BACK IN TIME 4

BACK-IN-TIMETittle : BACK IN TIME

AUTHOrs : Rifda Harmidah,Firda Auliana

MAIN CASTS :Im Yoona,Xi Luhan,Song Jong Ki,Lee Min Ho | MINOR CASTS :-

GENRE : Romance | RATING :PG 14

*****

“hei,Gadis aneh.apa kau baik-baik saja? Hei, jawab pertanyaanku! Ya! Jangan membuatku takut!” Luhan mengguncang tubuh Yoona, mencoba mengembalikkan jiwa Yoona yang sepertinya menghilang entah kemana.

BRUKK..

Tubuh Yoona langsung jatuh di pelukan Luhan. Bukannya membantu Yoona untuk segera sadar, pria itu malah tengah sibuk mengatur degup jantungnya yang kian berpacu, hatinya semakin tak karuan saat Yoona terjatuh di pelukannya. Sepersekian detik berikutnya, kesadaran pria itu pun kembali terkumpul, membuatnya segera berteriak, berharap seseorang akan menolongnya saat ini. Terlebih wajah gadis yang tengah berada dalam dekapannya ini kian memucat seiring bergeraknya jarum detik jam.

“Hei, Gadis aneh! Ireona..ireona!” teriaknya, namun sepertinya gadis itu –Yoona- seakan enggan merespon setiap panggilan cemasnya, membuat Luhan kian diliputi perasaan takut dan bersalahnya akan apa yang sudah Ia lakukan terhadap Gadis ini.

“oh, tidak. Apa Gadis ini pingsan lagi? Ommona.. Aku harus cepat membawanya ke rumah Min Ho.” tanpa menunggu lama, Luhan segera menggendong gadis ini ke arah mobilnya. Sesampai di mobil, Luhan mendudukkan Yoona di kursi samping pengemudi. Saat berada di dalam mobil, Luhan langsung merutuki dirinya, seraya tak lupa memasangkan seat belt di tubuh gadis yang telah ia buat tak sadarkan diri itu.

“oh, Luhan Pabo!Apa kau tahu rumah Min Ho sekarang? Astaga,ini benar-benar menyusahkanku.” Desah Luhan pada dirinya sendiri, Ia  pun dengan terpaksa membawa Yoona ke rumahnya. Ia terlalu malas membawanya ke rumah sakit, lantaran jarak rumah sakit dari lokasinya saat ini sangatlah jauh.

“Tuan.“ sapa seorang Pelayan, Ia kaget saat melihat Luhan -majikannya- membawa seorang gadis dan menggendongnya ke arah kamar. Pelayan itu menatap Tuan nya tak percaya.

“cepat hubungi Dokter Han.” Pelayan itu mengangguk ragu mendengar perintah Luhan, sedangkan Luhan kini tampak tengah menatap cemas ke arah Yoona, Ia sangat bingung dengan dirinya sendiri. Belum ada yang membuatnya se-khawatir ini selain Ibunya. Wajah Yoona yang sangat pucat dan berkeringat, membuat Luhan melihat bayangan Ibunya dulu, yang menahan sakit demi bertahan hidup. Perlahan air mata itu jatuh, membasahi pipinya, tanpa sadar ia lalu menggenggam erat tangan gadis yang masih tergolek lemah di ranjangnya itu –Yoona-.

“bertahanlah.” lirihnya. Tak lama kemudian Dokter Han datang dengan peralatannya dan segera memeriksa keadaan Yoona, dengan cepat pula Pria itu menghapus air matanya.

“Dia hanya mengalami demam lantaran tubuhnya yang terlalu menegang. Kusarankan jangan terlalu membuatnya lelah, karena itu dapat membuatnya drop dan daya tahan tubuhnya akan turun drastis. Aku akan memberimu resep obat agar Dia bisa cepat sembuh.” Luhan mengangguk mendengar penjelasan Dokter pribadinya, ada sebuah perasaan lega mendengar gadis itu hanya mengalami demam.

“yang pil diminum 3 kali sehari dan yang cair hanya sekali saja. Obat ini harus diminum sampai habis, agar daya tubuhnya cepat meningkat. Baiklah, jika tidak ada yang ingin anda tanyakan mengenai keadaan pasien lagi, saya permisi. Pastikan Nona ini meminum obatnya dengan teratur, juga beristirahat cukup, dan disarankan juga untuk mengkonsumsi buah dan susu, untuk memperbarui sistem kekebalan tubuhnya.” Lanjut sang Dokter, sementara Luhan hanya mampu mengangguk, menandakan dia mengerti sepenuhnya mengenai hal-hal yang baru saja disampaikan sang Dokter.

Sepeninggal sang Dokter, Luhan segera mengambil wadah air dan handuk kecil untuk mengompres dahi Yoona. Tentu tindakan ini ditatap aneh oleh beberapa Pelayan yang ada disana saat itu. Luhan sendiri tak terlalu peduli dengan tatapan aneh para Pelayannya, Ia terus mengompres dahi Yoona yang tengah terbaring lemah.

“Kalian pergilah, tinggalkan aku dengan gadis ini. Jangan sampai ada yang orang lain yang menggangguku!” para Pelayan itu menunduk hormat, mereka pun pergi dari kamar tersebut sesuai perintah majikannya.

