[1/2] One Side

oneside

One Side

“Before i go to sleep, i imagine you’re by my side.”

 fanfiction by;

Aldum17

Starring;

Im Yoona with Oh Sehun

PG+15 | Twoshot | Marriage Life

Yoona memandang Sehun dalam diam. Mulutnya mengatup rapat dengan raut wajah seperti yang sering ia tunjukkan. Datar dan membeku. Mengabaikan fakta bahwa Sehun―Suaminya, berteriak dihadapannya. Membentak dan menghujat dengan pedas.

“Sehun, aku melihat Tiffany Hwang bersama lelaki lain”

Bodoh. Tak lebih dari 10 kata yang mampu membuat seorang Oh Sehun kalap. Cinta itu buta? Sehun lebih buta dari apapun. Idiot.

Sehun menghela nafasnya. “Aku tahu kau tak menyukai Tiffany, Yoona” Ya, dia terlihat menjijikan. 

“Tapi, bisakah kau tidak menjelekkannya dengan cara seperti ini? Maksudku, ini semua terdengar memuakkan” Tiffany lebih memuakkan, Sehun.

Yoona melirik pada sebuah jam dinding. Menghela nafas. Jarum pendeknya menunjuk tepat ke angka sebelas. Oh, Sial. Satu jam lagi menuju pergantian hari, membuat Yoona kehilangan waktu tidurnya dengan sia-sia.

“Aku tidak akan membahasnya lagi, Sehun. Masuklah kekamarmu dan pergi tidur. Kau pasti kehilangan banyak energi karena terus berteriak dan membentak. Selamat malam”

Yoona berbalik. Berjalan cepat ke dalam kamarnya. Mencoba menutup matanya yang sayu dan berharap ia akan mati atau setidaknya kehilangan seluruh ingatannya esok hari.

“Aku tidak akan membahasnya lagi, Sehun. Aku menyakitimu. Maaf”

Pagi ini. Yoona sudah terlihat rapi dengan sebuah dress berwarna putih gading dan sebuah celemek di tubuhnya. Melakukan tugas yang seharusnya istri lakukan. Menyiapkan roti dengan selai nanas dan kacang dan juga jus jeruk sebagai pelengkap. Hanya menyiapkan, setelah itu ia akan pergi kembali masuk ke dalam kamarnya.

“Yoona?”

Sejenak. Tangannya berhenti bergerak mengoles selai pada rotinya, lalu dengan cepat melanjutkan kembali aktivitasnya.

“Aku ingin berbicara―”

“Ada yang harus aku bicarakan, Sehun” Ucap Yoona memotong cepat ucapan Sehun.

Untuk kali ini, Yoona menatap Sehun dengan cukup lama. Terberkatilah orang tua Sehun yang bisa membuat wajah rupawan seperti itu. Yoona mengalihkan perhatiannya, mencari objek lain untuk dipandang.

“Sehun, haruskah kita mempercepat pernikahan ini?”

“Apa mak―”

“Jika ini berlangsung lebih lama. Bukankah pernikahan ini akan menyakitkan pihak ketiga?” Lagi, Yoona memotong ucapan Sehun. Mencoba mengendalikan situasi seperti yang ia harapkan.

Mata Yoona tertutup, seiring dengan helaan nafas lembut. “Maksudku, kekasihmu, Tiffany Hwang. Pernikahan ini selesai, kita cerai. Jika aku menjadi dirinya, aku pasti akan mengharapkan itu” Timpal Yoona.

Gadis itu bangkit dari duduknya. Meletakkan roti terakhirnya di sebuah piring bulat, lalu melepas celemeknya. Ia akan kembali lagi ke kamarnya.

“Duduklah. Perbincangan ini tidak secepat yang kau harapkan, Oh Yoona”

Yoona menghela nafas. Tetap menggerakan tungkai kakinya ke arah kamarnya dengan cepat. Sesekali, gadis itu melirik Sehun yang menatapnya tajam. Membuat dirinya mati-matian menahan raut wajahnya yang datar.

