FACE OFF [2]

faceoff

 

title : FACE OFF

author : FN

main cast : Park Chanyeol, Im Yoona, Mun Joo Won

other cast : Lay, Baekhyun, Seohyun, Sehun and others

genre : action, family, marriage life, little romance, hurt and others

length : chapter

rating : PG 15

poster : Vanilla Milk @HSG

desclaimer : di cerita ini author terinspirasi dari 3 film barat dan 1 drama korea. judul filmya Face Off, Enemy Of The States dan Taken (1 & 2). buat dramanya dari drama Korea judulnya Ghost (drakor favorit author, yang castnya Soo Ji Sub <= salah satu aktor fav author ini xD).

author’s note : di cerita ini mungkin cukup jauh dari kata romance antara main cast tapi romancenya tetep ada dan mungkin agak sedikit lebih fokus ke main cast namjanya. mianhe jika ada typo dan kesalahan teknis lainnya 🙂

Aku melipat tanganku agar angin dingin itu tak seenaknya masuk ketubuhku begitu saja. Nafas yang aku keluarkan terkepul layaknya aku sedang merokok, wajahku terasa membeku saat ini. ‘apa yang sedang dia lakukan disana?’ batinku menatap kearah hamparan langit yang mulai beranjak cerah

“annyeong, Yoona-ssi”

Aku langsung menoleh ketika aku mendengar seseorang memanggilku secara formal, perawakannya yang cukup tinggi dengan sedikit senyum berkembang diwajahnya. Dia—

“sendirian?”

Yoona pov

“sendirian?” tanyanya, aku mengangguk singkat kemudian terjadi keheningan diantara kami berdua. dia berdiri disampingku dan melakukan hal yang sama sepertiku, menatap hamparan pantai yang menjulang luas disana

“tuan, siapa namamu?” tanyaku akhirnya, “Mun Joo Won” jawabnya tak beralih dari pandangannya

“Joo Won-ssi?” tanyaku, dia mengangguk, “berapa umurmu, Yoona-ssi?” tanyanya

“38 tahun” jawabku pasti

Dia hanya manggut-manggut, “jadi—apa yang dilakukan oleh seorang dokter disini?”

Sejak saat itu kami berdua memang menjadi cukup dekat, menurutku dia sangat baik dan menyenangkan. Dan aku cukup senang bisa mengenalnya seperti sekarang, ya, meskipun aku tahu batasan yang aku miliki.

Author pov

Semenjak Chanyeol menemukan surat disamping tempat tidurnya itu yang mengatakan bahwa dia jangan mengkhawatirkan Yoona dan jangan menghubungi Yoona sampai Yoona yang menghubungi Yoona terlebih dahulu, itu membuat Chanyeol resah, sudah seminggu dan tak ada kabar sedikitpun dari istrinya. Seohyun—anaknya tak terlihat secemas Chanyeol, dia menjalani harinya seperti biasa

Tit tit tit tit

Mendengar dering ponselnya dia langsung terlonjak dan segera mengangkatnya tanpa melihat siapa yang tengah menelponnya saat ini

“yeoboseyo?” tanya Chanyeol cepat

“Chanyeol”

“Yoona?” tanya Chanyeol memastikan

“ne, mianhe aku tak menghubungimu seminggu ini, aku benar-benar sangat sibuk” jawabnya

“ne, aku tahu. aku menunggu teleponmu seminggu ini dan baru sekarang kau menelponku”

“mianhe, besok aku kembali ke Seoul”

“aku jemput oke?”

“aniyo, aku langsung kembali kerumah sakit jadi kau tetaplah bekerja jangan merepotkan dirimu sendiri”

Sedikti kecewa tapi Chanyeol mengiyakan, “Yoong” panggil Chanyeol sebelum Yoona menutup teleponnya, “aku merindukanmu”

“nado, aku juga merindukanmu”

“cepatlah pulang dan jaga kesehatanmu” kata Chanyeol terakhir sebelum telepon mereka benar-benar putus.

Joo Won memutar kertas foto kusut itu berkali-kali. Ketika dia mendapatkan gambar ini dia langsung meremasnya geram. Bagaimana bisa? Bagaimana seseorang yang dianggapnya musuh sekarang, yang membuatnya babak belur, yang membuatnya sakit karena tembakannya adalah teman masa kecilnya yang bernama Yoon Jaeyoung. Dia mengganti namanya setelah kedua orang tuanya meninggal

Joo Won membuka foto yang diremasnya tadi kemudian menyobeknya hingga tak berbentuk sama sekali. Ini benar-benar diluar dugaannya, sekian lama dia menganggap orang itu musuhnya tapi kenyataan lain mengahampirinya dan mengatakan padanya jika orang itu adalah sahabatnya. Yoon Jaeyeoung mengubah namanya ketika dia pindah ke Seoul

“sialan!” desisnya, ‘ini diluar dugaanku!’.

