MONO SCANDAL 3rd

monoscandal_mheliyastory

cr : cloverqua @ Art Fantasy

 –

[Aku mencintainya, lalu kau mau apa?]

Warning : semakin kesini, banyak adegan yang tidak boleh di baca oleh anak-anak. Jadi tolong kasih saran ya, perlu di protek atau engga?

Teaser|1st|2nd|

||

            Siapa dia? Siapa pemilik mata indah itu? Mengapa jantungku berdetak sangat cepat? Tidaaaaaaakkk!!

            “Hei, kau tidak apa-apa?” aku mengerjapkan mataku saat itu juga aku melihat sebuah tangan kekar terulur padaku. Aku mendongak, rupanya pemilik tangan itu adalah Yi Fan. Ku sambut uluran tangannya, dan perlahan aku mulai berdiri. Aku melirik kearah asistenku yang membantu pria malang yang tertindih olehku tadi. Pria itu merapihkan tuxedonya yang berantakan karna ku. Kemudian dia menatapku tajam. Oh, tidak. Hentikan tatapan tajam itu. Lalu dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada kami bertiga. Aku emnatap Yi Fan dan asistenku bergantian. Tanpa sadar kami sudah berada dalam kerumunan netizen yang datang ke Pernikahan Sutradara Choi ini.

            “Calista, bagaimana kau bisa terjatuh seperti itu?”

            “Calista, kau tidak tau dia itu siapa?”

            “Calista, bicaralah” aku memejamkan mataku. Kedua tanganku mengepal. Aku menarik nafasku kesal. Asistenku menyadari hal itu dia melepaskan tuxedonya dan menyampirkannya di bahuku. Lalu merangkulku dan membawaku meninggalkan kerumunan netizen itu. Aku melihat Yi Fan yang menatap tajam pada asistenku. Sebenarnya aku tidak mengerti, ada apa sih diantara mereka?

            “Masuk!” perintah asistenku. aku mendengus kesal. Dia ini tidak pernah bersikap ramah padaku. Kemudian dia menutup pintu mobil dan menyusul masuk. Aku mendesah, suasana diantara kami mendadak canggung. Diantara kami tidak ada yang berniat membuka suara. Aku menatap. “Hei Baek-Gu. (Si kulit putih)

            Dia menatap tajam padaku. “Sudah kukatakan jangan memanggilku seperti itu!”

Tawaku lepas, ketika melihat ekspresi kesalnya. “Kenapa? Bukankah panggilan itu cocok untukmu? Kau kan si kulit putih. Kau bahkan lebih putih dariku”

            Dia merapatkan bibirnya. Uh!

            “Hei, apa menurutmu setelah ini mereka akan terus mengejarku? Apa ini akan jadi sebuah hot news?” dia menatapku sekilas lalu mengindikkan bahunya. Ku poutkan bibirku. “Kau ini tumben sekali pendiam seperti ini? Ayolah bicara aku bosan”

            Ckiit! Dia menghentikan mobil seketika kemudian memutar badan kearahku. Dia segera melepaskan seat belt dan semakin mendekat padaku. “Hei apa yang kau lakukan?”

            Dia terus mendekat. “Baek- Gu!”

            Kini aku sudah terjebak, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Jarak diantara kami hanya beberapa centi saja. Dia masih menatapku tajam, smirk muncul di wajahnya. Membuatku bergidik seketika. Kemudian.. Chu!

            Dia mengecup bibirku singkat. Aku ulangi, dia mengecup bibirku. Asistenku mengecup bibirku! Lalu tersenyum penuh kemenangan. “Kau bisa diam tidak?”

            Aku paksakan untuk mengangguk. Kemudian ia menjauhkan tubuhnya dariku. “Jika kau tidak bisa diam, aku akan melakukannya lebih dari itu. Mengerti?”

            Apa? Lebih dari itu? Dia mengancamku seperti itu? Aish!

            Aku membekap mulutku sendiri, dan memilih kembali menatap pemandangan dari jendela. Suasana kembali hening, saat itu juga aku merasakan kantuk yang begitu mengganggu. Aku menguap berkali-kali, dan mataku mulai berair. Ku ubah posisi dudukku senyaman mungkin. Kemudian aku menyenderkan kepalaku di kaca dan mulai tertidur.

            Mataku mulai mengerjap, aku menyadari kalau aku sudah tertidur dengan nyaman di kasurku. Aku melihat ke sofa, asistenku tertidur dengan posisi yang tidak nyaman. Lagi pula mengapa dia tidur di kamarku? Ku putuskan untuk mengambil selimutku, dan mendekat padanya. Aku berjongkok mensejajarkan tubuhku dengannya. Bagaimana bisa, sosok yang tertidur ini seperti malaikat? Sedangkan tadi dia baru saja melakukan dosa-nya karna menciumku. Blush! Pipiku memerah seketika. Segera aku menyelimuti tubuhnya, ku perhatikan wajahnya yang begitu damai. Tiba-tiba tatapan mataku terhenti pada bibir mungilnya. Bibir itu, ah aku baru sadar meskipun hanya sebentar tapi ciuman itu begitu manis. Aku ingin bibir itu lagi! Aish!

