(Freelance) Multichapter : Married Without Love (Chapter 2)

Married Without Love

 e6fecbcde34764a70ec1a45edb372fde

 

By                   : DeerBurning

Main cast         : Im Yoona, Wu Yi Fan a.k.a Kris Wu

Other cast        : Oh Sehun, Choi Soo Young.

Genre              : Marriage life, Romance, Comedy (maybe)

 

Chapter 2

“Hyesung-ah tolong aku Hyesung-ah!” tariakan gadis kecil itu tak mengusik aktifitas pria-pria bertubuh gempal yang sedari tadi menyeret badan ringkihya menjauh dari kejaran polisi.

Teriakan dan air mata itu terasa terendam dalam kepekatan malam dan bising pistol yang saling beradu tembakan peluru, seakan jadi nyanyian malam pengantar tidur. Ia terus menangis dan berteriak memanggil sahabatnya Hyesung ketika ia menyadari salah seorang pria berbadan kekar menyentuhkan ujung pistol tepat di samping pelipisnya.

“jatuhkan senjata kalian, atau ku tembak anak ini!” teriak pria itu tanpa melepas pistolnya dari pelipis Yoona. Ya benar, gadis kecil itu adalah Yoona, Im Yoona..

Dengan perlahan polisi-polisi itu mulai meletakkan senjata mereka. Yoona hanya terdiam, badannya lemas, otaknya lumpuh. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa melihat Hyesung sahabatnya yang menangis, rasa bersalah mulai menjalari hatinya. Tak seharusnya Hyesung disini dan terlibat hal semacam ini.

Ia mencoba tenang dan memutar kembali otaknya yang sialnya sangat lambat, ia mencoba mencari cara untuk lepas dari bekapan pria kekar yang sedari tadi mendekap tubuhnya dengan posesif.

Ia melihat Hyesung menggelengkan kepalanya pelan ketika melihat kode darinya untuk kabur, tapi ia tak memperdulikannya. Yang ia fikirkan adalah, ia dan Hyesung harus kabur dan selamat.”Aww!” teriak pria bertubuh kekar yang membekap mulutnya ketika tangannya berhasil Yoona gigit, hal ini segera Yoona manfaatkan, dengan cekatan ia melepaskan diri dan segera lari.

“Yoongi-ah! Awas!” ia merasakan tubuhnya terdorong ketika suara bising itu berdengung ditelinganya.

DOR!

“Hyesung-Ah! Andwae!!”

.

 

Yoona bangun dari tidurnya. Dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang memburu tak beraturan. Tubuhnya gemetaran hebat, keringat dingin membasahi dahi serta tubuhnya secara tak lazim. Ia memejamkan kedua mata, mencoba untuk menghilangkan bayangan yang baru saja berhasil menghancurkan tidur cantiknya.

Dengan posisi terduduk, gadis itu mencoba mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak. Kejadian itu kembali datang, merobek luka yang sekian tahun coba ia sembuhkan. Seluruh kisah kelam dalam hidupnya kembali terbuka dan kembali, rasa bersalah yang coba ia lupakan kembali menganga, siap menghantui hidupnya lagi.

Dengan nafas yang sedikit tersenggal, Yoona meremas rambutnya kasar ‘Kenapa mimpi mimpi itu muncul kembali? Sial’ batinnya. Kenapa kejadian yang sudah bertahun-tahun berlalu masih menghantuinya? Bahkan sering mengganggu tidurnya, hingga kadang membuat Yoona takut untuk memejamkan matanya kembali.

Ia menghempaskan selimutnya kasar, dan segera beranjak turun dari tempat tidur, ia menoleh kearah samping, ditatapnya Kris yang sedikit bergerak karena tindakan turun dari tempat tidurnya secara tiba-tiba, sedikit kelegaan muncul di hatinya ketika mendapati Kris yang kembali tertidur pulas bersama mimpi indahnya.

.

Ia membuka pintu kulkas kasar. Yoona segera menyambar sebotol minuman mineral dan segera menandaskan isinya dalam hitungan detik. Dan setelahnya ia segera mengambil benda beku berwarna coklat dan segera menyantapnya kalap.

Hanya benda inilah satu-satunya hal yang bisa membuatnya tenang ketika mimpi buruk itu kembali menghantuinya.

Setetes air mata berhasil keluar dari persinggahannya, dan segera ia hapus dengan kasar. Dadanya bergemuruh hebat. Rasa takut dan bersalah itu kembali muncul. ‘Hyesung-Ah, mianhae~’ bisiknya bergetar. Dan seketika tangisnya pun pecah. Ia tak bisa menahannya lagi, tembok yang sedari tadi coba ia bangun, luluh lanta dalam sekejap.

 

.

 

“Oppa, kau sudah bangun?” teriak Yoona girang ketika ia melihat Kris turun dari tangga. Matanya terus mengawasi setiap pergerakan Kris, mulai dari caranya berjalan menuruni satu persatu anak tangga hingga melangkah mendekatinya di meja makan.

