(Freelance) Oneshoot : You are Mine

You are Mine

You are Mine | De_Pus19 | Oneshoot | PG-17

Angst | Romance | Psycho

Im Yoona | Oh Sehun | Seo Joo Hyun

Disclaimer | This story is mine, cast are belong god

Warning | Garing, typo, bad story, and other

Poster by Elevenoliu

Happy reading | Hope you like it

February, 20 2014

“Eonni, kami punya kabar baik” ujar wanita berambut hitam legam itu-Seo Joo Hyun dengan ekspresi menggebu-gebu.

Im Yoona-wanita cantik berambut coklat susu itu meletakkan cangkir kopi yang digenggamnya kini lalu beralih menatap sahabatnya. Tidak ada ekspresi yang bisa dikatakan senang dari raut wajah wanita itu. Terlalu datar dan sulit untuk ditebak. Tapi, sudut bibir wanita itu terangkat. Menciptakan senyuman hambar yang menghiasi wajah cantiknya.

“Apa?” pertanyaan basa-basi yang dilontarkan wanita itu nampaknya belum juga bisa menyadarakan sahabatnya tentang keadaannya kini.

Seohyun menoleh menatap pria tampan-yang tengah terdiam menatap cangkir kopi didepannya-dengan mata berbinar “Aku” pria itu-Oh Sehun-tetap terdiam saat wanita berwajah polos disampingnya melanjutnya kalimatnya “Hamil. Aku hamil, Eonni”

Yoona terdiam beberapa saat mencoba mencerna semua ucapan yang baru saja dilontarkan sahabatnya itu. Seohyun apa? Seohyun hamil? Hah? Siapa yang menghamili wanita itu? Ya, tentu saja suaminya. Oh Sehun. Cih, jadi anak kecil itu juga bisa menghamili anak orang juga?

“Sungguh?” Yoona bertanya sambil menaikkan salah satu alisnya lalu tertawa hambar dan beralih menatap pria-yang sedang tertunduk sambil memainkan jemari kekarnya-sinis.

“Ya. Aku hamil 2 minggu” wanita itu berujar lagi dengan bahagia dan bangga. Tapi nampaknya wanita itu terlalu bodoh untuk menyadari perubahan yang terjadi pada dua orang yang sangat ia cintai. Dia terlalu bodoh.

“Aku ikut senang mendengar kabar kalau kau hamil” Yoona menyesap kopi hitamnya. Iris madunya menatap Sehun tajam “Tapi sebentar lagi, kau akan keguguran” guam Yoona tak jelas. Namun masih bisa terdengar ditelinga pria itu. Sedangkan wanita didepannya, ya… apa harus diperjelas lagi? Wanita itu terlalu bodoh.

Sehun menatap Yoona datar. Tidak ada kilatan amarah yang terpancar dari iris pure hazelnya. Terlalu biasa untuk ukuran suami yang baru saja mendengar ancama halus yang berasal dari bibir mungil wanita berbaju hitam itu. Ia terlihat tidak perduli.

“Bagaimana denganmu Noona?” Yoona mengalihkan pandangannya dari luar jendela beralih menatap pria yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan “Kapan kau akan menikah?” tanya Sehun dengan diakhiri seringai diwajah tampanya.

Sekali lagi. Yoona tertawa hambar. Kali ini ia berusaha untuk tersenyum manis. Berusaha menyembunyikan dirinya yang sebenarnya dibalik topeng tebal yang selama ini dipakainya. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba mencairkan suasana yang mulai menegang.

“Aku? Menikah? Itu tidak mungkin” ia tertawa lagi. Kali ini, ia tertawa lepas. Benar-benar hebat. Wanita itu mulai memainkan sandiwara yang ia buat sendiri. Seohyun tersenyum kecil lalu meraih tangan kurus sahabat yang sangat ia sayangi.

“Kau tentu saja harus menikah. Kau harus menemukan pria yang mencintaimu dan juga kau cintai” nasihat Seohyun. Bodoh. Wanita itu terlalu bodoh dan kolot. Benar-benar aneh. Untuk apa wanita itu menasihati sahabatnya yang tak berhati ini? Hanya buang-buang waktu.

“Aku sudah menemukannya” wanita itu melirik pria berkulit pucat itu “Lalu? Apa lagi yang kau tunggu?” Yoona meyeringai lalu mengalihkan fokus matanya menuju wanita berwajah polos itu “Dia sedang melaksanakan tugas. Setelah tugasnya selesai. Kami akan bersama selamanya”

Seohyun mengangguk mengerti. Ia tersenyum cerah sambil mengaitkan tangannya dilengan kekar milik suaminya. Cih, mencoba mengumbar kemesraan? Didepan seorang Im Yoona. Hah? Hanya akan berakhir sia-sia.

“Lihat kami. Kami menikah karna kami saling mencintai”

Kau tahu Seo Joo Hyun? Kau benar-benar menyedihkan.

June, 2 1998

Jerit dan tangis itu serasa tenggelam ditelan oleh derasnya hujan. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu menahan rasa sakit yang sedang ia rasakan kini. Kaki kecilnya yang biasa ia pergunakan untuk berlari mengejar teman-temannya kini terjepit diantara jok mobil.

Gadis kecil itu menatap kesekeliling. Matanya terasa sangat perih melihat keadaan kedua orang tuanya. Mereka telah tergeletak tak bernyawa. Mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan dan terpental beberapa meter. Dan sekarang, gadis kecil itu dapat melihat dengan jelas sebuah jurang didepannya.

Ia tidak mau mati. Tidak. Ia masih terlalu kecil untuk mati. Tidak. Tidak, ia tidak boleh mati sekarang. Dengan sekuat tenaga gadis kecil itu menarik kaki ringkihnya perlahan. Tangisnya menjadi-jadi saat ia merasakan kaki kecilnya itu mulai mengeluarkan darah segar.

Sedikit lagi dan berhasil. Kaki kecilnya berhasil keluar dari sela sempit itu. Ia menahan nafas saat melihat keadaan kaki kecilnya. Benar-benar mengerikan. Gadis kecil itu menyebarkan pandangannya, mencari sebuah benda yang dapat memecahkan kaca mobil disampingnya. Tapi, hasilnya nihil. Ia tak mendapatkan apapun.

Dengan keberanian yang tidak bisa dibilang banyak, gadis kecil itu menedang kaca mobil yang berada disampingnya dengan kaki kanannya. Tendangan pertama, tidak membuahkan hasil. Malah membuat mobil sedan itu tergoyang. Tendangan kedua, kaca mobil itu mulai retak. Namun, mobil sedang yang ditumpanginya bergeser kearah jurang. Dan tendangan ketiga, kaca mobil itu akhirnya pecah.

Dengan cepat ia menyeret tubuh mungilnya keluar dari mobil itu. Tapi, mobil itu mulai terjatuh kedalam jurang. Setengah tubuh gadis kecil itu masih berada didalam mobil. Dengan cepat ia meraih apapun yang dapat ia gapai saat itu. Jeritan yang begitu menyakitkan itu terdengar lagi.

Gadis kecil itu merintih kesakitan. Merasakan kulitnya tergores kaca jendela. Tapi ia tetap berusaha menarik tubuhnya dengan sekuat tenaga. Ia tidak boleh mati. Tidak, tidak boleh. Dan nampaknya Tuhan masih menyayangi gadis kecil itu.

