BACK IN TIME 3

BACK-IN-TIME-4

 

Tittle : BACK IN TIME

AUTHOrs : Rifda Harmidah,Firda Auliana

MAIN CASTS :Im Yoona,Xi Luhan,Song Jong Ki,Lee Min Ho | MINOR CASTS :-

GENRE : Romance | RATING :PG 14

**

Aku melangkahkan kakiku angkuh pada lobby utama induk perusahaan Xi Group. Disinilah bajingan itu selalu menghabiskan waktunya dan bersembunyi. Semua mata tertuju padaku, jelas saja, mengingat aku adalah anak satu-satunya pemimpin perusahaan Xi Group.

Aku memasuki ruangannya dengan angkuh, terlihat lelaki tua itu tengah berkutat dengan notebook nya, hingga pukulan keras tanganku di meja tamunya membuat dia menghentikan kegiatannya.

Dia tersenyum sesaat menyambut kedatanganku, sementara aku hanya menatap tajam sosok bajingan terbesar yang pernah hadir di kehidupanku.

“kau sudah datang, Anakku. Ternyata kau masih ingat bahwa kau masih memiliki Appa.” Ujarnya seraya menghampiriku.

Aku tersenyum remeh, “aku tidak akan pernah bisa lupa bahwa aku memiliki seorang Ayah yang pada kenyataannya adalah seorang PEMBUNUH!” balasku dengan menggunakan penekanan pada kata terakhir.

Dia terlihat menghela napas, lalu tertunduk. Aku menang kali ini, dan akan kupastikan kau akan kalah telak seumur hidupmu, Tua Bangka!

“Luhan-ah, aku sudah sering mengatakan itu. Aku tidak..”

“ya..yaa.. blaa..blaa..” selaku dengan tatapan remehku.

“cepat katakan apa yang kau inginkan sehingga memintaku kesini?” tanyaku dingin saat lelaki paruh baya itu terdiam setelah aku menyela ucapannya tadi.

“duduklah terlebih dahulu, ada yang ingin Appa sampaikan mengenai kemajuan Xi Group.”

Setengah hati aku duduk di salah satu sofa dekat meja tamu di ruangan ini, dia mengeluarkan sebuah map berwarna biru, dan menyodorkannya padaku.

Aku menatap datar map biru tersebut, “apa ini?” tanyaku dingin.

“ini dokumen mengenai laporan perkembangan saham perusahaan Xi Group, silahkan kau baca terlebih dahulu.” Jawabnya seraya mengambil tempat duduk dihadapanku.

Aku membaca isi dokumen itu dengan seksama, “jadi?” tanyaku setelah aku selesai mengamati kenaikan saham pada laporan itu.

“kau sudah melihatnya, bukan? Kau lihat, saham tertinggi berada dalam perusahaan kita di bidang perhotelan, dan kau kan yang mengelola hotel Group ini, aku ingin kau mengembangkannya lagi, membangun hotel semacam ini dengan kualitas dan pelayanan yang sama atau kalau bisa yang jauh lebih baik dari Lens Hotel, kebanyakan dari Investor meminta agar pembangunan hotel yang baru dilaksanakan di Jeju-do atau Busan, mengingat begitu indah dan potensial pemandangan laut lepas disana, terlebih Busan.” Jelasnya.

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya menyanggupi permintaan para Investor itu.

“baiklah.” Ucapku mantap.

“tapi dengan satu syarat.” Sambungku sebelum pembunuh itu melontarkan kata-katanya.

“apa itu?” tanyanya datar. Ya, dia memang AYAH ku. Like father like son!

“aku ingin dalam project kali ini kau tidak usah ikut campur. Aku akan mengurusnya sendiri tanpa bantuanmu.” Ucapku dingin.

Dia terlihat berpikir sejenak, kemudian mengangguk singkat.

“baiklah. Silahkan kau atur sendiri. Tapi jika ingin project mu berjalan lancar setidaknya kau membutuhkan satu sekretaris pribadi, dan yang kudengar kau baru saja memecat sekretaris barumu yang baru bekerja dua hari. Kau memang sangat bijak, Xi Luhan.”

Beraninya dia menyindirku, aku mengeluarkan seringai khas ku.

“kalau soal itu kau tenang saja. Seorang Presdir Utama Xi Group tidak seharusnya mengurusi hal kecil seperti ini, ini diluar zonamu, Presdir.” Cibirku.

Dia terlihat terdiam, dia mulai tersenyum kecut. Aku menang lagi, dan akan selalu menang darimu, Tua Bangka!

“baiklah, jika tidak ada yang ingin kau sampaikan lagi, aku keluar.” Ucapku saat beberapa saat dia tak lagi bersuara.

Dia mengangguk singkat, “baiklah, hanya itu yang ingin kusampaikan. Jika kau sudah mengerti kau boleh keluar, Xi Luhan.”

Tanpa buang-buang waktu lagi aku keluar dari ruangan yang bagiku jauh lebih beracun dari apapun. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku lebih lama lagi bersama dengan seorang pembunuh yang sangat kubenci di dunia.

 

Luhan’s POV End

Yoona’s POV

“ah~ kyeopta!” seruku saat melihat salah satu dari foto masa kecil Min Ho oppa.

Saat ini aku sedang duduk bersantai di ruang tamu apartemen Min Ho oppa. Beberapa menit yang lalu aku tak sengaja menemukan album foto saat sedang menyusun kembali buku-buku yang ada di salah satu rak buku di ruang baca Min Ho oppa.

“oh! Siapa ini? Manis sekali. Ini pasti bukan Min Ho oppa, foto anak ini baru kulihat sejak foto pertama tadi.” Aku melihat salah satu anak laki-laki yang sangat manis tengah bergelayut manja pada lengan seorang wanita yang kuyakini adalah Ibunya.

“apa ini adiknya Min Ho oppa? Tapi, bukankah Min Ho oppa mengatakan bahwa dia adalah anak tunggal di keluarganya?” aku berbicara sendiri layaknya orang gila.

Ah~ aku jadi ingat dengan pria galak yang selalu menyebutku orang gila. Kenapa dia selalu berpikiran bahwa aku ini gila, ya? Ah, entahlah. Yang jelas, aku ini masih sangat waras.

Aku beranjak dari dudukku, lalu mulai berkutat di dapur. Inilah kesibukanku setiap harinya jika Min Ho oppa sedang bekerja. Bangun tidur, membuatkan sarapan, terkadang Min Ho oppa yang menyiapkan sarapan untukku, lalu mandi, setelahnya, nonton tv atau membaca buku, lalu merapihkan apartemen, lalu ke dapur, menyiapkan makan siang, mengantarkan makan siang untuk Min Ho oppa, kemudian kembali ke apartemen, lalu tidur siang, setelah bangun, kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, setelah makan malam bersama Min Ho oppa atau terkadang seorang diri, aku mencuci peralatan makan, lalu tidur. Begitulah. Sungguh rutinitas ini membuatku jenuh. Aku butuh pekerjaan. Aku tidak mungkin membebani Min Ho oppa lebih banyak lagi. Dia sudah sangat baik, memberiku tempat untuk tinggal, aku tidak boleh jadi benalu. Aku harus mendapatkan pekerjaan secepatnya.

.tooongg.. terdengarlah bunyi bel, membuatku menghentikan kegiatan mengiris kubis ku. Aku menghampiri pintu itu masih mengenakan napron. Aku mengernyit seketika saat pintu berhasil kubuka. Nihil. Tidak ada siapapun disana. Aku menoleh ke kiri dan kanan, namun masih tak terlihat siapapun.

