Regret

regret-yh

 

qintazshk’s present

 ⌊ Regret ⌋ 

staring

Oh Sehun and Im Yoona

with

Huang Zitao and Krystal Jung

PG-17 ||  oneshoot ||  Angst/Marriage-Life ||  Poster by elevenoliu

♥ leave your review for better fanfiction in the future from me ♥

Author Note

FF ini terinspirasi dari cerita yang aku denger di TV. ada juga FF yang udah pernah publish dengan ide cerita ini. karena cerita ini udah banyak orang tahu, aku bikin FF ini. Tolong di ingat kalau FF ini bukan plagiat. Tapi terinspirasi dari based on true story.

di publish dengan cast Minho-Yuri disini

Enjoy this fanfiction and create your imagination ^^ 

REGRET

Matahari yang semenjak pagi menyinari, kini sudah tenggelam di makan waktu. Terdengar suara-suara jangkrik saling bersahutan yang menandakan bahwa hari sudah malam.

Dengan tergesa-gesa, kulangkahkan kakiku ke pintu rumah dan membukanya.

“kau sudah pulang, yeobo?”

ne,”

“aku membuatkan bulgogi kesukaanmu untuk makan malam.”

“baiklah, Yoona.” aku mengamit lengan Yoona menuju ruang makan. “sekalian ada yang ingin aku bicarakan.” Yoona menurut dan duduk di hadapanku yang sudah siap untuk makan malam.

Entah mengapa, raut wajah dan matanya aku seolah merasakan ada sesuatu yang Ia pendam. Luka batin? Tentu saja aku tidak jadi mengatakan hal-hal yang sudah menghantui benakku beberapa bulan terakhir.

Perceraian.

Terdengar kejam, bukan? Tapi sungguh, ini adalah hal yang ingin aku lakukan. Ini yang menghantui pikiranku selama ini. Bukankah hal itu yang selalu dilakukan oleh semua pasangan jika mereka sudah tidak saling mencintai?

“aku ingin kita bercerai, Yoona-ya.”

Ekspresi yang ditunjukkan Yoona sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia terkejut. Ia bahkan terkesan tenang dengan gugatan cerai yang kulayangkan. “kenapa, oppa?”

Lima detik.

Sepuluh detik.

Semenit sudah berlalu dan aku tak berniat untuk menjawabnya.

“kau bukan lelaki sejati, Sehun oppa!” dengan kesal, Yoona melemparkan sumpit yang ada di tangannya dan beranjak pergi menuju kamar kami yang berada di lantai dua.

Malam itu kami sama sekali tidak bertegur sapa. Biasanya, ia selalu mengucapkan selamat malam dengan kecupan di keningku, namun tidak malam ini. Yoona terus saja menangis sampai aku merasa bahwa kasur yang kami tiduri bersama bergetar saking  hebatnya isakan Yoona.

 

REGRET

 

Pagi-pagi sekali, aku membuat surat pernyataan perceraian bahwa Yoona dapat memiliki rumah yang kami tempati, mobil dan juga keuntungan dari perusahaan Oh’s Property yang aku bangun.

Ini semua aku lakukan hanya karena aku kasihan padanya. Iya, kasihan.

Aku menaruh kertas itu di hadapannya yang sedang berias di kamar kami. Yoona  melihat kertas itu sejenak dan merobeknya menjadi tak berbentuk.

“apa maksud surat tadi, oppa?”

“itu adalah harta yang bisa kau miliki setelah kita bercerai, Yoona-ya.”

“lalu, kau anggap apa pernikahan kita yang sudah berjalan sepuluh tahun ini, oppa? Kau tidak memikirkan Tao? Ia masih terlalu kecil, oppa.

Yoona menyudahi perkataannya dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.

“aku minta maaf untuk waktu sepuluh tahunmu yang terbuang sia-sia denganku. Juga semua usaha dan kerja kerasmu mengurusku dan Tao, aku minta maaf. Tapi aku sudah mencintai perempuan lain. Krystal. Aku benar-benar mencintainya, Yoona-ya.

