Thing Called Reality

thingcalledloveclora

Thing Called Reality

by

Clora Darlene

starring

Im Yoon Ah | Oh Sehun

rating | length | genre

PG-15 | Oneshot (3633 words) | Romance

poster by HYERAHANI @ Expectation Pleasure

            Yoona terdiam di atas tempat tidurnya. Berbaring dengan mata yang menatap langit kamar dorm tanpa berkedip, tampak seperti seorang idiot. Matanya lebih sayu dari biasanya. Kantung matanya menghitam dan pipinya menirus. Untuk pertama kalinya, seorang visual Girls’ Generation yang dinyatakan sebagai God of Food menolak makanannya―dan itu terjadi empat hari lalu.

Yoona sedang tidak baik-baik saja.

Dan semua member yang lain tahu, tapi tidak mengerti apa yang terjadi padanya.

Yoona tidak ingin membuka mulutnya. Tidak ingin membagi apa yang ia rasakan―kepedihan.

 

            Flashback.

            “Ada apa?” Tanyanya pada seorang laki-laki yang duduk di belakang kemudi. Laki-laki yang mengajaknya bertemu secara tiba-tiba di dalam sebuah Audi R8 hitam yang terparkir di basement Gedung SM. Laki-laki yang masih terdiam sedari tadi, belum membuka suaranya mengenai perihal mengapa mereka harus bertemu sekarang ini.

            “Aku hanya ingin membuat semua ini tampak jelas” Terdengar gertakan pada rahangnya. “Aku tidak tahu letak kesalahan Daeun, dia tidak melakukan apa-apa dan kau tiba-tiba marah kepadanya. Menyudutkanku dengan kesalahan yang tidak pernah dia perbuat”

            Yoona mendesis. “Kau membelanya”

            “Karena dia tidak salah dan pantas dibela!” Suara Sehun meninggi, membuat Yoona memandang laki-laki dengan iris pure hazel membara yang duduk di sebelah kirinya. “Daeun diserang oleh fansku karena kesalahanku sendiri. Jadi, kurasa aku harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut”

            Oh, ya. Masalah ‘Instagram’ itu? Oh Sehun menyukai salah satu foto di Intsagram Jung Daeun dan memercikan api kecil di antara fans Sehun yang akhirnya membesar?

Yoona menatap Sehun intens. Memandang setiap satu sentimeter wajah Sehun lekat-lekat. Mulutnya terkatup tanpa celah, lalu dibukanya sedikit untuk menyuarakan hal yang paling mengusik dirinya selama ini. Selama ini. “Aku mulai meragukan hubungan pertemananmu dengan Jung Daeun”

            Kening Sehun mengerut dengan cepat dan kaget dengan pernyataan yang dilontarkan Yoona. “Daeun hanyalah temanku!”

            “Ya, kau sudah mengatakan itu berjuta kali” Timpal Yoona.

            “Dan kau tidak pernah mendengarnya sekalipun!” Lanjut Sehun, membalas tatapan Yoona tak kalah lekat dan membuat perempuan itu terdiam untuk sesaat. “Aku juga mulai meragukan hubungan palsumu dengan Lee Seunggi. Kurasa hubunganmu dengannya semakin nyata”

            “Seunggi oppa bersikap baik padaku” Kini, Yoona yang terdengar sedang membela seorang Lee Seunggi di hadapan mata pure hazel Sehun.

            “Kau ingin mengatakan bahwa aku tidak bersikap baik kepadamu?”

            “Aku tidak mengatakannya. Kau menyimpulkannya sendiri” Bantah Yoona tidak tahan lagi dengan keegoismean Sehun yang tinggi menurutnya.

            “Kau membelanya” Ucap Sehun mengembalikan ucapan Yoona sebelumnya.

