Fallen Angel

Fallen Angel

Title    : Fallen Angel

Author  : Berries (@berries_cocoa)

Length : Drabble

Rating  : PG-13

Genre  : Sad, Romance, Angst

Main Cast :

  • Yoona SNSD
  • Luhan EXO-M

Disclaimer : Cerita ini hanya fiksi dan apabila ada kesamaan cerita itu adalah ketidaksengajaan atau hanya terinspirasi.

Author Note : Annyeonghaseyo *bow* Cerita ini di ambil dari komik “Fallen Angel by Takamiya Satoru”. Dengan beberapa kata-kata yang diganti maupun di tambahkan. Dan jalan cerita yang sedikit diubah.

Please Don’t Bash ya, Sorry For the TYPO and Don’t Be A Plagiator.

Dengan sangat, author mohon tinggalin jejak ya

Happy Reading!!!

Follow ask.fm and Instagram : berries_cocoa

Mind to listen my soundcloud : berries_cocoa

 Visit my personal blog

Cocoafanfiction.wordpress.com

Credit Poster : Trimisu@HSG

**

Surga memang indah…

Namun tidak seorangpun tahu, ada malaikat yang bekerja sebagai pegawai kantoran

Dan…Banyak juga yang turun ke Bumi

“Ugh… Berat” kataku ketika menaiki tangga sekolah dengan begitu banyaknya tumpukan buku di tanganku. Mau bagaimana lagi, aku kasihan melihat Kim seonsaengnim yang sudah tua membawa buku sebanyak ini.

“Eh… “ tanpa sadar aku kehilangan keseimbangan begitu menaiki anak tangga selanjutnya. Aku menutup mataku berharap tidak merasakan sakit ketika terjatuh walaupun itu tidak mungkin.

Tunggu…

Aku merasa ada seseorang yang menahanku dari belakang agar tidak terjatuh. Aku membuka mataku perlahan untuk melihat siapa orang tersebut.

“Luhan” ucapku ketika melihat siapa orang yang menahanku itu. Kemudian aku membetulkan kembali posisiku.

“Kau sering terpeleset ya” Aku hanya tersenyum lalu mengangguk.

“Bawaanmu banyak sekali” ucapnya begitu melihat tumpukan buku di tanganku.

“Oh, ini punya Kim seonsaengnim. Aku kasihan lalu aku menawarkan diri untuk membantunya” jelasku.

“Tapi dia kan lebih kuat darimu”

“Tapi kalau dibantu pasti senang kan” ucapku sambil tersenyum.

“Euhm… Kalau begitu biar aku yang bawa” dia lalu mengambil semua buku di tanganku.

“Kalau dibantu pasti senang kan” Luhan kembali mengulang ucapanku disertai dengan senyumnya.

“Gomawo” balasku, kenapa rasanya ada yang aneh. Aku lalu memegang dadaku.

**

Malaikat baru lebih sering ada di Bumi karena sayapnya lemah dan tidak bisa terbang jauh….

Begitu pula diriku… 

Aku memasuki apartmen tempat aku tinggal “Eh, tugas pertamaku” ucapku semangat begitu melihat ada selembar kertas dengan sehelai bulu putih.

“Hari ini jam 7 malam. Tempatnya tidak terlalu jauh” jelasku ketika membaca isi dari gulungan kertas tersebut.

Tugasku mengabarkan kematian pada manusia…

Lalu membimbing arwahnya masuk surga dengan damai…

Tidak semua malaikat yang mengabarkan kematian adalah malaikat yang bersayap hitam atau lebih dikenal dengan malaikat kematian. Tidak.

Aku menjentikkan jariku dan seketika aku telah memakai mini dress berwarna putih. Ya, seragamku ketika akan bekerja.

“Selesai! Mari bekerja!” ucapku lalu mengepakkan sayapku.

Aku harus semangat.

**

“Lihat! Kecelakaan!”

“Anak SMU ya” ucap orang-orang di sekitarku. Tanpa kupedulikan mereka aku terus terbang.

Aku lalu berdiri di dekat manusia yang akan aku bimbing arwahnya. Namun ketika aku mendekat…

Luhan ?! Tidak mungkin

Benar, itu Luhan. Aku tidak menyangka manusia itu adalah Luhan. Aku mendekatkan tubuhku padanya.

Dia menatapku ?

“Dia masih sadar! Cepat panggil ambulance!” teriak orang-orang disekitarku namun aku tetap tidak peduli aku terus menatap Luhan.

Biasanya manusia biasa tidak bisa melihat wujudku ini…

**

“Apa yang kau lakukan ?!!!!” teriak Ketua tepat dihadapanku. Tanpa sadar aku sudah berada di Surga dan mendapatkan omelan dari Ketua.

“Kenapa gagal membawa dia hah ?!!” teriaknya lagi.

“Mianhamnida” ucapku menyesal sambil menundukkan kepalaku.

“Lain kali harus berhasil”

“Gamsahamnida” balasku.

“Dan satu lagi” ucapnya dan berhasil memubuatku menatapnya.

