Marriage (chapter one)

wpid-satu.jpg

Shaquila’s Present

MARRIAGE

Im Yoon Ah ; Oh Sehun

Romance ; AU ; Familly

PG-15

MINE

Angin sore berhembus dengan tenang, menimbulkan sensasi nyaman bagi semua orang. Langit berubah menjadi jingga, pertanda sebentar lagi matahari akan tergantikan oleh bulan. Suasana ditaman ini terlihat tenang, orang-orang dengan santai berjalan menyusuri taman ini. Tapi tidak untuk dua orang berbeda gender yang tengah duduk disalah satu bangku panjang itu. Yoona dan Sehun. Dua manusia itu–lebih tepatnya Sehun terlihat gelisah. Si perempuan sendiri terlihat biasa saja, seakan sebentar lagi bukanlah terjadi hal-hal yang mengejutkan.

“Yoona-ya” Lelaki bermarga Oh itu membuka percakapan, memecahkan keheningan diantara mereka. Si pemilik nama tetap memandang lurus dengan tatapan datarnya. “Waeyo?”

Sehun terdiam sejenak ia berusaha meyakinkan dirinya kalau ia bisa. Ya, kau pasti bisa Sehun! “Aku–“ Sialan. Suara Sehun tiba-tiba mendadak tersendat. Apa ia haus? Atau kekurangan cairan?(oke, itu sama saja) Oh, ayolah Sehun, jangan mempermalukan dirimu sendiri.

“Apa?”

“Aku–aku menyukaimu.” Sehun akhirnya bernafas lega. Setidaknya ia berhasil mengucapkan dua kata –eh tiga(karena Sehun mengucapkan kata ‘aku’ sebanyak dua kali) yang memang kenyataan yang cukup lama terpendam didalam hatinya. Dan yang sekarang Sehun lakukan adalah menunggu reaksi perempuan disampingnya.

Yoona diam, arah pandangannya masih lurus kedepan, entah apa yang ia lihat tapi sepertinya tidak ada niatan bagi dirinya untuk menatap wajah rupawan Sehun. Hingga suara tawa–kekehan yang terdengar meremehkan (itulah yang disimpulkan Sehun) keluar dari bibir pink perempuan itu. “Kau bercanda?”

Alis Sehun terangkat. Bercanda? Apakah terlihat seperti itu? “Aku serius, Im Yoona.”

Yoona berdehem pelan, lalu kembali melanjutkan ucapannya. “Lalu, apa yang harus aku jawab?”

Sehun semakin tidak mengerti dengan Yoona. Perempuan itu seolah-olah sedang memutar-mutar pembicaraan yang bahkan membuat Sehun pusing. Jika ada orang yang menyatakan perasaan hanya perlu dijawab dengan kata ‘iya’ atau ‘tidak’, kan?

“Jauh dari yang ku tahu, ternyata kau ini bodoh ya.”

Bodoh? Oh ayolah Im Yoona, jangan berbelit-belit. Ingin sekali ia berbicara seperti itu, tetapi pria berkulit putih pucat itu takut. Kalian pasti tahu ‘kan ketakutan apa yang Sehun rasakan?

“Kau bodoh, dan aku tidak menyukai–apalagi sampai jatuh cinta kepada pria seperti itu.”

Otak Sehun bekerja cepat berusaha mengolah kata-kata yang tidak lama ia dengar tadi. Bodoh. Tidak suka. Dan–Tring–Sehun tahu. Ya tenyata otaknya tidak sebodoh yang dipikirkan Yoona tadi. Ucapan Yoona tadi adalah sebuah kalimat tak langsung yang mirip dengan sebuah penolakkan, yakan?

“Ke-kenapa?”

Eoh, kau sudah mengerti maksudku rupanya. Iya ‘kan aku sudah bilang bahwa aku tidak menyukai pria bodoh sepertimu, Oh Sehun-ssi.”

Hati Sehun mencelos. Alasan yang Yoona ucapkan sama sekali tidak masuk akal. Bodoh? Apa hanya karena itu Yoona menolaknya? Karena seorang Oh Sehun–yang menurut Yoona–bodoh? Eiy, bahkan perempuan itu tidak tahu ‘kan nilai akademik maupun IQ Sehun yang diatas rata-rata? Kenapa seenaknya menyimpulkan sendiri kalau Sehun bodoh? Huft, batin pria itu.

“Dan kuarasa hanya itu ‘kan yang ingin kau sampaikan padaku? Baiklah kalau begitu aku pergi dulu Sehun-ssi, annyeong.”