“Selamat pagi, Sehun. Selamat menikmati sarapanmu dan selamat beraktivitas”

Yoona mendorong kenop pintu, membuat sebuah celah untuk dirinya lalu menutup pintu kamarnya dengan rapat.

“Pihak ketiga itu, aku atau Tiffany Hwang?”

Yoona terduduk di depan meja riasnya. Menatap pantulan dirinya pada cermin datar dihadapannya. Pipinya menirus dan bisa gadis itu pastikan berat badannya menurun. Demi langit dan bumi, Yoona benar-benar membenci dirinya sendiri.

“..Yoona? Kau Im Yoona? Maksudku, Oh Yoona?”

Ia memejamkan mata nya. Menahan sesuatu yang terasa sesak. Jauh dari image dingin dan tak peduli, ia sekarang lebih terlihat rapuh?

“Kau pasti tau siapa aku kan? Tiffany Hwang kau ingat? Kekasih Sehun”

Apa yang gadis itu miliki dan yang tak Yoona miliki?

Oh tentu saja, Yoona. Tiffany mempunyai senyuman yang cerah. Matanya membentuk bulan sabit saat gadis itu tertawa, bukan seperi mata Yoona yang bulat dan sedikit besar. Tiffany mempunyai rambut pirang yang bagus, tidak seperti rambut coklatnya yang membosankan.

“Aku mencintai Sehun, Yoona. Dan akan begitu sampai selamanya”

Gadis bodoh. Tiffany berbicara tak sesuai dengan fakta. Membuat Yoona mau tak mau terbahak di dalam hatinya. Seperti kilat di sore hari, lelaki berdarah Thailand itu datang ke arah Tiffany yang berdiri dihadapan Yoona. Mencium surai pirang gadis itu dengan mesra dan memanggilnya dengan panggilan sayang yang menjijikan.

Si brengsek itu tidak mencintaimu, Sehun. Sampai kapan kau akan membelanya seperti orang yang berhutang budi?

Tiffany Hwang, dia menghianatimu.

“Aku yakin aku tidak salah lihat kemarin” Yuri berbicara dengan menggebu-gebu. Tak peduli dengan suaranya yang hampir terdengar di setiap sudut cafe kopi langganannya.

“Nickhun Tiffany. Oh yampun dunia seperti akan kiamat” lanjutnya.

Yoona tertawa hambar. “Dunia tidak akan kiamat secepat itu, Yul”

“Bukan dunia ini. Maksudku, dunia antara Sehun, Tiffany, dan dirimu” Yuri menyipitkan kedua matanya “Kau jangan berpura-pura tak mengetahui permasalahan ini”

Yoona menghela nafasnya. “Dengar, Yuri. Bagaimanapun kau ataupun Jong In atau Kyungsoo sekalipun memberi tahu hal ini pada Sehun, aku yakin seratus persen ia tak akan mempercayainya”

Yuri terlihat kesal, terpancing emosi dengan topik yang ia buat sendiri. “Shit. Cinta benar benar buta”

“Kau mengetahuinya, Yul. Cinta membuat orang bertindak bodoh”

Yuri tiba-tiba bungkam. Menatap Yoona dengan tak tertebak. Ada yang mengusik fikirannya dan ia harus mengetahui jawabannya sebelum gadis berkulit gelap itu mati penasaran.

“Yoona, kau belum menggugat cerai Sehun, kan?”

Yoona membuang pandangannya. “Apa yang kau lakukan jika jadi diriku?”

“Kau bodoh. Kau mengetahui Tiffany tidak benar-benar mencintai Sehun, dan kau punya kesempatan untuk―”

“Aku tidak akan bisa merebutnya. Sampai kapanpun. Tiffany tidak benar-benar mencintai Sehun, tapi lelaki itu mencintai Tiffany, Yul. Sehun percaya pada cerita yang berakhir bahagia”

Yoona tersenyum miris. “Walaupun aku berharap mati-matian agar mereka berpisah” Kepalanya bergerak menggeleng “Aku, tetap tidak bisa”

Yoona pulang pukul 7 malam. Setelah menghabiskan setengah harinya bersama Yuri, ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia membuka pintu rumahnya dan menemukan Tiffany dan Sehun di ruang tengah dekat dapur.

