pria itu?”
Aku menghela nafas lalu menyandarkan bahuku lebih dalam. Dia tau pertanyaannya mengangguku, “Tidak usah dijawab Yoong”
“Aku tidak tau, tapi aku seolah mengenal tatapan itu. Kau tau? Saat melihat matanya, aku mengingat masa laluku. Masa lalu yang sudah lama aku kubur. Ada yang tidak kau tau selama ini tentang aku. Sebenarnya..” aku menarik nafas lalu membuangnya. “Aku memiliki kakak tiri. Kami dipisahkan oleh Appa saat kami berusia 10 tahun, aku bahkan tidak pernah tau bahwa saat itu adalah pembicaraan kami yang terakhir. Oppa-ku tinggal bersama Umma-ku. karna Ummanya sudah meninggal saat melahirkannya” lanjutku.
“Bagaimana kabar Oppa-mu sekarang?” tanyanya. Aku menggeleng lemah dan menarik tanganku yang digenggamnya untuk menutupi wajahku. Aku mulai terisak, sehingga ia terpaksa harus memberhentikan mobil kami. Dia menarikku ke dalam pelukannya yang hangat. Satuhal yang harus kalian tahu, saat didalam pelukannya seperti ini. Aku merasa seperti di peluk oleh Oppa-ku. dia selalu memelukku ketika aku ingin menangis, dia selalu melakukan itu. “Sshh- Sudah Yoong, berhentilah menangis. Tenang aku ada disini”
Aku merasakan dia membelai rambutku begitu lembut. “Kau tidak perlu khawatir Yoona, aku akan selalu bersamamu. Meski Appa akan memisahkan kita”
Aku menghentikan tangisanku ketika mendengar ucapannya. Tapi sungguh aku benar-benar tidak mengerti maksud dari ucapannya. Dia melepaskan pelukannya lalu menghapuskan air mataku. “Berjanjilah untuk tidak menunjukkan air matamu, di depan orang lain. Selain aku”
Aku hanya mengangguk, kemudian dia mulai menyalakan mobil lagi dan melanjutkan perjalanan kami. Aku ingin tidur secepatnya. Melupakan semua kejadian malam ini.

Umma, kenapa Umma meninggalkan aku? Kenapa Umma membiarkan aku hidup bersama Appa? Aku terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhku hingga pakaianku pun lembab. Jantungku berdetak kencang, bagaimana mungkin aku bermimpi tentang Umma lagi? Aku melihat jam yang baru menunjukkan pukul 3 pagi, sedangkan aku harus pemotretan pukul 6 nanti. Ku hela nafas dan beranjak dari kasurku, membuka pintu kamarku menuju ke balkon. Meskipun sudah menjelang pagi, langit begitu gelap. Aku mendongak memandang bintang-bintang yang masih berkelap-kelip. Kupejamkan mataku, Umma, sejak tadi aku memikirkan Oppa. Bagaimana kabarnya? Mengapa saat kau kembali ke Seoul kau tidak datang bersamanya? Aku mulai menguap sehingga mataku berair, untung saja kantukku kembali. Aku memutuskan untuk kembali tidur. Oppa, aku merindukanmu

“Appa akan ada meeting dengan klien di Singapore selama seminggu. Jadi, Appa harap kau tidak akan membuat masalah selama Appa pergi” ucapnya ketika aku ingin menyantap roti selaiku. Ku hela nafas pelan, ini sudah biasa. Dia selalu memikirkan dirinya sendiri, aku sudah kehilangan selera makanku. “Kau dengar aku Calista? Kau fikir aku sudah memaafkanmu setelah apa yang kau lakukan semalam? Itu klien penting bagi perusahaanku. Dan kau, kau membuat Appa dan dirimu sendiri malu”
Aku meneguk susu kemudian menatapnya. “Sudah selesai? Pergilah, aku tidak ingin karna memarahiku nanti kau ketinggalan pesawatmu” dia menggeram kemudian berlalu dari pandanganku. Memang, lebih baik dia pergi. dia terlalu sering membuatku sakit kepala. 10 menit setelah kepergian Appa, asistenku tiba. Seperti biasa dengan senyum coolnya.
“Selamat pagi, di mana Tuan Im?” aku mendengus menatapnya.
“Kau datang ke sini hanya ingin menanyakan Appa-ku?” singitku. Dia tertawa pelan lalu mengelus rambutku. “Aku hanya bertanya Yoong, tidak biasanya Tuan Im tidak ada saat aku datang”
Dia mengambil roti selaiku lalu memakannya, selalu bersikap seenaknya. Aku menatap tajam kearahnya sambil menghabiskan susuku. “Ayo kita berangkat, aku bisa dicincang managermu itu jika kau telat” ucapnya sambil menarik lenganku untuk pergi.