“berhentilah, oppa!

Lagi, air matanya itu mengalir dari matanya yang sudah memerah. Namun, tangisannya adalah tangis yang sudah aku tunggu sejak kemarin. Tangisan Yoona  sudah tidak berarti apa-apa lagi.

“aku pergi.”

 

REGRET

 

12.00 AM.

Kuhabiskan malamku diluar dengan alcohol dan dengan Krystal, tentunya. Sekedar untuk menghindar dari rumah. saat membuka pintu kamarku dan Yoona, aku melihat istriku itu sedang menulis di meja yang ada di kamar kami.

Dengan acuh, aku segera bergegas mengganti pakaianku menjadi piyama dan bersiap tidur karena terlalu lelah. Belum nyenyak tidurku, aku melihat Yoona masih duduk di kursinya seperti tadi dan masih menulis.

ayolah, apa pedulimu, Sehun?

“Yoona-ya, ini apa?”

“itu syarat yang aku berikan untuk perceraian kita, oppa.

“kau meminta rentang waktu sebulan sebelum kita bercerai?” Yoona menjawab dengan anggukan sambil tetap duduk di kasur. Menatapku yang baru saja terbangun.

“kau sudah gila? Kau ingin aku menggendongmu seperti hari pernikahan kita? Tunggu, menggendongmu dari kamar ini sampai pintu depan? Ini bukan candaan, kan, Yoona?”

“hanya itu syaratku, Sehun oppa.”

“baiklah,” putusku. Setidaknya, aku harus membuat hari-hari kami sedikit lebih indah di hari-hari terakhir pernikahan kami, bukan?

 

REGRET

 

“benarkah? Jadi Yoona meminta syarat itu?”

yup.” Jawabku sambil menghisap kopi panas yang ada di hadapanku. Aku dan Krystal sedang menikmati waktu istirahat siang kami di café yang tidak jauh dari tempat kami bekerja.

“dan kau menyetujuinya, chagi?

“tentu. Mau bagaimana lagi?”

Krystal tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Tentu saja, aku saja awalnya tidak percaya kalau Yoona benar-benar mengajukan syarat perceraian yang begitu tidak masuk akal.

“ayo, Krystal. Kita ada meeting ,kan?”

Krystal segera menghabiskan kopi dinginnya dan beranjak berdiri mengikutiku. Dengan erat, ia mengalungkan lengannya di lenganku.

kajja.”

 

REGRET

 

Selama beberap bulan terakhir ini, aku dan Yoona sama sekali tidak melakukan hubungan suami-istri yang selayaknya. Maka dari itu, aku sadar bahwa gendonganku di hari pertama kami sangatlah canggung.

Tanpa perasaan apa-apa, aku menggendong Yoona –yang telah siap dengan setelan kerjanya- dari kamar tidur kami sampai pintu depan rumah kami.

“wow, appa hebat bisa menggendong eomma.”

Tahu-tahu, Tao sudah berada di samping kami dengan pakaian sekolahnya. Apa ini? kenapa aku merasakan ada luka yang menganga mendengar perkataan Tao?

Tangan Yoona mengerat di leherku, memelukku.

“jangan beritahukan perceraian ini pada Tao, oppa.

Aku mengangguk singkat lalu menurunkannya saat kami sudah sampai di depan pintu rumah kami dengan Tao yang berjalan riang di belakang kami.

“aku pergi dulu, Yoona. Tao, kau hati-hati di jalan, ne?”

 

REGRET

 

Hari ke-2

Harus kuakui kalau kami melakukan ‘ritual’ ini lebih mudah dari hari kemarin. Yoona merapatkan tubuhnya di dadaku sehingga aku dapat menghirup aroma tubuhnya. Aku sadar bahwa aku sudah tidak memerhatikan wanita ini dengan baik cukup lama.