Aku menutup pintu saat kuyakini memang tidak ada siapapun. Saat aku hendak beranjak kembali ke dapur, kembali terdengar suara dentingan bel, membuatku membalikkan badanku. Lagi-lagi, hal yang sama terjadi, membuatku kembali mengernyit heran seraya menggaruk tengkukku yang tidak terasa gatal. Aku kembali menoleh ke kiri dan kanan, namun tak ada apapun atau siapapun disana. Benar-benar aneh! Siapa oknum yang sengaja mempermainkanku?! Akan kutangkap dia!

Aku kembali ke dapur, saat aku kembali mengiris kubis, terdengarlah lagi bunyi dentingan bel, membuatku menghela napas geram. Ku hempaskan napron yang masih melekat di tubuhku, secepat kilat kuhampiri pintu dan langsung membukanya. Aku harus menahan geram saat kembali tak terlihat siapa oknum yang dengan jahilnya menekan bel rumah seseorang. Aku melangkahkan kakiku keluar, melihat ke kiri dan kanan koridor apartemen, namun tak ku temui tanda-tanda manusia disini. Langkahku terhenti saat hendak masuk kembali ke apartemen, tiba-tiba secara ajaib muncullah setangkai mawar pink kesukaanku. Siapa yang meletakkannya disini? Seingatku tadi tidak ada bunga mawar disini. Aku menoleh ke kiri dan kanan, lalu mengedikkan bahuku malas saat tak kulihat adanya sosok yang meletakkan mawar ini.

Kuraih mawar putih itu lalu kembali masuk ke apartemen, aku tidak mungkin membiarkan masakanku hangus, bukan? Setelah selesai mematikan api kompor, aku mengambil mawar pink yang tadi kuletakan di atas kulkas. Kuperhatikan bunga mawar itu dari segala sisi. Bunga yang cantik. Pikirku.

Saat aku tengah menyiapkan peralatan makan untuk makan malam, terdengar bel pintu kembali berdenting. Aku kontan meninggalkan kesibukanku, siapa tahu saja aku bisa menemukan siapa oknum jahil tadi.

Entah kenapa jantungku jadi berpacu sangat cepat, rasa takut mulai menjalar ke otakku, membuatku tak bisa berpikir jernih hingga kini sebuah tongkat baseball sudah berada di genggamanku, untuk antisipasi.

Aku memegang handle pintu dengan tangan bergetar ketakutan, mungkin saja yang berada di balik pintu ini adalah pencuri atau orang jahat lainnya yang mungkin saja menyakitiku. Aku semakin mengeratkan tanganku pada tongkat baseball milik Min Ho oppa. Kubuka pintu perlahan, aku bersiap mengayunkan tongkat yang tengah kupegang.

“wooo..” seru seorang pria saat aku hendak mengayunkan tongkatku padanya.

Aku memberanikan membuka mataku saat suara itu terdengar familiar di telingaku, Min Ho oppa. Aku menjatuhkan tanganku lemas, dan spontan memeluknya erat, jujur saja aku sangat takut tadi. Tunggu dulu, aku bisa mendengarkan detak jantungku, tunggu dulu, bagaimana aku bisa mendengarkan detak jantungku? Ini bukan detak jantungku, melainkan Min Ho oppa. Astaga, ada apa dengan Min Ho oppa? Apa dia sakit? Detak jantungnya cepat sekali.

Aku melepaskan pelukanku, mendapati wajah Min Ho oppa yang memerah, aku kontan mengernyit heran.

“Oppa, ada apa denganmu? Apa kau sakit? Kau demam? Wajahmu merah sekali.” Ujarku cemas.

Dia terlihat memegangi pipinya, kemudian melempar pandang ke koridor apartemen. Ada apa dengannya?

“Oppa?” panggilku saat dia tak juga menjawab pertanyaanku dan masih memalingkan wajahnya.

Aku berinisiatif untuk mengecek suhu tubuhnya, kuletakkan punggung telapak tanganku pada keningnya, membuat dia menatapku intens, ada apa dengannya?

“kau tidak demam, Oppa. Suhu badanmu normal. Tapi kenapa wajahmu memerah?” tanyaku heran.

“tidak apa-apa, Yoona. Mungkin efek musim panas.” Ujarnya masih seraya menatap ke koridor apartemen. Ada apa disana?

“kajja, masuklah Oppa. Aku sudah memasakan Chicken Soup Stew dan Kimchi Goreng untuk makan malam, juga telur gulung.” Ajakku seraya mengamit lengannya, menuntunnya untuk masuk saat dia masih juga enggan untuk menatap mataku. Aneh.

**

Hari ini aku kembali melakukan pemeriksaan rutin, setiap dua minggu sekali aku pergi ke rumah sakit Seoul untuk melakukan pemeriksaan pada kesehatan tubuhku pasca kecelakaan. Aku terduduk di salah satu kursi taman rumah sakit. Aku kembali mengingat penuturan Min Ho oppa yang menjelaskan bagaimana aku bisa berada di rumah sakit ini.

Kecelakaan? Ah~ pasti hari itu adalah kecelakaan paling mengenaskan. Bagaimana tidak? Aku sampai terbaring koma di rumah sakit, dan betapa aku berasa berhutang pada Min Ho oppa saat mengetahui bahwa dialah yang menanggung semua biaya pengobatanku selama enam tahun itu. Astaga, apa yang harus kulakukan untuk membalas semua kebaikannya?

Pikiranku kembali terfokus pada insiden itu, aku terdiam, mencoba mencari sepotong ingatan masa lalu. Aku harus mengetahui siapa yang bersamaku saat kecelakaan itu terjadi. Min Ho oppa mengatakan kalau dia seorang pria, tapi Min Ho oppa sama sekali tidak mengetahui namanya. Aku harus mencari tahu. Siapa tahu itu Ayahku atau salah satu anggota keluargaku atau mungkin temanku, setidaknya aku perlu mengetahui bahwa aku memang benar-benar memiliki kehidupan sebelumnya.

Aku menghela napas lagi, namun saat aku hendak menunduk sebuah tangan menyentuh lembut bahuku. Aku menoleh, mendapati seorang wanita paruh baya tengah tersenyum, cantik sekali. Aku kontan membalas senyumannya dan sedikit membungkukkan tubuhku untuk memberi hormat.

“apa yang gadis cantik sepertimu lakukan di rumah sakit seorang diri?” ujarnya seraya duduk di sampingku.

Aku masih tersenyum, “aku harus menjalani pemeriksaan rutin setiap dua minggu sekali, Ahjumma. Kau sendiri?”

Dia menatap lurus ke langit biru, “aku pasien tetap di sini. Apa yang membuatmu harus menjalani pemeriksaan rutin, gadis cantik?”

Aku masih menatapnya dengan senyum di wajahku, “aku mengalami kecelakaan enam tahun yang lalu, membuatku harus koma tak sadarkan diri, dua bulan yang lalu aku sadar, dan aku harus menjalani pemeriksaan rutin setiap dua kali seminggu. Anda sendiri sakit apa, Ahjumma?”

Dia tersenyum seraya menatap langit, “aku sendiri juga tidak tahu. Yoona, apa kau mengenal Song JoongKi?”

