(Freelance) Married Without Love (Chapter 1)

Married Without Love

 snsd yoona gorgeous photo

By: DeerBurning

Main cast   : Yoona SNSD, Kris EXO.

Other Cast : Sehun EXO, Jessica SNSD, Yuri SNSD, Soo Young SNSD, Chanyeol EXO, Kai EXO, and EXO member.

Genre         : Romantic, Sad, Marriage life, and Friendship

Author’s Note: Hay hay.. Aku kembali lagi, walau dengan FF yang berbeda. Dan kali ini pairingnya adalah Kris. Walaupun moment YoonKris ga sebanyak momen Yoona dengan Sehun, Luhan, Maupun Suho, tapi mereka terlihat serasi, jadi dapet aja feelnya. Oya, aku juga mau minta Maaf, bukannya aku gamau ngelanjutin FF WGM nya, tapi aku bener-bener masih berusaha keras untuk nulis chap 3 nya. Tapi tiba-tiba aku ga ada inspirasi sama sekali, dan aku mikirnya dari pada tetep aku lanjut, tapi hasilnya mengecewakan readers semua, jadi terpaksa aku pending dulu…

Oke dari pada kelamaan, mending langsung aja ya…

Hope you’ll enjoy it….

Chapter 1.

 

**

“ Aku bersedia..”

Akhirnya kalimat itu keluar dari bibir cherry milik gadis itu. Im Yoona. Riuh tepuk tangan para tamu undangan menjadi tanda awal kebahagian dua insan beda jenis yang sedetik lalu telah resmi menyandang gelar suami istri.

 

“Yoona POV”

Munafik. Itulah kalimat yang pertama kali muncul diotakku ketika kalian menanyakan orang macam apa aku ini. Kalian tahu? Senyum indah yang selalu menghiasi wajahku, seperti yang banyak orang bicarakan, apakah kalian percaya dengan semua itu?

Mereka bilang aku selalu nampak bahagia, tak pernah ada beban di hidupku karena aku memiliki semua, ya semua, orang bilang aku memiliki semuanya. Tapi… Itu bukanlah yang aku rasakan. Senyumku, ceriaku, bahagiaku, itu palsu. Ya benar, semua itu palsu. Apakah kalian tak menyadarinya? Hati dan mata ini selalu menangis setiap malamnya. Semua ini tak seindah yang dibayangkan, apakah kalian tidak tahu?

“dan sekarang, mempelai pria boleh mencium mempelai wanita.” Ucap sang pendeta yang seketika berhasil membuat kericuhan di gereja ini. Semua tamu undangan berteriak, meminta kami cepat-cepat berciuman.

Wajahku merah padam, menahan malu. Aku mencoba mengedarkan pandangan ke arah para tamu undangan, mencari sesorang yang paling aku butuhkan saat ini. Orang yang selalu bisa membuat hatiku merasa tenang. Oh sehun, ya siapa lagi kalau bukan dia. Sahabat sekaligus belahan jiwaku. Tak perlu waktu lama, akhirnya manik mataku bertemu dengan sosok pucat bersurai coklat dengan mata hazzle yang menenangkan miliknya. Saat ini, rasanya ingin sekali aku berlari kearahnya dan memohon padanya untuk membawaku pergi dari sini.

Tapi aku tidak bisa !

Aku tetap berada disini, berdiri disebelah tunanganku, ah maksudku suamiku, Kris Wu. Makhluk es tanpa ekspresi. Yang akan menjadi teman hidupku nanti. Mungkin benar, dia adalah pria tertampan yang pernah ku temui, selain sahabatku Oh Sehun tentunya. Tubuhnya yang tinggi, dengan ukiran sempurna diwajahnya. Semua teman bahkan orang-orang merasa iri denganku, kerena bisa menikah dengan pria sempurna seperti dia. Tapi tidak, tidak dengan hatiku, hatiku benar-benar menolak kenyataan ini.

“Cium! Cium!” Sorakan itu menghancurkan lamunanku. Seketika kepanikan menjalar keseluruh tubuh, aku malu, gugup dan takut. Aku menatap kearahnya, mencoba meminta pertolongan. Tapi nihil, pria ini tetap saja berada pada posisinya, memandang lurus kedepan tanpa ekspresi sedikitpun.

Semakin lama teriakan itu terdengar semakin keras. Aku melihat Kris menoleh kearahku. Tak lama kemudian, kedua tangan kekarnya berhasil mendarat dengan mulus dipinggangku. Aku tersentak melihat perlakuannya, dia memelukku? Benarkah? Aahh.. Aku berani bersumpah jika saat ini pastilah wajahku sudah memerah karena malu. Tak butuh waktu lama, ia mempererat pelukan dipinggangku. Mendekatkan wajahnya ke wajahku, hingga aku bisa merasakan desiran nafasnya. Ia semakin mendekatkan wajahnya, menghapus jarak antara kami berdua. Dan Chu! Ya tuhan seketika aliran darah ditubuhku serasa semakin deras, jantungku bekerja 100 kali lipat dari biasanya.

Bibir kami berpaut cukup lama. Ciuman hangat yang banyak orang bicarakan, tak dapat aku rasakan. Dingin dan hambar. Aku benar-benar tak merasakan apa-apa. Tidak ada cinta, tidak ada kasih sayang, tak ada kehangatan. Ya tentu saja, karena tak ada rasa cinta diantara kami berdua.

 

**

Aku menatap cincin silver yang melingkar dijari manisku seraya tersenyum miris. Dulu, dulu aku benar-benar menunggu hari ini. Hari dimana aku memakai cincin dan gaun putih hasil karyaku sendiri. Menjalani hidup sebagai sepasang suami istri dan ditemani dua orang anak yang lucu dan manis, memiliki sebuah keluarga yang bahagia. Tapi kenyataan tidak seperti itu. Takdir berkata lain. Aku harus hidup dengan bongkahan es seperti dia.

