Eyes, Nose, Lips

Untitled-1 copy

Eyes, Nose, Lips

Written by elevenoliu

Starring

EXO Luhan dan SNSD Yoona

Genre and Rating

Romance-Angst and All Rated

Inspired from Taeyang’s Eyes, Nose, Lips

Don’t be sorry,
that makes me more pitiful.
With your pretty red lips
please hurry, kill me and go.
I’m all right.

Sinar dari matahari tengah hari ini menerangi seluruh langit Seoul ini. Sepasang mata milik dari seorang pria menatap ke awan yang menggumpul hingga menutupi sinar matahari yang turun secara langsung kearahnya. Tangan kanannya yang terlihat lembut namun cukup besar itu menggenggam tangan kiri dari wanita yang berdiri disebelah kanannya. Dengan yakin, pria itu menyelipkan jemarinya di sela-sela jari sang pemilik.

“Cuaca hari ini sangat bagus.”Suara berat nan lembut milik pria itu keluar dari bibirnya yang tipis. Ia menolehkan kepalanya kepada wanita yang masih berdiri disebelahnya. Mereka berdua tengah berada di balkon dari apartment milik sang pria. Hari ini hari sabtu dan si pria memang libur bekerja. Jadi, sang wanita mengunjunginya.

Sang wanita—Yoona menghela nafasnya pelan hingga sang pria—Luhan mengerutkan dahinya heran. Apa dia merasa bosan?

“Han, aku ingin bicara.” Kata Yoona memulai pembicaraan.

“Ada apa?” Suara Luhan yang keluar itu membuat Yoona sedikit bergetar. Yoona menghela nafasnya lagi. Tapi, kali ini lebih kasar dari sebelumnya.

Perlahan Yoona mengendurkan genggamannya dari genggaman Luhan. Tidak. Luhan tidak menahan genggamannya. Ia tidak mau bersikap kasar dan memaksa kepada kekasihnya itu. “Kita putus saja.”

Ucapan dari mulut Yoona itu tidak membuat Luhan bergeming. Tapi, lututnya mulai memelas ketika dia tidak bisa merasa kehangatan dari tangan kanannya. Dia tersenyum sekilas lalu melirik wanita yang dia cintai itu. Tapi, yang dapat dia lihat hanyalah sosok Yoona yang menunduk dalam hingga rambut hitam pekat miliknya itu menutupi wajahnya.

“Maafkan aku.” Suara Yoona terdengar bergetar atau memang bergetar? Luhan menepuk pundak kiri Yoona sekali. Lalu menepuknya lagi. Hingga berkali-kali. Dia tahu bagaimana caranya untuk membuat wanita yang sangat ia kenali ini tenang.

“Jangan meminta maaf. Kau seperti menganggap hubungan kita selama ini adalah sebuah kesalahan.” Balas Luhan. Tapi, perkataan Luhan yang masuk ke dalam pendengaran Yoona itu semakin membuatnya menangis dengan sangat.

“Ta..Tapi…. Maaf.”

“Jangan biarkan kata maaf itu keluar dari mulutmu itu.”

“Aku harus minta ma—“

Ucapan Yoona terhenti ketika dia sadar bibirnya yang terlapisi dengan lipstick berwarna merah itu tertutupi dengan bibir tipis milik Luhan yang sedikit kering itu. Jemari Luhan yang panjang itu benar-benar menangkup tengkuk Yoona untuk menahan ciuman mereka itu. Dan kali ini, Luhan benar-benar sukses untuk membuat Yoona bergetar lebih hebat lagi.

Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, Yoona berusaha mendorong tubuh Luhan yang masih melekat dengan tubuhnya dengan kedua tangannya. Tapi, kali ini. Luhan terlihat sangat memaksa. Luhan menahan dirinya dan bibirnya yang masih melekat dengan sempurna di bibir Yoona. Dua tahun sudah terlewati. Tapi, ini pertama kalinya Luhan memaksa atau sejenisnya.

Beberapa detik kemudian, tautan bibir mereka terlepas. Luhan menatap mata Yoona lalu turun ke bibir merah Yoona. Dia meletakan tangannya ke puncak kepala Yoona dan sedikit mengacak rambutnya.

“Tatap aku.”

Look at me one last time
Smile like nothing’s wrong,
so when I miss you I can remember.
So I can draw your face in my mind.

“Tatap aku.”

Yoona tersentak ketika dia mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Dia mendongakan kepalanya dan menatap Luhan dengan matanya yang masih berlinang. Dan Yoona bisa melihat mata Luhan yang mulai memerah itu. Dia bersalah. Ya, Yoona memang salah.

