Okay? [2]

poster okay 2

Presented By Cicil

Yoona with EXO

Genre: Romance, little fluff

Rated: SU

Length: Chapter

Disclaimer: I dont own the cast, but the story is actually mine.

aku melupakan ke-delapan anak itu! Bodoh sekali, ke mana mereka sekarang? apa mereka berpencar lagi? Lalu aku harus mencarinya lagi? Satu-persatu? Ya ampun, kapan makan siang akan jadi kalau begini caranya.

Err… sebenarnya sepuluh menit setelah aku mengacak-acak rambut frustrasi karena harus kembali menemukan sang kurcaci kecil adalah; beberapa diantara mereka menonton Tom and Jerry di ruang teve–bergabung dengan Jongin dan Kyungsoo, lalu sisanya dipaksa Junmyeon untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka.

Tidak cukup sulit menemukan anak-anak itu lagi.

“Yixing, coba ajak yang lainnya untuk pergi ke dapur, dan duduk rapih di meja makan. Nuna akan memasak sebentar lagi.” Aku bercengkrama panjang pada laki-laki mungil berlesung pipi yang sedang tertawa sehebatnya di depan teve.

Agaknya dia tidak mengindahkan perkataanku.

 

“Yixing–”

“Nuna biar aku saja yang menyuruh,” oh, oh, suara lembut Kyungie melantun di tengah telingaku. Buat aku tersenyum dan menoleh padanya segera. “Okay, aku akan serahkan tugas berharga ini kepadamu, Kyungie. Jaga baik-baik, ya.” Aku berlagak menaruh kedua tangan di pinggang, seolah mengajak teman-temannya makan saja adalah suatu hal hebat.

Biarkan saja. Imajinasi anak harus diasah ‘kan?

Lalu dia mengangguk dan serasa ada beban yang terkurangi di punggungku. Terima kasih banyak Kyungie. Dan kau Yizing, lihat saja nanti karena tidak mendengarkan aku, kkk~

Aku segera memacu langkah mengunjungi kamar Junmyeon. Membuka kenop pintunya perlahan, lantas suara Junmyeon yang tegas menyambutku.

“Jadi begini, dua ribu tujuh ratus empat puluh lima ditambah tiga ribu enam ratus delapan puluh–”

Pun aku meratapi wajah Chen-chen dan Hunnie. Tampak jelas guratan tidak mengerti seperti-kita-sedang-belajar-apa-sebenarnya, juga aku-tidak-mengerti-apa-yang-Junmyeon-hyung-maksud. Tidak apa, saat aku sekolah aku juga menampilkan raut yang sama pada guru matematikaku.

Sebaiknya lidahku harus segera berkecap memberhentikan acara terbosan di dunia ini. “Junmyeon—” yang aku panggil padahal hanya satu nama tapi ketiganya tetap menoleh padaku.

“—Nuna mau memasak sebentar lagi, kalian harus segera menunggu dan duduk baik-baik ya, di meja makan.”

Junmyeon mengangguk semangat. Chen-chen…err..dia baru saja menguap dan matanya memerah. Hunnie, oke, dia tiduran di atas buku dan pensil. Sejemang kepalaku mulai digerayangi pusing, namun terserahlah, apapun mereka tidak mengerti atau entah yang penting Junmyeon akan menyuruh mereka semua untuk segera bersiap makan.

 

.

 

Mereka tidak mau makaaannnnnn!!!!!! Aku akan melompat ke dalam air lalu menahan napasku sampai pingsan–jika aku sudah tidak mau hidup lagi. Tapi sayangnya aku masih mau kuliah dan menikah bersama Dobi. Jadi, itu tidak akan terjadi.

Ohya, dan aku menemukan Luhan di tempat tidur—entah anak itu tidak terlelap semalaman atau dia memang selalu bisa tidur di mana saja. Tapi yang pasti aku sudah menggandengnya dan memasukan dia bersama yang lain.

Di meja sudah ada telur dadar gulung, sushi, ddukbokki, takoyaki, dan nasi Hainan. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mau mengambil sendok dan segera melahap dengan rakus. Buat aku makin bingung bukan kepalang.

“Kenapa tidak dimakan?” tanyaku, sambil menepuk-nepuk punggung Baekki yang ada di pelukan. Dia sudah bangun dan sekarang dia juga harus ikut makan bersama yang lain.

“Bibi Hong ke mana, Nuna?”