Dan sosok perempuan bersurai coklat itu langsung berdiri dari duduknya dan pergi, meninggalkan Sehun sendiri disitu. Perempuan yang tidak punya perasaan, pikir Sehun. Oh, sepertinya rasa benci Sehun terhadap Yoona mulai tumbuh. Dan jangan salahkan Sehun yang seperti itu, jika saja Yoona menolaknya dengan baik-baik mungkin Sehun masih bisa mentolelir. Tapi kali ini tidak.

 

-n-

“Yoona-ya.” Mendengar itu sontak membuat pemilik nama yang baru saja ingin menaiki tangga–menuju kamarnya–kini menghentian langkah.

“Ada apa, Ayah?” Responnya dengan suara yang terdengar lesu. Tentu saja seperti itu, hari ini adalah hari dimana ia menghdapai ujian kulkulus yang memang terasa membuat otaknya pecah, eh, berlebihankah?

“Kemarilah sayang.”

Yoona membawa langkah kakinya menuju ruang keluarga yang kini dihuni oleh sosok pria parubaya yang ternyata Ayahnya–Im Hyundae–. “Ada apa?”

“Kau terlihat pucat, apa kau sakit?” Aish, Yoona menggerutu dalam hati karena Ayahnya terlalu banyak berbasa-basi. Ia hanya ingin kekamar , lalu tidur karena matanya juga sudah terasa berat. Tetapi Yoona memilih memaksakan senyum agar terlihat baik-baik saja, ia hanya tak ingin Ayahnya khawatir lalu menanyakan beribu pertanyaan yang pasti membuat otaknya meledak saat itu juga. “Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah.”

Tatapan Im Hyundae kini berubah serius, membuat Yoona merinding seketika. “Apa kau masih bertemu dengan mantan kekasihmu itu?”

Oh shit. Sungguh Yoona sedang tidak ingin menangis sekarang karena membahas lelaki yang Ayahnya sebut sebagai mantan kekasih Yoona itu. Jadi, Yoona terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Tidak, aku sudah tak pernah bertemu dengannya lagi.”

Hyundae seketika tersenyum. Membuatnya terlihat tampan walau pun sudah tidak muda lagi. “Baguslah, kau sudah menjadi anak yang patuh.”

Aku melakukan itu karena terpaksa, Ayah. Batin perempuan itu seraya menunjukkan senyum karena mendapat pujian dari Ayahnya. But, it just fake smile.

“Dan Ayah ingin kau menuruti satu permintaanku lagi.” Oh God, apalagi ini?

“Apa itu?”

“Kau akan dijodohkan.”

“MWO?!”

-n-

“Kau akan dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis Ayah, dan tidak boleh ada penolakkan. Pasalnya lelaki yang akan dijodohkan denganmu adalah putra semata wayang dari Kim Jongsuk, dan kau tahu siapa dia, ‘kan?”

Yoona memejamkan mata ketika kalimat yang keluar dari bibir Ayahnya terngiang-ngiang kembali diotaknya. Kim Jongsuk, putranya, dan perjodohan. Tiga hal itu seakan membuat korsleting pada otaknya. Ia bingung, takut, sedih. Bingung dengan cara apa ia menolak perjodohan itu. Takut karena jika ia menolak, Ayahnya akan marah besar dan kemungkinan bisa terjadi hal buruk lainnya. Sedih karena ia kembali memngingat sosok lelaki yang amat dicintainya. Lelaki yang merupakan kekasihnya dulu. Lelaki yang membuat hatinya tidak bisa terisi oleh lelaki lain seakan lelaki itu secara tidak langsung sudah menutup rapat-rapat hatinya.

Yoona menolehkan kepala ketika mendengar suara getaran ponsel. Tangan rampingnya terulur mengambil benda persegi panjang yang berada dinakas meja kamarnya. Dan menggeser pelan layar datar itu.

Kyungsoo

Sederet nama itu terpampang jelas pada ponsel Yoona. Jantungnya berdegup kencang. Oh ayolah Im Yoona, relaks saja. Dengan ragu jari lentik Yoona menggeser layar itu untuk menerima sambungan. Ponselnya lalu ia tempelkan ditelinganya.

“Yeobseyo”

Suara itu terdengar dari seberang sana. Yoona membeku seketika. Suara yang dahulu sering Yoona dengar untuk mengantarkan dirinya tidur dengan nyanyian merdunya. Suara yang dahulu menggelitik telinga Yoona dengan candaan-candaanya. Dan Yoona merindukan itu.