Luhan terdiam saat melihat wajah Yoona yang nampak cantik, dan polos. “Oh, GOD! apa yang kau pikirkan Xi Luhan!? Keluarkan setan-setan yang ada di pikiranmu!“ gumam Luhan.

“Oppa..Oppa.”  Luhan  sedikit tersentak saat suara itu keluar dari mulut Yoona. Luhan  mengira dia sudah sadar dan menangkap basah bahwa dirinya tengah memperhatikan Yoona, namun untungnya Yoona hanya mengigau. Sesaat ada rasa bersalah yang menghinggap di hati Luhan dan perlahan namun pasti mulai memenuhi seluruh akal sehatnya, hingga saat ini tanpa sadar tangan besar itu kini tengah menghapus setiap tetes peluh yang memenuhi kening Yoona.

**

Sinar matahari nampak tak terlalu terang karena sebuah gorden tampak menutupi sebuah jendela besar yang ada di kamar mewah itu. Walaupun tak terlalu menyilaukan, tetapi cahaya itu nampak berhasil membangunkan seorang Gadis. Yoona –gadis itu- tampak menggeliat kecil, seraya membuka matanya. Asing. Itulah hal pertama yang ia lihat, kamar yang sama sekali bukanlah kamarnya maupun kamar Min Ho kini mulai tertampil di iris matanya.

“kau sudah bangun?” suara itu sempat membuat Yoona tersentak kaget, namun sejurus kemudian dia memandang orang tersebut dengan wajah kesal yang sama dengan yang semalam ia tampilkan hanya untuk satu sosok yang kini tengah berada di hadapannya.

“kenapa kau menatapku seperti itu, eoh!?” tanya Luhan saat menyadari perubahan wajah Yoona. Tanpa menunggu lama, Yoona langsung melempar bantal yang ada di sekitarnya ke arah Luhan, reflek Luhan langsung menghindar dari bantal-bantal itu, na’as salah satu bantal telah mengenai kepala Luhan.

“Ya!!  Apa yang kau lakukan?!“ Luhan mulai berteriak protes.

“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Apa yang kau lakukan hingga aku berada di kamar ini?!” teriakan Yoona tak kalah kencang, membuat Luhan segera menutup telinganya, satu-satunya yang ada di otaknya saat itu hanya ‘selamatkan telingaku’.

“Aish.. pelankan suaramu, gadis aneh!  Bukannya kau berterima kasih, Kau malah berteriak. Dimana sopan santunmu, eoh!?”

“Tsk.. Aku tidak yakin. Cepat jawab pertanyaan ku, kenapa bisa aku disini!!?”

“semalam Kau pingsan saat berada di halte bus.” ujar Luhan, Ia tak menambahkan bahwa dialah yang membuat Yoona pingsan. Sepertinya Luhan tak ingin dia di cap sebagai pria bodoh yang tak mempunyai pekerjaan karena berbuat jahil terhadap seorang gadis, dan satu lagi, Luhan terlalu gengsi.

“Apa kau berbuat sesuatu padaku?” selidik Yoona seraya memeluk dirinya sendiri, membuat sepasang manik di hadapannya membulat seketika.

“Mwoya!? Cih..Jika aku berbuat macam-macam terhadapmu, pasti aku sudah gila dan tak waras lagi.” Yoona mengelus dadanya lega mendengar perkataan Luhan. Yoona lalu beranjak dari kasur di iringi tatapan bingung Luhan.

“Kau mau kemana?” tanya Luhan bingung melihat Yoona yang kini tengah memakai jaket tebalnya.

“Aku? tentu saja mau pulang.” Sahut Yoona ketus.

“Mwo?! Apa ini balasanmu terhadap orang yang sudah menolongmu? tsk.. kau benar-benar tak punya sopan santun”

“tentu saja tidak. Jika ada orang yang menolongku, aku akan mengucapkan terima kasih, tapi jika kau orang nya, tiba-tiba bibir ku terasa berat untuk mengatakannya.” Sahut Yoona santai.

“Kau benar-benar tidak tahu berterima kasih. Kalau tahu akan seperti ini jadinya, sejak awal aku tak akan menyelamatkanmu, kau benar-benar membuatku repot dan membuatku sia-sia karena mengkhawatirkanmu.” Yoona menatap Luhan tak percaya, Luhan yang menyadari kalimatnya tadi langsung memalingkan wajahnya.

“kau mengkhawatirkanku? jinjja? pendengaranku tidak salah, bukan?”selidik Yoona untuk memperjelas kalimat yang baru saja didengarnya, dan masih merupakan tanda tanya besar bagi gadis itu.

“tsk.. kau terlalu percaya diri sekali. Memangnya siapa yang mengkhawatirkanmu, gadis aneh?!” elak Luhan.

“sudah ku bilang, aku bukan gadis aneh! Apa kau tidak memiliki pikiran, eoh!? Jinjja.. aku benar-benar tidak percaya jika kaulah yang menyelamatkanku.” Yoona menatap kesal Luhan, ia lalu berjalan meninggalkan Luhan.

“Ya!! Apa kau tak bisa mengucapkan terima kasih kepadaku?” Luhan langsung menarik tangan Yoona agar gadis itu berhenti.