Don’t cry, babe.” Ucap Luhan sambil menghapus air mata yang mengalir dari ujung mata Yoona dengan ibu jarinya. “Tersenyumlah. Untukku. Untuk terakhir kalinya.”

Tidak. Yoona tidak bisa membiarkan senyuman menghiasi wajahnya sekarang. Bagaimana bisa dia merasa bahagia tapi kenyataannya untuk menyunggingkan sedikit senyumannya pun dia tidak sanggup.

Please. For me. For the last time.” Mohon Luhan. Dia masa bodoh jika sekarang dia terlihat sedikit memohon walaupun dia baru saja diputuskan oleh kekasihnya itu.

Dengan seluruh beban yang terletak di pundaknya itu, Yoona, dia berusaha untuk tersenyum. Ini adalah permintaan terakhir dari Luhan dan dia harus memenuhinya. Ya, dia harus. Perlahan pipi milik Yoona mulai naik karena senyuman yang merekah diwajahnya. Matanya hingga menyipit hingga sisa-sisa air mata yang masih terbendung itu pun keluar dan membanjiri pipinya lagi.

“Terima kasih. Setidaknya aku bisa mengingat wajahmu yang tersenyum di setiap detik ketika aku merindukanmu, Yoong.”

Sakit. Yoona sakit mendengar perkataan Luhan. Bukan. Bukan ini yang layak dia terima. Yang layak dia terima adalah cacian dari Luhan atau mungkin penjelasan mengapa dirinya ingin hubungan ini berakhir begitu saja. Tapi, bagi Luhan, jika ingin berakhir. Berakhir saja. Tidak ada yang akan berjalan mulus jika dilakukan hanya dengan setengah hati.

“Selamat tinggal, Luhan.” Tiga kata yang meluncur keluar dari mulut Yoona itu cukup membuat Luhan bungkam. Tampaknya wanita yang berada di hadapannya ini benar-benar ingin mengakhiri semuanya dengan cepat.

Yoona melangkahkan kakinya kearah pintu keluar dan menjauhi Luhan di waktu yang sama. Dia meraih handbag-nya di atas sofa sembari melangkah menghampiri pintu keluar lalu menghilang dibaliknya.

Luhan hanya bisa diam. Bahkan, dia tidka menatap kepergian Yoona itu. Dia tersungkur hingga duduk di atas balkon. Air matanya mulai terjatuh dan mengalir di pipinya. Tangannya terangkat memegang dadanya. Sakit, sesak, hancur, dan nafas pun susah baginya. “Aku baik-baik saja.”

My selfishness that couldn’t let you go
Turned into an obsession that imprisoned you
Were you hurt because of me?
You sit silently

Suara sendok kecil yang beradu dengan dinding-dinding cangkir yang penuh dengan kopi panas itu memenuhi ruangan ini. Luhan tengah mengaduk gula yang masih belum larut di kopinya. Lalu dia menatap wanita yang duduk di hadapannya. Dia duduk dengan diam.

“Maaf telah memanggilmu kemari.” Kata Luhan.

Wanita yang berada di hadapannya tidak merespon. Dia masih duduk dengan kedua tangan yang terletak di atas pangkal pahanya dan diam. Suasana canggung ini tidak bisa hilang walaupun sudah lima menit terlewati di apartment milik Luhan ini.

Luhan berdeham pelan, “Yoona, aku sadar. Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Mungkin..” Luhan menghentikan aktivitasnya yang mengaduk kopinya itu lalu duduk menyandar di sofa, “Aku sadar bahwa rasa ini sudah berubah. Aku ingin memilikimu, Yoong.”

Luhan menghela nafasnya lalu menatap Yoona yang masih diam, “Apa aku melukaimu? Apa aku membuat sebuah kesalahan? Bisakah kau memberi tahuku, Yoona? Aku bisa memperbaikinya.”

Tapi, Yoona tidak mengacuhkan Luhan. Dia masih duduk diam tidak meladeninya sama sekali.

Why am I a fool,
Why can’t I forget you
You’re already gone

Bodoh. Luhan sadar akan hal itu. Dia seharusnya sadar akan hal lain, yaitu Yoona bukan miliknya lagi. Hubungan mereka sudah berakhir dari lima hari yang lalu saat Yoona memutuskan hubungan mereka yang terkait selama dua tahun itu.Tapi, bayangan wajah Yoona tidak pernah kabur dari pandangan Luhan.

