Don’t Go (The First Prologue)

Don’t Go (Saving All My Love)

Luhanna (@hasnaamila13) Real Fiction Present

Im YoonAh | Wu Yi Fan | Kim Jongin| Tiffany Hwang

Romance | Marriage Life | School Life | Fluffy Angst| Crime

Chaptered | Teen

This fiction is real form my MIND than Life, so don’t be plagiator! Thank’s for you’re positive respons for my fiction! Sorry late me again.

Song “Hyorin (SISTAR) – I Choose to Love You”

“Cintaku padamu tak akan mati karena perpisahan. Masih ada kenangan, masih ada tangis air mataku yang berlinang kerinduan. Andai segala sesuatu tak memiliki batas waktu. Mungkin aku takkan berucap letih dalam menunggu.”

re-post on saykoreanfanfiction.wp.com

***

                Central Park New York. Luasnya tak lebih dari 3,4 km.  Central Park lebih tampak seperti hutan kota yang dipermak keadaan sekitarnya, di banding sebuah taman kota. Ini tak hanya paru-paru kota, namun menjadi jantung kota yang sebenarnya. Dibangun dengan peramalan yang tepat akan bertumpuknya jutaan manusia di sebuah kota pada masa mendatang.

Gedung-gedung pencakar langit yang mengelilinginya laksana organ tubuh yang akan terus tumbuh karena organ utama terus berkembang dan berfungsi dengan baik. Di dalam Central Park terdapat kehidupan sendiri. Orang-orang yang memadati kota berlari pagi dan sore, pohon-pohon pun meranggas dengan cantiknya, dan burung-burung yang bertengger ikut bersenandung kicauan, bagaikan darah segar  pembawa oksigen yang mengalir dari serambi ke bilik jantung, lalu menyebarkannya ke seluruh tubuh.

“Jongin, bogoshipoyo!” Yoona berteriak sekencang yang ia inginkan. Begitulah rutinitas yang selama beberapa tahun terakhir ini ia lakukan. Tak banyak orang yang memperhatikannya karena kesibukan tersendiri.

Namun, di pagi yang lebih buta ini, Yoona dengan senyum yang terpancar indah meneriakkannya lantang. Melampiaskan segala yang ia pendam selama di Amerika. Meninggalkan Jongin dan beberapa sahabatnya ketika ia masih duduk di sekolah menengah.

Ia memejamkan matanya. Mengingat bagaimana ia dulu masih terlalu kekanak-kanakan. Besenda gurau dengan Jongin. Entah apa yang membuat kedua orangtuanya memisahkannya dengan Jongin. Lalu kini mengusirnya secara manis melemparkannya kembali ke Seoul ketika ia telah mencintai Amerika. Atau, rasa cintanya terhadap Wu Fan? Entahlah. Ia tak ingin jauh dari kedua namja itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Kehadiran yeoja yang menjadi tempatnya berkeluh kesah sedikit membuatnya terlonjak terkejut.

Aigoo!” Yoona melepas headshet yang mengganggu pendengarannya dengan apa yang akan Tiffany ucapkan nanti.

“Semoga selamat sampai tujuan, ratu!” Tiffany sedikit menggurau dengan Yoona yang terkesan tak ingin meninggalkan Amerika.

“Tunggu aku disana!” Tiffany memeluk erat perpisahannya dengan sang sahabat.

“Aku pasti akan sangat merindukanmu!” Yoona membalas pelukan Tiffany dengan erat. Ia tak ingin kehilangan orang-orang di Amerika yang ia cintai.

Waktu sepagi ini langit masih bersih, berbinar biru gelap. Tiada polah tingkah yang menyayat lukisan tuhan fajar ini. Dua sahabat yang telah lama menjadi rekan bisinis itu berpelukan erat.

Tepat pukul 7.00 nanti, maneuver di langit akan dimulai. Deru-deru mesin pesawat terbang dari landasan akan ikut mewarnai mencoret keindahan alam sepagi ini di langit. Lalu lalang asap putih menyemburkan inisial daya yang menandai keributan di awal pagi.

Namun entah mengapa, matahari tak kunjung menampakkan ekor mentarinya pagi itu. Sungguh, mentarinya seharusnya sudah diselundupkan diantara mega-mega untuk waktu yang sesiang itu.

