Destiny 8

destiny3

Destiny

by cloverqua | main cast Im Yoona – Kris Wu

other cast Huang Zhi Tao – Choi Sooyoung – Kim Joonmyun – Jung Krystal – Kim Jongin

genre Family – Friendship – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

.

Chap 1 Chap 2Chap 3Chap 4 | Chap 5

Chap 6 | Chap 7

.

Kris melirik jam tangannya. Sudah hampir 1 jam, tapi Yoona tak kunjung kembali. Hatinya mulai tidak tenang. Ke mana Yoona? Bukankah wanita itu hanya pergi ke toilet?

Mata Kris memandangi sekelilingnya. Semua orang tampak fokus dengan hidangan mereka. Terlebih ketika mulai menikmati makanan penutup.

Kris mendesah pelan. Kesabarannya sudah habis. Pria itu memundurkan kursi yang didudukinya. Suara berdecit dari kursi, sukses membuat semua orang menoleh padanya.

“Kau mau ke mana?” tanya Nyonya Wu bingung melihat Kris sudah berdiri.

Kris menoleh, “Maaf, eomma. Aku harus menyusul Yoona. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya.”

“Apa maksudmu?” tanya Presdir Wu bingung.

Kris memperlihatkan raut cemasnya, “Sebenarnya hari ini dia sedang kurang sehat. Aku khawatir jika kondisinya menurun, appa.”

Presdir dan Nyonya Wu saling memandang. Keduanya tampak bingung, di sisi lain juga cemas seperti Kris.

“Kurasa kau memang harus menyusulnya, oppa,” suara Krystal berhasil mengalihkan perhatian semua orang.

“Saat aku memeluk Yoona-eonni tadi, aku merasa suhu tubuhnya sedikit panas. Kupikir aku yang salah, sehingga aku tidak terlalu memikirkannya,” lanjut Krystal. Raut wajah gadis itu tak kalah berbeda dengan Kris.

Kris mengangguk, lalu menatap kembali orang tuanya. Sesekali ia melirik Presdir Choi dan Sooyoung. Keduanya hanya terdiam tanpa berkomentar apapun. Sooyoung turut cemas dengan kondisi Yoona. Terlebih karena perlakuan ayahnya yang baru saja diterima wanita itu. Sementara Presdir Choi memilih cuek dan terus menikmati hidangan penutup.

Appa, eomma, aku harus menyusulnya. Kalaupun kondisinya memang tidak baik, kemungkinan kami tidak bisa mengikuti makan malam ini sampai selesai. Aku harus segera mengantarnya pulang,” ucap Kris mempertegas kondisi Yoona.

Presdir Wu mengangguk dan tersenyum, “Baiklah, kau boleh pergi menyusulnya. Langsung antar dia pulang. Tidak masalah, kalian tidak bisa mengikuti makan malam ini sampai selesai. Asalkan kondisinya membaik, itu jauh lebih penting.”

Kris tersenyum senang lalu menoleh pada ibunya. Nyonya Wu tampak sependapat dengan Presdir Wu.

Oppa, jangan lupa mengabariku tentang kondisi Yoona-eonni, ne?” pinta Krystal sebelum Kris keluar dari ruangan. Kris mengangguk seraya tersenyum. Meski masih kesal dengan sikap Presdir Choi, Kris tetap tidak lupa untuk berpamitan padanya, juga terhadap Sooyoung.

Kris bergegas keluar, meninggalkan ruang yang ditempati keluarganya dan keluarga Sooyoung untuk makan malam. Presdir Choi terlihat kesal dengan suasana makan malam tersebut. Tangannya mengepal, sambil meremas kain yang digunakan alas makan. Ia tidak terima karena Yoona mendapatkan perhatian penuh dari keluarga Wu. Hal itu semakin menambah rasa bencinya pada sosok Yoona.

“Suamiku, saat aku melihat Yoona, wajahnya seperti tidak asing. Bukankah dia mirip dengan Yuri?”

DEG!

Presdir Choi menoleh kaget ke arah Nyonya Wu. Ia berusaha mencuri dengar pembicaraan sepasang suami istri di depannya.

“Yuri? Maksudmu istri Im Yunho?” tanya Presdir Wu.

Nyonya Wu mengangguk, “Ne. Sudah lama kita tidak bertemu mereka. Bagaimana kabar mereka sekarang?”

Presdir Wu hanya mengedikkan bahu sambil melanjutkan kembali kegiatan makannya. Nyonya Wu tidak bertanya lagi dan melakukan hal yang sama.

Presdir Choi terpengaruh dengan pembicaraan keduanya. Setidaknya, sosok Im Yunho dan Yuri yang dibicarakan, tidak asing bagi Presdir Choi. Hal itu wajar, karena dirinya bersama Wu Yi Lan dan Im Yunho, adalah sahabat karib saat duduk di bangku kuliah. Hanya saja, mereka tidak lagi berkomunikasi dengan Im Yunho, sejak pria itu memutuskan tinggal di Jepang.

Presdir Choi terlihat beranjak dari kursinya. Sooyoung menoleh kaget melihat pergerakan tiba-tiba dari sang ayah.

“Maafkan aku, Yi Lan. Mendadak aku teringat urusan penting. Aku harus pergi sekarang. Kalian nikmatilah sampai selesai,” pamit Presdir Choi tanpa memberi kesempatan Presdir Wu menanggapinya. Ia langsung keluar dari ruangan dan sukses membuat semua orang tampak bingung, khususnya Sooyoung—putrinya sendiri.

Usai keluar dari ruangan, Presdir Choi mempercepat langkah kakinya. Ia meninggalkan restoran Heaven. Sekertaris Han sudah menunggunya di dekat mobil. Pria itu membukakan pintu mobil untuknya.

“Sekertaris Han,” Presdir Choi memanggil orang kepercayaannya tersebut setelah duduk di dalam mobil.

Ne, Presdir Choi?”

“Im Yunho—” suara Presdir Choi melemah seiring raut wajah seriusnya. “Coba kau cari tahu di mana keberadaannya sekarang.”

Sekertaris Han mengernyitkan dahi, “Maksud Anda, Presdir Im Yunho pemilik Hotel Royal? Bukankah beliau sudah berada Seoul?”

Presdir Choi membelalakkan matanya, “Benarkah? Kapan dia kembali?”

“Menurut berita, beliau baru kembali ke Seoul kemarin,” jawab Sekertaris Han. “Rencananya, beberapa hari lagi Presdir Im akan meresmikan Hotel Royal yang berada di Seoul.”

Presdir Choi terdiam sejenak, baru beberapa saat kemudian mendesah, “Ah, terlalu disibukkan masalah Kris dan Yoona, aku sampai mengabaikan berita sepenting itu.”

Seketaris Han masih memandangi Presdir Choi yang sedang berpikir serius.

“Kurasa dia tidak hanya kembali untuk alasan itu,” gumam Presdir Choi. “Apakah—dia juga berniat mencari putrinya yang hilang?”

Presdir Choi memijat keningnya sambil memejamkan mata sejenak.

“Maaf, Presdir. Sebenarnya, saya mendapat informasi terbaru tentang Nona Yoona,” sela Sekertaris Han.

Presdir Choi hanya mengangguk dan menunduk dalam, “Katakan.”

“Saya mendapat informasi, jika keluarga Huang tidak mengadopsi Nona Yoona dari panti asuhan. Nona Yoona, justru diantar oleh teman Huang Zhi Lei, saat ia berusia 8 tahun,” lanjut Sekertaris Han.

Presdir Choi mendongak, lalu menatap kaget usai mendengar penjelasan Sekertaris Han.

“Diantar temannya?” ulang Presdir Choi memastikan dan dibalas anggukan oleh Sekertaris Han.

“Kau yakin?” Presdir Choi masih ragu dengan informasi yang disampaikan sekertarisnya tersebut. Sekertaris Han tidak berkata banyak dan hanya menganggukkan kepala.

“Bukankah dia mirip dengan Yuri?”

Presdir Choi teringat ucapan Nyonya Wu sebelumnya. Hal itu seolah membuka pikiran dan membuatnya berhasil mendapatkan sebuah petunjuk.

“Coba kau selidiki hubungan antara Park Jung Soo dengan Huang Zhi Lei,” titah Presdir Choi kemudian.

“Untuk apa menyelidiki mereka, Presdir?” tanya Sekertaris Han bingung.

Presdir Choi mendesah, “Lakukan saja perintahku! Entah kenapa, aku seperti mempunyai firasat yang tidak enak. Apakah dugaanku ini benar atau hanya—”

Sekertaris Han menatap serius Presdir Choi yang kembali terdiam. Bibir pria itu melengkung seiring kepalanya yang mengangguk pelan.

