(Freelance) Unrevealed Story [1]

Unrevealed Story

Unrevealed Story : The Transporter

By Nikkireed

Cast

Lu Han and Im YoonA

“Kita punya tamu?” tanya Yoona begitu aku membukakan pintu taxi untuknya.

Yoona membayar taxi itu dan keluar dengan menenteng sebuah kantong belanja bening dan menggendong sebuah paperbag berisi roti. Aku membantunya membawa 4 plastik kantong belanja. Kami baru saja pulang dari acara berbelanja. Kami hanya berbelanja beberapa minggu sekali karena kami seperti sibuk sendiri sampai tidak ingat kapan kami berbelanja. Dan hari ini lah hari berbelanja itu.

Kehidupan di Beijing, China sangatlah berbeda dengan kehidupan kami sebelumnya – di Seoul, Korea, terlebih untuk Yoona – anak seorang bandar judi terkaya. Kehidupannya berubah setelah Appa-nya ditangkap kepolisian Seoul karena tuduhan penggelapan uang. Ibunya sudah lama meninggal dan setahun sekali ia datang ke pemakaman ibunya.

Dan ia sebatang kara, menyandang status ‘buronan’ seorang milyader – karena Appa-nya kalah taruhan judi dengan seorang milyader – dan disinilah kehidupannya sekarang, bersamaku.

Mwolla. Kalaupun kita punya tamu, pasti tamu ini sombong sekali karena memarkir Porsche Turbo 911 sembarangan.” Aku melangkah terlebih dahulu sampai di depan pintu dan memasukkan password, Yoona membuka pintu menggunakan sikunya karena tangan kami sama-sama penuh dengan belanjaan.

TA-RA!

Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada tamu seperti yang kami bicarakan. Aku langsung berjalan menuju dapur dan menumpahkan kantong belanja tersebut ke meja pantry. Lalu bergegas ke ruang tamu, tidak ada siapa-siapa. Juga tidak ada tanda-tanda seseorang datang.

Yoona mengangkat sebuah amplop berwarna coklat yang ia temukan dilantai dekat sofa. Dengan tulisan capital LUHAN di depan amplop itu.

“Untukmu, Lu.” Yoona menyerahkan amplop tersebut padaku. Ia beralih ke meja pantry untuk merapihkan belanjaan kami.

Aku menerima amplop tersebut dan langsung merobek sisi kanan amplop tersebut.

Sebuah surat resmi. Yang. Menyatakan. Bahwa. Mobil. Sport. Itu. Milikku.

“Apa isinya?” Yoona berjalan ke arahku, melirik surat tersebut dan membaca, “Menyatakan bahwa Porsche Turbo 911 ini milikmu. Milikmu, Lulu-ah? Sejak kapan kau..? Apa? Mobil di depan ini milikmu?” Yoona berteriak. Aku yang awalnya sedikit tercengang dan melamun, tersadar karena pekikan Yoona.

“Entahlah, Yoong.” Aku membolak-balik amplop tersebut. Hanya berisi sebuah surat pernyataan dan sebuah kunci. Tentu saja kunci mobil mengilap itu.

Setelah membuat makan malam, aku berniat untuk menelepon Ahjussi di Seoul. Aku memang ada menitipkan tugas pada Ahjussi. Untuk berjaga-jaga apakah ada pergerakan aneh dari Kim Joon Myun. Ya, Kim Joon Myun, milyader muda, pewaris sekaligus penerus dari Kim Corp – perusahaan tekstil dan fashion terbesar di Korea sedang mengincar Yoona.

Aku sedang berdiri di balkon di depan kamar yang langsung melihat ke arah hutan cemara, menimbang-nimbang untuk menelepon Ahjussi. Udara dingin kota Beijing akhir musim gugur sedikit menggangguku.

“Kau sedang apa?” Yoona memeluk pinggangku dari belakang. Suaranya berbisik di telingaku, walaupun ia sedikit berjingjit.

Aniyeo. Masih penasaran dengan mobil itu.” Aku tersenyum dan berbalik pada Yoona, ia melepaskan pelukannya. “Tidurlah, Yoong.”

Aku menggegam tangan Yoona dan mengajaknya masuk ke kamar, karena terlalu lama berdiri di balkon tersebut pada jam malam bisa membuat giginya bergemeletuk.

Pukul 00.07

Aku belum tertidur. Masih sama terjaga dengan posisi dari dua jam yang lalu. Aku belum sepenuhnya tertidur. Aku perlu menelepon Ahjussi, aku perlu tahu perkembangannya. Bisa-bisa Yoona dalam bahaya.

Aku bangkit dari ranjang King-size tersebut dan meraih telepon genggamku. Aku melirik Yoona yang sudah tertidur pulas di samping, lalu aku menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Ahjussi?” Kataku begitu aku berdiri di balkon, menatapi hutan cemara dan melawan dinginnya udara malam Beijing.

“Luhan? Ada apa? Kau meneleponku di jam seperti ini?” Suara Ahjussi di sebrang sana, terdengar sepi. Apa aku mengganggu waktu tidur Ahjussi? Suara Ahjussi mengingatkanku perbedaan waktu antara Beijing dan Seoul hanya 1 jam.

