Misconception [PART 4]

misconception-ly

qintazshks present

  Misconception 

staring

Luhan and Im Yoona 

PG-17 ||  chaptered  ||  Romance-Sad and Friendship ||  Poster by KISSMEDEER 

Author Note 

you can read this fanfiction with another pairing in here and here

♥ leave your review for better fanfiction in the future from me ♥

Luhan as Choi Luhan

[TEASER] [PART 1]  [PART 2] [PART 3]

Enjoy this fanfiction and create your imagination ^^ 

MISCONCEPTION

“aku mencintai Lay.”

aku mencintai Lay. Aku mencintai Lay. Aku mencintai Lay.

Sepenggal kalimat bagaikan racun itu terus terngiang di telingaku. Tanpa henti. Tanpa jeda barang sedetik untuk membiarkanku menarik napas. Mengambil oksigen. Untuk memastikan aku baik-baik saja.

“kau yakin kalau kau mencintai Lay?” aku berusaha sebisa mungkin agar suaraku tidak bergetar, tapi aku tahu usahaku gagal.

“aku tahu itu terdengar tidak masuk akal, tapi aku tahu kalau aku mencintainya, Luhan.” Ada kegirangan dalam suaranya yang membuatku menoleh padanya yang masih bersender di bahuku dengan nyaman.

Senyuman di wajahnya tidak lepas. Bahkan dengan matanya yang terpejam sekali pun, aku yakin kalau binar di matanya pasti sama terangnya sesaat setelah ia melihat Lay beberapa hari lalu.

“kau mau membantuku, kan?”

“membantu?” jenis bantuan apa yang akan ia minta padaku?

“dekatkan aku dengan Lay. Kau tahu lah, Luhan.” Ia mengangkat kepalanya dan menatapku lurus-lurus. Puppy eyes-nya itu hampir saja membuatku setuju, tapi aku harus mampu melawannya.

“tolong,”

Ia menggenggam lenganku erat. Ini adalah jenis perlakuan dari Yoona yang akan ia lakukan jika ia benar-benar menginginkan sesuatu. Dan aku benar-benar harus menuruti permintaannya yang ini?

Ayolah, Luhan.

“baiklah.”

 

MISCONCEPTION

 

Yoona melompat dari duduknya dengan girang sambil melompat-lompat. Deretan rapih gigi putihnya terpajang saat senyumnya kian lama kian melebar.

“terima kasih, Luhan-ah!

Aku mengangguk pelan.

“kau benar-benar sahabat yang baik!”

Sahabat. Ya, hanya itu. Memangnya apalagi yang kau harapkan dari Yoona, Luhan?  Aku memang sudah seharusnya bersikap sebagai sahabatnya. Tidak lebih. Aku tahu.

Tidak ada salahnya membantu sahabatmu. Sesakit apapun akibatnya, Yoona tetaplah sahabatku.

“ayo ke bawah! Sarapanmu tadi belum habis, kan?”

Yoona menarik-narik lenganku yang kutaruh di atas pahaku. Ia dengan semangat mencoba memberikan tenaga pada setiap tarikannya pada tubuhku. Persis seperti anak kecil.

“berhentilah tersenyum seperti itu, Im Yoona. kau terlihat menyeramkan,” aku bangkit dari dudukku dan dihadiahi pukulan keras di lenganku. “aw!” aku mengelus lenganku yang dipukul oleh Yoona tadi. Pasti merah kulitku nanti.

“sakit? Mian,”

Iya. Kau hanya perlu mengelus lukaku begitu, dan aku akan sembuh. Seandainya kau juga memberi tindakan yang sama pada hatiku, maka aku akan sembuh dari patah hati. Sembuh total.

kajja!

 

MISCONCEPTION

 

“Chen!”

Aku memanggil rekan kerjaku sekaligus teman baikku yang berjalan menjauh dari lift. Ia berbalik menghadapku dengan map-map di tangannya.

“hey, Luhan hyung. Ada apa?”

“bisa tolong aku untuk carikan data di Kris hyung?”