“Aku mau masakan Bibi,”

“Aku masih kenyang,”

“Aku mau tidur lagi,”

“Aku ngantuk,”

“Aku mau nasi goreng,”

 

Telingaku serasa tuli dan aku tidak lagi mendengarkan rengekan mereka. Atau terserah mereka mau apa tapi yang penting mereka makan. Bibi pasti marah padaku kalau begini caranya. Apa itu namanya? Bisa saja ada fitnah mengatakan aku tidak memberi mereka makan padahal mereka sendiri yang tidak mau.

Cukup keras menjungkir-balikan otak, aku akhirnya menemukan sebuah ide untuk membuat mereka tertarik. Salah satu permainan dari running man—ternyata tidak sia-sia juga menonton acara itu.

“Baik-baik, kalau begitu nanti kita tidak bisa bermain.”

Zitao yang ribut tidak lapar dari tadi adalah yang pertama menaruh perhatian pada ucapanku.

Melihat Zitao diam dan menatapku, yang lain pun mengikutinya. Oke, permainan akan segera dimulai!

“Main apa, Nuna?” celetuk Kyungie—mata bulatnya pancarkan sinar tersendiri.

“Begini, jumlah kalian semua ada berapa?”

“Sembilan! … … … … … Kalau Baekki tidak dihitung.” teriak Jongin dari bangku paling ujung. Serta tangannya diangkat ke atas, menampilkan jari-jari yang berdiri tegak.

“Kita akan membagi tiga tim. Berarti satu tim ada tiga orang.”

Lantas mereka semua mulai bising seperti kumpulan nyamuk, ribut sana-sini, berdebat tidak jelas. Aku dan Baekki hanya memandangi mereka, kadang bayi yang imutnya keterlaluan ini tertawa cekikikan melihat kakak-kakaknya.

Namun tiba-tiba Junmyeon menghampiriku dan, blam! Dia menyuruhku yang menentukan kelompoknya karena LIHAT SAJA MEJA MAKAN SUDAH SEPERTI PASAR IBU-IBU YANG JOROK, KOTOR—mereka semua menjadi satu bagai nasi campur dan saling tidak mau terpisahkan. Lengket layaknya pranko.

“Tenang, tenang! Nuna yang akan membaginya!”

 

Maka keputusanku adalah Tidak. Ada. Tim. Tidak jadi itu , satu tim ada tiga bocah dan segala cara untuk mengelompokan mereka bertiga-tiga, ternyata lebih sulit dan memusingkan dari yang terbayang.

“Nuna, bagaimana cara mainnya?”

“Oh, begini, kalian harus pergi ke pos 1 lebih dulu—akan ada lima pos nantinya—setiap pos yang kalian kunjungi akan ada makanannya dan harus dimakan. Siapa yang sampai ke pos terakhir lebih dulu adalah pemenangnya. Ada tiga hadiah menunggu untuk aku berikan, jadi yang berkesempatan menang hanya tiga anak.”

Aku mulai mengambil piring-piring berisi makanan dan menyembunyikannya di beberapa tempat. Sejemang menaruh sumpit bertempelkan kertas—gantinya bendera—dengan urutan angka.

Semua individual. Mereka lantas mulai berhamburan ke taman di depan rumah. Aku mengikuti sambil menggendong—

Tunggu sebentar. Rasa-rasanya tanganku ringan, tidak ada sesuatu yang berat menggantung di lenganku. Ada yang hilang atau—Baekki hilanggg????!!!! Sedari tadi dia bersamaku ‘kan? Apa aku meninggalkannya begitu saja di suatu tempat?

Aku kembali ke meja makan dan—terima kasih Tuhan atas anugerahMu—lantaran bayi itu sedang menggigit ibu jarinya sendirian di tengah meja makan. “Ya ampun, maafkan nuna sudah meninggalkanmu.”

 

.

 

Agaknya matahari sedang senang hari ini jadi dia menyemprotkan semua sinarnya hingga mataku menyipit. Ketika kedua kaki ini berdiri sigap di tengah mereka semua. Aku lantas berteriak lantang.

“Kita mulai! Hanna, deul, set, ne!”

Semuanya berlariii, Zitao kadang mendorong anak lainnya—ugh, dia kasar juga—tapi tidak sampai jatuh. Lalu Luhan akan membenturkan tangannya pada lengan Zitao sebagai balasan.

Sepanjang aku memindai, Hunnie dan Jongin masuk ke dalam rumah paling pertama. Mereka seperti gumpalan kelereng yang lari tidak karuan, ada yang melewati jalan pintaslah-katanya, ada juga yang ke kamar mandi entah kenapa—memangnya ke kamar mandi membuatmu lebih cepat sampai?