Aku menerima perjodohan dan menikah dengan Kris bukan tanpa sebab, tentu selalu ada imbal balik disetiap kesepakatan. Bukankah tidak ada yang gratis di dunia ini? Aku melakukan perjodohan ini, bukan semata-mata demi ayahku, yaitu untuk memperkuat perusahaan miliknya. Tetapi aku menerimanya karena imbalan yang aku dapat sangat menggiurkan, ayah berjanji akan membiarkanku pergi dari perusahaan, meninggalkan tumpukkan kertas yang sangat memuakkan, dan mempersilahkanku untuk mengejar mimpiku, yaitu sebagai desaigner. Bukankah bergelut dengan bidang yang kau cintai sangat menyenangkan?

“ kau tidak tidur?” suara berat itu membuyarkan lamunanku.

“ ya?” jawabku kikuk. “ tidak, aku belum mengantuk. Kau sendiri?”

“ ini dari ibumu.” Dia melemparkan tas bajuku ketempat tidur. “ Besok mereka akan mengirim sisanya”.

Aku harus tinggal disini, ya karena dia adalah suamiku. Bukankah sudah menjadi kewajibanku tinggal bersama dengannya dan mengurus segala kebutuhannya?

Setelah selesai dengan urusannya, Kris kembali melangkahkan kakinya. Berniat meninggalkanku sendiri dikamar. Belum sampai didepan pintu, Kris menghentikan langkahnya. Melirik kearah ponsel ditangannya yang berdering. Ia menatap ponsel itu malas. Dan dengan ragu menaruh benda itu ke dekat telinganya.

yeobosseyo?”

“____”

ia terliht malas menanggapi ocehan dari si penelepon. “ ne eomma.. arra..” em aku fikir ajumha, ah maksudku eomma yang menelepon Kris.

“____”

“ yak! Andwae!” dengan segera Kris berlari kearah pintu dan mencoba membukanya. “ sial” umpatnya dan masih terus memutar gagang pintu, mencoba untuk membukanya.

“ ada apa?” tanyaku polos.

Ia menatapku datar. “ benar-benar gila.”

Ia berjalan kearahku dan menyambar tas milikku yang ia lempar tadi. Ia membukanya kasar. Aku yang tak percaya dengan perlakuan tidak sopannya, mecoba menghentika aktifitas bodoh itu.

“ Kya! Apa yang kau lak..” Belum sempat aku menyelesaikan teriakan. Ada hal yang mebuat tenggorokanku terasa tercekat. Wajahku memerah. Aku menatap isi tas yang dibawa Kris dengan pandangan jijik. Mengacak-acak isi didalamnya. Isinya sama. Lingerie. Benda paling menjijikkan yang pernah aku lihat. Dan sialnya, tidak ada baju lain selain potongan kain kurang bahan ini. Bahkan untuk sekedar kaos atau hotpants pun tak ada. Ah ternyata benar firasatku yang mengatakan eomma memiliki rencana.

“mereka bertindak terlalu jauh.” Kris mendengus tak percaya. “ lalu apa rencanamu?” kris menatapku tajam. Rencana? Rencana apa maksudnya. Aku masih bergelut dengan fikiranku. Mencoba mencerna pertanyaan darinya.

“ Dasar bodoh!” Celetuk Kris lalu pergi menuju kamar mandi.

“ Pinjami aku baju.” Kataku berhasil menghentikan langkahnya. Memutar tubuh jangkungnya, dan memandangku datar. “ Aku juga hanya punya ini.” Katanya sambil menunjuk baju pengantin yang ia kenakan. “ Haruskah aku memberikannya padamu, dan mati kedinginan didalam ruangan dengan 2 buah AC didalamnya?” Ia melanjutkan perkataannya sambil menunjuk kedua AC yang terpasang disisi kanan dan kiri tempat tidur. “ Pakailah apa yang sudah ibumu berikan. Lagi pula aku tak tertarik dengan tubuhmu. Dadamu terlalu datar.” Ia menatap kedadaku sekilas lalu berjalan menuju kamar mandi.

Datar? Apa maksudnya? DEG! Seperti ada sengatan listrik yang mengenai otakku yang lambat, dengan segera aku menatap kearah dadaku dan menutupinya dengan kedua tangan lalu berteriak dengan keras kearahnya, yang aku yakini sudah berhasil membasuh tubunya. “ Kya!! Dasar manusia es mesum!!”

Aku hanya bisa mendengus kesal. Dari pada tidak mandi dan harus mengenakan baju pegantin yang pasti berat dan kotor… Aku lebih memilih untuk memakai benda ini. Setelahnya aku tinggal masuk kedalam selimut dan tidur bukan? Aku yakin namja itu tak akan berani menyentuhku. Lagi pula dia juga tidak mencintaiku. Dan dari tampangnya yang sedingin es itu, kurasa ia masih memiliki sifat menghargai wanita. Ia tak akan dengan mudah menyentuhku. Ya, setidaknya itu fikiranku.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi setelah aku melihatnya keluar dengan pakaian yang sama dengan apa yang ia kenakan saat pemberkatan tadi. Aku menatapnya sekilas, dan dengan acuh segera membawa kakiku masuk kedalam. Dan benda yang pertama kali kulihat adalah bath tub. Kurasa berendam di air hangat tidaklah buruk. Setidaknya itu bisa membuatku lebih rileks dan melupakan semua hal-hal aneh yang kutemui hari ini.

 

**

Autor POV

Lebih dari tiga puluh menit Yoona menghabiskan waktu di dalam bath tub. Rasanya ia enggan pergi dari kamar mandi karena ulah ibunya. Tapi apa boleh buat, air didalam bath tub sudah berubah menjadi dingin, ia tidak ingin ditemukan berada dalam bath tub dengan keadaan tak bernafas.

Ia mulai bangkit dari bath tub, membasuh tubuhnya sekali lagi dengan shower air hangat, lalu mengeringkan tubuhnya dan menggunakan lingerie, ya lingerie dari ibunya. Satu-satunya hal yang paling Yoona inginkan saat ini adalah, ia keluar dari kamar mandi dan mendapati si manusia es itu sudah terlelap, bergelut dengan dunia mimpi miliknya.

“ sudah hampir satu jam aku berendam. Ini sudah lama, ia pasti lelah dan tertidur.” Fikir Yoona, sekaligus mencoba memberikan ketenangan pada hatinya sendiri.