“Calista!” seorang gadis bertubuh mungil melambaikan tangan kearahku. Itu Kim Taeyeon managerku. Selain asistenku ini, dialah yang juga orang terdekat denganku. Aku berlari menghampiri Taeyeon Unnie, meninggalkan asistenku itu. Dia memeluk tubuhku begitu erat. kemudian melepaskan pelukanku ketika sadar asistenku sudah berdiri diantara kami.
“Hay, Taeyeon Noona. Bagaimana kabarmu?” tanyanya basa-basi. Aku memutar bola mataku, dia ini ganjen sekali dengan Taeyeon Unnie. Mungkinkah dia menyukainya?
“Baik, kau sendiri?”
“Masih seperti ini, selama bocah ini masih sulit kuatur” jawabnya sambil merangkul bahuku. Dia ini! Jika saja Appa mendengar ucapannya mungkin dia sudah dipecat. “Ah- kau menyebalkan. Baiklah aku duluan”
Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar menuju ruang make up. Kudengar asistenku mengumpat dengan sikapku. Aku tertawa pelan. Ketika di dalam ruangan aku sudah melihat beberapa penata riasku sudah stand by disana. “Calista, ada surat untukmu”
Aku memandang salah seorang dari mereka yang memberikan sebuah amplop berwarna merah muda kepadaku. Salah satu alis kunaikkan sambil menatap mereka satu persatu. “Siapa yang memberikan ini?”
“Apa disana tidak ada nama pengirimnya?” jawab salah seorang dari mereka. Itu Jean. Aku menggeleng. “Tidak ada Unnie, di mana kau menemukannya?”
Jean Unnie menunjuk sebuah parsel dengan isi pakaian untuk sesi pemotretan ku hari ini. “Aku menemukannya disana, terselip diantara sela-selanya”
“Surat dari siapa?” aku nyaris melompat ketika mendengar suara nyaring dari asistenku. Entah sejak kapan dia telah berdiri dibelakangku sambil memandangku dengan pandangan bingungnya. “Surat dari siapa Yoong?”
“Entahlah, tidak ada nama pengirimnya. Apa ini hanya orang iseng?” aku berkali-kali membolak-balikkan amplop itu namun hasilnya nihil. Kemudian aku mulai membukanya.

Temui aku jam 7 malam ini di Café Modѐna
Fr : WYF

Aku memandang asistenku dengan tatapan aneh, WYF? Apa itu sebuah singkatan nama? Asistenku dengan kasar merebut surat ini dari tanganku, kemudian meremasnya dan membuangnya ke tong sampah. Aku memandang tajam kearahnya. “Apa-apaan sih kau ini?”
“Kau tidak usah menanggapinya Yoong, hanya orang iseng. Ayo cepat bersiap” dia mendorongku agar mendekat dengan Jean Unnie dan kawan-kawannya. “Aku akan memastikannya. Aku akan datang menemui Tuan WYF itu” tandasku. Kemudian menyuruh Jean Unnie segera men-touch up ku.
“IM YOONA!” pekiknya. Masa bodoh, apa-apaan dia mengaturku. Aku tau, dia memang berniat baik untuk menjagaku. Namun aku penasaran dengan surat itu. Aku mengabaikan geramannya. Biarkan saja dia ¬mencak-mencak hari ini.