Wajah Yoona tak bereaksi. Tak menunjukan raut kaget atau sedih seperti pemain drama di televisi. Tapi, Jantungnya berdegup dengan kencang. Sesuatu yang rasanya harus dikeluarkan seperti teriakan atau hujatan.

Menikah. Yoona dan Sehun memang menikah. Yoona mempunyai hak untuk memiliki Sehun. Memiliki rasa sayang seperti para pasangan lainnya―seperti Yuri dan Jong In.  Seharusnya, gadis itu berada di tempat Tiffany.

“Sehun, aku benar-benar mencintaimu” Tiffany merengek di dalam dekapan hangat Sehun. Lalu, kekehan gadis itu terdengar karena acara kartun yang mereka tonton.

Sehun,  Senyumannya untukmu hanyalah senyum palsu.

“Apa kau mencintaiku?” Tiffany menatap Sehun dengan mata polosnya. Sungguh menggemaskan bagai gadis yang seharusnya  tak berdosa.

“Ya, aku mencintaimu dan akan begitu sampai selamanya” Sehun membelai rambut pirang Tiffany dan mengelus pipi mulus gadis berdarah California itu.

Dan untuk pertama kalinya, Yoona menangis. Berdiri dengan dress putih gadingnya di depan pintu rumah. Kejadian itu terjadi beberapa detik, seperti sebuah kilat yang menyambar tubuhnya. Yoona mematung. Sampai akhirnya gadis itu keluar dari rumah dan meringkuk di lantai dingin teras rumahnya. Menyumpal isakan dari mulutnya dengan tangan.

Sungguh, tak dapat dipercaya. Sehun mencium lembut bibir Tiffany di hadapannya, di rumahnya. Terlebih lagi, wanita itu bukan istrinya.

“Yuri?”  Suara gadis berkulit gelap di ujung sambungan telfon itu meninggi, menanyakan kabarnya dengan nada khawatir. “Yuri, Bolehkah aku menginap di rumahmu dan Jong in? hanya malam ini, kumohon”

“Tunggulah sebentar. Lima menit lagi aku jemput ke rumahmu Yoona”

Yoona kembali lagi ke rumahnya. Ia melirik pada jam tangan kecil yang melingkar di tangannya. Angka tersebut menunjukan ke angka lima. Dimana langit masih kehilangan matahari dan bintang-bintang masih nampak di langit berwarna hitam. Menarik nafas panjang. Tangannya memegang knop pintu dengan erat, belum berani membuat gerakan yang akan membuat pintu dihadapannya bergerak terbuka.

Apa gadis itu masih ada di dalam? 

Tapi perlahan, tangannya menimbulkan gerakan. Knop pintu itu bergerak, membuat sebuah celah untuk dirinya. Dengan ekspresi yang jarang ditunjukan―menggigit bibir bawahnya dan terlihat ketakutan. Yoona masuk ke dalam rumahnya.

Lagi.

Nafasnya kembali tercekat.

Lelaki yang berhasil membuatnya ketar ketir terduduk di depan televisi. Matanya terbuka. Tidak seperti tadi malam, lelaki itu sendirian.

“Yoona? Dari mana saja?”

Yoona terdiam. Tidak membalas pertanyaan Sehun. Gadis itu lebih memilih menggerakan tungkai kakinya ke arah kamar daripada berurusan dengan suaminya.

Sehun mengalihkan pandangannya, menatap punggung Yoona yang berjalan mengabaikannya.

“Bertindaklah sopan. Kau diajari sopan santun oleh keluargamu” Ucap Sehun dingin.

Yoona menghentikan langkahnya lalu berbalik. Cepat-cepat mengganti ekspresinya menjadi datar. “Apa?”

“Dari mana saja?” Ulang Sehun sekali lagi.

“Bukan urusanmu” Timpal Yoona. Sinis.

“Aku menunggmu dari semalam, Yoona!” Suara Sehun meningkat.