Aku kontan menoleh dengan kening berlipat saat mendengar pertanyaannya. “Song Joong Ki?” ulangku masih tidak mengerti.

Wanita itu mengangguk lembut, “iya. Song JoongKi.”

Aku tertunduk, mencoba mengingat nama itu dalam ingatanku. Sejurus kemudian aku menghentikan kegiatan mengingatku saat ada sesuatu yang janggal mulai kusadari. Bagaimana Ahjumma ini mengetahui namaku.

Aku menoleh, kemudian mencelat saat mendapati sosok Ahjumma itu menghilang entah kemana. Aku sontak bangun, dan melihat ke kiri dan kanan, mencoba menemukan sosok Ahjumma cantik itu, namun nihil. Ahjumma itu menghilang tanpa jejak. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, sejurus kemudian aku bergidik saat hembusan angin lembut menghampiriku, membuat bulu roma ku berdiri. Ada apa ini?

**

Aku menelusuri koridor rumah sakit dengan tenang,aku berusaha mengaggap yang tadi hanyalah angin lalu. Ya,angin lalu,tapi ahjumma tadi benar-benar mengusikku,diatadi berbicara padaku lalu menghilang. Aigoo aku seperti akan benar-benar gila.

BRUKK

Aku terjatuh di lantai rumah sakit,saat tak sengaja seseorang menabrakku. aku mengaduh pelan merasakan bagian bokongku sakit.

“apa kau tidak punya mata !? harusnya kau memperhatikan jalan yang ada di hadapanmu!” teriak Orang yang yakini adalah namja,aku menggeram kesal. Sebenarnya siapa yang menabrak dan siapa yang di tabrak. Aku mendongakkan kepalaku.

Astaga dia lagi,aku meringis pelan melihat wajah itu. sedangkan namja itu tampak menatap tajam diriku.

“kau lagi,kau lagi. Apa dunia ini terlalu kecil ? sehingga aku terus saja bertemu yeoja gila sepertimu.” Aku berdiri menatap kesal namja di depanku,siapa lagi kalau bukan namja yang waktu itu terus mengataiku gila,bodoh lah,atau apapun itu. Luhan..ya kalau tidak salah nama namja menyebalkan ini adalah Luhan.

“ aku bukan yeoja gila tuan,aku normal dan kau terlalu berlebihan. Bukannya kau yang salah ?,menabrakku duluan,kenapa jadi aku yang di marahi ?” protesku.

“ lalu kalau bukan gila apa lagi ? sinting ? atau bodoh ?. cepat minta maaf !!” suruh Luhan,aku merotasikan bola mata ku malas.

“aku tak akan minta maaf ,lagi pula bukan aku yang salah” bela ku. Aku pun berlalu pergi meninggalkannya yang sepertinya masih menatapku tajam. Siapa yang peduli

***

Author’s POV

“dia pikir dia siapa ? jangan katakan aku takkan membalasmu,karna aku takut dengan kejadian kemarin. Cih.. yeoja itu benar-benar minta di bunuh rupanya” Luhan berkacak pinggang,luhan kini benar-benar tersulut emosi melihat yoona yang dengan santainya meninggalkannya tanpa meminta maaf dulu. Luhan segera mengikuti yoona yang berjalan memasuki Lift.

“tunggu saja kau yeoja gila,aku akan memberimu pelajaran” gumam luhan, langkah kaki Luhan bertambah cepat saat pintu lift akan tertutup,ia langsung menahannya dengan tangannya waalupun itu berbahaya. Melihat pintu lift terbuka kembali, luhan pun langsung masuk,tanpa melihat keadaan yang sudah benar-benar penuh.

Yoona membulatkan matanya saat Luhan masuk ke dalam lift dan tepat berada di sampingnya. Berbeda dengan yoona luhan hanya menghela nafas kesar saat ia baru tau jika ia harus berdempetan dengan orang-orang yang berada di lift.

“ Kau,Yeoja gila,aku akan membalasmu..tunggu saja” bisik luhan di telinga yoona.

“kau pikir aku takut denganmu tuan ? tidak akan..” balas yoona. Tepat pada saat itu suara lift berbunyi menunjukkan lantai 3. Orang-orang di dalam lift berlomba untuk keluar lebih dulu,membuat Luhan mau tidak mau harus bertabrakan dengan orang-orang. Seseorang tak sengaja,membuat yoona terdorong ke dinding lift, dan Luhan pun terbawa arus,saat lift lagi-lagi memasukkan orang-orang yang akan turun ke lantai 2. Membuat Luhan tepat berada di depan yoona,seperti sepasang kekasih yang tengah menghimpit,yoona yang ingin mundur pun tak bisa, punggunya sudah terlalu rapat dengan dinding lift.

Luhan terdiam sejenak,dadanya terlalu dekat dengan yoona,bahkan mereka seperti tengah berpelukan. Tak tau kenapa,Luhan merasakan debaran jantung yang tak biasa. Yoona terpaku,ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Ting.. lift kembali berbunyi

Orang-orang kembali berlomba keluar dari iift,melihat itu Luhan menegakkan badannya,memberi jalan kepada orang-orang yang ingin keluar,dan juga agar tubuhnya tak terlalu rapat dengan Yoona. Tapi dugaan Luhan salah,ia malah lebih terhimpit, tubuhnya semakin dekat dengan yoona bahkan Luhan dapat mencium wangi shampo Yoona. Merasa ini sudah salah,Luhan mencoba mundur selangkah. Berhasil tetapi seorang anak kecil yang iseng langsung mendorong luhan tepat saat ia akan keluar.

Reflek Luhan langsung menghimpit yoona,bukan hanya itu,bahkan bibir mereka saling bertaut. Yoona membulatkan matanya. Tak ingin dikira pasangan mesum,mereka langsung melepas ciuman yang tak terduga itu. Luhan merapikan jasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya,sedangkan yoona hanya memandang ke depan berusaha tak memperlihatkan seburat merah yang ada di pipinya.

Ting.. melihat lift terbuka,Yoona segera beranjak pergi dari Luhan, dan layaknya takdir. Luhan yang keluar dari lift bersamaan dengan yoona dan memilih jarak berlawanan arah,kembali bertabrakan. Tidak ingin ada perdebatan lagi,mereka segera pegi dengan sejuta perasaan yang aneh.

 

**

Yoona POV

Aku menghela nafas,namja itu benar-benar mesum,berani-beraninya dia menciumku. Dan kenapa aku tidak meninju perutnya. Astaga..  tapi aku kembali berfikir tentang ahjuma tadi. Song JoongKi. Siapa dia? Apa dia pernah hadir di kehidupanku sebelumnya? Aku berusaha mengingat satu sosok itu, namun nihil. Tak satu pun ingatan yang berhasil terlintas di kepalaku. Aku mengacak rambutku frustasi. Sepertinya nama itu tak asing lagi di telingaku, tapi kenapa tak satupun ingatan yang tertampil untuk membantuku mengingat sosok itu.

Aku menghela napas berat, membenamkan wajahku pada lututku, aku masih berusaha untuk mencari nama itu dalam ingatanku. Tuhan, kumohon bantulah aku untuk menemukan jati diriku. Aku memejamkan mataku perlahan, secara ajaib sebuah suara terekam dalam ingatanku, membuatku membelalak.