Gadis kecil itu berhasil selamat seiring dengan terjatuhnya mobil yang baru saja ditumpanginya. Ia menatap sendu mobil itu yang sekarang sudah terbakar bersama dengan jasad kedua orang tuanya. Mereka pergi. Pergi meninggalkan gadis itu seorang diri.

“Im Yoona”

Gadis kecil itu-Im Yoona menoleh keasal suara yang memanggilnya. Ia menatap seorang pria berpakaian serba hitam dengan sebuah payung transparan yang melindunginya dari derasnya hujan. Pria itu menggendong tubuh ringki Yoona dan memasukkannya kedalam mobil.

Yoona tidak menolak. Sama sekali tidak menolak. Ia terlalu lelah hanya untuk memikirkan mau dibawa kemana tubuh ringkinya itu. Mereka melakukan perjalan yang bisa dikategorikan cukup jauh dan berhenti disebuah rumah mewah bergaya klasik.

“Yoona” gadis kecil itu mendongak saat pria yang tadi menolongnya dan mengobati semua lukanya-memanggilnya “Namaku Seo In Ha. Aku adalah sahabat kedua orang tuamu. Itu isteriku, Tiffany Hwang. Dan itu anakku, Seo Joo Hyun”

Yoona tersenyum manis dan membungkukkan badannya “Sekarang kita keluarga”

February, 28 2014

“Kenapa baru datang sekarang?” pria itu tersenyum kecil lalu berjalan pelan menuju wanita yang sedang berdiri didepan cermin itu. Pria itu memeluk Yoona dari belakang “Pasti kau sangat sibuk” lanjutnya.

“Tidak ada kata sibuk jika menyangkut tentang dirimu Noona” pria itu mencium pucuk kepala Yoona dan menatapnya pantulan tubuh wanitanya dicermin “Bagimana jika menyangkut Seohyun?” pria itu tertawa kecil lalu menenggelamkan wajahnya dileher jenjang milik wanitanya.

“Yak, Oh Sehun. Aku sedang bertanya padamu” ujar Yoona sambil mengerucutkan bibirnya lucu. Sehun mendongak lalu tertawa kecil melihat tingkah kekanak-kanakan wanitanya ini. Ia membalikkan tubuh Yoona menghadapnya.

“Kau cemburu?”

“Mana mungkin aku cemburu” elak Yoona.

Tapi, Oh Sehun jauh lebih hebat untuk membongkar kedok seorang Im Yoona. Akting yang meyakinkan itu terlihat bagai sampah didepan mata Oh Sehun. Ia tahu, bagaimana cara menaklukkan hati sedingin es itu. Sehun mengecup singkat bibir tipis wanitanya.

Biasanya cara ini berhasil. Tapi lihat sekarang, tidak ada yang berubah. Yoona malah menatap Sehun tajam. Hey Tuan Oh, wanita didepanmu ini bukanlah gadis berumur 18 tahun yang sedang jatuh cinta. Dia seorang wanita dewasa berumur 24 tahun.

“Jangan menciumku”

“Kenapa? Kau tahu Noona? Aku sangat merindukanmu” Yoona tertawa sinis sambil memukul dada Sehun cukup keras. Hingga sang empunya meringis kesakitan.

“Simpan rayuanmu itu untuk Seohyun”

“Kau benar-benar cemburu?”

“Tidak. Hanya saja, apa Seohyun tidak cukup untuk memuaskanmu? Hingga kau masih memerlukan diriku?” Sehun membelai lembut pipi tirus milik Yoona “Kau adalah candu untukku Noona”

“Hentikan. Bagaimana kalau Seobabymu mengetahui apa yang sedang kita lakukan? Dia pasti akan menangis”

“Seobaby? Hah? Seobaby apanya?”

Yoona kembali tertawa sinis “Bagimana dengan tubuhnya? Pasti jauh lebih bagus dariku”

Sehun tidak menjawab. Ia mendorong tubuh Yoona keatas ranjang lalu menindih tubuh mungil itu. Ia membisikkan “Kau yang terbaik Noona”

July, 15 1998

Yoona menghentikan langkah kaki kecilnya saat indera pendengarannya menangkap suara yang sangat ia kenali. Gadis kecil itu melangkah pelan dan sangat hati-hati menuju sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka itu. Ruang kerja Tuan Seo.

“Kau benar-benar membunuh mereka?” suara seseorang yang tak Yoona kenali terdengar.

“Ya, aku sudah membunuh mereka” jawab seseorang yang Yoona yakini adalah Tuan Seo.

“Kau sungguh kejam. Bagaimana dengan gadis kecil itu?”

“Aku memang kejam. Gadis kecil itu? Yoona maksudmu?”

“Ya, apa kau akan membunuhnya?”

“Kurasa tidak”

“Kenapa? Bukankah dia sudah menandatangani surat perjanjian itu? Surat yang menyatakan seluruh harta keluarga Im jatuh ketanganmu”

“Ya memang benar, gadis bodoh itu sudah menandatangani surat perjanjian itu. Tapi-” Tuan Seo menggantungkan kalimatnya diudara lalu tertawa sinis “Mereka tidak sebodoh yang kupikir. Aku belum bisa mendapatkan seluruh harta keluarga Im sebelum gadis itu berumur 18 tahun”

“Jadi?”

“Jadi, aku masih membutuhkannya”

Gadis kecil itu menahan nafasnya untuk beberapa saat. Kaki kecil itu bergetar begitu hebat. Apa dia tidak salah dengar? Tuan Seo yang dia pikir adalah jelmaan malaikat itu membunuh kedua orang tuanya. Jadi, itu bukanlah sebuah kecelakaan. Tapi, pembunuhan berencana. Tolong seseorang katakan pada gadis kecil itu, bahwa apa yang didengarnya adalah sebuah kebohongan.

Yoona membalikkan tubuhnya. Ia berniat untuk masuk ke kamarnya dan berencana pergi dari rumah ini. Tapi siapa sangaka, saat ia membalikkan tubuhnya, ia terkejut menatap Nyonya Seo yang tengah berdiri dibelakangnya. Wanita cantik berkepala tiga itu tersenyum sinis sambil berdecak pinggang.

“Gadis pintar”

May, 15 2014

BRUK…

Tubuh itu tumbang seketika saat cairan berwarna putih bening itu membasahi tenggorokkannya. Darah segar itu mulai keluar dari selangkangan milik wanita yang sedang tergeletak diatas lantai tak berdaya. Bau anyir seperti bau ikan menyeruak kedalam indera penciuman.

Yoona tertawa senang menatap onggokkan bangkai yang berada didepannya. Tubuh sahabatnya tergeletak tak berdaya didepannya. Kulit Seohyun kian memucat seiring berputarnya jarum jam. Sebentar lagi, wanita itu akan mati.

Yoona menatap Seohyun yang sudah kelihangan kesadarannya dengan tajam. Itulah ganjaran untuk orang-orang yang berurusan dengan Im Yoona. Balasan yang setimpal untuk ukuran wanita jalang seperti Seo Joo Hyun.

