An Idol’s Friend

aif
.

chiharu’s present:

An Idol’s Friend

Main Cast: Kim Jongdae | Im Yoona

Other Cast: Kai | Tao

Genre: Friendship | Romance

Rating: Teens

Poster by Junghara at Art Fantasy (Thanks!!)

Disclaimer: Inspired by some things what i see, what i hear. But storyline is mine, don’t claim this as yours.

Copyright © 2014 chiharu

.

Sebuah kawasan yang cukup ramai didatangi oleh para fans, aku sedang berada di kawasan Apgunjung—tak jauh dari gedung agensi besar SM Entertainment. Aku sendiri sedang berdiri didekat sebuah tiang dan memerhatikan tingkah konyol mereka. Baiklah, ini mungkin terdengar konyol—tapi ini semua hitung-hitung hiburan gratis.

Sekiranya banyak sekali yang menjadi obsesi mereka. Ah, aku tidak pernah mengerti bagaimana mereka. Bahkan mereka ada yang sampai rela tidur diluar gedung agensi. Mungkin mereka berpikir mereka akan bertemu dengan idol mereka, dan idol mereka akan jatuh cinta pada mereka dan menyatakan cinta pada mereka. Ah! Sudahlah, itu adalah impian konyol sebagian besar para fangirls.

“Jongdae!”

Aku menolehkan kepalaku saat ada yang memanggil namaku dengan sebuah suitan. Aku mendecik sebal saat aku mengetahui bahwa yang memanggilku adalah manajer Lee—manajer salah satu temanku yang menjadi artis—Kai.

“Ah tepat sekali kau ada disini, kau bisa bantu aku?” Dia berkata dengan diikuti kekehan jerapah yang sungguh membuatku bergidik.

“Apa lagi, Hyung?”

“Bantu aku untuk mengatasi mereka, tenangkan mereka karena Kai dan Tao harus keluar untuk acara show.”

“Ya! Apa-apaan, memangnya aku ini apa?” aku memberikan sebuah protes padanya karena aku sama sekali tidak sanggup dan tidak mau melalukan hal konyol itu. Bagaimana jika aku menjadi sasaran emosi mereka? Mereka bisa saja mencakarku.

“Ayolah, Kai bilang kau adalah teman terbaiknya… Jadi sekali-kali kau bisa bantu temanmu kan? Aku janji akan memberikan hadiah padamu.” tuturnya. Selalu saja, ia memang paling bisa membujuk seseorang. Tapi aku tetap saja tidak bisa, masih banyak urusan penting yang harus kulakukan dibandingkan hal konyol itu.

“Tidak, Hyung.” tegasku sekali lagi. Dia terlihat memasang wajah kesal dan kecewa. Tapi sesaat, ia menunjukkan ekspresi yang entah apa itu. “Jongdae, Kai sangat membutuhkan bantuanmu. Apa kau tidak sayang pada temanmu?” ujarnya.

Sekali lagi, aku tetap tegas. Aku sama sekali tidak mau.

“Baiklah, ada sesuatu yang harus kulakukan padamu!” Tiba-tiba secara paksa ia menarik tangaku untuk mendekat kearah kerumunan konyol itu. Kekuatannya benar-benar besar, yang benar saja, dia mempunyai badan yang sangat besar, sangat jauh jika dibandingkan denganku.

Aku agak tersungkur ketengah-tengan kerumunan para fans itu. Beberapa diantara iantara mereka tiba-tiba menjerit saat aku masuk kedalam bagian ‘daerah konyol’ mereka itu. Aku menatap mereka tanpa ekspresi, begitu juga sebaliknya.

“Ya! Pergi kalian dari sini!” tiba-tiba Lee hyung langsung menjalankan aksinya. Dia menaikkan satu pemukul bisboll dibelakang pundaknya. Seketika, aku langsung bangkit dan mereka —para fangirl itu sibuk menjerit, tapi bukan karena tingkah Lee hyung, melainkan mobil yang ditumpangi oleh Kai dan Tao yang tiba-tiba saja keluar dari gedung SM. Lee hyung langsung menjalankan aksinya, begitu pula denganku.

