Misconception [PART 3]

misconception-ly

qintazshk’s present

  Misconception 

staring

Luhan as Choi Luhan and Im Yoona

PG-17 ||  chaptered  ||  Romance ||  Poster by KISSMEDEER 

Author Note 

you can read this fanfiction with another pairing in here and here 

♥ leave your review for better fanfiction in the future from me ♥

[TEASER] [PART 1]  [PART 2]

Enjoy this fanfiction and create your imagination ^^ 

MISCONCEPTION

Semua indah karena aku mencintainya.

“aku tunggu reaksimu setelah melihat foto pre-wedding kita, Yoona-ya.”

 

MISCONCEPTION

-author pov-

 

 

Matahari pagi menyembul dari persembunyiannya mengingat hari sudah pagi. Akhir pekan kali ini tentu saja tak ingin dilewatkan oleh seorang Im Yoona. Perempuan itu segera membuka matanya, tepat setelah gorden di kamar Luhan tersibak –karena angin.

Yoona mengernyit bingung.

Ia memerhatikan refleksi dirinya di cermin dan menemukan dirinya masih berbalut gaun berwarna merah muda. Gaun pemberian Luhan yang ia pakai di acara pernikahan Minho dan Yuri kemarin.

Yoona mengamati Luhan yang masih terlelap di kasurnya lalu beranjak membuka gorden dan kaca kamar Luhan. Membiarkan sinar matahari dan udara segar memasuki kamar Luhan.

Pelan tapi pasti, Yoona melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian yang ada di sudut ruangan. Yoona mengambil kaus –yang selalu disimpannya di rumah Luhan- berwarna putih serta celana panjang berwarna biru dan mengambil setelan berwarna sama untuk Luhan.

Yoona melangkah menuju kamar mandi setelah menyimpan baju yang ia siapkan untuk Luhan di kursi.

 

 

MISCONCEPTION

 

 

“Luhan, kau tidak mau bangun?”

Yoona berbisik pelan di telinga Luhan. Ia tahu kalau Luhan tidak akan bangun dari tidurnya walaupun ia sudah berteriak. Setidaknya, bersahabat sudah lebih dari dua puluh tahun dengan Luhan, membuat Yoona tahu kalau lelaki itu memilih cara halus untuk dibangunkan. Menyebalkan memang.

Yoona tersenyum tipis saat Luhan menggeliat seperti bayi. “sebentar lagi.”

Kata-kata itu Yoona turuti. Ia tahu kalau Luhan tidak mungkin bangun pada pukul delapan saat akhir pekan seperti ini, sebenarnya. Jadi, perempuan itu keluar dari kamar, menuruni tangga.

Yoona menghentikan langkahnya saat ia sudah mencapai dapur.

“sereal? Tidak. Sandwich sepertinya tidak buruk.” Yoona menggelung rambut panjangnya sedikit tinggi. Ia tidak ingin mengambil risiko kalau sampai ada rambut di sarapan yang ia buatkan untuk Luhan dan mendengarkan lelaki itu mengoceh seperti ahjumma-ahjumma sepanjang hari.

“kau membuat sarapan, Yoona?”

Yoona mendongak saat mendengar suara. Yuri berdiri di ambang pintu yang menghubungkan ruang makan dan dapur sembari menatap Yoona seksama. Yoona  mengangguk riang lalu melanjutkan pekerjaannya. Mengabaikan keberadaan Yuri yang masih mematung.

“kau membuat itu hanya untuk Luhan?”

“kalau Luhan suamiku, mungkin iya.” Yoona tertawa. “tapi karena kenyataannya bukan, maka aku membuat ini untuk semua anggota keluarga Choi yang lainnya.”

Kini Yuri melangkahkan kakinya mendekati Yoona dan mulai memotong bahan-bahan segar yang akan menjadi pelengkap sarapan mereka pagi ini.

“kau tahu, Yoona?-”

“tidak,” Yuri hampir saja mendengus kesal pada Yoona. Yoona jarang mendengarkan pertanyaan orang sampai akhir. Namun Yuri sadar, kalau perkataannya tadi sangat aneh.