Aku menarik resleting dressku kemudian merapihkannya. Aku baru membeli gaun ini karna aku memang menyukainya, gaun ini yang tadi kupakai untuk pemotretan. Gaun sponsor istilahnya. Namun aku begitu menyukainya. Setelah selesai merapihkan rambutku, aku mengenakan pita berwarna pink yang sesuai dengan warna dressku. “Kau benar-benar akan pergi?”
Aku mengepalkan kedua tanganku, rasanya ingin sekali aku meninju wajah sok polos itu. Dia memang tampan, apalagi dengan dagu yang tertarik keatas menunjukkan bahwa dia adalah pria dewasa yang begitu bertanggung jawab. Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Mengabaikan pertanyaannya. Kuambil kunci mobil dan handphoneku diatas kenakas sebelum dia mencekal lenganku.
“Aku yang akan mengantarmu Yoong” pintanya. Kemudian kulepaskan tangannya dari lenganku. Dia menatapku dengan wajah memelasnya, uh. Menyebalkan. “Aku akan pergi sendiri. Kau tunggu dirumah. Jika sampai jam 9 aku belum kembali, kau boleh menyusulku”
“Tap- Yoong..”
Aku melangkah menuju garasi mobilku dan nyaris tertawa ketika melihat ekspresinya yang begitu menyedihkan. Dia melihat pasrah kearahku dengan kepala yang menyender di pintu.
I’ll back later..” ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku kearahnya.

Aku sampai di café modѐna pukul 7 kurang 5 menit. Melihat suasana café begitu ramai aku menghela nafas gusar. Kemudian seorang pelayan wanita berjalan menghampiri kearahku.
“Selamat malam, ada yang bisa Saya bantu?” Aku mengangguk dan tersenyum kearahnya. “Meja atas nama Tuan WYF di sebelah mana ya?”
Pelayan wanita itu tersenyum lalu menyuruhku untuk mengikutinya. Dia menaiki anak tangga, rupanya Tuan WYF itu memesan ruangan yang begitu privacy. Buktinya diatas sini sama sekali tidak ada pengunjungnya, hanya ada satu orang. Seorang pria yang berdiri tegap menghadap pemandangan yang seluruhnya adalah lautan, karna memang café ini memiliki view yang menuju ke lautan. Aku memandang postur tegapnya dari belakang. Aku seperti pernah melihatnya. Pelayan wanita itu menyentuh bahuku pelan lalu mengangguk meminta izin pamit meninggalkanku. Akupun tersenyum mengiyakannya.
“Selamat malam..” aku berdehem sembari menyapanya. Perlahan dia mulai membalikkan badannya. Mataku membulat ketika melihatnya. Pria itu, ternyata dia.. relasi Appa yang kemarin malam bertemu denganku. Kedua ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan sangat manis meski terlihat dipaksakan. “Selamat malam Calista”
“Kau..?!” dia menarik lenganku agar mendekat kearahnya. Jantungku berdetak semakin cepat, bahkan terdengar begitu kencang. Aku sangat takut jika dia pun mendengarnya. “Kau masih seperti Calista yang dulu”
Aku seperti dipermainkan olehnya, dengan dia mengatakan aku lupa dengannya. Dan aku masih seperti dulu? Sebenarnya dia itu siapa sih?
“Siapa kau? Alasan apa kau mengajakku kesini?” tanyaku. Meski terdengar kurang sopan dia masih tetap tersenyum. Walau matanya menatap lurus kearah lautan. Entah mengapa akupun mengikutinya, menatap lautan yang perlahan membuat aku nyaman.
“Rupanya kau begitu sombong sehingga melupakanku. Pria yang telah menolongmu dari kejaran anjing gila saat di China dulu” terangnya. Aku sontak menoleh kearahnya. Jadi dia..
Guk Guk
Aku berlari sekuat tenagaku berusaha menghindari makhluk menggonggong dibelakangku. Rasanya kakiku semakin mati rasa. Bagaimana ini? Aku bahkan nyaris seperti kehilangan udara.
Guk guk.. Guk guk
Ku mohon, anjing yang baik hati. Berhentilah mengejarku, aku ini anak baik. Aku bahkan menyayangimu. Berhenti..lah. aku berlari sampai tidak memperhatikan jalanku sehingga kakiku terantuk membuat lariku menjadi oleng. Aku memejamkan mata begitu erat ketika tahu wajahku dan seluruh tubuhku akan mendarat ditempat yang tidak semestinya. Tiidaaa-ak
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
Aku menghitung 1-10 namun tidak merasakan apapun. Tidak juga merasakan sakit yag sejak tadi aku takuti. Kubuka mataku perlahan, apa aku di surga? Tapi mengapa semuanya berwarna hiau?
“Hey, kau tidak apa-apa?” aku mendongak menatap anak laki-laki jangkung berdiri di depanku dengan memegang lenganku. Dia tersenyum manis meski agak dipaksakan sambil sebelah tangannya mengibas-ibaskan di depan muka-ku. “Ah-aku baik-baik saja”
Setelah memastikan aku bisa berdiri tegak dia melepaskan tangannya dari lenganku.
“Terima kasih.. kau siapa?”
“Aku Wu Yi Fan, kau?” tanyanya. Aku tersenyum sambil memberikan kartu namaku bergambar rilakumma. “Oh, Calista Im. Rupanya kau orang Korea ya?”
Aku mengangguk melebarkan senyumanku. “Kau kakak kelasku ya?”
Kini giliran dia yang mengangguk. “Aku satu tahun di atasmu. Itulah sekolahku”
Dia menunjuk asrama pria yang bersebelahan dengan asrama wanita. “Senang berkenalan denganmu Yi Fan Oppa”

