Niet Meer – 1

nietmeer1
.

Niet Meer

by chiharu

Byun Baekhyun | Im Yoona

Romance | Fluff | Angst

PG

Poster by Missfishyjazz at Art Fantasy (Thanks!!!)

Mine, don’t claim this as yours.

.

Amsterdam, September 2010

Tepat pukul 11 siang waktu setempat di De Dam.
Mata itu belum juga berpaling dari sesosok gadis semampai yang ada diujung jalan sana. Lelaki bernama Byun Baekhyun itu sudah mengamatinya dari tadi. Ia begitu yakin kalau gadis bersurai kecoklatan itu adalah orang Asia.

Baekhyun tersenyum cerah, rupanya ia menemukan sebuah inspirasi. Sudah dua hari ia tidak menemukan moodnya untuk melukis. Sekarang—di jalanan sekitar kota Amsterdam, ia mendapatkan mood dan inspirasi untuk kembali lagi melukis. Terima kasih nona yang ada diujung jalan sana.

Tapi tunggu dulu, aneh. Baekhyun sama sekali belum berpaling dari gadis itu. Ia melihat gadis itu masih berdiri disana dengan memainkan kamernya. Lalu ia agak mengernyit saat gadis itu tiba-tiba berbalik memunggungi jalan—rupanya gadis itu sedang mengangkat telepon.

“Ah.” ia membuang nafas berat. Sejenak, ia menatap kanvasnya yang masih kosong, terbayang bagaimana wajah gadis tadi—meskipun tidak terlalu jelas dan detail juga. Bayangkan saja, ia mencari satu gadis yang baru ia lihat ditengah ramainya De Dam—atau alun-alun pusat Amsterdam. Tapi rasanya, ia ingin kembali mendongkak dan memandang gadis itu lagi.

Matanya masih mencari, baru beberapa menit yang lalu ia masih melihat gadis itu disana—tapi sekarang gadis itu sudah menghilang. Baekhyun merutuki dirinya sendiri karena… Ia tidak tahu, ada magnet apa dengan gadis itu?

Baekhyun membuang nafasnya kesal. Sekarang, ia beralih menatap kanal yang tak berada jauh dari posisinya.

“Permisi tuan, apa aku boleh mengambil gambarmu?”

Baekhyun mendongkak saat ada seseorang yang menepuk pundaknya. Sekilas, ia bertemu pandang dengan gadis itu. Ia rasa ia menemukan alasan untuk tersenyum—hatinya tersenyum saat itu juga.

Gadis yang menepuk pundaknya adalah gadis yang tadi—si gadis pemberi inspirasi. Ia masih ingat, gadis itu mengenakan mantel berwarna coklat dengan bawahan dress berwarna cream, rambutnya ikal berwarna kecoklatan—dan ia baru melihat matanya dengan jelas—gadis itu memiliki mata beriris madu.

“Tuan, apa kau baik-baik saja?”

Baekhyun baru tersadar saat gadis itu menepuk pundaknya.

“Ya, ada apa?” tanyanya dengan refleks.

Gadis itu terkekeh pelan membuat Baekhyun tidak mengerti. “Tuan, apa aku boleh mengambil gambarmu? Maksudku memotretmu.” kata gadis itu setelah sebelumnya ia terkekeh.

“Bagaimana bisa? Bahkan kanvasku masih kosong?” dalih Baekhyun sambil mengerutkan keningnya.

“Sebenarnya, kau memiliki aura seni yang kuat, aku yakin kau pelukis yang hebat, Tuan.”

“Kau ini, ngomong-ngomong jangan panggil aku tuan, aku masih berusia 22 tahun.” koreksi Baekhyun dengan nada suara yang sedikit kesal.

“Ah maafkan aku. Ohya, sepertinya aku memang tidak bisa memotretmu. Kau benar, kanvasmu bahkan masih kosong.” ucap gadis itu dengan kekehannya.

“Nona, bolehkah aku—”

“Yak! Ternyata kau ada disini.”