“Baik, Presdir. Akan saya lakukan perintah Anda,” balas Sekertaris Han.

“Kau harus melakukannya sebaik mungkin,” pinta Presdir Choi.

Sekertaris Han mengangguk, “Saya janji, tidak akan mengecewakan Anda.”

.

.

.

Masih bertempat di restoran Heaven, Kris masih berdiri di dekat toilet wanita. Kris bertanya pada wanita yang baru saja keluar dari toilet. Wanita itu mengatakan tidak ada siapapun di dalam toilet tersebut—selain dirinya sendiri. Hati Kris semakin diliputi perasaan cemas. Kris kebingungan sampai akhirnya ia melihat dua petugas wanita yang tengah membersihkan tempat tersebut.

“Maaf, apa kau melihat seorang wanita di dekat sini? Dia mengenakan dress panjang berwarna putih dan rambutnya panjang terurai,” tanya Kris pada dua petugas tersebut.

Dua wanita itu saling memandang dan berdiskusi. Wajah mereka tampak serius.

“Apa mungkin yang dia maksud wanita yang jatuh pingsan tadi?” bisik salah satu dari mereka. Walau keduanya tidak yakin, namun pembicaraan mereka terlanjur didengar oleh Kris. Hal itu menyulut kepanikan Kris yang langsung berteriak kaget.

“Pingsan?” suara keras Kris membuat dua petugas itu melonjak kaget dan ketakutan.

“Ma—maafkan kami, Tuan. Kami tadi hanya tidak sengaja melihat seorang wanita yang jatuh pingsan di depan pintu toilet,” ucap wanita yang berambut ikal. Bersama rekannya, keduanya menunduk ke arah Kris.

“Kami tidak tahu apakah ciri-ciri wanita itu seperti yang Tuan katakan. Kami tidak melihatnya secara jelas, karena tertutupi oleh sepasang suami istri, serta ketiga pengawalnya yang menolong wanita itu,” lanjutnya.

Kris memejamkan matanya sambil mengusap kening. Pria itu menunduk dalam seiring helaan nafas yang keluar darinya.

“Terima kasih,” Kris segera pergi keluar dari toilet tersebut dan berlari menuju mobilnya yang terparkir di luar restoran.

Supir Kang langsung menghampiri Kris saat pria itu berlari ke arahnya. Ia bingung melihat raut kepanikan dari sang majikan.

“Tuan Muda?”

“Apa kau melihat wanita yang dibawa seseorang dalam kondisi pingsan? Ah, maksudku apa kau melihat Yoona keluar bersama seseorang?” kepanikan yang mendera Kris membuat pria itu bicara tidak jelas. Sampai-sampai Supir Kang hanya menatapnya bingung dengan mata tak berkedip.

“Aish, sudahlah. Kau tidak melihat apapun,” teriak Kris frustasi. “Berikan kunci mobilnya!”

Supir Kang bergegas mengeluarkan kunci dari saku pakaiannya, lalu memberikannya pada Kris.

“Ini untukmu,” Kris mengeluarkan beberapa lembar uang yang diserahkannya pada Supir Kang. “Pulanglah naik taksi. Aku harus pergi mencari Yoona.”

Supir Kang menatap lurus pada lembaran-lembaran uang di tangannya. Terlalu bingung membuatnya berdiri mematung. Sampai ia tersadar setelah mendengar suara mesin mobil yang dinyalakan. Supir Kang terkesiap. Ia mendapati Kris sudah di dalam mobil dan langsung melajukan mobil tersebut.

Kris mengabaikan teriakan Supir Kang. Ia sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Saat ini pikirannya hanya terfokus pada Yoona. Hatinya sangat tidak tenang. Ia takut terjadi sesuatu dengan Yoona. Bukan hanya kondisi secara fisik, tapi juga secara mental. Setidaknya ucapan yang dilontarkan Presdir Choi saat makan malam, telah melukai perasaan wanita itu. Dan Kris, tak bisa mengabaikan perasaannya yang ikut terluka. Bahkan lebih tepatnya sangat marah, hingga menambah rasa bencinya terhadap teman ayahnya itu.

Kris memasang earphone yang sudah terhubung dengan ponselnya. Pria itu menekan nomor ponsel Yoona. Namun sama seperti beberapa waktu lalu, hanya terdengar jawaban otomatis dari operator. Kris memukul setir mobil sambil berteriak kesal.

“Sama sekali tidak ada petunjuk. Aku harus mencarinya ke mana?” gumam Kris semakin panik.

Kepanikan masih terukir jelas di wajah Kris. Mata pria itu memandangi sekeliling jalanan yang masih ramai.

“Kau di mana? Di mana? Kenapa ponselmu tidak aktif?” desah Kris seraya mengusap wajahnya. Penampilannya sedikit berantakan dengan rambut yang tidak lagi rapi—terkesan acak-acakan. Jas yang dikenakannya pun sudah dilepas. Kini ia hanya mengenakan kemeja panjang berwarna putih dengan dasi motif garis yang masih menempel.

Dalam perjalanan, Kris memutar otak untuk mencari keberadaan Yoona. berpikir keras apakah ada petunjuk yang bisa didapatnya untuk menemukan wanita itu. Beberapa detik kemudian, yang terlintas dalam benak Kris adalah rumah Yoona. Apa mungkin wanita itu sudah berada di rumahnya?

“Haruskah aku ke rumahnya? Tapi, kurasa itu mustahil,” batin Kris ragu.

Namun tak ada pilihan lain, setidaknya Kris harus mencobanya. Kris langsung membanting setir, memutar arah mobilnya menuju rumah Yoona.

.

.

.

“Bagaimana kondisinya, Dokter Go?”

Dokter Go—wanita yang baru saja selesai memeriksa kondisi Yoona, menoleh ke arah Presdir dan Nyonya Im. Dokter pribadi keluarga Im itu tampak melepas stetoskop yang digunakannya.

“Jangan khawatir, Presdir Im. Dia hanya demam,” jawab Dokter Go. “Cukup dengan kompres serta obat penurun demam, saya yakin kondisinya akan kembali pulih.”

Presdir dan Nyonya Im tersenyum senang mendengarnya. Wajah keduanya yang sempat cemas, kini berubah cerah.

“Syukurlah. Terima kasih banyak, Dokter Go,” ucap Nyonya Im.

Dokter Go mengangguk lalu memberikan obat penurun demam serta suplement.

“Obat penurun demam ini harus tetap diminum. Meskipun dia masih dalam kondisi tidak sadar. Ini berguna agar demamnya lekas turun,” lanjut Dokter Go dan dibalas anggukan Presdir Im.

“Baik, Dokter Go,” balas Presdir Im. Kemudian menyuruh pelayan di rumahnya menyiapkan obat yang diberikan Dokter Go.

“Saya harus kembali ke rumah sakit sekarang. Permisi,” pamit Dokter Go dan segera diantar keluar oleh Presdir Im. Sementara Nyonya Im tetap tinggal di kamar.

Nyonya Im memandangi Yoona yang masih tak sadarkan diri. Ia meneliti satu per satu bagian wajah Yoona. Sesaat, Nyonya Wu teringat dengan seseorang yang dilihatnya dalam koran berita.

“Bukankah—dia Huang Yoona?” gumam Nyonya Im kaget. Lalu menoleh ke arah Presdir Im yang baru saja kembali ke kamar tersebut.

“Suamiku . . .” suara pelan Nyonya Im membuat suaminya menatap heran.

“Ada apa?”

Nyonya Im menyuruh Presdir Im duduk di sebelahnya. “Perhatikan wajahnya. Bukankah dia itu Huang Yoona? Kekasih Kris Wu—putra Wu Yi Lan?”

Presdir Im terdiam cukup lama, sampai akhirnya ia melebarkan matanya karena sadar dengan pernyataan sang istri.

“Kau benar,” sahut Presdir Im. “Ah, kenapa kita terburu-buru membawanya pulang? Mungkin saja dia sedang bersama Kris di restoran tadi.”

“Jika benar begitu, pasti Kris sedang kebingungan mencarinya,” lanjut Nyonya Im.

Presdir Im mengangguk, “Tidak hanya Kris. Keluarganya juga akan bereaksi sama. Sebaiknya kusuruh orang untuk mencari alamat lengkap rumahnya. Siapa tahu, aku juga mendapatkan nomor telepon yang bisa kuhubungi.”

Ne, kau benar, suamiku,” sahut Nyonya Im setuju. “Keluarlah. Aku harus mengganti pakaiannya.”