“Yi Fan Oppa.. Ya Tuhan. Bagaimana bisa aku melupakanmu? Seharusnya aku sudah sadar sejak aku membaca singkatan namamu” pekikku. Dia tertawa melihat tingkahku.
“Apa aku terlihat lebih tampan sehingga kau tidak mengenaliku?” tanyanya sambil terkikik. Aku mengangguk sambil tertawa. “Kita terakhir bertemu saat sebelum aku kembali ke Korea karna di kontrak oleh W-Entertainment. Dan wajahmu sudah jauh terlihat lebih dewasa Oppa”
Dia menarikku dalam pelukannya membuat aku terpaku. Aroma mint yang dulu sering ku hirup ketika bersamanya kini terhirup lagi. Bagaimana bisa aku melupakkan aroma mint ini? Kau bodoh Cal. “Aku sangat merindukanmu Calista..”
Aku juga mengangguk dalam pelukannya. “Aku juga merindukanmu Oppa, sangat”

“jam 9 lewat 15 menit Im Yoona, kau terlambat” aku menghela nafas ketika mendengar suara itu. Meski kini keadaan begitu gelap, aku cukup mengetahui siapa pemilik suara itu. Aku melepas heelsku dan menjinjingnya, dalam seminggu aku hanya beberapa kali mengenakan sepatu sialan itu. Dan kini, hanya karna sebuah surat dari seseorang yang awalnya tidak ku kenal aku rela mengenakkan monster itu. Ergh.
“Ini malam minggu, kau seperti lupa jika Seoul sangat padat saat jam seperti ini” kilahku sambil menghampirinya lalu duduk di sofa sebelahnya. Giliran dia yang bangkit menuju dapur mengambilkanku segelas susu. “Sudah tau begitu kenapa memilih pulang malam? Lagipula, siapa yang mengirim surat itu?”
Aku menghentikkan acara minumku dan tersenyum manis menatapnya, seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Eh tunggu? Jatuh cinta?
“Relasi Appa malam itu, dia yang mengirimkanku surat” Prakk! Dia menjatuhkan remote tv yang sejak tadi di genggamnya. Aneh sekali, kenapa ekspresinya berlebihan seperti ini? “Pria itu?” desis asistenku.
Aku mengangguk dan kembali meneguk susu. “Im Yoona, kau mengenalnya memang?”
“Tentu saja, ternyata dia adalah kakak kelasku saat aku sekolah di asrama China” jawabku. “Wu Yi Fan namanya”
Asistenku diam, kemudian tanpa mengucapkan apapun padaku. Dia mengambil hoodienya kemudian berjalan menuju pintu rumahku. Dia ingin pulang? Ku kira dia akan menemaniku malam ini.
“Kau mau kemana?” tanyaku. Dia hanya diam dan menyalakan motor besarnya. Kemudian menghilang di pandanganku. Apa yang terjadi? Apa aku salah bicara? Aku memutuskan untuk berbicara dengannya besok. Lebih baik aku istrahat saja malam ini. Badanku remuk sekali rasanya.

