Moonlight

anigif

title : Moonlight

author : Fumi Nakamura

main cast : Do Kyungsoo, Im Yoona, Lu Han

length : ficlet+songfic

genre : sad, hurt, angst

rating : all

desclaimer : punya author sendiri.

ini ff buat udah lama waktu pertama kali denger lagu moonlight terus cari2 artinya dan author jadiin FF. ff ini juga udah pernah author pos di wp pribadi author dengan cast berbeda

ff ini terinspirasi lagu moonlight dari EXO ini author ambil yang udah diIndo trans dan mungkin ada diliriknya itu yang author tambahin kata-kata dari author sendiri.

hope you like it

the best for you and him

Kyungsoo pov

Gadis itu…gadis yang mencuri perhatianku sejak 5 tahun yang lalu. Gadis yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, gadis yang tertawa riuh bersamaku, gadis yang selalu berbagi cerita denganku, gadis yang menangis didepanku, gadis yang sering merengek didepanku. Umur kami berbeda cukup jauh, umurku 24 tahun dan dia 27 tahun, aku 3 tahun lebih muda darinya, bisa saja kalian sebut dia noonaku tapi dia bukan noonaku, dia sahabatku. Aniya! Aniya! Dia orang yang mengisi hatiku sejak pertama kali aku bertemu dengannya malam itu ketika aku kehabisan baterai ponselku

Flashback

“sialan!” runtukku berulang-ulang

Aku menyalahkan diriku sendiri karena ponselku sejak tadi aku gunakan untuk bermain game dan sekarang low batt dan yang paling parahnya aku tak bisa menelpon kedua orangtuaku agar menjemputku. Aku memang sengaja pulang malam hari ini tapi siapa sangka jika aku ketinggalan bus gara-gara Jongin yang menyuruhku untuk tetap menemaninya hingga dia puas karena dia baru saja diputus oleh kekasihnya, Krystal

Aku jalan kaki? Ayolah, rumahku jauh dari tempatku sekarang berdiri, sekitar 10 meter apalagi hari ini sudah malam, ditambah jalanan mulai sepi dan sedikit membuatku bergidik merinding. Sesaat kemudian aku menyadari jika ternyata buku tugasku aku tinggalkan dilaci meja

Brak

Aku sedikit terlonjak ketika mendengar suara dentuman dari semacam besi ringan yang dipukulkan dengan sesuatu yang membuat sedikit suara berisik dan dengungan ditelingaku. Aku menatap seorang wanita yang berdiri tak jauh dariku, didekatnya ada sebuah tong sampah. Oh, jadi itu suara tutup tong sampah yang dibuka olehnya tadi

“ne, yeoboseyo?”

“…”

“jinjayo?!”

“…”

“ne, gamsahamnida, gamsahamnida”

Aku sedikit mendengarnya bercakap dengan seseorang ditelepon yang dia gunakan sekarang, dari suaranya terdengar sangat bahagia—seperti menang lotere—eh?! Apa yang kau pikirkan?! Tunggu, ponsel?

Tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikiranku, aku langsung berlari cepat menuju gadis tadi sebelum dia benar-benar sudah masuk ke rumahnya

“agasshi” panggilku, dia berhenti dan dengan pelan menoleh kearahku dengan tatapan was-was ketakuan, “n—ne? Ap—apa aku mengenalmu?” tanyanya

“tenang agasshi, aku tak bermaksud jahat padamu. Err—lihat! Aku masih anak SMU” jawabku

Dia menatapku mengernyit bingung, “ermm—bolehkah—aku meminjam ponselmu?” tanyaku, dia tampak celingukan seperti sedang mencari sesuatu, “agasshi?” panggilku lagi

“kenapa kau malam-malam berada di daerah ini? bahkan sekolahmu jauh dari sini?” tanyanya menyelidik, “err—itu—agassho tak bisakah aku meminjam ponselmu untuk menelpon kedua orangtuaku agar menjemputku?” tanyaku mengalihkan pertanyaannya

“kau bukan anggota geng berandalan yang sedang menyamar bukan?”