Kulitnya yang dulu bak porselen itu, kini terlihat ada kerutan-kerutan kecil. Astaga! Bahkan rambutnya sudah sedikit memutih. Rambut cokelatnya sudah tidak muda lagi.

Pernikahan kami yang membuatnya menjadi begini.

Apa saja yang sudah kuperbuat selama sepuluh tahun pernikahan kami?

 

REGRET

 

Hari ke-4

Ada sebuah perasaan aneh yang menelusup di hatiku. Perasaan dekat. Ya, aku merasakan bahwa hatiku dan hatinya sudah dekat. Perasaan itu merebak di relung hatiku.

Oh Yoona.

Perempuan ini sudah mengorbankan waktu sepuluh tahunnya untuk bersamaku.

Hari ke-7

Aku sadar bahwa kedekatan kami sebagai sepasang suami-istri sudah kembali. Karena tanpa aku sadari, setelah aku menurunkannya dari gendonganku, aku akan menyempatkan mencium kening ataupun pipinya.

Aku tidak berani untuk mengatakan perasaan ini kepada Krystal.

Sepertinya akan lebih baik jika begini. Jadi, pernikahan antara aku dan Krystal bisa dilangsungkan sesegera mungkin.

 

REGRET

 

Hampir satu bulan sudah kegiatan menggendong Yoona aku jalani.

Pagi ini, kuperhatikan Yoona yang sedang memilih-milih baju yang akan ia kenakan untuk pergi ke kantor. Sudah hampir setengah lemari yang ia keluarkan, tidak ada yang pas di tubuhnya.

“bajuku kebesaran semua, oppa.

Badan Yoona mengurus. Aku tidak sadar bahwa badan Yoona sudah menyusut sedemikian banyak. Jadi, ini alasan kenapa aku semakin mudah menggendongnya? Suami macam apa kau, Oh Sehun?

Kali ini dadaku seolah tertusuk pisau belati. Belati yang sangat tajam. Ternyata hal ini juga yang dialami oleh Yoona. tanganku terjulur untuk menyentuh puncak kepalanya seperti yang sering yang aku lakukan dulu.

“pakai saja dulu yang ada.”

Yoona menganggukkan kepalanya patuh lalu segera mengambil setelan kantor berwarna hitam yang biasa ia gunakan.

appa, ayo gendong eomma sekarang.”

Tao muncul lengkap dengan peralatan sekolahnya di kamar kami. Baginya, melihatku menggendong Yoona adalah kegiatan yang wajib ia lihat sebelum pergi ke sekolah. Yoona menghampiri Tao lalu memeluk anak semata wayang kami dengan penuh kasih sayang.

Aku tak kuat menatapnya. Aku takut jika melihat bagaimana cara Yoona memeluk Tao bisa membuat keputusanku untuk bercerai dengannya menjadi kacau di hari akhir syarat-syarat ini berjalan.

Saat Yoona melepaskan pelukannya pada Tao, aku menghampiri Yoona dan mengangkat istri yang sebentar lagi akan menjadi mantan istriku itu dengan kedua tangan.

Tangan mungil Yoona itu memeluk erat leherku, seolah tidak ingin lepas. Pelukannya lembut dan terkesan romantis. Benar-benar seperti pasangan suami-istri yang harmonis. Aku membalas erat pelukannya. Dan hal ini persis seperti pernikahan kami sepuluh tahun yang lalu.

Akan tetapi, tubuhnya yang mengurus membuatku sedih.

 

REGRET

 

“hari ini, kita jalan-jalan bersama dengan Tao, oke?”

“bukankah hari ini kau kerja, oppa?”

ayolah, sehari membolos untuk jalan-jalan tidak apa, kan?”

appa, lihat gajah itu! hidungnya panjang sekali, seperti hidung appa.”

