Period

poster period

“Apa ketika kulitku mulai mengkerut dan mataku beranjak mengabur, kau masih setia?”

 

Presented by Cicil

starring Yoona and Chanyeol <500words, genre: life, romance rating G

 

 Backsound: Firasat-instrumental

[Plis pake backsoundnya ya^^biar feeling si fiksi berkekurangan satu ini okeh😆]

Bunyi gemeletuk tak ayal memekakan telinga Chanyeol. Belasan kali suara kerikil jatuh ke dalam danau merasuki pendengarannya. Tapi tidak apa, Chanyeol tidak merasa amarah membakar sabarnya barang setitik pun.

Kekasihnya, Im Yoona baru saja datang sejemang yang lalu—ditemani raut kusut dan kelopak mata membengkak. Chanyeol bukannya kekasih yang buruk lantaran tidak mempertanyakan apa gerangan sang gadis tampak lusuh hari ini, ia hanya memberi sedikit ruang pada Yoona guna melampiaskan.

Setelah menunggu sekian ribu dentingan, setelah belasan percik air menggemakan perasaannya. Yoona mulai angkat bicara. Lewat nada rendah, kendati sarat putus asa tampak jelas di setiap getaran aksaranya.

“Ayah dan ibuku akan bercerai.” Decapan sedih melantuntan dengan telak bahwa gadis itu–gadis yang Chanyeol cintai—tersakiti. Sejengkal juga Chanyeol tidak pernah tidak merasa pedih dalam hatinya kala menatap sang kedua manik mulai bergumul dalam tangis dan merah.

Ngilu merambati setiap syaraf hati milik Yoona. Rasanya aneh saat mengetahui ayah-ibumu yang begitu akrab setiap detiknya memutuskan berpisah. Rasanya tidak terdefinisikan oleh kamus manapun, terlalu berbelit tuk diungkapkan dan begitu tabu barang terucap.

Bola mata kelam milik gadis itu berlukiskan kegamangan, berpindai akan kosong pun sunyi. Depakan nafasnya pada udara menggaung keras, Chanyeol dapat melihat kedua iris itu menerawang langit.

“Kadang aku terpesona melihat kakek dan nenek, begitu saling meringkupi dan tampak jelas cinta masih bersemayam pada diri. Apakah setia tidak mampu tinggal dalam benak setiap orang? Kenapa ayah dan ibu tidak bisa saling bertahan, melainkan membiarkan perselisihan memutuskan mereka?”

Satu kalimat, penuh aksara perih, membutakan perasaan Yoona. Barang sedetik, kubu tangisannya dijebol tanpa permisi oleh emosi. Meluap layaknya didihan air, banjir bagai telaga kebiruan.

Chanyeol membeku. Bergeming dalam setiap keberanian untuk berbuat. Ia tidak terbiasa menghadapi kesedihan seseorang—apalagi Yoona hampir selalu tampak menggemaskan dan malu padanya.

Baru saja mulut berhiaskan gigi besarnya terbuka, hendak mengucap kata sabar. Yoona, mengalih pandang padanya, mengaduk setiap jiwa dalam iris Chanyeol sampai jurang terdalam. “Dobi, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya…sedih, aku hanya—“

Dalam pikir Chanyeol, sedih bukanlah setimbun kata yang mampu mendeskripsikan perasaanmu, sedih hanyalah suatu bentuk umum tanpa sarat. Namun Yoona berhenti mengeluh seperdelapan menit yang lalu, seraya hening tercipta membasahi suasana.

Matanya memindai Chanyeol amat pelik, seperti ada jutaan bintang terbujur di sana dan seribu mutiara pasir tersembunyi di baliknya.

“Park Chanyeol,”

“Hmm?”

“Aku memang tidak cukup mampu menerawang masa depan. Namun, apa ketika kulitku mulai mengkerut dan mataku beranjak mengabur, kau masih setia?”

Kenyataannya tidak seorangpun tahu kesetiaan itu apa. Kamu setia mencintainya sampai Tuhan menyuruhmu berpulang, apa itu sebuah keyakinan telak yang tidak hanya diungkapkan oleh bibir semata? Aku tidak bisa tahu perasaanmu padaku, tidak bisa menghitung seberapa besar cintamu-padaku. Tapi, setiakah kau menemaniku sampai tubuh ini kembali pada debu?

From Cicil, thankyou for reading and I hope—you’re really get what true love is.

27 thoughts on “Period

  1. wah author daebak bgt mengemas ceritanya😀
    ditunggu bgt loh thor kisah lain yoona chanyeolnya
    sukses selalu untuk setiap karyamu (y)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s