(Freelance) Even In My Dreams

Even In My Dreams

Even In My Dreams

A Story by Nawafil

PG-15+

 Ficlet

Romance, sad, angst

Starring by GG’s Yoona – EXO’s Sehun

Disclaimer : All cast belong to God , the plot of this story is mine. If you don’t like don’t read. Don’t bash Please. This is just a fiction and forever will be a fiction.

A/N : I’m comeback! Judulnya ga ada hubungannya sama lagu Avril yang when you’re gone ya😀 Enjoy reading guys^

08 October 2010

Tertulis goresan tinta hitam di atas selembar kertas putih, kumpulan angka dan huruf yang sangat berarti bagi seseorang, bagi seorang Im Yoona.

Tercatat hampir 4 tahun sudah Yoona mengenal pria itu.

Pria yang beberapa tahun lalu ia temui di sebuah terminal, yang menolongnya saat ia hampir jatuh, dan sejak saat itulah ia jatuh cinta pada pandangan pertama.

FLASHBACK ON

“Sial, aku harus pulang naik bus karena eonni tak bisa menjemputku” umpat seorang gadis cantik dengan wajah kesal sambil berjalan menuju halte bus. Sesaat setelah ia sampai, ia mendudukkan tubuhnya pada kursi disana.

Karena kelakuannya yang sangat ribut, semua orang disekelilingnya memperhatikan dirinya. Tak merasa jadi pusat perhatian, gadis itu tetap cuek dan terus saja menggerutu.

Tak lama kemudian bus yang ditunggu-tunggu muncul, dengan sangat terburu-buru gadis itu berdiri dan berjalan mendekati bus, namun karena jalanan yang licin membuatnya terpeleset dan…

BRAK!

Tidak, ia tidak jatuh di aspal jalan, melainkan ditangan seorang pria tampan dengan senyum manis dan matanya yang indah.

1

1.5

2

2.5

3

3.—

Gwaenchana?

Gadis itu tersadar dari lamunannya, ia segera beranjak dari tangan pria tampan tadi.

Gwaenchasseumnida. Kamsahamnida hmm..”

Luhan, namaku Luhan” jawab Luhan seperti membaca pikiran gadis yang baru saja ia tolong.

“Ah keure, kamsahamnida Luhan-ssi” ucap gadis cantik ini dengan membungkukkan tubuhnya beberapa kali, setelah itu ia segera melangkah pergi namun langkahnya terhenti karena Luhan yang menahan tangannya

Ireum?

“Yoona, Im Yoona”

FLASHBACK OFF

Yoona tersenyum simpul. Love at first sight ternyata memang benar adanya. Kurang dari 5 detik, hatinya telah luluh. Hanya sekali tatap dan itu cukup untuk membuat seorang gadis yang keras kepala dan angkuh jatuh cinta.

Hanya dalam waktu sesingkat itu.

“Hampir 4 tahun sudah aku menyimpan rasa ini untukmu, Luhan”

Cinta tak berbalas.

  1. cinta ini, hanya aku yang merasakannya.

Hanya aku yang memilikinya.

Hanya aku..

Saat itu, saat Luhan datang menghampiriku dengan raut wajah yang sangat senang—raut wajah yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Wajahnya benar benar menggambarkan kebahagiaannya.

Aku masih mengingatnya, ketika ia mengajakku berputar-putar berulang kali dengan senyum bahagia dia wajahnya, ia mengatakan “Aku berpacaran dengan Seohyun!”

Aku segera berlari meninggalkannya.

Tak menghiraukan teriakannya yang memanggilku berulang kali.

Yang ku lakukan hanya terus berlari.

Menjauh dari semua kenyataan pahit yang harus ku hadapi.

“Luhan! Luhan! Katakan bahwa ini tak benar, ku mohon”

BRAK!

Aku jatuh terduduk.

Memeluk kakiku dan menenggelamkan wajahku dalam.

