(Freelance) A Day Without You

A Day Without You

A Day Without You

Written by YDH

Kim Jongin | Im Yoon Ah

Romance

Oneshot& Songfic

Credit poster by elevenoliu

                            [Ketika semua yang kulakukan berujung karenamu]

It doesn’t matter if I walk fast
I don’t need to match my steps with yours

Jongin melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Dengan penampilan berantakan seperti biasa. Hanya saja kali ini penampilannya berkali lipat lebih buruk. Kemeja kotak-kotak biru tua yang asal dikancingkan sehingga kaus polos putihnya terlihat, dan rambut cokelatnya yang sesekali ia acak karena terlalu kesal.

Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Helaan nafas terus keluar dari bibirnya. Hari ini terasa berbeda dengan hari-hari lainnya.

Tentu saja. Seseorang yang sempat mengisi hatinya ia tinggalkan begitu saja. Lebih tepatnya ia meminta putus dengan sepihak. Perlu diingatkan. Jongin yang memintanya. Tapi Jongin tidak memusingkan itu, ia malah lebih suka menjadi single seperti ini dan berjalan-jalan keluar rumah sendirian.

“Jongin-ah! Tunggu aku! Pelankan langkahmu!”

Langkahnya terhenti. Tubuhnya berbalik.

Hal yang tidak ia sadari sama sekali. Refleks.

Kenapa ia berhenti melangkah? Bahkan, perempuan itu tidak di sana. Yang biasanya tertinggal di belakangnya karena langkahnya yang cepat dan lebar. Perempuan itu tidak di sana, yang biasanya mengerucutkan bibirnya lucu karena lelah berjalan dengannya.

Jongin mengerjap pelan. Lalu, kembali melangkahkan kakinya. Kali ini lebih santai.

Im Yoon Ah tidak ada di belakangnya.

Oh, tidak. Tidak. Tidak.

Kepalanya ia gelengkan saat sosok perempuan itu kembali melintas di pikirannya. Ia menginginkan status seperti ini karena perempuan itu lama-lama mengganggunya lalu ia memutuskannya dan BOOM, ia bebas dari perempuan cerewet itu.

Tapi, kenapa Jongin seperti tidak bisa melupakannya?

Kim Jongin menggeleng. Kemudian kembali mempercepat langkahnya seperti biasa.

Oh, tidak. Tidak. Ini tidak apa-apa, Kim Jongin. Memutuskan gadis menyebalkan seperti Yoona memang pilihan yang tepat. Kau tidak salah langkah. Ya, aku tidak pernah salah.

I can go shopping for my own clothes
And I look at myself in the mirror, instead of your picture

Jongin merapihkan jaket kulit yang ia coba. Menghadap cermin sambil bergaya memperlihatkan kecocokannya dengan jaket yang akan ia beli itu. Tidak salahnya di siang hari seperti ini ia berbelanja baju sendirian.

Ya, sendirian. Entah kenapa kata yang satu itu begitu mengusik dirinya.

“Jongin-ah! Ayo temani aku shopping~”

Kepalanya ia gelengkan dengan cepat. Bayangan itu muncul lagi.

Saat matanya kembali ingin melihat bayangannya di cermin besar, bayangan itu muncul lagi di cermin. Seolah meledeknya. Ada dirinya dan Yoona di sana. Ia ingat saat itu, saat Yoona bersikeras menyuruhnya mencoba pakaian yang ia banggakan.

“Ayo, pakai! Ini sangat cocok untukmu!”

“Ah, tidak, tidak!”

“Yak, Kim Jongin! Kau tampan memakai ini!”

Jongin tersenyum sekilas, yang diakhiri dengan wajah bingungnya karena tersenyum tanpa ia sadari.

Lelaki itu akhirnya mengacak rambutnya kesal. Melangkah keluar dengan tergesa-gesa.

Tenangkan dirimu, Jongin. Semua yang kau lakukan ini benar. Kau tidak pernah salah. Tidak pernah.

Now I look for someone who is the opposite of you
All my habits that you hated, I start doing them again
So you won’t like it

Tubuhnya ia rebahkan di sofa, dengan secangkir kopi di meja kecil samping kanannya. Jongin membuka ponselnya. Mengecek pesan dan beberapa panggilan. Salah satunya membuatnya tertarik. Panggilan yang tidak ia jawab tadi siang karena sibuk memilih pakaiannya sendiri.

Nama Krystal Jung tertera di sana. Dipaling atas panggilan.