            “Dia memang sangat tampan” gumamku. Kini aku memang benar-benar gila. Tanganku bahkan tanpa bisa di komando mulai membelai wajahnya. Membuat dia bergerak sedikit. Bibir mungil itu mengatup-ngatup, aku beranikan diri untuk mendekat padanya. Tiba-tiba..

            “Hyung! Jangan..”

            “Hyung, ku mohon jangan tinggalkan aku”

            “aku berjanji akan menjaganya Hyung!”

            Mimpi apa dia? Mengapa dia menyebutkan Hyung? Apa dia mempunyai seorang kakak? Lalu siapa yang dia jaga? Aku merobek ujung gaunku dan mengelapkan keringat yang mulai membasahi keningnya. Mungkinkah dia mimpi buruk? Tapi menjaga? Apa dia mempunyai seorang kekasih?

            Aku berjalan lemas kembali ke kasurku. Pikiranku benar-benar layaknya benang kusut. Aku tidak tau lagi harus apa.

            Aku mengulet sebentar, setelah itu melirik jam wekerku. Baru jam 6 pagi, dan kamrku sudah mulai di penuhi cahaya matahari. Aku menoleh melihat kearah sofa, dia sudah tidak ada disana. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya, saat itu juga aku mendengar suara gaduh berasal dari dapur. Kemudian aku mendengar suara tawa, yang sepertinya itu asistenku dan Lee Ahjumma. “Selamat pagi!”

            Aku berteriak saat menuruni anak tangga, asistenku hanya diam. Sedangkan Lee Ahjumma tersenyum padaku. Aku berjalan menuju ruang tv, asistenku berteriak.

            “Jangan menyalakan TV. Kau tidak akan suka dengan beritanya” aku mendengus. Sudah ku duga, berita memalukan semalam pasti sudah tersebar dimana-mana. Aku mengusap wajahku. Aku menghempaskan tubuhku di sofa. “Aku ada pemotretan siang ini..”

            Asistenku melempar handphoneku yang terus berdering. “Aku tau, tapi tadi Taeyeon Noona menelponku, katanya para netizen sudah mengerumuni kantor manajemenmu sejak pagi tadi”

            Taeyeon, menelfonya? Kenapa tidak langsung saja padaku?

            “hei,”

            “Ah, ya?” Dia menghela nafas. “Apa yang kau lamunkan?”

Aku menggeleng, lalu menutup wajahku dengan bantal. Wajahku pasti memerah, tidak. Aku tidak ingin dia tahu, tiba-tiba aku teringat.

            “Oh, Baek-Gu!”

            Aku mengintip, melihatnya menatap tajam padaku. Aku terkejut saat melihatnya sudah tiba di depanku. Tangannya mengambil kasar bantal yang sedang menutupi wajahku. “Hei!”

            Dia menggelitiki pinggangku, membuat aku terus meronta sambil tertawa. “Sudah ku bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu!”

            “Ah- geli. Hahaha ku mohon berhentilah.. haha geli”

            Dia menggeleng sambil tertawa. “Tidak, sampai kau berjanji tidak akan memanggilku seperti itu”

            “Baiklah, aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi” dia menghentikkan aksinya. Aku baru menyadari posisi kami berdua sama-sama tidak menguntungkan, aku berbaring di sofa lalu dia ada di atasku, kakiku menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuhku. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Aku memejamkan mataku, kemudian tidak lama aku merasakan angin seperti menerbangkan poniku. Aku perlahan membuka mata. “Model rambutmu sudah jadul tau. Lebih baik kau ke Salon sana!”

            Aku membulatkan mataku. “Apa?”

            Kali ini dia yang bingung. “Apa? Apanya maksudmu?”

Aku segera menggeleng, apa yang tadi ku pikirkan? Aku berharap bibir itu lagi? Eerrggh!. Aku mendorong tubuhnya menjauh dariku sehingga dia terhempas dan membentur ujung sofa. Dia meringis pelan, lalu menatapku bingung. “Tenagamu besar sekali!”

            “Ah- aku lapar” aku bangun dan berjalan meninggalkannya. Dia mengumpat berkali-kali padaku membuat ku ingin tertawa.

            Aku tiba di kantor manajemenku siang hari, namun masih ada beberapa netizen yang masih setia menungguku. Aku mendengus lalu menatap asistenku yang juga masih terdiam. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba handphonenya bergetar, sepertinya sebuah pesan singkat yang membuatnya tersenyum sangat manis. apa dari kekasihnya? Dia menoleh ke kanan, aku mengikuti arah pandangannya. Ternyata disana ada Taeyeon. “Kau tunggu sini, jangan keluar sampai situasi aman”

            Aku menahan lengannya saat dia hendak membuka pintu mobil. “Kau mau kemana?”