“perkenalkan, ini Kim Ahjumma, beliau akan mengurus keperluan kita disini.” Yoona memperkenalkan wanita paruh baya yang berada didekatnya.

Kris mendekat dan memeluk erat tubuh wanita paruh baya itu. Senyum tulus menghiasi wajah tampannya. Yoona berani bersumpah, baru kali ini ia melihat pria es ini tersenyum sedemikian tulusnya, yang beberapa detik berhasil menghipnotisnya.

‘Ehem’ Kris berdehem, dan berhasil membuyarkan lamunan Yoona.

Yoona tersenyum kikuk ketika ia menyadari bahwa ia tertangkap basah sedang memandangi Kris. Ia berdehem pelan untuk menghilangkan serak di tenggorokannya. “Oppa, kau tidak boleh seperti itu. Ini Korea oppa, kau harus menundukkan badanmu 90 derajat dan memperkenalkan dirimu secara formal.” Kata Yoona tak percaya, bagaimana bisa dia menyapa seorang yang lebih tua darinya dengan cara seperti itu? Apa karena terlalu lama tinggal di Amerika hingga ia lupa akan adat istiadat tanah kelahirannya? Kau harus ingat Kris ini Korea bukan Amerika.

“Wae? Apakah ada yang salah?” Tanya Kris, lalu ia tersenyum kearah Kim ahjumma.

“nona, dia memang begitu. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri.” Kata Kim ahjumma, dan berhasil membuat dahi Yoona berkerut. “aku sudah menjadi pengasuhnya sejak dia berusia 3 bulan.” Lanjut Kim ahjumma.

Alis Yoona saling bertautan. Apa dia tak salah dengar? Apa yang ahjumma bilang? Pengasuh sejak usia 3 bulan? Pengasuh siapa? Kris? Ah ya tuhan jadi Kim ahjumma adalah pengasuh Kris sejak dia masih bayi? Dan sekarang apa? Ia malah sok akrab dan dengan ‘sok’ memperkenalkannya pada Kris, dan apa tadi? Ia berani menyuruh Kris bersikap sopan pada wanita yang baru beberapa menit lalu ia kenal. Dan lebih parahnya lagi, wanita itu adalah orang yang telah merawat Kris hamper seumur hidupnya. Ahh ya tuhan…

Yoona menunduk malu, dan memilih segera menundukkan tubuhnya di kursi meja makan. Ia dapat melihat Kris tersenyum mengejek kearahnya. Ya tentu saja, mana mungkin ia tak mengejek Yoona. Walau hanya dalam hati tentunya.

Yoona memilih untuk diam dan menyantap pancake madu buatan nya sendiri.

“kau tidak makan nasi?” Kris membuka percakapan pagi ini.

Yoona hanya menggelengkan kepalanya tanpa niat untuk mendongak. Rasanya ia begitu malu untuk melakukan hal itu. “aku tidak terbiasa sarapan dengan nasi oppa.”

Dan Kris hanya be Oh ria mendengar jawaban Yoona tanpa ada niat bertanya lebih jauh lagi. Ia tak ingin terlibat jauh dengan gadis itu.

.

Hari ini Yoona berangkat bersama Kris, alasannya? Tentu saja karena ia tidak membawa mobilnya, dan juga ia tak ingin mengambil resiko yang bisa membuatnya terlambat sampai butik. Karena ia belum pernah sekalipun menaiki kendaraan umum selain taxi, lagi pula butik Yoona searah dengan kantor Kris. Jadi tidak masalah bukan?

Dalam perjalanan, tak ada percakapan apapun diantara mereka berdua. Hanya suara hembusan nafas yang mengisi mobil mewah itu.

 

Yoona POV

Semakin lama kecanggungan ini semakin terasa dan membuatku makin tidak nyaman. Akhirnya aku memutuskan untuk membuang egoku dan memulai percakapan dengannya.

‘Eghem’

Aku berdehem untuk membiasakan suaraku yang mulain terasa serak karena terlalu lama terdiam. “hari ini oppa pulang jam berapa?”

Aku hanya bisa mendengar suara nafasnya yang teratur. Ia sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari depan atau setidaknya menoleh kearahku sebentar. “molla, aku belum melihat jadwal”.

Lihat! Pria ini, ia tak memandangku sedikitpun. Ya! Kris Wu orang yang mengajakmu bicara ada di sampingmu bukan di depanmu! Aish orang ini benar-benar menyebalkan. Aku tidak boleh menyerah, aku kembali memasang wajah manisku. “hari ini mungkin aku akan pulang lebih awal, jika oppa tidak adajadwal, aku akan menunggu oppa. Tapi jika oppa pulang malam, oppa tidak perlu menjemputku. Aku akan pulang naik taksi.”