Jongin menyeringai. Teman kampusnya yang cantik dan seksi, dengan wajah sempurnanya menari-nari di pikirannya. Tidak salah juga ia mencari pengganti seorang Im Yoon Ah–mantan kekasihnya.

Bola matanya bergulir ke bawah setelah nama Krystal Jung.

Raut mukanya berubah masam. Ia memutar bola matanya, tangannya menggapai cangkir dan mengesap cairan hitam mengepul itu perlahan.

Kontak bernama ‘Yoong’ berada di bawah nama kontak Krystal.

“Jangan minum kopi terlalu banyak, Jongin-ah. Terus-menerus minum kopi tidak bagus untukmu.”

Kata-kata Yoona yang dulu mengingatkannya untuk menghentikan kebiasaan buruknya seolah berbisik di telinganya. Membuat dirinya mematung sesaat dan menatap cangkir kopi itu lekat.

Dan saat gadis itu sudah tidak berstatus menjadi kekasihnya –orang yang selalu melarang semua kebiasaan buruknya–, itu berarti ia bisa menjalankan kebiasaan itu lagi. Tanpa larangan. Bahkan, mencari gadis lain yang jauh lebih baik dari Im Yoon Ah.

Ya, setidaknya itu semua yang ada di dalam pikiran Jongin saat ini.

But the problem is,
After you left,
All of those reasons is ‘you’

Jongin menyumpal kedua telinganya dengan headset putih miliknya yang disambungkan dengan ponselnya. Setelah bersantai-santai meminum kopi dan membuat janji dengan Krystal untuk bertemu nanti malam, hal yang ia lakukan sekarang adalah menjalankan hobinya yaitu mendengarkan musik sambil memejamkan mata, merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya.

Jarang-jarang Jongin bisa seperti ini. Karena setiap harinya, ia akan mengantar-jemput Yoona dan menemani gadis itu di apartemennya.

Ah, gadis itu lagi.

Dengan asal Jongin memilih lagu. Moodnya berubah buruk seketika.

Alisnya menyatu. Ia tidak kenal dengan lagu yang sedang diputar ini. Lagu Ballad bukan genrenya. Kebanyakan lagu di ponselnya yaitu lagu dengan ketukan yang cepat sehingga ia bisa menyesuaikannya dengan menari.

Jongin mendesah ketika melihat judul lagu tersebut. Ia tahu lagu siapa ini. Ia juga tahu dari mana asalnya lagu tersebut sampai bisa masuk ke ponselnya. Pasti hyung-nya yang memasukkan lagu Ballad tersebut.

Kakaknya bernama Kim Jongdae. Yang masuk ke dalam grup Ballad yang dibuat teman-temannya. Pasti hyung-nya sengaja memasukkan lagu tersebut untuk menunjukan betapa hebatnya grup mereka.

Kakaknya memang ingin menyaingi grup dance-nya. Dasar pamer, dumal Jongin dalam hati.

Ia akui lagunya memang bisa dibilang enak didengar. Suara kakaknya di lagu ini memang lumayan juga, temannya yang bernama Jonghyun juga menyanyikan lagu ini dengan baik.

I can’t believe, yes it’s true
Because you’re not next to me, everything ends with you
The more I try to escape, the more my days are controlled by you

Tak lama dirinya terdiam sesaat. Matanya memincing tak percaya melihat judulnya dan mendengarkan lamat-lamat setiap kalimat di lagu itu.

A Day Without You? Jongdae hyung benar-benar..

Lirik lagunya seolah menyindir dirinya yang tengah mencoba tenang melawan hari-harinya tanpa Yoona. Ah, kenapa terjadinya sungguh tepat.

Jongin terdiam. Tatapannya kosong mencoba meresapi lagu yang berjudul ‘A Day Without You’ ini.

Ingatan kemarin saat ia memutuskan Yoona terulang di kepalanya. Gadis itu menatapnya tidak percaya, sedangkan dirinya menatap Yoona santai, seolah tidak masalah dengan keputusan yang diambilnya. Lalu, mata Yoona berubah merah, berair, kemudian terisak sambil bertanya kepadanya apa yang gadis itu lakukan sehingga tiba-tiba memutuskan hubungannya.

Saat itu Jongin langsung berbalik, di dalam hatinya ia memang benar-benar tidak ingin melihat Yoona menangis. Kemudian berjalan dengan langkah cepat, menutup pintu apartemen lumayan keras dan bersandar di tembok, dengan mata yang ia pejamkan. Takut menyesal.