“untuk apa? Kau saja tidak pernah mengucapkan terima kasih.“ balas Yoona berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Luhan, namun hasil yang ia dapatkan nihil, mengingat Luhan tengah mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat.

“kau mau kemana?” tanya Luhan lagi, kali ini dengan nada lebih lembut dari sebelumnya.

“tentu saja pulang lalu berkerja.” Yoona masih ketus menanggapi pertanyaan dengan intonasi yang di yakini mampu membuat gadis manapun terenyuh seketika, minimal tersanjung, karena pertanyaan Luhan tadi terkesan manis dan mengandung berbagai makna di dalamnya.

“biar aku yang mengantarmu.” Lagi-lagi Luhan kembali menggunakan intonasi lembut yang biasanya digunakan seseorang kepada kekasihnya, namun sepertinya Yoona masih terlalu malas untuk menyadari hal itu.

“Shireo!” tolak Yoona mantap.“aku bisa sendiri” lanjutnya. Namun sepertinya ia salah jika berpikir Luhan akan mendengarkannya, dan membiarkannya pergi sesuai dengan apa yang diekspektasikannya. Yoona kini di tarik paksa oleh Luhan untuk masuk kedalam mobil.

“Ya!! Lepaskan aku!” Yoona terus meronta agar cengkaraman Luhan terlepas, dengan paksa Luhan memegang kepala yoona agar sedikit menunduk untuk memasuki mobil, tak perduli berpasang mata milik para Pelayan juga supir pribadinya terus menatap dengan berbagai arti sejak mereka baru keluar dari kamar Luhan. Luhan memasuki mobilnya seraya melihat Yoona yang terus ingin keluar,tapi sayang pintu mobil sudah di kunci otomatis oleh Luhan.

“Ya!! Cepat buka pintunya! aku mau keluar!” ronta Yoona yang segera ditanggapi dengan decakan kesal Luhan.

“jangan selalu berteriak gadis bodoh!” geram Luhan.

“Aku bukan gadis bodoh, gadis gila ataupun gadis aneh! Aku punya nama, Tuan. Apa aku harus membuat papan reklame yang amat besar agar matamu itu dapat melihatnya dengan jelas, dan segera berhenti memanggilku dengan sebutan-sebutan itu?! Namun jika itu tidak berhasil juga, aku sangat yakin bahwa kau itu buta permanen!” protes Yoona ketus.

“hei! Kau dengar aku, tidak?! Turunkan ak…” Yoona langsung menghentikan ucapannya,saat tubuh Luhan mendekat dan jarak antara wajahnya dan wajah Luhan hanya beberapa senti. Jantung Yoona berdebar tak karuan,ia dapat merasakan nafas Luhan menyapu sekitar wajahnya.

“jangan banyak bicara, atau kau tidak akan selamat.” bisik Luhan seraya memasangkan safety belt di tubuh Yoona. Setelah itu, Yoona langsung memalingkan wajahnya menatap jendela mobil, ia dapat merasakan jika wajahnya tampak panas dan semburat merah muncul, dengan susah-payah Yoona pun mulai mengatur jantungnya yang sedari tadi berdetak abnormal.

“anak pintar.” ujar Luhan, Yoona tak menanggapi kata-kata Luhan dan memilih diam, ia takut jika Luhan akan melihat wajah merahnya yang sedari tadi menahan malu akibat perlakuan Luhan. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di sebuah apartement mewah di kawasan elit Seoul.

“apa kau tinggal disini?” tanya Luhan seraya menatap tak percaya ke arah Yoona. Mungkin selama ini Luhan selalu menatap rendah Yoona.

“ne, aku tinggal disini.”  jawab Yoona dengan santai, setelahnya Mereka langsung keluar dari mobil.

“Yoongie!” panggil seseorang, membuat keduanya, terutama Yoona kontan menoleh.

“Min Ho oppa.” Min ho langsung berlari ke arah Yoona dan langsung memeluk gadis itu. Ia memeriksa baju Yoona dan keadaan tubuh Yoona yang sangat ia khawatirkan. Ia takut terjadi apa-apa dengan Yoona. Mengingat tubuhnya belum peluh total.

“kau kemana saja? apa yang terjadi? tadi malam kau tidur dimana? oppa sangat khawatir padamu, Yoong. Bahkan oppa tak bisa tidur semalam karena memikirkanmu.” pertanyaan beruntun itu membuat Luhan memutar bola matanya malas.

“mianhae, Oppa. Aku sudah membuatmu khawatir.“ sesal Yoona. Min Ho segera mengusap kepala gadis itu dengan sayang. Luhan yang melihat itu hanya menatap tak suka ke arah Min Ho, tidak tahu kenapa muncul perasaan tak rela jika gadis itu di sentuh oleh Min Ho. Bahkan Luhan sendiri pun masih belum bisa memastikan apa yang terjadi dengannya belakangan ini, dan itu semua hanya karena satu sosok yang tak lain adalah gadis yang tengah bergelayut manja pada lengan seorang pria yang merupakan saudara sepupunya, dia Yoona.