Dia melepaskan genggaman ku dengan lembut. “Aku akan menghadapi para netizen itu, jadi setelah mereka teralihkan, kau harus berlari keluar menuju Taeyeon noona disana” tunjuknya.

            “Tap-”

            Dia menghela nafas kemudian tersenyum padaku. “Kau percaya padaku kan? Jadi tidak perlu khawatir” kemudian dia membuka pintu mobil dan mulai berjalan menuju para netizen itu. Sepertinya dia sudah siap dengan resiko di banjiri banyak pertanyaan serta resiko memar-memar. Aku masih menatapnya yang sibuk meladeni mereka, tiba-tiba kaca mobilku di ketuk. Aku terkejut mendapati Taeyeon sudah berdiri di sana, aku segera membuka pintu. Dia menarikku dan menutup pintu mobilku.

            “Apa yang kau lakukan hah? Bukankah dia sudah menyuruhmu keluar jika situasinya aman? Calista” Aku menutup telingaku lalu memilih berjalan mendahuluinya. Memasuki gedung melewati pintu belakang. Taeyeon mendengus dan mengucapkan sumpah serapahnya untukku. Biarkan saja!

            Aku memandang beberapa staff yang sibuk menata kamera persiapan pemotretanku siang ini, kemudian aku di tarik oleh Jean dan ia membawaku ke ruang make up. Dia menyuruhku duduk dan mulai meng-ikalkan rambutku. Sesekali aku mendengarnya bersenandung, ternyata suaranya sangatlah indah. “Unnie..”

            “Ya Cal?” aku ragu ingin bertanya, namun. Ah baiklah aku akan bertanya. “Kau pernah jatuh cinta?” tanyaku.

            Dia tersenyum manis, Jean memang sangat cantik. Dia juga lembut, jauh lebih baik dari Taeyeon yang selalu berteriak padaku. Si mungil itu bahkan sering memukul kepalaku. Aish!. Dia sedikit berdehem, “Kenapa? Kau sedang jatuh cinta?”

            Aku mengindikkan bahuku. “Entahlah Unnie, hanya saja. Setiap aku melihat matanya aku, merasa ada sesuatu yang meronta-ronta di jantungku”

            “Kau jatu cinta, itu sudah membuktikannya” ucapnya. Aku menggembungkan pipiku kesal, aku kan bertanya padanya. Mengapa jadi dia yang berargumen seperti itu. “Aku sudah punya seorang kekasih, tapi dulu. Kini dia pergi meninggalkan aku”

            “Unnie..”

            “Tak apa Cal, aku sudah biasa. Lagipula aku sudah memiliki hidup yang jauh lebih baik. Menjadi penata riasmu, itu impian terbesarku. Kau tau aku begitu mengidolakanmu?” tanyanya.

            Aku menggeleng, dia tertawa pelan. Lalu mulai memasangkan Roll-an di rambutku. “Sudahlah, asal aku bisa melihatmu tersenyum aku begitu senang. Sepertinya aku sangat menyayangimu seperti adikku sendiri” jelasnya.

            Setelah selesai aku segera berdiri dan memeluk tubuhnya erat. “Terima kasih Unnie..”

            “Hei- tolong kalian ambilkan obat merah!” aku dan Jean saling berpandangan saat mendengar suara Taeyeon berteriak. Kemudian kami keluar dari ruangan mendapati asistenku dengan wajah yang sedikit memar sedang di bopong oleh Taeyeon. Aku merasakan udara di sekitarku semakin menghilang, asistenku menatapku dengan tatapan sayunya. aku menggeleng, memutar tubuhku dan memilih kembali ke dalam. Perasaan apa ini? Sakit sekali.

            Aku melihat Jean menyusulku masuk. Dia memegang bahuku dengan lembut dia mengelus rambutku yang masih penuh dengan roll. “Kau baik-baik saja?”

            Aku mengangguk, lalu memilih kembali diam.

            “Baik, sampai di sini saja” ujar Photographerku. Kemudian aku melihat asistenku memberikanku minuman dan handuk. Dia tersenyum manis, aku hanya menatap datar kearahnya. “Kau hebat sekali. Pantas saja kau selalu menjadi model mereka”

            Aku berdehem lalu mulai meneguk minumanku. Setelah itu aku kembali memberikan padanya. Aku berjalan menjauh meninggalkan dia, saat ini pasti ia bingung dengan tingkahku.

            “Cal, aku punya kabar gembira untukmu” ku putar bola mataku, lalu menatap Taeyeon yang tersenyum manis padaku. “Apa?”

            Dia menunjukkan selembaran kertas padaku dan berteriak “Tada!

Aku mengambil lembar kertas itu dan membacanya, di dalamnya berisi sebuah kontrak bermain serial drama untuk beberapa bulan. Aku mengangguk dan mengembalikan kertas itu pada Taeyeon. Dia menatapku bingung. “Ada apa?”