Dahinya itu mengernyit bingung. Aku membenarkan letak tasku agar tersampir dengan sempurna di bahu, tapi banyaknya berkas-berkas yang ada di tanganku menyulitkan keinginanku.

“data apa?”

“kau tahu perusahaan Zhang, kan?” ia mengangguk. “dan kau pasti tahu Lay, kan?”

“Zhang Yixing maksudmu? Oh, jadi dia bekerja di perusahaan Zhang’s?” aku mengangguk. “lalu, apa yang kau cari?”

“tolong minta data tentang Zhang Yixing selengkap-lengkapnya. Kalau Kris hyung bisa, aku minta sore ini. Jadi aku bisa melakukan penulusuran lebih lanjut dengan cepat. Bagaimana?”

“lengkap? Maksudku, selengkap-lengkapnya? Kau serius? Untuk apa?”

Ya, aku hanya harus memastikan Yoona akan baik-baik saja dengan Lay. Aku menyerah? Tidak. Tetapi setidaknya aku masih bisa melakukan sesuatu untuk Yoona dan kehidupannya yang bahagia. Kelak.

“urusan biasa. Bisa, kan?”

“baiklah. Aku akan ke ruangannya sekarang. Kau mau titip apalagi? Mau titip Yoona?”

ya! Yoona-ku bukan barang!” Yoona-ku. Sampai kapan kata itu akan aku hentikan untuk diucapkan? Mengenaskan. “ah, jangan beri tahu Yoona tentang ini, oke?”

“hey, sejak kapan kau main rahasia-rahasian dengan Yoona?”

“ini memang bukan hal yang patut dia ketahui, Chen.” iya. Aku akui bahwa ini mungkin adalah pertama kalinya aku menyembunyikan sesuatu dari Yoona. Ah, aku lupa. Kenyataan bahwa aku mencintainya adalah rahasia terbesarku.

bukan hal yang patut? Jadi saat kau cerita kalau kau pernah terkena kotoran jerapah tepat di wajahmu itu hal yang patut untuk ia ketahui? Yang benar saja,” aku menepuk lengannya keras.

Chen tertawa keras sambil menutup mulutnya dengan tangannya yang bebas, membuatku mendengus keras. Bisa-bisanya ia membuka aib yang sudah lama kututup rapat.

Ne moseube inhyeongcheoreom kkeullyeo danyeodo

 

Lay.

Seketika aku membeku saat melihat nama itu terpampang di layar ponselku. “siapa?” suara Chen membuatku memalingkan wajah. “Lay.” Ia menatapku sebentar lalu beranjak. “aku pergi dulu.”

yoboseoyo?”

Luhan! kau dimana?”

“aku ada di mall. Kau mau ikut aku bolos kerja?” Kulangkahkan kaki menuju lift.

kau? Seorang Choi Luhan bolos kerja?” ada nada ketidakpercayaan yang terlalu kentara terdengar dari suara Lay. “kau bolos dengan Yoona?”

Aku baru saja akan tertawa karena Lay bisa percaya dengan candaanku.

kenapa? Kalau aku pergi dengan Yoona kau mau ikut juga?”

tentu saja. Kenapa tidak?” bukan. Bukan jawaban itu yang aku inginkan darimu Lay. Kau salah.

mana mungkin aku bolos. Aku bercanda tadi.” Senyumku hilang sudah. Aku tersenyum singkat pada Krystal yang ada di dalam ruanganku, menaruh entah kertas apa di meja kerjaku.

aku ada di kantor. Kau mau kesini?”

kalau ada Yoona, aku mau.”

 

MISCONCEPTION

-author pov-

 

Sinar bulan menembus ruang kerja Luhan yang didominasi oleh kaca. Sayup-sayup wangi pengharum ruangan membuat Luhan tenang. Membawanya ke alam tidur yang menyenangkan.

TOK! TOK!

Luhan menghentikan usahanya untuk tidur. “masuk,” suara beratnya keluar. Suara khas bangun tidur, walaupun ia baru tidur sejenak. Luhan menegakkan badannya yang sempat merosot karena tertidur tadi.

“aku menggangu?”

