(Freelance) Unrevealed Story [3]

unreleaved-story

Poster :  l.joo//bekey @ Indo Fanfictions Arts

Unrevealed Story

Written by Nikkireed

Casts

Lu Han and Im YoonA

Yoona sudah terlelap di ranjang King-size itu. Tidurnya selalu pulas. Dan aku sedikit iri padanya bisa tidur seperti orang normal yang tidak memiliki masalah.

Sedangkan aku? Hidupku awalnya normal. Menjadi tukang-antar-paket dan hidup secara sederhana dan tidak terdekteksi itulah aku. Tapi semua berbalik yeoja ini datang ke dalam kehidupanku.

Aku terbaring di sebelah Yoona, mengelus pipinya. Membayangkan ia marah berteriak padaku seperti tadi sore. Membayangkan ia menciumku seperti tadi.

Ah! Dan sekarang, bayi itu hadir di perutnya. Anak itu, anak kami. Aku bahkan belum siap dengan status “Appa” untuk orang lain. Tidak mungkin aku menyuruhnya menggugurkannya, sampai dunia kiamatpun Yoona tidak akan membunuhnya.

Dan aku harus bagaimana? Gentle? Oh tidak! Gentle sudah bukan nama tengahku semenjak yeoja ini merasuki hidupku. Bahkan beberapa saat aku merasa kurang gentle pada Yoona seperti membiarkannya dirumah sendiri dan aku pergi mencari pekerjaan.

Tapi aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?

AHJUSSI! Aku perlu menelepon Ahjussi. Aku perlu memberitahunya.

Aku mengambil telepon genggamku, “Ahjussi?”

Luhan-ah?Ahjussi menjawab disebrang sana, kembali terdengar beberapa celoteh orang berbahasa Mandarin, aku mulai curiga dimana Ahjussi sebenarnya.

Ahjussi tadi ingin berbicara apa?” tanyaku, memancing ia mengatakan sesuatu terlebih dahulu.

Oh ne, Luhan-ah, sebenarnya, aku tidak di Korea.” Ya Tuhan, tebakanku tidak meleset. Aku sudah curiga dari awal.

“Aku di Beijing. Aku – “

“Kau di Beijing? Dan tidak memberitahuku eoh?” tembakku dengan cepat sebelum Ahjussi menyelesaikan ucapannya.

“Luhan, dengankan aku. Ni-eomma, maksudku, ehmm – ya ni-eomma menyuruhku untuk mengawasimu.” Ini merupakan kalimat kedua yang menghantam otak belakangku dengan tiba-tiba hari ini.

Eomma?” tanyaku. Aku bermaksud mengagetkan Ahjussi dengan kabar Yoona tapi pernyataan Ahjussi jauh mengagetkanku, kembali mengagetkanku.

Aku membawa kabur Porsche Turbo 911 ini, walaupun sudah jam malam. Waktu menunjukkan pukul 23.47 dan aku tidak peduli. Aku hanya ingin meninggalkan – ah semuanya!

Kecepatan membawa mobilku tidak terkendali. Aku sudah terbiasa mengebut dulu selama membawa paket, tapi tidak lagi setelah Yoona datang.

Bagaimana bisa dua berita mengejutkan ini menghantamku tiba-tiba hari ini? Apa ini ulangtahunku sehingga semua kejutan ini bertubi-tubi?

Atau ini jebakan?

Atau ini belum semua? Apa masih ada kejutan lainnya? Astaga!

Pertama, kau akan menjadi seorang Appa. Bayangkan kehidupanmu selanjutnya dalam status Appa seorang anak kecil, entah yeoja atau namja, anakmu.

Kedua, orang yang pertama yang mencintaimu, yang menyayangimu sepenuh hati, ni-eomma – yang sudah bertahun-tahun meninggalkanmu ketika suaminya, ni-appa meninggal, datang kembali ke dalam kehidupanmu.

Kalau begitu Yoona salah paham?

Aku kembali kerumah selewat pagi. Subuh. Matahari belum muncul dari tempatnya. Dan aku belum pulang ketempatku.

Aku membuka pintu kamar, Yoona masih tertidur.

Aku berjalan gontai menuju sisi tempat tidurnya, mengelus pipinya lembut. Yoona membuka matanya, astaga sepersekian detik, jantungku hampir berhenti berdetak.

“Kau sudah bangun, Yoong?” Suaraku tetap tenang walaupun terkejut.