Presdir Im mengangguk dan berjalan keluar dari kamar. Sementara Nyonya Im langsung menyuruh salah satu pelayan yang masih mendampinginya. Pelayan itu mengambil piyama yang ada di dalam lemari.

Dibantu pelayan wanita tersebut, Nyonya Im melepas dress putih yang melekat di tubuh Yoona. Kondisi tubuh Yoona yang mengeluarkan banyak keringat, membuat dress tersebut sedikit basah. Jika tidak segera diganti, akan berdampak buruk pada kondisi kesehatannya.

Saat Nyonya Im melihat punggung Yoona, matanya terbelalak. Ia terdiam selama beberapa detik. Ada sebuah bekas luka yang terdapat di punggung Yoona. Pemandangan itu mengingatkan Nyonya Im pada sosok putrinya yang menghilang. Posisi luka itu sama persis. Dulu saat putrinya berusia 4 tahun, tidak sengaja terjatuh dari pohon yang cukup tinggi. Akibat dari kejadian itu, putrinya mengalami luka sobek di punggung karena terkena patahan ranting pohon.

“Tidak mungkin . . .” Nyonya Im merasa ragu dengan dugaan yang mulai muncul di kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya dan bergegas memakaikan piyama di tubuh Yoona.

Selesai mengganti pakaian Yoona, Nyonya Im segera mengompres kening Yoona menggunakan handuk yang sudah disiapkan. Tak lupa ia membantu meminumkan obat pemberian Dokter Go untuk Yoona. Nyonya Im begitu perhatian merawat Yoona.

Nyonya Im memandangi Yoona. Kali ini, ia melihat bekas luka bakar di pergelangan tangan kiri. Dahinya semakin berkerut. Muncul perasaan aneh yang mendorongnya untuk mengenal sosok Yoona lebih jauh lagi. Mungkin pikiran yang ada di kepalanya saat ini, terkesan mengada-ada. Tapi dengan naluri seorang ibu, Nyonya Im merasa jika Yoona adalah putrinya yang menghilang.

.

.

.

Tao berjalan melewati ruang tengah, saat orang tuanya sedang sibuk membaca sebuah majalah. Keseruan yang dirasakan oleh Tuan dan Nyonya Huang, memancing rasa penasaran Tao.

“Apa yang sedang kalian baca?”

Tuan dan Nyonya Huang menoleh kaget saat mendengar suara Tao. Keduanya hanya tersenyum.

“Artikel tentang pemilik Hotel Royal, Presdir Im Yunho. Kabarnya dia sudah kembali ke Seoul dan bersiap meresmikan Hotel Royal di sini,” jawab Tuan Huang.

“Kau tahu tidak? Hotel Royal yang didirikannya pertama kali di Jepang, mendapat sambutan luar biasa dari berbagai kalangan. Tidak hanya dari masyarakat, namun juga para kolega yang berminat menjalin kerjasama dengan hotel tersebut. Presdir Im Yunho termasuk jajaran pengusaha hotel terkaya. Tak hanya di Jepang tapi juga di Korea Selatan. Ia menduduki peringkat pertama dalam ranking pengusaha hotel terkaya di Korea Selatan. Berhasil mengungguli Presdir Wu Yi Lan dan juga Presdir Choi Kangta,” lanjut Nyonya Huang panjang lebar.

Penjelasan yang begitu detail membuat Tuan Huang dan Tao memandang bingung. Keduanya terkekeh pelan seraya menatap Nyonya Huang.

“Aku tidak pernah tahu jika eomma begitu tertarik dengan dunia perhotelan,” ujar Tao tertawa geli. Reaksi yang sama juga tampak dari Tuan Huang.

“Wajar saja, Tao. Semenjak Yoona menjalin hubungan dengan putra pewaris Hotel Grand, ibumu ini memang langsung tertarik dengan dunia perhotelan,” sahut Tuan Huang.

Lagi-lagi Kris, batin Tao kesal. Pria itu mengalihkan perhatiannya dari Tuan dan Nyonya Huang. Ia mendesah, seraya berjalan meninggalkan ruang tengah. Melihat reaksi putra mereka, sepasang suami istri itu hanya diam dan tak berkomentar banyak.

TING! TONG!

Suara bel rumah terdengar keras, hingga mengagetkan orang seisi rumah. Nyonya Huang bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju pintu rumah mereka.

“Siapa?” Nyonya Huang langsung terdiam saat melihat Kris. Dahinya berkerut dengan sorot mata bingung oleh kedatangan tiba-tiba pria itu.

“Kris, kenapa kau datang sendirian? Mana Yoona?” tanya Nyonya Huang bingung.

Kris menunduk dalam seraya mengusap wajah. Sesekali pria itu menghela nafas. Reaksi yang keluar dari Nyonya Huang membuatnya yakin jika Yoona tak ada di rumahnya. Menyadari ada yang tidak beres, Tao dan Tuan Huang bergegas menghampiri Kris dan Nyonya Huang.

“Di mana Yoona? Kenapa kau tidak pulang bersamanya?” tanya Tao tegas dan mulai curiga.

Kris mengalihkan pandangannya, sebelum ia kembali menatap tiga orang di depannya.

“Sebenarnya aku—” Kris menggigit bagian bawah bibir. Ketiga orang itu masih menunggu dan penasaran.

“Aku kehilangan dia. Aku tidak tahu di mana keberadaannya sekarang,” lanjut Kris.

MWO?” Satu keluarga itu langsung berteriak keras mendengar penuturan Kris.

“Apa maksudmu kehilangan Yoona? Bukankah dia bersamamu? Bagaimana bisa sekarang kau mengatakan jika tidak tahu keberadaannya?” cecar Tao beruntun.

Tuan Huang langsung menghalangi Tao yang bersiap menghardik Kris, “Tenanglah, Tao.”

Kris menunduk. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bersalah sekaligus cemasnya, “Maafkan aku. Ini memang salahku,” sesal Kris. “Sejak tadi, aku merasa jika Yoona dalam kondisi kurang sehat. Seharusnya aku memberikan pengawasan penuh terhadapnya. Ini murni kelalaianku. Aku benar-benar menyesal.”

Tao terdiam dengan tangan mengepal. Wajah serius Kris membuat emosi Tao menurun. Ia menyadari jika Kris tidak berbohong. Meski begitu, Tao tetap mencemaskan Yoona. Di mana wanita itu sekarang?

Di sela-sela ketegangan itu, terdengar suara dering telepon rumah. Nyonya Huang berlari menuju ruang tengah dan meraih telepon yang berdering keras.

Yeoboseyo . . .”

Kris melirik ruang tengah, bermaksud mencuri dengar pembicaraan yang dilakukan Nyonya Huang. Hal serupa juga dilakukan Tao dan ayahnya.

“Benarkah? Jadi—putriku sekarang di rumah Anda?” wajah Nyonya Huang terlihat cerah. Sementara ketiga pria yang masih berdiri di dekat pintu hanya saling memandang.

“Baik, aku mengerti. Jika memang seperti itu kondisinya, lebih baik Yoona menginap di rumah Anda. Setidaknya sampai besok pagi,” lanjut Nyonya Huang.

Kris menyusul Tao dan Tuan Huang yang sudah memasuki ruang tengah. Mendengar nama wanita yang sedari tadi dicarinya, membuat Kris penasaran. Apakah ada kabar terbaru tentang Yoona?

“Kuserahkan padamu, Presdir Im. Tolong rawat dia sampai benar-benar pulih,” ucap Nyonya Huang sebelum mengakhiri pembicaraan.

KLEK!

Gagang telepon sudah dikembalikan ke tempat semula. Nyonya Huang tersenyum pada tiga pria yang menatapnya penasaran.

“Siapa yang menelepon? Aku mendengar kau menyebut Yoona,” tanya Tuan Huang.

“Kalian tidak perlu khawatir. Yoona berada di tempat yang aman,” jawab Nyonya Huang.

“Tempat yang aman?” Kris terlihat bingung. “Jadi, di mana dia sekarang, ahjumma?

“Orang yang baru saja meneleponku adalah Presdir Im Yunho. Dia mengatakan jika Yoona berada di rumahnya. Presdir Im menemukan Yoona jatuh pingsan di dekat toilet restoran yang kalian datangi tadi. Karena terlalu panik, dia memutuskan untuk membawa Yoona ke rumahnya,” lanjut Nyonya Huang.

“Presdir Im Yunho?” Kris mengernyitkan dahinya. Sedetik kemudian ia membulatkan matanya, “Ah, aku ingat. Dia teman ayahku saat kuliah.”

“Benarkah?” Nyonya Huang kaget mendengar pengakuan Kris. Pria itu mengangguk yakin.

“Lalu, bagaimana kondisi Yoona?” tanya Tao cemas.