            Tubuhku menegang saat merasakan asistenku berdiri di belakangku. Taeyeon berjalan mendekatinya dan memberikan selembaran itu padanya. “Kau di kontrak untuk sebuah drama Yoong?”

            Aku mengindikkan bahuku lagi dan berjalan meninggalkan mereka. Sampai di parkiran aku segera menekan tombol kunci otomatis dan membuka pintu mobilku. Aku membuat tempat dudukku serendah mungkin. Aku ingin menenangkan diri hari ini. Tidak berapa lama aku mendengar pintu sebelah terbuka, asistenku muncul dan menatapku aneh. “Kau sakit?”

            Lagi-lagi aku menggeleng, ku paksa memejamkan mataku. Dia hanya menghela nafas. Lalu menyalakan mobil dan mengendarainya. Sesampainya di rumah aku segera masuk ke dalam kamar. aku tidak mengerti dengan diriku ini, mengapa aku merasakan sakit saat melihatnya. Aku mengingat kejadian yang tadi.

            Flashback

            “Kau ini, dia kan sudah besar. Apa harus selalu berkorban untuknya?” Tanya Taeyeon. Kulihat dia menghela nafas. Kemudian tersenyum manis padanya. “Tentu saja, aku tidak pernah berhenti untuk selalu berada di sisinya”

            “Kau ini Sweet sekali. Apa kau menyukainya?”

            Dia terkekeh. Lalu mengacak rambut Taeyeon. Aku menahan nafas selama melihat mereka. Entah mengapa, aku merasakan semakin pengap. “Tidak, aku hanya menyayanginya. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri”

            Mayday, Mayday, Mayday kenapa udara semakin sedikit? Mayday aku butuh tambahan udara. Di ulangi aku butuh tambahan udara

            Flashback End

            Aku berjinjit saat menuruni tangga satu-persatu, ini tepat pukul 5 pagi dan aku berniat untuk pergi keluar sebentar. Bagaimana dengan asistenku? dia akan melarangku keras jika aku keluar tanpa penyamaran. Kriieet!

            “Sial!” rutukku. Aku membuka pintu sangat pelan, kemudian aku merasakan sesuatu seperti terjatuh dibahuku, atau lebih tepatnya sesuatu menyentuh bahuku. Aku menoleh mendapati Lee Ahjumma menatapku bingung. Aku melebarkan senyumku menampilkan deretan gigi putihku. “Ahjumma, aku hanya ingin lari pagi. Jika dia bertanya, katakan saja Ahjumma tidak tau. Oke?” bisikku.

            Lee Ahjumma segera mengangguk, aku berteriak kegirangan dan memeluknya. “Ahjumma memang yang terbaik. Mmuaach”

            Aku berlari di dekat taman di sekitar rumahku, kalian pasti tidak heran karna lingkungan rumahku memang terdiri dari rumah-rumah yang sangat besar. Aku berjongkok mengikat tali sepatuku, saat aku ingin berdiri seseorang menubrukku. “Hei!”

            Seorang pria yang tingginya lebih dariku tersenyum manis. eh tunggu? Aku pernah melihatnya, tapi diman-

            “Kau pasti Calista” tebaknya. Aku segera mengangguk. “Kau pria malah yang ku tindih itu ya? Bagaimana kau bisa di sini?”

            Dia menoleh kanan-kiri lalu menarikku untuk duduk di bangku taman. “Aku tinggal di Blok K. Bagaimana denganmu?”

            Aku mengangguk lalu menunjuk rumah besar di sebrang taman. “Itu rumahku”

            “Ehm, soal kemarin. Maafkan sikapku yang kurang sopan memarahimu. Aku sedang banyak masalah kemarin. Kau disini sendirian?” tanyanya. Aku menghela nafas, kenapa dia jadi banyak tanya seperti ini sih?

            “Tidak masalah, aku juga sudah melupakannya. Iya, aku bersama Roh dan Ragaku” dia tertawa begitu kencang membuatku sedikit terkejut. “Kau keluar tanpa penyamaran? Kau tidak sadar? Bagaimana jika ada netizen disini? Kau akan mati”

            Aku menatapnya sinis. “Memangnya kau siapa? Aku kan bukan terlibat scandal dengan artis”

            Dia tertawa, “Kau tidak mengenalku?”

            Aku menggeleng. “Baiklah, kenalkan aku Kim Jong In”

Aku hanya mengangguk dan kemudian berjalan meninggalkannya. Aku mendengar dia memanggil namaku terus-menerus. Aish anak itu suaranya keras sekali.

            Aku duduk di bangku taman tepat di bawah pohon mapel. Ditanganku ada segelas ice cream rasa Strawberry. Rasa kesukaanku, aku menikmatinya sambil melihat anak-anak kecil yang berlarian di taman ini. Mereka begitu bahagia berlarian kesana kemari di dampingi oleh orang tuanya, aku iri melihatnya. “Apa yang kau lihat?”

