(Freelance) Heart Beat (Chapter 5)

yoong

HEART BEAT~5

Cast

Oh Sehun || Im Yoona || Xi Luhan

Ratting

Pg 15

Genre

Marriage life || Romance || Hurt || Sad || other

Author

Shin Hyuna @puncyalcica

Length

Sequel

Disclaimer

This story is mine, cast are belong to god

Warning

Bahasa bikin muntah,cerita berbelit,sulit dipahami#siapkan kantung kresek kalau perut kalian mual setelah baca ni epep

 

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, kurang satu jam lagi untuk menuju tengah malam, dan kurang 61 menit lagi untuk melewati hari yang cukup singkat ini, menurut seorang Im Yoona. Singkat? Ya, hari akan terasa begitu singkat jika kalian isi dengan kegiatan yang sangat menyenangkan, dan Yoona merasa hari ini berjalan seperti satu jam saja. Matanya masih belum tertutup, entah setan apa yang merasukinya sehingga ia terus saja membolak-balikkan badannya, terlihat gelisah, namun senyum yang sedari tadi terpasang diwajahnya membuat semua orang bertanya-tanya. Gadis itu bangkit menepuk-nepuk pipinya, kemudian berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sesekali ia terkikik, bermain atau bahkan mengingat kegiatannya seharian ini.

 

“Namja bodoh itu… Pergi kemana dia…” gumamnya, Yoona memejamkan matanya, mencoba mengundang rasa kantuk agar ia bisa segera tidur, bukan tanpa alasan, besok ada meeting dengan klien penting, dan ia harus mempresentasikan hasil audit keuangan didepan staff keuangan, ‘yang tentunya didepan Sehun juga’ batin Yoona bersorak gembira. Jemarinya nakal menyentuh bibirnya. Sekelebat bayangan kejadian beberapa jam lalu seperti roll film yang berputar diingatannya, peristiwa yang amat menjengkelkan juga menyenangkan. Tiba-tiba tubuhnya berjengit merasakan sensasi kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Hanya membayangkan Sehun menciumnya saja sudah membuatnya berbunga-bunga. Ia tak menyangka ‘suami’nya sangat hebat dalam urusan mencium wanita.

 

“Hentikan otak mesummu Im Yoona… Bisa-bisa aku gila memikirkannya terus-menerus, apa sebaiknya aku menceritakannya pada Seohyun ya?”

 

Yoona meraih hanphone di nakas tepi ranjang berukuran King size tersebut, beruntung ia selalu memprioritaskan beberapa orang penting untuk menjadi penghuni speed dial-nya sehinga ia tidak perlu repot-repot harus mencari. Hanya terdengar bunyi nada sambung tanpa ada respon yang berarti dari pemiliknya, seperti itu terus hingga membuat yeoja tersebut jengah dan memutuskan untuk berhenti.

 

“Apa mungkin dia sedang ada masalah ya?”

 

 

 

 

Seohyun duduk terpaku di sebuah restoran Jepang favoritnya, lebih tepatnya terpaku karena terpesona oleh namja yang kini ada dihadapannya, namja yang ia ceritakan pada sahabatnya, namja yang membuatnya terbayang kebaikannya dan sejuta alasan yang membuatnya tidak bisa melupakan namja keturunan China tersebut.

 

“Aghassi… Apa saya ditarik disini hanya untuk anda diamkan? Sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan?” ucap namja tersebut, tentu sangatlah tidak sopan menggunakan bahasa informal pada orang yang bahkan namanyapun tidak kau kenal bukan? Pikir Seohyun, menambah nilai plus namja ini di matanya.

 

“Aaah jeongmal mianhe… Namaku Seo Joo Hyun, anda bisa memanggilku Seohyun, dan tolong jangan seformal itu kepadaku, aku tidak terbiasa bicara seformal itu”

 

“Bukankah anda orang Korea asli?”

 

“Nde?” tanya Seohyun mengerutkan kening.