Ia ingat pernah berkata kepada Yoona.

“Jangan pernah menangis di hadapanku, arraseo? Aku tidak suka melihatnya.”

Namun rasa egonya terlalu tinggi dengan menjadikan ‘sikap-menyebalkan-Yoona-membuatnya-lelah’ menjadi alasan. Seakan rasa takutnya sepenuhnya hilang, Jongin kembali berdiri tegak. Melangkah menuju parkiran mobil lalu pulang kerumahnya. Dan menjalani hari esok –sekarang– yang tidak biasa –yang berbeda– dengan hari sebelumnya karena Yoona tidak ada.

Jongin mulai menyadari, semua yang ia lakukan hari ini hanya berujung karena Yoona. Alasan dirinya melakuan hal ini hanya karena Yoona. Berjalan cepat, berbelanja baju untuk dirinya, sampai memulai kebiasaannya yang dibenci Yoona. Semua itu hanya karena Yoona.

Perasaan bersalah itu muncul, membuat dirinya resah. Dengan kesal ia lepas headset di telinganya dan membuang ponselnya asal, membentur lantai berlapis karpet di depan kasurnya.

Jongin berteriak frustasi. Ia tutup wajahnya dengan bantal, mencoba melupakan semua yang ia sadari.

When I meet my friends, even when I meet other girls
Those reasons fill up my head
I try to empty them out by thinking of something else

Jongin melepas cengkraman tangan Krystal di lengannya saat gadis itu ingin membawanya menuju lantai dansa. Tindakannya membuat beberapa teman gadis itu melihatnya bingung, ia hanya bisa tersenyum kecil dan para gadis itu mulai luluh karena senyumnya. Semudah itu. Pesona Kim Jongin mampu membuat mereka semua tunduk.

Melihat Jongin yang terus-terusan menolak tawarannya, Krystal mengerucutkan bibirnya. “Ayolah, kau menolak minum dan sekarang kau tidak mau menari? Kau ahli menari, Kim Jongin.”

Jongin mendesah pelan. Sebenarnya ia tidak percaya Krystal membawanya ke club malam, yang untuk apalagi kalau bukan clubbing? Ia memang tidak pernah dekat dengan Krystal karena dulu Yoona melarang keras, jadi ia tidak tahu bagaimana sifat gadis itu yang sebenarnya.

Dirinya kira Krystal adalah gadis biasa karena wajahnya sangat polos saat cemberut atau marah yang dilebihi oleh tubuh seksi. Tapi sekarang, kesan bahwa gadis itu polos langsung luntur seketika melihat Krystal yang ternyata memilih tempat seperti ini dengan mengenakan pakaian yang tidak layak pakai, menurutnya. Gadis itu seolah memanfaatkan tubuhnya yang seksi dan berkunjung ke club malam.

Entah kenapa, setiap Krystal menyentuhnya. Bergelayut manja di lengannya atau membelai pipinya (ini yang paling membuat Jongin menahan napas dan berkeringat seperti orang gila), dirinya merasa tidak nyaman. Sangat tidak nyaman.

Tentu saja tidak nyaman, lelaki mana yang bisa menahan godaan sebesar ini. Jika pikirannya sudah mengkhayal terlalu jauh, maka Jongin akan mengusap wajahnya berkali-kali dan menyebut kata-kata yang hanya bisa ia dengar sendiri. Sudah berkali-kali reaksi itu menghinggapi Jongin sedari tadi.

Tapi rasa tidak nyaman itu tidak hanya karena itu. Ada alasan yang lebih kuat dari itu semua.

Jongin terus-menerus memikirkan hal lain seperti mengajak ngobrol seseorang di sebelahnya atau mengingat gerakan dance terbarunya, tapi Yoona selalu lewat di pikirannya.

Gadis itu seolah tengah meneriakinya saat tangan nakal Krystal mengelus pipinya.

“YAK! KIM JONGIN! KAU–!”

Atau saat Krystal menari di hadapannya, sengaja.

“KIM JONGIN, TUTUP MATAMU! TARIANKU BAHKAN LEBIH SEKSI DARI DIA!”

Semuanya terasa sangat rumit dan membuat Jongin gusar. Mulai dari Krystal, sampai bayangan Yoona yang mengantuinya padahal ia tidak menginginkannya, ia ingin terlepas dari gadis itu dan menikmati waktunya bersama Krystal, mengatakan pada dirinya sendiri bahwa jalan yang ia ambil tidak salah, tapi tidak bisa. Ia tidak bisa melakukannya.