“Aku yakin kau sudah dengar ini berulang kali. Jangan menangis di tempat kejadian. Dilarang meneteskan air mata”

“Iya, aku tahu. Memangnya kenapa kalau menangis Ketua ?”

“Sirkulasi arwahnya akan berantakan” jelasnya

“Kau mengerti kan ?” aku mengangguk.

Sirkulasi arwah ?

**

“Luhan, kau kenapa ?” mendengar nama itu berhasil membuatku menatap seseorang yang sedang dibicarakan itu.

“Aku kecelakaan” jawab Luhan pada Baekhyun, teman sekelas kami.

“Makanya hati-hati” ucap Baekhyun lalu merangkul Luhan.

“Gomawo” aku hanya bisa menatapnya khawatir.

**

Aku tak mungkin membawanya…

Bagaimana ini ?

“Belum pulang ?” aku sedikit tersentak mendengar suara seseorang yang sangat kukenali ini. Aku menatapnya, lagi, dengan khawatir.

“Yoona” panggilnya lalu mendekatkan wajahnya dengan wajahku “Kuperhatikan setiap melihatku, kau seperti mau menangis”

Luhan menghela nafasnya kemudia menjauhkan wajahnya, menatap ke atas dengan bersandar pada meja dibelakangnya “Pasti aku punya salah ya ?”

“Ah… tidak. Sungguh” ucapku sedikit panik ketika mendengar ucapannya.

“Aku tanggung jawab deh” dia lalu menatapku.

Entah kenapa, lagi, dada ini terasa aneh.

**

“Waahhh!! Cantik sekali!!!” ucapku semangat begitu melihat pemandangan dihadapanku saat ini. Di tepi sungai Han, melihat matahari tenggelam.

“Ini tempat rahasiaku” ucap Luhan.

“Benarkah ?”

“Tidak, aku bercanda” menyebalkan sekali manusia disampingku ini. Aku lalu menatapnya dengan tatapan kesalku.

Luhan tertawa begitu melihat ekspresiku “Tapi kamu orang pertama yang aku ajak kesini” ucapnya sedetik kemudian wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu dan kurasa itu bukanlah hal yang membahagiakan.

Wajahnya terlihat sendu…

“Luhan” panggilku.

“Hem ?” jawabnya tapi…

BYUURR

“Hei, Im Yoona!” teriaknya kaget begitu melihatku tidak ada disampingnya.

BYUURR

Dia menyelamatkanku…

“Kau kenapa ? Kenapa bisa jatuh ?” tanyanya lalu menahanku agar tidak tenggelam.

“Uhuk… Uhuk… Ta.. tadi aku terpeleset” jelasku lalu menatapnya, berusaha tenang.

“Bisa berdiri ?”

“Ti.. tidak” jawabku.

“Baiklah, aku akan menggendongmu”

Dia mengangkatku… dan badannya terasa hangat…

“Jangan membuatku takut lagi ya”

Dia bicara soal kecelakaan ? Atau dia memang melihatku saat itu ?

Kalau saat itu arwahnya sudah terpisah dari tubuhnya, mungkin dia bisa melihat wujud malaikatku. 

“Yoona” panggilnya.

“Ya ?” dia menatapku dalam.

“Dadamu…. Menyentuh pundakku”

1 detik….

2 detik….

3 detik….

Dada ? APA?!!

“Turunkan aku !!!!” teriakku

“Hei! Jangan pukul aku!!”

**

“Lain kali ke pantai saja ya… Supaya kau tidak tercebur lagi” ucapnya dengan nada mengejek. Menyebalkan.

“Tidak lagi, kok” jawabku.

“Sampai besok” dia lalu pergi dan aku hanya bisa menatap kepergiannya.

Aku jadi semangat lagi.

Luhan pun sepertinya sehat-sehat saja.

Mungkin…

Dia bisa tertolong…

Setidaknya itu yang kupikirkan walaupun ternyata salah…

**

Lagi…

Selalu saja seperti ini…

Memanggilku secara tiba-tiba…

“Ketua”

“Bagaimana keadaannya sekarang ?” tanya Ketua.

“Ng.. Aku.. ingin bertanya sesuatu” ucapku tidak peduli dengan pertanyaan malaikat dihadapanku ini.

“Apa ?”

“Kalau aku tidak menyampaikan berita kematiannya, orang itu tidak akan mati kan ?”

“Jangan salah paham” aku menatapnya tidak mengerti.

“Bukan kita yang menentukan hidup mati seseorang. Diberitakan atau tidak, orang itu akan tetap mati. Ini cuma masalah waktu saja”

“Lalu apa gunanya malaikat pengabar kematian ?!!” tanyaku sedikit meninggikan suaraku.

Entah kenapa wajah Ketua berubah sendu. Aku hanya diam menunggunya menjawab pertanyaanku.

“Menjemput arwah yang meninggalkan Bumi, itu saja” aku hanya diam menunggu kelanjutan ucapannya “Malaikat yang tidak menjalankan tugasnya akan musnah”

**

Aku terus memikirkan kata-kata Ketua. Apa yang harus kulakukan ?