 

“Apa anda tidak diajarkan sopan santun oleh orang tua anda? Bagaimanapun juga anda harus menggunakan bahasa formal ketika berbicara dengan orang yang baru anda kenal”

 

Seketika itu pula wajah Seohyun memanas, ia begitu malu dan juga salah tingkah, lidahnya kelu untuk sekedar menyanggah atau setidaknya menaikkan nilai plus-nya dimata namja yang ia temui di China tersebut. Otaknya beku memikirkan cara keluar dari kondisi yang sangat tidak menyenangkan seperti ini, dan nampaknya namja di depannya tersebut sama sekali tidak berminat kepadanya. Padahal ia sudah bersusah payah untuk mengajak namja tersebut bertatap muka disini setelah tadi tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan.

 

“Jeongmal mianhamnida saya masih banyak urusan, saya harus pergi… annyeong” laki-laki tersebut beranjak pergi, sementara Seohyun masih gelagapan bermaksud untuk menahannya disini selama mungkin, masih banyak kata-kata yang belum ia ungkapkan, namun mungkin terlalu banyak hingga menyumbat mulut Seohyun, dan namja itu semakin menjauh…

 

“Chogiyo…” hanya itu saja yang mampu ia ucapkan, namun ia bersyukur namja itu mau menolehkan wajahnya.

“Siapa nama anda?” cukup kaku memang bahasa formal yang yeoja itu ucapkan. Jujur, yeoja bermarga Seo itu hanya menggunakan bahasa formal pada kedua orang tuanya saja, ia sangat jarang menemui orang baru, atau menyapa orang baru dikehidupannya.

 

“Xi Luhan, senang berkenalan denganmu nona Seo…”ucapnya kemudian sosoknya menghilang dibalik pintu keluar. Meninggalkan Seohyun dengan wajah memerah.

 

“Luhan… Ahh dia menggunakan bahasa informal kepadaku, dan… Tadi dia tersenyum?” gumamnya sambil terus tersenyum, kedua telapak tangannya mendekap wajah chubby-nya mungkin untuk meredam rona merah yang semakin menjalar di pipinya.

 

 

 

Sehun berdiri didepan pintu kamarnya, ada sedikit keengganan untuk memutar knop dan masuk keruangan tersebut, penyebabnya adalah didalam sana ada wanita yang membuatnya seperti ini, membuatnya seperti orang gila beberapa jam yang lalu, membuatnya berpikir berjam-jam di ruang kerjanya, dan kini membuatnya ragu sekedar untuk masuk ke kamar dan tidur. Setelah sekian lama berada dalam kebimbangan akhirnya Sehun masuk kedalam.

 

Tak ada yang berbeda, semuanya sama, hanya saja sosok Im Yoona yang biasanya menunggu hingga Sehun masuk kekamar sudah pulas tertidur di ranjang. Sejenak Sehun menghela nafas yang entah kenapa justru tertahan di dadanya. Memandang wajah itu membuatnya kembali mengingat hal terbodoh yang ia lakukan. ‘Mencium gadis yang ia benci’, Sehun terkekeh sendiri mendengar isi kepalanya. Benci? Ya dulu.

 

Dan kini namja itu terkejut dengan jawaban yang ia lontarkan, dulu ia membenci gadis yang tidur disebelahnya ini, bagaimana dengan sekarang? Blank, entahlah, tak ada suara apapun menyeruak didalam hati maupun otaknya, karena saat ini ia sedang berada sangat dekat dengan Yoona, hanya beberapa senti saja. Mata rusa yang indah itu terkatup, wajahnya begitu damai ketika tidur, dan oh dia baru sadar, Yoona memiliki rambut coklat yang sangat indah, hidungnya mungil seolah memang ditakdirkan untuk melengkapi pahatan lembut nan rapuh itu, juga bibir itu…

 

“Damn…” Sehun mengalihkan matanya dari pemandangan terakhir yang ia lihat, darahnya berdesir, jantungnya berpacu lebih cepat. Namja itu sibuk menenangkan debaran jantungnya, hingga akhirnya ia menyadari jika wajahnya sudah merona, dan sulit baginya untuk bernafas. Mirip dengan remaja-remaja yang sedang jatuh cinta. Sehun setengah beranjak dari ranjang ketika tubuhnya kembali ambruk untuk menangkap istrinya yang terguling hampir jatuh dari ranjang.