N-ne, ada apa?” Jawab Yoona. Ia mencoba untuk membiasakan suaranya. Tapi tetap saja terdengar gugup.

Hening sejenak. Hingga Yoona samar-samar mendengar suara helaan nafas sebelum orang itu menjawab.

“Aku ingin bertemu denganmu. Sekarang.”

-n-

Yoona merapatkan kembali jaket yang dipakainya. Kedua tangannya ia gesekkan agar menciptakan sedikit kehangatan. Udara malam Seoul terasa sangat dingin. Dan Yoona kini berada disebuah tempat yang cukup sepi yang hanya ditemani oleh laki-laki bertubuh mungil yang kini berdiri disebelahnya.

“Maaf.”

Satu kata yang terucap dari bibir heart shape laki-laki disampingnya membuat Yoona menoleh sejenak, lalu menundukan kepalanya kembali. “Untuk apa?” Ucap Yoona lirih.

“Memintamu bertemu denganku dimalam hari seperti ini.” Ucap lelaki itu–Kyungsoo–merasa bersalah ketika melihat tubuh Yoona yang sedikit menggigil.

“Tidak masalah.” Lagi, Yoona membalas ucapan Kyungsoo dengan singkat. Ia hanya merasa sedikit canggung sekarang dan bingung apa yang akan dirinya dan Kyungsoo obrolkan.

“Bagaimana kabarmu–em dan juga Ayahmu?” Suara lembut Kyungsoo memecahkan atmosfer keheningan disitu. Memang sepertinya Kyungsoo tidak suka dengan suasana canggung.

“Kami–maksudku aku dan Ayahku baik-baik saja. Kau sendiri?”

“Ya, aku pun baik-baik saja.” Jawab Kyungsoo pelan. Dia merasa bersalah karena sebenarnya dirinya tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Tetapi ada suatu hal yang mengharuskan dirinya berbohong pada perempuan cantik disebelahnya itu.

“Ada apa kau memintaku bertemu denganmu?” Good. Sepertinya setan-setan canggung yang merasuki diri Yoona tadi sudah pergi membuat perempuan itu berbicara normal kembali.

Kyungsoo tersenyum, setidaknya ia merasa lebih baik melihat perubahan cara berbicara Yoona. “Aku hanya ingin mengatakan–“

Everything is you…

Suara dering ponsel Yoona membuat Kyungsoo menghentikan ucapannya. Yoona sendiri langsung menatap ponsel digenggamannya dan ketika melihat penelpon dilayar itu, Yoona seketika menjaga jarak dengan Kyungsoo dan menerima panggilan itu. Kyungsoo hanya diam melihat Yoona sedikit serius dalam pembicaraan yang Kyungsoo sendiri bahkan tidak tahu apa itu.

Setelah beberapa saat, Yoona mematikan sambungan itu dan kembali mendekati Kyungsoo. “Mianhae, tadi Ayahku menelfon.”

Kyungsoo menganggukan kepalanya. Ia kenal dengan Ayah Yoona, Im Hyundae. Pria paruh baya yang merupakkan satu-satunya keluarga Yoona yang tersisa. Pria berumur empat puluhan yang dengan kerja kerasnya dapat memberikan kehidupan terjamin kepada Yoona. Pria yang merupakan tembok raksasa penghalang hubungannya dengan Yoona, sampai saat ini.

“Oh iya, tadi kau mau mengatakan apa padaku?” Tanya Yoona kembali teringat akan pembicaraannya dengan Kyungsoo tadi–sebelum menerima telfon. Kyungsoo terdiam sejenak, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. “A-aku lupa ingin mengatakan apa tadi. Sebaiknya kau pulang, aku yakin Ayahmu tadi sedang mencarimu, ‘kan?”

Yoona terdiam. Ayah. Ya, Yoona tahu bahwa lelaki disampingnya berkata seperti tadi karena Ayahnya. Oh demi Tuhan, Yoona sangat membenci Kyungsoo jika sudah memperlakukan dirinya–Yoona–seperti tadi hanya karena Ayahnya. Dan perkiraan Yoona sepertinya benar jika ada sesuatu yang terjadi diantara Kyungsoo dan Ayahnya sendiri. Seperti sebuah perjanjian yang terjadi diantara mereka–Kyungsoo dan Im Hyundae–yang mengharuskan hubungan Yoona dan Kyungsoo kandas begitu saja.

“Iya kau benar. Aku memang harus pulang. Annyeong.” Dan setelah itu Yoona meninggalkan Kyungsoo yang mematung. Suara dingin Yoona seakan-akan adalah bongkahan es yang mampu membuat diri Kyungsoo membeku. Dan Kyungsoo memaklumi tingkah Yoona yang seperti itu.