“Aku tidak memintamu untuk menunggu”

Sehun mendesis. “Bagaimanapun aku tetap suamimu, Oh Yoona”

Yoona terdiam. Oh, Sialan. Pekiknya dalam hati. Sehun benar. Lelaki itu masih berstatus sebagai suaminya.

Yoona mendengus. “Aku akan mengurusi perceraiannya, Sehun. Bersabarlah sedikit lagi dan kau tidak akan pernah menunggu istrimu yang keluar dan kembali ke rumah pada pagi hari lagi. Karena nanti istrimu akan selalu ada di dekapanmu. kekasihmu bukan gadis yang sering meninggalkan pasangannya, bukan?”

Intonasinya datar dan menusuk. Membuat Sehun terdiam di tempatnya.

Kini Sehun bangkit, menatap Yoona lurus dengan tatapan dingin dan tajam.

“Jangan mengikut sertakan Tiffany, Yoong. Ini permasalahan kita” Ucap Sehun cepat dan―Entahlah, terasa menyakitkan?

“Kau tidak berhak menyebut namanya” Lanjutnya.

Ya, benar menyakitkan.

Gigi Yoona beradu. Matanya mengerjap tak percaya. Sehun membelanya, membela Tiffany Hwang. Membuat tubuh Yoona gemetar dan tangannya meremas ujung rok gaunnya. Dada nya benar-benar terasa sesak.

Yoona menghela nafas. Ini sudah final dan Yoona tak akan ambil resiko. “Aku akan membereskan barang-barangku. Surat perceraian mungkin akan datang mengunjungimu satu atau dua minggu kedepan. Selamat pagi dan selamat beraktivitas”

Gadis itu baru akan berjalan, meninggalkan Sehun sendirian di ruang televisi. Tapi langkahnya terhenti, seiring dengan tubuhnya yang dipaksa berbalik.

Sehun mengecup bibirnya kasar. Tangannya menahan pundak Yoona dengan keras, mengunci gadis itu agar tak memukul tubuhnya. Sakit. Yoona sedikit meronta pada Sehun yang tak kunjung melepaskan ciuman kasarnya. Mendorong Sehun menjauh sekuat yang ia bisa.

“…Lepas”

Yoona hampir menangis jika Sehun tak kunjung melepasnya dan membuatnya teralihkan. Iris hazelnya menatap suaminya penuh kebencian.

“KAU BENAR-BENAR KURANG AJAR!” Suara Yoona meninggi.

Marah. Meledak. Berteriak. Yoona benar-benar menunggu dimana ia bisa bebas menunjuk dan menghujat Sehun tepat dihadapan laki-laki itu. Gadis itu sedikit menangis saat amarahnya benar-benar sudah sampai puncaknya.

“KAU BRENGSEK SEHUN!”

Yoona menghapus kasar air matanya. Menggerakan kakinya dengan cepat kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Sehun sendirian di ruang televisi.

 02.00 PM

Yoona terbangun. Matanya membengkak karena menangis sepanjang pagi. Dan apa yang membuat Yoona bangun di tengah siang?

Lapar.

Gadis itu berjalan keluar dari kamarnya. Menggerakan kakinya ke arah dapur untuk memasukan makanan ke perutnya yang kosong. Terbelalak, gadis itu berjalan cepat ke meja makan. Ada sepiring spageti dan jus yang sudah mendingin diatas meja makan dan… sebuah surat.

“Aku minta maaf”

Apa Sehun merasa bersalah?

Ia memejamkan mata nya. Mencoba mencerna sederetan hangul yang tercipta dari goresan tangan Oh Sehun.

Aku minta maaf.

Dia minta maaf.

Oh Sehun meminta maaf.

Terbuai. Yoona sedikit tersenyum. Ada perasaan hangat yang masuk ke dalam hatinya. Perasaan senang untuk pertama kalinya semenjak ia menikah dengan lelaki yang tak pernah memandangnya.

“Kau tidak berhak menyebut namanya”

Hancur.