 

“Paboya….” desisnya kesal, lebih tepatnya tidak bisa ia lanjutkan, karena posisi yang sekarang jauh lebih membuatnya gugup. Sehun setengah menindih Yoona, mendadak ruangan menjadi sangat panas ketika pandangannya menyusuri wajah Yoona dan berhenti dititik pas, dimana Sehun sendiri yang merasa kecanduan mencicipi bibir gadis itu.

 

“Euungh…” lenguhan Yoona refleks membuat namja itu sadar dari lamunannya dan menjauh dari tubuh Yoona, sepertinya Oh sehun harus segera memperbaiki otaknya agar bisa berpikir sehat.

 

 

 

Pagi-pagi sekali Sehun memutuskan untuk berangkat ke kantor. Ia tidak mau menangggung resiko harus canggung dihadapan Yoona, kendati ia selalu bisa bersikap dingin dihadapan gadis itu namun ia tidak bisa menjamin jika sudah dihadapkan dengan wajahnya, tentu ia akan lebih terfokus pada bibir gadis itu, Sehun belum bisa membersihkan otak mesumnya. Oh ayolah… Bahkan Sehun seorang namja, namja mana yang bisa mengelak pesona Yoona?

 

“Oh Sehun? Angin apa yang membuatmu ke Kantor sepagi ini?” Suho mengikuti Sehun masuk kedalam ruangannya, kemudian membanting dirinya ke sofa putih gading di sudut ruangan.

 

“Waeyo hyung? Kau tidak suka aku berangkat awal? Apa kau takut aku memergokimu menggoda sekretarisku?”

 

Suho tergelak mendapat jawaban sarkastik dari Sehun, ia sudah terbiasa menjadi bulan-bulanan Sehun ketika namja yang menurutnya masih kekanak-kanakan itu sedang mengalami PMS versi lelaki, dengan menurunnya kadar mood, dan tidak stabilnya emosi. Memang Suho sering sekali menggoda Jung Krystal yang wajahnya hampir mirip dengan Yoona, namun itu hanya alasan belaka untuk menggoda Sehun, dengan mengatakan bahwa ‘ ia menyukai Krystal karena mirip dengan Yoona’ untuk membuat mantan adik kelasnya tersebut cemburu karena Suho tidak bisa move on dari Yoona, yang bodohnya tidak disadari oleh Sehun.

 

“Itu salah satu alasanku, dan… Oh Omo… Kau mirip panda sekarang Sehuna, apa olahraga semalam membuatmu begadang?” Suho menyipitkan matanya, sungguh ekspresi namja itu benar-benar membuat Suho tidak mampu menahan tawanya.

 

“Apa maksudmu hyung?” timpal Sehun dingin, dan sedetik kemudian wajahnyya memerah menyadari arti dari pertanyaan Suho. Selanjutnya Sehun hanya bisa mendumal tak jelas diikuti gelak tawa Suho yang terus saja mengejeknya.

 

 

 

Nyonya Oh menyantap kimchi goreng kesukaannya dengan wajah ceria, bagaimana tidak suaminya akan datang dari Luar negeri, itu pertanda kalau dirinya tidak akan kesepian lagi, jika Sehun, Yoona ataupun Luhan sibuk dengan urusan masing-masing diluar rumah. Dan tentu saja ia bisa menceritakan semua keluh kesahnya kepada sang suami tentang kehidupan rumah tangga Yoona dan putra satu-satunya, Oh Sehun, yang tidak menunjukkan tanda-tanda keharmonisan layaknya rumah tangga pasangan yang lain

 

“Emmonim… Gwenchan…” Yoona terpaksa membuyarkan lamunan mertuanya itu karena sedari tadi ibu mertuanya itu asyik menyantap makanan dengan senyum mengerikan terus terkembang di bibirnya.

 

“Ah.. Nde? Eum… Mianhe Yoona-ya, eomma tidak sabar menunggu kehadiran appa Sehun, rasanya sudah lama sekali eomma tidak melihat wajah tampan appamu itu…” jelas Nyonya Oh, yang ditanggapi kekehan serta senyum simpul dari Yoona dan Luhan.

 

“Luhan-ah, jadi berapa lama kau akan liburan disini eoh?”tanya Nyonya Oh.

 

Luhan terllihat berpikir sejenak, “Aku ingin menetap disini eomma…” jawabnya, sukses membuat Yoona berhenti menyantap sarapannya.