Joo Won pov

Segera saja aku mengambil ponselku yang tergeletak begitu saja setelah aku lempar beberapa saat tadi ketika aku mengetahui tentang kenyataan sekarang ini

“Baekhyun, siapkan tiket pesawat untuk besok, aku ingin kembali ke Seoul. Ingat! Besok!” kataku singkat tanpa mendengar jawabannya dan langsung memutuskan sambungan telepon

“eottoke? Eottoke?! Bagaimana bisa seperti ini?!”.

Pagi itu aku bergegas, Kang ajhussi menarik koperku sedangkan aku terus berajalan cepat hingga sampai mobil, tanpa dibukakan oleh Baekhyun aku langsung masuk begitu saja. Aku ingin mencari kebenarannya, aku harap semua informasi kemarin hanyalah bualan semata.

17.00 KST

Setelah mendarat aku langsung disambut oleh orang yang dipersiapkan Baekhyun agar aku bisa langsung menggunakan mobil sport biruku. Aku menyambar kuncinya tanpa mengatakan apapun dan langsung pergi

‘aku harus ke gudang bawah tanah’ batinku.

Sesampainya ditempat yang aku maksud aku langsung menyembunyikan mobilku kedalam parkiran bawah tanah yang aku buat sendiri dan kembali menutupnya dengan tanah yang sama sehingga tak menimbulkan kecurigaan. Aku mengambil satu-satunya benda berhargaku. Flashdisk. Jangan salah, dengan alat kecil itu aku bisa menghack semua akun bahkan akun internasional tanpa ketahuan sedikitpun dengan pengalihan sinyal yang aku gunakan.

Yoona pov

Setelah mendarat dari Busan aku benar-benar langsung kerumah sakit untuk mengurus beberapa hal. Seperti jadwalku, tambahan pekerjaan, pemeriksaan obat-obatan dan yang lain. Melelahkan? Tentu saja, tapi ini impianku sejak kecil meskipun kedua orangtuaku dulu menyuruhku untuk menjadi seorang musician daripada seorang dokter dan keturunan musician appaku turun pada Seohyun. Anak sulungku ini benar-benar sangat pintar bemain piano, jari-jari lentiknya begitu lincah menekan setiap tuts berwarna hitam dan putih itu secara bergantian yang menimbulkan suara indah menawan

Tok tok tok

“dok, ada kiriman”

Suster Kwon meletakkan sebuket bunga dengan beraneka jenis bunga dimejaku. Aku hanya tersenyum mengangguk. Mataku beralih pada sebuah amplop berwarna putih yang terselip diantara bunga-bunga cantik itu

I Love You, Yoong^^

-Park Chanyeol

Singkat, tapi itu cukup membuat hatiku menjadi hangat. Sekian lama dia tak melakukan hal ini lagi, mungkin sejak 3 tahun yang lalu ketika bandar narkoba yang diurusnya itu muncul tapi setelah setahun ada berita yang menyatakan bahwa bandar narkoba itu telah mati dan sekarang ada dugaan lain yang muncul dan mengatakan bahwa bandar narkoba itu masih benar-benar hidup dan buktinya bandar itu berhasil meng-hack seluruh akun informasi nasional dengan sekali klik itu mengubah kehidupan Chanyeol. Dia sering tak tidur, sering pulang larut bahkan mungkin tak pulang sedikitpun

Aku langsung mengambil ponselku dan menuliskan sebuah pesan singkat disana

Tit tit tit tit

“Chanyeol?” gumamku tersenyum dan kemudian mengangkat teleponnya

“ne?”

“kau masih dirumah sakit?” tanyanya

“ne, aku pulang sore hari ini” jawabku

“jinja? Tak pulang malam?” tanyanya meyakinkan

“ne, aku ada janji makan malam dengan Seohyun” jawabku

“jika begitu kalian berdua tunggu aku”

Menunggunya? Apa dia akan benar-benar datang?

“Yoong, gwenchana?”

“eh? Ne, gwenchana. Aku akan memberitahu Seohyun dan kami akan menunggumu untuk makan malam kita nanti” jawabku akhirnya

“yasudah, cepat selesaikan pekerjaanmu dan aku juga akan segera menyelesaikan pekerjaanku. Sampai bertemu nanti dirumah”

Aku mengetik sebuah pesan singkat dan mengirimkannya pada seohyun kemudian meletakkan ponselku pelan. Apa dia akan benar-benar datang? Bukan aku tak senang dia berkata seperti tadi tapi kejadian 3 tahun yang lalu itu masih terasa segar di otakku ketika dia mengajak kami makan malam dan alhasil hanya aku, Seohyun dan Lio yang makan malam sedangkan Chanyeol pulang tengah malam. Ingin rasanya aku marah tapi ketika aku melihat wajah lelahnya, aku menjadi luluh. Aku tak bisa melakukan apa-apa selain hanya diam menatapnya tersenyum sambil berkata ‘gwenchana’ yang benar-benar sangat memuakkan.