Krystal dengan senyum awkward masuk ke dalam ruangan Luhan dengan sebuah cangkir di tangannya. Luhan tertawa renyah sejenak saat Krystal dengan gerak-gerik yang aneh masuk ke ruangannya.

“tidak. Ada apa?”

“daritadi oppa tidak keluar. Jadi, aku pikir kau membutuhkan ini.”

Krystal menyodorkan hot cappucinno pada Luhan. Luhan meraih cangkir itu dengan cepat dan tersenyum singkat pada Krystal sebelum senyumnya tenggelam di balik cangkir.

Mata Krystal menjelajah ruangan Luhan. Ruangan besar dengan design interior yang cukup simple itu berantakan. Meja di hadapan Luhan sekarang penuh dengan kertas-kertas dan map yang berserakan. Meja kerja Luhan juga keadaannya tidak jauh berbeda.

Tangan Krystal yang panjang dan putih itu mulai membereskan kertas-kertas yang berserakan. Bahkan di lantai sekalipun.

“hey, kau tak perlu membereskannya. Aku bisa membereskannya sendiri –jika aku sanggup, atau tidak memanggil office boy.

“tidak apa. Aku bosan, lagipula aku harus menunggu Kai.”

“Kai? Jadi kau dengan Kai sudah…” Luhan menatap Krystal penuh selidik. Krystal  yang tahu bahwa ia sudah salah bicara tadi menatap Luhan penuh dengan permintaan maaf.

“jadi…”

“iya. Tapi, aku mohon, oppa. Jangan beritahu siapapun, ya?”

“memangnya kenapa? Hubungan kalian kan hubungan yang membahagiakan,” suara Luhan terkecat saat itu juga. Ada perasaan yang aneh yang bergerumul di dadanya, membuatnya merasa… sakit.

“tapi kalau direktur tahu kalau aku dan Kai jadian, itu akan sangat…”

“kau lupa? Direktur perusahaan ini kan sebentar lagi adalah aku, Choi Luhan. Jadi kau tenang saja. Aku merestui hubunganmu dengan Kai.” Luhan tersenyum lebar dan itu membuat Krystal –setidaknya tenang.

“dasar. Baiklah Pak Direktur, terima kasih atas restunya.”

Luhan dan Krystal tertawa bersama sesaat setelah mendengar perkataan Krystal. Krystal kembali membereskan pekerjaannya yang tertunda. Luhan ikut membantu Krystal, namun dengan gelas kopi di tangannya.

oppa,

“hem?”

Luhan tidak ingin mengambil risiko tersedak hot cappucinno kesukaannya sendiri karena berbicara. Luhan sudah bersiap mendengar apa yang akan dikatakan Krystal, sedangkan Krystal sendiri masih menimbang-nimbang perkataannya.

oppa tidak,” meneguk saliva-nya. “jadian dengan Yoona unnie?

Luhan memuncratkan kopi yang masih ada di mulutnya begitu mendengar pertanyaan Krystal. Krystal segera mengambil tisu dan membantu Luhan yang bajunya terkena tumpahan kopi.

Harusnya aku tidak menanyakan itu, batin Krystal.

“memangnya kenapa? kau berharap aku jadian dengan Yoona?”

“tentu saja!” ujar Krystal penuh semangat. “siapa yang tidak berharap oppa dan Yoona unnie menjadi pasangan setelah melihat kalian selalu bersama? Bahkan seluruh staff disini sudah menunggu undangan pernikahan oppa dengan Yoona unnie.

“mimpi saja sampai mati.”

mwo?!” Krystal tentu saja kaget dengan ucapan Luhan yang terkesan ceplas-ceplos. Raut wajah Luhan berubah 180 derajat setelah candaan mereka tadi, dan itu membuat Krystal makin merasa bersalah.

“jangan bahas hal itu untuk sekarang, oke? Aku tidak mood.”

Luhan berjalan menjauh dari Krystal dan duduk di kursi santainya. Lelaki itu merebahkan tubuhnya yang lelah karena bekerja seharian di sandaran kursinya. Sedangkan Krystal masih menatapnya penuh dengan rasa bersalah.