 

“Jinja?” Tanya Nyonya Oh antusias.

 

“Nde… Aku ingin mengembangkan hobi melukisku disini, dan… Tenang saja aku sudah di kontrak manajemen artis untuk menjadi model, so aku tidak merepotkan eomma lebih jauh lagi bukan? Hanya saja tolong biarkan aku menetap dirumah ini, eomma tahukan aku tidak bisa kesepian?” terang Luhan, ekor matanya melirik Yoona yang duduk didepannya. Sedangkan objek yang Luhan lirik hanya menunduk, meneruskan sarapannya.

 

“Tentu saja… Kau sudah kuanggap seperti putraku sendiri, Luhan-ah…” sambut Nyonya Oh hangat. “ Yoong… Sehun dimana?” tanya Nyonya Oh, baru tersadar jika putranya tidak berpartisipasi breakfast bersama yang rutin mereka lakukan.

 

“Eung… Sehun sudah berangkat ke kantor dulu eommonim…” sahut Yoona, sebenarnya ia tidak tahu-menahu keberadaan Sehun, karena sejak mereka pulang dari acara Hyundai groups, ia sama sekali tidak melihat Sehun, yang menurutnya sengaja menghindarinya.

 

“Anak itu… Bagaimana bisa dia meninggalkan istrinya sendiri?”

 

“Eomma… Aku bisa mengantarkan Yoona ke kantor…” Luhan mengajukan diri mengantar Yoona, hening sejenak sampai akhirnya Nyonya Oh mengangguk menyetujui usulan Luhan.

 

 

 

 

Suasana kaku menyelimuti dua insan berbeda jenis tersebut dalam perjalanan ke kantor Oh Corporation, tidak biasa memang, namun entah kenapa, mereka yang notabene bersahabat tersebut sangat kikuk. Mungkin rasa cinta yang diungkapkan oleh Luhan penyebabnya.

 

“Kenapa kau diam saja Yoong?” tanya Luhan memecah keheningan diantaranya, Luhan lebih suka menyetir dengan diiringi canda tawanya dengan Yoona, daripada harus stuck melihat kemacetan Seoul yang membosankan.

 

“Aniya oppa… Aku hanya sibuk dengan pikiranku saja” bohong, Luhan bisa membaca apa yang Yoona pikirkan. Hingga saat ni ia belum tahu apa yang Yoona rasakan terhadapnya, apakah ia hanya bertepuk sebelah tangan? Entahlah, yang jelas ia tidak pernah mendengar ungkapan perasaan dari yeoja disampingnya ini, dan itu membuat Luhan sedikit menerka-nerka apa perasaan Yoona sebenarnya.

 

“Apa kau merasa tidak nyaman hanya berdua denganku?” ekspresi Yoona langsung berubah, jujur saja ia memang tidak nyaman dalam kondisi seperti ini, namun ia tidak mau Luhan menjauh darinya. Apakah ia menyukai Luhan? Harus terlibat skandal percintaan saudara seperti ini membuat Yoona kebingungan.

 

“Asal kau tahu saja Yoong, sejak pertama kali melihatmu sampai sekarang, perasaanku padamu tidak pernah berubah, aku mencintaimu, sangat. Itulah alasanku bertahan dengan status single, aku menunggumu, membuka hatimu untukku” Luhan menarik nafasnya dalam, menyadari atmosfir semakin kaku diantara mereka. “… Dan ketika kau memilihku nanti, aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan dunia kepadaku, aku akan membawamu pergi ke China” lanjut Luhan. Tanpa terasa suara decitan mobil Luhan membuyarkan lamunan Yoona yang terus menatap Luhan, tanpa bisa diartikan tatapan apa itu.

 

“Baiklah, semoga sukses dengan presentasimu nanti Yoong, hwaiting…” ucap Luhan mengepalkan tinjunya didepan wajah Yoona, sedikit mencairkan suasana.

 

“Gomawo oppa…” ucap Yoona, gadis itu melambaikan tangannya kearah mobil Luhan yang semakin menjauh. Gadis itu tidak segera masuk ke tempat kerjanya melaikan mematung, memandangi mobil Luhan yang sudah menghilang ditelan keramaian kota Seoul.