“Jangan pernah bermimpi Seobaby. He’s mine, bitch!” ujar wanita itu dengan diakhiri seringai diwajah cantikknya. Ia membalikkan tubuhnya dan berniat untuk membawa onggokkan bangkai itu keluar dari apartementnya. Tapi ia mengurungkan niatnya, saat iris madunya menangkap sosok yang sedang kita bicarakan tadi.

Sehun menatap Yoona dengan tatapan tak percaya. Ia menjatuhkan dua kantung belanjaan yang berisi makanan miliknya “Kau gila, Noona” Sehun berjalan mendekati Yoona lalu mencengkram kedua bahu milik wanitanya itu.

“Apa yang kau lakukan Im Yoona?” tanya Sehun setengah berteriak “Tidak cukupkah kau membunuh kedua orang tuanya?” lanjutnya “Kenapa kau melakukannya lagi?”

Yoona menatap mata Sehun yang tengah menatapnya tajam. Wanita itu merasa bingung. Sehun marah? Oh Sehun marah terhadapnya karna ia menyakiti Seohyun? Sungguh aneh. Bukankah pria itu yang merencanakan semua ini.

“Kau kenapa? Bukankah kita sudah merencanakan semua ini”

“Ya memang, tapi kita sudah sepakat untuk tidak membunuh Seohyun. Setidaknya, jika kau ingin membunuhnya. Kau harus menunggu sampai janin itu lahir”

Yoona tertawa sinis lalu membalas tatapan tajam yang Sehun layangkan “Kau menginginkan janin itu?” tanya Yoona tak percaya. Sehun hanya diam, pria itu mengalihkan pandangannya pada Seohyun “Kau menginginkan janin itu? Hah? Jawab aku Oh Sehun”

Sehun menghembuskan nafasnya berat lalu beralih menatap Yoona lembut “Ya, aku menginginkan janin itu. Benar-benar menginginkannya. Dia darah dagingku, aku tidak mungkin tega membunuhnya”

Yoona hanya diam saat mendengar ucapan Sehun yang benar-benar tidak masuk akal. Sehun menginginkan janin yang dikandung wanita jalang itu? Sungguh bodoh kau, Oh Sehun. Yoona bahkan bisa memberikan lebih dari apa yang wanita jalang itu berikan padamu.

“Setelah janin itu lahir. Kau boleh melakukan apapun terhadap Seohyun. Kau mau menyiksanya bahkan membunuhnya. Aku tidak perduli. Tapi kumohon Noona, jangan sakiti janin tak berdosa itu”

Sehun melepaskan cengkramannya pada bahu Yoona lalu berjalan mendekati tubuh Seohyun yang sudah tak berdaya itu. Ia memeriksa isterinya. Apa dia sudah mati atau belum? Perkiraanya salah, Seohyun masih bernafas. Wanita itu masih bernafas dengan terengah-engah. Dengan cepat Sehun menganggkat tubuh Seohyun dan berniat membawanya kerumah sakit.

Tapi, jangan pernah panggil dia Im Yoona. Kalau Yoona tidak bisa mencegah Sehun. Ia mengambil pisau lipat dari saku celananya lalu mengacungkang pisau itu tepat diurat nadinya “Letakan wanita jalang itu Sehun. Letakan ia ditempatnya”

Sehun tersentak kaget menatap Yoona yang akan melakukan hal yang sangat berbahaya itu. Tidak. Ia tidak mau wanita yang ia cintai itu menggoreskan pisau tepat diurat nadinya. Tidak. Sehun sangat mencintai Im Yoona. Dia tidak mau wanitanya mati.

“Noona, apa yang kau lakukan letakkan pisau itu”

“Pilih aku atau wanita jalang itu” tanya Yoona “Jika, kau tidak memilihku. Maka kau tidak akan pernah melihatku lagi” ancam Yoona.

“Noona, kumohon letakkan pisau itu” ucap Sehun seraya mendekati Yoona.

“Mundur Sehun” wanita itu menekankan pisau lipatnya pada kulit putihnya “Kau pilih siapa Oh Sehun”

Sehun tak menghiraukan ancaman Yoona. Ia berjalan mendekati wanitanya “Aku tentu saja memilihmu, Noona” ia menghembuskan nafasnya panjang saat melihat tubuh Seohyun yang sudah bersimbah darah “Tapi, aku tidak mau kehilangan janin itu”

“Berarti kau memilih Seohyun. Kau lebih memilih wanita jalang itu ketimbang aku. Kau memilih melihatku mati. Jadi itu pilihanmu. Baik, akan aku turuti”

Yoona berniat menggoreskan pisau itu tepat diurat nadinya. Tapi, aksinya terhenti karna sekarang tangan besar pria itu menahannya. Dengan paksa Sehun meraih pisau yang berada didalam genggaman wanitanya dan melemparnya kesembarang arah.

“Mianhe Noona”

Secepat kilat Sehun mengangkat tubuh Seohyun dan berjalan kearah pintu “BERHENTI OH SEHUN. BERHENTI DISITU” teriak Yoona. Tapi, pria berkulit putih pucat itu tidak menghiraukan teriakkan wanitanya. Ia tetap melangkah keluar dari apartement Yoona.

Yoona terdiam mematung ditempatnya. Apa dia tidak salah lihat? Oh Sehun membawa wanita jalang itu. Hah? Ia bahkan masih tidak mempercayai kedua indera miliknya. Dia melihat dan mendengar orang sebejad Oh Sehun menyelamatkan nyawa wanita jalang itu.

Sungguh ironi.

Perasaan wanita itu seakan-akan dibolak-balik. Bagaikan kimchi yang sedang dibumbui. Ia marah sangat marah dengan apa yang baru saja Sehun lakukan padanya. Tapi, wanita itu malah tertawa. Tertawa dengan kencang sambil menatap pintu bercat putih miliknya.

“Jadi, ini maumu” Yoona kembali tertawa. Kali ini ia tertawa sinis “Kita lihat, Oh Sehun. Kau akan kembali padaku, tidak lama lagi”

August, 3 2010

Air dingin dan hangat itu bercambur menjadi satu. Gadis berumur sekitar 20 tahun itu terduduk dinginggir jalanan yang sepi ini. Sendirian. Hanya ditemani derasnya hujan yang membasahi tubuh ringkihnya.

Ia kembali menangis. Menangis tersedu-sedu. Menumpahkah seluruh kekesalan dan amarahnya pada cairan bening itu. Apa salahnya? Apa salahnya Tuhan? Hingga Tuan Seo melakukan hal sekejam itu padanya.

Tidak cukupkah dia membunuh kedua orang tuanya dan mendapatkan seluruh harta keluarganya. Sekarang pria tua bangka itu menjualnya dengan harga yang begitu murah untuk ukuran seorang gadis yang masih suci seperti dirinya. Kenapa? Kenapa nasibnya begitu sial?

Yoona tidak merasakan air hujan yang tadi sempat mengguyur habis tubuhnya. Apa hujan sudah berhenti? Ia mendongak. Gadis cantik itu cukup tersentak kaget saat menyadari seseorang tengah melindunginya dari derasnya hujan.

Untuk ukuran orang yang tidak dikenal, pemuda berseragam sekolah itu sangat baik hati ingin melindungi orang yang tidak dikenalnya seperti Yoona. Walau hanya dengan payung kecil berwarna hitam itu. Sudah cukup membuat hati seorang Im Yoona tersentuh.