            “Seperti kau membela Daeun? Seunggi oppa jauh lebih pantas untuk dibela”

            “Kau terdengar seperti kekasih ‘asli’-nya” Sehun tidak berkedip beberapa saat menatap iris madu yang duduk di kursi penumpang mobilnya. “Ingatlah, hubunganmu dengannya hanya sebuah kepalsuan tak kasatmata”

            “Apa kau bermasalah dengan ‘hubungan palsuku yang tak kasamatmata’ dengannya?! Seunggi oppa bersikap baik padaku! Dan setidaknya dia tidak akan pernah meninggalkanku hanya karena harus bertemu dengan sahabat karibnya, atau berbohong kepadaku dan mengatakan dia akan pergi berlatih! Dia tidak akan membentakku, dia tidak akan mengacuhkanku, dan dia tidak akan pernah membiarkanku makan siang sendirian ataupun diberitakan bertukar nomor ponsel dengan Nari WASSUP!” Suara Yoona begitu lantang. Garis rahangnya menegas dan mengeras lalu diikuti suara gertakan dan ia menggeram. Nafasnya menderu tidak beraturan dan wajahnya memerah setelah mengeluarkan seluruh amarahnya yang ia coba redam―tapi gagal. Seluruh sarafnya menegang dan itu juga menyebabkan badannya menegang dan kaku, ujung jarinya terasa semakin dingin dan mulai bergetar kecil.

            Serentetan kalimat panas itu berhasil membuat Sehun terdiam beberapa detik setelah Yoona selesai berkata.

            Membuatnya seperti baru saja mati.

            Sehun membangunkan jantungnya sejenak. Lemah sekali rasanya. Ia memalingkan wajahnya, menunduk. Tidak tahan lagi untuk menatap mata madu Yoona yang berkobar api. “Aku senang mendengarnya, Seunggi hyung bersikap baik padamu” Sehun menelan saliva-nya dengan susah payah. Menelan realita. “Jika kau berpikiran seperti itu, mungkin ada baiknya sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita benar-benar berpisah” Ujung bibir Sehun tertarik ke atas dengan getar mencoba untuk tersenyum kecil, tapi malah lebih terlihat seperti pengidap Parkinson.

            Hening. Dan sengap.

            Sehun masih menunduk dan Yoona tidak merespon apa-apa―menatap Sehun dengan jantung yang baru saja dirobek lalu meneteskan setitik air mata. Mulutnya tertutup rapat tidak bisa berkata dan mata yang tidak berkedip. Memilih untuk memalingkan wajahnya dan tidak membiarkan Sehun melihat matanya yang sudah basah.

            Sehun baru saja bisa menghela nafasnya―sebuah helaan nafas yang sangat pendek. Ia menyalakan mesin mobilnya dan memutar setir mobilnya. “Aku akan mengantarkanmu kembali ke dorm” Ucapnya terakhir kali pada Yoona. Hingga sampai di depan dorm, keduanya tidak lagi mengatakan sepatah katapun. Tidak ada lagi percakapan mengenai rasa bubble tea kesukaan mereka atau berarugmen mengenai siapa yang lebih cantik―Yoona atau Seohyun (yang notabene adalah nuna yang paling Sehun sukai di Girls’ Generation). Yoona keluar dari mobil Sehun dan menutup pintu mobil Sehun dengan membantingnya dengan keras.

            Dan keduanya saling meninggalkan satu sama lain.

 

“Yoong?” Yoona melirik pintu yang terbuka sedikit, menyembulkan kepala Yuri. “Makan malam sudah siap. Kuharap kau memakan makan malammu kali ini”

“Aku akan segera keluar” Gumam Yoona dan membuat Yuri merasa lega lalu menutup pintu kamar.

Yoona mencoba menarik nafas panjang, tapi sia-sia. Dia tidak merasa hidup lagi. Yoona merapihkan rambut panjang cokelatnya lalu mengusap wajahnya. Ia tidak ingin diserbu dengan pertanyaan apa yang terjadi padanya hingga membuatnya seperti orang gila oleh para member yang lain.

“Yoong!” Jessica adalah orang pertama yang bersorak saat ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Yoona hanya tersenyum kecil.

“Aku senang kau terlihat lebih baik, Yoong” Taeyeon selaku leader dan juga eonni bagi Yoona tersenyum manis menatap dongsaeng-nya.

Tunggu. Apa Taeyeon sedang bercanda?

Yoona tidak merasakan arti dari kata ‘lebih baik’ itu. Ia merasakan setiap harinya―semakin jauh dari hari saat semuanya berakhir itu―adalah mimpi buruk yang semakin lama akan semakin memburuk. Mungkin, sudah hukum alam bahwa patah hati sangatlah menyeramkan.

Ting!