Perasaan yang menyelusup ke hatinya seketika menghilang. Tersadar, kalau surat itu hanya perantara sebagai ucapan maaf yang bahkan tak pernah bisa keluar langsung dari bibir Sehun. Mata nya mulai berkedip normal. Lalu tangganya terangkat, membuang surat itu ke dalam tong sampah kecil di sudut dapur.

Yoona mendesis. “Jangan berharap, Yoona. Segera buat makananmu dan keluar dari rumah ini”

05.00 PM

Sehun masuk ke dalam rumahnya. Menatap sekeliling rumahnya dengan perasaan yang aneh. Rumahnya masih sama seperti saat ia meninggalkannya namun terasa kosong. Terasa seperti rumah baru yang sudah lama ditinggalkan. Hampa dan engap.

“Yoona?”

Tak ada jawaban―Seperti biasanya. Tapi, Sehun berani bersumpah ia benar-benar merasakan perbedaannya.

“Yoona!” Sehun berteriak keras. Memastikan kehidupan di dalam rumah yang baru 10 jam ia tinggalkan.

Ugh. Sialan. Rutuknya dalam hati. Laki-laki itu mendudukan dirinya pada sofa putih depan televisi. Belum melepas pakaian dari kantor, lelaki itu lebih memilih memanjakan fikirannya dengan bermain x-box. Dan mungkin ia akan menunggu Yoona datang.

Tiga jam menunggu dan hasilnya nihil.

X-boxnya sudah mati dari dua jam lalu. Pakaiannya sudah berubah menjadi kaos biru dengan celana pendek berwarna putih. Langit sudah menghitam, dan Sehun masih menunggu.

Lelaki itu sudah menghubungi Yuri atau Jong In atau Kyungsoo atau siapapun yang bisa ia hubungi. Tapi yang ia dapatkan hanyalah pertanyaan balik atau omelan kecil dari Kyungsoo.

“Bodoh. Kau kan suaminya, harusnya kau tahu keberadaannya”

Harusnya, Ya. Harusnya ia mengetahui dimana Yoona. Harusnya ia selalu berada di samping wanita itu. Harusnya Sehun tidak panik saat Yoona bahkan belum kunjung pulang ke rumahnya. Harusnya, harusnya dan harusnya.

“Yoona juga tidak pulang kemarin malam. Untuk apa kau mencarinya?”

Sehun mengusap wajahnya. Pusing. Suara Tiffany di ujung telfon ada benarnya juga. Gadis itu tak pulang kemarin malam dan Sehun tak begitu mencemasi Yoona―walau akhirnya ia menghabiskan malamnya di depan televisi dan hampir mati kebosanan.

“Aku tutup dulu telfonnya, Tiff. Jangan tidur terlalu malam”

“Sehun” Tiffany menahan sambungan telfonnya “Ingatlah bahwa aku mencintaimu”

Sehun terdiam.

“Sehun, aku melihat Tiffany Hwang bersama lelaki lain”

Sehun menghela nafas. “Ya, aku juga berharap begitu. Ku tutup telfonnya”

Setelah mematikan ponselnya, Sehun bergegas ke kamar untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya. Misinya hanya satu, membawa Yoona kembali ke rumah.

“Yoona ada di Sungai Han. Chen baru saja melihatnya, bersama lelaki lain”

Sehun menahan nafasnya. Jantungnya terasa mati. Tidak, Semua organ tubuhnya sudah mati. Lelaki itu tak bergerak sedikitpun, bahkan tak berkedip. Seakan-akan semua orang mengurungnya dalam sebuah ruangan tak berjendela. Lelaki itu tidak bisa mendapatkan oksigennya.

“Xi Luhan. Yoona bersama Xi Luhan. Chen berani bersumpah, ia melihatnya dengan mata kepala sendiri”

Jaraknya tak terlalu jauh. Sehun bisa melihat istrinya dengan jelas dari tempat dimana ia sekarang berdiri.

Yoona bersama Luhan.

Harusnya (lagi) ia tidak bertanya siapa Xi Luhan kepada Kyungsoo. Laki-laki berdarah cina itu berpengaruh pada kehidupan Yoona. Membuat Sehun mengetahui satu fakta yang ditutup rapat oleh Yoona selama ini. Yoona masih mencintai Luhan, mantan kekasihnya.