“Setelah diperiksa, dia demam. Tapi, kondisinya sekarang sudah membaik. Dia hanya butuh istirahat agar kondisinya pulih,” jawab Nyonya Huang. “Aku membiarkan Yoona untuk menginap di sana sampai besok pagi. Sekarang kita bisa bernafas lega karena sudah mendapat kabar tentang keberadaan Yoona.”

Raut wajah Kris tampak lega. Begitu pula dengan Tao dan Tuan Huang.

“Syukurlah,” ucap Kris senang. Ia pandangi Tuan dan Nyonya Huang. Sesaat Kris juga melirik pada Tao yang masih menatapnya kesal.

Kris mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Beberapa figura foto yang berjejar rapi di atas rak, menarik perhatian Kris. Pria itu berjalan mendekati rak tersebut. Ia pandangi foto yang dibingkai figura itu, satu per satu. Sosok anak perempuan yang tampak tersenyum manis, membuat Kris yakin jika sosok tersebut adalah Yoona. Kris tersenyum tanpa sadar melihat wajah polos Yoona saat kecil.

Namun, saat ia ingin kembali mendekati Tuan dan Nyonya Huang, Kris justru berbalik lagi mendekati rak. Tangannya bahkan mengambil foto Yoona yang baru saja dilihatnya. Kris memandangi foto itu dengan serius. Sedetik kemudian, matanya membulat sempurna. Entah apa yang merasukinya, pria itu justru berdiri tegap dan mematung.

“Ada apa, Kris?” Nyonya Huang bingung melihat perubahan sikap Kris.

Kris terkesiap dan menoleh pada Nyonya Huang, “Ahjumma, apakah ini foto Yoona saat kecil?”

Nyonya Huang mengambil foto dari tangan Kris. Setelah melihat foto itu, Nyonya Huang mengangguk seraya tersenyum.

Ne, ini fotonya saat kecil,” jawab Nyonya Huang. “Waktu itu, usianya 8 tahun. Foto itu kami ambil, tepat beberapa minggu setelah kami memutuskan untuk mengasuhnya.”

Kris terdiam. Matanya masih terfokus pada foto Yoona. Ia tidak bertanya lagi dan memilih untuk kembali ke rumahnya.

“Sebaiknya aku pulang sekarang. Besok, biar aku yang menjemput Yoona,” pamit Kris pada Tuan dan Nyonya Huang seraya membungkuk. “Maaf, sudah membuat kalian khawatir.”

Tuan dan Nyonya Huang hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Kris. Sementara Tao tidak bereaksi kala Kris sedikit menundukkan kepala ketika melewatinya. Setelah Kris keluar dari rumahnya, Tao justru berlari menyusulnya keluar.

“Tunggu!” suara Tao menghentikan langkah Kris.

Kris yang sudah bersiap masuk ke mobilnya, menoleh ke arah Tao. “Ada apa?”

Tao berjalan mendekati Kris, “Aku hanya ingin memperingatkanmu satu hal.”

Kris menaikkan salah satu alisnya saat mendengar nada mengancam Tao.

“Aku tahu, hubungan kalian hanya bersandiwara,” ujar Tao dengan menurunkan volume suara. Supaya tidak terdengar orang lain. Tao bisa melihat reaksi kaget dari Kris.

“Kau tahu dari siapa? Yoona yang memberitahumu?” tanya Kris mulai terpancing emosi.

“Tidak, aku tahu dari Krystal dan Kai. Adikmu itu tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian, sehari sebelum konferensi pers yang kalian lakukan,” jawab Tao dan membuat Kris mendesah kesal.

Tao menatap tajam Kris, “Aku tidak tahu, apa alasanmu memintanya berpura-pura menjadi kekasihmu. Tapi, jika kau sampai melukai perasaannya, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”

Kris justru menanggapi santai peringatan Tao, “Biar kupertegas. Kami memang bersandiwara. Tapi, hatiku padanya tidak berpura-pura, Tao.”

Tao menoleh kaget, “Apa maksudmu?”

Kris tersenyum, “Aku menyukainya. Sudah kuputuskan untuk menyukai Yoona. Kali ini, aku menginginkan hubungan kami menjadi pasangan kekasih sungguhan. Bukan sekedar pura-pura seperti permintaanku pada Yoona sebelumnya.”

Tao tercengang. Ia menatap geram Kris yang masih mengulum senyum padanya.

“Dengan keyakinanku ini, aku pastikan bahwa aku tidak akan pernah melukai perasaan Yoona. Sebaliknya, mulai sekarang aku akan melindungi Yoona. Kapanpun dan dimanapun. Aku ingin selalu berada di sisinya,” lanjut Kris sebelum masuk ke dalam mobil.

Tao berusaha mengendalikan diri. Pria itu menghela nafas kasar. Ia biarkan Kris pergi bersama mobil yang dinaikinya.

.

.

.

.

.

.

Yoona masih tertidur di salah satu kamar rumah keluarga Im. Rumah mewah berukuran besar itu hanya ditempati berdua, Presdir Im beserta istrinya. Memang ada salah satu kamar yang dikhususkan bagi putri semata wayang mereka. Meskipun sampai saat ini belum ditemukan, keduanya meyakini akan segera menemukan keberadaannya. Dan kamar yang diperuntukkan putri mereka tersebut, kini ditempati oleh Yoona selama dia terbaring sakit.

Di dalam kamar itu, Nyonya Im tidur pada sofa yang tersedia. Ia sengaja tidur di kamar tersebut karena mencemaskan kondisi Yoona. Nama yang sama dengan putrinya, membuat Nyonya Im merasa dekat dengan Yoona. Rasanya seperti bersama putrinya sendiri.

“Ngg . . .” suara igauan pelan membuat Nyonya Im membuka mata. Walau masih setengah terpejam, ia berusaha bangun dan mengamati kondisi Yoona.

Yoona yang masih tertidur, terlihat tidak tenang. Entah sedang bermimpi atau apa, wanita itu mulai bersuara dalam tidurnya.

“Tidak . . .” suara Yoona terdengar semakin keras. Kontan saja Nyonya Im segera bangkit dan menghampiri ranjang Yoona. Ia mendapati wajah Yoona berkeringat dan terlihat ketakutan.

“Panas . . . panas sekali . . .” ricauan Yoona semakin membuat dahi Nyonya Im berkerut. Ia berasumsi jika Yoona sedang bermimpi.

“TIDAAAK!!” kali ini Yoona berteriak keras sampai terbangun dari tidurnya. Nyonya Im terkejut dan segera mengusap punggung Yoona dengan lembut. Merasakan sentuhan seseorang, Yoona menoleh ke arah Nyonya Im. Wanita itu membulatkan matanya, terlebih saat menyadari bahwa ia berada di tempat yang berbeda.

“Ini di mana?” tanya Yoona bingung.

“Rumahku,” jawab Nyonya Im ringan. “Aku dan suamiku menemukanmu jatuh pingsan di restoran Heaven. Kau ingat?”

Yoona terdiam sejenak. Ia memegangi keningnya yang berkeringat. Sesaat, Yoona mengusap wajahnya dengan tangan. Tubuhnya gemetar hebat. Mimpi yang baru saja dialaminya membuat kondisinya kacau.

“Apa kau mimpi buruk?” tanya Nyonya Im cemas. Ia membelai rambut Yoona. Perhatian yang diberikannya persis seperti perhatian seorang ibu terhadap putrinya.

Yoona menggeleng, lalu memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Bayang-bayang mimpi itu kembali terlintas di kepala Yoona. Ia mendengar suara teriakan gadis kecil yang menangis, sambil memanggil orang tua mereka. Yoona juga melihat gadis kecil itu terjebak dalam insiden kebakaran rumah tua yang mengancam nyawanya.

“Tidak . . . tidak . . .” entah kenapa Yoona merasakan sakit di kepalanya tiap mengingat mimpi tersebut.

Nyonya Im semakin cemas dengan kondisi Yoona. Ia pun memeluknya erat, berusaha menenangkan Yoona. Tangannya membelai lembut rambut panjang Yoona. Ia bahkan menyanyikan sebuah lagu, yang biasa ia nyanyikan untuk putrinya saat masih kecil.

Yoona terdiam. Suara Nyonya Im membuatnya larut. Kali ini ada sebuah bayangan membahagiakan yang terlintas dalam kepalanya. Ia seperti melihat, gadis kecil yang begitu tenang saat dinyanyikan lagu tidur oleh ibunya. Itulah yang dirasakan Yoona sekarang, saat berada dalam pelukan Nyonya Im dan mendengar suara nyanyiannya.