Dan saat tangan Krystal mulai turun dari pundaknya, turun sampai hampir menyentuh dadanya, Jongin lebih memilih berdiri. Menatap Krystal lumayan tajam, berucap, “aku pergi. Mungkin kita bertemu lain kali” mengambil mantelnya, mengabaikan teriakan Krystal, keluar dari ruangan kerlap-kerlip itu, kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Frustasi.

But the problem is, I keep wanting to hear your voice

Jongin menatap layar ponselnya, jarinya mengambang ingin menekan tombol hijau di layar ponsel atau tidak. Setelah pulang dari tempat yang dipilihkan Krystal (ia merasa menjadi lelaki yang buruk berani masuk ke tempat seperti itu, jadi ia tidak ingin menyebutnya), Jongin tambah gusar sehingga berakhir dengan dirinya yang rindu dengan suara Yoona. Ingin menelpon gadis itu agar bisa mendengar suaranya.

Ia menggeram, kemudian membanting ponselnya untuk yang kedua kali hanya karena Yoona. Mengabaikan perasaan bagaimana susahnya mendapatkan benda itu dari orangtuanya. Tubuhnya ia lempar ke ranjang, membuat ranjang yang sudah menemaninya lumayan lama itu bergoyang dan berderit.

The touch that I’ve gotten used to for such long time

Jongin mulai merasa gila saat merasakan sentuhan tangan lentik Yoona mengelus kepalanya, merapihkan rambutnya dan berakhir dengan tangan gadis itu yang memegang garis rahangnya. Sentuhan-sentuhan itu membayanginya disaat seperti ini.

Ia masih ingat bagaimana tangan lentik Yoona mengelus garis rahangnya dan memujinya, “aku suka garis rahangmu. Terlihat tegas, semakin membuatmu tampan.”

Your scent that is deeply settled in my fingers
I was my hands and pot on cologne, I try so hard to escape

Jongin kemudian bangun, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kesal.

Setelah sentuhan-sentuhan yang membuatnya rindu itu membayanginya, sekarang aroma di tangannya membuat dahinya mengkerut.

Oh, astaga.

Jongin dapat mengenalinya. Vanilla. Parfum Yoona. Melekat di jemarinya.

Yang benar saja.

Dengan cepat Jongin merampas parfum miliknya, mengusapkan di kedua tangannya dan menyemprotkan isinya ke tubuhnya. Menutup aroma vanilla yang entah kenapa bisa melekat di bajunya atau dirinya yang salah mengartikan? Siapa tahu saja aroma vanilla itu bukan milik Yoona.

Oh, bahkan itu semua tidak penting bagi Jongin. Ia hanya ingin meninggalkan semua jejak perempuan itu dimanapun. Sungguh.

You’re a different person now

Tepat saat harum vanilla itu sepenuhnya hilang, Jongin terdiam. Menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah datar. Film dirinya beberapa tahun terakhir mencuat begitu saja.

“Aku Kim Jongin. Kau?”

“Im Yoon Ah.”

“Mau pulang bersama?”

“Oh? Bolehkah?”

“Tentu. Ayo.”

“Eh? Kenapa kau di sini, Jongin-ah?”

“Aku? A-a-aku..”

“Pesta dansa nanti? Aku mau. Jam 7, jemput aku.”

“O-oh? Ya, pesta dansa. Ja-jam 7.”

“Kau…cantik.”

“Kau juga tampan.”

“Selamat, kau lulus dengan nilai yang baik, Yoona-ya.”

“Terima kasih. Um, ada yang ingin kau katakan? Kau terlihat ingin mengatakan sesuatu.”

“Aku? A-ah, tidak..ada.”

“Jongin? Kau Kim Jongin kan?”

“Yoo-yoona? Kita satu universitas?!”

“Ya! YEAYY!!”

“Sudahlah, jangan menangis lagi.”

“Ahn Jaehyun..aku tidak percaya..Jaehyun..”

“Dia terlalu bodoh menyia-nyiakanmu. Aku yakin pasti nanti dia menyesal.”

“Boleh..aku..memelukmu?”

“Ya? Bo-boleh. Tentu saja.”

“Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa kau menciumnya, Kim Jongin? Yoona pasti akan membencimu.”

“Aku mencin-HATCHI! AKU MENCINTAIMU!”

“Aku juga mencintaimu, babo.”

Jongin menyadari sesuatu saat bayangan-bayangan itu melewati pikirannya.Ia mengerang kesal, menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar kamar.

“Yaish, sial.”