            Aku mendongak mendapati bocah itu lagi. Aish, bagaimana dia bisa tau aku ada di sini?

Aku mengabaikannya dan kembali tertawa melihat anak-anak itu. Ada 2 anak laki-laki dan perempuan sedang bermain lempar bola. Kemudian karna terlalu kencang bola itu terlempar dan jatuh tepat di dekat kakiku. Anak perempuan berambut kepang berlari kearahku dan tersenyum . “Unnie, bolehkah aku mengambil bolanya?”

            Aku tersenyum lalu mengangguk. aku memberikan ice cream itu ke tangan bocah bernama Jong In itu. Dia sedikit terkejut namun tetap menanggapinya. “Tentu cantik, siapa namamu?” tanyaku sambil memberikan bola itu padanya.

            “Im Hana..” aku sedikit terkejut. Kemudian tertawa, “benarkah? Margamu sama seperti Unnie, nama Unnie Calista Im”

            Anak itu tersenyum malu-malu. Kemudian melirik kearah Jong In yang berdiri di sebelahku. “Itu kekasih Unnie?”

            Haish, anak kecil sudah tau kekasih-kekasihan segala. Aku mendengus menatap Jong In dan kembali menatap anak itu lalu menggeleng. Dia sedikit merengut, “Sayang sekali, kalian sepertinya sangat cocok” ucapnya.

            Saat aku hendak menjawab aku mendengar seorang anak laki-laki memanggilnya. “Hana, mana bolanya?”

            Anak perempuan itu sedikit terkejut kemudian membungkukkan badannya kearahku dan Jong In bergantian. “Tunggu Oppa, aku pergi dulu Unnie, Oppa”

            Dia berlari menghampiri anak laki-laki yang lebih besar darinya. Mataku memanas, mengapa mereka mengingatkanku pada masa laluku.

            Flashback

            “Yoong, tangkap ini!” aku sedikit kelimpungan saat Oppaku melempar sebuah bola berwarna biru bergaris pink kearahku. Dengan terburu-buru aku mengambilnya, namun bola itu terjatuh melewatiku dan menuju danau tepat di belakangku. Aku mencoba meraihnya namun tanganku terlalu pendek. “Yoona, mana bolanya?”

            “Op-pa sebentar” pekikku. Aku melihat ranting besar berada di dekat bola itu, dengan senyum sumringah aku mencoba untuk menginjak ranting itu lalu Greek!

Wajahku memucat saat merasakan ranting itu semakin lama, semakin menurun membuat kakiku mulai memasuki air. “Oppa..!!”

            Aku melihatnya berlari menghampiriku dengan wajah panik. Dia mengulurkan tangannya padaku. “Pegang tangan Oppa, Yoong. Oppa tidak akan melepaskan tanganmu. Ayo!”

            Dengan gemetar aku mengulurkan tanganku. Dia sedikit berteriak, mencoba menarikku. Lalu Hup! Aku menangis saat dia berhasi menolongku dan memelukku.

            “Oppa..” isakku.

            “Sssh- sudah Yoong, Oppa ada di sini kau akan aman” aku mengangguk dan memeluknya sangat erat. Dia memang benar, selama bersamanya aku memang aman

            Flashback End

 

            “Hei..” aku mengerjapkan mataku berkali-kali saat sebuah tangan melambai tepat di depan wajahku. Itu tangan Jong In, dia menatapku khawatir. “Kau kenapa? Kau baik-baik saja?”

            “Tentu, aku baik-baik saja..” gumamku. Kemudian aku berjalan pergi meninggalkannya (lagi).

            “Aku pul-” Grep! Aku mematung saat merasakan seseorang memelukku dengan sangat erat. Parfum yang sangat ku kenali. Dia,.. asistenku. “Kau dari mana saja Yoong? Aku mencarimu kemana-mana”

            Aku memejamkan mataku, menikmati aroma maskulinnya menerobos indra penciumanku. Aku merasakan begitu aman saat di peluknya. Bulu kudukku merinding saat merasakan hembusan nafasnya menerpa tengkukku. Bahkan berkali-kali dia menciumnya. Aku mendorong tubuhnya pelan. “Lari pagi di Taman”

            Dia membulatkan matanya. “Kau pergi tanpa penyam-”

Segera ku bekap mulutnya. Dia pasti akan mulai menyeramahiku soal pergi tanpa penyamaran dan bla, bla, bla itu. Setelah dia mulai diam, aku melepaskannya. “Sudah? Mau bersiap-siap ke lokasi syuting

            Kemudian aku berjalan menuju kamarku. Sepertinya aku harus benar-benar memeriksakan kondisiku. Aku mulai gila setiap berada di dekat asistenku itu.