“mwo?!” kagetku yang kemudian tertawa kecil, “aniyo, agasshi, aku bukan seperti itu, aku hanya seorang laki-laki SMU biasa” jawabku

“ahh—jinja?” tanyanya sambil menggembungkan mulutnya—kyeopta—bodoh

“baiklah” katanya lagi dan memberikan ponselnya padaku. aku langsung memencet nomer telepon appaku dan benar saja, dia langsung marah-marah gara-gara aku belum pulang

“gamsahamnida agasshi” kataku kembali memberikan ponselnya, “ne” jawabnya tersenyum merekah

DEG!.

Flashback off

Dia mengisi hari-hariku setiap hari bahkan jika bisa dibilang dia adalah sinar dalam hidupku tak pernah seharipun di handphoneku tak tertera namanya, entah itu sebuah pesan singkat atau bahkan telepon.

“Kyungsoo-ya, eodiseo? Kau berkata akan makan siang bersamaku? Jangan katakan kau lupa dengan perkataanmu? Aku sudah cukup lama menunggumu disini”

“aku tak akan lupa noona, sebentar lagi. Aku selesaikan pekerjaanku sedikit lagi. Aku tak akan lama” kataku tersenyum mendengar suaranya

Hanya dengan mendengar suaranya yang seperti itu saja membuatku sangat senang bahkan jantungku terus berdegup kencang karenanya tapi akhir-akhir ini aku jarang mendapat kabar darinya. Jarang ada pesan singkat maupun telepon darinya lagi.

Ada apa dengannya? Apa dia sudah melupakanku?.

—-

“Yoong noona? Sedang sibuk?”

“aniya, wae Kyungsoo?” tanyanya lembut

“bisakah kita bertemu, aku rindu melihat tawa alligatormu noona-ya” jawabku tertawa kecil

“tentu saja Kyungsoo, ditempat biasa ne?” katanya juga ikut tertawa.

Aku sudah duduk kursi yang biasa aku tempati dengannya, aku melihat tanganku, ternyata masih 5 menit lagi. Ternyata aku datang terlalu awal. Beberapa menit setelah itu, aku melihatnya berjalan dari kejauhan, dia tampak sumringah. Aniyo, dia memang selalu tampak seperti itu apapun yang terjadi

“annyeong, Kyungsoo, lama tak bertemu” sapanya

Senyumannya tak pernah lepas dari bibir indahnya, sorot matanya yang indah, warna bola matanya yang coklat dan teduh, rambut coklat ikalnya yang selalu tergerai serta kulit putihnya yang sangat terawat dan halus

“hey! Kyungsoo! Kenapa kau malah melamun?”

Aku tersadar dan tersenyum, “bagaimana kabar noona? Noona jarang menghubungiku akhir-akhir ini” tanyaku langsung

“hehehe… mianhe, pekerjaan dikantor sangat banyak itu membuatku benar-benar lelah bahkan handphoneku sering lowbatt karena aku hampir tak pernah mengisinya” terangnya tetap tersenyum

“aku kira kau menjauhiku, noona” jawabku, “untuk apa? Kau seseorang yang terbaik yang pernah aku temui” katanya tetap tersenyum, aku hanya mengangguk

Seperti beribu-ribu bunga yang menyeruak masuk kedalam hatiku, jantungku terus berdegup, nafasku terasa sangat lepas ketika aku menghirupnya bahkan aku hampir tak bisa mengatakan apapun padanya

“ah… Kyungsoo, aku ingin memberitahumu sesuatu” katanya menatapku tersenyum antusias sambil mengatupkan kesepuluh jari-jemarinya

“apa?”

“Luhan oppa, namja yang pernah aku ceritakan padamu. Dia sekarang sudah menjadi namjachinguku, kami sudah berhubungan 5 bulan yang lalu. Wooaahh… aku senang sekali, dia namja yang baik meskipun ya—dia agak sedikit menyebalkan. Ahh… mianhe Kyungsso, aku tak menceritakannya padamu sebelum-sebelumnya” terangnya

Tadi bunga itu baru saja menyerbu seluruh hatiku tapi sekarang? Berjuta-juta samurai terasa menusuk jantungku, aku tercekat, mataku sedikit memanas, aku meremas serbet yang tadi aku pegang untuk membersihkan tanganku. Aku masih tetap menatapnya diam, marah, sedih, kecewa, hancur dan—sakit hati

“Kyungsoo? gwenchana?” tanyanya khawatir mendengar perubahan dari sikapku

Bodoh! Kau lupa kedokmu, Do Kyungsoo?