“hem.” Kris hanya mengangguk sebagai jawabannya. Lihatlah wajah datarnya itu. Apakah berkata ‘iya’ begitu sulit baginya? Aku memilih menegakkan tubuhku dan kembali fokus kedepan, aku tidak ingin membuang-buang tenagaku hanya untuk meladeni pria dingin ini. tapi saat berbalik, ekor mataku berhasil menangkap sesuatu yang janggal di leher Kris. tunggu! Dia tak memakai dasi? Apa dia lupa tak memakainya? Aku segera berbalik menghadapnya kembali.

“Oppa!”

Entah karena terlalu kaget atau karena tak fokus, ia mengerem mobilnya dengan cepat, tak lama kemudian aku mendengar ia berteriak kearahku. “Ya! Im Yoona, apa kau sudah gila? Kau membuatku terkejut. Apa kau ingin kita terlibat kecelakaan?” bentak Kris.

Dan aku pun hanya bisa meringis melihat kemarahannya. “oppa, kau tak memakai dasi?” tanyaku dengan memasang wajah sepolos mungkin.

Ia mendengus tak percaya. Sepertinya ia sangat jengkel padaku. Dadanya naik turun menahan amarah. “ hanya itu? Kau berteriak dan hampir membuatku kecelakaan hanya demi bertanya aku memakai dasi atau tidak? Kau sudah gila nona Im.”

Dengn sekali hentak Kris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ngerem mobilnya dengan kasar, hingga membuat tubuhku terpelanting kedepan dan tertarik kebelakang kebali kebelakang berkat seatbelt yang kupakai.

“Turun!” perintahnya tanpa menoleh sedikitpun. Sedetik setelah aku menutup pintu penumpang ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat ujung rokku sekit melayang searah dengan angin yang ditinggalkan mobilnya.

“ya! Apakah aku salah? Aku hanya mencoba untuk memperhatikanmu!” teriakku, yang kuyakini tak mungkin ia dengar.

 

.

 

Aku merenggangkan tubuhku, menarik urat-urat tubuhku yang mulai terasa kaku. Hari ini butik sangat ramai, belum lagi persiapan untuk fashion show ku 3 bulan lagi yang memaksaku dan Soo Young bekerja ekstra. Aku menyapukan pandanganku kesekitar, menyusuri setiap inci ruangan bernuansa putih ini dengan liar. Hingga akhirnya mataku terkunci pada sebuah titik yang sedari tadi aku cari. Aku melihat Soo Young yang sedang sibuk dengan kertas dan pensil warna ditangannya. Ingin sekali aku kesana dan mengganggunya, tapi sepertinya aku harus mengurungkan niat jahilku, karna aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Soo Young tak akan melepaskan ku, ia akan berteriak kencang dan memukul bahu ku hingga ia merasa puas.

Aku bergidik ngeri ketika mengingat kapan terakhir kali aku melakukan hal tersebut padanya. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas, saat itu ia memukul pahaku dengan penggaris kayu yang biasa ia gunakan untuk mengukur kain yang ia gunakan untuk membuat rancangan bajunya, bahkan aku harus merasakan sedikit lebam ketika tanpa sengaja tulang sikunya mengenai pelipisku. Dan sepertinya aku harus befikir dua kali agar kejadian itu tak terulang kembali.

Untuk kesekian kalinya aku menguap karena bosan. Aku memainkan ponselku, memutarnya diatas meja dengan sesekali bersenandung tak jelas. Demi tuhan aku bosan sekali. Aku melirik arloji ditangan kananku. Sudah hampir pukul 5 sore, dan lihatlah si manusia tiang itu masih saja betah dengan sketsa-sketsa ditanganya. Apakah ia tak lelah dan ingin segera pulang?

Aku menguap lagi. Sepertinya Kris akan pulang malam. Dan itu artinya dengan terpaksa aku harus pulang sendiri. Menggunakan taksi atau apapun asalkan aku bisa pulang dengan selamat. Tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalaku. Dengan segera aku mengambil ponselku dan mengetik angka 1 untuk panggilan cepat.

Aku tersenyum senang ketika menyadari orang di seberang sana mengangkat panggilanku.

Yeobosseyo~ Sehunna.. apakah kau sibuk?”

“—“

“ah jinjja? Aku hanya ingin menagih janjimu.”

“—“

“Ya! Kau melupakannya?” Aku mendengus tak percaya. “kau berjanji akan mentraktirku eskrim. Kau melupakannya?”

“—“

“aish.. kau ini, apakah mempermainkanku membuatku bahagia? Aku akan menunggumu di butik.”

“—“

“ baiklah, annyeong.”

Aku memutuskan sambunganku dengan Sehun. Dengan segera aku merapikan seluruh peralatan, memilah-milah apa yang akan aku tinggal dan aku bawa pulang. Malam ini aku berencana untuk menyelesaikan desainku dirumah. Ah aku hampir lupa, aku mengeluarkan sesuatu dari tasku, dengan sedikit tergesa aku menyapukan sedikit bedak mencoba menyamarkan kerutan lelah diwajahku, lalu memoleskan sedikit lipstick dibibir untuk menghilangkan kesan pucat. Em.. kurasa sudah cukup.