Walau tak mengenal sosok wanita yang mendampinginya sekarang, Yoona merasa nyaman dengannya. Tak berapa lama, Yoona mulai tenang dan kembali tidur.

Nyonya Im menghentikan nyanyiannya saat menyadari Yoona sudah tertidur dalam pelukannya. Ia tersenyum, lalu mengembalikan Yoona pada posisi semula. Ditariknya selimut itu agar menutup sampai leher. Setelah memastikan kondisi Yoona sudah tenang dan kembali tertidur, Nyonya Im membereskan peralatan yang digunakan untuk merawat Yoona.

Suara jam yang berdetak di kamar membuat Nyonya Im menoleh. Ternyata sudah jam 4 pagi. Matahari tidak lama lagi akan muncul dari peraduannya. Ia pun memilih keluar meninggalkan kamar Yoona. Kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak.

Sebelum keluar, Nyonya Im memandangi Yoona. Bibirnya melengkung sempurna, seiring langkah kaki yang membawanya keluar dari kamar.

.

.

.

DRAP! DRAP!

Semua orang yang berada di ruang makan tampak bingung dengan kedatangan Kris. Terlebih karena Kris hanya mengenakan pakaian santai, bukan formal seperti biasa ketika ia akan berangkat ke hotel. Kris bahkan hanya menikmati segelas susu miliknya, tanpa menghabiskan sandiwich yang sudah disediakan.

“Kris!” Presdir Wu bingung karena Kris tiba-tiba langsung pergi tanpa berpamitan pada mereka.

Kris terkesiap lalu memandangi anggota keluarganya yang memasang wajah bingung. Pria itu terkekeh pelan seraya menggaruk kepalanya.

“Ada apa dengan sikapmu ini? Kenapa langsung pergi tanpa sarapan dulu?” tanya Nyonya Wu heran.

Kris berdeham, lalu mendekati orang tuanya. “Aku harus pergi ke suatu tempat.”

“Ke mana?” tanya Nyonya Wu lagi.

“Sudah pasti tempat Yoona-eonni,” celetuk Krystal. Kris hanya menoleh sinis ke arah sang adik.

“Apa kondisinya belum membaik?” tanya Presdir Wu. Ia teringat penuturan Kris semalam jika Yoona dalam kondisi tidak sehat.

Kris mengangguk pelan. Ia terpaksa berbohong. Menutupi kenyataan jika semalam Yoona tak kembali ke rumah, melainkan berada di rumah Presdir Im Yunho.

Tunggu. Presdir Im Yunho? Benar, dia teman appa, pikir Kris.

“Presdir Im Yunho—dia teman appa bukan?” tanya Kris pada ayahnya.

Ne, memangnya kenapa?”

Kris tersenyum, “Apakah appa tahu di mana tempat tinggalnya sekarang? Kudengar dia sudah kembali ke Seoul.”

“Benarkah?” Presdir Wu justru tampak antusias mendengar ucapan Kris. Hal itu membuat Kris yakin jika orang tuanya tak tahu-menahu tentang tempat tinggal Presdir Im.

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan soal Yunho?” tanya Nyonya Wu bingung.

Kris tampak gugup. Lagi-lagi ia hanya meringis menanggapi pertanyaan ibunya.

“Tidak apa-apa. Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Kris sambil mempercepat langkah kakinya.

Eomma, Presdir Im Yunho itu siapa?” Krystal yang tidak mengerti dengan pembicaraan itu hanya mengernyitkan dahi.

“Dia teman appa, sejak di bangku kuliah. Dulu kami bersahabat karib, termasuk dengan Kangta. Hanya saja, aku memang lebih dekat dengan Yunho dibanding Kangta. Kami bahkan pernah bersepakat untuk menjodohkan Kris dengan putri Yunho,” jawab Presdir Wu.

“Ah, aku pernah mendengarnya dari Kris-oppa. Tapi, kenapa aku sama sekali tahu tentang perjodohan itu?”

“Saat itu kau belum lahir. Jelas kau tidak tahu,” sahut Nyonya Wu.

Krystal terkekeh, “Lalu, apa yang terjadi dengan perjodohan itu? Apa memang dibatalkan?”

Presdir dan Nyonya Wu tampak murung. Rasa penasaran Krystal pun semakin menjadi.

“Putri Yunho tiba-tiba menghilang. Waktu itu, kami ikut membantu mencarinya. Tapi tak membuahkan hasil. Putrinya tidak berhasil ditemukan,” jawab Presdir Wu.

Krystal terdiam. Ia kembali melanjutkan sarapannya. Diam-diam, ia memikirkan cerita yang disampaikan orang tuanya. Entah kenapa, Krystal menjadi penasaran dan ingin tahu lebih dalam lagi.

Sementara itu, Kris yang sudah pergi mengendarai mobil sendiri, terlihat dalam perjalanan ke suatu tempat. Tangannya memasang earphone dan kali ini ia menghubungi Suho.

Yeoboseyo . . .

“Kau sudah menemukannya?” tanya Kris pada Suho.

Ne, aku sudah menemukannya. Presdir Im Yunho tinggal di . . .

Kris mendengarkan dengan seksama informasi yang diberikan Suho, sambil berusaha mengingatnya. Semalam, Kris sudah menyuruh Suho untuk mencari informasi tempat tinggal Presdir Im Yunho. Tujuannya sudah jelas, agar ia bisa menjemput Yoona.

Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Suho, Kris kembali fokus mengemudi. Dalam diamnya, ia teringat akan foto Yoona semasa kecil. Yoona dalam foto tersebut, mengingatkannya pada seseorang. Seorang gadis di masa lalu yang tidak lain adalah cinta pertamanya.

“Tidak mungkin jika gadis itu adalah Yoona?” gumam Kris ragu.

Kris menimbang sejenak analisanya. Sebuah perekat luka yang pernah digunakan Krystal, memiliki motif yang sama dengan pemberian gadis itu. Jika diingat kembali, Krystal mengaku mendapat perekat luka itu dari Yoona.

Mendadak Kris seperti mendapat pencerahan hebat. Entah hanya kebetulan ataukah memang takdir. Hati Kris berkata jika gadis di masa lalunya itu adalah Yoona. Jika benar, tak ada keraguan lagi dalam diri Kris untuk menyukai Yoona. Alasan kenapa Kris merasa nyaman berada di dekat Yoona, memang diakui Kris karena ia teringat dengan cinta pertamanya. Setelah melihat foto Yoona saat kecil, Kris semakin yakin. Gadis di masa lalunya dan Yoona, adalah sosok yang sama.

.

.

.

Nyonya Im tengah mengoles selai di atas lembar roti. Sementara sang suami—Presdir Im, masih asyik membaca koran pagi.

“Lusa peresmian Hotel Royal bukan?” tanya Nyonya Im mengalihkan perhatian Presdir Im. Suaminya itu hanya mengangguk tanpa berkata apapun.

“Oh iya, bagaimana kondisinya?” tiba-tiba Presdir Im menanyakan kondisi Yoona.

KLEK!

Terdengar suara pintu di sela pembicaraan Presdir dan Nyonya Im. Keduanya menoleh kompak ke arah tangga rumah mereka. Tampak Yoona sudah turun dengan didampingi pelayan mereka. Wanita itu sudah berganti pakaian yang disiapkan Nyonya Im. Kini Yoona terlihat manis mengenakan simple dress selutut, dengan warna pastel. Walau masih sedikit pucat, wajah Yoona terlihat natural dengan make up tipis yang dipolesnya.

Presdir dan Nyonya Im terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Yoona. Keduanya tak berhenti tersenyum memandangi Yoona.

“Duduklah,” Nyonya Im langsung berjalan mendekati Yoona. Ia memapah wanita itu untuk duduk menikmati sarapan bersama mereka.

“Apa kondisimu sudah lebih baik?” tanya Presdir Im.

Yoona terdiam cukup lama. Ia masih bingung dengan keadaan sekitar.

Ne, aku sudah lebih baik,” jawab Yoona akhirnya bersuara. “Terima kasih sudah menolong dan merawatku. Maaf jika aku merepotkan kalian.”

“Tidak apa-apa. kami justru senang melakukannya,” sahut Nyonya Im. “Yoona-ssi . . .”

Yoona menatap bingung ke arah Nyonya Im yang tanpa diduga meneteskan air mata.

“Ah, maafkan aku,” ucap Nyonya Im seraya mengusap air matanya. “Namamu yang sama dengan putri kami, membuat kami teringat padanya.”

“Namaku?” Yoona mengernyitkan dahinya.

“Putri semata wayang kami, namanya sama dengan namamu. Hanya berbeda marga,” lanjut Presdir Im.

Kerutan di dahi Yoona semakin kentara. Ia tidak mengerti arah pembicaraan tersebut.