“Aku pikir ada yang tak beres dengan hubungan Luhan dan Yoona. Kau menikah karena perjodohan, Sehun. Jangan salahkan Yoona jika gadis itu masih mempunyai perasaan pada mantan kekasihnya. Walaupun gadis itu terlalu naif”

Sehun tersentak saat tiba-tiba Luhan menggenggam tangan Yoona dan membawa gadis itu menjauh dari sungai Han. Sehun mengikutinya.

“Hyung apa kau mengenal Yoona dengan baik?”

“Kami berteman sejak Sekolah menengah atas” Jawab Kyungsoo.

Sehun terdiam. “Yoona tak pernah menunjukkan ekpresi lain padaku. Apa kau pernah melihatnya menangis atau saat ia sedang jatuh cinta?”

Luhan membawa Yoona ke sebuah kedai kopi. Yoona hanya menundukkan kepalanya dan sesekali mengangguk. Sehun mendecih saat Luhan dengan mudahnya mengacak puncak kepala gadis itu. Membuat Yoona tersenyum hangat pada Luhan yang bahkan Sehun tak pernah lihat.

“Kau tidak akan mempercayainya, Sehun. Aku bersumpah, Yoona benar-benar berbalik dengan kehidupannya sekarang. Terlihat lebih menggemaskan dan malu malu saat gadis itu sedang jatuh cinta”

Sehun mulai muak dengan apa yang dilihatnya. Dia segera berbalik dan beranjak pergi meninggalkan mereka.

“Sehun, ini mungkin hanya fikiranku. Tapi, apakah aku salah jika menyimpulkan bahwa kau sekarang cemburu?” Tebak Kyungsoo.

“Tidak. Aku tidak akan cemburu. Aku hanya ingin tahu saja” Elaknya cepat.

“Percayalah. Cepat atau lambat kau akan menyadarinya. Ku tutup dulu telfonnya, semoga kau bertemu dengan Yoona dan berhasil membawanya kembali”

“Terima kasih, Hyung”

Misinya gagal total.

“Sehun baru saja pulang”

Yoona mengerutkan dahinya. Menatap Yuri untuk meminta penjelasan. “Apa?”

“Dia baru saja pulang. Setelah datang kesini dengan kondisi mabuk dan Kyungsoo malang yang menggotongnya dengan kesusahan” Jelas Yuri.

“mabuk? Lalu, bagaimana―”

Yuri tersenyum senang. “Jong In ku yang baik hati mengantarnya pulang”

Yoona membuang nafas lega. Setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu menggerakan tungkai kakinya ke arah kamar tempat dia menginap di rumah Yuri.

“Yoona” Yoona berhenti melangkah. “Saat Sehun mabuk, lelaki itu menyebutkan namamu” Ucap Yuri pelan.

Spontan. Yoona berhenti menafas. Sungguh, ia merasa senang. Sehun menyebut namanya. Oh, jangan tanyakan bagaimana perasaannya sekarang. Tapi, ada sesuatu yang masih mengganjal. Sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mengerti penyebabnya.

Ragu.

“Dia mencarimu” Timpal Yuri seperti mengetahui fikiran Yoona. “Dan menemukanmu bersama Xi Luhan. Kau berhutang penjelasan padaku”

Yoona berbalik. Menekan bibirnya menjadi sebuah senyuman tipis―paksaan. “Aku lelah. Aku akan menceritakannya besok pagi. Maafkan aku, Yul”

Yuri tersenyum tenang. “Aku membenci dirimu yang seperti ini, Yoona. Kau terlalu banyak meminta maaf. Tidurlah dan tenangkan fikiranmu”

Yoona tersenyum manis, senyuman yang bahkan tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun―Kecuali Jong In, Kyungsoo, Yuri―atau Luhan?

