(Freelance) Unrevealed Story [2]

req-hsg15-nikkireed

Poster : arin yessy @ HSG

Unrevealed Story

Written by Nikkireed

Casts

Lu Han and Im YoonA

Setelah seharian mencari pekerjaan, aku berakhir dalam keadaan lelah duduk di dalam mobil. Dengan menyalakan pendingin, aku menyenderkan kepalaku. Lalu aku teringat pada surat itu. Aku meraih surat tersebut. Kembali aku membacanya dalam hati.

Luhan-ah, kau ingat denganku? Aku orang pertama yang mencintaimu di dunia ini. Aku orang pertama yang menyayangimu sepenuh hati di dunia ini.

Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau bahagia? Kau sehat-sehat saja kan? Aku baik-baik saja disini, kuharap kau sedikit mencemaskanku, Lu.

Dan bagaimana sekolahmu, Lu? Apa kau sudah bekerja? Banyak pertanyaan untukmu, sayang. Tapi diantara semuanya: apa kau telah menerima hadiah ini? Aku memberikan ini karena aku tahu kau membutuhkannya. Aku tahu kau dalam keadaan mendesak dan sangat membutuhkan ini.

Aku memberikan ini sebagai hadiah selamat datang. Untukmu dan untuk dia, pacarmu – oh ! apa ia pacarmu?

Kuharap kau senang menerima hadiah ini, sayang. Aku mencintaimu. Selamanya.

Aku seribu kali memikirkan siapa pengirim surat rahasia dan mobil mewah ini. Aku seribu kali menebak siapa orang pertama yang aku cintai, terakhir kuingat, aku belum pernah menjalin hubungan dengan seseorang, selain Yoona tentu saja.

Lalu siapa orang ini? Tidak mungkin Kim Joon Myun membuat jebakan seperti ini, kan? Kalaupun ini jebakan, ini adalah jebakan paling romantis, kurasa.

Aku melipat surat tersebut dan menyelipkan ke dalam jas. Tidak mungkin kubiarkan Yoona mengetahui hal ini, bisa-bisa yeoja itu – ah sudahlah.

“Yoong?” panggilku begitu aku membuka pintu, mencium aroma kue (?)

Yoona sedang berdiri di meja pantry lalu berbalik ketika aku memanggilnya. Ia tersenyum senang, aku berjalan menghampirinya.

“Kau buat apa?” tanyaku, sambil membuka jasku lalu menyampirkannya pada kursi meja makan.

“Hmm – aku sedang memikirkan donat tadi siang. Jadi aku terpikir untuk mencoba membuatnya.” Yoona sedang memilin adonan yang sedikit berwarna pucat. Tangan nya penuh dengan tepung, juga terdapat sedikit tepung di pipi sebelah kanannya. Rambutnya diikat asal dan kaus pink-nya sedikit kotor.

“Donat?” Aku menyapu pipi kanan nya, ia tersenyum lalu menatapku.

“Bagaimana? Apa kau mendapatkan sesuatu?” Yoona bertanya padaku, tangannya masih sibuk dengan adonan donatnya.

Aku tersenyum canggung – Ya, sebuah surat rahasia, Yoong. – “Belum. Aku akan menelepon Ahjussi sebentar.” Aku mengeluarkan telepon genggamku dari saku celanaku dan beralih ke lantai atas.

Aku menelepon Ahjussi untuk bertanya padanya mengenai mobil misterius ini. Tapi Ahjussi tidak mengetahuinya.

Lalu aku turun dari lantai atas dengan keadaan sudah mandi, memakai kaus dan celana selutut. Aku sedikit terkaget karena melihat dapur dalam keadaan bersih. Dimana Yoona?

Aku mendongak ke ruang tamu, Yoona sedang duduk dengan tatapan kosong.

Aku duduk disampingnya, menggenggam tangannya. Tapi tiba-tiba aku tersentak karena Yoona melepaskan genggamanku begitu saja. Tatapan matanya masih kosong dan ia sama sekali tidak memandangku.

“Yoongie-ah? Waeyo?” tanyaku cemas, ini adalah keadaan dimana aku terhimpit tidak bisa berbuat apa-apa seperti waktu itu – waktu Yoona menangis sendu ketika ia mengetahui Appa-nya harus ditangkap kepolisian dan ia yang berstatus target seseorang.

Yoona diam. Mulutnya membentuk garis lurus dan matanya sedikit berkaca-kaca.

Aku menggoyangkan sedikit tubuh kecilnya, “Kau kenapa, Yoona? Kau sakit lagi?” tanyaku dengan khawatir.

Yoona masih terdiam. Entah sudah berapa lama ia duduk terdiam dalam tatapan dingin dan kosong seperti ini.

Aku bangkit berdiri ingin berlalu menuju dapur untuk mengambil air minum untuknya.