Seluruhnya mendengar suara bel yang berdenging di dalam dorm. “Aku akan membukanya” Beritahu Yoona. Melihat kedelapan member-nya telah duduk di kursi makan mereka masing-masing dan hanya tersisa dirinya dengan kaki yang masih menompang tubuhnya, ia memutuskan untuk berbalik. Berjalan terseok-seok untuk meraih gagang pintu lalu menariknya.

Annyeonghaseyo, Yoona nuna” Baekhyun tersenyum cerah menyapanya. Gigi putihnya berderet rapih tanpa kecacatan.

Tapi, cerahnya senyum Baekhyun di malam seperti ini atau putihnya gigi main vocal EXO itu tidak mampu membuat Yoona berdiam kaku dan kehilangan akalnya. Ada sosok yang dulu ia kenal baik tengah berdiri di belakang Baekhyun dan membalas tatapannya. Mengenakan jaket kulit yang tidak diresleting dan menampakkan baju Armani Jeans abu yang dikenakannya.

“Apa Taeyeon nuna ada di dalam?” Tanya Baekhyun, memaksa Yoona menarik pandangannya dari Sehun dan melihat Baekhyun.

Yoona tersenyum tipis. “Ya, dia ada di dalam” Jawabnya dengan suara yang tiba-tiba parau dan rasanya tercekat di tenggorokannya. “Masuklah―”

“Aku akan menunggu di mobil” Ucap Sehun yang tidak sengaja memotong ucapan Yoona. Baekhyun belum menyetujui gagasan Sehun yang satu itu, tapi laki-laki dengan kaki jenjang dan rambut cokelat mangkuk itu sudah berjalan pergi.

Kembali hilang dari pandangan Yoona.

“Akan kupanggilkan Taeyeon eonni. Masuklah, Baekhyun-ah” Yoona membalikkan badannya dan kembali ke ruang makan. “Baekhyun. Mencari Taeyeon eonni” Beritahu Yoona, membuat Taeyeon menjadi orang pertama yang bangkit dari kursinya lalu pergi secepat mungkin menuju ruang tengah dorm.

“Duduklah, Yoong. Biarkan saja mereka” Ucap Yuri.

Yoona membasahi bibirnya yang mengering. “Aku akan pergi beristirahat”

Member lainnya terkejut mendengar keputusan Yoona. Mereka baru saja senang karena visual mereka akhirnya kembali memakan makanannya, tetapi kini tiba-tiba kembali menyiksa tubuhnya dengan membiarkannya tidak mendapatkan asupan apa-apa? Apa yang terjadi? Semua member berpikir seperti itu dengan kening yang mengerut dalam.

Yoona berbalik sebelum salah satu dari mereka menyerangnya dengan serbuan pertanyaan atau mencegahnya masuk ke dalam kamarnya. Sarafnya kembali menegang. Ingin sekali rasanya ia mengatakan kepada dirinya bahwa yang ia lihat tadi hanyalah sebuah halusinasi atau fatamorgana.

Tapi, semuanya terjadi dengan sangat nyata. Di setiap detik yang terasa singkat.

“Kau merasa lebih baik? Aku tidak suka saat kau jatuh sakit seperti ini” Yoona sekilas melirik Taeyeon yang sedang merengkuh pipi Baekhyun dan menguping dengan tidak sengaja pembicaraan mereka. Yoona mendengar bahwa akhir-akhir ini Baekhyun sedang tidak sehat, kulit kepalanya lebih tepat. Satu sentuhan halus akan menyebabkan sehelai rambutnya jatuh.

Yoona menutup pintu kamarnya dengan rapat.

Bahagialah Baekhyun dan Taeyeon, pikir Yoona. Mereka tidak perlu berkencan diam-diam karena satu dunia ini sudah mengetahui hubungan mereka―Yoona berani mempertaruhkan segalanya untuk hal yang satu itu. Ia akan memberikan apapun yang ia punya untuk ditukarnya dengan pengakuan publik mengenai hubungannya dengan dia.

Yoona ingin publik mengetahui hubungannya bersama laki-laki itu.

Tapi, sekarang, Yoona lebih memilih untuk mempertaruhkan seluruh yang ia punya atau memberikan apapun yang ia miliki untuk mendapatkan laki-laki itu kembali kepadanya ketimbang mendapatkan pengakuan dari publik.

