(Freelance) Rented Womb

rw

Title : Rented Womb

Author : ohlala / @Lalalilulelooo

Main Cast : Im Yoona (Girls Generation), Oh Sehun (EXO-K)

Other Cast : Sehun eomma, Jung Bou Yeon, Kim Jong In, etc.

Lenght : Oneshoot

Rating : PG -17 (Warn!)

Genre : Romance, Angst

Disclaimer : This story is pure by mine. Don’t be a plagiator. Also posted at my blog http://storyoflalakarisma.wordpress.com

 

Longshoot!

 

*

 

Money, Baby and You

 

*

 

Manusia memulai kegiatannya pada pagi hari, dimulai dari bangun pagi lalu berangkat menuju kantor masing-masing setelah itu. Sama seperti kantor ini yang sudah di padati oleh para karyawannya yang sedang berlalu lalang menuju ruangan masing-masing. Setelah selesai dari pekerjaan saat matahari tenggelam para karyawan pun beranjak dari kursi mereka untuk bergegas pulang menemui keluarga mereka. Sehun, salah satu dari mereka itu tetapi ia merupakan seorang CEO dari perusahaan ini. Ditangannya masih ada gadget yang selalu menemaninya bekerja bahkan hingga jam pulang seperti ini Sehun masih menerima telfon dari beberapa client.

                                                   

Yeobseo? Eomma? Wae?” Sehun menghela nafasnya, walaupun sudah pindah dari negara kelahirannya dan tempat tinggal Ibu-nya -Canada- Sehun masih tetap mendapat omelan dari ibunya tersebut yang menagih penerus perusahaan setelah Sehun. “Iya, aku tahu. Aku akan memberikan cucu untuk Eomma. Ne, eomma tidak perlu khawatir. Ne, jaga kesehatanmu” Kembali, Sehun menghela nafas. Ia menyesal mengakui sudah memiliki istri pada ibunya beberapa bulan yang lalu karna kecerewatan ibunya Sehun terlepas untuk mengatakan hal tersebut padahaln hingga saat ini ia tidak memiliki pacar.

 

“Huh, Eomma” Sehun mendesah, menendang angin di ruangan ini hingga seseorang menepuk bahunya.

 

Sajangnim” terdengar ejekan dari sapaan itu dan Sehun tau siapa yang memanggilnya seperti ini.

 

“Kai!”

 

“Ampuni aku Sajangnim”

 

“Diam kau” ujar Sehun yang membuat Kai -sahabatnya- terkekeh melihat tingkahnya.

 

“Apalagi masalahmu Sehun-ah? Aku bosan melihatmu yang seperti ini” Kai yang kali ini mendesah tidak sanggup melihat teman baiknya yang terus-terusan dilanda gelisah. Bagaimana nasib perusahaan ini nantinya jika sang pemimpin yang tidak selalu fokus dalam bekerja.

 

“Kini eomma menagih bayi dariku” Sehun menurunkan bahunya berniat melanjutkan langkahnya yang terhenti karna telfon dari sang eomma dan juga karna Kai yang mengajaknya berbicara.

 

Kai kini tertawa melihat tingkah Sehun, “Hei, jangan tinggalkan aku!” pekiknya.

 

“Kai bagaimana ini?” Sehun bertanya dengan gusar, masih melangkah dengan cepat.

 

“Kau tau jasa penyewaan rahim? Kau tinggal menyerahkannya kepadaku dan kau bisa mendapatkan bayi secepatnya” lelaki tinggi itu dengan ragu mengangkat bibirnya untuk tersenyum.

 

“Maksudmu?”

 

“Kau lihat saja besok. Aku akan mengurusnya untukmu” kini Sehun tersenyum riang dan mengangguk, menyetujui ide dari Kai.

 

*

 

Kamar tanpa ventilasi itu terlihat cukup sumpek untuk ditinggali, keadaan yang jauh dari kata bersih membuat orang-orang enggan untuk menginjakkan kakinya didalam sana tetapi berbeda dengan seorang wanita berkulit putih yang kini berada didalam kamar tersebut.

 

“Mengapa hidupku seperti ini?” wanita itu memandang kosong kearah depan, pipinya terlihat lengket oleh bekas air mata. Ia menyesali keputusannya tadi malam dengan Jung Bou Yeon -wanita yang sudah membelinya- Ia memang sudah menghela nafas lega saat melihat ibu dan adiknya yang kini berkecukupan tetapi ia kini pusing memikirkan jalan hidupnya sendiri.