“hey, hidungmu juga panjang, Tao-ah.” dengan gemas kucubit hidung Tao. Anak kecil yang sedang berada di gendonganku itu tertawa lepas dengan hidungnya yang memerah.

“bagaimana kalau kita jalan-jalan ke tempat lain, Yoona-ya?

“taman bermain, appa!

Matahari sudah tenggelam. Tapi, maupun aku dan Tao sama sekali tidak merasa lelah. Walaupun Yoona berkata bahwa ia baik-baik saja, aku tahu bahwa ia kelelahan. Wajah cantiknya itu makin tirus.

Sesaat, aku benar-benar tidak ingin keluarga kecilku ini pergi. Aku benar-benar ingin tetap bersama Yoona dan Tao untuk selamanya.

gomawo, oppa. Sebenarnya Tao sangat menginginkan jalan-jalan seperti ini dengan kita. Mungkin, kita terlalu sibuk untuk melakukan hal ini, kan?”

“aku yang seharusnya berterimakasih karena kau dan Tao tetap berada di sisiku sampai hari ini.”

 

REGRET

 

Hari terakhir.

Tao sudah pergi ke sekolahnya dengan jemputan dan tersisalah aku dan Yoona di rumah. Rasanya berat untuk menggendong Yoona walau hanya selangkah ke depan.

“maaf aku tidak pernah memerhatikanmu lagi, Yoona-ya. Kita telah kehilangan keakraban kita.”

Aku dapat melihat ia menitikkan air matanya saat itu juga walaupun aku tahu ia berusaha sekuat tenaga agar aku tidak melihatnya.

“Aku pergi dulu, Yoona-ya.”

 

REGRET

 

Kupacu laju mobilku dengan kencang menuju apartemen Krystal. Aku segera turun dari mobilku tanpa sempat menutup lagi pintu mobilku sesampainya di apartemen yang aku sewakan untuk Krystal.

Aku tidak sanggup jika harus memikirkan kembali keputusanku.

“Sehun oppa, apa yang kau lakukan disini? Kau benar-benar tidak sabar sampai-sampai di hari terakhirmu dengan istrimu itu kau kemari? Kau merindukanku, oppa?”

Aku menepis lengan Krystal yang mengalung di leherku. Aku tahu ia terkejut.

“maafkan aku, Krystal. Aku tidak bisa bercerai dengan Yoona.”

“kau sakit, chagi?”

“tidak, Jung Krystal. Tolong jauhkan lenganmu itu. aku benar-benar serius. Aku sadar bahwa kehidupan pernikahanku sangat membosankan itu karena aku sama sekali tidak menghargai momen kebersamaanku dengan Yoona dan Tao, bukan karena aku tidak lagi mencintai Yoona. aku sangat mencintai Yoona, Krystal. Maafkan aku.”

PLAK!

Pipiku memanas saat Krystal mendaratkan tamparannya di pipiku.

“kau jahat! Istrimu tidak akan memaafkanmu kalau dia tahu setiap malam kau disini bersamaku! Pergi!”

Tanpa mengucapkan apapun lagi, Krystal menutup pintunya keras dan aku bisa mendengar isakannya dari luar.

“maafkan aku, Krystal, sungguh.”

I’ll be with you till death do us apart’

Kucium wangi sebuket bunga yang sengaja aku beli untuk Yoona dengan tulisan itu. gelap. Tak ada satupun lampu yang menyala padahal matahari sudah terbenam.

“Yoona?”

Tidak terkunci?

“Tao?”

Kulangkahkan kaki perlahan menuju ruang tengah. Bahkan lampu dalam rumah sama sekali tidak dinyalankan. Kemana perginya Yoona dan Tao?

“Yoona!”

eomma bangunlah!”

Aku segera berlari kencang menuju lantai dua saat mendengar teriakan Tao dari kamar kami. Aku mendapati Yoona sedang tidur di kasurnya dan Tao menangis meraung-raung di sebelah Yoona.