“tadi malam dia pingsan, waktu itu aku berencana membawanya ke rumahmu, tapi sayang aku tak tahu di mana rumahmu sekarang setelah kau pindah. Rumah sakit pun terlalu jauh dari jarak dimana Yoona pingsan. Jadi aku membawanya kerumah dan menghubungi Dokter Han, dia hanya demam dan terlalu kelelahan.” jelas Luhan. Min Ho menatap dingin ke arah Luhan. Pria ini benar-benar tak terlalu suka dengan Luhan, karena sikap arogan yang ia miliki, membuatnya benci jika berurusan dengan Luhan, terlebih jika sudah bersangkut-paut dengan Yoona, Min Ho takkan segan-segan membunuh Luhan jika Yoona terluka lagi karena sikap kasar Luhan.

“terima kasih sudah menjaga Yoona dan menyelamatkannya. Kajja yoong, kau harus beristirahat. Oh ya, sebagai atasan yang baik, tolong izinkan Yoona untuk absen satu hari ini. Dia harus beristirahat agar dapat pulih.” Min Ho menekan kata atasan yang baik seraya sedikit membungkuk sebelum menarik  Yoona masuk meninggalkan Luhan. Sepertinya Pria itu sedang menyindir Luhan, sedangkan Yoona, ia memandang Luhan lalu menunduk sedikit.

“khamsahaminda.” ujarnya setelah itu. Luhan hanya memandang tubuh mereka yang telah menjauh. Luhan mendesah kesal.

“tsk.. apa dia mencoba menyidirku!?” Luhan menahan emosinya saat mengingat perkataan Min Ho tadi.

**

Min ho mengantarkan Yoona ke kamarnya. Setelahnya, ia membawa susu hangat dan bubur untuk sarapan Yoona.

“apa badanmu masih sakit?” Yoona tersenyum lalu menggeleng pelan. Getaran lain tampak menyengat Min Ho, senyuman Yoona benar-benar membuatnya lumpuh.

“baguslah. Lebih baik kau mengisi perutmu, lalu minum obat. Aku akan menyuapimu. Arraseo? Tidak ada kata penolakan.” Yoona hanya tersenyum. Tangan Min Ho lalu terangkat untuk menyuapkan bubur ke mulut Yoona.

“setelah ini kau harus minum obat, lalu beristirahat. Jangan terlalu banyak beraktivitas, aku tak mau tubuhmu drop lagi.” Titah Min Ho seraya menatap lembut gadis manis di hadapannya.

“Kau tahu, Oppa? Kau itu over protective, aku kan hanya demam biasa.“ ejek Yoona. Sementara Min ho mengelus pipi Yoona lalu mencium kening Yoona dengan lembut. Yoona sempat kaget atas perlakuanMin Ho terhadapnya.

“tidurlah. Aku tidak mau kau sakit lagi.” Min Ho mematikan lampu kamar Yoona, lalu pergi dari kamar itu tanpa membalas perkataan yang baru saja di lontarkan Yoona.

“Aku seperti ini karena aku sangat mencintaimu,Yoona-ya” lirih Min Ho saat pintu kamar Yoona sudah tertutup rapat.

**

Luhan menghentikan mobilnya di depan rumah mewahnya, Ia masuk ke dalam sebuah ruangan pribadinya, sepanjang pandangan hanya ada meja kerja dan deretan buku layaknya sebuah perpustakaan. Luhan mengambil sebuah buku coklat dan membawanya ke kursi kerja. Hari ini setelah mengantar Yoona pulang, Luhan tidak berkerja, dia terlalu lelah atas apa yang ia lakukan hari ini dan kemarin. Toh, dia adalah CEO perusahaan. Jadi ia bisa bolos kerja kapan pun ia mau dan memberikan perkerjaannya kepada para bawahannya. Untuk beberapa saat, fokus Luhan pada buku yang tengah dibacanya itu terus terganggu, dikarenakan bayang-bayang Yoona terus terlihat di benak Pria ini.

“aish.. aku bisa gila!” rutuknya. Ia melempar buku coklat itu dengan kasar di meja. Tangannya beralih ke dalam laci meja tersebut dan mengambil selembar foto dari sana, hingga tertampillah gambar dirinya dan sang ibu yang tengah tersenyum manis.

“Eomma, apa kau mendengarku? semoga kau benar-benar mendengarku dari atas sana.”

“Eomma tahu, hari ini aku benar-benar mengalami hal aneh sejak gadis aneh itu datang. Jantung ini dan desiran aneh itu terus menderaku saat aku melihatnya. Apa Eomma berpikir bahwa ini cinta? Ah, kuharap bukan.” Lanjutnya lagi dengan mata masih terfokus pada sebuah foto yang terlihat agak usang.

“Eomma, apa aku salah sudah menjauhi pria itu? Seandainya kau tidak pergi, mungkin kita akan terus bersama layaknya keluarga normal. Bogoshippeo,Eomma.” Luhan beranjak dari duduknya, dan tidur di sofa merah maroon yang ada di sana. Ia berbaring sambil memeluk foto itu.

**

Keesokan harinya, kantor tampak berjalan seperti bisanya. Luhan tampak duduk dengan santai di kursi kebesarannya, sedangkan Yoona terlihat sibuk berkutat dengan tugas menumpuk yang di berikan oleh Luhan.