 

“Apa yang telah aku lakukan?” Yoona, nama wanita itu.

 

Yoona merelakan rahimnya untuk dihidupi janin dari sperma lelaki yang belum dikenalnya hanya demi kehidupan yang layak untuk ibu dan adiknya, memang ia belum mengalami itu atau lebih tepatnya Bou Yeon belum mendapat pesanan penyewaan rahim seorang wanita tetapi tetap saja itu akan terjadi cepat atau lambat. Ia akan hamil dan memiliki bayi, ya walaupun bayi itu tidak untuknya nanti.

 

Terkadang Yoona berfikir bahwa ia sudah gila untuk menyetujui ini, tetapi tidak ada jalan lain. Yoona belum tamat SMA dan ia tidak bisa bekerja lebih keras untuk menghidupi keluarganya hanya ini jalan satu-satunya dan Yoona sudah puas untuk itu biarlah untuk yang satu itu.

 

“Im Yoona! Ada pesanan untukmu!” terdengar gedoran dari tangan besar Nyonya Jung dan Yoona buru-bur bangkit dari duduknya untuk menghampiri pintu kayu yang hampir lapuk itu.

“Ini lelaki muda yang sangat kaya, kau harus bersiap-siap karna ia akan membayar dengan sangat mahal” serunya menggebu-gebu. Yoona hanya mengangguk saja, baru tadi ia memikirkan hal itu dan kini ia sudah tiba. Apa yang bisa Yoona perbuat? Nyonya Jung sudah membayarnya diawal.

 

Ne, nyonya.”

 

“Kau setelah bersiap segera ke alamat ini karna ia ingin membuat kesepakatan denganmu” Jung Bou Yeon menyerahkan secarik kertas untuk Yoona dan segera disambut oleh gadis kurus itu.

 

*

 

“Kau bisa melakukannya dengan proses inseminasi atau penyuntikan cairan sperma ke rahim wanita yang sudah aku pesan” ujar Kai menjelaskan pada Sehun, lelaki itu terbelalak. Ia tidak mau yang seperti itu.

 

“Apa? Aku tidak mau, aku ingin melakukannya langsung” Serunya tidak terima.

 

“Hah, apa? Itu terlalu lama Sehun. Hingga berapa kali kau harus melakukannya? Kita hanya menyewa rahimnya” Kai menggebrak meja kerja Sehun setelah itu, lelaki ini menginginkan bayia tau menginginkan yang lainnya? Kalau begitu sewa saja pelacur dan Sehun bisa mendapatkan yang ia inginkan. Tetapi kini Kai sudah terlanjur memesan wanita itu dan tidak bisa lagi dibatalkan.

 

“Suruh ia datang ke restaurant di dekat kantor aku yang akan membicarakannya” ujar Sehun santai, ia benar-benar tidak mau dengan proses inseminasi sialan itu mengapa Kai tidak mengatakannya sejak awal.

 

“Tetapi semua ini tidak bisa sesuai dengan keinginanmu Hun” sanggah Kai.

 

“Aku tidak mau tau”

 

“Sehun!” bentak Kai kesal, Sehun memang selau tidak bisa diberi tahu.

 

“Katakan saja, semua akan berjalan lancar hanya dengan uang” Sehun melirik Kai tajam untuk segera memenuhi permintaannya. “Lakukan sekarang Kai!” perintah Sehun yang tak kan bisa terbantah lagi jika ia sudah mengungkit-ungkit soal uang yang bisa mengabulkan segalanya.

 

Money can change everything..

 

*

 

Sehun memasuki restaurant yang disebutkannya tadi dengan tenang, berjalan bak model ayng berada di catwalk, ia merapikan jas berwarna abu-abunya lalu membuka pintu yang membunyikan loceng disana dengan elegant. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru restoran, ia sedang mencari meja nomor 12 yang dipesannya tadi.

 

Disudut sana ia melihat seorang wanita yang duduk menghadap kearah keadatangannya, wajahnya terlihat datar tak berekspresi apapun, bibir berwarna cherry-nya tidak menampakkan sebaris senyuman pun bahkan matanya terlihat kosong tak tampak memikirkan apapun. “Agashi” sapa Sehun. Gadis dengan baju terusan pendek berbunga-bunga itu menoleh padanya, ekspresi yang ditunjukkannya tetap sama, datar.