“Yak! Kai oppa! Saranghaeyo!!”

“Oppa! Look at me, please!”

“Oppa, kau sangat tampan! Aku mencintaimu!”

Aku hampir saja gila saat mendengar teriakan mereka. Bahkan mereka tiba-tiba berdesakan dan bertingkah histeris. Aku agak terganggu karena aku sendiri berada dalam desakan itu, bahkan aku sudah tidak mampu lagi menghentikan mereka karena radiasi aneh dari tingkah-tingkah mereka yang menurutku sangat berlebihan.

Tapi aku merasa kasihan juga saat ada seorang gadis tepat didepanku. Dia sama sekali tidak bertingkah histeris, bahkan dia terlihat seperti korban desakan disini. Kami saling berhadapan dan dia memegang kedua pundakku, oh kenapa bisa seperti ini? Dan tiba-tiba saja sebuah pukulan keras menimpa wajahku, hidungku terasa sakit dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

///

Aku merasakan bau yang lumayan aneh menusuk hidungku. Perlahan, aku membuka kedua mataku, aku merasa ada yang aneh dengan hidungku.

“Oh, kau sudah sadar?”

Tiba-tiba terlihat wajah Lee hyung. Sedang apa disini? Aku baru menyadari kalau aku tengah berbaring. “Aku kenapa, Hyung?”

“Kau pingsan. Kau sangat payah sekali.” dia menjawab dengan cibiran kecil. Oh ayolah, yang benar saja?!

Keningku berkerut saat aku mendapati seorang gadis tengah terduduk tak jauh dari ranjangku. Aku menatap Lee hyung sekilas. “Siapa dia?”

“Kenalkan, aku Im Yoona. Aku sangat minta maaf.”

Bukannya Lee hyung yang menjawab, tapi gadis itu buru-buru menyahut. Ia bangkit dan membungkukkan badannya kearahku. Kenapa?

“Aku telah membuatmu seperti ini. Sekali lagi, aku minta maaf.” tutur gadis itu sambil berjalan kearah ranjangku.

Tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat gadis ini. Tapi dimana?

“Jongdae, aku pergi dulu. Kai dan Tao pasti membutuhkanku sekarang.”

“Mmm… Baiklah hyung.” jawabku seadanya. Kini pandanganku terfokus pada seorang gadis yang tengah berdiri disisi ranjangku.

“Boleh kutahu siapa namamu?” tiba-tiba gadis itu mengulurkan tangannya padaku.

“Aku Kim Jongdae, panggil saja Jongdae.” jawabku sambil membalas uluran tangannya.

///

Aku berjalan dengannya ditengah rentetan manusia-manusia lain. Entah kenapa, gadis fangirl ini memaksaku untuk jalan-jalan—mungkin karena aku mengaku padanya jika aku baik-baik saja. Padahal, aku sama sekali ingin pulang kerumah bibiku atau melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan Kai dan Tao.

Tapi kuakui juga, gadis itu memang manis. Aku tidak tahu kenapa aku merasakan hal aneh. Aku tahu jika aku ini memang berlebihan. Aku tertarik padanya.

Ya… Walaupun seandainya aku harus menerima jika Yoona bersikap ‘gila’ seperti fangirls lain. Tapi kurasa tidak mungkin juga. Sudahlah, akhiri saja monolog aneh ini!

Kalian tahu? Gadis bernama Im Yoona ini adalah fangirl dari mereka. Saat perjalanan masih berlangsung didalam taksi, dia terus-menerus bertanya tentang duo itu padaku. Kupikir, gadis itu adalah gadis yang kalem dan manis, tapi ternyata dia menunjukkan kegilaannya seperti para fangirls lain. Tuhan, padahal aku ini teman mereka, tapi…. Sangat susah memang menjadi teman seorang idol.

Lihat saja kelakukan Yoona, ia sedang asyik dengan tabletnya… Entah berapa kali jadwal para fangirls di dunia ini untuk melihat gambar sang idola. Tapi kuyakin, mereka pasti mengulang-ngulang melihat foto yang sama.