Semuanya terasa lega saat sosok seorang gadis itu menoleh dengan mata sembab dan wajah berantakan. Jongin berjalan mendekat dan Yoona masih mematung di tempatnya. Berdiri menatapnya terkejut.

Saat tangannya berhasil merengkuh pinggang kecil Yoona, perasaan lega itu memenuhi dadanya. Tanpa sadar ia menghela nafas. Setelah seharian penuh ini harinya tidak diisi oleh sosok di hadapannya, Jongin kelabakan dibuatnya, yang baru ia sadari sekarang bodohnya. Pelukannya mengerat, Jongin semakin membawa Yoona terhanyut dengan dekapannya yang hangat. Bibirnya ia dekatkan dengan telinga gadis itu, berbisik, kemudian menempelkan pipinya pada rambut suteranya.

“Maaf. Maaf, Yoona-ya.”

Yoona menangis kencang, reaksi yang tidak Jongin kira sebelumnya.

“Yoona-ya? Maafkan aku. Katakan sesuatu.” Ucapnya halus.

Tangan Yoona terangkat, memukul punggungnya lemah. “Kau bodoh, Kim Jongin. Aku membencimu.”

Jongin tersenyum kecil. Dan senyumnya tambah lebar saat tangan Yoona ikut merengkuh tubuhnya. “Aku menyesal, Yoona-ya. Aku menyesal, maaf.”

Yoona masih menangis di pelukannya. Tidak mengatakan apapun.

“Aku salah, maaf. Aku memutuskanmu begitu saja karena..kau tahu, saat itu kau menyuruhku terus. Bukannya aku menyalahkanmu tapi, aku lelah saat itu, sehingga semuanya runyam di kepalaku. Maaf.”

Semua yang ia katakan benar-benar yang ia rasakan. Tanpa sandiwara sama sekali.

“Aku tahu, aku juga minta maaf. Aku yang salah karena memintamu melakukan banyak hal padahal kau lelah.”

Jongin tersenyum. Ia lepas pelukannya perlahan, kemudian meraih dagu Yoona agar gadis itu menatapnya. Seperti yang ia bilang tadi, wajahnya berantakan. Matanya merah dan berair. Dan semua itu gara-gara dirinya. “Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Mari kita mulai semuanya dari awal, Yoona-ya. Aku mencintaimu.” Wow, ia menyadari betapa manisnya kata-katanya. Tapi ia bahagia.

Yoona juga tersenyum. Kemudian tanpa aba-aba, kedua tangan gadis itu menarik pundak dan tengkuknya. Menciumnya penuh gairah. Membuat Jongin bergidik karena terlalu terkejut, yang berakhir dengan dirinya yang membalas ciuman panas Yoona. Seluruh tubuhnya menghangat hanya karena bibir Yoona yang manis.

Saat Yoona kehabisan nafas, Jongin segera melepaskan ciumannya. Ia tertawa saat wajah Yoona berubah merah. Tangan gadis itu terangkat memukulnya ketika ia menarik pinggulnya mendekat. Menipiskan jarak diantara mereka.

“Kau belum mengatakan hal yang penting padaku.” Jongin menunduk menempelkan dahinya dengan dahi Yoona, gadis itu kelabakan namun kedua lengannya berada di leher Jongin.

“Apa?” jawabnya sambil menatap ke samping, tidak ingin menatap wajah tampan itu.

“Katakan.”

Yoona tahu apa yang dimaksud Jongin. Dua kata sederhana yang menemani mereka selama ini. Kali ini ia menatap Jongin, membiarkan nafas hangat lelaki itu menerpa wajahnya. Tetap meletakkan kedua lengannya pada leher lelaki itu. “Aku mencintaimu.”

Jongin tersenyum lebar. Ia tahu, Yoona tidak akan melupakannya. “Aku juga mencintamu, babo.”

Dialog yang sama seperti dulu. Saat dirinya menyatakan perasaannya dengan tubuh basah kuyup, berlari melawan hujan untuk menemui Yoona di rumahnya. Dengan alasan kuat bahwa gadis itu akan pergi beberapa minggu ke Busan sehingga ia tidak ingin melewatkan kesempatan terakhirnya.

Pernyataan cintanya tidak terlalu manis seperti kebanyakan pasangan lainnya. Disaat banyak lelaki lain yang mengungkapkan rasanya di taman yang dipenuhi dekorasi bertema cinta atau makan malam mahal di hotel berbintang, dirinya di waktu yang mendesak mengatakan hal penting itu di depan pagar rumah Yoona. Dengan tubuh yang lepek terkena air hujan.