Mianhata, Ahjussi-ya. Aku hanya ingin bertanya. Apa – “

Kim Joon Myun? Ani. Tidak ada apa-apa dengan Kim Joon Myun itu. Mereka bahkan tidak tahu dimana Yoona sekarang. Oh apakah Yoona baik-baik saja?Ahjussi seperti sudah tahu dugaanku.

“Yoona baik. Tapi kemarin ia sempat merasa sakit. Entahlah, sakit perut katanya.” Aku menjawab dengan enteng. Baguslah jika Kim Joon Myun itu sudah tidak mengejar-ngejar Yoona.

Sakit perut? Kalian baik-baik saja? Maksudku, kau dan Yoona…Ahjussi menggantung kalimatnya di ujung telepon. Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti.

Mwo?” Aku bertanya dengan pelan.

Luhan, coba kau tanyakan pada Yoona, apa dia baik-baik saja.” Suara Ahjussi tertawa, aku semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Ahjussi.

Ne, Ahjussi. Gokchongmasseo, I’ll take care of her.” Aku mendeham-deham. Ahjussi malah semakin tertawa di ujung telepon sana. Apanya yang lucu di situasi seperti ini.

Baiklah jika begitu. Aku akan memantau dari sini. Kau baik-baik disana, eoh?Ahjussi berhenti tertawa. “Dan tanyakan pada Yoona, apakah ia hanya sakit perut biasa.” Ahjussi kembali tertawa lalu memutuskan telepon.

Aku menatap telepon genggamku, tidak mengerti. Ahjussi aneh.

“Yak! Luhan! Sudah jam berapa ini?” Suara Yoona, sedikit melengking di telingaku. Best alarm ever!

Aku bangkit terduduk di ranjang, Yoona berdiri di depan pintu, pasti sudah mandi, bahkan kurasa ia sudah sarapan. Meninggalkanku yang terlambat bangun karena tidak bisa tidur semalam.

Waeyo, Yoong?” tanyaku dengan suara malasku, mataku masih setengah terpejam.

“Bangun, Lulu-ah. Bangun.” Yoona berjalan menghampiriku, meletakan tangannya diatas kepalaku. Mengelusnya sebentar lalu menurun ke leher dan berhenti dipundak.

“Bangun. Kau harus mencari kerja. Ini sudah berbulan-bulan sejak kita terdampar di Beijing dan kau masih belum menemukan pekerjaan.” Omel Yoona, ia berlalu pada hordeng balkon. Yoona menarik tirai balkon tersebut sehingga cahaya matahari masuk dengan sempurna ke kamar.

Aku memeluknya dari belakang. Mencium harum rambutnya yang masih sedikit basah, wangi citrus dan pantai musim panas, lagi.

“Tenang saja, Yoong. Aku pasti menemukan pekerjaan.” Merayu Yoona yang sedang seperti ini tidaklah mudah. Ralat : merayu Yoona tidaklah mudah. Karena Yoona bisa berubah secara emosional mendadak dan terkadang aku tidak siap dengan perubahan suasana yang ia buat itu.

Yoona berbalik dan menatapku dengan mata menyipit, “Kau beruntung kita masih bisa tinggal dirumah lama keluargamu, Lu. Kau harus menemukan pekerjaan, eoh. Aku khawatir dengan Appa disana.” Suara Yoona melemah.

Yoona beralih merapihkan ranjang tersebut. Aku tidak mengerti maksud Yoona, “Tenang Yoong. Ahjussi siap membantu dari Seoul. Ia masih memantau gerak-gerik Kim Joon Myun itu dan ni-Appa sehat-sehat saja disana. Kau tidak perlu cemas.” Kataku menenangkan Yoona yang sibuk melipat selimut.

Yoona mengangguk cepat dan berbalik menghadapku, “Baiklah, cepat sana mandi.” Yoona kembali meletakan tangannya diatas kepalaku lalu menurun sampai pundakku. Dahi kami bertemu dan wajah kami berjarak beberapa centi. Sentuhan-sentuhan Yoona selalu membuatku sedikit bergidik. Bahkan hembusan napasnya memabukkanku disaat seperti ini.

Tiba-tiba Yoona menarik diri sambil tersenyum dan keluar dari kamar. Aku hanya tersenyum meraih handuk dan menuju kamar mandi.

Setelah menikmati sarapan bersama, aku berjalan menghampiri Yoona dan mencium keningnya lalu keluar dari rumah. “Goodluck.” Yoona berteriak dari lantai atas, ia masih sibuk merapihkan kamar.

Sebelum berjalan, aku melirik Porsche Turbo 911 yang masih terparkir manis di halaman rumah. Aku berhenti dan berpikir sejenak. Mobil ini bertulisan atas namaku dan dalam surat pernyataan yang asli itu sudah di tanda-tangani.

Berarti ini mobil miliku. Benarkah? Aku berjalan mendekati mobil mengilap tersebut.