“Kau pasti bingung,” ucap Presdir Im paham dengan kondisi Yoona. “Namaku Im Yunho dan ini istriku—Im Yuri. Sementara putri kami, bernama Im Yoona.”

Yoona hanya menganggukan kepala. Ia memandangi sekeliling. Rumah itu benar-benar sangat mewah. Bahkan jauh lebih mewah daripada rumah Kris.

“Huang Yoona, senang bisa mengenal Anda. Tuan, Nyonya . . .”

“Jangan memanggil seperti itu,” pinta Nyonya Im. “Panggil saja ahjussi dan ahjumma. supaya lebih akrab.”

Yoona mengangguk ragu. Namun melihat keramahan dari Presdir dan Nyonya Im, ia pun tersenyum lepas.

Ne, ahjussi, ahjumma,” ucap Yoona senang.

“Nikmatilah sarapanmu. Agar kondisimu semakin membaik,” kata Nyonya Im seraya menyodorkan semangkuk bubur abalon. Ia membuatnya khusus untuk Yoona.

Yoona menerima dengan senang hati lalu mulai memakannya. Walau merasa canggung, entah kenapa Yoona merasakan kenyamanan bersama sepasang suami-istri yang baru dikenalnya itu. Atmosfer dalam ruang makan itu terasa sarat akan suasana kekeluargaan yang hangat.

“Lalu, di mana putri kalian?” tanya Yoona penasaran. Dahinya berkerut, saat ia mendapati dua orang di depannya tampak murung.

“Kami kehilangan dia, saat usianya 8 tahun. Sampai sekarang kami masih berupaya mencarinya. Tapi kami percaya, jika dia masih hidup,” jawab Presdir Im.

Yoona menunduk dalam, merasa bersalah dengan pertanyaan yang dilontarkannya.

“Nama margamu, sepertinya bukan marga orang Korea,” ucap Presdir Im.

Yoona terkesiap dan mengangguk, “Sebenarnya itu marga orang China. Karena orang tua angkatku keturunan China.”

Presdir dan Nyonya Im menatap kaget usai mendengar penuturan Yoona. “Orang tua angkat?” tanya mereka kompak.

Yoona mengangguk pelan seraya menelan bubur yang disantapnya, “Selama ini aku tinggal bersama orang tua angkatku,” lanjutnya.

“Sejak kapan?” tanya Nyonya Im penasaran.

“Saat aku berusia 8 tahun,” jawab Yoona.

Nyonya Im memandangi wajah suaminya yang masih kaget. Presdir Im mengangguk, memberi isyarat untuk menanyakan latar belakang keluarga Yoona.

“Apa kau diadopsi dari panti asuhan?” tanya Nyonya Im lagi.

Yoona menggeleng, “Aku sama sekali tidak ingat. Yang kutahu, aku ditemukan seorang diri di depan rumah mereka. Saat itu, aku sama sekali tidak mengingat apapun. Baik jati diriku yang sebenarnya, seperti orang tua kandung dan tempat tinggal. Karena itulah mereka memutuskan untuk mengasuhku.”

“La—lalu soal nama itu? Apakah itu pemberian dari orang tua angkatmu?”

Yoona terlihat bingung dengan sikap Nyonya Im yang seperti menginterogasinya. Tapi ia tidak mau ambil pusing dan berniat menjawab semua pertanyaan untuknya.

“Mereka bilang, nama itu tertulis pada gelang yang kupakai di tangan kiri. Saat aku ditemukan di depan rumah mereka. Aku tidak tahu kenapa gelang itu terbakar dan tampak usang. Sehingga, bagian nama marga di depan nama ‘Yoona’ tidak bisa dibaca. Tanganku pun ikut terkena luka bakar,” jawab Yoona seraya menunjukkan pergelangan tangan kirinya.

Nyonya Im menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tangan Presdir Im langsung menggenggam erat tangannya. Pria paruh baya itu berusaha menenangkan sang istri.

“Kau dengar itu? Bukankah buktinya sudah—”

“Tenanglah. Kita tidak bisa menyimpulkan secepat itu. Sebelum semua bukti mengarah jelas padanya,” bisik Presdir Im. Keduanya melirik ke arah Yoona yang masih asyik menikmati sarapan.

“Maaf, Presdir Im . . .” tiba-tiba datang seorang kepala pelayan ke ruang makan.

“Ada apa, Kepala Pelayan Baek?” tanya Presdir Im.

“Tuan Muda Kris Wu datang untuk bertemu Anda,” jawab Kepala Pelayan Baek.

“Kris?” Presdir Im terkejut dan menatap sang istri. Kemudian ia menoleh ke arah Yoona yang bereaksi sama.

“Aku yakin dia datang untuk menjemputmu,” ucap Nyonya Im tersenyum. Yoona hanya menundukkan wajahnya yang memerah.

“Suruh dia masuk,” titah Presdir Im. Kepala Pelayan Baek mengangguk dan segera memanggil Kris menuju ruang makan.

Tak lama kemudian, Kris muncul di belakang Kepala Pelayan Baek. Wajah pria itu langsung cerah saat melihat Yoona di ruang makan.

“Kau datang untuk menjemput kekasihmu?” tanya Presdir Im tersenyum.

Kris mengalihkan pandangannya sejenak dari Yoona. Ia membungkuk sopan ke arah Presdir Im yang berjalan mendekatinya.

“Lama tidak bertemu denganmu, ahjussi, ahjumma,” sapa Kris ramah. Presdir Im langsung merangkulnya dengan perasaan senang.

“Dari mana kau tahu alamat rumahku? Aku belum pernah memberitahu orang tuamu,” tanya Presdir Im penasaran.

Kris tersenyum bangga, “Memangnya aku tidak bisa menyuruh orang untuk mencari informasi? Hanya mencari alamat rumah seperti ini, sangat mudah bagiku, ahjussi.”

Tawa Presdir Im meledak, “Kau ini memang mirip ayahmu. Sama-sama cerdas dan berpikir cepat.”

Nyonya Im turut menghampiri Kris lalu memeluknya, “Terakhir kali kita bertemu, saat kau masih kecil. Waktu itu usiamu 8 tahun. Sekarang kau sudah tumbuh dewasa seperti ini. Berparas tampan dan menjadi orang yang sukses.”

Kris tersenyum menanggapi pujian yang dilontarkan Presdir dan Nyonya Im.

“Kapan, kalian akan bertemu dengan appa dan eomma? Mereka pasti senang jika bertemu dengan kalian,” ucap Kris.

“Lusa peresmian Hotel Royal di Seoul. Aku pasti mengundang orang tuamu. Kau juga harus datang,” balas Presdir Im.

“Jangan lupa ajak Yoona,” pinta Nyonya Im. Lalu menoleh ke arah Yoona yang sudah berjalan mendekati Kris. Kontan saja perhatian Kris langsung tertuju pada wanita itu.

“Kau baik-baik saja? Apa demammu sudah turun?” tanya Kris cemas. Ia memegang kening Yoona untuk memeriksa suhu tubuhnya.

Yoona mengangguk, “Ne, aku baik-baik saja. Bagaimana kau tahu jika aku ada di sini? Juga soal demam yang kualami.”

“Aku tahu dari Huang-ahjumma. Semalam aku datang ke rumahmu. Aku berusaha menghubungi ponselmu, tapi tidak aktif,” lanjut Kris menumpahkan kegelisahannya.

Yoona meraih ponselnya dari dalam tas tangan. Rupanya ponsel Yoona dalam kondisi mati karena kehabisan daya baterai.

“Maaf, sudah membuatmu khawatir,” ucap Yoona merasa bersalah.

“Ya sudah. Sebaiknya kita pergi sekarang. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ajak Kris. “Ahjussi, ahjumma, kami pergi dulu. Terima kasih sudah menolong dan merawat Yoona.”

Presdir dan Nyonya Im mengangguk. Kemudian keduanya memeluk Yoona sebelum pergi bersama Kris.

“Sesekali datanglah ke sini. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu,” ucap Nyonya Im.

Yoona mengangguk, “Tentu. Aku akan datang ke sini lagi. Terima kasih, ahjussi, ahjumma.”

Usai berpamitan, Yoona berjalan meninggalkan ruang makan bersama Kris. Pria itu tampak menggandengnya dengan sangat erat. Terlihat tak ingin melepaskannya.

Sepeninggalan Yoona dan Kris, Nyonya Im kembali berdiskusi dengan suaminya. Perihal latar belakang Yoona.

“Suamiku, aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan orang tua angkatnya,” pinta Nyonya Im. “Aku merasa jika dia adalah putri kita yang selama ini kita cari.”