Author pov

“Chanyeol, aku menemukan sebuah informasi baru. Tadi sepasang CCTV di lalu lintas merekam bahwa ada Joo Won sedang menyetir mobil sport berwarna birunya. Dan ini lokasi yang aku temukan” jelas Lay memberikan tabnya pada Chanyeol

Chanyeol langsung mengangkat teleponnya dan menekan beberapa nomor, “aku akan pergi bersama Minhyuk, dan menggrebeknya” jelas Chanyeol menyambar jas hitamnya dan kemudian tersenyum pada Lay

“kerjamu sangat bagus, Lay” pujinya, Lay hanya mengangguk, “tetaplah kontrol dan lacak semua informasi tentangnya beritahu aku jika ada perubahan”.

Brakk!!

Chanyeol, Minhyuk dan Kris berjalan mengendap kesebuah gudang besar dengan pintu besi serta ranta berkarat yang menggantung di pintu itu. suara gemerisik air dari dalam terdengar tapi tak ada satupun tanda-tanda kehidupan disini. Sangat sepi dan senyap. Chanyeol memberi kode pada agen dibelakangnya agar berpencar

“bersih. tak ada siapapun disini” kata Minhyuk menurunkan senjatanya

Chanyeol tetap was-was

Brruk

Mata Chanyeol membulat ketika dia tahu sebuah peluru menghunus tubuh Minhyuk dibelakangnya. Joo Won mempermainkannya, sialan. Chanyeol langsung mengambil tempat bersembunyi dan menyeret tubuh Minhyuk

“bertahanlah, kita akan segera keluar” bisik Chanyeol

Terjadilah adu tembakan disana, bukan Joo Won tapi anak buah dari Joo Won. Chanyeol terus menembak tapi sialnya pelurunya tiba-tiba habis dan terpaksa dia menarik senjata Minhyuk. Keadaan Minhyuk semakin melemas

Dor!

“arggh!” rintih Chayeol pelan

Hampir 2 jam adu tembak itu berlangsung dan Chanyeol berhasil meringkus penembak tadi tapi yang membuat dia menyesal, lelaki itu bukanlah Mun Joo Won tapi bawahan Mun Joo Won. Tak mudah menemukan Joo Won, buktinya saja dia selalu tertipu.

Chanyeol meringis ketika istrinya sendiri yang membalut luka tembak di lengan tangan kirinya. Setelah adu tembak tadi Chanyeol, Minhyuk dan Kris yang terluka segera dibawa kerumah sakit tempat Yoona bekerja. Wajahnya sedikit pucat dan Yoona tahu itu kenapa

“kau meminum suplemen yang aku berikan?” tanya Yoona disela pekerjaannya, “ehm—ya, tentu saja” jawabnya, “tentu saja atau terkadang?” tebak Yoona, “maksudku—terkadang” ralat Chanyeol menatap Yoona tanpa dosa.

“selesai” kata Yoona membereskan semua peralatan yang dia gunakan tadi, Chanyeol masih duduk diranjang dan memakai kemejanya lagi. Yoona yang mengetahui itu langsung membantunya memakai kemeja putih itu. setelah selesai tangan Chanyeol menarik tangan Yoona agar Yoona duduk disebelahnya

“mianhe” kata Chanyeol (lagi), Yoona hanya mengangguk tersenyum, “gwenchana” jawabnya

“kita pulang bersama?” tawar Chanyeol, cukup lama berpikir kemudian Yoona mengangguk setuju.

Mereka berdua pulang bersama, hanya saja mobil Chanyeol dia tinggalkan dikantor sedangkan dia pulang bersama Yoona. mereka pulang tak terlalu larut karena kota Seoul itu masih terasa hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu lalang serta klakson-klakson mobil yang sedikit bersaut-sautan karena mobil didepannya tak segera berjalan.

Mereka berdua terdiam satu sama lain, tak ada pembicaraan sedikitpun yang terjadi, Yoona sibuk dengan kegiatan menyetirnya sedangkan Chanyeol sibuk dengan kegiatan menatap jalanan yang ramai.