Pemuda itu berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Yoona. Ia memberikan senyum terbaiknya untuk gadis cantik didepannya. Wajah tampan pemuda itu dan dengan ditemani senyuman indah yang tertempel disana. Ia berkata “Noona, kau bisa sakit jika duduk dibawah hujan seperti ini”

Kalimat yang sederhana namun sungguh berarti untuk gadis itu. Masih ada orang yang menghawatirkannya. Walaupun, kalimat itu biasa diucapkan. Tapi, sudah cukup membuat gadis berwajah cantik itu merasakan hal aneh didalam sana.

Jantungnya. Jantungnya berdetak abnormal.

Apa dia jatuh cinta?

Apa dia jatuh cinta pada pemilik payung hitam yang tengah melindunginya kini? Jatuh cinta pada pemilik tatapan hangat itu? Jatuh cinta pada pemilik senyuman indah itu? Jatuh cinta pada pemilik wajah tampan itu?

Entahlah. Gadis itu juga tidak tahu.

Suara beratnya-yang bagai segelas capucino hangat dipagi hari itu-menyapa gendang telinganya begitu lembut. Membuat Yoona harus menahan nafasnya beberapa saat. Ia berkata “Namaku Oh Sehun. Siapa namamu, Noona?”

May, 30 2014

Kulit tubuh Yoona sedikit meremang merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Ia menahan nafas saat orang itu menghembuskan nafasnya tepat ditengkuk Yoona dan membisikkan sesuatu “Happy birthday, Noona”

Bang!

Tepat dugaan. Pria bodoh itu pasti akan kembali padanya cepat atau lambat. Jadi apa pria itu tanpa seorang Im Yoona? Tidak sia-sia juga penantiannya selam 15 hari ini. Well, wanita itu tidah hanya menunggu. Ia juga memakai pakaian Sehun selama 15 hari. Seperti hari ini, ia memakai kemeja hitam kebesaran milik prianya itu.

Ia tersenyum kecil merasakan gigitan-gigitan kecil yang dilakukan Sehun pada daun telinga kirinya. Pria itu masih menginginkannya? Bitch! Yoona pikir Sehun sudah cukup puas dengan tubuh wanita jalang itu. Ternyata dugaannya salah. Pelacur kecil itu masih menginginkannya.

Yoona menyelesaikan aktivitas mencuci piringnya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap pria berkulit pucat itu. Membuat Sehun harus menghentikan aktivitasnya yang sekarang sudah membuat telinga Yoona memerah.

“Kau sungguh jalang Oh Sehun. Kemarin kau membela Seohyun dan sekarang kau mendatangiku. Bitch!”

Sehun tertawa renyah. Pria itu tidak tampak memperdulikan ucapan yang baru saja keluar dari bibir mungil itu. Baginya makian yang Yoona lontarkan itu semanis permen kapas. Sehun membelai pipi Yoona lembut lalu menarik wanitanya lebih dekat.

“Tapi, kau menyukaiku kan?”

Sial.

Pertanyaan macam apa itu? Yoona sungguh merasa terjebak dengan pertanyaan yang baru saja dikeluarkan bibir tipis itu. Ya, walaupun Yoona malas untuk mengakui. Ia sangat menyukai pelacur kecil itu. Sehun menyeriangai saat menyadari perubahan air muka wanitanya. Yoona bersemu, bagai seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

Dengan cepat wanita itu merubah ekspresinya dan mengalihkan pembicaraan “Mau apa kau kemari?” tanya Yoona yang mulai menjauhkan tubuhnya dari Sehun. Tapi, Sehun jauh lebih kuat untuk menahan tubuh ringkih itu.

Ia kembali menarik tubuh Yoona kedalam dekapannya dan berkata “Aku kesini hanya untuk memberikanmu hadiah Noona” kening yang porselen itu berkerut sama. Bodoh. Ini kan hari ulang tahunmu Im Yoona. Tentu saja, Sehun akan memberikanmu hadiah.

“Mana hadiahnya?”

Pria berkulit pucat itu menyeriangai lalu mendekatkan wajahnya “Ini hadiahnya” dengan cepat ia melumat kasar bibir mungil milik Yoona. Bibir yang bagikan candu untuknya. Sehun sangat menyukai bibir itu.

Sial.

Kau benar-benar jalang Oh Sehun. Jadi, ini hadiahnya. Pelacur kecil yang satu ini! Berani-benarinya dia memberika hadiah itu untuk Yoona. Bibir yang pasti sudah pernah dipakainya untuk mencium Seohyun. Tak perlu pikir panjang untuk Yoona mengikuti apa yang pria ini lakukan. Membalasnya.

Ciuman itu semakin memanas. Kedua insan itu merasa sekarang sudah benar-benar ada di surga yang mereka buat sendiri. Sehun mengangkat tubuh Yoona dan menggendongnya lalu membawa wanitanya masuk kedalam kamar.

Sehun menghempaskan tubuh Yoona keatas ranjang lalu mendindih tubuh itu. Pria berkulit pucat itu kembali melumat bibir Yoona dengan kasar dan dengan diikuti tangan besarnya yang mulai membuka satu-persatu kancing kemeja yang tengah Yoona pakai lalu melemparnya entah kemana.

Tangan besarnya mulai bergerak liar mengeksplor seluruh lekuk tubuh wanitanya. Membuat sensasi yang begitu membakar saat kulit mereka bergesekkan. Dengan lihai tangan besar Sehun melakukan hal-hal yang lebih pada daerah sensitive Yoona. Membuat sanga empunya mendesah tertahan karna mulut kecilnya telah dimasuki daging tak bertulang itu.

Sehun menghentikan aktivitasnya dan melepaskan tautan bibir mereka. Lalu beralih menatap Yoona. Mata wanitanya serasa bersinar dikegelapan malam. Ia memang tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi yang ditunjukkan wanitanya. Tapi, mata itu menatapnya tajam.

“Brengsek!”

Sehun tersenyum manis. Walaupun ia tahu Yoona tidak bisa melihat senyumannya itu, tapi ia tetap menunjukkan senyuman terbaik miliknya “Aku akan menunjukkan seberapa brengseknya diriku”

Lagi. Pria itu kembali melumat bibir Yoona. Tapi, kali ini ia melakukannya dengan begitu lembut. Membuat wanita berwajah cantik itu enggan untuk tidak membalas ciuman itu. Dan malam yang begitu sunyi itu sekarang ditemani suara ‘desahan indah’ yang beasal dari surga yang mereka buat sendiri.

November, 21 2012

“Noona” wanita itu berdehem pelan tanpa menoleh kearah seseorang yang memanggilnya “Noona, aku menyukaimu” wanita itu berdehem lagi sambil menghentikan langkah kakinya, tapi kali ini ada rasa bingung yang terselip disana.

“Yak, Oh Sehun. Apa yang kau bicarakan?” tanya Yoona sambil memukul kepala pria didepannya dengan cukup keras. Membuat sang empu meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya.