Pagi ini terasa begitu berbeda menurutku. Jelas saja, aku tidak melihat batang hidung asistenku sejak tadi. Hanya ada Ahjumma Lee yang menemaniku untuk sarapan. Kurasakan handphoneku bergetar.

Aku ada urusan penting pagi ini. Jadi kau pergi duluan ke W-Entertainment Buildings. Nanti ku susul sesegera mungkin

Aku menghela nafas berat, tidak biasanya asistenku mengabaikanku seperti ini. Meskipun ada hal penting, tapi dia akan lebih dulu mengutamakan kepentinganku baru kepentingannya. Apa dia masih marah dengan hal semalam? Tapi karna apa? Aku kan hanya mengatakan aku bertemu dengan relasi Appa yang ternyata adalah kakak kelasku saat di China.

Aku merengut ketika tiba di gedung manajemenku. Senyum tipis terpeta di wajahku saat melihat Taeyeon Unnie melambaikan tangannya kearahku lalu berlari menghampiriku. “Kau ini kenapa Cal? Sepagi ini wajahmu sudah ditekuk seperti bebek” ejeknya.
“Aku sedang tidak mood Unnie” jawabku sekenannya. Dia merangkulkan tangannya dibahuku. “Aku tau, pasti karna dia kan?”
“Siapa?”
“Siapa lagi, semua orang disini juga tau Cal, jika kau dan asistenmu itu punya hubungan yang spesial. Aku benarkan?”
Aku menaikkan sebelah alisku tidak mengerti dengan ucapan wanita ini. Sudah ah, aku pusing. Aku melangkahkan kakiku menjauhi Taeyeon Unnie yang teriak-teriak kesal dengan sikapku. Masa bodoh dengan semuanya. Mengapa mereka hanya bisa membuat moodku makin buruk saja sih!

“Calista, hari ini kita akan mengadakan sesi pemotretan di luar. Karna brand produk ini memang untuk diluaran” jelas Taeyeon Unnie. Dia menatapku begitu serius, aku melototinya kemudian dia baru berlalu meninggalkanku. Ini sudah hampir satu jam sejak kedatanganku ke gedung manajemen ku sendirian dan aku sama sekali belum melihat asistenku muncul. Sebenarnya urusan apa sih yang menurut dia begitu penting sehingga mengalahkan urusanku? Hey, aku tidak cemburu kan. Iya I’m not jealously. Of course, I just.. aarrggghh!
Take one..” teriak photographerku sambil mengacungkan jari telunjuknya member aba-aba pada kru bahwa sudah mau sesi yang pertama. Aku kali ini mengenakan bikini yang menurutku tidak terlalu seksi karna memang hanya seperempat tubuhku yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Tentu saja dari pahaku hingga kakiku yang jenjang kemudian lenganku dan wajahku. Bikini yang kukenakan berwarna pink dengan polkadot hijau. Kulebarkan kedua tanganku dan mulutku sedikit terbuka seolah-olah aku sedang berteriak kencang. Photographer¬ku mengacungkan jempolnya karna menyukai improvisasi yang kulakukan.
Kemudian aku memutar tubuhku menyamping dari kamera sehingga hanya sebelah kiri saja yang terlihat, aku menggenggam beberapa anak rambutku dan menggigit bibirku memperlihatkan kesan bahwa aku supersexy. Dan beberapa gaya lagi sesuai arahannya kemudian aku beristirahat. Sampai saat ini aku tidak melihat batang hidung asistenku, apa mungkin dia tidak datang?
“Minumannya..” aku mendongak ketika melihat sebotol jus jeruk ada dihadapanku. Kudongakkan kepalaku dan menatap pria bertubuh jangkung dengan mengenakan pakaian formalnya. Dia Yi Fan Oppa. “Yi Fan Oppa..”
Aku mengajak Yi Fan Oppa duduk dibangku yang memang telah disediakan untukku dan –asistenku. Namun kali ini aku duduk dengan Yi Fan Oppa. Dia tertawa melihatku kemudian merogoh saku celananya, ternyata dia mengeluarkan sapu tangan dan menempelkannya pada dahiku dan permukaan wajahku yang memang telah basah karna keringat. “Aku tidak pernah sadar jika Calista Im begitu seksi”
Aku tertawa kencang sembari sesekali menyubit pinggangnya kesal. “Kau berlebihan Oppa, ini hanya tuntutan pekerjaan”
“Dimana asistenmu itu? Tidak biasanya dia tidak ada disampingmu?” aku nyaris tersedak karna Yi Fan Oppa menanyakan asistenku. Apa dia mengenalnya? Saat pertanyaan itu muncul dari Yi Fan Oppa, sudut mataku menangkap sosok yang tengah berdiri di bawah pohon tempat aku melakukan beberapa pose tadi. Sosok itu mungkin saat ini sedang menatap tajam kearah-kami, entahlah. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.
“Dia baru saja datang kurasa” jawabku. Yi Fan Oppa mengangguk kemudian pamit untuk kembali ke kantornya karna dia ada meeting dengan Klien barunya. “take care Oppa..” ucapku.
Dia mengangguk dengan senyuman coolnya. “I’ll call you as soon