Yoona bangun dan duduk bersender di kepala ranjang. Aku membantunya duduk dengan nyaman.

“Aku lapar, Lulu-ah. Ia lapar.” Yoona menyentuh perutnya lagi. Aku sedikit berkeringat dingin. Karena Yoona mengidam di jam seperti ini. Aku bahkan belum siap dengan tuntutan makanan idaman itu.

“Kau mau makan?” tanyaku pelan, meremas tangannya lembut.

Yoona tersenyum pucat, “Aku mau donat.”

“Sepagi ini?” Tanyaku, itukah kenapa kau membuat adonan donat semalam, Yoong? Apa kau sudah mengetahuinya?

“Ya, bantu aku turun.” Ia segera bangkit dari tempat tidur, entah mengapa secara reflek aku melirik ke arah perutnya dan menerka-nerka apakah sudah ada perubahan dari ukuran perutnya itu, ya Tuhan aku tidak tahan.

Kami berdua berjalan turun ke dapur, dan Yoona yang hanya memakai piyama dan sandal kamar berkutat di dapur.

Aku hanya berdiri disampingnya begitu ia mengeluarkan adonan kue itu dari lemari atas. Lalu dengan mudah ia membuat adonan tersebut berbentuk lingkaran.

Ia sibuk sendiri dan aku hanya menjaganya, mengawasinya.

Yoona membuat delapan ring donat, donat itu disajikannya diatas piring dengan bubuk putih seperti gula (?)

Kami duduk di meja makan, Yoona mengambil donat pertama dengan garpu lalu langsung memasukkannya ke mulut.

“Enak?” tanyaku, aku duduk disampingnya, dengan tangan terlipat didepan dada. Masih mengamatinya menyantap donat. Apakah donat itu terasa enak sepagi ini? Lapar?

Ia hanya mengangguk, “Jadi siapa dia? Yang memberikanmu mobil itu?” tanya Yoona langsung tanpa basa-basi, tanpa memandangku, karena ia fokus dengan donatnya.

“Yoong.” Panggilku, ini bukan saatnya berdiskusi mengenai itu. Dan aku belum memeriksa apakah benar ini semua dari Eomma.

“Aku hanya ingin mengetahuinya. Aku akan pulang ke Korea secepatnya. Aku tidak akan mengganggumu, kau tenang saja. Terimakasih untuk semuanya, Luhan-ssi.” Yoona terdiam sejenak, “Dan bayi ini, aku yang akan mengurusnya. Aku tidak keberatan.” Yoona memasukkan ring donat kedua dalam mulutnya.

“Yoona-ya. Bukan begitu maksudku.” Aku benar-benar tidak ingin membahasnya sekarang. Aku belum mendapatkan jawaban pasti.

“Aku sudah selesai.” Yoona bangkit dari kursinya, ia berjalan mengambil gelas lalu menuang susu panas dari panci. Tidak mungkin ia minum susu dingin dari kulkas, benar saja.

Setelah mencuci gelasnya, ia berjalan menuju lantai atas. Dan aku hanya mengamatinya berjalan meninggalkanku.

Kali ini matahari sudah terbit, panasnya membuatku berkeringat. Ditambah dengan kenyataan ketika memasuki kamar melihat Yoona sedang membereskan kopernya dan sibuk mengisi kopernya dengan baju.

“Yoong, kau mau kemana?” suaraku serak, tidak tidur semalaman membuatku berkeringat dingin.

“Korea, tentu saja. Mungkin aku akan menyerahkan diri pada Kim Joon Myun itu dan meminjam uang, bertahan hidup, entahlah.” Ia mengangkat bahu, cuek. Lalu berbalik ke lemari untuk mengambil bajunya.

“Yoona-ya. Kumohon, dengarkan aku. Aku tidak mengetahui siapa yang mengirimiku surat dan mobil itu, belum jelas. Aku perlu meng –“ aku menahan tangannya yang sedang membawa beberapa helai bajunya.

Segala aktivitas Yoona berhenti, aku menuding dagunya sedikit agar ia menatap mataku. “Percayalah, aku akan mencaritahu siapa dia. Stay, with me.”

Mata Yoona berkaca-kaca saat ia menatapku lemah, “Kau tidak menginginkan dia bukan? Aku akan membawanya pergi dari hidup – Ahhhhh” Yoona kembali terjatuh seperti kemarin, kali ini karena jarak kami dekat, ia tidak jatuh sampai ke lantai, tanganku sudah menangkapnya.