“kau itu calon istri yang baik. Sangat baik malah,”

Yoona tahu ada nada ketulusan di suara Yuri, tapi Yoona hanya tertawa menanggapi perkataan Yuri.

“kau memujiku?”

“berdasarkan fakta. Ah, kau harus lihat sesuatu!” tanpa menunggu persetujuan Yoona, Yuri menarik sahabat adik iparnya itu ke ruang keluarga. “apa yang mau kau tunjukkan padaku, unnie?

“ini!”

Yoona mematung di depan bingkai foto pre-wedding Luhan dan Yoona. Walaupun sebenarnya tak pantas dibilang foto pre-wedding mereka karena Luhan dan Yoona bukanlah sepasang kekasih.

Mata Yoona berbinar memandangi Luhan di foto itu. Di foto itu, Luhan berdiri di sebelah Yoona sembari memegang pinggang perempuan itu. Jangan lupakan senyum mereka yang merekah di foto itu.

“Tampan,”

Yoona tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat foto itu.

“kau suka, Yoona?”

“sangat suka. Terima kasih,”

 

 

-author pov end-

MISCONCEPTION

 

 

“baik, terima kasih.”

Aku taruh ponselku di meja dan kembali menekuni pekerjaanku yang menumpuk di meja kerja. Sederet angka dan  huruf berjejer terketik di kertas. Setelah beberapa lama, aku kembali menyesap green tea-ku yang sudah mendingin.

TOK! TOK!

Pandanganku beralih ke arah pintu ruang kerjaku yang diketuk. “ya?” tenggorokanku tercekat saat mengucapkannya tadi. Mungkin efek tidak mengeluarkan suara setelah beberapa lama.

ada tamu untuk Anda, Mr. Luhan,”

Redaman suara Krystal terdengar dari luar. “persilahkan masuk saja, Krystal.” Kurapihkan sedikit meja kerjaku yang berantakan lalu berjalan menjauhi meja untuk menyambut tamuku.

“Luhan!”

Belum sempat mendongak, aku sudah dipeluk oleh laki-laki yang tingginya tidak jauh berbeda denganku. “apa-apaan ini, Lay?”

Lay melepaskan pelukannya sembari menggerlingkan matanya kesal. Matanya yang sipit itu menonjol seolah ingin keluar. Mengerikan.

“ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, Luhan.”

Lay menatap mataku dengan serius. Seumur hidupku berteman dengannya, aku jarang sekali melihat wajahnya yang serius seperti ini. “baiklah,” aku mengangguk patuh dan menggiringnya untuk duduk di tempat duduk yang ada.

“kau bisa bawakan aku secangkir teh untuk Lay, Krystal-ah?

Krystal yang masih terdiam di pintu mengangguk lalu tubuhnya menghilang di balik pintu.

“membicarakan apa di jam pulang kantor seperti ini? sebentar lagi aku mau pulang,”

“kau itu memang benar-benar, Luhan. Aku hanya ingin bertemu denganmu,” matanya kembali menatapku hangat. Tatapan yang selalu aku lihat saat ia mendatangiku.

“bagaimana perusahaan Zhang? Lancar?”

“tentu saja,” aku menjitak kepalanya saat ia berkata dengan penuh percaya diri. Ia tertawa sejenak sambil memegangi kepalanya yang terkena jitakanku itu. Perlahan, aku ikut tertawa bersamanya.

“kalau kau?”

“kau sedang berdiri di bangunan perusahaan Choi, tentu saja semuanya lancar.”

“permisi,”

Tahu-tahu pintu terbuka dan Krystal masuk ruangan dengan dua cangkir teh di tangannya. Krystal menaruh cangkir itu di meja yang ada di antara kami lalu tersenyum padaku dan Lay. Ia mengangguk singkat sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjaku.

“dia menyukaimu, ya?”

“siapa?”