“Ah, yang benar ?!” aku menatap teman sekelasku, Hyoyeon yang sedang berbicara dengan Sooyoung.

“Iya, benar kok. Luhan pingsan”

Pingsan ?

**

BRAK

Aku membuka kasar pintu ruang kesehatan sekolahku.

“Yoona ?”

“Kau… Sakit ?” tanyaku begitu melihat wajahnya.

“Ah… Tidak apa-apa. Aku harus menunggu dokter dulu, kau ke kelas saja duluan” jelasnya.

Khawatir, itulah yang kurasakan saat ini. Luhan terlihat tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat. Dia seperti menahan rasa sakit.

“Baiklah”

Hanya bisa mengabarkan kematian.

Hanya itulah arti keberadaanku disini…

**

“Emm… Aku tertidur” sadarku ketika melihat langit yang telah gelap. Aku melihat selembar kertas disertai dengan bulu putih indahnya. Sama seperti saat aku menerima tugas pertamaku.

Aku membacanya, tanganku bergetar ketika membaca isi kertas tersebut.

Aku mendengar suara Ketua tepat ditelingaku. Seperti suara bisikan namun tidak ada Ketua disampingku “Kali ini harus berhasil, mengerti ? Xi Luhan harus mati. Pergilah“

“Baik” jawabku.

Bukan ini yang kuperlukan

Aku ingin kekuatan…

Aku ingin kekuatan, kekuatan apapun…

Agar aku bisa menyelamatkanmu…

**

“Luhan!” panggilku ketika sudah berada dihadapannya dengan wujud malaikatku.

“Ternyata benar” dia menatapku dengan senyumnya “Saat itu kau gagal membawaku kan ?”

Luhan menyandarkan kepalanya di dadaku, matanya terpejam “Kali ini… Kau… Pasti bisa…” dingin… tubuh Luhan terasa dingin…

“Luhan…” panggilku namun tidak ada jawaban.

“Jangan pergi! Jangan mati!”

Air mataku mengalir begitu saja tanpa kusadari…

Luhan membuka matanya perlahan, aku tersenyum melihatnya.

“Yoona ?”

Jangan pergi.

Jangan mati.

Akan kuberikan nyawaku.

**

“Oh Sehun”

“Hadir”

“Im Yoona”

“…”

“Tidak masuk ya ?”

“Luhan, mau kemana ?”

“Aku ijin pulang Kim seonsaengnim”

**

“Sedang apa dipantai ? Kau bolos”

“Yoona!”

Aku tersenyum melihatnya meskipun sepertinya dia kaget melihatku.

“Aku dipecat, Luhan” ucapku “Ternyata air mata malaikat bisa memanggil pulang arwah manusia. Tapi tentunya semua jadi berantakan”

“Sayapku dicabut dan aku diusir dari surga. Aku bukan malaikat lagi” aku bisa melihat wajah kagetnya begitu mendengar ucapanku.

“Sekarang… Aku tidak tahu harus kemana aku pergi”

Luhan masih melihatku dengan tatapannya. Terkejut ? Mungkin. Namun sedetik kemudian akulah yang kaget begitu mendengar ucapannya.

“Ikutlah denganku” ucapnya dengan senyuman yang selalu bisa membuat dadaku merasa aneh. Tidak, membuat hatiku merasa bahagia.

Dia mendekatiku lalu menarikku dalam pelukannya. Pelukan hangat yang kusukai. Luhan mendekatkan wajahnya, tangannya menyentuh tengkukku.

Bibirnya menyentuh bibirku. Dan baru kusadari…

Aku mencintainya…

Jangan pergi.

Jangan mati.

Karena kaulah Surgaku.

 

-THE END-

61 thoughts on “Fallen Angel

  1. Hyahhhhh!!!!!! Sweet x!!! OMG…😄 meskipun ini tergolong pendek..tp..aq seneng bngt sm ff x (´▽`ʃƪ) … Nice ff eonnie!!!!!! Fighting bikin ff luyoon yg lain x!!

  2. aku suka banget sama ffnya so sweet banget. tapi, kok kecepetan ya alur ceritanya terus juga kurang banget penjelasannya. hehe… maaf protes. ditunggu ffnya yang selanjutnya

  3. Aku Mencintainya..
    Jangan Pergi..
    Jangan Mati..
    Karna Kaulah Surgaku..
    Ah aku sangat suka kata2 ini. Heheh
    ffnya keren saeng, aku kira LuYoon tdk akan bersatu, tp Yoona berkorban.. Dan itu menyelamtkan Luhan. Nice fanfic n i like it.🙂

  4. ini oneshoot kan ya eon? tapi kenapa di tulisan length nya series? ahh nevermind, yang penting ff ini aku suka, johaa!! simple, gak rumit, mudah dimengerti. good job eonni, daebak!! wating for ur next ff, hwaiting!😉

    • -____-
      Author baru sadar…..
      Maklumin yaa, soalnya author copaste gitu dri ff lainnya bagian yg judul dll itu
      Seriesnya ke bawa, harusnya sih drabble
      Hehe

      Iyaaa niii author juga suka banget paa baca komiknya ^^
      Gomawo udh comment ^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s