Perlahan Yoona mulai memutar knop pintu dan menariknya. Ia berhenti sejenak, mencoba memasang telinganya dalam-dalam untuk memastikan jika Kris sudah tidur. “Ah tidak ada suara. Dia pasti sudah tertidur.” Teriaknya dalam hati.

Satu langkah…

Dua langkah…

Tiga langkah…

DEG!!

Jantungnya serasa berhenti seketika saat mendapati Kris sedang duduk santai di atas tempat tidur dengan sebuah buku ditangannya. Kris menatapnya, bukan dengan tatapan datar yang biasa terpasang diwajahnya. Tapi tatapan seperti…. Ya! Im Yoona apa yang kau lakukan!

 

 

**

 

Kris POV

 

“Ah sangat membosankan .” Desahku sekali lagi. Tapi aku benar-benar bosan, kalian tahu satu ruangan dengan gadis bodoh, gadis yang tidak aku cintai sama sekali, dan lebih parahnya sekarang telah resmi menjadi istriku. Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaanku?

Aku mencoba merebahkan tubuhku diatas tempat tidur, menenggelamkan wajahku kedalam bantal empuk yang telah dipersiapkan oleh eomma untukku dan juga istriku. Tapi tetap saja, mataku enggan untuk menutup. Aku memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur, berjalan kesana kemari untuk mencari kesibukan. Setidaknya untuk membuat mataku sedikit lelah.

“ apa ini?” aku bertanya pada diriku sendiri ketika mendapati sebuah benda berwarna warni yang terlihat seperti lilin, ah tidak ini memang benar-benar lilin, tapi baunya kenapa seperti ini. baunya sangat harum dan menggoda.

Aku terus menghisap aroma yang terpancar dari lilin ini. Apakah ini yang disebut lilin aromaterapi? Baunya memang harum. Aku suka ini. Ya! Apa yang aku lakukan? Tunggu! lilin aromaterapi, pintu yang terkunci, dan dua buah ac didalam satu ruangan, ditambah lingerie milik gadis bodoh itu. DEG! Ya tuhan, apakah eomma benar-benar menginginkan aku melakukan hal itu pada Yoona? Dan melihatku menjadi pria brengsek yang meniduri istriku sendiri? Tunggu dulu, istri? Ya, walaupun sekarang kami sudah resmi menjadi suami istri, tapi tidak ada rasa cinta didalam pernikahanku dan Yoona. Apakah eomma benar-benar menginginkan seorang anak bejat yang menghamili seorang wanita? Ya tuhan.

Aku mengalihkan pandangan menuju pintu kamar mandi. Kenapa dia lama sekali, apakah dia pingsan didalam? Atau dia malu keluar dengan lingerie dan memilih tidur didalam bath tub? Ah tapi tidak mungkin. Emm atau mungkin dia kesulitan memakai gaun pengantinnya kembali? Hei apa yang aku fikirkan? Aku tidak peduli.

Aku kembali membawa kakiku menuju tempat tidur, mencoba mencari posisi yang nyaman untuk merebahkan tubuhku yang mulai terasa lelah. Tanpa sengaja aku menemukan sebuah buku yang berada di atas nakas dekat tempat tidur, aku membuka buku itu dan perlahan mulai tenggelam dalam bait-bait yang dirangkai secara apik oleh si penulis.

Aku menguap lagi, dan mungkin ini sudah yang ke lima atau ke enam kalinya, bosanpun mulai melanda kembali. Aku terus membuka halaman demi halaman dengan malas. Tiba-tiba, kreeekk.. Suara seseorang membuka pintu, aku berani bertaruh, orang itu adalah istriku Yoona.

Yoona keluar dari kamar mandi dengan ragu. Menggunakan lingerie berwarna merah diatas lutut, dan tentu saja berhasil memamerkan kaki jenjang nan mulus miliknya. Rambut basah yang tergerai indah di bawah bahu, berhasil membuatnya terlihat mempesona. Tunggu dulu lingerie? LINGERIE! Ya Im Yoona apa kau gila? Kau ingin mengujiku? Kenapa kau menggunakan pakaian seperti itu. Bagaimanapun juga aku adalah seorang pria dewasa.

Sepersekian detik aku terus menatapnya, menatap dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa dia menggunakan baju kurang bahan itu? Dan percaya atau tidak, untuk saat ini, aku tak bisa merasakan dinginnya ruangan ini. Menelan ludahpun terasa sangat sulit, rasanya ada sesuatu yang mencekat leherku. Ya tuhan kumohon tolong aku,aku bisa lepas kendali kalau seperti ini.

Satu detik..

Dua detik…

Tiga detik…

Eghem!! Aku belum tersadar dari lamunaku, hingga suara deheman wanita itu membangunkanku. Dengan cepat aku memasang wajah datarku kembali, mencoba menyembunyikan detak jantungku yang bekerja lebih cepat dari biasanya.

“Aku rasa kau tak akan tergoda. Makanya aku memakai ini.” Suara Yoona berhasil memasuki gendang telingaku, dan berhasil dicerna otakku dengan lambat.

Aku menatapnya datar.

Dengan cepat ia berlari keatas tempat tidur, dan menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam selimut putih kamar ini. Ya ini lebih baik. Setidaknya ia tak menunjukkan tubuh kurusnya itu. Sesekali aku menghembuskan nafasku dengan kasar, mencoba menetralkan detak jantungku yang sempat berpacu dengan cepat.

“ Kau tidak tidur?” suara wanita itu kembali berhasil memecah keheningan.

Aku menatapnya malas. “ Aku belum mengantuk. Tidurlah.” Perintahku.

 

 

**

Author POV

Saat ini pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Lima belas menit lagi menuju tengah malam. Dan Kris masih terjaga. Tak ada rasa kantuk dimatanya. Ia hanya dapat menatap kosong kearah lampu yang masih menyala.

Ia tidak nyaman dengan suasana di ruangan ini. Ia tak suka suasana terang. Ia juga tidak nyaman berada dipinggir tempat tidur karena disebelahnya ada seorang yeoja. Dan lagi, suhu diruangan ini sangatlah dingin. Walau Kris terbiasa dengan suasana dingin, Tapi suhu di ruangan ini jauh lebih dingin. Apalagi ia tidak memakai selimut.