“gwenchana. Chukkae noona, akhirnya kau bisa bersama namja bernama Luhan itu” kataku akhirnya tersenyum (palsu) lebar

Aku melihatnya, senyuman diwajahnya sedikit hilang ketika menatapku tadi tapi ketika aku juga ikut tersenyum bahagia wajahnya juga ikut kembali seperti tadi. Jangan lakukan itu noona, jangan lakukan itu, aku tak ingin terlalu jauh untuk jatuh padamu.

Author pov

Seminggu berlalu…

Seorang namja berjalan pelan, menenteng sebuah tas, langkahnya terlihat berat menuju halte yang jaraknya 10 meter dari bangunan tinggi pencakar langit tempat ia bekerja. Dia meninggalkan mobilnya memilih menaiki bus untuk kembali apartemennya.

“noona?” lirihnya ketika dirinya mendapati seorang wanita telah duduk dengan menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya didepan halte bus

Namja itu—Kyungsoo, dia berlari menghampiri wanita itu

“noona, gwenchana?” tanyanya khawatir

“Kyungsoo” kata wanita itu terisak menatap Kyungsoo, wajahnya merah bengkak dan air matanya terus mengalir turun

“waeyo noona? Ada masalah apa dengan—Luhan?”

“molla, dia tiba-tiba marah padaku dan menyuruhku pergi. Mungkin itu karena kesalahanku aku datang kekantornya saat dia akan mengadakan rapat” jawabnya tetap terisak

Kyungsoo melepas mantel yang melekat pada tubuhnya dan memakaikan pada gadis didepannya ini. Bagaimana bisa dicuaca hampir sedingin ini wanita ini malah duduk terlungkup dengan kaos tipis tanpa sehelai pakaian hangat sedikitpun?

“kenapa noona keluar dengan pakaian seperti ini?”, tapi wanita itu hanya menggeleng

“uljima, uljima Yoona noona” kata Kyungsoo berusaha menangkan wanita itu

Kyungsoo menggosokkan kedua telapak tangannya dan menempelkan pada wajah wanita didepannya, dia melakukan berulang-ulang, bukan hanya wajah tapi dia juga tempelkan ke telapak tangan Yoona

“hangat” lirihnya, “kita ke apartemenku saja ne, noona?”.

Kyungsoo pov

Aku tak mungkin bukan membiarkan dia sendirian dengan cuaca seperti ini? dan yang aku sesali kenapa disaat seperti ini aku justru meninggalkan mobilku di kantor dan lebih memilih pulang menggunakan bus umum? Sekarang? Dia masih menangis tapi itu untuk Luhan bukan untukku.

“noona sekarang tidurlah, aku tak bisa mengantarmu pulang, mobilku aku tinggal dikantor” kataku lembut, “masuklah kekamarku” lanjutku

Dia mendongak menatapku, “lalu, kau sendiri?” tanyanya

“aku akan tidur disofa”

“aniya, tidurlah disampingku”, aku terdiam mendengarnya

“gwenchana, kau sudah aku anggap seperti adikku sendiri, meskipun kita tak ada hubungan darah tapi aku sudah benar-benar menganggapmu sebagai adikku sendiri” lanjutnya sedikit tersenyum

Adik? Adik? Hanya sebatas adik? Noona, tak tahukan kau perasaan ini sudah berbeda sejak pertama kali kita bertemu?.

Dia tertidur disebelahku, bagaikan seorang malaikat cantik yang sangat menikmati alam bawah sadarnya.

Kau yang bermandikan cahaya bintang

Belum pernah aku melihat pemandangan secantik dirimu

Layaknya seperti sebuah lukisan

Disetiap akhir tatapanku yang selalu mengikutimu.

Aku terus mengitari setiap lekuk wajahnya. Aku sadar, aku tak mungkin memilikimu. Kau begitu sempurna. Hanya orang yang sama sempurna sepertimulah yang bisa memilikimu seutuhnya, seperti namja China bernama Luhan itu yang sekarang berhasil memilikimu.

Aku menggeliat pelan saat mataku mulai merasakan sorot sinar matahari menyerang pandangan mataku, silau, sangat menyilaukan. Tanganku beralih mencoba mencari wanita disebelahku

Kemana dia?