Aku merasa seolah-olah langit telah runtuh.

Penantianku selama ini tak berarti.

Semuanya, sia sia.

“Yoong, apa kau melihat Luhan?” Yoona memalingkan wajahnya pada sumber suara yang tiba-tiba merasuki pendengarannya.

Oh, Seohyun.

“Tidak, daritadi aku tak melihatnya” Yoona melanjutkan kegiatannya memainkan handphone-nya.

“Sayang, ternyata kau di sini”

Entah kata itu diucapkan sekali, sepuluh kali, seratus kali ataupun ribuan kali.

Hati ini rasanya tetap sakit.

“Hai Yoong, ternyata kau disini juga ya?” Yoona menganggukkan kepalanya “Aku sudah disini dari tadi” Luhan meng-oh-kan jawaban Yoona, lalu duduk di sebelahnya. Tentu saja, Seohyun berada di sebelah Luhan.

Dikursi itu, memang ada mereka bertiga.

Yoona. Luhan. Seohyun.

Tapi entah kenapa, hanya Luhan dan Seohyun yang sibuk berbincang-bincang.

Berulang kali Yoona berusaha masuk ke dalam perbincangan itu.

Tapi, Luhan selalu mengabaikannya.

Layaknya cinta yang ia berikan, Luhan tak pernah menyadarinya.

Dia hanyalah orang yang mengabaikan rasaku.

Dia tak pernah melihat gadis sepertimu, Im Yoona.

Berulang kali aku katakan itu pada diriku.

Tapi tetap saja, aku tak pernah bisa membenci dirinya.

Aku lebih benci diriku sendiri, yang waktu itu dengan bodohnya menatap serpihan magnet dimanik matanya dan tersihir akan semua ituBahkan sampai sekarang.

“Kau melihat si beruang itu lagi?” Yoona menoleh. Tersenyum lalu melayangkan pukulan kecil pada sahabatnya yang satu itu—Selain Luhan, tentu saja. Ia siswa pindahan baru beberapa bulan lalu dan tebak, Yoona langsung akrab dengannya.

“Dia punya nama, Jess”

“Aku tahu, namanya beruang bukan?” Jessica tertawa puas, lalu duduk disebelah Yoona.

“Luhan” tangkas Yoona cepat

Yeah, terserah apa katamu..”

Sejenak suasana diantara mereka berdua sunyi, Yoona sibuk memandangi Luhan dan Jessica… Entahlah, dia tak melakukan apapun daritadi.

“Yoong..” Jessica memulai pembicaraan ini dengan tenang dan pelan.

“Hm..” Yoona menjawabnya dengan santai.

“Apa kau benar benar mencintainya? Pria es itu?” Yoona menghela nafas mendengar pertanyaan Jessica.

“Dulu dia tidak sedingin ini Jess, dia pria terhangat yang pernah aku kenal”

Jessica memutar bola matanya “Ayolah, kau sendiri yang mengatakan itu dulu”

Yoona tersenyum miris “Ya, dulu”

Sebelum seseorang memasuki hatinya dan mengubahnya menjadi seperti ini.

“Yoong, aku juga wanita.. Aku bisa merasakan apa yang kau rasa—“

“Kau tak tahu rasanya” sergah Yoona cepat. Ia menoleh menatap mata Jessica “Aku mencintainya, Jessica. Sangat mencintainya. Aku mencintainya melebihi apa yang kau bayangkan“

“Tapi kau tetap harus melupakannya, kau bisa mencari pria la—“ Yoona lagi-lagi memotong ucapan Jessica.

“Kau tahu aku tak bisa”

“Kau bisa”

“Tidak”

“Aku tahu kau—“

“Sudahlah, aku malas membahas ini” Yoona mengambil tasnya dan beranjak dari duduknya, ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sungguh, ia tak bisa membahas ini lebih lama.

“Kau bodoh”

Yoona menghentikan langkahnya, kemudian ia melangkah lagi.