Suara seorang pria yang tengah memanggil namaku dengan riang. Yoona, Na-ya. Begitulah panggilan pria itu. Entah mengapa aku berpikir kalau suara itu nyata, sehingga membuatku kini menoleh ke kiri dan kanan, mencari ke setiap sudut kamar tidurku, namun aku hanya bisa mencelat saat tak satu pun sosok yang mampu hadir disini.

Tak lama setelahnya, terdengarlah pintu kamarku terketuk. Aku mengernyit heran, melirik sejenak jam weker yang bertengger di meja didekat ranjangku. Jam 3 sore.

“Min Ho oppa? tumben sekali dia sudah pulang jam segini.” Gumamku, seraya menyingkap selimut yang tadi menutupi lutut hingga mata kaki ku.

“Oppa?” panggilku saat pintu sudah berhasil kubuka. Aku menoleh ke kanan dan kiri saat sosok Min Ho oppa tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Apa dia sedang bersembunyi? Pikirku.

Aku menelusuri setiap sudut apartemen Min Ho oppa, namun aku tak dapat menemukan sosok Min Ho oppa dimana pun, sekali pun di kamar mandi. Apartemen ini nampak kosong, hanya ada aku disini, tanpa ada tanda-tanda orang lain. Lalu, siapa yang tadi mengetuk pintu kamarku? Hatiku berkecamuk, rasa takut mulai menghinggapi.

Langkahku kembali ke kamarku terhenti saat ada sebuah boneka teddy yang saat ini sedang digandrungi di setiap tingakatan usia, Rillakuma, tengah bertengger manis di depan pintu kamarku. Aku meraih boneka itu, secara bersamaan suara itu kembali memenuhi telingaku. Panggilan itu, berasal dari suara pria yang sama. Aku sontak menoleh ke kiri dan kanan, tapi seperti halnya peristiwa aneh tadi, tak satu pun sosok yang berhasil kulihat. Aku membanting pintu kamarku dengan kesal, meninggalkan boneka itu di tempat sama saat aku menemukannya, sepertinya memang ada yang tidak beres.

Aku menekan tombol panggilan cepat pada layar ponselku, hingga terteralah nama Min Ho oppa pada layar ponselku.

“yoboseo, Yoona-ah.”

“Oppa..” sahutku dengan peluh yang kini mulai memenuhi dahiku.

“ada apa, Yoona?” tanyanya, nada suaranya agak sedikit cemas.

Aku menelan salivaku, sebelum melanjutkan ucapanku.

“aku takut, Oppa. pulanglah. Aku merasa seperti tengah diawasi.”

“mwo!?” pekiknya terdengar kaget.

“pulanglah, Oppa. jebal..” entah sejak kapan air mataku mulai mengalir, dan aku mulai terisak.

“baiklah. Tunggu aku. Aku akan segera pulang. Kunci pintu kamarmu. Tenanglah.” Komando nya.

Aku mengangguk mantap, meskipun ia tak bisa melihatku.

“ne, Oppa. ppalliwa.”

“oke. Aku menutup telepon. Bersabarlah sebentar.”

. aku menatap nanar layar ponselku yang kini mulai menampilkan wallpaper utama ponselku. Tanganku bergetar ketakutan. Tuhan, lindungi aku.

Beberapa menit kemudian, terdengar pintu apartemen terbuka kasar menimbulkan dentuman keras. Tak lama setelahnya, pintu kamarku diketuk keras.

“Yoona!!” seru seseorang. itu pasti Min Ho oppa, aku yakin.

“Oppa!” sahutku.

“Yoona, ini aku, Min Ho! Cepat buka!” serunya lagi.

Tanpa buang-buang waktu, aku membuka pintu kamarku dengan tangan yang masih bergetar ketakutan. Aku kontan memeluk erat Min Ho oppa saat aku melihat sosok nya yang tengah menatap ku cemas.

“Oppa, aku takut. Aku takut..” aku sudah terisak.

Aku merasakan dia memelukku erat seraya mengusap lembut kepalaku.

“tenanglah. Kau aman bersamaku. Percayalah.”

“Oppa..” aku semakin terisak.

Tuhan, sebenarnya ada apa denganku? Kenapa semua benda-benda misterius itu bisa menghantui ku. Kenapa benda-benda itu muncul begitu saja. Sebenarnya ada apa? Tuhan, aku takut.

Yoona’s POV End

Author’s POV

Ini sudah memasuki minggu kedua sejak peristiwa misterius yang membuat seorang Im Yoon Ah, histeris ketakutan. Saat ini dia tengah mencoret-coret sebuah koran yang sedari tadi ia tekuni. Ia membuat banyak bulatan pada bagian-bagian tertentu, terutama informasi mengenai lowongan pekerjaan.

“Min Ho oppa, menurutmu lebih baik jadi Administrator atau Sekretaris?” seru gadis manis itu.

Terlihat seorang pria berperawakan tinggi tegak itu menghampiri dengan secangkir coklat hangat di tangannya.

“aku rasa dua-duanya sama baiknya, Yoong.” Sahutnya seraya duduk di samping gadis yang dipanggil Yoong itu.

Yoona, atau yang lebih sering dipanggil Yoong oleh Min Ho itu mempoutkan bibirnya lucu. Dia kembali membuat tanda dengan pulpen bertinta merah yang sedari tadi setia menemaninya. Tanpa gadis itu sadari, pria di sebelahnya sedari tak pernah bosan untuk melirik atau memperhatikan secara gamblang setiap pergerakan gadis itu, meskipun hanya untuk menarik napas.

“ah!” seru Yoona, yang mampu membuat Min Ho menghentikan aktifitas mata-mata ilegalnya.

Yoona menatap riang Min Ho yang juga tersenyum padanya, siap mendengarkan luapan antusias gadis itu.

“aku sudah putuskan, aku akan mengambil pekerjaan sebagai Sekretaris pribadi di salah satu perusahaan di daerah Gangnam, Oppa. gajinya juga besar, aku bisa menyisihkan sebagian untuk membeli barang-barang yang aku inginkan, dan menyewa apartemen ku sendiri. Sehingga aku tak perlu merepotkan Oppa lagi.”

Min Ho, pria itu menampilkan binar kekecewaan di matanya, namun gadis itu tak juga menyadarinya. Ia masih terlalu larut dalam setiap angan nya mengenai hal apa saja yang bisa ia lakukan dengan gaji yang akan ia terima dari pekerjaan barunya itu.

“kenapa kau ingin sekali pergi dariku, Yoongie?” terdengar jelas kekecewaan dalam setiap kata yang baru saja terlontar dari mulut pria itu.

Yoona yang kini mulai menyadari intonasi yang aneh dari kalimat yang Min Ho lontarkan kontan menoleh perlahan, menatap pria itu dengan segala antisipasi yang sudah ia persiapkan.

“Oppa, kau kenapa?” tanya Yoona ragu.

Min Ho terlihat membuang pandang ke arah lain ruangan itu, membuat Yoona menatapnya bingung.

“annieyo.” Sahutnya singkat, dan tanpa kontak mata.

Yoona menghela napas berat, tangannya tanpa ragu menyentuh bahu Min Ho, membuat pria itu kontan menatapnya dengan tatapan gugupnya. Min Ho memang pria yang masih bodoh dalam mengenali arti dari cinta, dan perlahan ia mulai mempelajarinya saat Yoona menemani nya, mengisi hari-harinya, meski dengan mata yang masih tertutup rapat di kala masa-masa koma nya.