Aku langsung keluar kamar dan kedapur untuk minum dan aku menemukan catatan kecil tertempel di pintu kulkasku. Wanita itu pergi, dia sudah pergi.

Kyungsoo, gumawo, kau memberiku tempat, kau mau mendengarkanku, kau menenangkanku bahkan kau membiarkanku menginap di apartementmu. Mianhe jika aku sangat merepotkanmu.

Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, pastikan kau memakannya. Itu sedikit ucapan terimakasih dariku, selebihnya akan aku kembalikan jika aku bertemu dengamu lagi ^_^.

Mwo? Apa dia berencana tak menemuiku lagi?.

Aku berangkat kerja seperti biasanya dan dikantor seharian aku jalani seperti hari-hari normalku, berusaha saja melupakan perkataanya kemarin. Hari beranjak sore, aku menyetir mobilku untuk pulang, dan aku masih merasa terpuruk dengan pengakuan dari noonaku itu.

Noona, aku sangat mencintaimu, tak tahukah kau tentang hal itu?.

Ternyata apa yang aku lakukan berbeda dari apa yang aku pikirkan, bukan berbelok ke apartemenku, aku justru ke sungai Han menenangkan pikiranku. Aku merasa tenang memang pertama kali tapi setelah itu aku melihatnya bersama kekasihnya, Luhan. Mereka sudah baikan ternyata. Ini alasanmu kau tak pernah sering mengirimi bahkan meneleponku lagi. Kenapa berubah noona?

Aku tak bisa terus-terusan melihat mereka, aku tak bisa. Hingga kuputuskan kembali ke apartementku. Aku merebahkan diriku, memejamkan mataku. Aku merasa tertidur atau aku memang tertidur? Tapi ketika aku membuka mataku aku melihatnya dia didepanku menyinggungkan senyumannya, aku tak bisa menahan hatiku

“noona—” kata-kataku terputus

Aku berusaha meraihnya tapi sebuah tangan lain menyentuhnya terlebih dahulu dan kemudian bayangan itu menghilang seiring dengan cahaya putih menyilaukan yang datang bersamaan dengan kepergiannya.

Sebuah tempat yang tak bisa aku sentuh

Sebuah tempat yang tak bisa aku tempati

Sebuah refleksi yang tenyata itu bukan kau

Ini kisah sedihku tentang cinta yang tak akan pernah bisa terpenuhi

Semakin aku mendekat, semakin rasa sakit itu menjalar

Kau sebuah bayangan yang menghantuiku.

Kau sedang memberi cobaan untukku Tuhan? Kenapa berat sekali rasanya?.

Author pov

Hari berikutnya dan seterusnya, Kyungsoo lebih menjadi seorang yang lebih pendiam. Dia berjalan lesu kekantornya, dia merasa tak memiliki semangat lagi. Penyemangatnya hilang begitu saja dalam sekejap pandangannya, padahal dia merasa bahwa dia baru saja bertemu dengannya kemarin.

Triinggg

Sebuah pesan singkat masuk kedalam handphonennya, dia tak berharap itu adalah wanita yang diidamkannya karena bagaimanapun juga wanita itu tak akan pernah mengiriminya pesan lagi tapi bagaimana jika Tuhan berkata lain?

From : Yoona noona

Good morning tuan Do Kyungsoo. have a great dayy^^

Makan siang bersama? Dicafe biasa ne?^^

Jantung lelaki itu terasa berhenti berdetak, dia berusaha menormalkan pandangan matanya. Apa itu benar dari wanita yang dicintainya?.

Lelaki itu berjalan dengan gagahnya, perasaan gembira tentu saja menyeruak kedalam dirinya. Wanita itu mengajaknya makan siang bersama setelah kejadian beberapa hari yang lalu, tentu saja dia tak akan melewatkan kesempatan ini

“annyeong, noona” kata Kyungsoo tersenyum melihat wanitanya, “mianhe telat”

“tak apa, aku tahu kau sibuk lagipula aku juga tak cukup lama menunggumu” jawab Yoona menyunggingkan senyuman khasnya. Seorang lelaki datang menghampiri mereka dan menarik kursi duduk disebelah Yoona

“ah… Kyungsoo, kenalkan ini Lu Han dan Luhan oppa ini Kyungsso, namja yang sering aku ceritakan padamu” kata Yoona memperkenalkan kedua namja itu