“Kau tahu ia takkan pernah melihatmu”

Lagi, Yoona menghentikan langkahnya.

“Sadarlah Yoong, kau tak harus menderita seperti ini” Yoona menunduk, tangannya memegang erat tali tas selempangnya. Ia menggigit keras bibir bawahnya.

“Tapi, kenapa?” bibir mungil yang bergetar itu mengucapkan 2 patah kata.

Karena kau tak pantas untuknya. Jelas jelas kau tahu itu.

“Aku hanya ingin tahu, kenapa?” suara Yoona semakin parau

Tapi entah alasan apa yang mendorongku, aku ingin mendengar sendiri dari bibirnya.

“Kenapa?”

Dua orang manusia berbeda gender itu berjalan berdua menyusuri lorong sekolah. Sang pria merangkul pundak sang gadis, dan gadis itu tersenyum manis. Mereka membicarakan banyak hal, termasuk hal-hal yang tak penting.

“Yoong, apa kau senang?” Yoona menganggukkan kepalanya dan tersenyum, sudah lama sekali Luhan tak memperlakukannya seperti ini. Sudah sangat lama.

“Ekhm..” Luhan berdehem, seperti ada sesuatu yang ingi ia ucapkan.

“Aku ingin mengungkapkan sesuatu padamu” Yoona merasa ini hal yang serius, ia pun menyiapkan telinganya untuk mendengarkan dengan seksama apa yang akan Luhan ucapkan.

“Aku..”

“Ya?”

“Aku.. mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Yoona terperangah, apa ini nyata? Matanya ia bulatkan, sungguh ia tak percaya. Apa yang baru saja Luhan katakan? Menjadi kekasihnya? Tentu saja Yoona mau!

“Aku.. aku mau, Luhan-ah” Yoona menjawabnya malu-malu. Ya tuhan, tentu saja pipinya sudah berubah warna sekarang. Benar-benar salah tingkah.

Prok Prok Prok

Tiba-tiba Seohyun muncul dan berjalan menuju Luhan dan Yoona. Ia bertepuk tangan? Kenapa? Atas dasar apa ia sangat senang melihat mantan kekasihnya—Mungkin—menyatakan cinta pada orang lain?

“Yoong, terima kasih” Yoona mengerutkan dahinya saat Seohyun tersenyum padanya dan mengucapkan kalimat itu. Dan dihadapannya Luhan juga ikut tersenyum. Apa maksudnya?

“Ah ya, aku lupa memberi tahumu. Sebenarnya aku ini sedang latihan untuk drama yang akan kelas kita mainkan. Kau tahu kan aku pemeran utamanya? Makanya aku ingin mencobanya dulu, siapa tahu aktingku akan sangat jelek. Ternyata tidak” Luhan masih tersenyum manis dan menepuk-nepuk pundak Yoona.

“Kalau begitu, kami pergi dulu. Sekali lagi, terima kasih”

Yoona membeku ditempatnya.

Jadi-ia-di-jadikan-percobaan?

Hanya sebuah lelucon?

Yoona menghela nafasnya panjang, ia menepuk dadanya berulang kali.

Sakit, sungguh sakit. Sangat sakit. Benar-benar menyakitkan.

Apa semua lelucon tak pernah berperasaan?

Semuanya sudah cukup.

Aku tak bisa menahannya kali ini.

Yoona terus saja meronta-ronta dalam hatinya, sangat memilukan rasanya.

Ia mengemasi semua baju-bajunya.

Aku harus pergi.

Kalimat itu yang terlintas dipikirannya.

Entah itu ke luar kota, atau bahkan luar negeri menyusul orang tua dan kakaknya.

Aku harus pergi sekarang.

Yoona melangkahkan kakinya keluar apartmentnya.

Ia pergi meninggalkan semuanya dikota kecil ini.

Tak memberitahu siapapun.

Ia harus meninggalkan semua kenangannya disini.