Cklek

Mereka berdua berjalan pelan. Yoona membantu Chanyeol dan ketika mereka melewati dapur, lampu disana menyala terang. Karena penasaran mereka berdua berjalan mendekat dan Seohyun, anak sulung mereka tengah tertidur dengan banyak masakan di meja makan

Mereka lupa jika malam ini mereka akan makan malam bersama dan bisa dipastikan, makanan ini Seohyun yang membuatnya tapi—ini sudah lebih dari jam makan malam. Seohyun yang merasa ada pergerakan didepannya mengangkat kepalanya yang tadi tertidur. Matanya sembab

“jadi—dulu appa dan sekarang—kalian eomma juga?” tanyanya, matanya kembali berkaca-kaca

“Seohyun” panggil Yoona merasa bersalah, “maafkan appa dan eomma” kata Chanyeol

“aku kecewa appa, eomma dan—dan—makanan ini—ajhumma!! Ajhumma! Lee ajhumma!!” teriak Seohyun berulang-ulang

Lee ajhumma berlari tergopoh-gopoh mendekat kearah mereka dan dia merasakan hawa tak enak sedang menyelimuti mereka bertiga, terbukti karena Seohyun—anak satu-satunya keluarga Park ini menangis

“ajhumma, buang saja makanan ini, dimakan pun rasanya sudah percuma!” desisnya berlari meninggalkan ruang makan itu

Yoona menarik kursi makan disana dan duduk menunduk. Dia juga lupa, dia juga lupa tentang makan malam bersama anaknya. Setelah suaminya dan beberapa polisi datang kerumah sakitnya dan dia mengobatinya itu membuatnya lupa dengan rencana yang dia dan Seohyun buat. Bahkan dia sangat ingat suara Seohyun yang senang karena appanya akan ikut makan malam bersamanya

“ajhumma, apa ini semua Seohyun yang memasaknya?” tanya Yoona, Lee ajhumma mengangguk, “saya ingin membantunya tadi tapi nona Park menolak dan hanya membiarkan saya mengurusi bahan-bahan” jelas Lee ajhumma yang membuat Yoona dan Chanyeol semakin terdiam karenanya

“ajhumma, jangan dibuang, kami akan memakannya dan ajhumma bisa kembali kekamar” kata Chanyeol

Chanyeol menarik kursi disamping Yoona yang memijit dahinya, Chanyeol tahu Yoona pasti merasa bersalah tak lain juga dengan dirinya. Jika saja dia tak terluka seperti ini mungkin dia dan Yoona akan pulang tepat waktu dan kejadian 3 tahun yang lalu tak akan terulang lagi

“sekarang kita makan malam” ajak Chanyeol, tak ada respon dari Yoona, “sayang” panggil Chanyeol lembut menarik tangan Yoona dan menggenggamnya.

Setelah makan malam mereka langsung masuk kedalam kamar mereka. Yoona membantu Chanyeol melepaskan bajunya dan mengganti dengan kaos yang biasa Chanyeol gunakan ketika tidur. Yoona masih belum terlelap, posisinya masih berbaring menatap langit-langit kamarnya. Dia belum bisa tidur sedangkan Chanyeol disampingnya (sepertinya) sudah tertidur. Yoona memiringkan tubuhnya dan menatap Chanyeol. Tangannya tergerak mengelus rambut hitam yang entah sudah sejak kapan dia tak menyentuhnya dan kemudian sebuah kecupan singkat dia daratkan dibibir suaminya.

Chanyeol tahu tentang Yoona yang masih terjaga tapi dia memilih diam sambil tetap menutup matanya rapat. Ingin sekali dia bangun tapi luka dilengannya ini benar-benar menyiksanya sekarang. Semakin lama dia merasa hembusan nafas hangat tengah menerpa wajahnya yang kemudian dia merasakan sebuah ciuman singkat yang dilakukan oleh istrinya. Sudah sejak kapan aku tak menciumnya?.

Joo Won masih sibuk dengan semua komputer-komputernya serta peralatan canggih yang dia punya diruangan rahasianya. Dia terus mengetik kode-kode rumit yang sengaja dia gunakan agar tak mudah untuk di hack bahkan oleh seorang profesional

Benar laki-laki itu adalah Yoon Jaeyoung. Dia tak menyadarinya sejak pertama kali mereka bertemu karena dia terakhir kali bertemu dengan Jaeyoung ketika umurnya 18 tahun. Diumurnya itu Joo Won harus pindah ke London untuk melanjutkan studinya disana dan dia lulus sebagai salah satu mahasiswa muda di salah satu universitas terkenal di sana

“wae? Kenapa harus kau bahkan diumurku sekarang aku bersyukur bertemu denganmu tapi bukan dengan keadaan seperti ini!” desis Joo Won tajam

“eottoke? Apa yang harus aku lakukan? kau bisa saja dengan mudah membunuhku karena kau tak tahu kenyataan yang sebenarnya tapi aku—tak bisa membunuhmu! Sialan! Aku masih tak tahu siapa yang mengirim foto-foto sialan itu padaku” lanjutnya bergumam sendiri