“Oppa, aku tidak akan meninggalkan Oppa, hanya saja aku tidak ingin merepotkan dan membebani hidupmu terlalu lama, Oppa. Lagi pula, aku tidak bisa selamanya berada di rumah ini, suatu hari nanti kau akan memiliki kekasih, lalu menikah, dan pasti aku tidak bisa tinggal satu atap denganmu saat itu, bukan? Terlebih aku bukan siapa-siapa dalam hidupmu, hanya orang lain yang ingin adanya sebuah anggota keluarga, aku begitu egois, memintamu menjadi keluargaku, memaksamu untuk menyayangiku sebagai salah satu dari adikmu, aku..”

Ucapan Yoona harus menggantung saat jari telunjuk Min Ho sudah menempel di bibir gadis itu, membuat gadis itu menatap intens jari telunjuk dan sang empunya secara bergantian.

“jangan kau lanjutkan lagi, kumohon Yoong.” Ucap Min Ho dengan mata menatap lurus Yoona.

Yoona terdiam, dia mulai menunduk, hingga dagunya diraih oleh Min Ho, membuatnya menatap mata pria itu lurus.

“kau, kau adalah hadiah yang paling indah yang Tuhan berikan dalam hidupku. Jadi, jangan pernah berkata kau ingin pergi dari hidupku. Itu sama saja kau membuang semua kebahagiaan dalam hidupku, Yoona.” Lanjut Min Ho, yang mampu membuat jantung Yoona berdegup kencang.

‘ada apa denganku? Min Ho oppa kenapa terlihat sangat tampan saat ini?’ batin Yoona mulai berkecamuk.

“mengerti?” tanya Min Ho, kali ini dengan tatapan yang lembut.

Yoona mengangguk kaku, jantungnya terus berpacu, wajahnya memanas, saat senyum manis bak malaikat Min Ho mulai menghiasi wajah pria tampan itu.

“aku menyetujui pekerjaan apapun yang kau ingin ambil, tapi kau harus tetap tinggal disini, oke?” ujar Min Ho lagi.

Yoona lagi-lagi hanya bisa mengangguk kaku, jantungnya masih sulit untuk dinetralkan.

Min Ho masih tersenyum, tangannya mengusap lembut puncak kepala gadis yang ia cintai itu, membuat sang empunya harus menahan napas untuk beberapa saat, karena terlalu sulit mempercayai apa yang baru saja ia rasakan di puncak kepalanya.

**

“aigoo.. aku ini kenapa bisa terlambat di hari penting seperti ini!? Hari ini kan hari terakhir interview! Matilah aku!” Yoona tak henti mengutuk dirinya yang kesiangan bangun pagi ini.

“Agashi, permisi. Apa interview nya masih dilaksanakan?” tanya Yoona pada salah satu pegawai di Lobby utama perusahaan itu.

“masih, Agashi. Cepatlah menuju lantai 7 gedung ini. Apa kau terlambat?”

“Ne. Terima kasih atas informasinya, Agashi.” Tak lupa Yoona membungkukkan sedikit badannya untuk memberi hormat sebelum dia berlari menuju elevator terdekat.

“Im Yoon Ah-ssi.” Panggil salah satu pegawai pria saat Yoona baru saja tiba di tempat itu. Membuatnya kontan berlari cepat menghampiri pria yang tad memanggilnya.

“saya, Pak.”

“silahkan memasuki ruangan interview dan menghadap Presdir utama Xi Group.” Suruh pria itu.

Yoona sempat merapihkan rambutnya sejenak sebelum memenuhi panggilan interview nya. Dia menghela napas sejenak, untuk sedikit mengusir rasa gugupnya. Setelahnya dia mulai melangkah memasuki ruangan hidup-mati nya itu.

Setelah beberapa menit berhadapan langsung dengan Presdir utama Xi Group, Yoona pun keluar dari ruangan itu. Ditutupnya pintu ruangan itu perlahan, hingga terdengarlah teriakan di sepanjang koridor itu akibat ulah Yoona. Dia berteriak nyaring saat mendengar keputusan sang Presdir saat tadi dia berada di ruangan itu.

“daebaaakk! Aku diterima!!” serunya riang seraya meloncat-loncat kegirangan, tanpa gadis itu sadari ternyata sang Presdir utama mengintipnya dari balik kaca ruangannya, lalu mulai mengembangkan senyum yang sulit diartikan, sesekali dia terkekeh saat melihat ulah Yoona yang mulai menari-nari tak jelas.

“anak itu, aku punya ide.” Gumam pria paruh baya itu dalam ruangannya.

Yoona, gadis itu terus menari berputar-putar memberi selamat pada dirinya sendiri yang berhasil masuk ke dalam salah satu anak perusahaan Xi Group. Hingga sosoknya mulai menghilang di balik pintu elevator yang kini sudah perlahan turun ke lantai sebelumnya.

“Oppaaa!!” gadis itu berteriak senang saat memasuki apartemen yang ia tinggali bersama Min Ho.

Min Ho segera menghampiri ruang tamu, tempat dimana Yoona mulai memasang wajah muramnya.

“ada apa, Yoongie? Sudahlah, masih banyak kesempatan di tempat lain, jangan bersedih.” Min Ho mengusap lembut bahu gadis itu.

Perlahan ekspresi Yoona berubah, membuat Min Ho mengernyit heran. Hingga akhirnya gadis manis itu mulai tertawa riang.

“aku berhasil, Oppa! aku diterima bekerja sebagai Sekretaris pribadi di perusahaan Xi Taesan!” seru Yoona riang, membuat Min Ho membelalak tak percaya.

“jinjja!?” pekiknya.

Yoona mengangguk antusias, “eum! Tentu saja!”

“waaaahhh..” seru Min Ho riang, tanpa sadar dia sudah menggendong Yoona berputar, Yoona pun memeluk erat pria yang masih menggendongnya dengan senyum sumringah mengembang di bibirnya.

Mereka terdiam sejenak, menatap satu sama lain saat Min Ho sudah menurunkan Yoona, namun pelukannya masih melingkar di pinggang gadis itu. Hingga akhirya kesadaran mereka pun datang sepenuhnya, membuat keduanya melepaskan pelukannya dengan canggung.

“ehem, mianhae..” ujar Min Ho setelah berdeham kecil.

“gwe..gwenchanayeo, Oppa..” sahut Yoona gugup.

Min Ho tak henti merutuki kegilaannya dalam hati, sedang Yoona sedang berusaha menetralkan detak jantungnya.

“aku.. aku buatkan jus dulu untukmu, kau tunggulah di sini.” Celetuk Min Ho mencoba mencairkan suasana yang tercipta diantara mereka. Yoona hanya bisa mengangguk kaku, dan mulai terduduk di salah satu sofa di ruang tamu itu.

“jadi, kapan kau bisa mulai bekerja disana?” tanya Min Ho saat ia mulai menghampiri Yoona dengan dua gelas jus apelnya.

“mulai lusa aku sudah bisa mulai bekerja disana. Kata Presdir utama Xi Group orang yang akan jadi bos ku sebenarnya sedang berada di Pulau Jeju.” Cerita Yoona.

Min Ho terdiam, sebelum akhirnya mulai bertanya. “Presdir utama langsung yang meng-interview mu?”

Yoona mengangguk, “eum, Beliau orang yang cukup tegas dan berwibawa.”

Min Ho terdiam, jelas saja, orang yang tengah Yoona bicarakan itu masih merupakan salah satu anggota keluarganya, dan Min Ho yakin bahwa atasan yang dimaksud Yoona itu pasti satu-satunya pewaris utama Xi Group, orang yang sejak dulu tak pernah bisa akur dengannya.