            Pukul 10 aku dan asistenku tiba di lokasi syuting yang tak jaub dari kantor manajemenku. Aku melihat Taeyeon yang sudah stand by menunggu kami. Dia langsung menghampiri kami. “Ayo akan ku kenalkan kau dengan lawan mainmu dan sutradaramu”

            Dia menarikku mendekati kumpulan beberapa crew film sepertinya. “Hei, kenalkan ini Calista”

            Aku membungkukkan badanku dan tersenyum. “Hallo, aku Calista Im. Senang bisa bekerja sama dengan kalian”

            “wah dia lebih cantik ya dari pada di majalah” wajahku memerah, kemudian sutradara Hwang memanggil seseorang yang berdiri tidak jauh dari kami. Aku mengikuti arah pandangnya. Seorang pria dengan style santainya. Berdiri membelakangiku, kemudian dia berbalik. Aku begitu terkejut. Dia..

            “Hai Cal, senang bertemu lagi denganmu” Dia Jong In. aku tersenyum kikuk. Sutradara Hwang menjelaskan mengapa aku di ajak bermain di dramanya, karna permintaan dari para fans yang mengetahui kejadian memalukan aku dan Jong In malam itu. Mereka mengatakan akan menjadi sebuah film bagus jika aku bisa bermain bersamanya. Aku merasakan panas saat seseorang menggenggam jemariku. Aku menoleh ternyata asistenku. dia menatap datar kearah Jong In, membuatku sedikit bingung.

            “Baiklah kau boleh bersiap, scene pertama akan dimulai beberapa menit lagi” jelas Sutradara Hwang. Kami mengangguk, kemudian asistenku membawa ku ke tempat yang memang sudah di sediakan untukku. “Kau sudah mengenalnya?”

            Aku meneguk minumanku sambil mengangguk. “Kapan?”

Ku hela nafas kasar dan menatapnya tajam. Dia membalas menatapku tajam. “Itu bukan urusanmu!”

            “Yoong kau ken-” dia menghentikkan ucapannya saat melihat seseorang di belakangku. Aku ikut menoleh dan mendapati Taeyeon yang sedang kesusahan membawa setumpukkan kertas, saat aku kembali menatap asistenku dia menghilang. Dan saat aku menoleh lagi aku melihatnya sedang berlari membantu Taeyeon. Ku hela nafas berat, mereka semakin dekat. Mungkinkah mereka saling menyukai?

            Aku duduk menyaksikan dua orang anak yang sebaya sedang beradu kemampuan akting di depan kamera. Sebagai bocoran nih, anak perempuan dengan rambut Blow ini akan menjadi aku ketika semasa kecil. Cerita yang di ambil adalah cerita tentang seorang sahabat yang selalu bersama. Mereka bilang sih gitu,

            “Kurasa anak kecil itu tidak lebih menggemaskan dari pada aku” gumam seseorang. Aku sudah tau itu siapa, aku memutar bola mataku jengah. Dia ini selalu berada di setiap tempat. Aku heran dengannya. “Kau ini percaya diri sekali”

            Dia tertawa kencang seperti biasa, aku hanya menghela nafas. Kami sama-sama terdiam, hingga suasana di antara kami kembali hening. Aku melihat anak perempuan kecil itu terjatuh hingga lutunya terluka. Dia menangis, kemudian seorang anak laki-laki datang. Dia mencoba menolong anak perempuan itu dengan menggendongnya. Kuat sekali dia. Dari sudut mataku aku melirik asistenku yang sedang tertawa bahagia bersama Taeyeon. Kemudian kini giliran ku dan Jong In yang ambil bagian.

            -On Syuting-

            “Action!”

Aku berlarian dengan senyum lebar dan menggunakan seragam putih abu-abu. Di belakangku Jong In mengikuti dengan nafas terengah-engah. “Hei, kau ini jalannya cepat sekali”

            Aku hanya tertawa menjauhinya. “Ayolah Jino, kau ini lama sekali”

Jino- Jong In berperan menjadi Kim Jino dan aku sebagai Jung Hye Sung. Dia mempercepat larinya sehingga berhasil mendekati aku. “Berhentilah!”

            Aku sedikit gugup ketika Jong In memegang jemariku erat. Tatapannya begitu teduh menatapku. “Kau ini semakin besar semakin lincah seperti rusa saja”

            “Tapi kau tetap akan menjadi temanku kan meski aku adalah rusa?” tanyaku. Dia mengangguk lalu merangkulku. “Selalu, kita akan selalu bersama. Bukankah begitu?”

            “Cut!”

            -On Syuting End-

Aku cepat-cepat melepaskan rangkulan Jong In dan berjalan menuju Taeyeon yang sudah menyodorkan minuman ku. Dibelakang Taeyeon aku melihat asistenku berjalan dengan membawa handuk milikku. Aku memberikan kembali botol minumanku pada Taeyeon dan berputar meninggalkannya membuat langkah asistenku terhenti. “Ada apa dengannya?”