Yoona memutar arahnya melangkah. Tidak lagi mendekati ranjang saat mata madunya mendapatkan sebuah kotak di atas meja riasnya. Ia membuka tutup sebuah kotak berwarna Tiffany Blue dengan pita putih di atasnya. Kotak Tiffany & Co.

Ada sebuah cincin dengan berlian sebagai makhota di dalamnya. Berdiri tegak dengan indah. Diapit oleh bantalan satin. Yoona masih ingat dengan jelas saat pertama kali cincin ini melingkar sempurna di jari manisnya―saat ia sedang belatih untuk konser penutup “Love & Peace” Tur Jepang Ketiga Girls’ Generation di Gedung SM dan laki-laki itu tiba-tiba mengirimkannya pesan untuk meminta bertemu. 3:16 AM.

 

“Cocok” Ia tersenyum. Mata pure hazel-nya masih memandang jemari yang berada di atas telapak tangannya. Ada terselip sebuah cincin di antara jari tengah dan kelingking itu. “Aku membelinya saat The Lost Planet di Chengdu. Kau menyukainya?”

            Yoona masih belum bereaksi hinga beberapa detik kemudian, lalu ia mengangguk pelan. Tersenyum tipis namun manis. “Apa aku memiliki alasan untuk tidak menyukainya?” Yoona memandang Sehun balik. “Sangat. Aku sangat menyukainya” Yoona mengajak laki-laki itu masuk ke dalam pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma khas Sehun dan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam pada bahu lebar laki-laki itu. “Aku mencintaimu”

            Sebuah senyum manis menemani wajah tampan Sehun. “Jangan lupa bahwa aku juga mencintaimu”

 

Yoona kembali menutup kotak tersebut. Sudah lama sejak terakhir kali ia memakainya, dan malah menggantinya dengan mengenakan sebuah kalung Cartier. Yoona memandang bayangannya pada cermin rias di depannya lalu menyentuh liontin berlian yang menggantung di lehernya. Sebuah kalung pemberian Lee Seunggi saat laki-laki itu pergi ke Osaka, Jepang.

 

            “Aku senang mendengarnya, Seunggi hyung bersikap baik padamu. Jika kau berpikiran seperti itu, mungkin ada baiknya sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita benar-benar berpisah”

 

Ingin rasanya Yoona membenturkan kepalanya pada dinding dan mengalami amnesia. Hapus seluruh ingatannya, ia tidak keberatan.

            “Yoona-ya, CEO Youngmin memintamu ingin bertemu denganmu di ruangannya” Beritahu Bianca Lee―seorang staff SM Entertainment―dengan raut wajah yang tidak dapat ditebak. Takut? “Sekarang”

“Ada apa? Mengapa Yoona dipanggil?” Tanya Tiffany.

Mollayo” Perempuan itu menggeleng.

Yoona menghela nafas singkat. Bangkit dari sofa. “Baiklah” Ucapnya, merespon pemberitahuan Bianca Lee dan melenggang bak model menyusuri koridor untuk mencapai ruangan CEO SM Entertainment―Kim Youngmin.

Alis Yoona hampir bertautan. Langkahnya memelan seiring berkurangnya jarak antara kaki jenjangnya dengan pintu ruangan Kim Youngmin. Mereka juga tak kalah kaget―para member EXO.

Nuna?”

“Apa yang kalian lakukan di depan ruangan CEO?” Tanya Yoona menghentikan langkahnya.

“Sehun ada di dalam” Jawab Luhan.

“Apa CEO Youngmin juga memanggil nuna?” Tanya Baekhyun.

Yoona mengangguk pelan dan bergumam. “Ya” Jawab Yoona singkat. Ia menelan saliva-nya susah payah hanya untuk membuka pintu di hadapannya tersebut.

“Yoona-ya? Masuklah”

Yoona menutup pintu itu lagi tanpa suara. Ia menjaga langkahnya, juga tidak ingin menimbulkan suara lagi. Yoona mendapati punggung Sehun. Laki-laki itu tidak berbalik hanya untuk meliriknya, hanya duduk di hadapan Kim Youngmin dengan tegak dan tidak tertarik dengan kedatangannya. “Duduklah” Perintah Youngmin, mengisyratkan Yoona untuk duduk di kursi di sebelah Sehun.