Aku sudah melewati beberapa sesi dan seperti biasa aku merasakan badanku begitu remuk. Aku ingin sekali cepat sampai rumah, tapi aku lupa bahwa hari ini sutradara Choi mengadakan acara pertunangannya dengan Vic Unnie. Terpaksa aku harus menunggu dan merelakkan saat istirahatku terbuang percuma. Kulihat asistenku yang sedang memasukkan beberapa pakaian ku kedalam tas, aku berlari menghampirinya. “Tidak biasanya kau mengabaikanku”
Dia menghela nafas berat, aku tau mungkin dia sedang benar-benar butuh waktu sendiri, tapi sayangnya aku bukan tipe orang yang mengerti dan mudah memberikan waktu luang untuk seseorang menenangkan diri. terlebih jika aku ada sangkut pautnya dengan orang itu. “Aku lupa memberitahumu jika minggu depan aku akan pulang ke Busan menemui Ummaku”
“Busan?” aku mengernyit. Baru kali ini dia mengatakan bahwa keluarganya tinggal di Busan. “Berapa lama kau pergi?”
Dia menyeletingkan tasku setelah memastikan perlengkapanku tidak ada yang tertinggal. Kemudian tanpa menatapku dia menjawab. “Seminggu, tapi akan ku usahakan lebih cepat”
Aku memberengut kesal. Aku akan kerja seminggu tanpa asistenku? Ini pasti bencana.
“Aku tidak ingin kau pergi” gumamku pelan. Aku yakin dia tidak akan mendengarnya.
What did you say?” aku mendongak untuk menatapnya. Jantungku berdetak begitu kencang ketika tahu dia sedang menatapku dengan tatapan bahwa dia membutuhkan penjelasan dari gumamanku tadi. “Jam berapa kita akan datang ke acara sutradara Choi?”
Aku mencoba mengalihkan pembicaraannya, namun aku tau dia mengerti. Buktinya dia menghela nafas berat, kemudian membawa tasku dan berjalan mendahuluiku. Maafkan aku.
“Bukan kita Yoong, tapi kau” Damn! Kenapa aku begitu senang ketika mendengarnya menyebut namaku seperti itu. Lebih terdengar sweet. “Kau tidak mau menemaniku?”
Dia hanya diam dan buntutnya, aku kembali di cuekin olehnya.