Kris melirik Yoona yang berada disebelahnya. Yoonalah yang menyabotase selimut itu. Sekarang ia benar-benar terlihat seperti ulat yang terbugkus selimut.

Kris menghela nafasnya sekali lagi. Ia benci ini. Ia benci ayahnya yang menjodohkannya dengan yeoja yang tidak dia kenal. Ia benci dengan eomma yang menyetujui rencanan ayahnya. Ia juga benci kakeknya yang telah membuat perjanjian bodoh dengan kakek Yoona sehingga membuatnya menderita seperti saat ini. Ia bahkan juga membenci dewi Fortuna yang tak memihak padanya.

Selang beberapa menit kemudian, ia merasakan yeoja disebelahnya ini menggeliat dalam tidurnya. Kris bingung, namun tidak ingin mempedulikan Yoona. Ia tetap pada posisinya dan kembali mencoba untuk tidur.

15 menit…

30 menit…

45 menit…

Satu jam…

Ia masih terjaga. Matanya benar-benar tidak rela untuk terlelap. Justru ia semakin merasa terganggu karena gerakan Yoona yang membuat tempat tidur sedikit terguncang. Kris lagi-lagi menghela nafas, dan dengan berat hati membalikkan tubuhnya. Ia menatap tubuh Yoona yang seperti kepompong. Ia mengerutkan kedua alisnya, melihat tingkah Yoona saat tidur. Awalnya ia tak mengerti kenapa kaki Yoona bergerak sendiri dari tadi. Namun akhirnya ia menyadari bahwa tubuh kurus yeoja itu sekarang bergetar. Kris bingung. Ia sangat sangat malas dan tidak perduli terhadap yeeoja ini. Namun di satu sisi, hati kecilnya memohon untuk segera melihat keadaan yeoja disampingnya.

Kris berfikir sejenak. Dan akhirnya memutuskan untuk melihat keadaan Yoona. Ia tak ingin terjadi apa-apa pada Yoona, karena bisa dipastikan ia akan di kubur hidup-hidup oleh ayahnya. Ia benar-benar tidak ingin berakhir seperti itu. Ia masih ingin hidup dan menikmati dunia yang indah ini.

Perlahan ia mulai menyentuh kaki yoona dengan kakinya. Mencoba untuk menggoyangkan kaki yeoja itu dan membangunkannya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati telapak kaki Yoona terasa begitu dingin.

Jujur, ia sedikit takut. Apa yang salah dengan yeoja ini? Tidak bisa dipungkiri ia merasa panik sekarang. Ia membalikkan tubuh Yoona, dan betapa terkejutnya ia saat menyadari bibir Yoona sudah mulai membiru. “ Apakah dia mati? Haruskah aku membawanya kerumah sakit? Tapi pintunya?”.

Kris berinisiatif untuk membuka selimut itu dan mencari tangan Yoona, memastikan denyut nadi yeoja ini masih ada. Namun aksi Kris dalam membuka selimut itu terhenti di tengah-tengan saat ia menyadari sesuatu yang dingin mencengkeram lengannya. “ Tolong aku.” Suara yeoja itu berhasil membuat jantung Kris berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.

“ Ka.. Kau kenapa?” Tanya Kris semakin panik merasakan tangan Yoona yang dingin.

Yoona Nampak masih terpejam. Tubuhnya gemetar. “ Kris ku mohon selamatkan aku. Hangatkan kakiku. Kalau tidak, aku bisa mati membeku.” Pinta Yoona yang terlihat setengah sadar.

“ kaki?” kris Nampak bingung dengan Yoona. “kenapa kakinya?” Dengan ragu ia mulai menyentuh kaki Yoona yang memang terasa sangat dingin. Wajahnya berubah pucat. Ia mengembalikan selimut itu pada posisi semula dan turun dari tempat tidur. Kedua matanya sibuk melihat kesekitar, mencoba mencari suatu benda yang hangat untuk Yoona. “ah gaun pengantin.” Dengan segera ia berlari ke kamar mandi dan mengambil gaun pengantin panjang milik Yoona.

Dengan perasaan sedikit takut, Kris membuka selimut yang menutupi tubuh Yoona. Ia tak ingin melihat tubuh Yoona, bukan karena ia takut sifat prianya muncul dengan tiba-tiba, tapi karena ia menghargai Yoona. Ia tak ingin terlihat seperti pria berengsek yang mengambil kesempatan dalam keadaan darurat seperti ini. Tanpa berlama-lama, Kris langsung membungkus kedua kaki Yoona dengan gaun pengantin, mencoba memberikan kehangatan padanya. Ia juga mengambil tuxedo miliknya dan menaruhnya di pundak Yoona. Dengan ragu ia melepas seluruh kancing kemejanya dan ikut masuk kedalam selimut bersama Yoona.

“ aa.. apa yang kau lakukan Kris?” Tanya Yoona takut. Ya tentu saja Yoona takut. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja Kris bisa berbuat yang tidak-tidak kepadanya.

“ sudah diamlah, dan ikuti saja perintahku.” Jawab Kris ketus, dan dalam hitungan detik berhasil membawa tubuh kurus Yoona dalam pelukannya. “ mungkin ini bisa membantu. Walau disini sangat dingin, tapi tubuhku akan tetap terasa hangat. Jadi diamlah dan tidur.” Kris ingat, jika manusia bisa mentrasfer panas kepada orang lain hanya dengan kontak kulit, dan ini lah yang Kris coba lakukan. Mencoba menyelamatkan nyawa yeoja yang mungkin sangat ia benci.

Yoona Nampak terkejut dengan sikap Kris barusan. Jujur, ia tak percaya dengan apa yang Kris lakukan padanya. Bukankah Kris sangat membenci Yoona? Seharusnya ia membiarkan yeoja itu tetap kedinginan dan mati.

“ terimakasih.” Gumam Yoona lirih.

“ aku tidak ingin mati di tangan appamu.” Jawab Kris santai.