Cukup melihat kegaduhan yang diciptakan sembilan bocah tersebut. Aku gegas merajut langkah pergi ke pos lima—pos terakhir—dan memikirkan apa hadiahnya. Lagi pula ini ‘kan permainan dadakan, semuanya serba cepat dan aku belum sempat berencana apapun.

 

.

Badanku rasanya pegal semua. Jongin tidak mau kalah, dia bilang dia pemenang pertamanya. Lalu Yixing menyeruak dari antara mereka dan mengaku bahwa dialah yang duluan sampai. Kemdian Zitao datang meleraikan mereka berdua, tapi yang terjadi malah saling mendorong dan pro-kontra tersebar di segala arah.

Di sisi lain, lantaran aku belum juga selesai menyiapkan hadiahnya. Aku bilang pada mereka bahwa lain kali kita akan menentukan pemenangnya secara adil. Tapi kali ini, tidak akan ada yang menjadi juara pertama atau kedua atau ketiga. Mereka hanya harus mandi karena hari sudah sore.
.

 

 

Lalu malam telah tiba. Pegal setelah main tadi dilepaskan di ruang teve, Baekki duduk di babywalker-nya, aku duduk di sofa bersama Kyungie dan Chen-chen. Sisanya tergeletak di karpet.

Luhan dan Zitao masih melanjutkan pergulatan mereka—ya ampun, mereka rebutan sekantung keripik kentang. Hunnie tampak bermain potato-chip dengan Jongin, Minnie, dan Yixing. Junmyeon bertekuk menonton teve—film Spongebob, si busa warna kuning yang bisa bicara.

Sudah jam tujuh malam. langit mulai berwarna pekat, begitu bulan menampakan senyumnya seperti yang dilakukan matahari tadi siang.

“Zitao, aku tidak suka padamu!”

“Aku lebih membencimu!”

“Ya! kau mencubit tanganku!”

Apa bocah berusia tujuh tahunan selalu berisik?

 

Hap!

Tunggu, tunggu. Aku tidak bisa melihat Zitao mencubit Luhan lagi, atau Junmyeon dengan matanya yang terfokus. Semuanya gelap dalam sedetik. Anehnya adalah aku selayak menutup mataku secara tiba-tiba.

Namun aku merasakan dua telapak tangan membekap mataku buat semuanya sekelam tinta. Aku sempatnya terkekeh kecil.

Park Chanyeol.

Di antara belasan tangan telah aku genggam,  yang aku paling ingat hanya guratanmu. Di antara ribuan kata cinta dalam bibir, yang aku butuhkan hanya memeluk jarimu. Dan di antara sejuta kenangan manis tidak terlupa, yang masih terngiang adalah kelembutan sentuhanmu.

“Dobi..”

“Hmmm?” dia berdeham sedikit, tanpa melepaskan buku-buku jemarinya dari mataku. Dasar konyol, dia mau aku menebak siapa yang melakukan ini tapi malah berdeham dan buat aku makin yakin bahwa ini dirinya, hah?

“Dobiiii~” kedua tanganku lekas menggenggam tangannya, berusaha membuatnya terlepas supaya aku bisa melihat lagi dunia. “Jauhkan tanganmu dari wajahku,” tuntutku, buat nada semelas mungkin dan bibir delima melengkung ke bawah.

“Oke, oke, aku lepas.” Kunang-kunang berputar di sekitar kepala, puluhan bintang mengitari wajahku, kendati senyum ini masih candu untuk mengembang. Merasakan Chanyeol duduk di sebelahku–merangkul pundaku, selamanya kulit kami yang bersentuhan menyalurkan sengat listrik tak kasat mata.

Kenyataannya aku benci berada di bawah jantung yang berdetak kencang dan pipi merona merah. Pun faktanya, aku tidak suka kala segerombol kupu-kupu warna jingga terbang di perutku, dan menggelitik jiwa ini semaunya.

Membiarkan aku dalam rasa malu di depan iris Chanyeol. Ugh, terlalu enggan untuk membayangkan.

“Ayolah, Im Yoona tidak merindukan kekasihnya ini? Kita sudah tidak bertemu lama sekali, aku sih sangat rindu padamu.”

KITA BARU BERTEMU SEMBILAN JAM YANG LALU DAN KAMU BILANG APA TADI? Rindu? Cinta macam apa ini yang merubah Chanyeol cool jadi lembek seperti jelly—maksudku melankolis, dan merasakan sembilan jam seperti sembilan tahun???