“Krystal. Kau tak lihat matanya saat memandangmu?” oh, aku teringat lagi kata-kata Kai beberapa minggu yang lalu kalau Krystal menyukaiku.

“dia sudah punya Kai.”

“Kai? Kim Jongin, maksudmu? Adik kelas kita waktu kuliah dulu?” aku mengangguk pelan lalu menyeruput tehku yang masih hangat. Aku mendesah lega saat teh itu mengalirkan sensasi hangat di kerongkonganku.

“oh ya, kau sudah akan pulang?”

“sebentar lagi. Tinggal menunggu Yoona datang,”

“ah, sahabatmu itu? kau selalu menceritakan tentang perempuan itu, tapi aku tidak pernah melihat wujudnya. Kau mau sampai kapan menyembunyikan Yoona dariku?”

“kau benar-benar berlebihan, Lay. Aku tidak pernah menyembunyikannya darimu. Memang aku ini pacarnya, apa?” rasa sakit tiba-tiba menjalar di dadaku. “kau hanya tidak pernah datang di saat yang tepat.”

“kalau begitu, perkenalkan aku dengan Yoona.”

“tunggu saja, Yoona akan datang,” aku menatap jam tanganku. 19.22. “sepuluh detik lagi,”

Delapan.

Tujuh.

terlalu lama, Luhan.”

“tidak sabaran.”

Tiga.

Dua.

Satu.

“Luhan!”

Pintu terjeblak dan Yoona datang dengan senyum lebar. Ia berlari sedikit menghampiriku lalu mengernyit saat sadar bahwa ada orang lain di ruanganku. Ia pasti bersalah karena ia mengira ada tamu penting yang datang.

“ah, maaf. Aku keluar dulu,”

Belum sempat Yoona melangkah kembali ke pintu, aku menarik lengannya. “dia temanku.” Aku membawa Yoona untuk duduk di sebelahku. Yoona dan Lay saling melempar senyum canggung.

“nah, Lay. Ini Im Yoona. dan Yoona, ini Zhang Yixing. As know as Lay.”

Lay mengulurkan tangannya cepat. Kelewat cepat malah. Yoona menyambut lengan Lay yang terjulur tanpa melepaskan senyum di bibirnya. Keduanya menggoyangkan tangan mereka lalu tautan tangan mereka terlepas.

“nah, karena Yoona sudah datang, aku rasa aku harus pulang sekarang.”

“tak mau disini dulu? Aku yakin Luhan ingin mengobrol denganmu.”

“eh?” tanyaku bingung. Yoona biasanya tak ingin kami pulang melewati jam pulang, dan hari ini ia seolah memintaku untuk tetap di kantor? Yang benar saja. Selesai dengan pikiranku sendiri, aku baru sadar kalau Yoona sudah larut dalam obrolannya dengan Lay.

“aku pulang, Yoona-ya.

Yoona-ya? hey, sejak kapan ia memanggil Yoona-ku seperi itu?

“Luhan, aku pulang.”

Lay melambaikan tangannya pada Yoona dan membalas senyum yang Yoona  lontarkan padanya. Dasar gila. Aku menyambut uluran tangan Lay dan ia menghilang dari pandangan setelah menutup pintu.

Aku berjalan kembali menuju ruang kerja sambil membereskan pekerjaanku. Aku memilah-milah mana yang harus aku bawa ke rumah dan mana yang akan kutinggalkan di kantor.

“Luhan oppa, aku pulang dulu, ya.” aku menoleh lalu mengangguk singkat pada Krystal yang berdiri di dekat pintu. “hati-hati,” aku mengernyit saat perhatian Krystal terpaku pada Yoona yang berdiri tak jauh darinya.

oppa, Yoona unnie kenapa?”

Aku memutuskan untuk menghampiri Yoona yang sedari tadi tak bersuara. Krystal  mengangguk singkat dan aku membalas lambaian tangannya.

Kini, Yoona sedang berdiri dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya yang berwarna merah muda itu. Matanya menatap lurus ke depan dan berbinar. Terang sekali. Ada apa ini?