Baekhyun mendapati seorang lelaki yang kini berada ditengah mereka—lebih tepatnya disisi gadis itu.

“Bagaimana bisa kau ada disini?” tanya gadis itu heran.

“Aku sudah mencarimu kemana-mana, kau sudah ditunggu oleh ayahmu dirumah.” dalih si lelaki tersebut. “Ayo kita pulang sekarang.”

“Eum… Nona, siapa namamu?” sela Baekhyun.

“Akan kuberi tahu jika kita bertemu lagi. Euuum… Sampai jumpa.” jawab gadis itu cepat karena ia sudah beranjak dari sana karena lelaki tadi.

Baekhyun hanya membuang nafasnya saat ia mendengar jawaban tadi. Kini, ia hanya bisa melihat surai kecoklatan yang semakin menjauh dari pandangannya.

“Im Yoona.”

Baekhyun meraih sebuah gantungan kecil yang berada diatas box kayu miliknya. Apa benda itu milik gadis yang tadi? Oh, rupanya namanya Im Yoona—Baekhyun yakin itu, nama yang indah. Ia memasukkan gantungan kecil itu kedalam saku mantelnya sambil terkekeh pelan.

///

Amsterdam, November 2010

Kaki jenjang milik Im Yoona terus menyusuri sebuah jalan yang cukup ramai di kota Amsterdam ini. Ia menjadi salah-satu daya tarik disana, selain parasnya yang cantik, tentu saja wajah Asianya menjadi sangat khas dan menarik banyak perhatian orang. Ia hanya tersenyum tatkala sebagian orang-orang disana tersenyum padanya.

“Wah indah sekali.” ujarnya saat ia menghentikan langkah. Sekarang, ia tengah berada didepan gedung yang cukup besar. Siapa yang tak kenal dengan gedung Concertgebouw? Ya, gedung itu adalah surganya para pecinta musik klasik yang berkelas.

Kebetulan sekali, bulan ini adalah bulan November—bulan dimana banyak diadakan konser-konser besar, penontonnya pun bisa sampai ribuan orang.

Dengan senyum, Yoona memasuki gedung itu. Entah apa yang membuatnya tergugah ingin mengunjungi gedung ini. Bahkan, ia tidak menyukai musik klasik sama sekali—mungkin, Yoona sedang berlari dari ayahnya.

Saat sudah memasuki arena konser, Yoona mendudukkan dirinya disalah-satu kursi disana. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Yoona, ayah tunggu 15 menit lagi. Kau akan bertemu dengan anak muda dari grup YC. Tidak mau tahu, kau harus datang, sayang.

Yoona membuang nafasnya kesal setelah membaca pesan singkat dari ayahnya itu. Lelaki yang baru ia kenal 3 bulan lalu, sama sekali tidak menyenangkan. Lelaki jangkung itu senang sekali mengaturnya, bermain dengan wanita lain, itu semua sungguh Yoona benci. Pewaris tunggal dari grup YC hanya modal tampang dan banyak sekali memiliki sifat buruk.

Dentuman dari tuts-tuts piano seketika langsung mengubah fokus Yoona. “Baiklah, sekarang lupakan lelaki dari grup YC itu, dan jangan hiraukan ayah.” ucapnya seraya ia memfokuskan dirinya pada permainan seorang pianis.

Semua orang yang ada diruangan ini terkagum-kagum dengan permainan si pianis termasuk Yoona. Lagu yang dibawakan adalah lagu Claire de Lune. Alunan pianonya sangat merdu dan romantis.

Entah kenapa, Yoona beralih pada wajah si pianis yang dengan damai menikmati permainannya sendiri. Wajah pianis itu terlihat damai. Tapi sekarang kening Yoona terlihat berkerut. Sepertinya ia pernah melihat pianis itu, tapi dimana?

///

Konser sudah selesai, kini Yoona tengah berada di suatu tempat yang menurutnya aneh untuk ia datangi. Rasa penasarannya mampu mengantarnya kesini—ia pikir penasaran harus terjawab.