“annyeong, Lu Han imnida, kau bisa memanggilku Luhan” kata Luhan tersenyum mengulurkan tangannya

“Do Kyungsoo imnida, panggil saja Kyungsoo” jawab Kyungsoo membalas uluran tangan Luhan

Mereka makan bersama, tapi ini berbeda, mereka tak hanya berdua melainkan bertiga, dengan Luhan kekasih Yoona. biasanya Kyungsoo dan Yoona akan bertukar cerita berdua tapi ini tidak, mereka bertiga dan Kyungsoo merasa sedikit canggung dengan Yoona karena ada Luhan didekatnya, sehingga dia hanya mengucapkan beberapa hal yang wajar saja sebagai seorang teman bukan sebagai seorang sahabat yang membuat lelucon seperti biasanya.

Kyungsoo pov

Aku benar-benar miris pada diriku sendiri ketika menatap mereka berdua yang tersenyum lebar, mereka tak memperlihatkan keromantisan mereka didepanku tetapi tetap saja aku sakit melihatnya. Aku sesekali tersenyu menatapnya yang juga tersenyum bersama Luhan, kadang mereka berusaha membuatku masuk kedalam percakapan mereka tapi—aku hanya sedikit merespon

Noona, tak bisakah kau melihat kemari walaupun hanya sedetik saja? Sedetik dalam kehidupanmu selama ini untuk menyadari apa yang aku rasakan? Sedetik dari seluruh waktumu yang hanya kau gunakan untuk melihat Luhan hyung?.

1 bulan kemudian

Hari-hariku berjalan seperti biasanya, wanita itu masih tetap terngiang dikepalaku, sudah lama aku tak bertemu dengannya. Terkahir kali bertemu ketika dia mengajakku makan siang bersama dengan kekasihnya waktu itu.

Sekarang? Gara-gara rapat mendadak bosku tadi yang menyuruh seluruh pegawai yang ditunjukknya untuk ikut, jadi aku terpaksa ikut apalagi tadi aku dipilih untuk memberikan tanggapan yang masalahnya belum aku pelajari dengan seksama dan itu membuat bosku sedikit kecewa denganku tadi karena menurutnya aku tak seperti biasanya tapi untung saja rapat selesai tepat jam kantor pulang jadi aku tak perlu repot pulang malam dan bersapa cerah pada security yang menjaga apartement tempatku tinggal

Dia, hanya dia… berhentilah, berhenti, berhenti

Hanya dia… berhentilah, jebal, berhenti, berhenti

Aku terus meneriakimu seperti ini

Jangan mendekat sayang, aku takut kedua sayapmu akan basah.

Aku berjalan dengan tempo cukup cepat karena aku benar-bena ingin mengistirahatkan tubuhku tapi aku melihat seseorang tengah duduk menekuk lutut didepan pintu apartementku. Aku tak tahu itu siapa tapi sekian aku mendekat aku  langsung mengetahuinya

“noona, waeyo?” tanyaku, mendengar suaraku dia mendongak dan menatapku

“ada masalah dengan Luhan hyung?” tebakku dan dia mengangguk

“aku melihatnya dengan wanita lain, mereka bersikap sangat mesra—aku marah padanya dan aku memaki wanita itu—ternyata wanita itu—itu—sepupunya” katanya terisak

Aku menghela nafasku, “noona sangat mencintai Luhan hyung?”, dia hanya mengangguk

Aku menarik wanita ini kedalam pelukanku, sungguh aku rindu dengan kehangatan pelukan ini, aku rindu wangi rambut dan parfum yang menempel pada tubuhnya

Noona, saranghae

Yoona, aku mencintaimu

Im Yoon Ah, I love you

Yoong, saranghae…saranghae!!

Tak peduli sebanyak apapun aku berteriak

Kau tak akan pernah bisa mendengarkanku (aku mengatakannya dalam hatiku)

Kau kembali jatuh dalam pelukannya

Hentikan, hatimu butuh istirahat

Jangan kau terus menangis

Aku tahu kau menyembunyikan kesedihanmu yang lain

Kau tak menceritakannya padaku

Hentikan, jangan menangis

Hatiku hancur menjadi kepingan saat melihatmu seperti ini.