“Yoona?”

panggilku pelan. Tidak. Ia tidak merespon.

“Yoona?”

Kali ini aku menaikkan volume suaraku, tapi reaksinya tetap sama. Tidak ada.

“Yoona?”

Kugoncangkan bahu kanannya dan ia melonjak. Binar matanya meredup walau tidak banyak, dan matanya mendelik tajam padaku.

“apa, sih?”

“hey, harusnya aku yang bertanya padamu. Kau kenapa?”

“memangnya aku kenapa?”

Kepalaku pening. Jadi, sedari tadi dia tidak sadar apa yang dilakukannya? Keterlarluan. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? seperti orang jatuh cinta saja.

Tunggu.

Jatuh cinta?

 

MISCONCEPTION

-author pov-

 

Hari sudah berganti malam. Bulan dan bintang-bintang sudah siap menerangi langit kota Seoul untuk siapa saja yang membutuhkan cahayanya. Udara malam yang cukup dingin berhembus menerbangkan dedaunan yang jatuh ke lantai.

Seorang lelaki jangkung memutuskan untuk menemani bulan dan bintang-bintang di luar. Bukan. Lebih tepatnya ia yang membutuhkan bulan dan bintang untuk menjadi temannya malam ini. Lelaki itu membawa mug kesukaannya yang berwarna hijau.

“jangan pikirkan hal yang tidak-tidak, Choi Luhan.”

Akhirnya pria itu membuka suaranya. Suaranya yang berat dan dalam itu, lebih terdengar seperti bisikan. Suara untuk dirinya sendiri. Untuk meyakinkan hatinya bahwa semua baik-baik saja.

Luhan menyentuh dada kirinya, tempat dimana jantungnya berada. Jantungnya itu berdetak cepat tanpa irama. Rasa takut dan kekhawatiranlah yang memicu detak jantungnya itu bekerja keras. Berlebihan? Mungkin, iya.

Luhan berusaha keras untuk mengabaikan perasaannya itu, dan mulai fokus pada hot cappuccino yang ada di tangannya. Asap masih mengepul dari gelasnya, namun Luhan menghiraukan itu.

Seharusnya kopi bisa membuatku lebih baik, pikir Luhan. Tapi realita yang terjadi bertentangan dengan harapannya. Cappuccino yang disukainya tidak bisa mengisi celah jiwanya yang sedang kosong.

Luhan mendesahkan napas berat.

“aku harus mencari tahu apa yang terjadi pada Yoona.”

Ya, Luhan selalu menyimpulkan kalau sakit seperti itu akan ia alami jika terjadi sesuatu dengan Yoona.

Bukan.

Ia hanya terlalu bodoh untuk merasakan perasaannya sendiri.

 

 

MISCONCEPTION

 

“Luhan-ah, kau terlihat berantakan.”

Luhan menoleh pada kakaknya yang kini ada di seberangnya. Minho dan Yuri  menghabiskan hari akhir pekan kali ini di rumah keluarga Choi, karena merasa belum nyaman tinggal di apartment mereka.

Perkataan bernada khawatir yang dilontarkan Minho menarik perhatian seluruh anggota keluarga Choi untuk melihat keadaan Luhan.

Baju yang dipakai Luhan asal-asalan dengan rambutnya yang belum disisir. Kantung matanya seolah menjelaskan kalau ia tidak tidur semalam. Belum lagi tatapan mata Luhan yang terlihat kosong. Seperti mayat hidup.

“aku tidak apa-apa.”

Luhan menggeleng lalu meraih gelasnya. Mungkin karena ia belum memulai makan, maka orang-orang berpikir ia jadi sedikit aneh hari ini. Luhan sekuat tenaga memakan sereal cokelat kesukaannya. Walaupun ia tidak berselera makan.

Minho menggerlingkan mata pada Yuri.

“Ada yang aneh dengan Luhan.”  Bisik Minho pelan sekali.