Suara riuh dan tepukan tangan dari para pemain tadi kini menjejali telinganya. Yoona sibuk mencari-cari sosok pianis berparas Asia tadi. Matanya menyapu seluruh sudut belakang panggung ini.

“Permisi, uhm… Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanyanya pada seorang lelaki berambut pirang dan bermata abu-abu. Sepertinya memang orang pribumi.

“Ya, ada yang bisa kubantu?” sahutnya.

“Aku mencari pianis yang memainkan lagu Claire de Lune tadi, apa kau melihatnya?”

“Uhm… Sepertinya kau lancang sekali, kurasa hanya beberapa orang sebelummu yang berani masuk ke belakang panggung Concertgebouw.” jawab pria itu. Yoona memutarkan bola matanya malas. Dasar! Seharusnya ia tidak perlu bertanya seperti ini tadi. Menanggapi ekspresi Yoona, pria tadi langsung berlalu meninggalkannya.

“Nona!”

///

Langit malam di kota Amsterdam. Entah apa yang mengantar Baekhyun hingga pada waktu dan suasana yang tengah ia jalani. Ia tengah berada di pinggir sebuah kanal di De Dam—pertemuannya dengan gadis bernama Im Yoona.

Dan kalian tahu? Malam ini Baekhyun tersenyum tidak seperti biasa. Gadis itu kini sedang bersamanya. Rasanya memang seperti mimpi, beruntung sekali takdir mempertemukannya lagi dengan gadis itu.

Beberapa menit yang lalu, ia kaget karena ada seseorang yang mencarinya di belakang panggung Concertgebouw. Alangkah terkejutnya Baekhyun saat ia tahu pemilik surai kecoklatan itu ternyata mencarinya. Kini ia sudah tahu namanya, gadis itu bernama Im Yoona.

Yoona—yang saat itu mengenakan syal berwarna hitam bermotif, menoleh pada Baekhyun. “Byun Baekhyun, sudah berapa lama kau tinggal disini?”

“Baru satu tahun.” jawab Baekhyun santai.

Yoona hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepalanya. Ia pikir, seorang Byun Baekhyun sangat hebat—lelaki itu pandai berseni. Byun Baekhyun seolah memberikan magnet tersendiri baginya, apalagi saat lelaki itu membawakan lagu Clair de Lune dengan dentingan piano yang sangat indah.

“Baekhyun?”

“Ya?”

Yoona menatap Baekhyun dengan tatapan aneh. Ia tahu ia adalah gadis yang bodoh…

“Bolehkah aku meminta tanda tanganmu? Atau sekalian berfoto denganmu? Mulai sekarang aku berjanji akan menjadi penggemar setiamu.”

Tawa Baekhyun langsung lepas saat itu juga. Melihat ekspresi wajah Yoona yang datar, ia semakin tidak mengerti akan apa yang gadis itu ucapkan.

“Apa? Kau akan menjadi penggemarku?” tanyanya disela ia tertawa. Kemudian, ia terhenti saat Yoona menepuk pundaknya dan menatapnya serius.

“Berikan tanda tanganmu dan ayo…. Kita berfoto bersama.”

“Ada satu syarat, kau harus tetap menjadi penggemarku.”

“Baiklah, aku berjanji. Im Yoona berjanji.”

///

Amsterdam, December 2010

Yoona memandangi sebuah palaroid yang menurutnya konyol dan syarat akan kenangan. Didalam foto itu, ia tengah berpose dengan senyum manisnya—sementara Baekhyun, lelaki itu tengah berpose dengan memegang gitarnya. Dengan latar jalanan De Dam yang ramai, ia sugguh rindu akan suasana bersama Baekhyun.

Sudah kurang lebih satu bulan Yoona berteman baik dengan Baekhyun. Tak jarang mereka bertemu di De Dam. Bahkan Yoona sempat belajar melukis bersama Baekhyun.