 

 

—— *** ——

 

Author POV

Sinar matahari mulai nampak, menerobos masuk kedalam kamar sepasang pengantin baru itu. Yoona mulai mengerjapkan matanya, ketika merasakan silau matahari mulai mengusik tidur nyenyaknya. Ia sedikit menggeliat, mencoba menghilangkan pegal-pegal disekujur tubuh. Tapi diurungkan niat itu, ketika ia merasakan sesuatu yang berat menahan tubuhnya. “ lengan?” gumam Yoona dalam hati. Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan mencoba melihat kearah si empunya. “ Kris?” ia bertanya-tanya dalam hati. Ia bingung, bagaimana bisa lengan milik namja ini melingkar indah di pinggangnya, dan lebih parahnya lagi dengan kancing baju yang terbuka sempurna.

Ah sepertinya ia mulai ingat kejadian semalam, kejadian dimana namja dingin yang sekarang sedang memeluknya ini, menyelamatkan nyawanya. Dengan hati-hati ia memindahkan lengan Kris dan dengan perlahan mulai menggeser tubuhnya kesamping dan turun dari tempat tidur.

Ia menurunkan kedua kakinya. Ia tak ingin Kris terbangun dan menatapnya bodoh, ia benar-benar tak ingin hal itu terjadi. Belum sempat ia melangkahkan kakinya, BLUK! Tubuh Yoona mendarat mulus diatas lantai dengan keadaan kaki terikat gaun pengantin. Ia meringis kesakitan sambil mengusap pantatnya yang terasa nyeri. Ingin rasanya ia berteriak, tapi ia urungkan, ia tak ingin membangunkan suaminya.

Ia segera melepaskan ikatan pada kakinya dan segera berjalan menuju kamar mandi, tapi belum sampai 5 langkah, wajahnya memerah, senyum lebar terukir di bibirnya, bagaimana tidak? Kebahagian serasa menyelimuti hatinya ketika ia menyadari dua buah koper besar telah berdiri di depan pintu. Dengan segera ia melangkah menuju pintu dan mengabil salah satu koper berwarna putih lalu membukanya. Matanya terlihat berbinar ketika mendapati baju-baju dengan cukup bahan tertata rapi didalamnya. Ah tunggu, sejak kapan koper ini berada di dalam kamarnya? Lalu siapa yang mengantarkan koper ini? Eomma? Bagai tersengat listrik, badannya kaku mengingat kejadian semalam, apakah eomma melihatnya? Ya tuhan…

Tak mau berfikir panjang, Yoona langsung membawa kopernya ke dekat lemari dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia harus cepat, karena ia harus menyiapkan sarapan untuknya dan juga suaminya. Tentu saja.

 

 

***

 

Yoona POV

 

Tada!! 2 buah roti panggang dengan selai coklat telah selesai aku buat. Heum dari aroma nya saja sudah bisa dipastikan rasanya akan sangat menggiurkan. “ lapaaarr.” Gerutuku. Ah tunggu jam berapa ini? kenapa dia belum bangun, apakah dia tidak lapar? Tanyaku dalam hati, lalu mengalihkan pandangan pada jam dinding yang berada di dapur. Ternyata sudah pukul 9, tapi kenapa dia belum turun? Apa dia belum bangun? Ah mungkinkah dia pingsan?! Aku memukul kepalaku pelan, kesal dengan fikiran bodohku. ” ah pabo! Mana mungkin dia pingsan. Bahkan semalam dia menyelamatkan nyawamu Im Yoona.” Gumamku sambil terus memukul kepalaku pelan.

Tak lama kemudian, indra pendengaranku terganggu oleh suara langkah kaki yang aku yakini milik namja es itu. “ kau sudah bangun? Ayo kita sarapan.” Kataku, saat melihat Kris mulai mendekat.

Ia berjalan kearah meja makan, menatap roti bakar yang aku buat dan menatapku secara bergantian. “ Hanya ini?” tanyanya dingin.

Ah dia menyebalkan sekali. Bahkan ini adalah hal terhebat yang pernah aku buat. Aku terus memakinya dalam hati. Tapi dengan segera aku merubah raut marahku dengan senyuman yang sengaja aku buat semanis mungkin. “Ne?” Tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Apakah ini hal terbaik yang bisa kau lakukan?” katanya lagi dengan sedikit penekanan pada tiap katanya.

“apakah kau tidak suka?”

Tanpa menjawab pertanyaanku, ia langsung melahap roti bakar buatanku dan mengambil susu putih yang sudah aku siapkan, lalu berjalan menuju ruang tv. Melihat tingkahnya itu, aku hanya bisa mendengus kesal. “ Sabar Im Yoona.. Kau harus membuat kesan yang baik..” kataku dalam hati, mencoba memberikan semangat pada diriku sendiri.

Aku mengikutinya ke ruang tv dan mendaratkan bokongku di atas sofa hitam berbahan kulit, dan duduk disampingnya. “apa rencanamu hari ini?” Tanyaku penuh semangat, mencoba akrab dengannya.

1 menit..

2 menit..

3 menit..

Tak ada tanggapan apapun. Ya tuhan apakah makhluk ini benar-benar manusia? Aku benar-benar penasaran, dari apa kau membuatnya, dari es kah? Atau batu? Ah atau mungkin dia tidak hadir saat pembagian hati, sehingga hatinya menjadi sedingin ini? Tak ingin menyerah begitu saja, aku terus mencoba berbicara padanya. “Tadi nyonya Wu ah maksudku eomma meneleponku, eomma bilang akan mengirim pembantu kesini, tapi dia mulai bekerja besok.” Kataku masih menunggu respon yang tak kunjung keluar dari mulutnya .” itu artinya kita harus menyiapkan makan sendiri tuan Wu Yi Fan, dan kau tahu kita tidak mempunyai persediaan bahan makanan sedikitpun, jadi bisakah kau mengantarku berbelanja? Aku dengar disekitar sini terdapat mini mar..” belum sempat aku mengucapkan kalimat terakhir, Kris sudah memotongnya terlebih dahulu. “ pergilah, aku sedang tidak ingin keluar.” Katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Tv.