“Oppa..” tegur Yoona pelan, saat Min Ho sudah terlalu lama larut dalam pikirannya sendiri, melupakan kehadiran Yoona untuk beberapa saat.

Min Ho tersentak kaget, menatap Yoona serba salah. Mulutnya ingin sekali melontarkan teriakan hatinya.

“Yoona.” Panggil Min Ho ragu.

Yoona menoleh sejenak sebelum dia meletakkan gelasnya di meja, “ada apa, Oppa?”

“mm.. bisakah kau melamar pekerjaan di tempat lain?” akhirnya kata-kata itu terlontar dari mulutnya.

Yoona menyatukan alisnya bingung dengan permintaan Min Ho tadi.

“memangnya ada apa, Oppa?”

Min Ho mulai gelisah, dia menunduk dalam, sama sekali tidak menjawab Yoona yang kini sudah terlanjur dibuat penasaran karena ucapannya.

“Oppa..” desak Yoona.

“tidak, tidak apa-apa. Kau yakin akan bekerja disana?”

Yoona mengangguk ragu, semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang dipermasalahkan pria itu.

“baiklah, aku harap kau bisa menghadapi atasanmu dengan baik.” Ucap Min Ho seraya menatap dalam Yoona, membuat gadis itu kembali mengernyit tak mengerti.

**

pria itu memukul keras meja yang ada di hadapannya. Wajahnya memerah menahan amarah, rahangnya mengatup rapat, matanya menatap tajam satu sosok di hadapannya, giginya gemertak menahan geram, tangannya sudah terkepal keras di samping pahanya.

“kau! Kenapa kau bertindak seenaknya, hah!? Aku sudah berkali-kali mengatakan kepadamu untuk tidak ikut campur dalam pekerjaanku! Kenapa kau masih lancang, eoh!?” bentak pria itu marah.

Pria di hadapannya hanya menatapnya datar, tanpa gentar sedikitpun.

“aku hanya ingin membantumu mencari Sekretaris pribadi untukmu. Project ini tidak bisa kau pending terlalu lama. Para Investor sudah mendesakku begitu banyak untuk menjalankan project ini secepatnya.” Sahut pria itu santai, membuat pria yang tadi membentaknya marah kini membuang pandang ke arah lain.

“aku bisa melakukannya sendiri, Presdir yang terhormat!” desis pria itu tajam, dengan penekanan di tiga kata terakhirnya.

Pria itu tersenyum remeh, “aku tidak percaya kau bisa menemukan Sekretaris hebat dalam waktu singkat, Xi Luhan! Jadi, hanya menurut dan kerjakan project itu dengan sempurna.”

Luhan, pria tadi kini mulai menatap bengis pria yang tak lain adalah Ayahnya sendiri, tangannya semakin mengepal keras menahan emosi yang perlahan mulai merayap ke akal sehatnya.

“terserah kau saja, PEMBUNUH!” desis Luhan kesal, lagi-lagi di menggunakan penekanan pada panggilan itu, membuat sang Ayah diam-diam harus menahan rasa sakit di hatinya.

. Luhan membanting kasar pintu ruangan sang Ayah. Sang Ayah hanya bisa terduduk lemah di kursi kebesarannya saat melihat kelakuan sang Putra kesayangannya yang makin memburuk setiap harinya.

“tunggu saja, Xi Luhan. Aku akan mengembalikkan Luhan kecilku yang dulu. Percayalah padaku. Maafkan Appa, anakku.” Gumam pria paling berjaya di Xi Group itu, tanpa sadar tetesan air mata mulai jatuh perlahan membasahi pipinya.

Yoona, gadis itu kini tengah menatap ke setiap sudut ruangan di lantai teratas gedung ini. Dia kembali meremas kecil ujung rok yang saat ini ia kenakan, rasa gugup kembali menguasainya. Setiap mata yang melewatinya menatapnya intens, terkadang ada juga yang berbisik tepat di hadapan wajahnya, membuat Yoona semakin menundukkan kepalanya.

“Im Yoon Ah-ssi, maaf membuatmu menunggu lama, mari saya antar anda ke ruangan anda.” Ujar salah satu pegawai yang tadi menyambut kehadiran Yoona.

Yoona mengangguk pelan, “ne, Jae Seuk-nim.”

Setelah menyusuri sebuah koridor panjang, akhirnya tibalah mereka di salah satu ruangan besar. Yoona menatap ruangan itu dengan sorot kagum yang sangat kentara, membuat pegawai pria yang tak lain bernama Jae Seuk ini diam-diam tersenyum menanggapi reaksi Yoona.

“ini ruangan anda, anda akan duduk di meja di sebelah sana, dan ruangan yang besar itu adalah ruangan Presdir Xi Taesan, nama Beliau adalah Xi Luhan. Saya sudah meletakkan beberapa berkas di atas meja kerja anda, anda bisa mempelajari mengenai perusahaan ini secara menyeluruh. “

“Ah, iya. Sebagai Sekretaris pribadinya sepertinya anda harus mengingat ini, jika Luhan-nim sedang tertidur di ruangannya jangan pernah sekali-kali mengganggu tidurnya, jika ada yang ingin bertemu dengannya di saat itu, katakan saja Luhan-nim nya sedang keluar, lalu kau bisa memberitahukan pada Sajangnim ketika dia sudah bangun dari tidurnya. Lalu, setelah bangun tidur biasanya dia akan meminta secangkir hot chocolate atau Americano, untuk Americano dia lebih suka yang manis, namun jangan terlalu manis, sediakan saja gula batu untuknya atau gula pasir, namun ia lebih suka gula batu. Lalu, jika ada rapat, pastikan kau membantunya merapihkan bahan untuk rapat, lalu kau bersihkan dulu meja rapatnya sebelum dia duduk.”

“Mungkin hanya itu, ah iya, saya hampir lupa, Beliau orang yang jarang berbicara, jadi jangan berbicara terlalu banyak jika Beliau tidak menyuruh anda berbicara, lalu Beliau itu orang yang sangat perfeksionis, jadi lakukanlah pekerjaan anda dengan sesempurna mungkin, jangan pernah melakukan kecerobohan sedikit pun. Apa kau sudah dapat mencerna semua petunjukku, Yoona-ssi?” jelas pria itu panjang-lebar, membuat Yoona terlihat mengernyit menandakan saat ini dia tengah kebingungan.

“baiklah, kediaman mu itu saya anggap sebagai jawaban mengerti, Yoona-ssi. Silahkan bekerja dengan baik, dan sekali lagi kami ucapkan selamat bergabung di perusahaan Xi Taesan.” Sambung Jae Seuk semakin membuat Yoona terperangah.

Yoona hanya terdiam di tempatnya tanpa melakukan pergerakan sedikitpun sepeninggal Pria bernama Jae Seuk itu, hingga terdengarlah langkah kaki seseorang mulai memenuhi ruangan. Dia, pemilik sah perusahaan Xi Taesan tengah melangkahkan kakinya dengan angkuh. Langkahnya terhenti saat Yoona menatapnya intens, mata mereka saling bertemu, hingga akhirnya mata keduanya mulai membulat.

“KAU!” seru Luhan kaget.

Yoona terdiam sejenak sebelum dia mulai menunjuk wajah Luhan. “kau..”