Lima detik setelah ia duduk di sebelah Sehun, Yoona masih belum bisa bernafas. Ia belum menarik nafas. Ia lupa. “Ada yang bisa kubantu, sajangnim?”

“Tentu saja” Jawab Youngmin dengan senyuman cerah palsu. Laki-laki itu berdiri, tidak ikut duduk di hadapan keduanya. “Bantu aku dengan menjawab pertanyaanku dengan jujur. Kau sanggup?”

Ne” Yoona menyanggupinya.

“Apa kau pernah menjadi kekasih Sehun?”

Boom.

Pertanyaan yang tidak akan pernah Yoona duga.

Bunuh saja Yoona.

Darimana CEO-nya ini tahu?!

Yoona gelagapan, dapat dilihat dari manik madunya yang tidak berani membalas tatapan Youngmin dan bergerak gelisah. “Yoona-ya” Panggil CEO-nya itu.

“Tidak pernah” Yoona tersenyum bak orang idiot. Ada ketidakyakinan pada senyumnya.

“Kau yakin?”

Yoona menalan saliva-nya. Sarafnya untuk kesekian kalinya menegang. “T-Tentu saja. Seratus persen”

“Sebelum kau datang, aku menanyakan pertanyaan sama kepada Sehun. Apa dia pernah menjadi kekasihmu dan dia menjawab,” Youngmin menghela nafas sejenak. “Pernah”

Apa seperti ini rasanya serangan panik?

Yoona panik. Oh, astaga. Demi Neptunus, otak Yoona berhenti bekerja!

“Jawab aku dengan jujur, Yoona-ya. Kau adalah anak kesayanganku” Ucap Youngmin dengan lembut. Bibir Yoona masih kelu untuk terbuka. Untuk mengucapkan jawaban yang sebenarnya. Ya, dia pernah menjadi kekasih Sehun. Pernah. Dan apa seharusnya CEO-nya ini tahu? Yoona masih sibuk berdebat dengan logikanya, dan Youngmin sudah kehabisan kesabarannya untuk menunggu Yoona.

Youngmin menggebrak meja. Membuat Sehun, terutama Yoona, melonjak kaget. Setetes keringat dingin membasahi pelipis Yoona. “YOONA, JAWAB AKU! KAU PERNAH MEMILIKI HUBUNGAN KHUSUS DENGAN SEHUN?!!”

Gigi Yoona bergemelatuk. “Y-Y-Ya”

“KAU TAHU DENGAN BAIK BAHWA HAL SEPERTI ITU SEHARUSNYA TIDAK TERJADI! SUDAH KUKATAKAN PADAMU FOKUSLAH PADA HUBUNGANMU DENGAN SEUNGGI! APA KAU TIDAK BERPIKIR APA YANG DAPAT TERJADI JIKA HAL SEMACAM INI BOCOR KE PUBLIK?!! APA KAU TIDAK BERPIKIR?!! JAWAB AKU, IM YOON AH-SSI!!” Kim Youngmin sudah seperti dirasuki setan. Api berkobar menyala di matanya dan tangannya menggenggam kuat.

“M-Maafkan ak-ku, sajangnim” Ucap Yoona terbata-bata, masih tetap menunduk.

“Jangan membuatku mengulanginya lagi, Yoona-ya” Suara Youngmin mulai merendah. “Fokuslah pada hubunganmu dengan Seunggi. Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Kau mengerti, Yoona?” Yoona mengangguk, tapi tidak berkata apa-apa. “Baiklah. Kalian bisa keluar sekarang”

Gamsahamnida, sajangnim” Ucap Yoona bergegas keluar dari ruangan Youngmin dan diikuti oleh Sehun.

            Ia adalah orang terbodoh dalam dekade ini.

Yoona melangkah di depannya lalu membuka pintu ruangan Kim Youngmin. Di luar sana terlihat ramai oleh para member EXO dan Girls’ Generation. “Yoong, gwenchanayo?”

Gwenchana, eonni” Suara Yoona terdengar parau.

Kajja, kita kembali ke dorm” Hyoyeon merangkulnya, diikuti oleh member Girls’ Generation yang lainnya.