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku dengar. Benarkah namja yang duduk disampingku ini adalah suamiku? Benarkah appa dan eomma tidak salah memilihkan suami untukku? Hah aku benar-benar tidak percaya, sikap dinginnya benar-benar sudah keterlaluan. Aku segera beranjak dari sofa dan berlari keatas menaiki tangga untuk mengambil jaket. Tidak mungkinkan aku berjalan keluar di musim panas hanya mengenakan kaos oblong dan hot pant? Kulitku bisa terbakar. Walau cuaca sangat panas, aku harus tetap memakai pakaian yang bisa melindungi kulitku dari sengatan sinar matahari.

Tanpa sepatah katapun aku membuka pintu ruang tamu dengan kasar. “ belikan aku softdrink” teriaknya menghentikan langkahku, aku sedikit menoleh kearahnya yang terlihat santai dan masih fokus dengan acara yang ia tonton. Aku hanya bisa mendengus kesal, hah aku bisa gila, belum genap 24 jam aku bersamanya, tapi tingkahnya benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa namja tampan dan kaya seperti dia, bersikap seperti itu? Apakah dia benar-benar anak dari keluarga Wu? Tapi kenapa dia bisa seperti itu? Tak ada sedikitpun sifat dari nyonya maupun tuan Wu yang menurun padanya. Dasar namja sial, umpatku. Aku menutup pintu rumah dengan kasar. Pagi ini aku benar-benar kesal dengannya.

 

 

**

 

Cuaca pagi ini benar-benar terik, dan sialnya aku harus berjalan kaki menuju mini market dengan banyak belanjaan ditangan. Aku memilih berjalan kaki bukannya karena aku tidak bisa menyetir atau karena tidak ada mobil, aku memilih berjalan kaki karena aku benar-benar tidak ingin berbicara dengannya, merengek memintanya untuk meminjamiku mobil. Menatapnya pun aku tidak mau, apa lagi harus meminjam mobil darinya. Haah aku benar-benar bisa gila dibuatnya. Dasar namja sial, namja sial!

Sesampai di rumah aku langsung meletakkan semua belanjaan di atas meja dapur, menetralkan nafasku yang mulai menghilang dari paru-paru. Setelah berhasil mengumpulkan oksigen dan tenaga yang sempat hilang, dengan segera aku menaruh seluruh belanjaan dan menatanya dengan rapi didalam lemari pendingin. Setelah selesai aku segera beranjak menuju kamar. Dan tak lupa membanting pintu kamar dengan keras lalu membaringkan tubuhku diatas tempat tidur.

Bukan maksudku bersikap tidak sopan saat membanting pintu tadi, hanya saja… Aku hanya ingin dia menyadari jika aku sedang kesal, aku marah padanya. Sedari tadi mulutku tak henti-hentinya mengumpat. Entah apa yang merasukiku hari ini, tapi aku benar-benar kesal. Tidakkah kalian menyadarinya?

Ddrrrtt.. Drrrtt ..

Tak lama kemudian ponselku bergetar. Dengan malas aku menatap layar ponselku. Tapi hanya dalam hitungan detik ekspresi wajahku berubah. Senyuman lebar terukir diwajahku. Oh Sehun.. ya sahabatku Oh Sehun sedang menghubungiku. Memang di saat seperti ini hanya dialah yang aku butuhkan.

yeobosseyo.. Hunni…” teriakku girang. “ Hunni, tidakkah kau tahu aku sangat merindukanmu.”

Tawanya pecah seketika saat mendengar rengekanku. “aku tahu, bahkan aku tahu melebihi dirimu sendiri. “

“ apakah kau tak merindukanku?” tanyaku manja.

“merindukan istri orang? Apakah itu tidak melanggar hukum?”

“ Kya! Oh Sehun pabo!” teriakku sambil mempoutkan bibir. “apakah kau tahu saat ini suasana hatiku sedang buruk, tak bisakah kau menghiburku?”

“ menghiburmu? Untuk?” tanyanya polos, dan tentu saja berhasil membuat moodku semakin hancur. Aku benar-benar tidak habis fikir, kenapa dia malah bersikap seperti itu. Apakah dia benar-benar sahabatku? Lalu apa bedanya dia dengan Kris Wu itu? Ayolah Oh Sehun apakah kau tidak menyadarinya, saat ini moodku benar-benar sedang tidak bagus.

“haruskah aku membelikanmu eskrim?” tanyanya .

Seketika ekspresi wajahku berubah. “ jinjjayo?!” Tanyaku dengan mata berbinar.

Tawanya kembali meledak ketika mendengar jawabanku. Aku yakin, benar-benar yakin jika dia sedang menertawakanku. “ kya mr. Oh aku akan marah padamu jika kau tidak berhenti tertawa!” Ancamku.

“ hahaha, ne.. ne… baiklah, besok saat jam makan siang, aku akan menjemputmu di boutique. Eotte?

Dia Oh Sehun memang benar-benar tahu bagaimana cara menghiburku. Dia memang sahabat yang baik bukan?

“ ne.. sampai jumpa besok Hunni.” Jawabku dengan senyum kepuasan. Seolah-olah tidak ada masalah, aku benar-benar melupakan kekesalanku pada tuan es itu.

Aku kembali meletakkan ponselku di atas nakas dan mulai menenggelamkan tubuhku ke dalam selimut, menikmati kemana alam mimpi membawaku pergi.

 

 

**

 

Author POV

Hari sudah gelap. Bulan sudah mulai Nampak, menggantikan tugas matahari yang telah seharian menemani insan- insan di bumi. Yoona mulai mengerjapkan matanya, menyadari jika hari sudah gelap, dengan cepat ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas, “ ya im yoona, ini sudah pukul 7. Kau melewatkan makan siang sekaligus makan malammu.” Pekiknya. Dengan segera ia berjalan keluar dari kamar dan menuju dapur, mencari sesuatu yang mungkin bisa di makan. Setidaknya untuk mengganjal perutnya yang saat ini sedang demo meminta untuk di isi.

Yoona menghentikan langkahnya ketika menyadari Kris berada didapur. Memutar kembali tubuhnya, mengambil remot televisi dan mulai menonton acara yang mungkin tidak benar-benar ia tonton. Hanya satu hal yang saat ini Yoona inginkan, ia hanya ingin Kris degera pergi dari dapur dan ia bisa segera mengambil apapun yang bisa ia makan. Yoona masih menunggu Kris keluar dari dapur, tapi sepertinya penantiannya itu sia-sia, Kris masih asik berkutat dengan dunia makanan di sana.