“Oppa, Namsan Tower sudah dekat. Tidak terasa, karena daritadi aku sibuk memandangi foto-foto Kai dan Tao.” ujar Yoona dengan ekspresi wajah cerianya. Aku membalasnya dengan sebuah senyuman—senyuman hambar. Katakan padaku, dia mengajakku jalan-jalan karena merasa bersalah, atau hanya ingin tahu banyak tentang Kai dan Tao? Uh.

Tapi sekali lagi kukatakan, aku tahu ini gila, tapi kurasa aku tertarik padanya.

///

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam waktu setempat. Aku dan Yoona tengah berdiam diri didepan Namsan Tower yang sangat terkenal di Korea. Apakah kalian tahu apa maksudku berdiam disini? Kau tidak tahu? Well, apakah ada orang Korea yang tidak tahu Namsan Tower ini? Kurasa keterlaluan.

Baiklah, aku mulai menatap Yoona dengan kekehan kecilku. Tapi aku benar-benar tidak tahu, kenapa aku bisa menyukai Yoona? Karena dia manis? Kurasa bukan itu Karena dia ‘gila’? Apalagi itu! Bukan alasan!

“Yoona-ya?”

Yoona sukses menoleh padaku dan mengalihkan perhatiannya dari iPad yang baru saja dipegangnya. “Ya? Ada apa Jongdae-ya?”

“Bagaimana jika seandainya aku lebih hebat dari idolamu itu, dari Kai dan Tao?”

Yoona menatapku dengan hening dan dahi berkerut. Lalu, beberapa detik kemudian ia tertawa… Tertawa didepanku. Aku tahu, yang ada di pikiran Yoona adalah ‘mustahil’ sampai-sampai ia bergelak tawa seperti itu.

“Aku serius.” ujarku mencoba meyakinkannya. Kali ini, ia menatapku… Mata kami bertemu dan ia menatapku seolah ia meminta jawaban ‘apa?’

Aku mulai bangkit dan mengambil gitar yang ada dibelakang bangku. Yoona menatapku tak percaya dan menunggu apa yang akan kulakukan selanjutnya. Dengan begitu, aku langsung memainkan gitar itu dan menyanyikan lagu Just The Way You Are. Aku tahu suaraku dan penampilanku ini tidak seberapa, aku hanya menunjukkan ini pada satu orang saja, Yoona—seseorang yang baru saja kutemui. Aku tahu ini hal konyol, menyatakan suka pada seseorang saat baru beberapa jam bertemu dengannya.

Reaksi Yoona sama sekali tidak belebihan, biasa saja. Bahkan dia tidak bersikap gila seperti saat melihan Kai dan Tao—tentu saja! Aku bukan artis. Raut wajahnya terlihat biasa-biasa saja, ia merapatkan kedua tangannya karena hawa dingin.

Lagupun selesai, ia tersenyum dan bertepuk tangan kecil padaku. Aku membalas senyumannya sebelum aku kembali duduk dikursi—disampingnya.

“Apa aku sudah seperti mereka? Kai dan Tao?”

“Tidak, karena kau bukan mereka. Tapi kuakui suaramu bagus dan….. aku akan menjadi fansmu saat kau debut nanti.”

Keningku berkerut. “apa maksudmu?”

“Kau harus menjadi idol, kau ingin aku gila karenamu?” timpalnya dengan kekehan kecil. “Kau suka kan padaku? Akan kujawab nanti.”

“Apa?”

.

.

FIN

.

.

HOW’S FREAK GEEZ?!!!!!

hahahaha maafin aku ya rada aneh sih bikin kebawahnya. YoonChen yay! Walaupun rada aneh sih tapi…..

Dan aku berharap kalian ga minta sekuel pliiiiiis /enggak akan juga kok-,-/ karena aku sibuk, anak sekolah sibuk…. Pulang sore ga digajih, udah kek pabrik aja hahaha. Udah ah gausah ngeluh, mangats juga ya buat kalian yg belajar pake KUTILAS! Fighting!😀

20 thoughts on “An Idol’s Friend

  1. wowowo,,,,,,
    suka banget thoor,,,
    ga da kata lain selain daebak,,
    ok dech,, gak akan minta sequel,,
    tapi kalo bisa ya kasi sequel,, hehe

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s