 

“Apa kau Oh Sehun?” tanyanya tanpa mempersilakan Sehun yang kini sudah duduk dihadapannya.

 

Ne dan kau?”

 

“Im Yoona.”

 

“Yoona-ssi, aku akan langsung masuk ke topik pembicaraan.” Sehun berdehem saat melihat Yoona mengangguk. “Aku bukan hanya ingin menyewa rahim-mu tetapi aku ingin menyewa tubuhmu, aku tidak bisa melakukan proses inseminasi. Kita harus melakukannya secara langsung” Yoona terbalalak tetapi ia langsung membenarkan ekspresinya.

 

Mwo?

 

 

*

 

Yoona melangkah dengan tidak pasti memasuki sebuah apartement dikawasan elit gangnam, ini sudah yang ketiga kalinya ia ada didepan kamar yang ada didepannya, dan ini yang keempat kalinya ia akan melakukan’nya’ bersama Sehun. Ya, Yoona menyetujui ide gila Sehun dengan iming-iming uang lelaki tersebut.

 

“Sehun-ssi”

 

“Yoon, kau sudah datang?” seru Sehun, ia kini sudah bisa untuk tersenyum terhadap Yoona. Gadis itu memang belum mengandung anaknya tetapi Sehun akan terus mengusahakannya dan mulai bersikap baik pada Yoona. Sedangkan gadis itu masih saja seperti biasa, tidak menunjukkan perubahan pada wajahnya. “Apa kita mulai sekarang saja?” tanya Sehun.

 

Yoona tidak menjawab pertanyaan Sehun, ia tengah memikirkan kehidupannya setelah mengandung anak dari lelaki itu. Ia juga merasakan bahwa ia sangat kotor setelah melakukan hal tersebut bersama Sehun “Sehun”.

 

“Hm” Sehun terus mengarahkan pandangannya pada Yoona, kali ini ia melemparkan tatapan seduktifnya.

 

“Aku tidak bisa”

 

“Apa maksudmu? Kau harus mau, dan harus bisa. Aku sudah membayarmu” ujar Sehun dengan suara meninggi. Aku menginginkanmu.

 

“Aku tidak bisa Sehun-ssi”

 

“Kau harus bisa!!” Sehun meraup bibir merah muda Yoona, melumatnya dengan perasaan menggebu-gebu. Sehun tidak bisa menerima penolakan, dengan uang ia harus mendapatkan semuanya termasuk seorang bayi kecil dari rahim Yoona . Buah cintanya bersama gadis ini, gadis yang diinginkannya.

 

Yoona mencoba mendorong dada Sehun agar menjauh darinya “Se-hun!”

 

“Aku tidak mau mendengar penolakan!” setelah itu Sehun mulai menjilati leher Yoona dan kembali ke bibirnya untuk bermain di rongga mulut gadis itu, tak lama Sehun memojokkan Sehun di sudut ruangan lalu tangannya mulai menyusup kedalam dress dongker yang digunakan Yoona untuk memainkan sesuatu didalamnya.

 

“Sehun! Aku mual”

 

*

 

Three Month Later

 

               Sudah beberapa bulan ini Sehun tidak bertemu Yoona, padahal ia sangat yakin saat itu Yoona sudah mengandung anaknya. Ia sudah menanyakannya pada Nyonya Jung dan Sehun tidak mendapatkan apa-apa dari wanita itu. Sehun mendadak frustasi dikarenakan hilangnya gadis berambut coklat yang telah ia ambil keperawanannya.

 

Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk dan hal itu membuat Sehun yang tengah melamunkan Yoona terlonjak kaget. “Masuk” ujarnya dengan suara serak.

 

“Sehun!”

 

“Eomma!” serunya dan buru-buru menormalkan penampilannya, takut-takut ibu tua ini kembali mengomelinya.

 

“Kemana menantu Eomma? Apa ia sudah mengandung?” pertanyaan dari Ibunya membuat Sehun sedikit murung, pasalnya ia tidak tau bagaiamana cara menjawab pertanyaan ibunya ini. “Sehun, kau tidak menjawabnya!”

 

“I, istriku hilang eomma” jawab Sehun sekenanya.