Dan..

perasaannya untuk Luhan.

5 years later

Incheon Airport – 08.20 AM KST.

Yoona menginjakkan kakinya di Korea selatan. Ia menghirup udaranya dan sangat menikmatinya. Sudah lama sekali ia tak menghirup udara ini.

Ia berjalan bersama seseorang, dengan raut wajah bahagianya ia terus saja memamerkan deretan gigi putihnya.

“Yoong..”

Yoona mengerutkan dahinya, suara ini benar benar tak asing ditelinganya. Ia pun berbalik dan sungguh ia sangat terkejut.

“Luhan?”

Seseorang yang tadi memanggil namanya itu berjalan mendekati dirinya. Dan Yoona, ia sangat heran. Bagaimana Luhan tahu ia akan datang ke korea hari ini?

“Siapa dia?” Tanya seseorang disebelah Yoona, tapi Yoona tak menghiraukannya. Ia sangat sibuk bergelut dengan berbagai macam pikirannya.

Saat sampai dihadapan Yoona, pria yang Yoona sebut dengan nama Luhan itu tersenyum “Kau kembali?”

“Hm, hari ini aku akan menentukan gedung mana yang akan menjadi tempat pernikahanku. Setelah sekian tahun meninggalkan Korea aku merasa bersalah, ada baiknya aku menikah disini. Lagipula di China hampir semua gedungnya tak bisa disewa” Dari raut wajahnya, sangat terlihat bahwa Luhan kaget sekaligus merasa kecewa dengan penjelasan Yoona.

“Ah ya, kenalkan ini calon suamiku, Kris Wu. Sayang, ini Luhan, sahabatku” Luhan dan Kris berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing.

“Yoong, bisakah kita hanya berbicara berdua?” Mendengar ucapan Luhan, Kris mengerti lalu berbisik akan menunggu Yoona dimobil. Ia juga mengerti bahasa Korea.

“Yoong..” Luhan memulainya.

“Maafkan aku, atas semuanya. Seharusnya aku menyadarinya dari dulu, seharusnya tak membiarkan dirimu terluka sangat dalam, seharusnya aku tak mengabaikanmu dan seharusnya.. Aku bisa mencintaimu, Im Yoona. Maafkan aku”

Luhan terdiam sesaat. Ia menghapus setetes air mata yang jatuh dipipinya. Luhan melihat Yoona sejenak, berusaha mengontrol air matanya untuk tak jatuh dihadapan gadis yang pernah ia sakiti dulu. Luhan menunduk melihat tangannya…

Did you ever regret meeting me, Yoong?” Luhan memelankan volume suaranya. Pertanyaan yang ingin ia tanyakan sejak saat Yoona pergi meninggalkannya.

Luhan mengangkat wajahnya dan melihat Yoona, menunggu jawaban gadis ini.

I’m glad I met you, I hope you know that, cause I never regret it

Luhan merasa puas dengan jawaban Yoona. Setidaknya jawaban ini yang ia harapkan.

“Terima kasih”

Dan dari sebrang sana, pria yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidup Yoona melambaikan tangannya.

“Aku pergi dulu. Jangan lupa datang dihari pernikahanku, aku akan mengundangmu” Yoona berlari dan setengah berteriak pada Luhan.

“Aku akan datang!” teriak Luhan. Ia pun melambaikan tangannya menatap kepergian Yoona dari belakang.

I love you, Im Yoona.

                             -Luhan-

END

34 thoughts on “(Freelance) Even In My Dreams

  1. Baca nya sambil dengerin musik ballad gitu,jadi nya nyesek banget padahal ga terlalu sedih kan?(lohh ko nanya?)hehe
    Daebak thoor🙂 kirain cast nya yoonhun

  2. Yeyeye lalala yoona akhirnya sama kris
    Senang bgt… hahaha
    Lulu terlalu terlambat sih
    Ditggu ff lainnya chingu.
    Hwaiting

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s