Pukul setengah 8 malam.Yoona mulai mendengar desis masakan yang berasal dari dapur, aroma bumbunya pun menguar sampai keruang televisi. Perutnya berbunyi keras, “ ah aku lapar.” Ujar yoona terus mengubah posisi duduknya dari miring kiri menjadi miring kanan, berbaring, lalu berdiri, dan kembali duduk.

Acara televisi tidak ada yang menarik, Yoona putuskan untuk diam-diam melangkah kedekat dapur. Mengintip dari balik rak dan melihat apa yang sedang Kris lakukan. Ia benar-benar sudah tidak tahan, perutnya sudah benar-benar tidak bisa diajak berkompromi. Masa bodoh dengan harga diri, saat ini dia hanya ingin makan.

Ah rupanya Kris sedang memasak. Ia menatap Kris tanpa berkedip. Bagaimana bisa seorang namja seperti dia bisa selihai itu? Memotong beberapa sayuran dengan cepat, bahkan dengan lihai menggoyangkan penggorengan hanya dengan satu tangan. Pertanyaan bodohpun muncul dikepala Yoona. ‘Apakah dia benar-benar ke Amerika untuk belajar bisnis? Tapi dia benar-benar seperti Chef, sungguh aku tidak berbohong tentang hal ini. Lihat bagaimana lihainya dia menggoyangkan penggorengan itu, dan terkadang ada sedikit api yang muncul dimasakannya. Sama persis dengan apa yang aku lihat di Tv’. Yoona segera menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan fikiran bodoh dari otaknya.

“ kau sudah lapar?” Tanya Kris tiba-tiba, dan berhasil membuat Yoona salah tingkah. Ia terkejut saat menyadari Kris tahu apa yang sedang Yoona lakukan. Seolah tak ingin malu karena sedang tertangkap basah, Yoona pun melangkahkan kakinya menuju kulkas dan mengambil sebotol jus jeruk .” tidak, aku hanya ingin mengambil ini.” jawabnya seraya menunjukkan jus jeruk yang sedang ia bawa.

Kris hanya terkekeh melihat tingkah Yoona yang tertangkap basah sedang mengintipnya memasak.

Krruuuuuukk…

Bahkan dalam keadaan seperti ini, perut Yoona tidak bisa diajak berkompromi. Wajah Yoona memerah saat menyadari Kris sedang tersenyum. Ah tidak saat ini Kris sedang tertawa, tertawa dengan tingkah Yoona pastinya. “ aku akan ke kamar.” Kata Yoona mencoba menyembunyikan rasa malunya.

“ tidak usah malu. Simpan harga dirimu untuk besok. Duduklah, sebentar lagi aku selesai.” Ujar kris tanpa menatap Yoona.

Yoona nampak ragu, haruskah ia mempertahankan harga dirinya? Tapi saat ini harga diri tidaklah penting, yang paling penting adalah perut kosongnya harus segera di isi. Akhirnya ia memutuskan untuk membuang harga dirinya, dan memilih duduk di kursi meja makan sambil menatap Kris yang sedang asyik dengan penggorengan dan teman-temannya.

“ apa kau yakin bisa memasak? Dan yakin dengan… rasanya?” Tanya Yoona sedikit khawatir ketika melihat kris mulai menuangkan krim kedalam penggorengan.

“ tentu saja. Aku lama tinggal di Amerika dan terbiasa memasak sendiri. Apa kau meragukanku?” Tanya Kris sambil melirik kearah Yoona sebentar. lalu mengambil pisau dan mencincang daun peterseli dengan cepat.

“ tidak.. bukan begitu, maksudku… Aku hanya tidak ingin menyiksa perutku yang berharga ini. Karena.. em kau tau kan aku benar-benar lapar…” Jawab Yoona lirih, hampir tidak terdengar.

Kris hanya tersnyum. Menatap kearah Yoona sekilas lalu kembali fokus pada masakannya. Ada sedikit perasaan aneh pada Yoona. Kris mengatakan bahwa dirinya hanya tinggal menunggu di meja makan dan dia yang akan memasak untuk malam ini.

“ Apa yang terjadi padanya? Apa dia salah minum obat? Ah atau mungkin dia ingin meracuniku?” Gumam Yoona sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berniat menghilangkan fikiran-fikiran itu dari dalam kepalanya. Lagi.

“ Hei..”

Suara berat Kris mengagetkannya.

“ Aku sudah selesai masak.” Beritahunya. Yoona segera mengambil posisi yang menurutnya nyaman untuk mengisi perutnya.

Mereka berdua duduk berseberangan. Hanya ada satu jenis makanan yang Kris buat. Hanya ada spaghetti dengan saus krim dan keju mozzarella yang sudah meleleh. Hanya ada satu, namun cukup membuat Yoona terperangah karena wanginya, juga penampilannya, makanan ini sangatlah sempurna. Perpaduan warna putih yang mendominasi sangat serasi ketika ia beri taburan daun peterseli warna hijau. Dan mozzarella yang meleleh…. Ah benar-benar membuat air liur Yoona hampir menetes.

Mata Yoona terlihat berbinar ketika menatap makanan yang berada di depannya. Ia benar-benar kagum dengan mahakarya Kris. “Kau berhasil membuatnya, tanpa menghanguskan penggorengan. Kau…. Daebak!” Yoona mengangkat kedua ibu jarinya untuk Kris.

Kris hanya tergelak melihat tingkah Yoona yang kekanak-kanakan. “ Ayo makan.”

“ Tentu saja.” Dia sangat bersemangat karena faktaya sudah sedari tadi dia sangat, sangat, sangat lapar.

Yoona menyuapkan gulungan spaghetti ke dalam mulutnya dan dia tersenyum dengan senang. “ini enak. Benar-benar enak.”

“ benarkah?” Tanya Kris dari ujung meja. Yoona mengangguk dan terus menyuapkan gulungan demi gulungan spaghetti kedalam mulut mungilnya. Dan tentu saja, ekspresi wajahnya tidak bisa bohong bahwa makanan buatan Kris ini luar biasa enak.