Setelah selesai dengan acara berbenah-benah, aku segera berpamitan dengan Soo Young dan berlari ke pintu keluar. Senyum ceria tak bisa lepas dari wajahku ketika mendapati Oh Sehun sudah berdiri dengan kerennya di samping pintu mobil berwana putih miliknnya.

 

Yoona POV end.

 

.

 

Kris POV

Untuk yang kelima atau bahkan keenam kalinya aku menguap. Aku sudah benar-benar lelah dan bosan. Ku lirik arloji ditanganku. Masih pukul 4 lebih 15 menit, rapat sudah selesai sekitar 55 menit yang lalu, sedangkan beberapa pegawai di kantor sudah pulang 30 menit setelah rapat berakhir. Aku bingung harus harus berbuat apa, haruskah aku pulang? Tapi aku belum pernah sekalipun pulang se sore ini. aku lebih sering pulang pukul 7 atau bahkan tengah malam. Terlebih saat perusahaanku hapir bangkrut beberapa hari yang lalu, aku lebih sering menghabiskan waktuku di kantor ketimbang pulang kerumah.

Dan kali ini lihatlah, aku berada diruang sebesar ini sendirian tanpa melakukan apapun. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu ‘Yoona’, apakah dia sudah pulang? Haruskah kau menjemputnya? Tapi bagaimana aku tahu dia sudah pulang atau belum. Bagaimana jika aku kesana dan ternyata dia masih sibuk dengan pekerjaannya, atau lebih parahnya aku sudah terlanjur menunggunya dan ternyata dia sudah pulang? Tidak lucukan?

Tapi bodohnya hati kecil ku tak mau menuruti semua fikiran itu, hati nuraniku terus memberontak, memaksaku untuk tetap menjemputnya, bagaimanapun juga kami berdua berangkat bekerja bersama, dan bukankah sudah seharusnya jika kami pulang bersama? Benar bukan?

Aku melirik arlojiku kembali. Sudah sekitar 10 menit aku menunggunya didalam mobil. Aku sedikit meruntuki kebodohanku yang tidak memintanya bertukar nomor ponsel tadi pagi. Bagaiman jika aku terlanjur menunggunya lama, dan ternyata dia sudah pulang? Bukankah hal itu sangat menjengkelkan?

Tapi tidak mungkin dia sudah pulang, butik ini bahkan belum menunjukkantanda-tanda akan tutup. Aku yakin dia pasti masih berkutat dengan kertas dan pensil bodohnya itu. Aku memilih menunggunya sebentar lagi sambil memainkan game di ponselku.

Sudah lebih dari 30 menit aku menunggunya, dan tak ada tanda-tanda ia keluar. Haruskah aku menyusulnya masuk?

Aku mengurungkan niatku, ketika manik mataku bertemu dengan tubuh kurusnya. Senyum lega terukir diwajahku, aku terus mengikuti kemana arah gadis itu pergi.

Tunggu! Siapa pria itu? Apakah dia kekasih Yoona? Atau temannya? Ah.. Tapi tidak mungkin jika mereka hanya berteman, lihat binar mata Yoona saat menatap pria itu.

Ah.. Ternyata dia sudah di jemput kekasihnya, lalu untuk apa aku kesini? Segera aku meruntuki kebodohanku yang tak mau menuruti egoku untuk tak memperdulikannya. Aku melajukan mobilku kencang melewati sepasang kekasih yang sedang asik mengobrol di depan mobil.

.

 

Aku memutuskan untuk kembali kerumah ketika tak berhasil merayu sahabat-sahabatku untuk pergi keluar. Mereka semua beralasam sedang sibuk. Baekhyun beralasan masih ada rapat dengan kliennya, Suho bilang perusahaanya sedang ada masalah sehingga ia tak bisa meninggalkan kantor dengan cepat, dan Chanyeol, ia beralasan jika ada kencan dengan kekasihnya. Bodoh bukan?

Jam baru menunjukkan pukul 5 lebih 35 menit. Tapi rumah ini begitu sepi. Kim ahjumma sudah pulang, ia memang tak menginap disini. Ia hanya bekerja dari jam 6 pagi hingga jam 5 sore. Ia beralasan tidak bisa tinggal disini karena harus menjaga suaminya yang sedang sakit. Tak apalah, setidaknya ia tak bisa menjadi mata-mata eommanya yang 24 jam bisa mengawasi kegiatannku bersama Yoona.

Aku melangkahkan kakiku kedapur, mengambil segelas air minum dan meneguknya habis. Aku membuka tudung saji, dan menemukan beberapa masakan yang memang sepertinya ahjumma siapkan untuk makan malamku bersama Yoona. Aku menutupnya kembali, dan memilih kekamar untuk membersihkan diri.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Yoona. Aku memilih menutup laptop dihadapanku dan beralih menyalakan tv. Aku sudah lapar, dan Yoona belum kembali. Haruskah aku makan malam dulu?