“Noona aku serius”

Yoona membalikkan tubuhnya menghadap pria yang dua tahun jauh lebih muda darinya. Ia tertawa renyah mencoba mencairkan suasana yang sempat menengang tadi. Diluar dugaan Yoona, pria itu tidak ikut tertawa bersamanya. Jadi, Oh Sehun serius dengan ucapannya?

“Kau serius?” tanya Yoona ragu.

Sehun tersenyum sambil mengangguk pelan. Tapi tetap saja, Yoona masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja dilontarkan oleh bocah ingusan didepannya kini. Sehun menyukainya.

Bodoh. Oh Sehun hanya menyukaimu Im Yoona, bukan mencintaimu. Kenapa jantungmu berdetak begitu kencang? Sadarlah Im Yoona.

“Aku juga menyukaimu” ujar Yoona yang diikuti kekehan kecil saat melihat bocah ingusan bertubuh jangkung didepannya mengerucutkan bibirnya lucu.

“Noona, aku serius”

“Aku juga Oh Sehun. Aku menyukaimu karna kau dongsaengku. Sudahlah, aku ingin masuk kelas sekarang”

Yoona melangkahkan kakinya kembali. Berniat menuju kekelasnya. Tapi lagi, Oh Sehun mencegahnya lagi. Ia menarik tangan Yoona dan langsung mencium bibir merah itu. Bibir yang selalu ia ingin cicipi. Sehun melepas tautan bibirnya lalu menatap Yoona yang tengah menatapnya tak percaya.

Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak menutupi wajahnya yang mungkin sekarang sudah bersemu. Oh ya, betapa malunya ia kini. Dengan wajah yang serius Sehun menagkup wajah gadis didepannya-yang mungkin akan menjadi gadisnya nanti-dan berkata “Aku menyukaimu, Noona. Bukan sebagai dongsaengmu. Tapi, sebagai seorang pria yang mencintaimu”

“Sehun” panggil Yoona tak percaya.

Bagaimana tidak? Perasaan baru kemari Yoona menenangkan Sehun karna Krystal berselingkuh dengan Kai. Perasaan baru kemarin bocah ingusan itu menangis didepannya. Dan sekarang, Sehun berdiri didepannya dengan tatapan ehm… seperti ajusshi mesum yang sedang melamar seorang gadis cantik. Ok, abaikan.

“Noona, aku serius”

May, 31 2014

Decitan yang bersal dari pintu bercat coklat itu sangat menusuk telinga. Pintu itu terbuka lebar menampakkan sosok wanita cantik berwajah polos tapi berhati iblis. Im Yoona. Yoona melangkah dengan kemeja putih kebesaran yang dipakainya kini.

Kemeja pria yang sangat dicintainya. Kemeja pria yang tengah tertidur pulas didepannya kini. Ia tersenyum manis diikuti dengan tangannya yang bergerak membelai pipi tirus itu. Tapi, senyumnya menghilang tanpa jejak saat ia menatap bibir itu.

Yoona sangat menyukai bibir tipis itu. Bibir yang selalu membuatnya terlena. Tapi disisi lain Yoona tidak menyukai bibir itu. Bukan bibir itu, tepatnya semua kata-kata manis yang keluar dari sana.

Wanita itu menyibak tirai jendela disampingnya. Membuat cahaya matahari langsung menerangi ruangan yang gelap ini. Dan tentu saja, prianya langsung terbangun karna cahaya matahari begitu menyilaukan pengelihatan.

Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan matanya saat ini. Ia memandang kesekitar. Pria itu menahan nafasnya, ia sangat mengenal tempat ini. Fokus matanya menagkap sosok Yoona yang tengah berjalan sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

“Noona”

“Wae?” tanyanya yang diakhiri dengan seringai diwajah cantiknya.

Sehun menahan nafasnya melihat keadaannya kini. Apa Yoona yang melakukan semua ini padanya? Apa penyakit itu kambuh lagi? Apa Yoona akan menyiksa Sehun lagi?

Ia terduduk disebuah kursi kayu dengan keadaan tangan dan kaki terikat. Dan yang lebih parahnya lagi, ia tidak mengenakan busana. Tak ada sehelaipun benang yang menutupi tubuh polosnya.

“Noona apa yang kau lakukan?” tanya Sehun tenang.

Jujur saja, pria jantan itu begitu takut pada wanita didepannya. Ia tidak mau kejadian satu tahun yang lalu terulang lagi. Waktu itu Yoona begitu marah mendengar kabar kalau Sehun dijodohkan dengan Seohyun karna urusan bisnis. Yoona mengurung Sehun diruangan ini dan dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan keadaannya sekarang.

Wanita itu melampiaskan seluruh kekesalannya pada Sehun. Wanita itu mencabik-cabik tubuhnya bagai onggokkan bangkai. Tanpa belas kasih. Dan seorang Oh Sehun sama sekali tidak membenci Im Yoona sampai detik ini. Dia begitu mencintai wanitanya.

“Melakukan hal yang harusnya kulakukan”

Yoona menduduki dirinya dipangkuan Sehun lalu membelai pipi tirus itu “Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan” Oh Sehun benar-benar mencintai wanitanya dengan sepenuh hati. Bahkan, pria itu masih bisa tersenyum manis saat nyawanya menjadi taruhan.

Yoona mengecup bibir Sehun sekilas lalu ikut tersenyum manis “Aku tidak ingin bermain denganmu Sehun”

Senyuman manis itu menghilang diwajah tampannya. Sehun menampilkan ekspresi terkejut sekaligus sedih. Hey, harusnya pria itu tersenyum bahagia. Yoona tidak ingin bermain dengannya. Berarti Yoona tidak ingin meniksanya.

Tapi itulah masalahnya. Jika, Yoona tidak ingin bermain dengan Sehun. Jadi, wanita itu ingin bermain dengan siapa?

Sehun mengenal baik seorang psikopat seperti Im Yoona. Wanita itu gila dan Sehun tahu hal itu. Wanita itu tidak segan-segan menyiksa bahkan membunuh orang lain dan gunanya Sehun disini adalah menutupi semua kejahatan yang dilakukan wanitanya.

Yoona tidak menganggapnya sebuah kejahatan. Ia lebih suka menyebutnya ‘permainan’. Semua orang butuh hiburan bukan? Begitu pula dengan Yoona. Dia butuh hiburan. Tapi, hiburannya berbeda. Hiburannya adalah menyiksa orang lain.

Mungkin, terdengan keji. Tapi, inilah hiburan bagi seorang Im Yoona.

“Nugu?”

Yoona kembali menyeringai sambil membelai wajah itu “Siapa Im Yoona? Siapa lagi?” tanya Sehun yang mulai tak sabar.

Pria itu ingin sekali menarik Yoona dari kehidupan gelapnya. Tapi siapa sangka, dirinyalah yang membuat wanita cantik itu menjadi seperti ini. Semua berawal dari ide gilanya yang menculik Tuan dan Nyonya Seo, menyekapnya ditempat ini dan membiarkan Yoona meluapkan seluruh kekesalannya.

Yoona menjadi kecanduan dan dia melakukan lagi, lagi, dan lagi pada siapapun orang yang mencari gara-gara padanya. Pria itu, Oh Sehun membiarkannya. Bodoh.

“Kau pasti akan menyukai permainanku kali ini” Yoona berjalan pelan kearah tirai yang memisahkan antara dia dan Sehun dengan korbannya. Lalu menyibak tirai itu.