Sehun berjalan menjauh tidak memedulikan para hyung-nya memanggilnya dan meminta penjelasan darinya. “Aku mendengarnya” Baekhyun menghadang jalannya, berniat berbicara empat mata dengan Sehun. “Mengapa kau tidak memberitahuku jika kau pernah memiliki hubungan khusus dengan Yoona nuna?”

“Memberitahu hyung pun tidak akan merubah apapun” Bantah Sehun.

“Aku tahu yang kaurasakan―”

“Wow, jangan terburu-buru, hyung” Potong Sehun. “Kita sedang tidak membicarakan keberuntungan yang sama. Aku dan Yoona berbeda dengan hyung dan Taeyeon nuna. Jadi, kurasa hyung tidak tahu pasti apa yang kurasakan” Sehun tersenyum memaksa dan meninggalkan yang lainnya.

Ia berjalan menuju basement dalam keheningan. Langkah kakinya pun tidak bersuara, hanya meninggalkan jejak yang mudah pudar dan melesat secepat mungkin bersama Audi R8-nya.

            “Yoong? Apa aku boleh masuk?” Taeyeon menyembulkan kepalanya dari pintu yang terbuka sedikit.

“Tidak ada yang melarang” Yoona tersenyum tipis. Ia duduk di pinggir ranjangnya.

Taeyeon menutup pintu kamar Yoona tanpa suara yang berjalan berhati-hati mendekati visual grupnya dan ikut duduk di pinggir ranjang. Di sebelah Yoona.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya.

“Apa aku mempunyai alasan untuk tidak baik-baik saja, eonni?” Tanya Yoona balik lalu terkekeh pelan. Ia sedang tidak ingin dihujani pertanyaan mengenai kejadian yang baru saja melibatkan dirinya beserta Sehun dengan Kim Youngmin hari ini.

Taeyeon masih memandang dongsaeng cantiknya yang satu itu. Masih membaca raut wajah Yoona.

Topeng. Pikir Taeyeon.

Taeyeon mengerti bahwa Yoona tidak ingin membuat seluruh anggota Girls’ Generation khawatir, terutama dirinya. Keluar dari dirinya yang merupakan seorang leader, ia lebih ingin duduk menemani Yoona sebagai seorang kakak perempuan.

Taeyeon membasahi bibirnya, menandakan ia ingin membuka suara emasnya. “Aku mendengar teriakan Youngmin sajangnim saat dia meneriakimu. Aku ada di depan ruangannya. Maksudku, semua member EXO dan Girls’ Generation” Gumam Taeyeon. “Jujur saja, aku kaget mendengarnya”

Oh, tolonglah. Jangan berkata dengan nada seperti itu. Batin Yoona. Ia merasa bersalah atas tindakannya yang tidak memberitahu keluarga keduanya ini mengenai hubungan terlarangnya dengan Sehun. Tapi, memberitahu mereka pun bukanlah hal yang tepat.

“Ya, aku juga kaget saat dia meneriakiku” Timpal Yoona santai.

“Apa aku bisa membantumu? Apapun itu”

Yoona menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, eonni” Yoona menolak untuk membuka kembali buku usangnya yang baru saja ia tutup―dengan paksa. Taeyeon mengerti.

“Jika saja aku bisa membantumu, apa saja, aku akan melakukannya. Tanpa perlu berpikir dua kali” Ucap Taeyeon membelai surai cokelat Yoona.

“Baekhyun sangat beruntung” Yoona tertawa hambar.

“Beristirahatlah. Kau pasti sangat lelah. Aku akan keluar” Taeyeon tersenyum simpul dan akhirnya untuk memutuskan meninggalkan Yoona sendirian. Perempuan itu perlu waktunya sendiri, pikir Taeyeon. Hal seperti ini tidaklah mudah untuk dihadapi―well, Taeyeon tahu itu karena ia sendiri juga mengalaminya.

Yoona masih memandang Taeyeon yang menjauh dan sudah tidak terlihat lagi. Pintu kamarnya kembali tertutup. Membatasi kebisingan itu. Yoona meraih ponselnya lalu berbaring di atas ranjang. Ia tidak mengerti apa yang ia lakukan dengan ponselnya. Ia hanya menggeser slide, lalu membuka photo dan menutup kembalinya, membuka Safari lalu mencari-cari berita terbaru saat ini.