“ Kau benar-benar pintar memasak. Bagaimana jika mulai besok kau yang memasak dan sekarang aku akan menelepon eomma, menyuruhnya untuk tidak mengirimkan pembantu? Bagaimana?” ujar Yoona setengah tertawa dengan mulut penuh.

Kris tidak langsung menjawab, membiarkan makanan dimulutya selesai dikunyah, lalu mulai berbicara. “Tentu aku akan memasak. Jika perjanjian kita sudah selesai dan kembali ke kehidupan kita masing-masing, aku akan menyiapkan segalanya sendiri.”

Makanan di mulutnya menjadi sulit di telan. Yoona berhenti mengunyah, terdiam menatap makanan di depannya. Mengapa tiba-tiba Kris berkata seperti itu? Apakah dia benar-benar membenci Yoona dan ingin segera menceraikannya.

Ya, itu memang benar…

Fakta bahwa mereka akan bercerai memang benar. Tapi harus secepat inikah mereka membicarakannya?

Setelah enam bulan, ketika perjanjian Yoona dan Kris habis, maka Yoona dan Kris harus bercerai dan kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Memang benar mereka di jodohkan, tapi bukan berarti mereka harus hidup bersama sampai akhir bukan? Alasan Yoona menyetujui perjodohan ini hanyalah karena ia memang benar-benar ingin terlepas dari kekangan appanya. Ia ingin mengejar mimpinya sendiri. Dan Kris? Investasi.. ya hanya karena perusahannya di ambang kehancuran dan appanya bersedia memberikan pinjaman dana jika Kris mau menerima perjodohan dengan Yoona.

Tidak ada suara lain di ruangan itu selain suara Kris mengunyah makanan. Yoona masih terdiam, kini pandangannya jatuh kesalah satu jari Kris yang memakai cincin silver. Cincin pernikahan mereka.

Dia memakainya? Lalu apa artinya ini Kris? kita baru sehari menjadi sepasang suami istri, tapi kenapa kau membicarakan perceraian?

“ Kau..” Yoona mulai berbicara. “ ingin kita segera bercerai?”

Kris mengangkat wajahnya untuk menatap wanita yang merupakan istrinya. Dia tidak pernah melihat wanita secantik, senatural, dan semurni Yoona. Aura yang dimiliki wanita ini memang luar biasa. Tapi harus di akui, semua itu tidaklah bisa membuat hati Kris mencair dan mencoba untuk mencintai Yoona. “Menurutmu?” Kris mulai berbicara dan menatap tajam kearah mata Yoona.” Aku sudah selesai makan, kau yang mencuci piring.” Kata kris sambil mendorong mundur kursinya dan mulai beranjak pergi dari meja makan.

Yoona hanya menatap pasrah kearah Kris. ia segera bangkit dan mengambil piringnya dan piring Kris. “ hanya dua buah piring kan? Tidak masalah.” Katanya sambil terus tersenyum. Tak bisa dipungkiri, saat ini hati Yoona sangatlah senang, walau ia sedikit kecewa dengan sikap Kris yang dengan cepat membicarakan tentang perceraian. Tapi ia tak perduli, ia tak ingin ambil pusing. Ia sudah memaafkannya. Dan ternyata penilaiannya tentang Kris tadi tidaklah benar, dia tak sedingin kelihatannya. Mungkin itulah yang difikirkan Yoona sebelum dia menyelesaikan langkahnya menuju dapur.

“ Kau benar-benar sudah gila Kris.” kata Yoona sedikit tercengang ketika mendapati isi dapur yang bisa dikatakan hancur ini. penggorengan kotor diatas kompor yang dihiasi dengan krim, keju dan mungkin beberapa potong sayuran yang mulai layu terkena pancaran panas dari kompor. Ditambah lagi adanya tumpukan barang-barang kotor di tempat pencucian piring. “Kau sebut ini sedikit?” Gerutunya menahan amarah.

Ia menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, lalu kembali berjalan dan mulai membersihkan sekaligus mencuci satu persatu peralatan yang telah di gunakan oleh Kris. ia tidak boleh marah, bukankah Kris sudah memasakannya makanan yang lezat? Setidaknya ia harus berterima kasih pada Kris, walau harus dengan cara seperti ini.

Ia berjalan menuju lemari pendingin untuk mengembalikan bahan-bahan yang tidak terpakai oleh Kris. Ia mulai membuka pintu lemari pendingin dan.. prak… dua buah telor berhasil terjun bebas ke lantai dapur. Matanya membulat ketika mendapati isi lemari es yang super duper berantakan, cangkang telor, tumpahan susu bercampur dengan jus jeruk dan selai stroberri. Dan…. “ eskrimku!” teriak Yoona tercekat.

Matanya memerah ketika mendapati belahan jiwanya habis bersatu dengan tumpahan susu dan jus jeruk. Seketika tubuhnya terasa panas, ingin rasanya ia berlari ke atas dan memberikan satu pukulan ke wajah namja menyebalkan itu.

“ Kya WU YI FAN!!!!” teriak Yoona marah. Suara nya berubah, naik tiga oktaf lebih tinggi dari suara aslinya. Ia masih bisa terima saat Kris mengerjainya, dengan sengaja membuat dapur berantakan dan menyuruh Yoona untuk membersihkannya, tapi tidak untuk satu ini. ia benar-benar tidak terima jika seseorang menyentuh apalagi menghancurkan belahan jiwanya, es krim coklat favoritnya.

 

***

 

Kkeut!

Akhirnya selesai juga chap 1 nya.. Semoga para readers suka ya..

Please leave ur comments..

72 thoughts on “(Freelance) Married Without Love (Chapter 1)

  1. aku baru baca chap1 ini setelah liat ada update-an ff ini dan ternyata udh sampe chap.6
    waaah cceritanya seru…

  2. Ini bisa ga endingnya yoona sama sehun hehehehe
    Kalo ga bisa gpp deh
    Tapi ffnya bagus kok thor aku suka
    Chap selanjutnya cepet ya thor🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s