“Kenapa banyak sekali? Tsk. Dia benar-benar!” gerutu Yoona. Mulut mungil itu tak henti-hentinya mengeluarkan gerutuan yang berhasil membuat Luhan menatap kesal ke arah Yoona.

“apa kau tidak bisa berhenti menggerutu, hah!?” teriak Luhan. Yoona menunduk sambil menggigit sangsi bibir bawahnya.

“mi..mianhae, Sajangnim.” ujar Yoona. Setelahnya, sering sekali Luhan terlihat mencuri-curi pandang ke arah Yoona, bahkan Ia tak menanggapi dokumen penting di hadapannya, dan hanya sibuk memperhatikan Yoona yang tengah berkerja. Mungkin saat ini Yoona terlihat lebih penting dari dokumen itu.

“Apa dia baik-baik saja? Apa aku harus menyuruhnya untuk tidak mengerjakan itu? aish.. Xi Luhan apa yang kau pikirkan!? Untuk apa kau mencemaskan gadis aneh itu?” Luhan tampak berperang dengan hatinya, sesekali dia mengacak rambutnya bahkan menggeram kesal pada dirinya sendiri.

Clek… pintu itu terbuka saat seorang Pria memasuki ruangan Luhan.

“Xi Luhan!!! Ya!! Pria bodoh, Kau harus bertanggung jawab!“ teriak Pria itu, Lay –Namja itu- mendekati Luhan.

“nde? bertanggung jawab? apa maksudmu, eoh?” seru Luhan tak mengerti.

“Kau!! gara-gara kau tidak menemaniku kencan buta, aku terus mendapatkan pukulan dari Eommaku.”mendengar penuturan Lay, sontak tawa Luhan langsung membahana.

“hahahaha.. Yixing-ah, kau hanya membuang tenaga untuk marah-marah seperti ini. Lagi pula kau kan bisa datang sendiri, kau yang kencan kenapa aku di ajak-ajak, bisa-bisa kalau aku ikut, gadis yang akan kencan denganmu akan langsung tertarik kepadaku dan dia tidak ingin berkencan denganmu..hahah..” ejek Luhan masih disertai gelak tawa yang sepertinya takkan pernah berhenti menggema ke seluruh sudut ruangan besar itu.

“YA!! Kau ini sahabatku atau musuhku, eoh!?” Lay langsung mengapit leher Luhan dengan lengannya.

“ehmm.. permisi, Sajangnim.” suara itu mampu membuat keduanya berhenti. Lay melihat gadis yang berada di hadapannya. Luhan langsung menghentakkan tangan Lay dengan paksa lalu memperbaiki jasnya.

“ne.. ada apa?”

“semua dokumen sudah selesai, Sajangnim.“ lapor Yoona.

“letakkan saja di mejaku.“ Yoona mengangguk, lalu menaruh beberapa dokumen itu dan segera berbalik.

“tunggu!” Lay langsung menahan Yoona dengan menggenggam tangan gadis itu.

“bukankah kau pasien yang waktu itu?” Yoona menatap Pria itu sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.

“ne. dari mana Tuan tahu?”

“kau tidak ingat? Aku orang yang selalu berada di samping Pria bodoh itu.” Ujar Lay seraya melirik sekilas ke arah Luhan-Pria bodoh yang dimaksudnya- .

“Ya!!” Luhan berteriak protes. Dia berpikiran bahwa sahabatnya kini telah menjelma menjadi musuh dalam selimut. Benar-benar.

“ah..aku ingat.” Ujar Yoona akhirnya, menginterupsi kalimat protes yang hendak dilontarkan Luhan.

“kenalkan, aku Zhang Yixing. Kau bisa memanggilku Lay.” Lay berjabat tangan dengan Yoona seraya mengeluarkan senyum termanisnya. Luhan yang melihat itu terlihat sangat kesal.

“Im Yoon Ah imnida. Salam kenal, Lay-ssi.” untuk beberapa saat Lay mengedipkan matanya saat senyuman manis dari Yoona membuat jantungnya berdebar cepat.

“jangan memanggil ku dengan embel-embel -ssi kau bisa memanggilku dengan Lay-ah ataupun Chagiya. Mungkin kita bisa menjadi kekasih nantinya.” Ujar Lay percaya diri, membuat Yoona tersenyum canggung.

“Ya!! Zhang Yixing! Jangan mengambil kesempatan, bodoh! Dan kau Im Yoon Ah, lebih baik kau membelikanku empat gelas kopi.” perintah Luhan, tentu saja untuk menghentikkan kegiatan ‘mari kita menggoda gadis manis ala Lay’.

“ne.” Yoona menunduk sebentar lalu berjalan keluar.

“tsk.. apa kau tidak bisa melihat sahabatmu ini bahagia!? Tapi, bagaimana bisa gadis itu menjadi sekretaris pribadimu?” tanya Lay, Luhan menghela nafas lalu mendudukkan dirinya kembali.

“ceritanya panjang.“

**

Yoona berjalan dengan santai menuju sebuah Cafè di dekat kantor, sesekali helaan nafas itu keluar dari dirinya. Beberapa hantu pun sudah berada di jalan-jalan, berkeliaran layaknya manusia. Yoona sudah terbisa akan hal aneh yang dapat dilihatnya, asalakan roh-roh itu tidak datang untuk mengagetkannya.