 

“Hilang? Bagaimana bisa?” sahut Nyonya Oh histeris.

 

“Dia pergi begitu saja 3 bulan yang lalu dan kini ia tengah mengandung anakku” jawab Sehun dengan suara sedih, ia harus menyempurnakan aktingnya di depan ibu tua ini.

 

Mwo? Aku akan mempunyai cucu!”

 

ne”

 

               “Kemana kita harus mencarinya? Kau harus segera menemui istrimu. Eomma tidak sabar untuk menggendong cucu eomma” Nyonya Oh berteriak dengan senang sembari berlonjak tanpan ia sadari.

 

“Eomma jagan terlalu berlebihan”

 

“Aku akan memiliki cucu Hun-ah” Nyonya Oh mengguncang bahu milik putranya. “Ayo kita cari istrimu” ujarnya menggebu-gebu lalu menarik lengan Sehun begitu saja.

 

*

 

Sehun tidak tau harus kemana lagi, sudah hampir satu minggu penuh ini seluruh tenaganya ia kerahkan untuk mencari Yoona bahkan ibunya yang sebelumnya sangat bersemangat kini mulai patah semangat dan kembali memulai liburannya keluar negri, kali ini tujuan wanita tua itu adalah Thailand. Sehun tentu tidak bisa melarang ibunya pergi, dan kini ia tengah dalam perjalanan seusai mengantarkan wanita yang hampir berumur setengah abad itu dari bandara.

 

“Kemana lagi aku harus mencari Yoona?” ujarnya frustasi sembari memijat pangkal hidungnya, karna akhir-akhir ini pusing selalu melandanya.

 

Yeobseo? Ya! Jongin! Kau mengganguku!”

 

               “Kau saja yang mengrusnya, ya, letakkan harga setinggi mungkin. Ne, ne. Kau jangan menggangu lagi” Sehun meletakkan dengan kasar ponsel pintarnya di dashboard mobil dan tak sengaja matanya menangkap seorang wanita yang tengah melintas tepat didepan mobilnya.

 

Sehun bersegera menepikan mobilnya dan berlari mengejar wanita itu. “Yoona! Yoona!” pekik Sehun sembari mempercepat laju larinya.

 

“Yoona!”

 

“Sehun-ssi!”

 

*

 

Yoona tidak tau sejak kapan kebahagiaan ini meliputinya, memang sekarang ia hanya tinggal di rumah yang kecil itupun hasil dari pemberian uang dari Sehun selama ia berhubungan dengan lelaki itu. Ia sedang hamil 12 minggu dan Yoona tidak tau kenapa ia pergi dari Sehun dan hidup bahagia sendiri, Yoona baru saja pulang dari membeli susu ibu hamil untuk ia konsumsi dan ia mendengar seruan orang yang memanggil namanya. Yoona masih terus melangkah hingga sebuah tangan menahan bahunya.

 

“Sehun-ssi!”

 

Lelaki itu, lelaki yang mengantarkan kebahagiaan ini padanya. Lelaki dengan tinggi 180 cm , berkulit putih dengan rambut pirang hitam yang menumbuhi kepalanya berada dihadapan Yoona saat ini. Ayah dari janin-nya. “Kau kemana saja? Aku mencarimu Yoon” Sehun mendesah lega saat menemui wajah ini lagi, ia tidak menyangkanya.

 

Sehun menatap Yoona dengan teliti, mengamati perubahan wajah gadis ini, ternyata pipinya semakin tembam dan oh tubuhnya semakin berisi saja semenjak terakhir Sehun temui “Ak, aku. Aku pergi-“

 

“Ah sudahlah, yang terpenting kau sudah ku temui. Ayo kita pulang ke apartementku” Sehun menarik tangan Yoona untuk mengikutinya.

 

“Tapi,”

 

Sehun melirik tangan Yoona yang memegang sebuah tas plastik, “Apa ini?” tanyanya sembari menarik kantung tersebut. “Susu ibu hamil! Apa kau hamil?” Sehun berteriak histeris saat menanyakannya, persis seperti ibunya. Ternyata benar dugaan Sehun selama ini, ia akan segera menjadi ayah. “Yoona! Jawab aku”

 

“Aku, aku harus pulang”

 

“Kau harus menjawabku Yoon, apa disini ada bayiku” darah Yoona berdesir hingga kejantungnya, aliran listrik itu merembet begitu saja saat Sehun mengusap lembut perutnya yang menggembung. “Yoona”

 

“Hm,” Yoona menggumam pelan menjawab panggilan Sehun.