“Yaa! Gadis gila! Kenapa kau bisa berada di kantorku, eoh!?” seru Luhan masih tak percaya akan kehadiran gadis yang ia anggap gila itu.

Yoona mengatupkan bibirnya geram, “Yaa! Tuan! Aku tidak gila! Aku sudah mengatakan itu berkali-kali padamu! Mengapa kau terus memanggilku gila, eoh!?” sahut Yoona sengit.

Luhan mendengus kesal, “terserah. Kau belum menjawab pertanyaanku, Gadis aneh! Apa yang kau lakukan di kantorku, eoh!?”

“iishh.. panggilan macam apa lagi itu!? Aku di sini untuk bekerja, Tuan pemarah! Aku ini Sekretaris pribadinya Presdir perusahaan ini. Jadi, jangan meremehkanku!” sahut Yoona, rupanya gadis ini masih belum mengetahui siapa Luhan sebenarnya.

Luhan membulatkan matanya, “mwoo!?”

“kau kaget, bukan!? Aku ini lebih special darimu, Tuan. Kau itu hanya pegawai biasa, sedangkan aku, aku Sekretaris pribadi Presdir!” sahut Yoona bangga.

Luhan mendengus geli, “ternyata selain gila, kau juga bodoh ya.” Ejek Luhan dengan nada dan tatapan remehnya.

“yaa! Apa maksudmu, Tuan?!” sahut Yoona sengit, tak terima oleh ucapan kasar Luhan.

Luhan masih memandang remeh Yoona, “aku ini atasanmu, bodoh! Aku lah Presdir Xi Taesan! Beraninya kau mengatakan aku ini hanya pegawai biasa, kau pikir kau siapa, eoh!? Aku bisa memecatmu sekarang juga kalau aku mau!”

Yoona terdiam, dia berpikir keras, hingga akhirnya menggeleng mantap, membuat Luhan menjadi kesal.

“bukan! Kau pasti bukan! Jangan mengaku-aku, orang aneh!” bantah Yoona mantap.

Luhan menghela napas kasar seraya membuang pandang ke sembarang arah, “kalau kau tidak percaya, silahkan keluar dari kantorku!” dia harus menjaga mood nya pagi ini, hari ini ada meeting penting dengan para Investor.

Yoona terperangah mendengar penuturan Luhan yang menurutnya sangat kasar itu, dia pun tak tinggal diam.

“kau tidak bisa seenaknya saja mengusirku dari kantor baruku, Tuan. Kalau kau ingin memecatku, kau harus berhadapan langsung dengan Presdir utama Xi Group, sekalipun kau anaknya kau tidak bisa bersikap seperti ini kepadaku, Tuan! Lagi pula, aku belum mempercayai bahwa kau adalah Presdir di sini.” Ujar Yoona seraya menahan geram.

Luhan pun mengeluarkan tablet pc dari tas nya, lalu mulai menggerakan jarinya dengan gemulai di atas layarnya, tak lama setelahnya ia menyodorkan tablet pc nya pada Yoona.

Yoona menerima tablet pc itu, seketika matanya membulat saat melihat apa yang tertera pada layar komputer mini fleksibel itu. Di sana terdapat artikel mengenai perusahaan Xi Taesan lengkap beserta foto Luhan pada sebuah kolom, disana tertera profil singkat mengenai pria yang didaulat sebagai Presdir Utama perusahaan tempat Yoona baru akan memulai karirnya.

Yoona memandang sangsi Luhan yang kini tengah menaikkan satu alisnya seakan menunggu reaksi Yoona. Yoona mengiggit kecil bibir bawahnya pertanda dia tengah berada dalam jurang yang dalam. Gadis itu tak henti merutuki mulut besarnya.

“mm.. joseunghamnida, Sajangnim. Aku benar-benar tidak mengetahuinya. Maafkan aku. Aku mohon jangan pecat aku di hari pertamaku bekerja. Apa yang akan kukatakan pada keluargaku nanti. Kumohon, Sajangnim.” Sesal Yoona seraya tertunduk dalam.

Luhan mendengus geli, dia memang paling hebat dalam hal mempermalukan orang, terlebih Yoona, saat ini dia tengah menjadi tontonan umum para pegawai yang berlalu-lalang di sekitar mereka.

Luhan meraih dagu Yoona, membuat gadis itu menatap matanya. Luhan pun tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa tatapan mata Yoona itu mampu membuat hatinya berdesir, namun ia segera menggeleng untuk menampik segala perasaan aneh yang mulai mengganggunya saat mata mereka saling menatap untuk beberapa menit.

“baiklah, kau tidak akan kupecat sekarang, aku sedang tidak ingin memecat pegawai saat ini, lagi pula hari ini aku membutuhkan orang yang harus membantuku memenangkan tender hari ini.” Ujar Luhan akhirnya, membuat Yoona membulatkan matanya tak percaya.

“jeongmalyeo, Sajangnim?” serunya tak percaya.

Luhan menjauhkan tangannya dari dagu Yoona yang kini wajahnya sudah sangat dekat dengannya, dia kontan memalingkan wajahnya.

“kenapa? Kau tidak suka, eoh?!”

“annimnida, Sajangnim!” sahut Yoona cepat, seraya menggeleng kuat hingga Luhan dapat mendengar suara tulang lehernya, membuat pria itu tak mampu menahan senyumnya.

‘benar-benar gadis yang aneh!’ batin Luhan, sementara Yoona kini tengah mengusap tengkuknya seraya meringis kecil.

“sudahlah, cepat kembali ke kursimu, persiapkan dirimu sebelum meeting hari ini dimulai. Sebaiknya kau memperlajari profil perusahaan ini beserta pergerakan sahamnya di Bursa Efek dengan baik jika kau tidak ingin kupecat, mengerti!?” tegas Luhan.

Yoona mengangguk mantap, lalu mengikuti Luhan yang mulai melangkah menuju ruangannya dengan angkuh. Yoona, gadis itu masih merutuki mulut besarnya saat Luhan sudah menghilang di balik pintu besar itu.

****

Hari pertama yang sangat melelahkan bagi seorang Im Yoona,setiap waktu dan detik Namja arogan itu terus saja mengomel layaknya para ahjumma yang tengah bergosip.

“kalau saja dia bukan Bos ku,mungkin sepatu ku ini akan melayang di mulut kasarnya itu.” umpat Yoona seraya menghentakkan kakinya kesal.

“hei.. Gadis gila apa yang kau katakan tadi, hah!?” Yoona menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara Namja yang baru saja ia umpat. Gawat,batin Yoona. Yoona berbalik dan tepat pada saat itu, Luhan tengah berdiri sambil memasukkan tangannya kekantong celana hitamnya.

“a..anniyeo.. aku tidak berkata apa-apa.” ujar Yoona seraya mengeluarkan cengirannya. Saat Luhan menatap tajam dirinya.

“ah.. sudah jam 11 malam,aku harus pulang.“ Yoona berbalik dan akan berjalan tetapi tangan Luhan segera menahannya.

“coba lakukan sekarang. Masukkan sepatumu itu ke dalam mulut kasarku ini,seperti yang kau katakan tadi. Ayo lakukan.. sebelum aku memecatmu dan merusak hidupmu itu, Gadis aneh.” Luhan menatap marah Yoona.

“a..nu..i..itu tadi hanya sebuah skenario yang harus ku hafal Sajangnim.. Ah, sepertinya sudah malam,aku permisi dulu Sajangnim.” Yoona melangkahkan kakinya dengan cepat,tapi luhan langsung berdiri di depan yoona dan menatapnya garang.