“Aku mengerti perasaanmu, Yuri. Tapi, kita tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mungkin saja itu hanya kebetulan,” ucap Presdir Im.

“Kau tidak ingat apa yang kukatakan? Bekas luka di punggungnya itu, tempatnya sama persis seperti yang terdapat di tubuh putri kita. Kau pernah bilang wajahnya juga mirip denganku, serta putri kita. Selain itu, ia tinggal bersama orang tua angkat. Dan namanya, hanya nama marga yang merupakan pemberian orang tua angkatnya. Sementara nama aslinya sendiri justru tertulis pada gelang. Aku ingat benar saat Yoona menghilang, dia mengenakan gelang yang bertuliskan namanya, suamiku,” jelas Nyonya Im panjang lebar.

Presdir Im terdiam cukup lama. Ia masih berupaya mencerna penjelasan yang disampaikan istrinya. Untuk sesaat, ia juga sependapat dengan penjelasan Nyonya Im. Bukti itu memang mengarah kuat pada Yoona.

“Baiklah. Kita akan menemui orang tua angkatnya. Tapi, kau harus ingat satu hal. Kita tidak boleh terlalu banyak berharap. Aku tidak ingin, kau terluka nantinya setelah mengetahui jika kenyataan itu tidak benar,” ucap Presdir Im mengingatkan.

Nyonya Im mengangguk lalu tersenyum senang. Secercah cahaya mulai menghampiri keduanya. Penantian panjang yang mereka lakukan, seolah mendapatkan petunjuk dalam waktu singkat. Mereka meyakini, pertemuannya dengan Yoona memang sudah takdir. Tuhan telah menunjukkan jalan untuk mereka, agar bisa berkumpul lagi bersama putri mereka.

.

.

.

“Apa laporanmu?”

Sekertaris Han menunduk ke arah Presdir Choi. Ia mengeluarkan beberapa kertas dari amplop yang dibawanya. Keduanya tengah berbicara serius di ruang kerja Presdir Choi, di Hotel Lofty. Keahliannya dalam memperoleh informasi memang patut dibanggakan. Orang kepercayaan Presdir Choi itu memang selalu cepat dalam mendapatkan informasi yang diinginkan.

“Informasi yang kami peroleh, Huang Zhi Lei dan Park Jung Soo merupakan teman satu sekolah. Mereka mengenyam pendidikan di SMA yang sama. Keduanya berteman baik dan sama-sama mengikuti kejuaraan wushu untuk siswa SMA tingkat nasional,” terang Sekertaris Han.

Presdir Choi tercengang mendengar laporan dari Sekertaris Han. Ia memperhatikan beberapa foto kenangan antara Huang Zhi Lei dan Park Jung Soo selama SMA. Foto-foto tersebut berhasil meyakinkannya. Park Jung Soo—mantan anak buahnya yang selama ini ia cari, memang berteman baik dengan Huang Zhi Lei.

“Tunggu—” Mendadak wajah Presdir Choi berubah serius.

“Huang Yoona, tidak diadopsi dari panti asuhan, melainkan diantar oleh teman Huang Zhi Lei. Apakah temannya itu adalah Park Jung Soo?” gumam Presdir Choi.

Ia berpikir serius sampai dahinya berkerut. Setelah mendapatkan sebuah petunjuk, matanya membulat sempurna.

“Jika teman yang mengantarkannya ke keluarga Huang adalah Park Jung Soo, artinya—” Wajah Presdir Choi terlihat gelisah. “Huang Yoona adalah anak yang telah diselamatkan Jung Soo?”

Sekertaris Han turut terkejut dengan analisa Presdir Choi.

“Selidiki lagi lebih dalam. Kau harus berhati-hati dalam menjalankan tugasmu. Jangan sampai ada orang lain yang mengetahui gerak-gerik kita,” tegas Presdir Choi.

“Baik, Presdir,” balas Sekertaris Han.

Presdir Choi memandangi punggung Sekertaris Han yang sudah berjalan keluar dari ruangan. Ia tampak berkeringat. Informasi tersebut berhasil mengacaukan pikirannya. Jika benar Yoona dibawa oleh Park Jung Soo pada Huang Zhi Lei, artinya Yoona adalah anak yang selama ini juga dicarinya, selain mantan anak buahnya itu. Anak yang menjadi ancamannya di masa lalu. Kalau sudah begitu, tak ada pilihan lain. Presdir Choi harus bertindak cepat, untuk menutupi perbuatannya di masa lalu.

.

.

.

“Kenapa kau mengajakku ke sini?”

Kris hanya tersenyum mendengar pertanyaan Yoona. Mobil yang mereka naiki sudah berhenti di tepi Sungai Han. Kris membantu Yoona melepas seat belt, lalu mengulum senyum padanya. Yoona masih merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Wajahnya memerah. Bukan hanya karena berduaan saja dengan Kris. Melainkan, baru pertama kalinya ia melihat Kris mengenakan pakaian santai. Hanya memakai kaos yang ditutupi jaket.

Ugh, dia memang cocok berpakaian apapun. Tetap saja tampan, pikir Yoona.

“Ayo,” ajak Kris menyuruh Yoona keluar dari mobil. Yoona tersadar dari lamunannya dan berjalan mengikuti Kris. Keduanya berdiri di tepi Sungai Han. Mereka menikmati hawa sejuk di sekitar sungai.

“Sudah lama aku ingin ke sini. Tapi tak pernah punya waktu yang tepat,” ucap Kris senang.

Yoona memandangi pria di sebelahnya. Entah sejak kapan, hubungan di antara mereka tak lagi dipenuhi pertengkaran seperti awal pertemuan mereka. Sejak memutuskan untuk menjalani hubungan ‘sandiwara’, Yoona mengakui jika Kris banyak berubah padanya. Terkesan lebih perhatian dan selalu ingin menjaganya.

“Presdir Choi—” Kris menatap Yoona cemas. “Sikapnya semalam di luar kendaliku. Maaf.”

Yoona menoleh kaget, “Untuk apa minta maaf?”

“Mungkin kau dalam bahaya. Karena sandiwara yang kita lakukan ini, aku yakin Presdir Choi sengaja melakukannya semalam. Aku yakin dia juga sudah menyelidiki latar belakang keluargamu. Dia akan mencari kekuranganmu untuk menjatuhkanmu di hadapan orang tuaku,” lanjut Kris.

Yoona terdiam dan menunduk dalam. Memang ia bisa merasakan niat buruk Presdir Choi padanya.

“Kau jangan khawatir. Mulai sekarang, aku akan melindungimu. Tak akan kubiarkan siapapun melukaimu, termasuk Presdir Choi,” ucap Kris kemudian.

Wajah Yoona memerah. Sebuah pikiran aneh terlintas di kepalanya. Tapi buru-buru ditepisnya karena tidak mau masuk ke lubang yang sama. Mungkin saja Kris berkata demikian karena terikat dengan ‘sandiwara’ yang mereka lakukan.

“Jadi, kau mengenal Yunho-ahjussi dan Yuri-ahjumma?” tanya Yoona tiba-tiba teringat dengan keluarga Im.

Kris mengangguk, “Yunho-ahjussi adalah teman ayahku sejak kuliah. Mereka berteman baik. Sangat baik. Bahkan aku dulu pernah dijodohkan dengan putri mereka.”

“Putrinya yang menghilang itu?”

“Kau tahu dari mana jika putri mereka menghilang?” tanya Kris kaget.

“Tadi mereka sudah memberitahuku,” jawab Yoona. “Mereka bilang, namaku sama seperti nama putri mereka. Hanya berbeda marga.”

“Berbeda marga? Jadi, nama putri mereka Im Yoona?” tanya Kris memastikan dan dibalas anggukan oleh Yoona. Kris memang tidak tahu nama putri Presdir Im. Ayah dan ibunya tidak memberitahu sama sekali.

“Rasanya nama itu tidak asing di telingaku,” ucap Yoona.

“Tentu saja. Namanya kan sama seperti namamu. Jelas tidak asing,” balas Kris dan dibalas tatapan tajam dari Yoona. Pria itu seperti mengatainya ‘bodoh’.

“Lalu, perjodohan kalian bagaimana?” tanya Yoona penasaran dengan masa lalu Kris.

“Hari di mana perjodohan itu dilakukan, putri mereka menghilang. Mereka tidak berhasil menemukannya. Kurasa sampai sekarang,” jawab Kris. “Sudah jelas perjodohan itu pun dibatalkan.”

Yoona mengangguk-angguk dan kembali menatap Sungai Han. Sesekali matanya terpejam sambil menghirup udara segar.