 

“Apa disini ada bayiku?” tanya Sehun lembut, ia tersenyum simetris bahkan matanya sudah berbinar-binar saat ini. Yoona, ia tidak tau harus mengatakan apa. Ia ada di posisi bersalah dan melihat Sehun yang seperti ini membuatnya seperti seorang tersangka. Sehun sudah membayarnya dan ia sudah menikmati uang lelaki itu lalu kini ia meninggalkan Sehun begitu saja. Ini memang bukan masalah uang tetapi ini masalah kemanusiaan.

 

N, ne”

 

               “Apa kau bisa mengulanginya?”

 

“Aku harus pulang Sehun!”

 

“Kau tidak bisa pergi! Aku sudah membayar rahimmu Yoona, aku pemiliknya saat ini. Ayo kau harus ikut aku, aku ingin merawat bayiku sendiri” Sehun menarik Yoona begitu saja, emosinya kini sudah ada di ubun-ubun melihat Yoona yang seperti ini. Dan perkataan Sehun barusan seolah menampar Yoona, Yoona tau itu dan ia tidak berhak menghindar. Bayi ini milik Sehun juga.

 

*

 

“Yoona, kau menginkan apa? Apa ada yang bayiku inginkan?” tanya Sehun bertubi-tubi sedangkan Yoona hanya diam saja. “Im Yoona, ayo katakan. Apa yang kalian inginkan?” kini gadis itu menggeleng. “Yoona katakan padaku!”

 

“Kami tidak menginkan apa-apa” jawab Yoona pada akhirnya.

 

“Ayolah katakan, aku tidak ingin menjadi ayah yang buruk” Sehun menunduk lalu menghembuskan nafas beratnya. “Yoona, aku mohon”

 

“Tapi aku sedang tidak mengingkan apapun, ini sudah lebih dari cukup” Yoona melirik meja kecil disampingnya yang menampung berbagai macam makanan disana. “Kau ingin membuatku gendut?” tanya Yoona setelah itu dan Sehun hanya tertawa kecil, ini tawa pertama dari lelaki itu yang pernah Yoona lihat dan sungguh sangat manis sekali. Sehun benar-benar tampan, anaknya beruntung sekali memiliki ayah seperti Sehun.

 

“Bukan itu maksudku, ah. Yasudah, kau istirahat dulu saja” Sehun beranjak ingin meninggalkan Yoona untuk beristirahat di kamar itu sendiri.

 

“Sehun”

 

“Kau membutuhkan apa?” tanya Sehun cepat, sepertinya ia bersungguh-sungguh ingin menjadi calon ayah yang baik.

 

Yoona tersenyum tipis. “Kau mau mengusap perutku? Sepertinya akan lebih nyaman seperti itu”

 

“Ah, mengusap perutmu?”

 

N,ne– Sepertinya ini permintaan Uri Aegy” ujar Yoona sedikit malu, ia memang sudah tidak memiliki rasa malu saat ini sepertinya. Pasalnya setelah menolak Sehun, Yoona malah meminta yang tidak-tidak pada lelaki itu. Bukannya hormon ibu hamil sedikit aneh?

 

“Apa aku boleh berbaring di sampingmu?” setelahnya Yoona mengangguk tanpa ragu lalu menggeser tubuhnya ke arah kiri.

 

Aegy-ya kau ingin Appa menemanimu?” bisik Sehun lembut pada perut Yoona sebelum ia berbaring dan mengusap perut Yoona.

 

Ne Appa” jawab Yoona menirukan suara anak kecil yang membuat keduanya tertawa bersama-sama. Semoga tawa mereka tidak pernah luntur setelah ini, apalagi setelah kelahiran anak itu.

 

*

 

Ini sudah masuk bulan kesembilan kehamilan Yoona dan seperti ibu hamil lainnya Yoona akan segera mengeluarkan bayinya, dan oleh karena itu Yoona sekarang berada di ruangan bersalin salah satu rumah sakit terkenal di Seoul. Sehun sudah menjanjikan untuk menikahinya tetapi ntah kenapa Yoona selalu mengalihkan pembicaraan tentang pernikahan hingga bulan kelahiran bayi mereka.