Di lain tempat, seorang pria paruh baya sedang riuh berbicara dengan seorang koleganya yang tak lama lagi akan menjadi bagian dari keluarganya. Ya, tak lama lagi, ia akan menikahkan putri kesayangannya.

“Kita buat pernikahan ini dengan megah, bagaimana?”Ujar pria tua yang ada dihadapannya. Ia pun sangat menyayangi putranya.

“Ya, Aku setuju.” Pria itupun mengangguk seraya berpikir sejenak, “Sekretaris Jung, tolong urus semua dengan semewahnya.”

Wanita yang menjadi sekretaris di Holding Wunderbar Corporation itu pun mengangguk. Ia melaksanakan tugas sesuai permintaan sang pemimpin perusahan terbesar di Amerika.

***

Im Yoon Ah. Gadis yang kini telah memijak tanah kota Seoul. Dengan balutan blazer hitam yang sudah lama menjadi cirinya, ia berjalan anggun dengan diiringi beberapa bodyguard yang siap menjaganya kapan dan dimanapun ia membutuhkan.

“Selamat datang, adikku tersayang!” Seorang lelaki muda yang sedari tadi bersabar menunggu kehadirannya kini tersenyum sumringah. Seketika wajah muramnya yang lelah telah tergantikan dengan kehadiran wanita muda yang ia rindukan.

Yoona melepas kacamata hitam yang membingkai mata indahnya. Ia mencoba mengingat namja yang menyambut kehadirannya. Setelah 4 tahun lamanya, ia meninggalkan Eomma dan Oppanya di Seoul—kota kelahirannya.

Nugu?” Yoona berucap pelan dengan perasaan bersalah. Walau ia berharap namja yang berada dihadapannya tak mendengar ucapannya.

Mwo? Kau melupakan Oppa?” Lelaki itu berangsur mengacak mesra rambut adiknya. Tak lupa ia memeluk Yoona yang masih tak mengerti. Sedetik, Ia pun memeluk erat Oppanya yang telah lama ia rindukan.

“Oppa! Kau tahu kan jika aku ini stylish? Kau merusak styleku!” Yoona berjalan mendahului Yoon Guk yang masih mematung menatap perubahan yang terjadi pada saeng tercintanya.

“Ya! Kau marah? Aish, jinja!” Yoon Guk terlalu berbaik hati. Ia mengejar Yoona yang berlalu dengan cepatnya.

Lamborgini yang mereka gunakan menerobos jalanan kota Seoul yang sedikit ramai. Awan hitam yang menggumpal tak menghalangi perjalanan mereka. Hembusan angin yang silih berganti singgah pun kini merasuk merajalela. Hawa dingin yang mewarnai jalanan kota Seoul yang mulai sepi kini semakin membuncah.

Yoon Guk tersenyum picik. Ia mengingat betul apa yang Eommanya katakana. Ia harus mempersiapkannya dengan matang. Tak boleh gegabah dan harus bertindak rapi. Satu kesalahan saja yang ia lakukan, ia pun juga harus merombak ulang rencana yang telah ia susun bersama eomma.

Biarkan ia bertemu denganku sejenak saja. Lalu, persiapkan langkah untuk membantunya menemui kematiannya di Seoul.”

[TBC]

 

Yeyeye Comeback! Akhirnya ada waktu buat post prolog ff ini juga. Adakah yang menunggu Love at Thr First Sight? Sorry, because I’m busy. Untuk kedua ff yang masih nggantung dan gk enak bingitss, secepatnya akan dikelarkan. Okay, see you in Part I again!

31 thoughts on “Don’t Go (The First Prologue)

  1. What? Kematian? Piciknya.. Itu si YoonGuk abang tirinya Yoona ya? :3 Btw, Jong In siapanya Yoona, Wu Yi Fan juga siapanya? Siapa juga yg mau menikah. Okeh, ini masih membingungkan. Aku blm tahu, ini jgn pergi dari USA, jgn pergi dari dunia atau jangan pergi dari SISIKU? Cielah, sok detektif :v Chapter 1 ditunggu, hwaiting😉

  2. Aku masih bingung nih
    Ceoet lanjut chap 1 ya eon

    Kalo aku sih berharapnya yoona sama kai hehehe semoga yoona kai bersatu tapi kalo emang yoona sama kris yaaaa iyain deh hahahha

    Tapi semoga yoona kai amiiin hahahahha cepet lanjutnya ya eon aku tunggu loh hehehe

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s