Sudah tengah malam dan Joo Won masih terjaga dari tidurnya, dia duduk rapi didepan komputernya. Dia tak melakukan apa-apa, dia sedang memikirkan rencana yang akan dia buat. Apa dia akan benar-benar membunuh Jaeyoung atau tidak tapi jika tidak dan Jaeyoung yang justru membunuhnya terlebih dahulu itu akan sangat menyusahakan

Dia mengambil ponselnya disakunya. Wallpapernya—adalah wanita itu—wanita yang dia temui dibibir sungai waktu itu dan foto ini dia ambil ketika pagi setelah pesta yang diadakan hotel itu. memang bukan wajahnya yang terfoto, hanya bagian punggungnya tapi—itu membuat Joo Won tersenyum melihatnya. Umurnya hanya terpaut 3 tahun darinya dan jujur saja, Joo Won memang dekat dengan wanita itu. ‘semua karna Busan, tak salah banyak orang yang mengabiskan waktu disana’ batin Joo Won tersenyum.

Keesokan harinya Seohyun berangkat bersama appanya dengan paksaan dari Chanyeol, Seohyun benar-benar sangat marah sampai pagi tadi bahkan dia tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan kedua orang tuanya. Sedangkan Yoona hari ini diberi libur selama 2 hari (itupun jika tak ada panggilan mendadak dari rumah sakit). Setengah harian ini dia gunakan untuk melihat acara televisi yang membosankan

Tit tit tit tit

Yoona melirik ke ponselnya yang berbunyi dan bergerak malas mengambilnya, ‘Joo Won-ssi?’ batin Yoona, ‘tumben sekali menghubungiku?’

“yeoboseyo?”.

Joo Won tampak duduk berwibawa di salah satu bangku taman disana, pakaian formal itu benar-benar sangat membuatnya begitu mempesona. Sedangkan Yoona, wanita itu, meskipun sudah berkepala tiga tadi dia tetap saja cantik seperti dulu dengan dress putih polos serta heels yang tak terlalu tinggi itu berjalan mendekat kearah lelaki yang sedang duduk menunggunya

“Joo Won-ssi” panggil Yoona tersenyum, Joo Won menoleh dan juga ikut tersenyum

“kajja, aku ingin mentraktirmu sekarang” ajak Joo Won bersemangat, meskipun dia tahu jika wanita didepannya ini kemungkinan sudah memiliki seorang suami.

“kapan kau kembali ke Seoul?” tanya Joo Won memulai pembicaraan seperti biasanya, “baru kemarin, kau sendiri?” tanya Yoona kembali, “sama jika begitu tapi aku mengambil penerbangan sore”

Yoona manggut-manggut dan melahap spagetti yang dia pesan tadi, “kau tak kerja hari ini?”

Yoona menggeleng, “kepala memberiku libur 2 hari tapi jika sewaktu-waktu ada panggilan mendadak aku harus langsung kerumah sakit” jawab Yoona

“itu yang tak aku sukai menjadi seorang dokter”

“mwo?”

“lihatlah seharusnya hari libur itu tak ada panggilan dari kantor tapi dokter berbeda dihari dia diberi libur pun jika ada pasien yang membutuhkannya dia harus segera masuk tanpa menolak” jawab Joo Won

Yoona tersenyum kecil mendengar perkataan Joo Won, “itu namanya konsekuensi, konsekuensi menjadi seorang dokter” kata Yoona

“bagaimana dengan pekerjaanmu  sendiri?” tanya Yoona beralih, “aku bos jadi aku bisa santai” jawab Joo Won, “astaga, aku akan benar-benar akan menolak jika aku memiliki bos sepertimu” kata Yoona, “jangan salah, justru memiliki bos sepertiku itu sangat menyenangkan” kata Joo Won membela diri, Yoona hanya terkekeh mendengarnya.

Joo Won dan Yoona menghabiskan sepanjang siang itu di kafe tempatnya tadi. Yoona benar-benar terlihat berbeda, dia tersenyum sangat lepas dan Joo Won sangat senang melihatnya

“Joo Won-ssi, kau tak cepat mencari seorang istri?” tanya Yoona, Joo Won menggeleng pelan, “aku masih ingin menikmati hidupku sekarang ini” jawab Joo Won tersenyum simpul

Tit tit tit tit

“ne, Seohyun?”