Demi Tuhan, saat itu Oh Sehun rasanya ingin meledak. Seperti bom waktu. Matanya memanas dan wajahnya memerah. Dia marah. Dia marah melihat siapa yang menjadi korban Yoona selanjutnya.

Seo Joo Hyun.

Isterinya sendiri. Ok, memang Oh Sehun tidak mencintai Seohyun. Tapi hey, mereka sudah menikah hampir satu tahun. Dan lagi, Seohyun sedang menandung darah dagingnya.

“Bagimana kau suka?”

Rahang Sehun mengeras. Ia benar-benar ingin meledak sekarang “Noona, lepaskan Seohyun”

Yoona tertawa kecil sambil berjalan mendekati sahabatnya itu. Ia memandang rendah wanita yang keadaannya sama seperti Sehun. Terikat dan tanpa busana. Tapi bedanya, Seohyun tengah tertidur sekarang.

“Kenapa? Kau mencintainya?”

“Noona, Seohyun tidak salah apapun”

“Jadi, pesona wanita ini telah mempengaruhimu?”

“Bukan itu maksudku Noona”

“Sudahlah Oh Sehun, kau nikmati saja pertunjukkannya”

Yoona berdiri didepan Seohyun lalu mengangkat wajah wanita itu dan menamparnya dengan begitu keras “Bangun” tamparan pertama tak membuat wanita itu terbangun, tamparan kedua membuat Seohyun meringis dan tamparan ketiga wanita itu sudah mendapatkan kembali kesadarannya.

Seohyun meringis saat merasakan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Rasanya begitu sakit dan perih, sebelumnya wanita itu belum pernah merasakannya. Tapi semua rasa sakitnya lenyap begitu saja saat manik matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.

“Eonni”

Yoona tersenyum manis saat melihat ekspresi terkejut yang Seohyun tunjukkan. Wanita itu membelai rambut Seohyun dengan lembut. Tapi sejurus kemudian ia menarik rambut hitam legam itu dengan begitu kasar. Membuat sanga empu meringis kesakitan.

“Eonni. Apa yang kau lakukan?” Yoona melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Seohyun lalu melipat tangannya didepan dada “Melakukan hal yang harusnya kulakukan”

“Apa maksudmu?”

Yoona menyingkir dari hadapan Seohyun. Membuat wanita berperut buncit itu menatap seseorang yang berada dibelakang tubuh Yoona “Sehun” panggilnya. Tepat dugaan, wanita berwajah polos itu sangat terkejut melihat suaminya yang tengah terduduk dengan keadaan tangan dan kaki terikat. Sama seperti dirinya.

“Sehun” tak ada jawaban yang berarti dari pria itu. Sehun lebih memilih diam sambil memejamkan matanya.

“Kau kenal pria itu?” bisik Yoona tepat ditelinga sahabatnya “Dia kekasihku”

Siapa yang tidak terkejut saat mengetahui suamimu adalah kekasih sahabatmu sendiri. Anggaplah ini sebuah melow drama. Tapi ini, kenyataan. Seohyun tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Wanita itu masih tidak percaya ucapan yang baru saja Yoona lontarkan. Baginya itu hanya omong kosong.

“Kau masih belum percaya. Apa perlu kutunjukkan?”

Seohyun mengunci setiap pergerakan Yoona. Wanita itu berjalan menuju suaminya. Iya, Sehun suaminya. Ia percaya itu, tidak mungkin Sehun adalah kekasih Yoona. Tidak, tidak mungkin. Ini semua hanya omong kosong.

Yoona menduduki dirinya tepat dipangkuan Sehun. Jemari lentiknya mulai bergerak menyusuri setiap inci tubuh lelaki pucat itu. Sehun memejamkan matanya sambil mengigit bibir bawahnya. Sangat jelas sekali, pria itu menikmati permainan yang Yoona lakukan.

Yoona menarik tengkuk Sehun lalu mengulum bibir tipis itu. Lagi, pria itu menikmati lagi permainan yang Yoona lakukan. Bahkan sampai membalasnya. Membiarkan Seohyun menonton permainan mereka berdua dengan mata yang berair.

“Sehun” seperti yang sudah diduga, Sehun tidak menjawab “SEHUN !”

“Tenanglah Seohyun. Aku hanya mencium suamimu”

Yoona kembali menoleh kearah Sehun. Pria itu kembali menutup matanya “Hey, kau tak perlu setegang itu. Bukankah kau selalu menyaksikan permainanku? Jadi, santai saja” bisiknya tepat ditelinga Sehun.

“SEHUN… SEHUN JAWAB AKU. APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? APA YANG DIKATAKAN YOONA EONNI BENAR? SEHUN” Seohyun kembali berteriak dengan matanya yang membengkak.

Sehun menahan nafasnya, merasakan seseuatu yang aneh didalam sana. Dia mencintai Im Yoona dan dia yakini akan hal itu. Tapi, ada segelintir rasa takut yang menyelimuti hatinya. Rasa takut mengetahui fakta bahwa nyawa Seohyun akan melayang ditangan wanita yang ia cintai.

Ia takut dan juga bingung. Anggaplah sekarang pria tangguh ini sedang dilema.

Sehun membuka matanya, fokus matanya langsung tertuju pada wanita berperut buncit disana. Air mata dan keringat itu sudah bercampur menjadi satu membasahi wajah cantiknya. Sehun yakin, wanita itu pasti ketakutan, sedih, kecewa dan juga marah.

Ingin sekali Sehun berbohong kepada wanita itu dan berkata ‘April Mop’. Tapi, ini bukan bulan april dan Sehun tidak mungkin mengatakan hal bodoh seperti itu pada Seohyun. Apa yang harus dikatakannya? Apa dia hanrus jujur atau berbohong? Sehun bingung.

“Sehun”

Sehun menoleh keasal sumber suara yang baru saja berdengung didalam gendang telinganya. Pria itu menatap Yoona yang tengah ada didalam pangkuannya. Wanita cantik itu tersenyum hangat membuat Sehun merasa debaran jantungnya yang tak beraturan itu.

Ia merindukan senyuman hangat itu. Ia merindukan tatapan hangat itu. Ia merindukan Yoona yang dulu. Yoona yang ia kenal. Yoona seorang malaikat pelindung. Bukan Yoona seorang psikopat atau iblis. Yoonanya.

“Ya, semua apa yang dikatakan Yoona Noona benar” entah setan apa yang merasuki tubuh pria itu. Sehun berbicara terlalu jujur. Apa dia tidak memikirkan perasaan Seohyun?

Yoona tersenyum manis pada Sehun lalu berucap ‘Gomawo’ tanpa suara. Ia bangkit dan berjalan kearah wanita yang sangat dibencinya itu lalu berhenti tepat dihadapannya “Kau sudah mendengar semuanya kan? Aku tidak berbohong”

Seohyun merasa hatinya hancur berkeping-keping saat itu juga. Bagai batu prasati, ia begitu rapuh dan mudah hancur. Seohyun masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Itu hanya kebohongan bukan? Katakan padanya itu hanya sebuah kebohongan.