            Samar-samar aku mendengar asistenku bertanya pada Taeyeon. Aku memilih berjalan menuju kolam ikan di dekat pohon anggrek. Lalu aku memilih duduk di batu-batu sana. Syutingku sudah selesai. Meski pun hanya mengambil take sedikit tapi membuat aku bosan. Tiba-tiba aku teringat serentetan kejadian asistenku bersama dengan Taeyeon hari in. Dadaku terasa sesak seketika.

            “Apa yang terjadi denganku?” gumamku.

            Aku memaksakan agar mataku terpejam, padahal aku berkali-kali mendengar asistenku berdehem mencoba mengajakku bicara. Baru sehari syuting Sutradara Hwang sudah mengatakan bahwa kami akan libur sehari besok. Dan itu pasti akan menjadi hari burukku karna aku akan menghabiskan waktu dengannya seharian. “Yoong..”

            Dia menghela nafas, lalu menghentikkan mobil kami. Aku merinding saat merasakan tangan dinginnya menyentuh kulitku, dia membelai rambutku. “Kau lelah sekali sepertinya”

            “Kau tau, aku seperti merasa kau sedang menjauhiku. Apa yang terjadi? Apa aku berbuat kesalahan padamu?” tanyanya lagi. Aku sendiri tidak tahu. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.

            Aku merasakan sesuatu menyentuh bibirku, jantungku berdetak semakin tak beraturan saat dia mulai mengulum bibirku, membuatku nyaris melenguh. Aku menahan bibirku agar tertutup rapat, tapi bibirnya masih nakal mencoba membuat bibirku terbuka. Kemudian aku tidak tau apa-apa saat dia mulai menjauhkan wajahnya dari wajahku. Dia menghela nafas seolah dia frustasi. Sedangkan aku masih terus terpejam. Kenapa kau melakukan ini?

            Aku masih sadar saat dia mulai membuka pintu mobilku dan menggendongku menuju kamar. aku menyembunyikan wajahku di dada bidangnya, mencium lagi aroma maskulinnya. Yang sepertinya semakin membuat aku mabuk. Sesekali ku dengar dia menggumam, tapi tidak terlalu jelas. Dia meletakkan ku dengan hati-hati diatas kasur, merapihkan rambutku. Melepaskan sepatuku dan menyelimutiku. Terakhir dia mengecup keningku dan mengucapkan kata yang tidak bisa aku lupakan. “Selamat malam, aku mencintaimu Yoona”

            Aku membuka mataku saat sinar matahari menerangi ruangan kamarku. Saat mataku sudah terbuka sempurna aku terlonjak melihatnya duduk di pojok ruangan sambil menatapku dan tersenyum manis. “Selamat pagi Tuan Putri”

            Aku hanya mendengus dan lebih memilih mengambil handuk yang sudah disediakan dan berjalan ke kamar mandi. Aku teringat ucapannya semalam. “Selamat malam, aku mencintaimu Yoona”

            Benarkah dia mencintaiku? Apa dia sedang membohongiku? Aku mendengar jelas ucapannya dengan Taeyeon yang mengatakan bahwa hanya menganggapku adiknya. Aku mematikan shower saat mendengar suara ketukan dari luar. “Bersiaplah, aku akan mengajakmu jalan-jalan hari ini”

            Sekitar 15 menit aku selesai mandi dan memilih mengenakkan t-shirt putih polos dan celana jeans pendek. Aku menuruni anak tangga dan melihatnya sudah rapih dengan stelan casualnya. Dia sedikit mematung melihatku. “kenapa?”

            Dia menggaruk tengkuk kepalanya dan tersenyum malu. Aku memilih mengabaikannya dan memakan roti yang sudah di siapkan Lee Ahjumma. Dia ikut duduk dan mengambil rotinya, kami hanya terdiam sampai akhirnya dia mulai membuka suara. “Aku akan menunggumu di mobil”

            Aku melihatnya yang berjalan menjauhiku, menuju garasi. Kemudian setelah rotiku habis aku berpamitan dengan Lee Ahjumma dan pergi menyusulnya. Di mobil dia sedang memainkan lagu EXO Moonlight. Aku masuk dan sedikit membuatnya terkejut. Kemudian dia hendak mematikan radionya namun aku menahannya. “Biarkan saja”

            “Ada tempat yang ingin kau kunjungi?” tanyanya. Aku memandang pemandangan di luar dan berfikir, tempat? Aku ingin? Ingin? Ah!

            “Taman Hiburan, aku ingin kesana” dia menaikkan sebelah alisnya. Kemudian memutar kemudi dan berbalik arah. Aku tersenyum sepanjang jalan, aku memang belum pernah datang ke tempat hiburan sejak kecil. Kalian pasti tau lah alasannya.