 

“Yoona ssi… Ayo kita masuk…” sapa Park Jaebum rekan sedivisinya.

 

“Ah, nde.. Jaebum ssi” balas Yoona, mengekori Jaebum.

 

 

 

Jika kau sudah mengenal seseorang bertahun-tahun dan mengenalnya dengan begitu dekat, tentu kau akan tau apa yang orang itu pikirkan melalui ekspresinya, maupun tingkah lakunya, namun itu berbeda dengan seorang Kim Joon Myun atau Kim Suho, yang justru sulit mengartikan apa yang Sehun pikirkan. Namja yang terpaut usia 3 tahun lebih muda darinya itu hanya memasang ekspresi diam, dingin, kaku. Suho hanya bisa menganalisa jika sahabatnya ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja setelah melihat pemandangan diluar kantornya. Yoona keluar dari mobil yang Suho kenali sebagai mobil milik Xi Luhan. Dan ekspresi Sehun berkali lipat tak bisa dibaca ketika melihat Yoona yang beberapa saat terpaku kearah perginya mobil Luhan.

 

“Mau sampai kapan kau terus seperti itu, ayo kita ke divisi keuangan…” ucap Suho. Sehun menghela nafas kasar kemudian pergi ke ruang divisi keuangan yang ada di lantai 3 gedung yang terletak di daerah Gangnam tersebut. Sepanjang perjalanan, banyak karyawan yang berbisik-bisik mengomentari penampilan Sehun dengan mata pandanya. Biasanya atasan mereka berwajah cerah dengan gestur tegas tanpa sedikitpun kekurangan pada penampilannya.

 

“Walaupun begitu ia tetap terlihat sangat tampan…” begitu sekelebat percakapan yang ia dengarkan ketika Sehun melewati divisi pemasaran.

 

Sehun diiringi Suho dan juga tak lupa Krystal sampai di ruang meeting khusus staff keuangan, disana sudah tertata rapi dokumen juga layar slide yang menampilkan beberapa bagan maupun kurva yang akan di gunakan untuk presentasi nanti.

 

“Annyeong hasseyo Oh Sajangnim…”

 

“Annyeong…” balas Sehun dingin, membuat suasana ruangan semakin tegang. Yoona tak henti-hentinya meremas tangannya karena gugup. Ini presentasi pertamanya didepan para petinggi Oh Corporation, mulai dari CEO, Direktur utama, Staff kantor cabang, dan perwakilan dari divisi lain. Memang dari presentasi yang akan diajukan Yoonalah mereka bisa mengetahui sejauh mana perkembangan bisnis Oh Corporation, pendapatan tahun ini, dan penanaman saham dari perusahaan lain.

 

“Annyeong hasseyo, naneun Im Yoon Ah imnida, saya mewakili divisi Keuangan untuk menyampaikan keseluruhan rekapitulasi keuangan, neraca keuangan serta laba/rugi Oh Corporation tahun ini…” Yoona mulai membuka slide yang menggambarkan diagram batang, dari sana semua bisa tahu perbandingan pemasukan dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Sehun terus memperhatikan dengan seksama apa yang Yoona sampaikan, pada awalnya, hingga Suho terus merecokinya dengan hal-hal yang tidak penting.

 

“Yoona ssi benar-benar berkompeten… Ah kau beruntung memiliki istri cerdas sepertinya Sehunna…” bisik Suho, death glare yang Sehun layangkan tidak cukup membuat Suho menghentikan godaannya, yang masih mampu didengar oleh Krystal yang duduk disamping kiri Sehun, mencatat poin penting presentasi Yoona. Gadis itu sibuk menahan senyumnya.

 

“Ditambah kontrak dengan Hyundai groups yang sudah tersebar di kalangan luar, semakin menarik minat investor asing untuk ikut menanamkan modal, sehingga dalam tempo enam bulan saja kita mendapatkan lonjakan pendapatan yang signifikan…” Sehun semakin tidak bisa berkonsentrasi sangat terbalik dengan Yoona, entah kekuatan dari mana ia begitu lancar mengucapkan materi yang ia presentasikan, ia sangat leluasa menguasai perhatian audience sehingga semua hanya tertuju padanya.

 

“Benar-benar mengesankan…” gumam Suho.