Masih dengan khayalannya satu detik yang lalu. Semua ini adalah kenyataan. Kenyataan hidupnya yang begitu pahit. Ia sempat berpikir ‘Sebodoh itu kan dirinya? Hingga ia tidak menyadari hal segamblang itu’ ya… mungkin ia memang bodoh.

Kalian boleh menganggapnya bodoh sekarang. Karna ia juga telah mengakuinya.

Ia bodoh, kolot, dan juga buta.

Kenapa tak pernah terlintas diotaknya ‘Apakah Oh Sehun mencintainya?’ kenapa pertannyaan itu tak pernah telintas diotakknya. Sepolos itukah dirinya? Hingga ia begitu percaya dengan semua sikap dan kata-kata manis yang pria itu tunjukkan padanya.

“Kenapa?”

Seohyun mendonggak menatap wanita yang memakai kemeja putih kebesaran itu. Seohyun kenal kemeja itu. Itu kemeja kesayangan Sehun, begitulah kata pria itu. Seohyun sangat mengenal kemeja itu apalagi terdapat sebuah bordiran berinisial ‘SJH’ dipojok bawah kiri kemeja itu. Tidak salah lagi, kemeja itu pemberiannya.

Dia yang memilih kemeja itu. Dia yang membeli kemeja itu. Dia yang membordir inisial namanya dikemeja itu. Dia sangat tahu Sehun sangat menyukai kemeja itu. Bahkan, pria itu tidak membiarkan kemejanya dikotori noda sekecil apapun. Dan dengan mudahnya, Sehun memberikan kemeja itu pada Yoona.

Harusnya dia. Harusnya dia. Harusnya dia. Bukan Im Yoona.

“Kenapa kau… kau… KAU MELAKUKAN SEMUA INI PADAKU? APA SALAHKU?” awalnya suara itu terdengar lemah tapi lama kelamaan suara itu mulai meninggi.

Ia tidak pernah melihat hal itu sebelumnya. Yoona tertawa sinis padanya. Dia tidak mengenal Yoona yang sekarang berdiri didepannya. Siapa dia? Yoona yang ia kenal tidaklah seperti ini.

“Kenapa?” Yoona tetawa “Kau bilang ‘kenapa?’. Harusnya kau tanya itu kepada orang tuamu. KENAPA MEREKA MEMBUNUH KEDUA ORANG TUAKU? KENAPA MEREKA MENGGAMBIL SELURUH HARTA KELUARGAKU? KENAPA MEREKA MENJUALKU? DAN KENAPA MEREKA MENGGAMBIL SATU-SATUNYA ORANG YANG KUCINTAI DIDUNIA INI? KENAPA? KENAPA? HARUSNYA KAU BERTANYA KEPADA MEREKA. KENAPA?”

Seohyun terdiam. Wanita berperut buncit itu masih mencoba mencerna setiap kalimat yang baru saja dilontarkan Yoona. Dia… dia masih tidak percaya. Tidak mungkin, tidak mungkin kedua orang tuanya melakukan hal sejahat itu kepada Yoona. Tidak mungkin.

“Kau tidak percaya kan?”

“Tidak mungkin, eonni. Tidak mungkin Appa dan Eomma melakukan semua itu kepadamu. Kau pasti berbohongkan?”

Seohyun sadar apa yang baru saja ia tanyakan adalah pertanyaan bodoh. Harus ia akui sikap kedua orang tuanya kepada Yoona tidak sebaik sikap mereka kepadanya. Tapi, tidak mungkin orang tuanya sekejam itu. Ia masih tidak percaya.

“Kau boleh mengambil semuanya dariku. Tapi, tidak boleh Oh Sehun. Dia milikku, bich!”

Seohyun tertawa kecil “Dia suamiku”

“Tapi, dia tidak mencintaimu”

Lagi. Seohyun hanya bisa diam. Sehun tidak mencintainya? Benarkah itu? Tentu saja, bodoh. Kalau Sehun mencintaimu, Sehun tak akan pernah melakukan semua ini padamu. Tapi, rasanya Seohyun masih tidak bisa percaya dengan semua kenyataan ini.

“Benarkah itu Sehun? Kau tidak mencintaiku?” lirih Seohyun.

Apa salah Seohyun? Pertannyaan itulah yang selalu teriang dipikiran Sehun selama beberapa bulan ini. Tepatnya saat ia mengetahui fakta bahwa Seohyun hamil. Hamil darah dagingnya. Terkadang Sehun berpikir ‘Kenapa bukan Yoona? Kenapa harus Seohyun? Kenapa Seohyun yang hamil?’.

Entahlah.

Semua terasa sia-sia saat wanita berkulit putih pucat itu hamil. Semua rencana yang mereka susun dengan sangat apik itu seakan hancur begitu saja. Senyuman hambar yang selalu tertempel diwajahnya, sekarang terganti dengan senyuman manis yang tulus semenjak gendang telinganya mendengar : ‘Aku hamil Sehun’.

Sehun sadar, ia mencintai Im Yoona. Sangat mencintai wanita gila itu hingga ia tega melakukan semua ini demi Yoona. Tapi, ia juga tak bisa mempungkiri perasaan hangat yang mendekap hatinya saat melihat senyuman itu terukir diwajah isterinya.

Apa dia mencintai Seo Joo Hyun? Apa dia mencintai isterinya sendiri?

“Aku memang mencintai Yoona Noona. Tapi…” Sehun menggantungkan ucapannya diudara. Ia mengambil nafas panjang sebelum akhirnya ia mengatakan “Aku juga mencintaimu Seo Joo Hyun”

Bang!

Yoona merasa hatinya tercabik-cabik saat itu juga. Ia merasa sakit, sakit yang amat dalam. Hah? Seorang Im Yoona sakit hati? Seorang psikopat yang tak berhati seperti Im Yoona sakit hati? Jadi, wanita itu juga bisa merasakannya.

“Apa? Apa yang baru saja kudengar?” Yoona berjalan mendekati Sehun “Kau mencintai wanita jalang itu”

Sehun terdiam. Tak ada respon yang berarti dari pria itu selain membalas tatapan Yoona “KATAKAN PADAKU OH SEHUN” teriak Yoona.

“Aku lelah Noona. Aku juga ingin hidup dengan normal seperti pria lain diluar sana. Aku lelah”

Yoona mengeluarkan tawa sinisnya. Mwo? Lelah? Oh Sehun lelah? Sungguh konyol.

“Eonni” panggil Seohyun lembut.

“Tutup mulutmu bich” Yoona kembali tertawa sinis “Kau lelah? Kau ingin hidup normal? Baiklah, akan kuturuti”

Yoona berjalan kesebuah lemari besi yang cukup besar disudut ruangan ini lalu membukanya. Lemari itu berisi berbagai macam senjata. Mulai dari pistol, pisau, kapak, pedang, dan panah. Ia nampak menimang-nimang sebentar sebelum akhirnya ia memilih sebuah pisau kecil.

“Kau ingin hidup normal?” Yoona berjalan kehadapan Seohyun “Aku juga”

“Aaaa…”

Jeritan itu terdengar saat Yoona mengayunkan pisau kecilnya kearah paha Seohyun. Wanita itu merintih kesakitan, ia merasa begitu kesakitan saat pisau kecil itu merobek jaringan kulit epidermisnya.