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku masih mencintaimu, Yoong.”

-n-

Hari demi hari berlalu. Perjodohan yang akan dilaksanakan Yoona dan putra semata wayang Kim Jongsuk kian semakin dekat. Yoona sendiri frustasi dengan keadaannya sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Kabur? Sepertinya tidak. Yoona bahkan tidak mau ambil resiko yang harus ia tanggung.

Gadis bermarga Im itu sedari tadi hanya mondar-mandir didalam kamarnya, sesekali melirik kearah kalender diatas nakas mejanya. Ia sedang memikirkan cara yang tepat agar ia bisa terbebas dari perjodohan terkutuk itu. Oh ayolah berfikir Im Yoona.

TING

Sebuah ide tiba-tiba saja melintas diotaknya. Entahlah ini akan berhasil atau tidak. Ide yang menurutnya sendiri cukup gila–bahkan ia ragu akan menggunakan ide ini atau tidak. Tetapi sepertinya, iya dan harus.

Menikah dengan lelaki lain, secepatnya. Ya itu merupakan ide yang cukup bagus–menurut Yoona–. Tetapi(lagi)ia sedikit ragu dengan lelaki yang akan menjadi targetnya sendiri. Ia ragu apakah lelaki itu mau menikah dengannya? Bahkan untuk berbicara dengan dirinya pun Yoona meragukan itu. Apa Yoona harus mengemis-ngemis pada lelaki itu? Bisa saja sih, tetapi yang jelas harga diri Yoona langsung jatuh seketika.

Tetapi ini demi keselematannya sendiri, dan Yoona harus rela mengorbakankan harga dirinya. Harus.

Dan apakah kalian tahu, siapa lelaki yang dimaksud Yoona?

Oh Sehun.

^^To Be Continued^^

Haloo, masih inget ga teaser gagal yang Marriage itu? Nah ini adalah chapter 1 nya. Sumpah demi apapun itu beda banget sama ff yang ini(jadi teasernya gausah dibaca yak) tapi intinya nanti hampir sama sih/?/

Dan mau kasih bocoran dikit/apadeh/ nanti dichapter 2nya bakal diceritain usaha Yoona ngejar-ngejar Sehun buat bujuk tuh cowok mau nikah sama Yoona, tapi pasti Sehun bakal ngasih ujian-ujian yang ringan ampe yang berat/?/ke Yoona(aksi balas dendam sih/?/). Dan buat Kyungsoo sendiri, uhm liat aja nanti.-.

Haha baikkan udh dikasih bocoran/?/ wkwk yaudah deh. Ehehe maaf juga yaa kalo dichapter ini masih hambar,garing,pendek,gaje dsb. Namanya juga masih awal-awal/ngeles/

Okee see you in next chapter

Love, shaquila❤

64 thoughts on “Marriage (chapter one)

  1. penasaran nih kenapa ayah yoona gak setuju dengan hub yoona dan kyungso
    dan semoga aja sehun gak balas dendam ya sma yoona
    ditunggu chap selanjutnya ya

  2. Emm agak bingung awal hub yoona șȃϣäȃ sehun tapi bagus KƠ̴̴͡Õoº˚ºĸ . Apa sehun mau nolongin Yoona sedang sehun sudah mulai benci șȃϣäȃ Yoona karna ditolak.ooh gak sabar kelanjutannya.

  3. Kasihan Sehun ditolak Yoongie mentah2,,. Mungkin karena dia belum bisa move on dr Kyungsoo yg ternyata mantannya? Dan mereka putus pasti ada campur tangan ayah Yoongie ‘kan? *mulai sotoy
    Kirain yg bakal dijodohin ma Yoongie itu Sehun, ternyata org lain. Dan marganya Kim? Nugu?
    Ciehhh.,, Sehun next chapt. Bakal puas2in tuh ngerjain Yoongie kkkk~
    Okee.. Ditunggu lanjutannya~

  4. Waw bagus ffnya eon
    Semoga aja yoona jadi suka beneran sama sehun karna ide nya itu mereka tambah deket kan hehe

    Udh kyungsoo oppa sama org lain aja hehehe
    Biar yoona sama sehun😀

    Aku tunggu next chap eon
    Pokoknya yoona sama sehun *pemaksaan*😀

  5. Ga sabar baca chap 2 nya
    Moga sehun ga jahil ya sama yoong
    Ga nyuruh yoona yg aneh2
    Yoona unnie hwaiting
    Author-nim hwaiting

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s