Sepulang dari pemotretan tadi aku terus merengek memaksa asistenku memutar arah menuju salon. Dan Dia selalu mengatakan bahwa aku sudah terlihat cantik dan natural tanpa make up tidak perlu ke salon lagi tapi aku tetap memaksanya, aku tidak pernah kalah jika beradu argument dengannya.. Aku mengatakan bahwa wanita selalu membutuhkan tampilan yang lebih lagi agar terlihat memukau. Dia hanya menghela nafas berat kemudian memutar stirnya menuju ke salon langgananku. Sesampainya di Salon langgananku, beberapa staff yang berpenampilan seperti wanita (padahal seorang pria) berlari menghampiriku dan memelukku. Aku memang jarang ke Salon, dan aku akan pergi ke sana jika di butuhkan.
Can I help you, darl” aku mengangguk. “You are the best aku ngga mau tau buat dia begitu berbeda kali ini” aku mendorong tubuh asistenku yang sejak tadi berdiri disebelahku. Wajahnya terlihat begitu shock. Aku menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang jarang sekali dia perlihatkan didepan umum (kecuali jika hanya denganku tentunya)
“He-hei apa-apaan ini Yoong, Hei Im Yoona” pekiknya namun percuma, beberapa staff sudah menggiringnya masuk ke dalam. Aku memutuskan saat menunggunya, aku meminta mereka mem-blow rambutku. Kemudian aku mengambil handphoneku di saku tasku. Ddrr-ddrtt

Fr : Yi Fan Wu
Hai Cal, meetingku baru saja selesai. Kau sedang apa?

Aku terseyum simpul ketika ada sebuah pesan singkat dari Yi Fan Oppa, dengan cepat aku menekan layar touch untuk menjawabnya.

Fr : Me
Aku sedang ada di Salon Oppa, bagaimana meetingnya berjalan lancar?

Aku merasa seperti anak muda yang sedang berbunga-bunga saat kekasihnya memberikan pesan singkat berisi pertanyaan dan kata-kata manis. Senyumku semakin berkembang ketika handphoneku kembali bergetar.

Fr : Yi Fan Wu
Kau ada acara malam ini? Tentu saja, aku sudah diberi semangat olehmu tadi

Tawaku meledak, membuat beberapa staff dan pengunjung menatap aneh kearahku. Segera ku tutup mulutku dan mulai membalas pesan Yi Fan Oppa.

Fr : Me
Aku mendapat undangan pesta pertunangan Sutradara Choi dan Victoria Unnie

Tidak sampai 5 menit handphoneku kembali bergetar.

Fr : Yi Fan Wu
Kau juga di undang? Mau datang bersamaku? Kebetulan Victoria adalah teman saat SMA-ku dulu

Aku membulatkan mulutku membaca pesannya.

Fr : Me
Kita bertemu disana saja Oppa, Jam 7 malam. Baiklah sudah dulu ya Oppa. See ya!

Rambutku sudah hampir selesai namun aku belum melihat asistenku selesai di make over. Aku nyaris menjatuhkan handphoneku saat kembali bergetar.

Fr : Yi Fan Wu
Sampai bertemu disana. You too. Love ya!

Yi Fan Oppa baru saja mengatakan apa? Mencintaiku? God! Calista, itu kan hanya sebuah pesan singkat. Sebagai tanda salam hangat saja, just wake up hurry. Aku tidak membalas pesan terakhirnya. Aku tidak mau terlalu jauh.
“Stt, eerm..” aku mendongak ketika mendengar suara deheman seseorang-ternyata itu asistenku. Dia telah berdiri dihadapanku dengan tampilan yang sering dia tampilkan, tapi kali ini lebih terlihat .. tampan. I mean the most handsome. Apa yang baru saja kau kat- ah ini gila.
“Bagaimana?” tanyanya dengan wajah yang begitu pasrah dan seperti dipaksakan. Aku mengacungkan kedua jempolku “Kau sangat berbeda..”
Wajahnya memerah seperti tomat, membuatku ingin semakin tertawa. “Kau tidak benar-benar serius mengajakku kan Yoong?”
“Jika iya, kenapa?” tanyaku sambil membayar semua biayanya. Dia terlihat agak risih dengan tatapan beberapa wanita yang ada disini. Ingin rasanya aku merangkulnya agar mereka semua berfikir bahwa pria tampan ini milikku. Aku tau mungkin aku mulai gila saat tanganku mengenggam jemarinya begitu erat membuat satu-persatu yang menatapnya mengalihkan pandangannya. “Yoong, aku tidak ingin ikut”
“Kalau begitu, kau pulang saja sendiri. Aku bisa naik taksi” aku menghempaskan genggaman tanganku ketika kami sudah berada di luar Salon. Ku poutkan bibirku seperti biasanya. Dia menghela nafas (entah sudah yang keberapa kalinya) kemudian mendesah “Baiklah aku akan menemanimu”