“memangnya kau itu masih kuliah, eoh!? Alibimu tidak bermutu,Gadis aneh! Ayo, kau ikut aku!“ Luhan langsung menarik yoona ke dalam mobilnya, Yoona sangat ingin memberontak, tapi saat ini tidak memungkinkan untuknya, dikarenakan kondisi tubuhnya yang saat ini benar-benar lelah, sehingga tak mampu melakukan itu terhadap Namja arogan di hadapannya ini.

“Kita mau kemana, Sajangnim?” tanya Yoona memecahkan keheningan yang ada sejak mereka berada di mobil mahal Luhan.

“Aku tidak setua itu,kau bisa memanggilku Luhan jika sedang berada di luar kantor.” ujar Luhan tanpa memandang lawan bicaranya dan fokus terhadap jalan di depannya, membuat Yoona berdesis kesal.

“jawab dulu pertanyaanku,kita mau kemana sebenarnya? Aku tidak mau pergi dengan Namja arogan sepertimu! Bisa-bisa aku tidak kembali dengan selamat ke apartement!” Luhan tidak menjawab pertanyaan Yoona,sampai mobil itu berhenti tepat di depan sebuah Cafe.

“apa Kau mau di dalam mobilku terus,?! turunlah.” dengan sangat terpaksa Yoona turun dari mobil tersebut dan masuk ke Cafe mengikuti luhan dari belakang.

“jangan banyak bicara! Kau hanya perlu duduk dan menemaniku meninum kopi.” Yoona menatap kesal Luhan. Hei,Dia bukan sebuah pajangan! Melihatmu meminum kopi tanpa kau menawarkannya,apalagi kau mengacuhkannya dan sibuk dengan tablet itu. Yoona benar-benar ingin memasukkan sesuatu ke dalam kopi itu,sehingga membuat Namja itu mati tersedak. Oh, Yoona!  pikiranmu sudah terlalu jauh,jika kau melakukannya mungkin di saat itu juga Namja arogan itu akan membuangmu ke tebing untuk petama kalinya.

“ ini sudah malam, Aku harus pulang. Bisa-bisa Min Ho oppa akan memarahiku.” keluh Yoona sedangkan Namja di depannya hanya sibuk dengan tablet itu. Yoona, sabarlah menghadapi iblis ini!!

“pergilah, aku juga sudah selesai.” Yoona menatap tak percaya ke arah Luhan,dengan mudahnya ia berkata seperti itu dan membiarkannya pergi,apa dia tidak sadar bahwa dialah yang membawa Yoona kesini.

“nde!? kau menyuruhku pulang?! Kkumkkae!” geram Yoona.

“bukankah itu yang kau inginkan?! Apa kau ingin aku mengantarmu pulang layaknya kekasih,?! Jika itu terjadi,itu hanyalah mimpi!” Yoona mendesah kesal, Ia lalu berdiri dan meninggalkan Luhan. Sepersekian detik kemudian, Gadis itu menghentikkan langkahnya, dan berkata.

“Apa mulutmu itu sangat sulit mengucapkan terima kasih!? Kau benar-benar tidak mempunyai kesadaran tinggi, Xi Luhan!” setelahnya, Yoona langsung berlalu pergi.

“tsk..” decakLuhan, seraya menatap punggung Yoona dengan sinis.

Yoona berjalan dengan kesal menuju halte bus,dan sumpah-serapah tak hentinya-hentinya keluar dari mulut itu. Siapa yang tak kesal dengan perilaku Namja yang membawanya pergi, lalu dengan mudahnya menelentarkannya dengan sesuka hati. Benar-benar tidak gentle!

“ bagus! Aku ketinggalan bis. Eottokhae? Aku harus kemana? Aku bahkan belum mengetahui jalan-jalan yang ada di seoul.” keluh Yoona, Ia menatap ke samping kiri jalan yang sangat menyeramkan. Tiba-tiba bayangan seseorang tampak lewat sepintas di hadapannya, bulu kuduk Yoona sudah meremang sejak ia tiba di halte itu. Yoona mengusap tengkuknya,rasanya sangat dingin. Terlebih lampu jalan yang terus mati dan menyala secara bergantian, menambah aura ketakutan dalam diri seorang Im Yoon Ah.

“Kyaa…!“ Yoona langsung menutup matanya saat sebuah mahluk yang tak di undang muncul di hadapannya. Mahluk itu benar-benar menakutkan,darah memenuhi wajahnya yang nampak hancur,matanya sudah tidak ada, terlebih bau busuk yang terus tercium di sekitar yoona,membuatnya ingin sekali memuntahkan isi perutnya. Keringat dingin benar-benar sudah mengalir di tubuh yoona.

Tiba-tiba sebuah tangan nampak memegang bahu Yoona, semakin membuat sang empunya kelimpungan, Yoona yang tersentak lsontak berteriak keras.

“Pergi..!! Pergi kau..!!” teriak Yoona histeris,hingga ia merapat pada tiang halte mencoba untuk menjauh dari mahluk yang tengah memegangi bahunya.

“hei, Im Yoon Ah! ini aku!“ Yoona terdiam, Ia mengenal suara itu. Perlahan Yoona membuka telapak tangannya dan melihat siapa yang berbicara padanya,tapi Yoona tak melihat siapapun di depannya. Apakah hantu itu masih ada? Atau yang memanggilku tadi adalah hantu? Pikiran-pikiran itu yang kini mulai memenuhi kepalanya,hingga ketakutan itu kembali melanda dirinya.

“DORR! Kena kau!!” suara keras itu cukup mengagetkan Yoona, hingga ia jatuh terduduk. Namja itu terlihat panik dan segera membantunya.

“hei, begitu saja kau takut.” remeh Luhan -pria yang tadi berteriak mengagetkan Yoona- , sedangkan Yoona masih terkulai lemah dan menunduk. Luhan yang melihat keanehan pada Yoona mulai menunjukkan kecemasan yang mulai menyelimutinya.

“hei,Gadis aneh.apa kau baik-baik saja? Hei, jawab pertanyaanku! Ya! Jangan membuatku takut!” Luhan mengguncang tubuh Yoona, mencoba mengembalikkan jiwa Yoona yang sepertinya menghilang entah kemana.

BRUKK..Tubuh yoona langsung jatuh di pelukan Luhan. Bukannya membantu Yoona untuk segera sadar, pria itu malah tengah sibuk mengatur degup jantungnya yang kian berpacu, hatinya semakin tak karuan saat Yoona terjatuh di pelukannya. Sepersekian detik berikutnya, kesadaran pria itu pun kembali terkumpul, membuatnya segera berteriak, berharap seseorang akan menolongnya saat ini. Terlebih wajah gadis yang tengah berada dalam dekapannya ini kian memucat seiring bergeraknya jarum detik jam.

***

Yuhuu..

Back in Time Coming.. Sorry to late for publish.. Iam bussy. Aku dan Rifdah eonni lagi sibuk-sibuknya sama perkerjaan,jadi maaf jika cerita ini  

45 thoughts on “BACK IN TIME 3

  1. Masih heran knp sdh tinggal sm minho tp blm tau klo yoona punya indra k 6, trs gag nanya knp yoona sllu ketakutan.. Trs syapa yg ngasi mawar n boneka, hantunya joongki kh?

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s