“…”

“ne, aku akan menjemputmu sekarang” jawab Yoona mematikan ponselnya, “ehm—aku pulang dulu, aku harus menjemput anakku karena dia tertinggal bis menuju kerumah” pamit Yoona

“bukankah kau tadi naik taksi?” tanya Joo Won, Yoona mengangguk, “aku antar saja bagaimana? Tak enak bukan, aku mengajakmu untuk menemaniku diacara meliburkan diri dari pekerjaanku dan menyita waktumu, bahkan kau tak membawa mobil sekarang”

Cukup ragu tapi akhirnya Yoona mengangguk menyetujui. Ketika menjemput Seohyun pun, Seohyun cukup kaget melihat eommanya bersama orang lain bukan bersama appanya tapi Seohyun tak ambil pusing dan langsung masuk kedalam mobil bahkan Seohyun sedikit nyaman dengan Joo Won yang menurutnya sangat baik dan lucu

“ajhussi bagaimana bisa kenal dengan eomma?” tanya Seohyun

“kami tak sengaja bertemu di busan ketika eommamu ada pekerjaan disana” jawab Joo Won tersenyum, Seohyun hanya manggut-manggut mendengarnya

“bagaimana bisa kau terlambat seperti tadi? Kemana Yonghwa?” tanya Yoona, “eomma, Yonghwa pulang lebih dulu karena besok ada turnamen basket antar sekolah jadi yang mengikuti lomba dipulangkan lebih dulu, Suho dan Hyoyeon, kelas kami untuk pelajaran terakhir tadi berbeda jadi kami tak bertemu” jelas Seohyun

Joo Won melirik ke arah Seohyun sekilas, bibirnya sangat mirip dengan Yoona dan bahasa yang dia gunakan juga mirip dengan Yoona, ‘halus’ meskipun ada sedikit kata manja didalamnya

“eomma appa tadi menelponku dan bertanya siapa yang menjemputku” kata Seohyun, “lalu kau jawab?” tanya Yoona, “tentu saja eomma yang menjemputku siapa lagi” jawab Seohyun mengerucutkan bibirnya

Yoona tersenyum melihat tingkah Seohyun, meskipun kemarin dia sedikit sebal karena batalnya acara makan malam bersama tapi sekarang dia sudah merasa friendly bahkan bersama orang yang pertama kali baru ditemuinya sekarang. Di lingkup keluarga, Seohyun memang sangat manja tapi dilingkup teman-temannya Seohyun terkenal pendiam.

“gumawo, Joo Won-ssi” kata Yoona tersenyum, “gumawo ajhussi!!!” kata Seohyun semangat dan melambaikan tangannya pada Joo Won yang mulai melajukan mobilnya. Yoona memeluk bahu Seohyun sambil tersenyum. “sudah tak marah bukan dengan eomma?” tanya Yoona tersenyum jahil

“aku tak bisa marah dengan eomma tapi entah kenapa tadi pagi aku benar-benar tak ingin berbicara dengan appa” jawab Seohyun sambil berjalan masuk kerumahnya

“appamu sedang sakit, tadi pagi eomma melarangnya untuk mengendarai mobil sendiri tapi appamu bersikeras untuk tetap membawa mobil dan berangkat bersamamu. Percayalah, appa sangat menyayangimu”

“molla, eomma, appa mungkin menjadi seperti ini karena Lio sudah tiada, dulu saja ketika Lio masih hidup appa tak pernah peduli padaku” kata Seohyun terdengar kecewa, “aigo, jauhkan pikiran jelekmu, appamu benar-benar sangat menyayangimu. Buktinya saja ketika Lio meninggal dulu, kau menangis dan appa berusaha menenangkanmu” kata Yoona, “tsk, aku kekamar dulu eomma” pamit Seohyun.

Chanyeol pov

Aku makan siang bersama Lay, sebenarnya aku ingin menolak tapi—yah—Lay memaksaku agar aku makan tadi pagi aku memang sempat sarapan dirumah. seohyun masih marah padaku dan mungkin sudah tidak pada Yoona sebab tadi yang menjemputnya pulang sekolah Yoona. aku mengutak-atik laptopku, aku seorang hacker bukan seorang cracker seperti Joo Won tapi tetap saja kemampuanku masih kalah dibandingkan dengannya.

“bagaimana dengan kode Joo Won?” tanyaku

“aku masih melacaknya dan aku baru berhasil menebak satu angka dari 12 option yang dia gunakan. Bisa saja isinya bukan hanya angka melainkan simbol dan juga huruf alphabet atau bahkan mungkin huruf hiragana atau katakana. Joo Won terkenal melacak nomer kodenya dengan berbagai huruf dan simbol agar sulit” jelas Lay

“wartawan tak ada yang tahu tentang hal ini bukan?”

“tidak, untuk saat ini hanya 3 agensi terbesar di Korea ini saja yang tahu tentang Joo Won tapi—aku sedikit ada keraguan pada Joo Won” kata Lay

“maksudmu?” tanyaku tak mengerti, “apa bisa satu orang yang sama berada pada tempat yang berbeda yang dipisahkan oleh samudra dan lau yang sangat luas?”