Ahh aku lupa, bukankah Yoona sedang bersama kekasihnya? Bisa dipastikan Yoona sudah makan malam bersama pria itu. Lalu untuk apa aku menunggunya? Eits.. tunggu dulu! Menunggunya? Tidak aku tidak menunggunya. Aku hanya tidak ingin makan sendiri.

Belum sempat aku menegakkan tubuhku, telingaku menagkap suara decitan pintu. Aku melihatnya membuka pintu depan, dan lihatlah! Wajahnya begitu berbinar. Apa sebahagia itu rasanya berkencan? Hah! Aku sudah benar-benar melupakan rasanya.

“OMO! Oppa! kau mengagetkanku!” teriaknya. Nampaknya ia tak menyadari keberadaanku.

Aku tak ingin memperdulikannya. Dengan segera aku berjalan menuju dapur, menyalakan kompor untuk memanaskan sup nya kembali. Aku mendengar suara langkahnya mendekat, sepertinya ia menyusulku kedapur. Dan benar saja, ketika aku berbalik aku melihatnya tepat dihadapanku, dengan senyuman yang eerr… bodoh!

Aku menatapnya tajam. Tak suka dengan tindakannya yang muncul dengan tiba-tiba seperti ini. “wae?” tanyanya polos.

Aku hanya mengedikkan bahu tak perduli, dan berjalan menjauh darinya. Ia duduk dihadapanku. Wajahnya masih sama seperti saat pertama kali datang kerumah. “wae? Apa kau juga ingin makan?” tanyaku mulai risih.

Ia menggelengkan kepalanya. Dan ‘sialnya’ senyum bodoh itu tak lepas dari wajahnya. Aku memilih tak memperdulikannya, dan beranjak mengecek sup yang tadi aku panaskan.

“selamat makan oppa. Aku akan kekamar.” Aku mendengar ia berbicara padaku, sebelum ia berlalu pergi.

 

Kris POV end

 

.

 

Author POV

Setelah membersihkan diri, Yoona memilih bersantai di sofa depan tv, ditemani majalah fesyen ditangan kiri dan kripik kentang di tangan kanannya.

“kau tidak tidur?” Tanya Kris yang ‘sepertinya’ sudah selesai dengan acara makan malamnya.

“aku belum mengantuk oppa. Kau tidurlah lebih dulu.” Jawab Yoona tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah.

Kris memilih bergabung dengan Yoona. Ia membuka laptop nya kembali, dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda beberapa saat yang lalu karena aksi perutnya yang lapar.

“Yoon, ambilkan ponselku.” Perintah Kris pada Yoona, dan tetap fokus pada layar dihadapannya. Yoona tak menyahut. Akhirnya ia memutuskan untuk menyenggol kaki Yoona. “Ya! Kenapa kau menggangguku?” teriak Yoona kesal.

“aku bilang ambilkan ponselku, bodoh.” jawab Kris dan tetap tanpa memalingkan pandangannya dari layar.

Yoona yang kesal akhirnya memilih mengalah, dan menurunkan majalah yang sedari tadi menutupi seluruh wajahnya. Ia tersenyum evil, ketika fikiran jahil melintas di otaknya.

“ini!” kata Yoona kesal.

Kris masih fokus dengan laptopnya, ia mencoba meraih ponsel yang Yoona ambilkan. Tapi tangannya tak kunjung bertemu dengan benda yang Yoona bilang sudah ambilkan untuknya. Dengan berat hati ia mengalihkan pandangannya ke samping. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat sesuatu tepat di depan wajahnya. Bukan karena ponsel yang memang sedari tadi berada di samping wajahnya dan dengan bodohnya tak dapat ia jangkau, tapi ia benar-benar terkejut dengan ‘sesuatu’ yang mengantarkan ponsel itu padanya.

Kaki! Ya benar Yoona menyerahkan ponsel milik Kris dengan menjepitkan ponsel itu di tengah-tengah ibu jari dan jari telunjuk kaki nya.

Yoona bangkit dari tidurnya, ketika menyadari Kris tak segera mengambil ponselnya. “wae?” Tanya Yoona polos.

Wajah Kris memerah menahan amarah. Bagaimana bisa gadis ini bertingkah seperti itu? Apakah dia masih anak-anak?

“kau memintaku mengambilkannya kan? lalu kenapa kau tak segera mengambilnya?”

Kris tak menjawab, dan dengan segera menyambar ponsel itu dari kaki Yoona. Ia terlihat mencoba menenangkan emosinya.

“oppa.. kau marah?” Tanya Yoona sedikit khawatir. “maaf, aku biasa melakukan hal itu pada kakakku.”

Yoona masih menunggu reaksi dari Kris.

Kris terlihat memejamkan matanya, mengatur emosinya agar tak meledak. “aku bukan kakakmu, Yuri, tapi aku Kris. Jangan melakukan hal kekanakan seperti itu lagi padaku.”