Aku mengenakan pakaian yang senada dengan asistenku, mungkin orang yang tidak mengenal kami akan berfikir bahwa kami adalah sepasang kekasih. Aku terus melebarkan senyumku ketika beberapa kilatan lampu flash menyoroti dan memotret kami. Kueratkan genggamanku padanya. Dia menoleh kearahku lalu tersenyum, Tuhan bolehkah aku memilikinya? Cukup Cal, enough.
Sutradara Choi dan Vic Unnie begitu serasi malam ini, dengan gaun berwarna hitam sekaligus menambah kesan seksi dan sacral. Aku dan asistenku langsung berjalan menghampiri kedua calon mempelai itu. “Selamat ya Sutradara Choi.. Victoria Unnie”
Mereka tersenyum dan memeluk kami kemudian menyuruh kami menikmati hidangan yang telah disediakan. Asistenku meminta izin untuk ke toilet dan mengambil minuman untuk kami. Aku memutuskan untuk menunggunya di dekat pintu balkon. Sampai aku merasa ada sesuatu yang menyentuh bahuku. Aku membalikkan tubuhku. “Oppa..”
“Kau sendirian?” aku hendak menjawab kemudian aku melihat asistenku kembali dengan membawa 2 gelas minuman disertai dengan tatapan yang.. Errrrg
“Dia datang bersamaku” ucap asistenku. Yi Fan Oppa menampilkan smirknya menatap asistenku dengan pandangan yang tak kalah tajam. Aku merasakan suasana disekitar kami muai memanas, mereka hanya terdiam selama beberapa menit masih dengan tatapan yang seolah saling membunuh. “I have to go” ucapku
Asistenku memegang lenganku dengan sebelah alis yang dinaikkan, seolah bertanya : kau-mau-kemana. Aku berkilah ingin mengambil kue di meja sana. Kemudian dia mengangguk. “I’ll be back later..
Ketika telah memastikan bahwa jarakku sudah jauh dengan mereka aku membalikkan tubuh menatap mereka yang masih berpandangan sengit. Mereka seperti telah saling mengenal, aku merasakan hawa kompetisi diantara mereka. Apa benar mereka saling mengenal? Aku melangkah mundur tanpa memperhatikan sekelilingku sampai akhirnya aku merasakan kakiku terantuk kabel putih membuat tubuhku mulai terhuyung dan.. aku hanya bisa memejamkan mata.
“Lain kali kalau jalan hati-hati” desis seseorang tepat dibelakangku, aku mulai membuka mata ketika menyadari aku terjatuh tidak dalam posisi yang menguntungkan. Terlebih lagi aku terjatuh dalam keadaan terlentang dan menindih seseorang yang tidak bersalah. “Calista, matilah kau!” batinku

To Be Continued

Hai. sesuai  janjiku aku post secepet mungkin. maaf kalo part pertama bikin kalian bingung dan part ini mungkin akan lebih membingungkan. makasih buat adik aku yang rela pusing-pusing mikirin fanfic ini xoxo. sampai ketemu di part selanjutnya. see ya!

72 thoughts on “MONO SCANDAL 2nd

  1. Hadehhh selalu suka deh klo ff yoongexo tuh melibatkan 3 cowok kecee haha kris sehun sama luhann duhhh layaknya tuh pass banget deh.. Duh tapi bener sehun gga tau apa2 tentang luhan apaaa??? Duhh krishun tuh kayaknya ada something bgt sihh

  2. thoor,,,,,
    tiap baca harus comen pa gak sih,,,
    q sering lupa critanya,, jadi kalo ada chapter baru, q harus baca dari awal….

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s