“Aku tahu. Tapi, kenapa? Yoona dimana?” jawab Yuri tak kalah pelan.

kita jemput Yoona habis sarapan, oke?”

Yuri menganggukkan kepalanya sembari melanjutkan kembali makannya. Begitu pula yang lain.

annyeong!”

Semua orang menoleh kaget pada seorang perempuan yang dengan tiba-tiba muncul. Yoona datang dengan membawa dua kantung di tangannya. Yoona melihat Luhan sejenak lalu memutuskan untuk menaruh dulu bawaannya di ruang tengah.

Luhan buru-buru memakan sereal cokelatnya tanpa menatap Yoona yang sudah duduk di sebelahnya. Yoona menarik kursinya agar lebih dekat dengan Luhan.

Luhan terdiam dan itu membuat Yoona bingung. Biasanya, Luhan yang akan menarik kursinya agar lebih dekat dengan Yoona dan mulai menyuapi sarapan untuknya. Tapi kali ini, walaupun Yoona sudah mendekati Luhan, tetapi lelaki itu tidak bereaksi apa-apa.

“kau tak mau menyuapiku?”

Gerakan tangan Luhan membeku, begitu pula anggota keluarganya. Mereka sudah sangat hapal kebiasaan Luhan dan Yoona saat sedang sarapan. Luhan menyuapi sereal cokelatnya dan Yoona menyuapi sereal strawberry yang sudah disiapkan Yoona sebelumnya.

Seharusnya, hal itu juga yang terjadi pagi ini.

“sereal strawberry-ku mana?”

Yoona menepuk bahu Luhan pelan dan memandang lekat lelaki yang sudah menjadi sahabat ‘seumur hidup’-nya itu. Yoona mengernyitkan dahi bingung. Biasanya Luhan membalas tatapannya atau mengeluh bukan seharusnya ia yang membuatkan sereal untuk Yoona.

Yoona menjauhkan jaraknya dengan Luhan.

“kau aneh, Luhan.”

Yoona menyilangkan tangan di depan dadanya. Tak terima dengan perlakuan Luhan kali ini. Perempuan itu mengerucutkan bibirnya kesal. Baik Luhan ataupun anggota keluarga Choi yang lainnya menoleh pada Yoona.

“sangat aneh malah. Sejak kapan kau tidak mau menjawab teleponku?”

Luhan menggaruk tenguknya yang tidak gatal.

sms­-ku. Apa kau membalasnya? Berapa kali aku meneleponmu kemarin? Berapa banyak sms yang masuk ke inbox-mu, huh?”

Wajah Yoona sudah merah padam menahan amarah. Sekuat tenaga Yoona menahan amarahnya agar tidak meledak di depan orangtua Luhan ataupun Minho dan Yuri.

Luhan mendesahkan napasnya berat. Setidaknya memberi tanda pada Yoona  bahwa ia masih hidup. Masih mendengarkan ucapan Yoona.

“aku-“

“aku pinjam Luhan sebentar ya semuanya.”

Yoona menarik lengan Luhan lalu tersenyum pada anggota keluarga Choi lainnya yang sedari tadi menonton Luhan dan Yoona. Yoona membawa Luhan ke kamar Luhan dan mendobrak sedikit pintu kamar Luhan.

“kau itu kenapa, Luhan?!”

 

 

MISCONCEPTION

-author pov end-

 

Aku berjalan menuju jendela kamarku yang langsung terhubung dengan balkon. Yoona berjalan menghampiriku dan aku berusaha keras untuk tidak menatapnya.

“kenapa?”

“apanya yang kenapa?” siapa yang tidak heran saat seseorang tiba-tiba bertanya ‘kenapa’ tanpa keterangan yang lebih lanjut?

babo. Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Kau marah?”

Aku menggeleng.

Aku jarang marah terhadap Yoona. Kemarahanku yang terbesar adalah saat ia berteman dengan Sehun –berandalan di kampusku dulu-. Aku tahu bahwa Sehun mempunyai niat jahat –taruhan untuk mendapatkan Yoona. Aku sudah memperingatkan Yoona ribuan kali, dan ia tidak mendengarkannya. Nasibnya berakhir di pelukanku sambil bercerita tentang kebusukan Sehun.