‘EXO Kai dan Sehun menghiasi sampul Majalah GRAZIA untuk edisi “Men Special”’

Yoona tidak menahan tangannya untuk membuka halaman berita tersebut lebih jauh. Ia membukanya, dan membacanya, dan menikmati waktunya saat iris madunya itu dapat melihat sejenak ciptaan Tuhan yang ia rasa tepat untuknya―Oh Sehun, bukan Kim Jongin.

Selalu tampan. Batinnya. Oh, astaga, kapan seorang Oh Sehun tidak tampan? Well, pernah suatu hari saat laki-laki itu benar-benar kelelahan dengan mata yang sudah segaris dan kantung mata yang menghitam, wajah yang kusam dan rambut kering yang acak-acakan lalu tertidur di bahu Yoona selama tujuh menit di dalam Audi R8 milik Sehun.

Dan kini Yoona mulai merindukan Sehun yang tertidur di bahunya.

‘SHINee Taemin, EXO Kai dan Sehun, SISTAR Soyou beserta H.S.g.R akan menjadi bintang tamu di episode “Running Man” yang akan datang’

Yoona kembali men-scroll down, membaca berita yang lebih lama.

‘BoA tampilkan “Only One” bersama EXO Sehun di hari jadi ke-10 M!Countdown’

            Dengan tidak sengaja, Yoona membaca judul berita tersebut. Ia menghela nafas pendek lalu membuka berita tersebut, ingin membacanya lebih jauh lagi. BoA memanglah sunbae-nya di SM, tapi yang membuatnya tertarik untuk membaca berita ini adalah Sehun. EXO Sehun. Si Maknae EXO.

Oh, dan lihatlah. Ada videonya juga.

Meoreojyeoman ganeun geudae you’re the only one. Naega saranghaetdeon geotmankeum you’re the only one. Apeugo apeujiman babo gatjiman good bye. Dashi neol mot bonda haedo you’re the only one, only one…

Yoona tertawa hambar, saat laki-laki berkemeja putih itu memasuki panggung dan―kalian tahu bagaimana gerakan dance Only One. Merengkuh wajah sunbae-nya, mendekatkan wajah keduanya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Dan menatap iris pure hazel itu.

…You’re the only one, only one. Gabjakseureon naui mare. Waenji moreuge neon ansimhandeuthae. Eodiseobuteo urin ireohke jalmotdoen geolkka. Orae jeonbuteo, dareun gotman, gidaehan geon aninji oh…

Bahunya terlihat bergetar. Genggamannya pada ponselnya semakin erat. Lalu, air matanya mulai menyusuri garis wajahnya yang sempurna.

Yoona mulai tidak bisa menerima realita.

            “Apa kau pernah berpikir untuk keluar dari SNSD?”

            “Selama tur kedua, aku benar-benar lemah. Aku merasa jadwal SNSD terlalu keras, jadi jika jadwal itu tidak ada, aku akan menjadi lebih sehat. Itu akan menjadi kesempatanku untuk dapat lebih fokus kepada pekerjaanku. Aku membicarakan hal tersebut bersama manager-ku dan itu adalah kali pertama aku membayangkan apa yang akan terjadi jika aku keluar dari SNSD”

Ia mem-pause video tersebut. Ia baru menghela nafas saat tersadar sedari tadi nafasnya masih tertahan di dadanya.

Sehun baru saja menonton Girls’ generation ‘The Best’ Interview, lagi. Ia sudah mengulang video tersebut ratusan bahkan hampir mencapai ribuan kali semenjak hubungannya dengan visual grup itu berakhir. Sehun mulai merasakan ada yang berbeda pada hari-harinya saat semua tentangnya tidak ada.

Matanya tidak pernah lagi dapat melihatnya. Telinganya tidak pernah lagi dapat mendengar suaranya. Tangannya tidak pernah lagi menyentuh dan menggenggam tangannya. Atau hidungnya yang tidak pernah lagi mencium aroma khasnya yang selalu berhasil membuat Sehun mabuk kepayang.

Jadi, saat ini, ia mulai menerka-nerka. Apa yang sedang perempuan itu lakukan? Apa perempuan itu makan dengan teratur? Perempuan itu masih mengonsumsi vitaminnya, bukan? Ia tidak ingin kondisi Yoona seperti saat tur kedua Girls’ Generation―lemah. kemungkinan besar untuk jatuh sakit.