“hey, jangan menatapku terlalu lama. Bisa-bisa kau berpaling dari Kai nanti,”

Krystal sukses melempar bantal sofa ke tubuh Luhan dan mendarat di perutnya dengan keras. “pede sekali kau ini, oppa. Memangnya kenapa? oppa dan Yoona  unnie kan sudah saling kenal. Apalagi yang oppa tunggu?”

Ingatan Luhan melayang pada ingatan saat ia dan Yoona bersama. Pada saat Yoona yang menjaganya seharian setiap ia sakit. Saat ia dan Yoona berpiknik bersama karena bosan belajar dulu. Saat Yoona hampir men-

“aku bilang aku tidak mood. Jadi jangan bahas hal itu, oke?”

Krystal kembali pada aktivitasnya saat melihat Luhan menatapnya tajam.

“ceritakan saja hubunganmu dengan Kai. Aku lebih senang mendengar ocehanmu daripada aku harus mengoceh yang tidak-tidak padamu. Cepat ceritakan,”

“aku sebenarnya bingung kenapa oppa dan Yoona unnie masih tidak menjadi pasangan,” Krystal mengabaikan tatapan tajam yang Luhan arahkan karena perempuan itu memilih menyuarakan apa yang ada di pikirannya tentang ‘pasangan paling romantis’ yang pernah dilihatnya.

“kalian kan sudah bersahabat lebih dari… dua puluh tahun, benar? Oppa yakin kalau oppa tidak mencintai atau setidaknya menyukai Yoona unnie secuil pun?”

 

-author pov end-

MISCONCEPTION

 

Orang bodoh mana yang tidak mencintai Yoona jika ia sudah berada di dekatnya  selama lebih dari dua puluh tahun? Orang gila. Tidak berperasaan.

“apa yang mau kau tahu tentang aku dan Yoona, Krystal Jung?”

Krystal bergerak gelisah dalam duduknya dan aku tetap memandangnya tanpa ekspresi.

Bukan. Ini bukan berarti aku tidak berperasaan. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan rasa sakit yang bergerumul di dadaku. Rasa sakit itu bahkan membuat kepalaku pusing dan mataku berair. Perasaan yang aneh untuk didefinisikan. Hanya aku yang mengerti bagaimana rasanya.

“kenapa oppa tidak bilang saja pada Yoona unnie?”

“bilang apa?”

“kalau kau mencintainya.”

Cinta.

Suatu perasaan yang aku rasakan. Suatu perasaan yang bisa meledak kapan saja. Perasaan ini hanya bergerumul dan bertambah besar setiap kali aku melihat Yoona.  Perasaan yang terlalu menyakitkan untuk ditahan tanpa ada yang tahu.

Lagipula, siapa yang akan peduli kalau aku mencintai Yoona?

“Krystal, aku sudah-“

oppa, jangan bohongi diri oppa yang sudah mencintai Yoona unnie sedemikian lama.” Entah kenapa, mata Krystal yang biasanya ceria itu, kini terlihat memerah dan berair. Aku juga tidak yakin pada penglihatanku karna mataku juga berair.

“jangan pernah oppa bilang kalau oppa tidak mencintai Yoona unnie ataupun Yoona  unnie yang tidak mencintai oppa.”

tapi kenyataannya memang begitu!” air mataku menetes saat aku berteriak pada Krystal. Jadi begini rasanya menyuarakan perasaanmu? Tidak, aku tidak merasa lega sedikit pun. Rasa sakitnya malah bertambah setiap detik.

“kenapa kau bisa seyakin itu kalau Yoona juga mencintaiku? Darimana kau tahu? Yoona sendiri bahkan tidak tahu apa yang sedang ia rasakan sekarang.”

“persahabatan kalian yang membutakan Yoona unnie untuk melihatmu, oppa.

“apa maksudmu?”

Benar-benar. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku tidak pernah menangis jika aku mendapat amarah dari appa atau eomma. Aku juga tidak menangis saat Minho  hyung tidak sengaja memukul sampai berdarah karena amarahnya.

Tapi kali ini, aku menangis hanya karena hal sepele seperti ini?

Aku mengusap kasar pipiku yang terkena simbahan air mata dan bangkit dari dudukku.