Tapi jujur, aku juga kangen padanya. Aku sadari, kadar senyumanku di luar batas. Dobi, itu laki-laki apa sih yang bisa melebarkan senyumku setinggi angkasa padahal dia hanya bercuap-cuap sejenak?

“Dobi berhenti bersikap seperti ini. Ada anak-anak.”

Aku melirik Kyungie dan Chen-chen seraya muka masam muncul di wajah ini. Mereka memperhatikan aku dan Chanyeol dari tadiii, terlebih mata Kyungie sangat polos buat aku merasa bersalah karena sudah meracuninya dengan tingkah laku kami.

Tidak seharusnya aku bermesraan dengan kekasihku di ruangan yang berisi sepuluh bocah kelewat bersih ini!

Chanyeol hanya bengong sebentar, kemudian memutar matanya bingung, dan bilang—

“Hai, bocah.” Awkward. Lelaki berkaus abu-abu kelam itu hanya mengangkat sebelah tangannya, melambai sesingkat mungkin pada Kyungie dan Chen-chen. Entah waktu yang berhenti atau kejadian ini terasa lambat sekali.

Aku tebak dia tidak tahu nama kedua anak tersebut. Kami berempat saling menatap, abaikan suara-suara tidak jelas yang ditimbulkan Zitao, atau sorak kemenangan Yixing dan kalimat menyesal dari bibir Jongin.

Kyungie sedetik kemudian mengulurkan tangannya padaku, menarik-narik ujung jari telunjuku. “Nuna, dia siapa?” Mungkin karena Chanyeol langsung pamit pergi tadi pagi, jadi mereka tidak melihatnya.

Aku melirik pupil matanya, melonjakan kedua alis pertanda inilah responku akan pertanyaan Kyungie. Sesaat aku menoleh pada Chanyeol, meminta jawaban apa yang tepat lewat mata kami yang bersiborok.

“Apa? jawab saja aku ini kekasihmu.” Oh, dia mulai menyebalkan, ya. Mataku diambangi perputaran 360 derajat, dengan  wajah superkesal. Lantas kujawab pertanyaan Kyungie dan mereka kembali sibuk dalam permainan masing-masing.

Sempatnya, aku melirik jam dinding bentuk pooh sedang memakan madu. Sedetik mengetahui bahwa hari sudah mau berganti tiga jam lagi. Lantas kami semua menuju kamar tidur—termasuk Chanyeol—seraya menyanyikan lagu tidur untuk mereka.

Kesepuluh jemari Chanyeol dengan lembut menyentuh setiap nada dalam piano. Untungnya bibi menyediakan sebuah piano di kamar tidur mereka. Malah aku sampai dirambangi rasa kantuk karena permainannya.

“Ssstt…Im Yoona” bisik Chanyeol padaku. Mengetahui anak-anak sudah berkelana dalam mimpi.  “Ayo keluar,”

 

 

Sepanjang langit masih menerangkan puluhan bintangnya. Kakiku merajut jalan sesuka hati, menendang buliran pasir kekuningan di depanku. Panti asuhan bibi Hong ternyata tidak jauh berada di seberang pantai.

Makanya aku dan Chanyeol memutuskan untuk mencari udara segar sejenak, sebelum kami terlelap. “Park Chanyeol!” kibasan ditanganku pertanda menyuruhnya cepat mendekat terjadi barang semenit.

Ketika kami duduk bersebelahan, di atas pasir. Aku sadar, pantai adalah suatu tempat yang paling digemari banyak orang. Karena itu kami kemari, menguji seberapa romantisnya deburan ombak dapat membawa kami ke ujung bumi.

“Dobi,”

Aku perhatikan dia masih sibuk mengemasi kulit-kulit kerang di dekat kami, matanya meneliti setiap senti bagian kerang itu dan takut-takut menyentuhnya seakan mereka akan runtuh. Yang aku maksud adalah kita tidak di sini untuk mengamati kerang ‘kan?

“Yoona, mereka cantik sekali.” Dia membawakan padaku salah satunya, berbentuk biasa kendati sebuah warna mengkilat tertangkap oleh retinaku. Kerang itu bukanlah yang luar biasa, bukanlah yang tercantik sepanjang aku hidup, tapi satu yang aku temukan bahwa—

“Dobi, dia seperti—“

“Sepertimu,”

Kerang itu mewakilkan segala warna dalam hidupku. Aku masih terlampau ingat kalau aku pernah bilang pada Chanyeol tentang tiga buah pelangi yang sampai sekarang masih hinggap dalam hatiku.