Kemudian Yoona keluar dari rumahnya, melindunginya dengan payung berwarna kuning pemberiannya. Meneriakinya, bahkan membentaknya karena telah bertindak bodoh datang kerumahnya tanpa payung ataupun jas hujan. Dan Yoona makin marah saat dirinya diam, terpaku. Karena jantungnya saat itu berdetak bukan main, mengingat tujuannya datang kesini.

Bahkan perkataannya sangat amat tidak romantis. Ia sangat gugup seperti orang aneh kemudian berkata lembut ingin terlihat tidak main-main, namun bersin menghampirinya saat itu. Kemudian sangking kesalnya karena ungkapan cintanya tidak pernah tersampaikan sejak bangku SMA, Jongin berteriak. Yang berakhir dengan Yoona yang terpaku, tersenyum lebar, kemudian tertawa. Tawa lepas yang langsung membuat pipi Jongin memanas lalu menjalar keseluruh tubuhnya, hangat di udara hujan saat itu.

“Aku mencin-HATCHI! AKU MENCINTAIMU!”

“Aku juga mencintaimu, babo.”

Setelah kejadian ini, Jongin berjanji tidak akan melewati hari-harinya tanpa Yoona.

Ia akan melamarnya, menikah, memiliki buah hati, memiliki cucu-cucu yang lucu, dan menghabiskan sisa waktu yang ada hanya dengan Yoona-nya. Hingga ajal memisahkan mereka.

Yah, sepertinya itulah harapan Jongin saat ini.

Yoona-nya. Hanya itu.

END

..::..

Duh, gimana nih ff aku… *tutupmuka* Maaf jelek ya readers, cuman ide numpang lewat aja pas dengerin A Day Without You-nya SM The Ballad Vol.2, yang ada Chen nya itu lohhh hahaha. Jujur aku suka sama lagu ballad jadi gini deh, hihi. Trus poster, makasih buat kak elevenoliu, owner blog YoongEXO. Posternya baguss, suka-suka!

Trus…apalagi ya, oh ya maaf klo ada yg suka sama Krystal, disini dia agak gimanaaa gitu ya. Jangan tersinggung. Cast cuman kebutuhan cerita aja kok, ga bermaksud menjelek-jelekkan karena jujur aja, bias aku di f(x) itu Krystal. Jadi, jangan salah paham ya^^

Maaf aku blm bisa ngirim yg Say Goodbye soalnya ide mandet tiba-tiba, hehe. Maaf ya. Trus informasi, abis ff YoonKai pertamaku (kayaknya) yg ini, aku bakal ngirim ff dengan cast BAEKHYUN-YOONA. So, jangan bosen-bosen baca FF ku ya. Itu masih perkiraan lhoo, takutnya ada ide numpang lewat lagi, hehe

Kritik dan saran sangat diterima. Bahkan sangat dibutuhkan! Jangan lupa komen!^^

See youuuuuu<3

40 thoughts on “(Freelance) A Day Without You

  1. sweet banget. bagus banget. aku nahan napas bacanya//?
    ini juga ceritanya kek masalah2 pasangan biasa, tapi penulisannya keren kok!
    keep writing ya! semangat^^~

  2. Heleh…Kai oppa, HELLOOWW! Dibanding Krystal, uri Yoona is better? Are you blind? Aissh! Tapi, happy ending.. Gomawo, author! Nice ff! Semangat buat karya yg lain ya🙂

  3. Happy anding😉
    kiranya td, bkal sad ending trnyta nggak.
    Kai mkanya jgn mtusin yoona secra sephak gt, tw sndrikn rasanya gman?
    Jjur, aku suka bnget ma nhe ff n aku lhat posternya thuc bgs bnget pas dhe dgn suasana hati (?)
    kpn2 bwt ff yoongChen d0ng thor🙂

  4. smpat kesal jg sama kai.uhh. bisa2nya dia putusin yoona. tp akhirnya balik lagi. nyesel kan..
    huhuu..
    but, nae joha^^

  5. Bagus kok ff nya.sering2 buat ff yoonkai ya
    Mereka cocok trs sweet bgt kai nya di ff ini
    Ditggu ff lainnya ya chingu. Hwaiting

  6. Aaaaa
    Suka
    Aku juga suka itu lagu, apalgi chen nya ♥
    Ha akhirnya kai sadar, iya, cewek cerewet itu cewek penyayang
    Keep writing !!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s