“KAU! Berani-beraninya kau selingkuh dibelakangku, hah?” Yoona bangkit berdiri dibelakangku. Suaranya menggeram. Tangannya menggenggam sesuatu.

Aku berbalik menatap Yoona, baru sekarang ia menatapku. Benar-benar menatapku. Rasanya aku sedikit sakit oleh tatapan tajamnya.

Musun soriya?” aku mengernyitkan dah dan bertanya pelan, berjalan menghampiri Yoona tapi ia malah mundur dari tempatnya. Jelas sekali ia marah. Marah? Apa salahku?

Yoona mengangkat tangan kanannya yang menggenggam sesuatu, seperti kertas, terlipat. Kertas itu!

“YA! Siapa dia? Orang pertama yang mencintaimu? Menyayangimu sepenuh hati?” Suara Yoona bergetar, begitu dengan tangan kanannya. Ia menahan air matanya turun dari tempatnya.

Aku menatapnya sendu. Melangkah mendekatinya, tapi Yoona malah semakin mundur dan menjauhiku.

“Yoona-ya. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bahkan –“

Reasonable, Luhan-ssi. Jadi selama ini apa?” Yoona bertanya dengan lemah. Air matanya sudah tumpah tanpa ia tahan-tahan. Aku lebih memilih dihajar sampai babak belur daripada melihat air mata Yoona tumpah.

“Yoong, kau dengar –“

“Jadi dia yang memberimu Porsche itu?” Yoona lagi-lagi memotong perkataanku. Ia menurunkan tangan kanannya. Kertas yang ia genggam sudah tidak bernyawa, tidak berbentuk. Hampir sobek karena digenggam terlalu kuat oleh Yoona.

Yoona menahan amarahnya dengan tersenyum sinis, membuat matanya sedikit membengkak. “Baiklah, jik— AHHHH!”

Yoona TERJATUH, tangannya memegang perut dan menutup mulutnya. Sepersekian detik, aku berlari menghampirinya, aku hampir jantungan dibuatnya begini, ya Tuhan.

“Yoona? Gwenchana?” tanyaku memegang pinggangnya, membantunya berdiri, Yoona masih memegang perutnya dan membekap mulutnya. Ia berjalan menuju kamar mandi disebelah dapur.

BLAM!

Aku tidak mungkin mengikutinya masuk karena ia menendang pintu kamar mandi dengan kencang, jelas sekali menolakku masuk.

“Yoong? Kau baik-baik saja di dalam?” Aku sudah sekian kali mengetuk pintu kamar mandi tersebut.

Hening.

Enam menit sebelas detik. Tanpa jawaban.

Dua belas.

Tiga belas.

“Yoona-ya?” Aku kembali mengetuk pintu kamar mandi tersebut.

Enam belas.

Tuj –

Pintu terbuka tiba-tiba. Yoona keluar, mulutnya sedikit basah karena air, mungkin ia cuci muka (?)

Ia berjalan menuju lantai atas, berjalan begitu saja, seolah tidak ada aku yang sedari tadi mengetuk pintu dan memanggilnya.

Aku mengikutinya berjalan menuju lantai atas. Ia masuk ke kamar dan duduk di samping ranjang. Terdiam.

Kembali hening.

Aku kembali seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa. Semua karena surat sialan itu! Siapa orang itu sebenarnya?

Aku duduk disampingnya. Yoona tidak menghindar seperti tadi. Hanya terdiam.

“Aku mau ke dokter. Ada yang tidak beres dengan perutku, kurasa.” Suara Yoona datar. Ia seperti berbicara pada dirinya sendiri. Aku mendongak ke arahnya.

“Biar aku temani.” Aku menjaga suaraku agar setenang mungkin. Mengetahui terdapat sesuatu yang salah dengan Yoona – ugh! Lebih baik aku yang salah!

Yoona berjalan menuju lemarinya, mengambil mantel dan memakai flat shoes. Aku mengikutinya mengambil jaketku. Lalu kami turun dalam keadaan terdiam dan canggung.

Kami sedang menunggu giliran. Karena ini klinik dekat rumah dan aku tidak mungkin mengantarnya dengan Porsche itu, jadi kami berjalan kaki. Tidak! Yoona berjalan dengan diam didepanku dan aku mengikutinya sampai ke klinik.

Saat sampai di klinik ia mengambil nomor dan menunggu panggilan. Ia duduk di kursi koridor lalu ia mengeratkan mantelnya, Yoona kedinginan. “Yoongie-ah, gwenchana?” ini pertanyaan kesekian kalinya dalam hari ini, aku menggenggam tangannya hati-hati, begitu aku duduk disampingnya. Takut ia melepaskan tanganku mendadak seperti tadi.

Yoona hanya terdiam. Sekali-kali memegang perutnya. Aku tahu ia sedikit kesakitan. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Telepon genggamku berbunyi disaat yang tidak tepat.