Aku mengkerutkan keningku tak mengerti sama sekali apa yang dia coba katakan. Apa dia berusaha mengatakan bahwa Joo Won memiliki kemampuan teleportasi agar bisa berpindah dari tempat satu ketempat lainnya? Eh! Mustahil! Memangnya dia Albus Dumbledore yang ada di film Harry Potter yang bisa melakukan teleportasi agar bisa berpindah cepat dari satu tempat ketempat lain? Well, itu hanya novel karya J.K Rowling yang memang dijadikan film dengan lakon utamanya Daniel Radcliffe. Hey? Apa yang baru saja aku bahas tadi?

“ingat kejadian 3 tahun yang lalu tentang penembakan Joo Won yang dilakukan padamu dan Lio? Saat itu, menurut informasi lain Joo Won sedang berada di London bukan Korea” jelas Lay

“mwo? Apa maksudmu? Yang menembakku dan Lio saat itu bukan dia, begitu?” tanyaku kesal

“bukan seperti itu, wajah yang menembakmu dan Lio saat itu memang mirip seperti Joo Won tapi tepat ditanggal itu Joo Won sedang berada di London. Apa—Joo Won memiliki kembaran?”

Alisku bertautan mengengar perkataan lelaki didepanku ini, kembar? Yang benar saja! Mana mungkin! Dari sekian banyaknya informasi, Joo Won hanya seorang anak tunggal dari keluarga bernama Mun Ji Seok dan Shin Min Ah. Bahkan ketika kabar beredar Joo Won mati setelah aku ledakkan rumahnya beberapa waktu lalu itu, aku langsung bertanya pada pembantu dirumahnya dan mereka mengatakan bahwa Joo Won adalah anak tunggal

“aku hanya mengalisis apa yang aku dapatkan baru-baru ini. aku hanya bingung, bagaimana bisa Joo Won berada di Korea dan di London dalam waktu, tempat, tanggal yang sama? Itu aneh bukan” kata Lay yang mengerti tatapanku

“informasi itu harus kau teliti lebih dalam lagi jangan menyimpulkan secepat ini” tegurku, dia mengangguk mantap dan melanjutkan makan siangnya.

Aku terus merenungkan perkataan Lay tadi, kembar? Mana mungkin! Semua informasi menyatakan bahwa Joo Won itu anak tunggal. Ingin saja aku menolak pemikiran Lay tadi tapi bagaimana bisa dia menyimpulkan hal seperti itu secara langsung tanpa adanya bukti. Bukti?! Ah! Kenapa aku tak meminta bukti bahwa Joo Won berada ditempat yang berbeda di waktu yang sama?

Segera saja aku bergegas ke lab dimana Lay bekerja, dia sibuk mengutak-atik komputernya yang bisa saja aku pastikan dari kode-kode rumit yang tertera di komputernya itu untuk masuk keperangkat lunak yang dibuat oleh Joo Won

“bos” panggilnya ketika dia menyadari keberadaanku, “apa yang membuatmu turun kemari?” tanyanya

“soal kesimpulanmu tentang Joo Won. Kau tak mungkin bukan mengatakan jika Joo Won kembar tanpa adanya bukti nyata yang benar-benar kau lihat” jawabku

“bos ingin melihatnya?” tebaknya dan membuatku mengangguk

Dia berdiri dan beralih pada komputer disebelahnya, mengetikkan sesuatu disana dan menyambungkannya dengan layar besar agar aku bisa melihat dengan mudah

“sebelah kanan Joo Won di London dan sebelah kiri CCTV di taman bermain ketika penembakan yang dilakukan oleh Joo Won” kata Lay, “lihat tanggal di pojok sebelah kanan. Tanggal, bulan dan tahun yang sama, wajah yang sama tapi ditempat yang berbeda. Tak mungkin dia setelah menembakmu kemudian terbang ke London pada jam yang sama bukan” jelasnya

Aku mentapnya bergantian secara terus-menerus berusaha mencari perbedaan yang ada dalam gambar di layar itu. berharap saja, tapi gambar itu—gambar manusia itu mirip. Sebelah kanan memang Joo Won dan sebelah kiri juga Joo Won. Mereka berdua memang Joo Won, tapi bagaimana bisa?

“kenapa seperti ini?” gumamku, “lanjutkan pekerjaanmu tentang perangkat lunak yang dibuat Joo Won” kataku akhirnya dan meninggalkan ruangannya

“bos!” panggilnya lagi, “lukamu sudah baik-baik saja?” tanyanya, “seperti yang kau lihat, aku masih bisa menyetir mobilku sendiri” jawabku.

Sepulang kerja aku tak langsung pulang, melainkan mampir ke sebuah cafe dan memesan secangkir kopi. Aku belum menemukan keberadaan Joo Won sejak pengejaranku beberapa hari yang lalu. Dia benar-benar bagaikan bagi ubur-ubur, sangat transparan dan sangat tersembunyi

Sreek

Aku menatap seseorang yang sekarang tengah duduk disebrangku, aku menoleh kesamping dan masih ada beberapa meja yang kosong tapi kenapa lelaki ini justru memilih tempat duduk ini?