Yoona mengangguk sebagai jawaban. Jujur ia sedikit terkejut dengan reaksi Kris. Ia lebih senang melihat Kris berteriak kearahnya ketimbang diam seperti itu.

Sekarang ia sedkit merasa bersalah.

.

 

Pagi ini Kris bangun lebih awal dibandingkan Yoona, ia telihat sudah memakai pakaian kerjanya. Yoona menguap malas, ia masih sangat mengantuk. Tapi cahaya matahari yag masuk melalui jendela yang ‘mungkin’ dengan sengaja Kris buka berhasil membangunkannya. Ia masih menutup matanya, sesekali ia mengacak rambutnya malas, lalu membulatkan mata ketika menyadari Kris sudah hampir siap 100% untuk berangkat kekantor.

“Ya! Kenapa oppa tak membangunkanku?” teriak Yoona, dengan segera ia berlari kekamar mandi. Sialnya ia sempat tersandung ketika hampir mencapai pintu. Dan kontan, hal itu berhasil membuat tawa Kris meledak. “dasar bodoh” celoteh Kris, tapi tak Yoona pedulikan.

15 menit kemudian Yoona sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian kerjanya. Dahi Kris berkerut. Kapan ia membawa pakaian itu? Apa dia sudah menyiapkannya dari semalam? Ah entahlah Kris tak perduli.

Yoona tersenyum geli ketika mendapati Kris yang tengah frustasi karena dasinya. Sekarang ia tahu megapa Kris tak memakai dasinya kemarin. Rupanya pria ini tak bisa memakainya. Yang benar saja..

Ia sedikit gemas, lalu mengambil alih tugas Kris. Dan dengan cekatan ia berhasil menyimpulkan dasi tersebut.

Kris nampak terkejut dengan tindakan ‘spontan’ Yoona. Dari jarak sedekat ini, ia bisa merasakan hembusan nafas gadis ini. Bahkan ia bisa mencium aroma madu dari sabun yang Yoona pakai. Tiba-tiba Kris merasakan jantungnya berdetak abnormal. Tubuhnya terasa panas, ia sedikit gugup dan salah tingkah. “kkeut!” kata Yoona bangga.

Dengan sekali hentakan Kris berhasil mendorong tubuh Yoona menjauh, ia ingin segera menjauh dari gadis itu sebelum gagal mengontrol sifat kelelakiannya. “aku akan menunggu dibawah, kau harus cepat jika ingin berangkat bersamaku.” Kata Kris kikuk tanpa menoleh kearah Yoona.

Yoona menepuk dahinya. Ia lupa, ia harus segera bergegas jika tak ingin mendapatkan sarapan pagi semangkuk omelan dari rekan kerjanya yang seperti tiang itu.

 

.

 

Seperti malam sebelumnya. Yoona memilih menghabiskan waktunya dengan membuat desain di sofa depan Tv sedangkan Kris tetap sama, ia duduk disamping Yoona dengan sebuah laptop dan beberapa berkas tebal disampingnya. Tak ada suara sedikitpun. Mereka lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing ketimbang mengobrol atau bertukar cerita satu sama lain.

“aku bosan!” celetuk Yoona.

Kris tak merespon. Ia tetap fokus pada pekerjaanya.

“oppa.. apakah oppa sudah membuat surat perjanjiannya?”

Kris hanya bergumam sebagai jawaban nya.

Yoona menegakkan tubuhnya, dan menggeser duduknya mendekati Kris. “aku ingin melihatnya oppa.” Rengek Yoona mendekatkan kepalanya ke depan layar laptop Kris.

Kris mendorong kepala Yoona dengan telunjuknya. “perhatikan jarakmu nona Im.”

Yoona mendengus kesal. Haruskah Kris bersikap seperti itu padanya? Apakah mengatakan ‘minggirlah sedikit Yoona’ lebih sulit dibandingkan mendorong kepalanya?

Kris membuka beberapa file di laptopnya, tak lama kemudian munculah sebuah file yang berjudul ‘Surat perjanjian’. “bacalah!” perintah Kris sambil menggeser laptopnya sedikit agar Yoona bias membaca.

“ poin pertama.. Tidak ada kontak fisik dalam bentuk apapun kecuali dalam situasi mendesak. Kedua, tidak boleh ikut campur urusan masing-masing. Ketiga tidak boleh ada rasa cinta.” Yoona mengerutkan dahinya. Ia bingung dengan maksud poin ketiga. Ia menatap Kris, berusaha meminta penjelasan. Merasa ditatap, Kris membalas dengan tatapan polosnya. “wae?”

“tidak boleh ada rasa cinta? Lucu sekali.”

“wae? Apanya yang lucu? Aku hanya tidak ingin hal itu menjadi beban. Jika ada seseorang yang menaruh hati padaku, itu artinya akan menjadi beban untukku. Itu sangat mengganggu” Jelas Kris panjang lebar.