“Aku menyangimu, Yul. Sungguh” Tubuhnya mendekap Yuri erat. “Kau memang yang terbaik”

Yoona bangun pagi sekali dan sudah menemukan Yuri di pekarangan belakang rumah. Gadis hitam teman SMA-nya itu memintanya duduk sambil berdecak kagum pada taman kecil yang ia buat bersama Kai.

Yoona menyukai bagaimana Kai menjaga Yuri. Yoona menyukai bagaimana Kai yang selalu membuat Yuri tersenyum. Yoona benar-benar menyukai Kai dan Yuri. Keluarga kecil bahagia seperti yang ia harapkan.

“Yoona. Kau berhutang penjelasan padaku” Yuri menghancurkan lamunannya.

“Penjelasan? apa?” Tanya Yoona.

“Kau dan Xi Luhan. Sungguh, kau membuatku penasaran semalaman ini dan membuatku tak tertidur” Yuri tak menyerah. Gadis itu menunjuk bawah matanya. “Lihat? mataku menghitam”

Yoona tersenyum kecil. “Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan aneh ini.”

Benar-benar jawaban yang jauh dengan apa yang ditanyakan oleh Yuri. Gadis itu mengernyit, raut wajah Yoona berubah serius.

“Sungguh, aku rasa ingin mati cepat” Yoona terdiam sejenak. “Luhan memintaku kembali. Sedangkan aku sudah menikah, menjadi istri dan sudah berganti marga. Aku tertekan oleh ketakutanku yang kekanak-kanakan”

Yoona menarik nafas lalu menghembuskannya dengan pelan. “Jujur, aku masih haus akan perhatian Luhan, terlalu banyak hal yang tak bisa dihapuskan oleh waktu. Tapi, di lain sisi aku masih ingin menunggu Sehun, menunggu hingga akhirnya status sebagai seorang istri benar-benar aku rasakan”

“Yoona..” Yuri menggenggam tangan Yoona erat.

Yoona tersenyum tipis. “Manusia hidup sekali, mati sekali, dan menikah juga sekali. Bukankah harusnya seperti itu?”

“Kau terlalu memaksakan dirimu, Yoong” Yuri mengelus punggung tangan Yoona dengan hangat. Hal yang sering ia lakukan ketika Yoona sudah pada puncak depresinya.

“Yuri, Yang mana yang harus aku pilih?”

Haiii hahaha udah lama gak post ff akhirnya saya balik

Saya mau minta maaf karena belum bisa ngelanjutin machigatta, sumpah deh ide udah ngadet ditambah tugas yang ga ngedukung buat muter otak ngelanjutin machigatta. Jadi, kemungkinan machigatta bakal saya remake ulang tapi masih pake konsep yang sama hehehe mianhamnida :”)

Oh iya, maaf kalau ff nya ga bagus atau mengecewakan karena twoshot hehe kalau dibikin oneshot bakal panjang bingitsss. Maklumi aja soalnya ini saya buat ditengah tengah jadwal sama tugas yang minta dikumpulin cepet cepet hehehe😀

Jadi, jangan lupa comment yaaaaaaa🙂

Thanks😉

112 thoughts on “[1/2] One Side

  1. Kalo sehun bs nentuin sikap and membuka matanya lbh milih yoona,, pastinya yoona milih sehun doong yg notabene suami sah nyaa
    D tunggu kelanjutannya…

  2. Baru nemu ff ini. Daebak banget. Kesel dan kasian sama sehun. Tapi dia juga kelewatan sih. Mesra2an sama cwe lain di rumah nya sndiri. Huuh. Penasaran . Jangan lama2 di lanjutnya yah thor…

  3. bagus min, seru pernikahan yg dilandasi tanpa cinta dari 22nya aka di jodohin tp akhirnya masing2 pihak saling jealous jadi gemes hahaa, apalagi aku suka sama pairingnya yoonhun >_< dilanjut ya thor utk part 2/2nya jgn terlalu lama, keep writing authornim.. Gomawo ^_^

  4. lanjutt pleasee suka buwanget ama pairing nyaaa~~
    ff bagus bgt ngefeel
    please ya thor dilanjut jangan macet di tengah jalan
    FIGHTING AUTHOR, KEEP WRITING :))

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s