Aku membiarkannya lagi menginap diapartementku. Bagaimana bisa aku tidur satu ranjang dengan seorang wanita yang sudah memilki namjachingu? Tapi itu tak akan menjadi masalah baginya sebab, aku hanyalah adiknya. ADIKNYA.

Aku terbangun, dia tak berada lagi disampingku dan seperti biasa dia meninggalkan secarik kertas yang aku yakini itu pesan darinya untuk berterimakasih.

Aku memandang nanar kertas itu, terasa hunusan pedang saat itu sedang menusuk pelan jantungku

Apa aku salah jika mencintaimu noona?

Apa aku salah jika perasaan ini untukmu?

Jawablah noona!!

Lihatlah aku noona, kumohon.

Aniya, aku tidak menangis, aku terlalu lelah untuk menangis, aku hanya menatap sendu

‘bunuh aku sekarang juga, jika itu diperlukan, Tuhan’.

—-

Author pov

“annyeong Kyungsoo, bagaimana kabarmu?”

“gwenchana, noona sendiri?”

“seperti biasa, apa aku mengganggumu?”

“aniya”

“kau tahu, aku rindu ketika aku menelponmu seperti ini”

“apa Luhan hyung nanti tidak marah?”

“marah? Tentu saja tidak, jika sampai dia marah, aku akan memutuskannya”

“maksud noona?”

“kau adikku, ingat? Jadi aku akan lebih memilihmu dibandingkan dengan Luhan oppa”

Dia terhenyak, ‘aku bahkan bukan adik kandungmu’ batinnya nanar

“Kyungsoo? kau masih berada disitu bukan? apa—kau tak mau menjadi adikku?” tanyanya cemas

“aniyo, tentu saja aku mau noona”

‘Andwe, andwe, aku tidak mau menjadi saengmu! Noona jebal, dengarkan teriakan hatiku!!’ teriaknya

“syukurlah, aku tutup dulu, ne? Kepala memanggilku. Annyeong!”

Tutt

Praaakk

Namja itu mendesah melempar handponennya kasar kemeja didepannya

“waeyo, tuan Do Kyungsoo?” tanya rekan satu kantornya, Chen

“gwenchana” jawabnya cuek.

Kyungsoo pov

Dan hari ini terulang lagi, aku melihatnya bukan dihalte bus atau didepan pintu apartementku seperti dulu melainkan ditaman tempat aku dan dia biasanya menghabiskan jatah liburan kami saat kerja

“Yoong noona” panggilku pelan, dia menatapku mengusap seluruh wajahnya yang memerah dan berair karena menangis

“Kyungsoo-ya? bagaimana kau bisa sampai disini?” tanyanya berusaha bersikap normal didepanku

Ayolah noona, aku mengenalmu terlalu baik

“aku selalu lewat sini” jawabku, “gwenchana?” tanyaku khawatir

Dia tersenyum, dia mencoba tersenyum seperti biasanya, “gwenchana” jawabnya

Jangan menutupinya dariku noona, aku tahu kau sedang ada masalah dengan namjamu itu

“datanglah padaku kapanpun kau mau, noona, aku akan selalu ada untukmu”

“aku menyusahkanmu berkali-kali Kyungsoo, andwe. Cukup beberapa kali saja”

“gwenchana, bukankah kau noonaku? Dan aku adalah adikmu” tanyaku terpaksa. Ne, aku sangat terpaksa ketika mengatakannya

Kau tersenyum sakit padaku seakan tak ada apapun yang terjadi

Tapi aku tahu, bahu kecilmu bergetar

Dengan lembut aku berkata

Kau bisa datang padaku dan beristirahat

Ketika pagi menyapa kau bisa kembali terbang menuju bulanmu.

Author pov

Lelaki itu berdiam diri diapartementnya, hidupnya terasa sangat kacau, tak ada pelangi yang meneranginya setiap hari. Hanya banyangan hitam pekat yang merasuk masuk kepikirannya. Tangan kanannya tergerak meraih benda lebar tipis yang berada disebelahnya sedangkan tangan kirinya sibuk dengan sebuah benda yang dia putar-putar sedari tadi

“noona”

“waeyo Kyungsoo?” tanya wanita dari sebrang lembut

“bolehkah aku mengatakan sesuatu?”

katakan saja, aku selalu mendengarkanmu”

“bagaimana kabarmu dan Luhan hyung?”