Yoona tertawa mengejek. Ia jengah dengan ucapan Kris. lagi pula siapa yang akan jatuh cinta dengan siapa? Kris benar-benar bukan tipenya. Sungguh. “baiklah.” Yoona melanjutkan acara membacanya “dan terakhir poin keempat. Kontrak akan berakhir 6 bulan setelah perjanjian ini disetujui oleh kedua belah pihak, kontrak akan berakhir secara otomatis jika salah satu pihak memberitahukan perihal kontrak beserta isi perjanjian pada pihak ketiga.”

Yoona mengangguk mengerti. “baiklah. Kurasa ini sudah cukup jelas.” Kata Yoona sambil mengarahkan laptop pada Kris kembali.

“ah tunggu!” seru Kris. “ada satu yang tertinggal.”

Yoona menautkan kedua alisnya bingung. “apa?”.

Kris kembali mengetik.“kelima selama perjanjian berlangsung tidak diperkenankan untuk berkencan dengan pria/wanita manapun.”

Dahi Yoona berkerut, ia menatap Kris meminta penjelasan

“kita harus menjaga kerahasiaan kontrak ini bodoh.”

Yoona mendesah tak suka. Bukan karena larangan kencan, hanya saja ia tak suka dipanggil bodoh, apalagi oleh pria ini. “lalu apa hubungannya?”

“kau benar-benar bodoh.”Kris memutar tubuhnya hingga menghadap Yoona penuh. Ia melanjutkan, “jika aku atau kau terlihat sedang bersama pria atau wanita lain, hal itu itu bisa menjadi skandal. Dan kau tahu apa artinya?” Yoona menggeleng. Kris tertawa mengejek. “dasar otak unggas!” celetuk Kris mengejek. Yoona terlihat ingin protes, namun ia urungkan karena Kris mulai membuka mulutnya untuk memberikan penjelasan lagi. “hal itu bisa menjadi rumit, kau tahukan betapa mengerikannya eommaku? Eomma bias saja memaksa kita untuk segera memberikannya cucu untuk meredam skandal itu.”

Yoona terdiam, masih mencoba mencermati setiap kata yang keluar dari mulut Kris. Ia hanya bisa menangkap beberapa kata, seperti eomma, skandal dan cucu. “dan kemungkinan perjanjian ini akan bocor ke orang ketiga akan semakin besar. Jadi mulailah berhati-hati dan menjaga sikapmu nona Im.” Tutup Kris sebelum mencetak perjanjian tersebut.

Yoona hanya mengangguk menurut. Kris menatap Yoona, ia sedikit tertawa meremehkan, bagaimana tidak? Saat ini Yoona benar-benar terlihat bodoh, tatapannya mong hingga membuat Kris ingin meledakkan tawanya. “anak pintar.” Kata Kris lalu mengacak rambut Yoona.

Yoona terkejut dengan tindakan ‘mengacak rambut’ yang dilakukan oleh Kris, tapi dengan segera ia mengubah tatapan terkejutnya dengan tatapan berbinar. Ia puas ketika melihat selembar perjanjian itu selesai dicetak.

Dengan penuh semangat mereka menadatanganinya. Yoona disebelah kanan dan Kris disebelah kiri. “jangan lupa cap jempol.” Ucap Yoona mengingatkan.

“selamat bekerja sama oppa. Semoga semuanya berjalan lancar” Kata Yoona sambil mengulurkan tangannya. Dengan sedikit ragu Kris meraih tangan Yoona dan ikut menjabatnya. Ia tersenyum miring. “selamat bekerja sama denganku nona bodoh. Semoga kau menikmatinya.”

Yoona menggigit pipi bagian dalamnya. Mencoba menahan amarah. Jujur, ia sudah tidak tahan dengan Kris. Dalam semalam saja ia sudah dua kali memanggilnya bodoh ah tidak mungkin sudah 3 kali, ia lupa , dan lagi apa tadi? Ia juga memakinya dengan ‘otak unggas?’

“wae? Kau marah?” Tanya Kris sambil menahan tawa.”lihat wajahmu memerah.” Dan kali ini, tawa Kris meledak.

Yoona memejamkan matanya, mencoba menahan amarahyang siap meledak kapan saja. Tapi melihat reaksi Yoona, Kris malah tambah bersemangat untuk menggodanya. “wae kau marah nona bodoh?” Kris tertawa puas. “ kau tahu, otakmu seperti otak burung. Sangat kecil, sehingga lambat untuk memproses apapun yang masuk.” Kris terus menggoda Yoona, kali ini bukan hanya memanggilnya bodoh, otak unggas atau otak burung. Ia juga ikut menirukan suara burung.

Yoona masih mencoba mengontrol emosinya. Ia menutup matanya dan menutup kedua telinganya dengan tangan. “aku tidak bisa mendengarmu kris. Kau bilang apa? Lalalala… aku tidak bias mendengarmu.”