“ah.. aku benar-benar kesal melihat Luhan.” Gerutu Yoona disela-sela langkahnya. Tak berapa lama, Ia pun tiba di Cafè tersebut dan segera memesan 4 gelas kopi.

“annyeonghaseyo. Ada yang bisa saya bantu?“ tanya seseorang yang berada di belakang meja kasir.

“Aku pesan 4 kopi Moccachino.“

“baiklah.” tanpa menunggu lama, 4 cup Moccachino sudah berada di depan Yoona.

“semua totalnya 15.000 won.” Yoona mengambil dompetnya, lalu membayar kopi tersebut.

“khamshammida.”

Yoona segera melangkahkan kakinya keluar Cafè untuk menuju ke kantor. Sesekali alunan lagu keluar dari mulutnya.

Di sisi lain, tepatnya di belakang Yoona, terlihat seorang Pria pucat tengah memandang Yoona dengan sendu. Ada suatu keriduan yang amat besar tergambar dari wajahnya, kesedihan yang terlihat jelas membuat perasaan itu berpadu satu.

“Yoona.” Gumamnya.

Tiba-tiba Yoona menghentikan langkahnya saat mendengar sebuah suara samar-samar yang menyebutkan namanya, dengan cepat ia berbalik, tetapi nihil. Hanya ada orang-orang yang berlalu lalang dan sibuk dengan obrolan mereka sendiri.

“Sepertinya tadi ada yang memanggilku.” Yoona memiringkan sedikit kepalanya, lalu mengedikkan bahunya dan ia pun berlalu pergi. Sesampainya di kantor, Yoona segera meletakkan keempat kopi itu di meja Luhan.

“mana teman Sajangnim tadi?” tanya Yoona heran seraya memandangi setiap sudut ruangan. Ada perasaan cemburu dan tak suka terselip di hati Luhan.

“Dia sudah pergi. Untuk apa kau mencarinya? jangan terlalu tebar pesona kepadanya, dia seorang player.” jawab Luhan.

“siapa yang mau tebar pesona? Aku kan hanya bertanya. Kau memang Pria aneh yang pernah ku kenal. Apa kau sedang datang bulan? Kau selalu marah-marah tak jelas sepanjang hari ini.” Ledek Yoona. Luhan menatap Yoona tajam, ia lalu berdiri di hadapan Yoona.

“Mworago? Kau..Kau berani sekali kepadaku! Aku ini boss mu, seharusnya kau lebih sopan lagi. Bukankah itu fakta?! Kau saja dengan mudahnya ingin di pegang-pegang olehnya.”

“Apa maksudmu!? Dia hanya ingin berkenalan.Kau benar-benar               Pria yang tidak normal, lebih baik kau periksakan dirimu ke Dokter, sedikit-sedikit marah.. terlalu sensitif.“ Yoona menatap sebal Luhan.

“hati-hati dengan ucapanmu, nona Im, atau aku akan..“

“apa!? kau mau memecatku!? silahkan saja! Aku tidak takut kepadamu!“ tantang Yoona, perlahan Luhan mulai mendekati Yoona, sontak gadis itu mundur teratur hingga dirinya dan Luhan kini saling dekat, sangat dekat kendati meja kerja Luhan sudah menahan langkah mundur Yoona. Lebih tepatnya kini tubuh besarLuhan menghimpit Yoona yang sepertinya sudah tak bisa membuat pergerakan apapun lagi.

“k..kau mau apa!?” Yoona menatap takut Luhan.

“kau pikir jika posisi kita seperti ini tidak ada hal yang membahayakan terjadi? Aku bisa melakukan apapun dengan gadis sepertimu. Memeluk, mencium, atau mungkin lebih.“ bisik Luhan, seringai kini terlihat jelas di wajahnya, Yoona merasakan debaran jantungnya yang semakin berdetak dengan cepat saat jarak wajah Luhan hanya beberapa senti di depan wajahnya. Nafas Luhan sangat kentara menyapu permukaan kulit wajah Yoona. Parfum maskulinnya tercium jelas di indra penciuman Yoona.

“bisa saja bibir ini menyapu mulut cerewet mu itu, atau tangan ini melakukan hal yang pasangan lain lakukan jika berada di hotel.” Lanjut Luhan dengan suara bass nya yang terdengar seolah sedang menggoda gadis yang kini semakin tertunduk. Yoona menelan salivanya dengan paksa.

“jangan macam-macam atau a..aku akan memukulmu!” ancam Yoona dengan suara yang sulit diartikan sebagai ancaman, lantaran terlalu pelan, lebih tepat disebut dengan bisikkan dibanding dengan ancaman.

“apa kau berani, hmm?” goda Luhan. Tubuh mereka pun bertambah dekat, sangat kentara saat hidung mereka bersentuhan. Yoona menahan nafasnya lalu memalingkan wajahnya dari Luhan. Luhan tersenyum puas melihat reaksi Yoona.

“tentu saja. Bahkan aku bisa mendorongmu saat ini juga!! Ja..di menjauhlah.” Yoona mencoba memberanikan diri kembali, mencoba tetap menjaga akal sehatnya tetap pada tempatnya.