Dan, Sehun tidak ada di sebelahnya untuk membantunya, untuk menemaninya atau hanya sekedar untuk bersamanya. Sehun kembali membenci keadaannya lagi―terutama saat ia hanya bisa duduk seperti orang bodoh dan di hadapannya ada Kim Youngmin yang tengah meneriaki Yoona hingga perempuan itu ketakutan.

“KAU TAHU DENGAN BAIK BAHWA HAL SEPERTI ITU SEHARUSNYA TIDAK TERJADI! SUDAH KUKATAKAN PADAMU FOKUSLAH PADA HUBUNGANMU DENGAN SEUNGGI! APA KAU TIDAK BERPIKIR APA YANG DAPAT TERJADI JIKA HAL SEMACAM INI BOCOR KE PUBLIK?!! APA KAU TIDAK BERPIKIR?!! JAWAB AKU, IM YOON AH-SSI!!”

Tangan Sehun kembali mengepal untuk alasan yang sama. “Sialan” Umpatnya.

Persetan dengan hubungan Yoona dan Lee Seunggi, tapi Sehun membenci cara Kim Youngmin memberitahu Yoona. Ia tidak suka ada orang yang meneriaki perempuan itu, terlebih membuat perempuan itu ketakutan. Tapi, Sehun jauh lebih membenci dirinya karena lebih memilih untuk diam.

“Kau mau pergi kemana?” Tanya Suho saat Sehun bergegas keluar dari kamarnya sembari mengenakan jaket hitam dan meraih kunci mobil miliknya.

“Membeli bubble tea” Jawab Sehun singkat. Tidak perlu bertele-tele dan ia langsung melesat cepat. Mulutnya terkatup rapat lalu terkadang ia memutar setir mobilnya. Ia ingin menolak untuk mengingat Yoona, tapi ada bagian dari dirinya yang masih ingin untuk melihat perempuan itu di dalam bayangan masa lalunya. Menyedihkan, batinnya.

Sehun menurunkan sedikit topi hitam yang ia kenakan, menutupi identitas aslinya. Beberapa lama setelah menunggu akhirnya ia mendapatkan apa yang ia harap dapat merubah keadaan mood-nya―Chocolate bubble tea. Sehun tidak ingin berlama-lama berada di luar. Jika semakin lama, semakin besar pula kemungkinan akan ada orang yang mengenalinya sebagai ‘EXO-K Sehun’, bukan? Sehun melangkah lebar menuju mobilnya lalu masuk dan terdiam sejenak, menikmati bubble tea rasa cokelat kesukaannya.

Tetapi, Sehun mulai menyadari sesuatu.

Ada yang beda dari bubble tea-nya. Tidak seenak seperti biasanya.

 

“Peach bubble tea lebih enak daripada chocholate bubble tea”

            “Chocholate bubble tea adalah yang terbaik”

            “Peach bubble tea adalah yang terbaik. Chocholate bubble tea tidak ada apa-apanya. Rasanya sangat biasa”

            “Peach bubble tea rasanya seperti muntah. Menjijikkan”

 

Sehun berhenti menyedot bubble tea-nya lalu melirik kursi penumpang kosong di sebelahnya. Perempuan itu biasanya akan duduk di sebelahnya, ikut meminum peach bubble tea dan akan beradu argumen dengannya mengenai bubble tea mana yang lebih enak―chocolate atau peach.

Bahkan bayangannya akan perempuan itu jauh lebih manis ketimbang chocolate bubble tea kesukaannya.

THE END


Author's Note: Hi! Finally bisa bikin FF lagi setelah kena writer's block. Ini sebenarnya FF Request-an salah satu questioner di ask.fm. Semoga kamu suka ya, maaf banget kalo melenceng dari apa yang kamu mau (dan maaf juga karena lama banget bikinnya & endingnya yang bener-bener kacau. So sorry). Semoga tetep suka ya :) Sincerely- Clora.

72 thoughts on “Thing Called Reality

  1. Aku suka ff yang gini gini :3 sweeeeetttttttt bangetttttt… Tapi sayang x di sini sehun kyk pengecut ya (?).. Nice ff eonnie..semangat bikin ff luyoon/yoonhun yg lain^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s