“Yoona-ya!” Aku hampir mati jantungan dibuatnya, oh Tuhan apalagi ini?

Aku menelepon dokter klinik kemarin untuk datang memeriksa Yoona secepatnya. Karena Yoona terlalu lemah untuk berjalan ke klinik. Aku memapahnya untuk tidur di ranjang.

TING TONG!

Aku berlari secepatnya dari kamar lantai atas menuju pintu depan untuk membukanya, “Kau dat— Ahjussi?” aku membungkukkan badan.

Bukan dokter yang datang, melainkan Ahjussi, dengan seorang wanita tua, seseorang yang kukenal, sepertinya.

“Luhan-ah?” wanita itu berdiri di belakang Ahjussi, ia berjalan menghampiriku lalu reflek memelukku. Aku hanya terpatung tidak mengerti.

“Luhan-ah? Kau baik-baik saja, nak?” wanita itu menangis, ia memeriksa keadaanku. Ia kembali memelukku. Sedangkan Ahjussi hanya diam dengan ekspresi bersalah.

“Lebih baik kita masuk dulu.” Ajak Ahjussi.

Ini bukan jebakan. Ini kenyataan. Kenyataan yang datang bertubi-tubi dalam hidupku. Kenyataan yang harus kuhadapi. Kenyataan yang harus kujalani.

Lalu selama ini apa? Selama ini aku tidak hidup? Selama ini sejarah kehidupanku hanya seperti bayang-bayang?

Apa? Sudah berapa lama aku hidup dalam keadaan seperti ini? Sudah berapa lama aku tidak mendapatkan kejutan seperti ini?

“Luhan-ah. Maafkan Eomma, eoh. Eomma tidak bermaksud meninggalkanmu. Eomma hanya tidak menerima kenyataan bahwa ni-Appa sudah meninggal. Sehari setelah Eomma meninggalkan rumah, Eomma putus asa, hampir bunuh diri. Tapi Ahjussi ini mencegahku begitu aku ketahuan ingin mengakhiri hidupku, Luhan-ah.” Wanita itu masih sedikit terisak, baru kusadari dari penampilannya ia benar-benar terlihat seperti ibuku. Hanya saja, tas mahal yang ia bawa dan sepatu haknya tidak terlalu mendukung.

Kami bertiga duduk disofa. Aku memandang kosong. Sedangkan Ahjussi tidak berkomentar sama sekali.

“Luhan-ah. Maafkan Eomma, eoh?” ia mengulang kalimat menyebalkan itu lagi.

TING TONG!

Aku bangkit untuk membuka pintu.

“Kau sudah datang, dok. Yoona diatas, ia kesakitan lagi. Perutnya.” Jelasku dengan ekspresi datar. Mengajak dokter itu naik kelantai atas untuk memeriksa Yoona.

“Im Yoona xiao jie sedang mengalami fase triwulan pertama. Kau tahu, seperti mual-mual dan nyeri di perutnya, seperti ibu hamil pada umumnya. Kau terlalu khawatir, Luhan.” Aku mengantar dokter itu berjalan sampai ke depan pintu utama.

Aku hanya tersenyum sopan pada dokter itu, “Ini ada vitamin untuk mengurangi rasa mualnya. Jaga kesehatannya. Jika ia muntah-muntah hebat lagi, hubungi aku.”

Dokter itu menepuk lenganku lalu berbalik dan keluar dari pintu. “Xie xie nin, Yi Sheng.” Kataku sambil menutup pintu.

Wanita itu dan Ahjussi berdiri dan langsung menghampiriku, “Luhan?” panggil mereka berbarengan, aku memandangi mereka dengan lemah.

“Yoona hamil?” Ahjussi bertanya terlebih dahulu, suaranya benar-benar cemas.

“Siapa Yoona?” tanya wanita itu cepat.

Aku berjalan duduk disofa dengan ekspresi datar.

“Yoona hamil. Aku bahkan tidak mengetahuinya. Yoona marah saat kau datang kembali dalam kehidupanku. Ia berpikir ada wanita lain yang memberiku mobil. Ia berpikir aku berselingkuh. Semua karna kau!” aku menekan kata terakhirku lalu menatap wanita itu.