“Meskipun aku tidak bertemu dengannya, tapi aku senang karena memiliki kenangan manis,” lanjut Kris dan sukses membuat Yoona menoleh padanya.

“Kenangan manis?”

“Ada seorang gadis pemberani, yang menolongku dari kenakalan sekelompok brandal cilik. Kemampuan beladirinya membuatku kagum dan membuatku jatuh cinta padanya,” jawab Kris.

“Kau—membicarakan cinta pertamamu?” tanya Yoona hati-hati. Wajahnya tampak masam. Ia akui ada rasa cemburu dalam dirinya.

Kris mengangguk, “Kau tahu tidak, siapa gadis itu?”

Yoona menggeleng, “Siapa?”

Perlahan bibir Kris melengkung sempurna, “Kau.”

Mata Yoona terbelalak, “Aku?”

Ne, kau orangnya. Aku masih ingat bagaimana wajah gadis itu. Saat semalam aku mendatangi rumahmu, aku tidak sengaja melihat fotomu semasa kecil. Aku langsung mengenali sosokmu dalam foto. Aku yakin jika kau adalah gadis di masa laluku yang pernah menolongku,” terang Kris panjang lebar.

Yoona terdiam dengan dahi berkerut. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian yang dibicarakan Kris. Tapi Yoona sama sekali tidak mengingatnya.

“Maaf, Kris. Aku kehilangan ingatanku semasa kecil. Jadi, aku sama sekali tidak ingat kejadian apapun saat aku kecil,” ucap Yoona merasa bersalah.

Kris terdiam sejenak. Ada perasaan sedih karena kenangan itu hanya ia yang mengingatnya. Namun Kris memilih tak terlalu memikirkannya. Asalkan ia bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya itu.

Kris tersenyum pada Yoona, lalu memutar tubuh Yoona agar keduanya berhadapan.

“Tidak masalah. Ingatanmu yang hilang pasti akan kembali. Tapi, izinkan aku mengatakan apa yang kurasakan sekarang. Aku tidak bisa lagi menundanya,” ucap Kris.

Yoona memandangi wajah Kris yang menatapnya serius. “Ne, katakan saja.”

“Aku sangat senang bisa bertemu lagi dengan gadis di masa laluku. Cinta pertamaku,” ujar Kris dan sukses membuat wajah Yoona memerah.

“Karena itulah, aku ingin kita—” Kris menghentikan kalimatnya sejenak dan memandang Yoona dalam-dalam.

“Aku ingin kita menjadi sepasang kekasih sungguhan,” lanjut Kris tersenyum malu. Wajahnya memerah dan sesekali ia menunduk. Sementara Yoona hanya berdiri terpaku menatapnya. Dengan perasaan campur aduk. Antara senang sekaligus bingung. Bagaimana pun, kenangan itu hanya Kris yang mengingatnya. Tidak dengan Yoona.

Saranghae . . .”

Satu kata yang keluar dari Kris, berhasil membuat Yoona bagai terbang tinggi ke angkasa. Wanita itu hanya tersipu dengan wajah yang menunduk. Sementara Kris hanya menggaruk kepalanya dengan wajah yang memerah.

“Apa kau—bersedia menjadi kekasihku?” tanya Kris lagi.

Yoona menatap pria di depannya. Ia mengingat lagi hari-hari yang dilaluinya bersama Kris. Walau berlangsung singkat, tapi Yoona tak bisa memungkiri hatinya yang berdebar tiap kali bersama Kris. Bahkan perhatian yang diberikan Kris, membuatnya yakin jika ia memang tertarik pada pria itu. Lebih tepatnya, jatuh cinta pada Kris. Terlebih lagi, jika kejadian yang mengaitkan mereka di masa lalu memang benar adanya. Maka Yoona tak ragu lagi dengan perasaannya sekarang.

“Yoona?”

Anggukan pelan dari Yoona membuat Kris tak bisa lagi menahan rasa senangnya. Pria itu bersorak keras dan langsung memeluk Yoona dengan erat. Mata Yoona terbelalak. Terkejut dengan sikap Kris yang tiba-tiba memeluknya begitu erat.

“Ah, maaf. Terlalu senangnya aku tidak bisa mengendalikan diri,” ucap Kris malu. Wajahnya menunduk dan merah padam.

Yoona tersenyum geli melihat wajah Kris. Kepribadiannya yang terkadang berubah-ubah, memang menjadi daya tarik tersendiri dari seorang Kris Wu. Tak hanya secara fisik yang begitu tampan. Kris bisa memperlihatkan sisi cerdas dan tegasnya, tapi kadang juga terkesan sombong dan sok. Yoona masih ingat itu, saat pertemuan pertama mereka. Sesekali Kris juga memperlihatkan sisi konyolnya tiap kali berdebat dengan Krystal, Kai ataupun Suho. Termasuk dengan Yoona sendiri.

Belakangan ini, Yoona melihat lagi sisi lain dari Kris. Perhatian yang diberikan padanya, membuat hati Yoona tersentuh. Yoona bahkan tidak menyangka, Kris bisa terlihat malu seperti sekarang ini. Jika mengingat semuanya, Yoona selalu tertawa sendiri. Ia menyukai semua sifat yang ada dalam Kris.

Tepat hari ini, hubungan mereka tak lagi bersandiwara. Hubungan itu menjadi real. Mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

.

.

.

Tao baru saja selesai membeli beberapa barang yang disuruh ibunya. Ia tengah berjalan memasuki kompleks rumahnya. Saat melewati sebuah gang, Tao mendengar teriakan orang yang memohon ampun. Tao terkejut dan mencoba mencari asal suara. Matanya melebar, saat mendapati segerombol pria tengah memukuli pria paruh baya yang sudah tersungkur di tanah.

“Apa yang kalian lakukan?!” suara keras Tao berhasil mengalihkan perhatian segerombol pria tersebut.

Mereka berpenampilan seperti preman yang suka memeras uang orang lain. Dan sepertinya, mereka baru saja melakukan aksinya namun keburu diketahui oleh Tao.

“Apa urusanmu, hah?” tanya pemimpin mereka. “Jangan ganggu kami. Jika kau ingin selamat, sebaiknya kau segera pergi.”

Tao tersenyum sinis saat pria itu justru berbalik membelakanginya. Ia letakkan sejenak kantung plastik yang dibawanya. Tao langsung menarik tangan pria itu, lalu membanting tubuhnya ke tanah. Pria itu pun mengerang kesakitan.

Melihat perlakuan Tao terhadap pemimpin mereka, anak buahnya langsung berlari menyerang Tao. Sayang, mereka melawan orang yang salah. Dengan kemampuan beladiri yang Tao miliki, pria itu berhasil mengalahkan segerombol pria tersebut dengan sangat mudah. Sadar jika lawan mereka bukan orang sembarangan. Segerombol pria itu langsung lari terbirit-birit. Berusaha menyelamatkan diri dari Tao.

Sesekali Tao berteriak keras memberi ancaman pada mereka. Barulah ia menghampiri pria paruh baya yang kesakitan karena luka memar di tubuhnya.

Ahjussi, kau tidak apa-apa?” tanya Tao cemas.

Pria paruh baya itu melepas topi yang dikenakannya. Wajahnya tampak sedikit kusam dan ada luka memar di bagian pipi.

“Terima kasih sudah menolongku,” ucapnya pada Tao.

Tao terdiam. Ia memandangi wajah orang yang baru ditolongnya. Merasa mengenali sosok tersebut, mata Tao membulat sempurna.

“Ka—kau—” Tao tak bisa lagi menutupi keterkejutannya. “Park Jung Soo?”

.

.

.

.

.

-To Be Continued-

Ide lagi lancar, jadi langsung aku kebut chapter ini😄

Maaf jika ada typo bertebaran atau alur yang terlalu cepat bahkan ruwet *bow*

Semoga suka, terima kasih sudah membacanya😉❤

-cloverqua-

99 thoughts on “Destiny 8

  1. lama banget nextchapnya 😣😣
    udah lama nunggu2 tapi belum diupdate2 juga 😧😧
    ga sabar nih thor, nextchapnya jangan lama2 donggg 😣😧

  2. Yeeeee ,, yoonkris akhirnya pcarana bneran bukan cuma sndiwara , :’) oalaaahh smoga bisa cpet ktauan klo yoona itu anknya tn.I’m .. Supaya bisa trungkap kjahatan tn.choi ..

  3. OMG kris dan yoona akhirnya beneran jdi pasangan kekasih, ngga pura2 lgi.
    seneng deh bacanya.
    mudah2an aja ortu kandung yoona secepatnya mengetahui kalau yoona emang beneran anak yg selama ini dicarinya.
    next jngan lama2 ya!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s