“Yoona unnie sudah terlalu nyaman dengan keberadaan oppa.” Ucapan lirih Krystal  menghentikan langkahku. “oppa selalu ada di samping Yoona unnie hampir setiap saat. Dan hal itu membuat Yoona unnie nyaman akan kehadiranmu, oppa.

“terlalu nyaman, sampai-sampai ia tidak sadar akan perasaannya sendiri. Yoona  unnie pasti berpikir kalau dia merasakan nyaman dan aman selama ada oppa di sampingnya.”

Nyaman? Aman? Hanya itu?

“aku sarankan oppa untuk menyatakan perasaan oppa pada Yoona unnie. Sebelum ia benar-benar pergi.”

“pergi?”

“kita tidak tahu sampai seberapa lama Yoona unnie akan bertahan di samping oppa. Siapa tahu nanti akan ada seorang lelaki yang menyukai Yoona unnie dan dia lebih gigih mengenai perasaannya ketimbang oppa, aku yakin itu adalah saat dimana oppa tahu betapa berharganya waktu yang oppa habiskan dengan Yoona unnie. Aku tidak ingin oppa menyesal nantinya.

Aku mencoba untuk menghiraukan mataku yang terus memanas karena air mata dan berusaha fokus pada kegiatanku membereskan barang-barangku. Kusanpirkan tas ransel biruku di bahu dan melangkah.

“aku pergi. Bilang pada Yoona kalau Lay sudah menunggunya di lobby nanti.”

 

MISCONCEPTION

 

Matahari tenggelam di musim gugur memang selalu indah untuk dipandang. Mengingatkanku pada saat aku dan Yoona berlari di taman. Pada saat aku dan Yoona piknik untuk sekedar menghibur diri kami yang terlalu sibuk. Pada saat-

“astaga, kenapa harus Yoona?”

Aku menjabak rambutku frustasi.

Seharusnya aku tidak memikirkan Yoona lagi. Istirahat di balkon adalah pilihanku untuk melupakan Yoona, sejenak saja. Tapi mungkin terlalu banyak hal yang terjadi di hidupku dan itu semua bercabang pada Yoona.

“menyebalkan,”

Aku menyesap green tea-ku yang rasanya memang tidak seenak bikinan Yoona. Seharusnya akhir pekan seperti ini aku habiskan dengan Yoona. Jalan-jalan dengan anjing kesayangannya, Dori, di taman atau mengelilingi toko buku seperti biasanya.

Hari ini aku harus bersabar. Ya. Yoona punya kehidupannya sendiri yang terlepas dariku dan aku harus mengerti akan itu.

BEEP!

Bunyi yang berasal dari poselku –menandakan adanya pesan masuk- membuatku merogoh sakuku. “akhirnya kau menghubungiku juga.”

Luhan!

Kau tahu? Aku sekarang sedang jalan-jalan dengan Dori dan Lay di taman biasa. Ikut?

p.s. jangan lupa makan, oke. Luv ya, deer.”

“bisa-bisanya kau menghubungiku padahal kau sedang berkencan. Dasar,”

Bukan kencan yang sebenarnya. Lagipula Yoona dan Lay belum mempunyai ikatan apapun dan kegiatan mereka tidak bisa dikatakan berkencan, kan? Aku hanya menyebutnya begitu agar terdengar mudah.

“kau sedang apa?”

“kau mengagetkanku, hyung!”

Aku terlonjak saat tiba-tiba Minho hyung yang berkaus hitam dan celana pendek cokelat sudah duduk di sampingku.

“jangan melamun makanya,”

“siapa juga.”

Semilir angin menerpa tubuhku lembut. Angin musim gugur memang yang terbaik untuk menyegarkan pikiran.

“tadi pagi Yoona kemari. Dia-“

“Yoona?! perempuan itu datang? Demi apapun, kenapa ia tidak membangunkanku seperti biasa?”

“nah, itu dia yang ingin aku tahu. Kalian akhir-akhir ini sering menjauh. Maksudku, kalian tidak sedekat dulu lagi, dan itu membuat kalian terlihat aneh. Aku lebih suka kalian yang dulu. Aku tidak tahu kenapa, tapi kalian itu semacam belong together.