 

“Berhentilah hyung, aku tidak bisa konsentrasi” tekan Sehun dengan nada rendah.

 

Tatapan membunuh Sehun tak sengaja tertangkap oleh Yoona, konsentrasinya sedikit buyar ketika pikiran-pikiran negatif bahwa Sehun kecewa dengan presentasinya menghantui.

 

“Saya rasa cukup sekian presentasi dari saya, mungkin ada yang ingin mengajukan pertanyaan?” tanya Yoona. Dan semua terlihat tersenyum puas dengan penyampaian rekapitulasi yang ia bawakan. “ Baiklah saya akhiri disini, gamsahamnida…” ucap Yoona membungkukkan badan.

 

“Kau hebat Yoona ssi” seru Chorong. Yoona juga mendapat pelukan dari rekan-rekan satu divisinya.

 

“Ahhh Yoona ssi kau hebat..”

 

Park Jaebum merentangkan tangannya hendak memeluk Yoona, namun ia urungkan ketika matanya bertemu dengan death glare dari CEO Oh Corps.

 

“Gomawoyo…”

 

 

 

“Oppa… Toloooong…” gadis kecil itu terus hanyut ditengah aliran sungai yang deras, namja kecil itu terus berlari menyusuri tepi sungai, sesekali ia melemparkan dahan kayu untuk digenggam gadis kecil itu, namun larinya terhenti, ketika ia sudah tak menjumpai gadis kecil itu dipermukaan air sungai.

 

“Yoona-ya… Yak… Kwon Yoona kau dimana?” teriak namja kecil itu, air matanya berjatuhan, mengingat kemungkinan terburuk. “Yoona-ya…. Yoona kau dimana…” teriaknya histeris.

 

“Oppa… Apa yang terjadi? Dimana Yoona?” tanya sosok gadis kecil dengan membawa sekeranjang kue beras.

 

“Yoona menghilang Yul-ah… Yoona menghilang…”

 

“Yoong… Yoona……”

 

 

 

“Sajangnim… Apa anda baik-baik saja?”

 

Siwon tersadar dari lamunannya, ia menatap Junsu lekat-lekat. “Jdi, tidak ada catatan masa kecil dari Oh Yoona?” tanya Siwon.

 

“Sepertinya seseorang sudah menghapus semua sajangnim…” terang Junsu.

 

Siwon memijat kepalanya yang berdenyut, Yoona, Im Yoona begitu mirip dengan Kwon Yoona. Terlebih matanya. Lima belas tahun sudah Siwon hidup dalam penyesalan, karena tidak bisa menyelamatkan Yoona saat itu, ia begitu tersiksa terlebih kini ia hanya bisa melihat Yuri sahabatnya, terpaksa bekerja keras akibat keluarganya yang hancur berantakan semenjak perginya Yoona. Nyonya Kwon begitu tertekan hingga mentanya terganggu, dan kini masuk Rumah Sakit Jiwa, Tuan Kwon dijeruji besikan karena perusahaannya mengalami paillit dan tidak sanggup membayar hutang ke Bank.

 

Terdengar ketukan dari pintu masuk kantornya.

 

“Choi sajangnim, nona Hwang ingin bertemu dengan anda…”

 

“Biarkan dia masuk nona Kwon…” ucap Siwon, yang dibalas dengan anggukan dari sekretarisnya. Kwon Yuri.

 

“Oppa….” teriak Tiffany begitu masuk ke ruang Siwon, Tiffany memeluknya hangat, melalui kedikan dagunya Siwon memerintahkan Junsu untuk keluar. “..bagaimana kabarmu hemm? Apa oppa tidak merindukan sepupumu yang cantik ini?” tanya Tiffany bergelayut dilengan Siwon manja.

 

“Bagaimana dunia entertainmu itu?” tanya Siwon tanpa menggubris pertanyaan Tiffany.

 

“Yak… Kenapa kau mengalihkan pembicaraan?” gadis itu memasang wajah menggerutunya, yang membuat Siwon tergelak dengan tingkah kekanakan sepupunya tersebut.

 

“Kau ini masih saja kekanakan” kekehnya pelan.

 

“YAKKK!!”