“kami masih baik-baik saja”, terdengar nada bahagia dari sang wanita

“syukurlah”

“kau ingin mengatakan itu?”

“noona, aku—aku mencintaimu noona”

“…”

“aku tahu noona ini salah”.

Tuttt…tuutt…tutt

“Kyungsoo! Do Kyungsoo!!” seorang wanita tampak sibuk berteriak dan menekan-nekan tombol di hanphonenya

1 message

From : Kyungsoo

Noona, aku mencintaimu sungguh.

1 message

From : Kyungsoo

Tak apa bukan noona? Jika aku mati sekarang, aku tak bisa bertahan terus-menerus noona. Sakit.

Wanita itu terhenyak menerima pesan dari namja bernama Kyungsoo itu, dia berlari menyambar mantel, tas dan kunci mobilnya dan satu lagi dia meninggalkan namjachingunya yang tengah menatapnya bingung. Ya, mereka sedang bersantai di apartement Yoona sekarang

“Yoong! kau mau kemana?!” teriak Luhan yang tak dijawab sedikitpun oleh Yoona

‘Kyungsoo-ya! Andwe! Tunggu! Jangan lakukan itu! kumohon Kyungsoo jangan berbuat macam-macam’ batin wanita itu, dia terus menangis dalam mobil yang dikendarainya.

Braaakkk

“Kyungsoo!!”

“Kyungsoo!! dimana kau!! Kyungsoo!!! jawab aku, kumohon” suaranya semakin mengecil dan tangannya berusaha mencari saklar lampu

Apartement Kyungsoo terlihat sangat sepi, sunyi dan pendingin ruangan itu menyala sangat dingin. Wanita itu merapatkan jaketnya dan masih berusaha keras meraba dinding tembok dingin itu.

Yoona pov

Apa yang aku takutkan selama ini benar-benar terjadi, lelaki yang aku anggap adikku sendiri benar-benar mencintaiku. Ingin sekali aku menjauhinya tapi aku tak bisa—aku terlalu menyayanginya, karena bagiku dia seperti mengganti sosok adikku, Baekhyun yang meninggal ketika umurnya 15 tahun. Dan sekarang? Apa dia berusaha mengancamku dan membuatku menjadi seperti ini?

‘Tuhan, eodiga? Dimana dia, Tuhan? Jebal, tolong selamatkan dia Tuhan’ kataku aku terus berdoa.

Klak

Aku berhasil menyalakan lampu apartemnnya dan berlari kekamarnya untuk mencari Kyungsoo

Aku melihatnya!

“Kyungsoo! Kyungsoo!!” panggilku terus-menerus menggoncangkan tubuhnya

Dia membuka matanya perlahan

“noona, saranghae” katanya tersenyum padaku, “uhuuk”—dan kemudian cairah berwarna merah keluar dari mulutnya, aku langsung memeluknya, aku merasakan sesuatu ketika tanganku ini melingkar dilehernya, sesuatu itu terasa basah, lengket dan kemudian aku mencium bau anyir darah

“andwee!!!!!”.

Author pov

Luhan hanya berdiri mematung melihat tangisan kekasihnya, dia tahu lelaki itu—lelaki yang dikenalkan padanya beberapa hari yang lalu dan lelaki itu adalah—lelaki yang mencintai wanitanya. Miris, bahkan lelaki itu rela mati hanya karena perasaannya tak terbalas oleh Yoona. dia berdiri diatas lututnya dan meraih pergelangan tangan Kyungsoo

“pukul 21.00 KST” terang Luhan yang menarik Yoona sayang kedalam pelukannya

Dia bunuh diri dengan menusukkan pisau ke lehernya.

—-

Sebuah tempat yang tak bisa aku sentuh

Sebuah tempat yang tak bisa aku tempati

Aku hanya bisa memandangmu

Membayangkan kau selalu berada didekatku ketika tidur

Itu sudah cukup, cukup

Ini kisah sedihku tentang cinta yang tak terpenuhi

Hanya dia, dia… berhentilah, berhenti, kumohon

Dia pergi ketika sinar bulan mulai tertutup oleh awan hitam.

 

-END-

annyeong!!

😀

29 thoughts on “Moonlight

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s