Aku bangkit berdiri untuk mengangkat telepon tersebut.

“Luhan? Kau dimana?” Ahjussi bertanya, terdengar beberapa celotehan di sebrang sana. Bahasa Mandarin? Dimana Ahjussi sekarang?

“Mengantar Yoona memeriksa perutnya. Yoona sakit. Ia muntah-muntah.” Laporku, sambil berjalan meninggalkan Yoona yang masih duduk.

Apakah ia baik-baik saja? Kalian baik-baik saja?” suara Ahjussi terdengar khawatir, kupikir Ahjussi akan tertawa seperti kemarin saat aku memberitahunya bahwa Yoona sakit perut.

“Masih menunggu giliran bertemu dokter. Waeyo Ahjussi-ah?” tanyaku, heran. Kenapa Ahjussi tiba-tiba meneleponku dan ingin mengetahui keadaan Yoona.

Aku perlu memberitahumu sesuatu, Luhan-ah. Ini mendesak. Kau –

“Im Yoona xiao jie?” Seorang suster keluar dari ruangan memanggil nama Yoona, yang merasa dipanggil langsung tersontak kaget seperti terbangun dari lamunannya.

Aku berbalik melihat Yoona bangkit berdiri lalu mendekatkan teleponku, “Ahjussi, aku harus pergi. Nanti kutelpon lagi.”

Kami berdua kembali dalam keadaan diam. Penjelasan dokter tadi mengejutkanku, dan kurasa Yoona juga. Tapi ia cukup hebat untuk menelan bulat-bulat perasaan kagetnya.

“Selamat bagi kalian berdua sebagai calon ayah dan ibu. Im Yoona xiao jie ini sedang mengandung 2 bulan. “

Dua kalimat itu sudah terngiang berulang kali di telingaku, dipikiranku.

“Yoong, kumohon, berbicaralah sebelum aku gila.” Aku memohon pada Yoona, terdiam seperti ini benar-benar membuatku gila.

Yoona mendongak kepadaku, “Kau ingin aku berbicara apa?” tanyanya pelan, suaranya lembut dan tatapannya persis kepadaku.

“Katakan kau baik-baik saja, katakan kau tidak kenapa-kenapa, katakan sesuatu mengenai itu!” Suaraku sedikit meninggi. Udara di ruang tamu ini tiba-tiba menjadi pengap meski sudah malam.

“Mengenai apa? Mengenai ini?” Yoona menyentuh perutnya, baru kusadari perutnya mengalami kemajuan beberapa centi setelah terakhir aku melihatnya.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” Aku menjambak rambutku sendiri. Aku gila! Benar-benar gila tidak tahan dengan semua ini.

Aku berdiri sambil berkacak pinggang membelakangi Yoona. Ia bangkit berdiri dan menyentuh pundakku. Secara reflek aku berbalik menghadapnya.

Wajah itu sendu. Tatapannya walaupun tertuju padaku nyatanya seperti kosong. Lengkungan di bibir itu walaupun milikku nyatanya hampa.

Yoona mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibirku. Cara ia menciumku seolah ini asupan yang ia butuhkan, seolah hanya ini yang sedari tadi ia pikirkan. Dan cara ia menahanku – sekarang tangannya sudah melingkar di leherku – menyentuhkku secara mengejutkan seperti ini, membuatku mati daya.

Seolah tidak ada apa-apa barusan!

TBC

Dear all the readers. Aku mau say thank u buat kalian yg masi setia ngikutin ff ini. Hahahaha aku sampe terharu. Aku punya beberapa kabar kurang gembira untuk kita semua……😦
Pertama. Aku sekarang udah mahasiswa lohhhh (bangga dikit) dan waktu aku buat nulis semakin menipis, aku harus ngurus ini itu, tugas quiz presentasi. Tapi tenang ajah, aku udah punya banyak storyline cuma belom sempet aku tuangin dalam penulisan ff, jadi ya………udah. Cuma info ajah hehehet.
Kedua. Editorku yg paling ketjehhhh sedunia, vakum dari dunia penulisan ff. Jadi sekarang aku yg ngurus tetek-bengek ff aku sendiri. Dan karena aku masi new writter, aku butuh seorang editor sekaligus poster-maker buat aku. Ada yg berminat?
Ketiga. Jadwal post udah aku serahin ke editor lamaku, yg aku gatau kapan post nya. Jadi kalo post nya ada delay atau keterlambatan, aku minta maaf aku gatau apa-apa.
Buat kamu yg ada twitter boleh kontek aku di @nikkideer7 ^^
Makasih banyaj buat kalian yg udah ngikutin ff aku terus.
XOXO , nikkireed

43 thoughts on “(Freelance) Unrevealed Story [2]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s