Melihat reaksi Yoona, Kris malah mendekatkan tubuhnya dan membuka tangan Yoona, lalu menirukan suara burung tepat di telinga kanan Yoona.

Yoona sudah tidak tahan. Masa bodoh dengan kesan pertama. Ia sudah jengah dengan sikap Kris. Ia membuka matanya, nafasnya naik turun. Sekarang kemarahannya siap meledak. “Ya! Apa kau bilang? Bodoh? Otak unggas? Otak burung?”

Kris tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia berhasil menggoda gadis ini. Ia berpura-pura terkejut dan menunjuk Yoona dengan jari telunjuknya. “Waw kau hebat sekali nona otak burung. Aku tidak menyangka kau mengingatnya.” Kris bertepuk tangan berniat mengejek.

“apa? Nona otak burung? Ya! Kau tahu? Suaramu itu lebih mirip dengan suara ahjussi, jika aku tak melihatmu, mungkin aku mengira jika orang tuaku akan menikahkanku dengan seorang ahjussi berumur 50 tahun . ah… tidak, mungkin lebih dari 50 tahun.” Kali ini Yoona yang tertawa senang, ia puas melihat reaksi Kris. Ia senang saat melihat Kris menatapnya tak percaya.

“apa kau bilang? Ahjussi?”

Yoona tertawa miring. “ne, apa kau tidak mendengarku ahjussi?”

“tapi dilihat dari wajahmu, kau lebih mirip dengan ahjussi mesum.” Yoona sampai memegang perutnya karena senang, ia tak bisa menyembunyikan kemenangannya ketika melihat reaksi Kris.

Kris memejamkan kedua matanya. Menahan amarah dan mencoba memutar otaknya agar bisa membalas gadis ini. Matanya terbuka seiring seringaian ketika sebuah ide muncul di otaknya. Ia mendekat kearah Yoona hingga gadis itu menghentikan tawanya secara spontan. Yoona bingung dengan sikap Kris yang tiba-tiba berubah. Ia memundurkan tubuhnya saat tubuh Kris berada tepat didepannya. Tapi sial, ia sudah berada diujung sofa, punggungnya membentuk sandaran dan bisa dipastikan ia tak bisa bergerak kemana-mana. Tubuhnya telah dikunci oleh Kris.

“a..ap.. apa yang kau lakukan oppa?” Yoona tak bisa menyembunyikan kegugupannya ketika wajah Kris berada tepat di hadapannya.

Kris mengeluarkan evil smirk nya. “apa yang akan aku lakukan? Menurutmu apa yang harus aku lakukan?”Tanya Kris sedikit menggodanya dengan berpura-pura berfikir. “ ah.. bukankah kau yang mengatakan jika aku terlihat seperti ahjussi mesum? Jangan khawatir, aku akan menunjukkannya padamu nona Im.”

Yoona bergidik ngeri saat hembusan nafas Kris menerpa permukaan wajahnya. Tubuhnya memanas seketika saat ia merasakan tangan kris menyapu pipi kirinya. Kris semakin mencondongkan wajahnya kewajah Yoona. Dan Yoona berani bersumpah, sat ini ia bahkan bisa mencium aroma mint dari nafas Kris.

“hen..tikan.. oppa.”suara Yoona sedikit bergetar.

Tapi Kris tak perduli, ia malah semakin mendekatkan wajahnya.

Ting tong.

Suara bel berhasil mengusik aktifitas sepasang pengantin baru itu.

Mereka saling bertukar pandang. Yoona tak membuang kesempatan yang tuhan berikan padanya. Dengan segera Yoona mengangkat kepalanya dan berhasil membentur kening Kris dengan Keras. Ia juga menendang dada Kris saat tubuhnya sedikit terangkat.

Dengan lihai ia melompat turun dari sofa dan berlari menuju pintu depan. Ia bisa mendengar teriakan Kris dan sepertinya saat ini pria itu sedang asik memakinya.

Yoona tertawa lega. “siapa?” teriaknya.

Ia meraih knop pintu dan memutarnya. Oh! Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui siapa orang yang datang berkunjung ke kediamannya.

“Ya! Neo?!”

 

To Be Continued. . .

 

Hay hay.. Kembali lagi dengan ff keduaku.. Apakah ada yang menunggu ff ini?? Ohya.. Aku mau ngucapin banyak terimakasih buat para readers yang sudah mau meninggalkan jejak di part sebelumnya. Dan aku juga mau minta maaf jika part 2 ini terlalu lama nge post nya atau mungkin ceritanya aneh atau bahkan ga sesuai dengan yang readers inginkan.

Terakhir.. Leave ur comment please…. J

50 thoughts on “(Freelance) Multichapter : Married Without Love (Chapter 2)

  1. Aku ngk tahu mau bilang apa.ff ini ngebuat aku pingin lama2 bacanya.yoonkris lucu banget di satukan.bagaikan es di sinari matahari!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s