 

 

 

Yoona berjalan menuju ke Cafetaria ketika jam makan siang sudah tiba, perutnya sedikit tidak bisa diajak kompromi saat ini, sehingga ia berjalan terburu-buru. Diujung lorong Sehun sudah menunggunya, namja itu bersandar di dinding lorong yang cukup sepi itu. Yoona memelankan langkahnya, ia salah tingkah ketia ia bertemu dengan Sehun, Yoona justru mengingat kejadian semalam.

 

“A-annyeong..” sapa Yoona kaku, memaksakan senyumnya.

 

“Apa pantas kau melakukannya?”

 

“Nde?” Yoona mengerutkan dahinya begitu Sehun mengajukan pertanyaan yang jujur saja sulit untuk ia mengerti.

 

“Jangan berpura-bura lagi, apa pantas kau melakukannya bersama Luhan hyung?” tanya Sehun, suaranya naik satu oktav. Namja itu marah, tepatnya menahan amarahnya hingga membuat kulit seputih susu itu memerah.

 

“Apa maksudmu?” tanya Yoona semakin kebingungan.

 

Dan Sehun menarik paksa Yoona kearah Lift. Menekan tombol lantai 5, dengan tergesa-gesa menaiki tangga dan sampailah kini mereka diatap gedung. Berkali-kali Sehun membuang nafasnya kasar.

 

BRAAKKKK

 

Yoona tersentak melihat Sehun memecahkan pot bunga didepannya dengan wajah yang benar-benar marah…

 

Apa yang dilakukan namja ini?

 

 

 

 

 

 

 

TBC…..

Annyeong I’m back ada yang menantikanku? Nggak… Aku bener-bener minta maaf buat readers yang kebingungan di chapter yang lalu gara-gara typo besar yang kubuat… Sehrusnya kemarin memang chap 5 eh malah lupa… Mian ne… Jeongmal mianhamnida… Jangan lupa RCL ok…. Don’t be SIDERS..

79 thoughts on “(Freelance) Heart Beat (Chapter 5)

  1. Ahhh sehun cemburu nih😂😂😂😂.. Mkx sehunie jgn so jaim dh. Klo sk blg aja .jgn marah” mulu kerjax. Hahahahah😂😂😂😂

  2. Waaah sehun cembokur berat niih,,daann penasaran juga syapa yg bikin sehun jd namja arogant and dingin spti itu,, bahkan sampe ingin membunuhnya (chapt4ygdobel).. Apa dy luhan?? Tp ap masalahnya? Waahh bener2 bikin penasaran deeeh..
    Blm ada kelanjutannya yaa?? Kapan d ╔╗╔═╦═╗╔╦╦╦══╗
    ║║║║║║║║║║╠╗╔╝
    ║╚╣╦║║╠╝║║║║║
    ╚═╩╩╩╩╩═╩═╝╚╝ niih?? D tunggu bgt,,hwaiting saengi….

  3. thor, ditunggu lanjutan partnya^^
    Sehun kelihatan cemburu banget ya sampe marah marah kek gitu :O suka banget sama emosi Sehun kek gitu^^ #plakk
    Luhan beda banget waktu sama Yoona ato waktu sama Seohyun xD entah kenapa di chaptet ini aku suka sama partnya Luhan yg seakan akan bersikap manis ‘hanya’ ketika sama Yoona🙂

  4. Akhh,.. Makin d bkin penasaran sma chapter berikutnya.., si sehun cemburu bgtzz tuh,. Sumpahh, ska bgtss sma karakter sehun plus ceritanya keren.
    D tunggu next partnya.,! FIGHTING

  5. Sehun cemburu?bagus” haha. Siwon itu siapanya yoona? Semoga aja nantinya gk mengganggu hubungan sehun yoona. Luhan sama seo aja udah

  6. Aduh penasaran tingkat Yoona eonni😀 *lol
    Sehun beraksi nih, huwaa makanya jangan sok jaim dong. Haha
    Seo suka Luhan? Pasti Luhan akhirnya bersama Seo dan meninggalkan Yoong eonni kan? *soktau u.u*😀
    Tif sama Siwon jangan sampe menjalin hubungan yah thor? Pliss meskipun mereka sepupuan *gakrela*
    Keep waiting~
    Next part jangan lama2!
    Fighting!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s