“Kita lihat saja nanti, apa suatu saat nanti kau akan mendorongku atau kau yang akan mendorong di atas ranjang.” Yoona menghela nafas penuh makna saat tubuh Luhan sudah menjauh darinya. Yoona terus memegangi jantungnya yang berdetak abnormal, Ia sedikit terperangah dengan kata-kata Luhan tadi. Sedangkan Luhan segera keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju toilet. Saat di toilet, tepatnya di depan cermin, Luhan terus menepuk pipinya dan memegang jantungnya yang terus berdetak tak karuan.

“Apa yang kau lakukan tadi, Xi Luhan!? Aish..jinjja..Luhan Pabo! Pabo!” rutuk Luhan pada dirinya sendiri seraya mengacak rambutnya frustasi.

Terlihat Min Ho tampak terduduk  di salah satu kursi di sudut Cafè yang berada di samping perusahaan Yoona. Tangannya tampak terkepal kuat saat mengingat kejadian tadi, kejadian dimana ia  melihat Yoona dan Luhan saling menghimpit. Ah, bukan.Lebih tepatnya Luhan yang menghimpit Yoona.

Ya, tadi Min Ho sempat melihat kejadian Yoona dan Luhan yang dapat di katakan tengah bermesraan. Min Ho sangat ingin masuk dan menjauhkan Yoona dari Luhan, tetapi entah mengapa, kakinya seperti tertahan dan mulutnya lumpuh tak bisa menjauhkan Yoona dari tubuh Luhan..

Lee Min Ho’s POV

Lama kelamaan aku geram dengan tingkah Luhan, anak dan ayah sama saja.  Mereka terus mengambil keahagian dimana keluargaku yang seharusnya mendapatkan perusahaan Taesan itu. Apa yang diiginkan Luhan lagi, apa dia tidak cukup dengan perusahaan itu sehingga dia mau mengambil Yoona dariku.

Lee Min Ho’s POV End

Author’s POV

Pria pucat itu berjalan dengan tatapan sendu saat mengikuti Yoona dari belakang. Tangannya tampak ingin menggapai punggung itu untuk ia peluk, tapi sayang, pintu itu sudah tertutup, memisahkan dirinya dengan Yoona.

Seorang Pria dengan motor sport dan pakaian santainya baru saja berhenti di depan namja itu.

“Song Joong Ki hyung, apa dia wanita itu?” tanyanya, sedangkan Joong Ki hanya mengangguk lemah.

“Hyung, cepatlah selesaikan permasalahanmu. Ingatlah, kau dan dia berbeda. Kau sudah mati dan wanita itu masih hidup. Kalian hanya bagaikan Bumi dan langit.” Sambung pria itu seraya menepuk pelan bahu pria yang dipanggil Joong Ki.

“ya, aku tahu itu. Jangan terus mengulangi kata-katamu, Taemin-ah.” Setelah mengatakan itu, Joong Ki berjalan masuk ke dalam gedung.

**

Gadis itu berjalan dengan susah-payah dengan tumpukan tinggi map berkas-berkas di tangannya. Tak lupa juga, dia terus mengumpat tanpa suara saat pria di hadapannya kembali berteriak agar dirinya segera menghampirinya.

“Ya! Im Yoon Ah! Kenapa kau lama sekali?! Bahkan seekor kura-kura pun bisa jauh lebih cepat dari langkahmu saat ini!” teriak pria itu lagi, ini sudah yang kesekian kalinya dia terus mengejek Yoona yang kini sudah tak bisa lagi memasang senyum di wajahnya.

Yoona menghela napas berat. Sekali lagi, dia menghentakkan kakinya ke lantai gedung dengan kesal, seraya meniup anak rambut yang mulai berjatuhan menutupi dahi juga menghalangi sedikit penglihatannya.

“Ne, Sajangnim!” seru Yoona lagi, ingin sekali ia mencekik pria yang merupakan atasannya saat ini. Sejak kemarin pria itu terus saja mengusik kehidupannya, mulai dari meneleponnya saat tengah malam hanya untuk meminta Yoona membuka email nya, dan mencetak apa yang terlampir di sana, kemudian membuat gadis itu harus bolak-balik ke Cafe dekat kantor hanya karena kadar gula dalam kopinya terlalu banyak atau terlalu sedikit, belum lagi pria itu terus menahan Yoona dengan setumpuk dokumen yang kini tengah berada di tangannya.

“Ya! Ada apa dengan nada suaramu?! Kenapa kau menaikkan nada suaramu padaku, eoh!? Kau ingin protes dengan pekerjaanmu!? Kalau begitu, kau bisa mengundurkan diri saat ini juga.” Lagi-lagi Pria itu berhasil membuat Yoona menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar.

“annieyo, Sajangnim. Joseunghamnida.” Kali ini Yoona berusaha terdengar semanis mungkin, menahan setiap keinginan untuk membuat atasannya itu harus meregang nyawa dengan tangannya sendiri.

“kalau begitu, cepatlah!” teriak pria itu lagi, dengan segera Yoona setengah berlari menghampiri atasannya yang menurutnya jauh lebih menyebalkan dari seorang Ahjumma sekalipun.