Luhan seperti dihantui oleh Yoona. Saat dia makan, saat dia menonton, saat dia bekerja, saat dia ingin tidur, saat dia mengedip, bahkan saat dia bernafas. Dia selalu dihantui oleh bayang-bayang Yoona. Tapi, sekali lagi. Dia harus merelakan Yoona yang bukan miliknya lagi.

“Maaf, aku sudah membuang waktumu, bukan?” Tanya Luhan.

“Benar.” Akhirnya Yoona memecahkan kediamannya sedari tadi.

“Baiklah. Mari kuantar pulang.” Ajak Luhan sambil beranjak dari duduknya.

“Tidak usah.” Tolak Yoona mentah-mentah. Luhan langsung mematung lalu mendaratkan bokongnya lagi di sofa, “Aku bisa meminta Kris menjemputku.” Lanjut Yoona.

Rasanya jantung Luhan sudah terpaku dengan beribu paku. Kris?! Siapa pria yang memiliki nama asing itu? Tapi, sebelum Luhan melemparkan pertanyaannya. Yoona sudah bangkit berdiri dan membungkuk sopan kepada Luhan lalu keluar dari apartment milik Luhan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Love you, loved you
I must have not been enough
Maybe I could see you
Just once by coincidence

Luhan masih mencintainya. Luhan mencintainya. Luhan mencintai sosok wanita yang tengah dia rindukan. Luhan mencintai Yoona, sosok wanita itu.

Satu bulan telah berlalu dan sampai sekarang Luhan masih dihantui oleh Yoona. Dia seperti melihat Yoona dimanapun matanya bergerak. Mungkin bukan matanya yang melihat. Tapi, pikirannya yang terus membayangi Yoona. Namun, bayangan kali ini mulai berbeda semenjak nama Kris terlontar dari mulut Yoona. Luhan seperti melihat Yoona dengan bayangan hitam yang berada di sebelahnya.

Luhan memegang bagian stir mobil sambil mendesah pelan. Jam pulang kerja ini benar-benar membuat antrian panjang untuk melewati lampu lalu lintas yang selalu berubah warna. Entah mengapa, dia berharap bisa bertemu Yoona saat ini. Well, jam pulang kerja mereka memang sama dan kantor mereka lumayan dekat.

Panggil Luhan sebagai pria bodoh. Dia pantas untuk menerima julukan itu. Bagaimana tidak? Dia sudah berusaha untuk menjadi pria yang sempurna untuk Yoona dan kini dia seperti mengemis cinta pada Yoona. Bahkan entah darimana pikiran bodoh muncul di benaknya, dia berharap bisa bertemu dengan Yoona dalam kategori kebetulan.

Bodoh.

Everyday I grow restless,
Everything about you
Is becoming faint
You smile back in our pictures,
Unknowing of our
Approaching farewell

Ponsel Luhan berdering tanda panggilan masuk. Luhan langsung meraih ponselnya dan menerima panggilan itu. Baru saja dia ingin menempelkan ponselnya di telinga kirinya namun dia bisa melihat sesuatu yang ganjil dengan layar ponselnya. Dia menatap layar ponselnya dan oh, video call.

Luhan langsung tersenyum melihat sosok wanita paruh baya yang ada di seberang sana, ibunya. Ya, Luhan memang tinggal sendiri di Korea untuk mengurus cabang perusahaan ayahnya yang terletak di Korea.

[Bagaimana kabar anakku ini?]

Luhan tersenyum lagi, “Sangat baik, bu. Bagaimana keadaanmu dan ayah? Apa China semakin menyenangkan?”

[Apanya yang meyenangkan jika tanpamu, nak. Tapi…]

Luhan bisa melihat perubahan ekspresi wajah dari ibunya itu. Baru saja Luhan ingin memotong perkataan ibunya yang menggantung itu. Tapi, ibunya melanjutkannya.

[Kau nampak kurus dan matamu sedikit membengkak. Ada apa?]

“Oh, ini. Haha. Ini hanya terlalu lelah, bu. Jangan khawatir. Aku sangat baik-baik saja.”

[Kau yakin? Apa ibu perlu kesana untuk memeriksa anak tunggalku ini?]

“Tidak. Kau hanya akan membuat seorang pria yang berumur 27 tahun seperti 7 tahun.”

[Bisa saja. Hahaha. Ngomong-ngomong, dimana Yoona?]

Bibir Luhan langsung terkatup rapat. Bahkan dia sedikit mengerutkan bibirnya. Tapi, dia harus terlihat baik-baik saja. “Oh, Yoona. Dia sedang ada rapat jadi tidak bisa ke kantorku.”