Ah! Mengapa semalam aku tidak bertanya pada Ahjussi? Mengapa semalam Ahjussi hanya menginformasikan tentang Kim Joon Myun sedangkan aku tidak bertanya tentangnya? Mengapa Ahjussi khawatir dengan sakit perut Yoona?

“Aku membawa Porsche ini, Yoong. Kau tunggu dirumah dan jangan kemana-mana, ya.” Aku berteriak di depan tangga sehingga Yoona bisa mendengar.

Yoona langsung berlari keluar dari kamar, “Jinjja? Kau mau membawanya? Kau yakin?” Tangannya membawa beberapa helai sepray, oh ini jadwalnya mengganti sepray.

Aku mendongak ke atas, “Ne, kau tunggu dirumah. Okay?” aku tersenyum melihat rambut Yoona yang sedikit berantakan.

Ia mengangguk sekali dan tersenyum, “Always.

Dan aku berlalu ke ruang tamu untuk mengambil kunci mobil di dalam amplop coklat tersebut.

Aku tidak kagok membawa mobil sport seperti ini. Aku pernah hampir menabrak sepeda saat membawa BMW Convertible milik teman Appa dulu saat umurku 15 sebelum Appa meninggal. Dan BMW X-5 milikku nyaris membunuhku karena bom.

Dan sekarang Porsche Turbo 911 atas namaku. Entah apalagi yang menungguku.

Aku duduk di jok mobil sport itu, setelah sekian lama tidak membawa mobil sendiri, apalagi di Beijing. Inilah pertama kalinya aku membawa mobil disini.

Aku menyalakan mesin mobil dengan hati-hati. Suara mesin halus terdengar samar-samar. Karena ini mobil mahal dan entah orang bodoh mana yang meng-atasnama-kanku.

Tapi sesuatu menarik perhatianku. Ada selembar kertas seperti note dijok disamping. Aku membukanya dengan pelan. Tulisan Hanzi. Dan beruntunglah aku mengerti maksud dari penulisan tersebut.

Terhitung ada dua puluh kalimat dalam surat tersebut. Aku membacanya berulang kali. Mengingat siapa teman lama yang sedikit ekstrim berani mengirimkan surat cinta ditambah dengan kejutan mobil seperti ini.

Apa ini sebuah trik dari Kim Joon Myun? Apa Ahjussi mengetahui sesuatu? Apa –

Suara ketukan di kaca mobil menyentakku kaget dari pikiranku. Aku menjatuhkan surat itu dan menurunkan kaca mobil tersebut.

“Luhan-ah? Kau masih belum pergi?” Yoona berdiri disisi mobil tersebut membawa beberapa sepray di gendongannya.

Aku mendongak dan tersenyum padanya, “Waeyo?”

“Aku ingin menitip ini padamu. Aku malas berjalan kaki, Lu. Bantu aku, ya?” Yoona tersenyum dengan wajah memelas. Sangat menggoda!

Aku mengangguk sekali dan ia dengan girang dan semangat membuka pintu mobil. Lalu menyodorkan semua sepray itu ke gendonganku. Aku kaget menerimanya.

“Ya, Yoona, ini banyak – sekali – ah!” Aku sedikit kesusahan untuk bernafas karena ini bukan hanya sepray, tapi beberapa pakaian kami. “Ya, kau tidak mencuci?” tanyaku begitu aku melempar semua baju ini di jok samping.

Yoona tersenyum polos, “Ani. Aku merasa lelah belakangan ini. Apalagi sejak sakit perut aneh itu. Ditambah Ahjumma itu tidak bisa berbahasa Korea dan ia tidak terlalu mengerti bahasa Inggris.” Ia mengeluarkan segala macam alasannya. Yoona mengingatkanku pada dua hari yang lalu ia jatuh pingsan di depan westafel kamar mandi karena sakit perut. Aku dengan sigap dan cepat menangkapnya lalu memgendongnya ke kamar. Setelah istirahat seharian ia merasa cukup baik dan semua berjalan biasa.

“Kau sakit lagi?” aku bergegas ingin keluar dari mobil tapi Yoona menahanku, “Ani. Tidak. Gwenchana. Am really fine.” Yoona tersenyum menampilkan ekspresi bahwa ia baik baik saja.

“Baiklah. Aku pergi.” Aku menyalakan mesin mobil.

Porsche Turbo 911 ini berjalan pelan meninggalkan Yoona yang berdiri di belakangku sambil melambaikan tangan.

TBC

Dear all the readers, buat readers yg masih penasaran sama cerita The Transporter aku yg endingnya ngegantung, ini ada sedikit Unrevealed Story-nya yg sebenarnya aku bermaksud bikin ide cerita baru. Tapi berhubung aku orangnya baik dan masih banyak yg komen ending The Transporter gantung jadi aku bikin parallel story nya deh.
Ditunggu komen nya lagi ya, readers.
XOXO, nikkireed

43 thoughts on “(Freelance) Unrevealed Story [1]

  1. Ceritanya bagus bahasa authornya bagus tp aku msh blm terlalu ngerti hub luyoon. Mereka pcrn atau nikah? Awal mereka bsa brg juga aku blm ngerti hmm mngkn krna aku blm bc the transporter, ydh aku ijin baca ne thor hihi

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s