“aku terlalu fokus menyelesaikan pekerjaanku.” Bohong.

“memang apa yang ingin kau ceritakan?” kau benar-benar bodoh Luhan. Kau sudah tahu betul apa yang akan diceritakan Yoona. cari mati.

“laki-laki yang kita temui waktu itu, siapa?”

“Lay?” ia menangguk. “teman karib waktu aku kuliah dulu.” Aku mengambil tempat duduk di sudut santai kamarku. Tempat yang sengaja aku siapkan jika suatu hari aku ingin santai tanpa harus duduk di balkon pada waktu musim dingin.

“orangnya bagaimana?”

Jahat. Busuk. Tidak pantas untukmu. Ingin sekali aku mengatakan itu walaupun itu bertolak belakang dengan keadaan Lay yang sebenarnya. Kata-kata yang akan aku ucapkan untuk menjauhkan Yoona dari Lay dengan cepat.

“baik, pintar, terlalu menyenangkan untuk dijadikan teman.” Kau memberi kode pada Yoona untuk meminta lebih?

“benarkah?”

“iya. Kaya pula. Kau tahu kan perusahaan Zhang? Relasi perusahaan Choi bertahun-tahun semenjak kita kerja disana.”

“jadi, kau sudah mengenalnya sejak lama, Luhan?”

“aku sudah bilang kalau aku sudah mengenalnya sejak kuliah, babo.” Aku menjitak dahinya tertutup rambut. Rambut cokelatnya itu bersinar terkena sinar matahari. Pemandangan yang sangat aku sukai saat tubuh Yoona terpantul sinar matahari dan rambut cokelatnya itu berkilau indah.

Sampai kapan aku bisa melihat pemandangan itu?

Yoona mendekatiku lalu menggenggam tanganku erat. Erat sekali. Kepalanya bersandar di bahuku. Pandanganku menerawang melewati jendela untuk melihat pohon apel yang aku tanam bersama Yoona dua puluh tahun silam.

Aku ingat ada ukiran namaku dan Yoona disana. Dulu kami sering bermain di bawah pohon itu sepulang sekolah. Seiring berjalannya waktu, tempatku dan Yoona bermain beralih ke kamarku atau kamarnya.

“kau tahu?”

“hmm,” aku tak tahu mengapa, tapi aku menegakkan punggungku dan menahan napasku hingga suara Yoona kembali terdengar. Suaranya yang lembut itu bergumam,

“aku mencintai Lay.”

 

MISCONCEPTION

68 thoughts on “Misconception [PART 3]

  1. kirain Yoongie, senyum2 gagara liat fotonya ma Luhan,
    hancur, tambah hancur dah tu perasaan Luhan… Yoongie suka ma Lay. kasian dah Luhan,,,
    ditunggu kelanjutannya~

  2. eonniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
    jangan liat lay dong,,,
    kasian luhan,,,
    thoooooooooooooooooooooooooor, bagus bagus bagus,,,,,,,,,,
    q suka
    ditunggu lanjutannya yaaaaaaaaaaaaa

  3. Waaa… Andwee!!
    Qok tba2 yoona bilang cinta sma lay., jangan doonk, kasian luhan. Pasti hatinya hancur berkeping-keping..
    Atoow, jangan2 yoona month ngetes luhan. Kn luhan g pernah blang cinta sma yoona.
    Pokokxa d tunggu nextnya secepatnya.. Hehehee
    #maksa

  4. Satu kalimat yang ada dipikiranku sebelum baca FF ini ==> akhirnya, chapter 3 udah ada. . . T.T
    omo. . .yoona ini sejenis aku kali yah, baru pertama liat udah jatuh cinta aja. . #MalahCurCol
    suka sama FF.nya thor. . .
    Yang semangat nulis lanjutannya yah. .ditunggu next chapternya ^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s