Belong together.

Ya, kalimat itu akan terdengar menyenangkan kalau saja Yoona memang benar pasanganku dan memang ditakdirkannya begitu. Tapi aku tidak yakin.

“bahkan tadi pagi ia kemari dengan seorang pria –yang aku lupa namanya. Yoona  menitipkan ini untukmu.”

Aku mengambil sebuah kotak yang Minho hyung sodorkan padaku dan langsung mengernyit saat melihat isinya.

Di kotak besar itu ada sebatang cokelat dan sebuah kertas dengan tulisan tangan Yoona yang tertulis rapih.

hey, Choi Luhan!😀

Maaf hari ini aku dan Dori tidak bisa jalan-jalan denganmu -_- Dori setuju dengan ajakan Lay untuk menemaninya jalan-jalan (sebenarnya aku juga mau sih ^^)

Aku tidak tahu mengapa, tapi kau terlihat gelisah saat tidur tadi dan kantung matamu menghitam seperti panda. Aku sudah bilang jangan tidur malam-malam, kan?

Sebagai gantinya, aku membawakanmu cokelat kesayanganku😀

Jangan lupa makan, oke? Jangan lupa minum vitamin agar kau tidak sakit.

Love ya, Choi Deer ^^

Im Yoona dan Dori :D”

Aku tidak bisa menahan senyumku saat membaca surat yang Yoona tuliskan untukku.

Setidaknya aku bisa merasakan seolah ribuan kupu-kupu berterbangan di perutku saat melihat kata “Love ya, Choi Deer” walaupun itu sudah hal yang biasa ia katakan.

Aku hanya harus mengesampingkan bahwa faktanya Yoona memilih ajakan Lay dan tidak membangunkanku untuk ikut bersamanya untuk kembali merasakan kupu-kupu berterbangan yang membuat mood-ku terasa lebih baik.

“ah, laki-laki yang bersama Yoona itu namanya Zhang Yixing, kan? Panggilannya Lay, benar?”

“iya, hyung. kau benar sekali.” Ucapku sarkatik pada Minho hyung. Lagipula ia menebak seolah-olah itu adalah sesuatu yang sangat penting untuk diingat. Terlalu kekanak-kanakkan untuk menerima fakta bahwa ia sudah menikah dengan Yuri  noona.

“Lay itu kekasih Yoona?”

Sepenggal kalimat saja sudah cukup menghancurkan mood baik yang berusaha aku cari sedari pagi. Rasa sakit itu ada lagi. Sesak. Rasanya aku ingin sekali memukul apapun yang bisa aku pukul untuk melampiaskan rasa sakit ini.

Tapi tidak ada.

Aku hanya ingin Yoona tahu perasaanku, tapi mengapa hal itu sangat sulit?

“mungkin.”

MISCONCEPTION

See you on next part!

Papoi! :p

67 thoughts on “Misconception [PART 4]

  1. annyeong, baru baca ff ini.. karena cast nya LuYoon #pairingfavorit

    By the Way ff nya bagus banget, bikin gereget! oh ya mian ne ga ninggalin koment di chapter sebelumnya😦

    Yoona terlalu bodoh tidak menyadari perasaan nya sendiri :’) Pokoknya harus LuYoon ya *bbuing bbuing*

    Ditunggu next chapter nya^^

  2. Luhan-ah begitu mengharukannya kisah cintamu😦
    Tapi tenang saja, pasti Yoona eonni bakalan sadar kok🙂 di hati kecilnya selalu tersimpan namamu L.U.H.A.N!
    So, jangan menyerah. Oke?😉

    Next chap aku tunggu thor, fighting!

  3. Yak yoona! psti bohong kan ? >< kmu ga cinta lay ..
    dan apa yg dikatakan krystal itu bner bgt
    luhan ku yg sabar yaa
    update soon

  4. Aishh, yoona-ya jeballyo hmm? Yoona peka dong😥 kasian luhannie. Thor lanjutt dong bikin penasaran sebenernya yoona anggep luhan lebih apa engga. Daebak thor hwaiting deh pokoknya for the next chap.😉

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s