Biru. Abu-abu. Hitam.

Aku suka biru, menhantarkan bayangan akan langit cerah. Memikirkannya saja, pikiranku telah berubah lebih tenang. Biru, selalu mewakilkan semua senyumanku dan menerangkan raut wajahku yang kusam.

Abu-abu adalah masa di mana aku sedih, contohnya kala Besta—teman lamaku—menghianati persahabatan kami. Dia bilang aku hanya pembantunya, dia menusuku dari belakang dan menyebarkan berita tidak benar pada seisi sekolah—cukup cerita sedihnya.

Ada saatnya juga aku tidak merasakan apapun. Namanya hitam, kosong dan karena kelamnya aku tidak bisa melihat, karena gelapnya aku tidak bisa meraba. Perasaan saat aku tidak tahu tentang hidup.

Irisku kembali menatap polesan benda tersebut. Tapi kerang itu mengkilat, memantulkan cahaya. “Dia sedikit berbeda denganku.” Tukas bibir ini pada Chanyeol, memberitahunya bahwa dalam tiga warna hidupku tidak ada tambahan mengkilat sepertinya.

“Tidak. Kalau dirimu adalah biru, abu-abu, dan hitam.

Maka aku akan menjadi kilatan itu untuk melengkapimu lebih indah.”

Ya ampun, Chanyeol habis membaca novel sedih mungkin. Dia tidak pernah mengandai-andai sejauh ini. Bisa saja, kata orang benar adanya—gelungan ombak, gemerlapnya langit, luasnya pasir, telah membawa kami kepada malam sejuta kalimat gombal di dunia. Tapi, siapa yang tahu, kalau aku menyukainya?

Kami bercanda sebentar. Mengusir ribuan kata romantis yang jika makin lama hinggap dalam diri Chanyeol, akan membinaku menuju ‘bosan’

“Kamu akan menjadi babysitter mereka selama tiga hari lagi, bukan?”

“Ya, lantas?”

“Besar kesempatan, aku ingin menunjukan sesuatu esok pagi?”

 

 

 

 

To be continued

 

As what I say. Aku nggak pinter bikin chapter so, ini aja udah cukup menguras otak karena pikiran aku tentang fiksi adalah selalu pendek dengan satu inti masalah—bukan berpanjang-panjang kayak novel, hihi^^ tapi namanya sekolah yang padatnya minta dituntut ke pak satpam(?) aku gak suka banget kalau sekolah pulang udah sore, terus belom lagi ada les, terus belom lagi tugas kelompok, terus pr inilah itulah. Ribet deh, dan nyebelinXD

 

Thankyou for reading this chapter. Comment are really welcome. Fiksi ini nggak akan bertahan dengan chapter panjang so mungkin chapter 4 atau 5 adalah endingnya?

 

See you next time!

32 thoughts on “Okay? [2]

  1. Hahahahha .. Lucu banget sihh .. Tp kasian yooona ngejagain 10 bocah dgn klakuan mreka yg ajaib banget ,, :’) ngebayangin cutenya baekki swktu msh bayii , polosnya mata kyungoo yg belo , kelakuan jumyeon yg berasa orng dewasa , sama pertengkaran tao smaa sehun , kocak sewaktu jumyeon ngjarin yixing dan sehun berhitung dan itu tuh itungannya udh smpe ribuan ,

  2. Kasian unnie capek bngt ngurusin anak-anak masih keci-kecil pula.
    Tp gpp, sekalian mencoba, siapa tau nnti kalo punya anak tau gimanangurusnya.
    Keep writing thor🙂

  3. dear author yang ff nya kelewatan manis manis bikin diabetes /apa.

    Ff ini uwoooooo udah lucu banget dengan anak anak kecil yang lucu lucu dan baekhyun yang jadi anak bayi (yaampun ngebayanginnya udah pengen dicubit baby baekki). Dan ff ini ditambah keromantisan yoona chanyeol ya Tuhaaannnn gakuat lah chanyeolnya itu :”) suka banget ff authorrr update-annya bikin chanyoon makin sweet lagi thor huehehhe dan kelucuan anak anak kecil ituu ♡♡

    Author fighting buat kesibukan sekolahnya/? Ditunggu next chapp~~ hehe

  4. Aku salah baca ini ff malam2 gini-_-
    Kenapa? Karna aku gak bisa berhenti ketawa nyaring, malam2 gini. Aish
    Keep writing !!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s