[Oh, begitu. Jadi, bagaimana hubunganmu dengannya? Baik-baik saja, bukan? Ajak dia mengunjungi China, Lu.]

“Baik. Sangat baik.” Luhan diam sejenak. Haruskah dia melanjutkan kebohongan ini? Aku pikir harus. “Baiklah. Aku akan mengajaknya lain kali.”

Dan tirai pertunjukan mulai terbuka. Semua kebohongan yang berada di atas panggung main itu akan segera dimulai.

Your black eyes that only saw me
Your nose that held the sweetest breath
Your lips that whispered
‘I love you, I love you’… I…

Flashback

Mata hitam milik Yoona itu tengah menatap pria yang berada di hadapannya. Dia memegang ujung jaket milik pria yang berada di hadapannya itu hingga sedikit memerasnya hingga terlihat lecak.

Nafasnya yang mengenai tangan pria itu—Luhan terasa hangat. Yoona baru saja berlari mengelilingi air pancur yang berada di tengah taman ini karena kalah taruhan dengan Luhan. Dan Luhan hanya bisa terkikik pelan karena meliat ekspresi Yoona yang memang cukup berantakan.

“Aku lelah, bodoh. Kenapa sih kau memberikan taruhan dengan hukuman seperti ini untukku?” Oceh Yoona panjang lebar.

Tapi, Luhan masih menertawainya, “Tapi, masih ada satu hukuman lagi.”

“YAK! LU—“

“Kau sudah menyepakati hal ini dari awal, Yoong. Aku memegang Manchester United dan kau Barcelona karena ada Cristiano Ronaldo itu.” Luhan menyunggingkan senyumannya, “Sayangnya, Barcelona kalah.” Luhan memeletkan lidahnya mengejek Yoona, “Sekarang hukuman terakhir. 2 kata untukku.”

“Huh,” Yoona mendengus sebal, “Baiklah.” Yoona sedikit menjinjit hingga bibirnya tepat berada di samping telinga Luhan.

“I love you.” Bisik Yoona.

“I love you.” Ulangnya sekali lagi.

“Hei, itu 3 kata.” Protes Luhan.

Yoona menggeleng lalu megenggam tangan Luhan erat, “Karena aku dank au itu satu. You and I are one. Jadi, hanya ada 2 kata.”

Aku dan kamu itu satu. Jadi, I love you hanya ada dua kata.

Your eyes, nose, lips
Your touch that used to touch me,
To the ends of your fingertips
I can still feel you

Matanya. Hidungnya. Bibirnya.

Sentuhannya yang masih terasa dengan jelas di kulit Luhan itu tetap ada dan akan selalu ada. Bahkan dari ujung jari milik Yoona masih terasa di ujung-ujung jari Luhan. Ya, Luhan hanya merasakannya. Realitnya, tidak ada sentuhan dari Yoona sama sekali. Bahkan hanya ujung jarinya tidak ada.

Tapi, Luhan masih bisa merasakannya.

But like a burnt out flame,
Burnt and destroyed
All of our love
It hurts so much, but now
I’ll call you a memory

Sebenarnya semuanya sudah jelas untuk Luhan. Yoona berselingkuh dan Luhan harus menghadapi kenyataan yang sudah tidak bisa dihindari. Mungkin dia terlalu lembek dan menuruti kemauan Yoona. Yap, Luhan tidak melarang Yoona untuk bergaul dengan banyak teman pria. Bahkan Luhan jarang sekali untuk cemburu.

Luhan sadar ketika dia terbakar oleh amarahnya sendiri. Ini memang kesalahannya. Dan kini dia hanya bisa diam dengan kenangan yang telah dia lewati dengan Yoona. Semuanya hanya akan menjadi kenangan baginya. Bukan hanya yang sudah dilewati.

Tapi, Yoona juga hanyalah sebuah kenangan.

END

32 thoughts on “Eyes, Nose, Lips

  1. Njirr, kenapa isinya tikung menikung? Kenapa juga si Yoona pake nikung segala? Luhan kan udah ganteng mana baik lagi, masa nggak cukup? kasian luhan -.- daebak thor, need sequel..

  2. Aku lg nungguin kemunculan unnie dan TADA!!!
    Unnie muncul dgn FF ini :d
    kalo Luhan cemburu dikit, kan siapa tau Yoona mau balik lagi :p
    oh iya, weding breaker sangat ditunggu loh unnien ^^^
    Keep writing unie❤❤

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s