**

“ah, Oppa. aku lelah sekali hari ini.” Gadis itu menyandarkan kepalanya pada sebuah bahu lebar disampingnya.

Sang empunya bahu ternyata tak keberatan sama sekali dan malah mengusap lembut kepala gadis itu.

“apakah ada masalah di kantor?” tanya pria itu lembut seraya sesekali melirik gadis itu penuh arti.

Gadis tadi segera menarik kepalanya, lalu mulai menatap intens pria yang senantiasa memasang senyum manisnya.

“Oppa, rasanya aku harus membawa pisau atau senapan setiap hari ke kantor!” ujarnya mantap, membuat lawan bicaranya mengernyit seraya tersenyum menahan tawa.

“kenapa harus membawa benda-benda yang akan membuatmu ditahan sebelum berhasil menginjakkan kakimu di gedung itu, eum?”

“aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri! Ya, harus!”

Kali ini pria itu sudah terkekeh pelan saat melihat ekspresi kesal dari gadis itu, tangannya sudah bergerilya di puncak kepala gadis itu.

“arraseo..arraseo.. sebelum kau membunuhnya besok, adakah yang ingin kau makan malam ini? Ayo kita makan malam di luar. Aku bosan makan di rumah. Bagaimana?” ajak pria itu seraya menatap gadis itu lembut.

Tanpa menunggu lama, ia segera mendapatkan anggukan mantap dari gadis yang kini tengah menatapnya dengan mata yang memiliki kilau mematikan baginya.

“ide yang bagus, Oppa!” serunya riang, seakan segala kekesalannya pada sang atasan hilang, menguak pergi begitu saja terbawa angin malam.

**

“jadi, ada apa dengan atasanmu yang menyebalkan itu?” percakapan pun di mulai.

Yoona, gadis itu meletakkan sejenak pisau serta garpu di tangannya seraya mengunyah habis makan di mulutnya sebelum menjawab dengan emosi yang meluap-luap.

“Dia terus saja menyiksaku dengan semua pekerjaan-pekerjaan bodoh itu! Oppa tahu, dia bahkan menyuruhku untuk memberi makanan pada anjingnya di rumah, dan membuatku harus berlari ke kantor hanya karena dia menginginkan secangkir kopi Americano. Menyebalkan, bukan!? Aku harus membunuhnya besok!” adu Yoona pada pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandung.

Lee Min Ho –pria itu- tersenyum simpul, lagi-lagi dia hanya mengusap puncak kepala gadis yang ia cintai itu, berusaha meredakan emosinya.

“apa aku harus turun tangan untuk membunuhnya untukmu, eum?” tanyanya lembut, namun penuh dengan kemantapan dalam nada suaranya, membuat Yoona harus mengeluarkan cengiran khasnya, setidaknya bukankah ia harus mencairkan suasana mencekam yang ia buat sendiri?

“annieyo, Oppa. kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan darah dari orang paling menyebalkan di dunia ini. Lagi pula, kalau kau melakukan itu, aku tidak bisa menggantikanmu sebagai dokter. Jadi, lupakanlah, dan mari kita nikmati makan malam spesial ini. Tak perlu membawa-bawa namanya lagi tadi itu aku hanya bercanda. Jadi jangan Membuat nafsu makanku hilang. Arraseo?”

Lee Min Ho tersenyum dibuatnya, lalu mengangguk sejenak sebelum kembali menyibukkan diri dengan irisan daging steak di atas piringnya, lalu mulai menyuapkan beberapa potongan ke mulut Yoona. Melakukan hal seperti itu membuatnya bahagia, setidaknya dia bisa memperlakukan Yoona sebagaimana sosok yang ia inginkan dari Yoona, kekasih. Dan ia berjanji, akan membuat Yoona menyandang status ‘kekasih’ itu dalam waktu dekat.

Seolah mendukung Min Ho, langit malam ini penuh dengan bintang, bulan pun bersinar terang, ditambah musik yang berasal dari gemercik air mancur, menambah keindahan makan malam mereka

***

cap..cip..cupp

wowo lama tak bertemu..😀

lagi sibuk..Behh..kurikulum 2013 sangat keterlaluan.. huh..

ada yang kangan *gag ada.. purinsu lagi pending ya. jadi tunggu aja.. LS BTS juga lagi pending..

sama rifda eonni.. ;D

51 thoughts on “BACK IN TIME 4

  1. Langsung klepek2 sm minho..*ituaku* heheheeee…
    Apa misi joongki?? Minta maaf kaah atw menyatakan rasa cintanya,,taemin itu manusia juga bkn??

  2. Minho nya baik banget. Aku kalo jadi Yoona pasti galau deh. Wkwkwwk . Lanjut thor. Penasaran sama chapter selanjutnya.

  3. akhirnya posh juga…ini kenapa Minho benci Luhan?ciee luhan udah mulai melakukan pendekatan yaa? ditunggu lanjutannya figthing :)))

  4. wah aku kira ff ini udah gak lanjut. eh ternyata lanjut wkwk
    sebenernya sih luhan di ff ini beda banget sama luhan di ff yg lain. aku baru pertama kali baca luhan yang karakternya ngeselin disini wkwk

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s