Kehidupan yang berbeda banyak ia dapatkan saat bersama Baekhyun. Ia merasa ia nyaman dengan lelaki itu, mungkin ini aneh—tapi Yoona merasa ia sudah kenal dan masuk ke dalam hidup Baekhyun terlalu jauh, jangan salahkan jika ia mulai tertarik dengan lelaki itu.

Yoona menoleh saat pintu kamarnya diketuk. Ia membuang nafas kesal, pasti itu adalah pelayan ayahnya. Yoona sengaja tidak menyaut, ia malah memasukkan beberapa bajunya kedalam tas dan berusaha kabur. Ya, sekarang adalah hari pertunangannya dengan lelaki jangkung dari Grup YC. Beruntung Yoona belum memakai gaun, ia masih leluasa untuk kabur. Tenang saja, Yoona sudah menyiapkan beberapa cara untuk kabur dari rumah yang lumayan mewah ini.

///

“Apa kabar?”

Baekhyun menolehkan kepalanya saat ada yang menyapanya. Seperti biasa, senyum tipis yang menghiasi wajah seorang Byun Baekhyun. “Ada apa, Yoong?” tanyanya lalu ia kembali memoleskan beberapa cat air diatas kanvasnya.

“Aku sedang kabur.” jawab Yoona seraya ia duduk dipinggir Baekhyun. Wajahnya terlihat muram menatap trotoar De Dam.

“Pulanglah, pasti orang tuamu akan mencarimu. Kau sedang membuat mereka khawatir?”

Yoona mendongkak dan menatap Baekhyun yang sama sekali tidak beralih dari kanvasnya. “Kau benar-benar baik sekali… Jangan salahkan aku jika aku ingin terus bersamamu.”

Baekhyun sukses menoleh pada Yoona. Kini mata mereka saling bertemu. Ada yang berdegup kencang didalam sana—didalam diri Baekhyun. Seberapa kuat ia bisa menatap gadis yang secara tidak sadar sudah dicintainya? Yoona, gadis yang ia sukai sejak pandangan pertama.

Beberapa detik kemudian, mereka saling mengalihkan fokus. Baekhyun bersuaha bersikap biasa-biasa saja—sementara Yoona, ia tidak tahu apa yang ia rasakan.

“Pulanglah, nanti akan kuberi hadiah.”

.

.

To be continued

.

.

Haaaaaaai! Gimana? Ini bagus gak? Atau aneh asdfghjkl?

Udah lama juga ya ga post disini. Kali ini aku coba buat pairing BaekYoon. Sori banget ini pendeeeeeek hehehe.

Maafin ya aku sibuk banget. Tau sendiri kan gimana itu kurikulum 2013? Ituloh yg lagi happening banget dikalangan murid-murid. Belom lagi eskul, kerja kelompok dan blablabla /curhat/

finally, terima kasih dan jgn lupa apresiasinya ya😀 seeya!

39 thoughts on “Niet Meer – 1

  1. Ini aku suka bgtttt. Ceritanya ga berat sukaaaa. Suka bgt sm jln cerita yg kyk gini. Aku emang suka baekyoon sih haha. Lanjutin yaa smangatt

  2. Keren tapi kok rasanya kayak ada yang kurang pas gtu
    Siapa sih yang di jodohin sama yoona?
    Kok aku kebayangnya klo gk sehun kai ya suho
    Next nya cepetan ya udh penasaran

  3. Yaa mereka sama2 tertarik satu sama lain. Masa iya Baekhyun nyuruh Yoona pulang, kalau pulang artinya Yoona ya harus tunangan sama Pria pilihan Appanya Yoona lah, gimana sih..
    Nextnya ditunggu sangat! Udah penasarn nih sm next partnya. Fighting!@

  4. huwahh, aku suka crtanya. menarik..
    dan baek mau ngasi hdiah apah??
    eumm, klo boleh tau tngan yoona siapa?? kris??
    next ditunggu^^..

  5. huwahh, aku suka crtanya. menarik..
    dan baek mau ngasi hdiah apah??
    eumm, klo boleh tau tngan yoona siapa?? kris??
    next ditunggu^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s