“Tao-ah, ada apa dengan eomma?

eomma tidak mau bangun, appa. Bangunkan eomma, appa!”

“Yoona-ya!

Kuguncangkan tubuh kurus Yoona. Bibirnya yang biasa berwarna pink itu pucat pasi. Oh tidak. Jangan bilang kalau,

yeobo! Bangunlah,”

Secarik kertas meluncur dari nakas yang berada di sebelah kasur kamar kami. Aku mengambil kertas itu dan aku tahu bahwa ini tulisan Yoona.

 

REGRET

 

Sehun oppa,

Terima kasih karena oppa sudah membuat hari-hari terakhirku di dunia menjadi lebih berharga. Terima kasih juga karena oppa tetap menjalankan syarat perceraian yang sudah oppa anggap gila itu.

Maafkan aku. Aku tidak bisa bercerai denganmu karena aku tahu kalau aku  mencintai seorang Oh Sehun dengan sangat. Aku mencintaimu, yeobo. Bisakah aku memanggilmu seperti itu lagi?

Aku ingat saat malam kau menggugat cerai padaku, pada hari itu juga kalau aku tahu aku mengidap penyakit kanker Rahim. Kankerku sudah terlalu parah. Aku ingin memberi tahu oppa hari itu, tapi kau sudah terlebih dahulu mengatakan perceraian padaku.

Saat aku kembali ke rumah sakit, dokter bilang mungkin aku hanya dapat bertahan satu bulan. Hari itu kau tidak pulang dan Tao menghampiriku yang sedang menangis. Ia bertanya padaku apa yang terjadi dan aku bilang bahwa aku baik-baik saja.

Melihat keadaan Tao, aku berharap setidaknya sebelum perceraian kita, Tao bisa melihat bahwa appa dan eommanya sangat menyayanginya. Aku tidak ingin meninggalkan Tao dengan luka yang terlalu dalam karena perceraian kita nantinya.

Maafkan aku karena oppa harus menggendongku padahal kau tahu kalau kau tidak mencintaiku lagi. sejak aku merasakan ada sesuatu yang lain saat kau menggendongku, aku rasa aku bisa hidup lebih lama lagi.

Tapi harapanku pupus sudah saat aku melihat oppa jalan dengan wanita lain. Aku tahu ada hubungan special antara kau dengannya. Sekarang aku sudah tiada , kan, oppa? Jadi kau bebas berhubungan dengan siapapun.

Jagalah Tao dengan baik. Ia sangat menyayangimu, rawatlah ia sampai ia tumbuh menjadi lelaki tampan seperti appa-nya dan menemukan perempuan yang cantik.

Dan oppa, Oh Sehun, jagalah diri oppa baik-baik.

Aku mencintaimu, selamanya.

Oh Yoona.

 REGRET

70 thoughts on “Regret

  1. Sudah pernah baca versi indonesianya, tp tetep nyesek.. Gag tau sm sifat laki2 knp nggak menghargai usaha wanita yg sdh cukup lama mendampingi,, malah dg tdak berdosanya minta pisah and dg mudahnya bilang suka sm wanita lain..gag suka sm laki2 macam gini..

  2. Ni ff kaya nya pernah lihat di film hongkong deh thor tpi aku lupa judulnya,cerita nya sama persis cuma bedanya kalau di film itu happy ending tpi kalau disini sad ending😦 sumpah sedih banget thor😦 tpi bagus kok dapet feelnya🙂
    Keep writing thor🙂😀 mian kalau kepanjangan hehehehe

  3. Sakit…. sakit hatiku berkeping keping.. membaca ff ini membuatku tercabik cabik.. karna virus yoonadict telah menjalar sejak lama dlm tubuhku.. jadinya aku sangattttt sedihhh jika baca ff yg yoona di giniin.. hikss..hiks… feel dpt bgt.. huaaaa mewek abis dipelukan baekhyun..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s