            Sekitar 30 menit kami akhirnya tiba di Taman Hiburan terbesar di Korea. Aku memandang takjub saat melihat banyak wahana-wahan seru, dan saat kami sudah turun aku menarik tangannya mengajaknya untuk menaiki wahana satu-persatu. Langkah ku terhenti saat melihat wahana kincir angin. Aku memandangnya penuh harap bahwa kami bisa menaiki ini, dia lantas menggeleng. “Sebenarnya aku phobia ketinggian”

            Aku tertawa kencang lalu dia menatapku tajam. Dia hanya luarnya saja gentle padahal mah. Kemudian aku sedikit merubah raut wajahku menjadi cemberut. Dia menghela nafas. “Baiklah ayo kita naik”

            Dia menarik tanganku. Kami mendapat urutan ke empat. Aku masuk duluan kemudian dia menyusul. Kami duduk berhadapan, wajahnya mulai memucat dan itu membuatku khawatir.

            “Kau baik-baik saja?” tanyaku.

            Dia mengangguk mencoba memasang wajah coolnya. Aku menahan tawa, kemudian ku ulurkan tanganku padanya. “Apa ini?”

            Aku tersenyum manis. “Aku berbaik hati padamu meminjamkan tanganku untuk kau genggam. Jika kau merasa takut, kau boleh menggenggamnya dengan erat”

            Dia menggeleng. “Baiklah, kalau kau tidak mau”

Aku menarik tanganku lagi tapi dia menahannya. “Jangan katakan ini pada siapapun”

            Setiap kami berada di puncak tertinggi dia menjerit dengan keras, dan aku hanya tertawa. Kami berputar selama 15 menit, dia memandangku dengan lembut. “Kau cantik..”

Aku mengubah raut wajahku seketika, aku teringat dengan kejadian kemarin. Dia hanya mempermainkanmu Cal, percayalah.

            Kincir angin kami berhenti, dan aku turun duluan. Aku melihat wajahnya memucat kemudian dia pamit untuk pergi ke toilet. Aku menunggunya di bangku dekat kedai gulali. Dia kembali dengan dua buah gulali ditangannya. Aku tersenyum. Lalu dia duduk di sebelahku.

            “Wahana apa lagi yang ingin kau naiki?” tanyanya pasrah. Aku menatap satu persatu wahana yang disediakan. Kemudian aku hanya tersenyum manis.

            “Sehun..” kami sama-sama menoleh pada suara lembut itu.

            “Kau Oh Sehun kan?”

To Be Continued

Note : Update nih. makasih buat yang udah nunggu ya. xoxo :*

tolong tanggapi warningnya ya😀

99 thoughts on “MONO SCANDAL 3rd

  1. Wah makin seru nih. Penasaran deh sama jalan cerita selanjutnya. Ayo buru dipost chptr 4 nya ya thor. Kalo bisa si jangan di protect hehe. Fighting! Bikin end nya YoonHun ya thor plissss hehe

  2. yoona sehun❤
    mengenai protect atau tidah, itu sih hak author ya, tapi aku pengennya sih engga, hoho😀 tapi kalo iya juga gpp, asal gampang ya thor utk dapet pw nya. hehe
    keep writing ya thor

    • salah komen gue -___-
      aku ngeship yoona sama asistennya(sehun)😀 disini tu feel nya dapet banget. apalagi pas yoona cemburu ngeliat sehun dgn taeyeon #sakitnyatuhdisini

  3. huwaaa itu siapa yg manggil sehun, dari chap 1 udah ngira asistent nya pasti sehun wkwkkw penasaran euyyyy ditunggu next chap nya FIGHTING!!

  4. Sudah kuduga bahwa asistennya Yoona si Sehun.
    Suka moment mereka berdua thoor.. Apalagi pas bagian Yoona cemburu tapi ngga sadar, menurutku itu lucu.
    Kiss scenenya. Lumayan lah, cuma aneh aja kalau Sehun nyium Yoona, tp besoknya kayak bisa aja gitu, seperti tdk terjadi apa2 sebelumnya.
    Dan sedikit kurang enak baca kata ‘Mengulet’ akan lbh baik kalau ‘Menggeliat’ deh kayaknya. Heheh.
    Mian dah nyampah. Jangan tersinggung ya? Ffnya bagus kok.
    Dan soal protect memprotectm, itu terserah authornya aja. Yg penting gampang aja dapet pwnya. Heheh
    next partnya ya ditunggu deh. Hehe

  5. akuu pikir asistennya itu jong in trus pria yang di pesta itu sehun eh engga taunya kebalik,akuu tunggu lanjutannya yaaa thor😀
    Fighting ^-^!

  6. Udah keduga asistennya pasti sehun ;; ceritanya seru trs bikin penasaran dan soal warn nya mungkin gausah diprotect/? tapi serah author aja sih ;-;

  7. ahh ternyata yang jadi asistennya yoona itu sehun kekeke~ aku suka😀
    semoga sampe ending tetep yoonhun
    ditunggu next chapternya🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s