“Noona hentikan”

“Hentikan? Bukankah kau ingin hidup normal? Aku juga ingin Sehun. Dia adalah korbanku yang terakhir”

“Kumohon Noona. Lepaskan Seohyun”

“Kalau aku tidak mau?”

“Aaaaa…” ayunan kedua tepat diperut buncit wanita itu.

“AKU AKAN MELAKUKAN APAPUN UNTUKMU”

“Kau memang selalu melakukan apapun untukku”

“Aaaaa…” ayunan ketiga tepat didada wanita itu.

“NOONA, KUMOHON” jerit Sehun.

“Aku tidak mau”

“NOONA…”

Yoona kembali mengayunkan pisau kecilnya-yang nampak tak berbahaya itu-ketubuh sahabatnya. Ia mencabik-cabik tubuh wanita berwajah polos itu tanpa belas kasih sedikit pun. Tanpa ada rasa bersalah atau ekspresi sedih yang ditunjukkan mimik wajahnya.

Datar dan sulit ditebak.

Sesekali ia tertawa mendengar jeritan Seohyun yang sungguh memilukan. Atau mendengar permohonan Sehun untuk menghentikan semua ini. Tapi, nampaknya Yoona tidak perduli. Sama sekali tidak perduli.

Menurutnya, ini sangat menyenagkan.

Yoona berjalan mengambil sebuah pedang dilemari besi itu lalu berdiri tepat dibelakang Seohyun. Tubuh wanita berwajah polos itu sekarang terlihat sungguh mengerikan. Dengan puluhan atau mungkin ratusan luka tusuk disekujur tubuhnya.

Wanita itu menatap tubuh Seohyun-yang sudah mandi darah dengan-jijik. Ugh… lihat siapa disana. Seo Joo Hyun! Wanita yang selalu diagung-agungkan oleh ribuan pria diluar sana. Dan sekarang lihat, wanita itu bagai onggokan bangkai busuk.

“Ada kata-kata terakhir?” bisik Yoona tepat ditelinga Seohyun.

Seohyun hanya diam tidak menjawab pertannyaan yang baru saja dilontarkan sahabatnya itu. Sahabat? Mungkin kita harus menggantinya menjadi musuh sekarang. Dia sudah terlalu lelah hanya untuk menjawab pertanyaan yang tak penting itu.

“Tidak ada? Baiklah”

“Aaaa…” teriak Seohyun saat pedang panjang itu terancap tepat dijantungnya. Dan seketika jantung itu berhenti berdetak.

“SEOHYUN”

Yoona tersenyum kecil dan melempar pedang panjang itu kesembarang arah lalu berjalan kearah Sehun. Pria berwajah tampan itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat mata dan kepalanya. Ia… ia tidak percaya.

“Sehun” panggil Yoona lembut “Kau kenpa? Hm…” lanjutnya sambil duduk dipangkuan Sehun dan membelai pipi tirus itu.

Sehun mengalihkan fokus matanya yang tadi menatap Seohyun beralih menatap Yoona. Ia menatap Yoona tajam, mungkin ini bisa dikatakan untuk pertama kalinya. Yoona sadar, Sehun marah. Sangat marah padanya.

Tapi ia, tidak perduli.

“Menjauhlah dariku iblis” geram Sehun.

Yoona tetap tersenyum manis. Seakan-akan ia tidak mendengar kalimat kasar yang baru saja dilontarkan pria berkulit putih pucat itu “Katakan padaku bahwa kau mencintaiku”

“DASAR GILA. AKU TIDAK MENCINTAIMU”

“Katakan padaku bahwa kau mencintaiku” pintahnya sekali lagi.

“AKU TIDAK MENCINTAIMU. AKU MEMBENCIMU. DASAR IBLIS. AKU MENCINTAI SEO JOO HYUN”

Yoona terdiam beberapa saat, senyuman manis yang tadinya tercipta dibibir tipisnya kini menghilang. Ia sudah memperkirakan bahwa suatu hari nanti hati pria itu akan berpaling darinya. Dan perkiraannya akhirnya terjadi juga.

Ia tak dapat mempungkiri tatapan hangat itu. Ia tak dapat mempungkiri senyuman manis itu. Ia tak dapat mempungkiri kata-kata manis itu. Ia tak dapat mempungkiri kasih sayang tulus itu. Dan ia tak dapat mempungkiri fakta bahwa pria yang sangat dicintainya, mencintai orang lain.

Seo Joo Hyun, kau sangat beruntung.

Yoona kembali tersenyum dan menatap hangat Sehun “Aku tidak membutuhkan cintamu. Aku membutuhkan dirimu”

Tapi seorang Im Yoona, tidak membutuhkan semua itu.

“Because, You are mine”

~End~

Ff ini pernah dipost diblog pribadiku

http://desypus19.wordpress.com

Jangan lupa komennya

77 thoughts on “(Freelance) Oneshoot : You are Mine

  1. Sumpaaaahh,,, deg degan bacanya,, gag da rasaa kasian sedikitpun ma seohyun,, mlah lbih kasian ma yoona,, hwaaa,, bner2 pengen da lnjutan buat ff nee,, asli 1000 jempol dah buat ff nee,

  2. Endingnya agak gantung gmn g-t… Hehehee
    Soalnya nasibnya yoona sma sehun g jelas., tpi yoona bner2 sadis., pdhl ps d tahun 2012 itu yoona msih bloom sadis…
    Keren bgtzz nie FF.., d tunggu FF2 yoonhun yg laen….

  3. Wah jarang2 nemu ff yoonanya jadi psyco kyk gini wkwkwk aduh lucu aja kalo ngeba ya ngin yoona jd psyco haha ditunggu sequelnya unnie

  4. Daebak, sadis bener thor, nggak kuat bacanya. Hahaha, wah ini butuh sequel thor. wajib. Bikin momen romantisnya Sehun sama Yoona dong thor. Mudah-mudahan yoona cepetan sadar. Fighting unni

  5. Yoonanya psycho? Keren…
    Buat sequel nya dong thor..
    Biar tau nanti hubungan yoonhun gimana..
    Adain orang ketiga juga ( kalo bisa sih luhan )
    Keep writing ya thor..

  6. Bagus bagus banget malah
    Jujur ya ini di luar perkiraan ku banget
    Gak nyangka yoona jadi psycho berat gini
    Agak kecewa juga sad ending
    Tapi thor yang paling bikin gak rela tuh ya yang PALING gk rela itu kenapa sehun nya jadi suka ama seo
    Pokok nya sequel wajib ini buat yoonhunnya barengan ya YA itu sih mauku

  7. mian q ga begitu suka ff ini….ini mah kyak shipper sehun-seohyun…and I hate it..sorry
    q big fan sehun-yoona..so buat ff yg ga begitu menonjolkan shipper lain donk..

  8. Mwo? Ini gilaaa… Tp daebak. Neomu neomu daebak+TOP bnget.
    Aku kshan lhat yoona kyak gt. Truz d.akhr critanya td, sehun mencintai soehyun? Sehun kw iblis😥 sharusx kw hanya cinta sja dgn yoona😥 #nangis breng Lay
    thor, sequel jebal. Bwt, yoona sdar n hdup n0rma, bhagia, romantic dgn sehun❤
    I like it

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s