“maaf tuan? Apa kau mengenalku?” tanyaku

Lelaki itu tetap diam, kacamata hitam dan topinya menutupi wajahnya yang membuatku sedikit menunduk agar bisa melihatnya dengan jelas siapa lelaki didepanku ini sebenarnya. Aku mendengar suara kecil—mirip tertawa yang keluar dari mulut lelaki didepanku ini

“selamat malam detektif Park” katanya melepas topi dan kacamata hitamnya

“Jo—Joo Won?!” kagetku tak percaya

“wae? Kau ingin menangkapku didepan umum?” tanyanya menampilkan smirknya, aku diam tak menjawabnya

“kau bisa saja menangkapku sekarang tapi—bawahanku tak akan tinggal diam jika kau menangkapku” lanjutnya

Aku merasakan amarahku sudah mencapai ubun-ubun kepalaku. Aku terus berusaha menahan keinginanku untuk menyeretnya paksa keluar dari cafe ini, segera membuatkannya tuntutan dan menjebloskannya penjara ditengah laut

“apa yang kau inginkan?” tanyaku tajam

“aku tak ingin apa-apa darimu, karena tanpa kau memberipun aku bisa membeli semua yang ingin aku miliki” jawabnya sinis

“bagaimana kabar bawahan bernama Lay-mu itu? sudah berhasil memecahkan piranti itu?” tanyanya mencemooh, “itu bukan urusanmu!” jawabku tajam.

Joo Won pov

Aku melihat detektif didepanku ini sedang dilanda oleh rasa amarah yang sangat luar biasa. Bisa saja kalian dari wajahnya yang terlihat menggeram seperti serigala kehabisan stok daging untuk dimakan. Wajahnya juga menunjukkan semburat merah padam seperti api yang membakar gedung mewah perusahaan Hyundai disini

“aku beritahukan satu hal padamu” kataku akhirnya, “piranti yang sedang kau proses itu—bukan milikku” lanjutku

Aku melihatnya mengkerutkan dahinya kemudian tersenyum  licik, “ingin lari dari hukuman berat? Jangan mimpi aku bersumpah benar-benar akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” jawabnya sarkatis

“terserah kau ingin percaya atau tidak yang pasti aku sudah memberitahumu. Annyeong, detektif Park yang TERHORMAT” pamitku membungkuk sembilan puluh derajat dan memandangnya tersenyum manis

“ahh… satu lagi, dasi yang kau gunakan miring” kataku tertawa kecil dan pergi meninggalkannya

Sebenarnya aku sedikit takut menemuinya tadi karena aku takut Chanyeol akan menyeretku ke penjara tengah laut itu. bukan maksudku aku tak mau masuk kesana tapi aku harus menyelesaikan urusan yang disebabkan oleh mereka yang membawa nama baikku

Aku berjalan dengan tempo normal agar tak terlihat seperti aku sedang lari dari kejaran seseorang. Sampai aku berbelok ke sebuah gang aku tak merasakan ada orang yang mengikutiku dan aku kembali melihat ke arah cafe tadi. Chanyeol masih disana, tangannya memeluk cangkir kopinya

‘setidaknya, aku masih bisa membersihkan namaku’ batinku melajukan mobilku pergi.

 

To Be Continued

rcl pelase,, butuh komentar dari kalian semuaa!!🙂

see you in the next chap!!

😀

35 thoughts on “FACE OFF [2]

  1. aku bingung, sebenernya joowon ada berapa/?
    harus membersihkan namanya/? berarti yg selama ini jahat bukan joowon dong/? *readerbanyaktanya😀
    well next chapternya ditunggu^^

  2. Semangat yah thor! Yah walaupun ada kabar kagak enak di snsd -_-
    Kamu Yoonaddict kan? Tetap semangat, lanjutkan karyamu! *apaanini?*garuk2kepala
    Bikin moment ChaYoong sedikit banyak dong thor😀
    Joo Won. Go away, pliss!!
    Keep writing~

    Love , smiles

    Yoonaddict

  3. author ya ampun author kayaknya emang bener joo won punya kembaran. kok yoona eonni sama seohyun bisa langsung deket sama joo won? padahal joowon incerannya chanyeol. kayaknya chanyeol sayang banget sama lio. dan kenapa sehun belom nongol nongol juga di fanfiction ini?
    gak rela yoona eonni deket sama joowon aku kasian sama chanyeol oppa. kalo chanyeol oppa tau kalau yoona eonni itu deket sama joowon pasti chanyeol oppa marah sama sedih pake banget. chanyeol oppa jangan kerja terus dong harus inget sama keluarga.
    kata ku fanfictionnya rada susah di mengerti bagi orang orang seperti saya/?
    tapi tetep keren banget aku juga suka banget
    next thor

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s