Sejauh hidup bersama Sehun, gadis itu tidak lagi melihat sikap buruk Sehun. Lelaki itu selalu bersikap baik padanya apalagi saat ini Pria itu sedang mendampinginya di ruang bersalin dengan wajah cemas bercampur bahagia karna sebentar lagi ia akan memiliki bayi.

 

Suara tangisan bayi yang nyaring membuat Yoona hampir juga menangis, Sehun mencim keningnya bertuubi-tubi . “Terimakasih Yoon”

 

“Tuan dan Nyonya Oh bayi kalian laki-laki” Yoona menitikkan setetes air matanya saat melihat bayi itu ada dipangkuannya, Yoona melakukannya dengan baik dan Sehun sangat bahagia sekarang. Ia mengusap lembut pipi bayi yang baru saja lahir itu.

 

“Ia sangat sehat Hun” ujar Yoona sedikit serak karna tertahan air matanya, ia sangat lelah saat ini dan ingin sekali menangis dengan kencang saat memikirkan segalanya.

 

“Iya, ia tumbuh dengan baik di dalam rahimmu” perkataan Sehun semakin membuat Yoona tertohok, ia ingat Sehun hanya menyewa rahimnya sebagai tempat tumbuh calon bayinya.

 

“Ia juga tampan sepertimu”

 

 

*

 

 

“Yoona!!” Sehun memekik hingga menimbulkan tangisan pada putranya yang ada diruangan ini. “Im Yoona! Kau kemana?” Sehun berteriak histeris, ia tidak mau Yoona hilang seperti waktu itu lagi.

 

               Sehun jaga putramu baik-baik. Aku sudah menajganya selama 9 bulan, sekarang adalah saatmu yang menjaganya. Maaf aku tidak berpamitan secara langsung, terimakasih atas semua kebaikanmu.

Aku menyayangimu dan putra kita.

 

Im Yoona

 

“Aegy, Yoona Eomma pergi meninggalkan kita” adu Sehun pada putranya yang masih meraung didalam box bayi, tampaknya ia juga merasakan kesedihan yang dirasakan Sehun.

 

“Im Yoona, semoga kau bahagia seperti kami”

 

 

-FIN-

 

Epilog..

               Langkah kecil itu terus berlari mendekati seorang lelaki dengan pakaian kantornya diujung sana. “Appa!”

 

“Bum-ah, ada apa sayang?”

 

“Appa, Bummie belum sarapan. Bum lapar Appa!” rengek bocah lelaki itu layaknya anak kecil.

 

“Sabar sebentar ya sayang, Appa akan segera menyelesaikan telfonnya” ujar Sehun lalu kembali pada percakapannya melalui telfon, Oh Bum Geum merajuk ditempatnya. Lelaki imut dengan pipi gembil itu melipat kedua tangan kecilnya didepan dada.

 

“Appa!”

 

“Iya sayang, Ayo kita Appa masakkan” Sehun menggendong Bum Geum dengan semangat lalu berlari masuk kedalam dapur. “Bum Geum ingin memakan apa?”

 

“Pancake cokelat”

 

“Yes, pancake cokelat buatan Appa akan segera siap!” Sehun tersenyum ditengah acara memasaknya. Biar saja Yoona tidak ada disini dan Sehun akan memenuhi eprmintaan Yoona untuk menjaga putra mereka seperti apa yang dilakukan Yoona saat mengandung Bum Geum dulu.

 

 

END

 

 

Please give a review :=)

82 thoughts on “(Freelance) Rented Womb

  1. Gara gara liat sequelnya aku jd nemu ini ff. Keren banget thor, cuman sayangnya agak kurang greget sama alurnya agak kecepetan. Tapi keren kok, daebak..

  2. Huuaaaa .. Kok yoonanya pergi sihh .. Pdahal sehun udh mauu ngajak yoona nikah .. Tp knapa pas awal2 sehun ngotot banget pngen ngelakuin langsung tnpa inseminasi ?? Apa sblum sehun nyewa yoona dia emng udh suka sama yoona ???

  3. aarrrgghhh sehunnya baik banget aku kira dia jahat thor trus trus sehunnya romantis banget tapi sayang kenapa yoona malah pergi , thor thor ini ff bakalan ada lanjutannya gak kalo ada cepet cepet di post ya seru bingitssss

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s