“Luhan-ah, bukan begitu. Eomma sangat merindukanmu, dan Ahjussi berkata kau sedang dalam masa sulit. Saat Ahjussi berkata kau kembali ke China, aku sangat senang mengetahui bahwa kau baik-baik saja. Aku mengirimimu –“

“Cukup! Kurasa lebih baik kau simpan semua ceritamu. Aku tidak ingin mendengarkan apa-apa, MA.” Kata terakhir itu kutekankan lebih jelas. Aku berjalan menuju lantai atas dengan emosi meluap-luap.

Aku membuka pintu kamar, Yoona tidak tidur. Ia masih bersender di kepala ranjang. Tatapan matanya kosong dan tangan sedang memegang perutnya.

“Yoong? Gwenchana?” tanyaku begitu aku duduk disisinya.

“Kita punya tamu?” Yoona bertanya tanpa memandang ke arahku. Suaranya setipis kertas.

Ne, Ahjussi datang.” Jawabku pelan. Perhatiannya tertarik ia menatapku sejenak.

Waeyo? Mengapa Ahjussi datang? Untuk menjemputku?” Yoona mengernyitkan dahinya dan terbangkit dari senderannya.

Aniyeo, Yoongie-ah. Ia hanya menjengukmu.” Jawabku asal, entah apa maksud Ahjussi datang bersama wanita itu.

Jinjja? Aku ingin bertemu dengannya.” Yoona hendak melangkah turun dari ranjang tapi aku menahannya.

“Nanti, biar kupanggil. Kau tetap disini.” Yoona kembali melemah dan bersender di kepala ranjang.

“Baiklah.”

Ahjussi melangkah membuka pintu kamar, aku berjalan di belakangnya. Sedangkan wanita itu dibelakangku.

“Yoona-ssi?” panggil Ahjussi begitu melihat Yoona masih bersender di ranjang.

Yoona membungkukan badan sedikit lalu tersenyum sopan walaupun wajahnya pucat seperti kurang gizi.

Ahjussi langsung mendekati Yoona, “Kau baik-baik saja?”

Yoona tersenyum lebih indah, lebih manusia dibanding beberapa menit yang lalu. Ia mengangguk sekali, “Ye, gwenchana. Hanya mual.” Ia mendongak ke belakangku, tentu saja wanita itu menarik perhatiannya.

Ia memberikan tatapan ‘ini siapa?’ padaku, dan aku hanya terdiam.

“Oh Yoona-ya, ini Mrs. Zhang.” Ahjussi memperkenalkan wanita itu pada Yoona, Yoona mengernyitkan dahi tidak mengerti tapi ia masih tersenyum walaupun canggung.

Yoona kembali sedikit membungkukkan badannya dengan sopan, “Annyonghasseo. Im Yoona imnida.” Aku rindu melihat senyuman Yoona yang seperti manusia itu.

Wanita itu beralih mendekati Yoona dan langsung duduk disisi ranjang, memegang tangan Yoona.

“Kau hamil? Anakmu dengan Luhan? Apa aku akan mempunyai cucu?” wanita itu bertanya dengan ekspresi girang bukan main. Ia mengelus rambut Yoona, Yoona yang masih tersenyum canggung tidak mengerti dan melemparkan tatapan ‘ada apa ini? ia ibumu?’ padaku.

Aku berbalik dan keluar dari ruangan itu. Rasanya aku kehabisan oksigen disana.

TBC

Dear all the readers, ini Unrevealed Story chapter 3. Hope you guys
like it! Jangan lupa dikomen ya.
Btw, aku udah nemuin editor baru nih namanya qintazshk. Thanks new
editor and for the poster maker, makasih banyak. Suka banget sama
posternya!
XOXO, nikkireed

36 thoughts on “(Freelance) Unrevealed Story [3]

  1. suka dagdigdug setiap nemu judul ff ini(?) kapan luyoon nikah kak…………… oh jadi itu ibunya yang ngirim mobil, kirain aku mantannya luhan gitu(?) next chapter ditunggu authornim hehe

  2. huwahh ternyata yg kirim mobilnya ibu luhan. ahh aku salah paham.hehe.. senang yoona hamil tp luhan masih ragu eoh, segeralah menikah^^

  3. Hóho kirain siapa yg ngsih luhan mobil trnyata ibunya!
    Apaan ni si luhan blumm siap jdd ayah?
    Hhei klo blum siap. Knapa melakukannya!
    Huh!
    Next!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s