(Freelance) Unrevealed Story [4]

poster-unrevealed-story

Poster :  Cicil Art  {Thanks!}

Unrevealed Story

Written by Nikkireed

Casts

Lu Han and Im YoonA

“Luhan-ah. Ni-Eomma hampir gila saat mengetahui ni-Appa meninggal. Ia melarikan diri dan ingin mengakhiri hidupnya dengan loncat dari jembatan. Beruntung aku menghentikan maksudnya.” Sekarang hanya ada aku dan Ahjussi duduk di sofa ruang tamu.

Aku terdiam tidak bisa berkomentar apa-apa.

Ni-Eomma sekarang sudah menikah lagi. Ia menikah dengan seorang kaya. Tapi mereka tidak mempunya anak.” Tentu saja! Bahkan aku belum membayangkan saudara tiri.

Ni-Eomma sangat merindukanmu. Apalagi saat ia tahu kau kembali ke China. Ia sangat menyayangimu, Nak.” Ahjussi sedikit melebih-lebihkan kurasa.

“Jadi apa rencananya? Membawaku kembali kerumahnya? Menjadi tuan muda dirumah suami barunya?” tanyaku pedas, tentu saja ini sangat menyakitkan.

“Ia sangat mengkhawatirkanmu, Luhan. Apalagi kau sekarang ia sudah mendapat menantu.” Ahjussi tersenyum kali ini, “Yoona hamil karenamu?”

Ahjussi!” teriakku, tentu saja aku! Siapalagi yang tidur dengannya!

Ahjussi menggodaku disaat yang tidak tepat, “Kurasa lebih baik kau bawa pulang wanita itu. Kesehatan Yoona bisa terganggu oleh cerita-ceritamu.” Aku bangkit berdiri dan berjalan menuju lantai atas.

Kedua perempuan itu berceloteh asik. Sampai aku masuk ke kamar dan berdiri hanya mendengarkan mereka berbicara, mereka belum menyadari ada aku disana berdiri.

Yoona sudah kembali menjadi manusia. Senyumannya. Matanya. Sudah berkerja normal, cantik.

“Yoong? Kau mau makan?” tanyaku, lalu kedua perempuan itu menghentikan tawanya. Yoona menatapku dan menggeleng, “Ani. Aku belum lapar.”

“Kau ingin makan, Luhan-ah?” tanya wanita itu, aku hanya memandang Yoona dengan ekspresi datar.

Yoona melototiku ‘jawab dengan sopan’. “Nanti aku bisa makan.” Jawabku pelan.

“Baiklah, Eomunim pulang dulu ya. Besok kita berbicang lagi.” Wanita itu bangkit berdiri.

Ye.” Yoona membungkukkan badan sopan dan tersenyum manis.

“Kau belum tidur dari semalam kan, Luhan? Istirahatlah, bagaimana kau menjaga Yoona jika kau sendiri sakit?” wanita itu berbicara padaku, namun aku menolak tatapannya. Aku hanya memandang Yoona.

Eomma pulang, eoh?” wanita itu berjalan dan keluar dari kamar.

“Lulu-ah. Kenapa kau tidak bilang itu surat dari ni-eomma? Membuatku salah paham saja.” Aku langsung berjalan menuju sisi Yoona.

Yoona sudah menjadi manusia. Tersenyum indah. Bahkan matanya sudah menatapku. Dan ini kalimat pertama dengan nada normal sejak kemarin.

“Kau percaya ia ibuku?” tanyaku.

“Tentu saja. Ia sendiri yang bercerita kalau itu surat darinya. Ia sangat merindukanmu, Lu.” Yoona mendekatkan wajahnya padaku. “Aku merindukanmu, deer.”

Dahi kami bertemu, Yoona melingkarkan lengannya pada leherku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku bisa mendengar detak jantungnya.

Saat aku menelengkan kepalaku untuk meraih bibirnya –

CEKLEK!

REFLEK sekali Yoona menjauhkan wajahnya dan aku berbalik mendongak ke arah pintu yang terbuka.

“Oh, maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu kalian. Ah, oh, aku pulang. Besok aku datang lagi.” Ahjussi tersenyum canggung dan terlihat ekspresi mengejek dari kata menganggu.

Ye.” Jawabku berbarengan dengan Yoona.

Ahjussi terkikik sebentar lalu menutup pintu.

“Tidurlah, Lu. Kau terlihat lelah.” Yoona mengelus rambutku, lembut.

Aku berpindah ke sebelah tempat tidurnya, menggunakan tanganku untuk menumpu kepalaku agar aku bisa menatapnya. “Gumawo, Yoong.”

Lalu aku terlelap.

Aku terbangun karena matahari yang silau terpancar dari jendela kamar yang menerobos masuk. Bukannya ini masih pagi?

“Jam berapa ini?” tanyaku, melihat Yoona baru masuk ke kamar dan menutup pintu.

“Jam 12 siang, Lu. Kau tidur dari kemarin. Kau kenapa?” Yoona berjalan menghampiriku lalu memegang keningku. “Kau baik-baik saja?”

Aku juga memegang kepala bagian kananku yang terasa nyeri. Jadi aku sudah tidur dari kemarin siang sampai hari ini. Beruntung aku masih bangun!

“Kepalaku sedikit sakit.” Aku tersenyum lemah pada Yoona, ia sudah naik ke ranjang dan duduk disampingku.

Ni-eomma akan datang. Ahjussi meneleponmu tapi kau sedang tidur jadi aku mengangkatnya. Ni-eomma benar-benar menyayangimu, aigoo ckck. Aku rindu punya seorang ibu, Lu.” Yoona mengoceh asal.

Yoona bangkit dan berjalan menuju pintu lagi, “Mandilah. Sebentar lagi mereka datang.” Yoona keluar dari kamar.

Aku bangkit dengan pelan dan menurutinya.

Aku dan Yoona sedang sibuk di dapur. Yoona sedang sangat ingin makan pasta, ia memintaku untuk membeli pasta di supermarket dekat rumah. Dan ia menyiapkan bahan pelengkapnya.

Yoona sedang memotong daging. Sedangkan aku merebus pasta-nya. Sambil menunggu air mendidih, aku memerhatikan Yoona yang sibuk memotong.

Ia memakai dress floral, demi apa ia sedang hamil! Dan memakai dress dan berdandan seperti ini rasanya bukan seperti ibu hamil. Beruntung ia memakai sandal kamar, tidak memakai heels.

“YAK! Kau lihat apa?” Yoona mengagetkanku dari lamunanku. Mungkin aku terlihat sedang tersenyum bodoh, astaga Tuhan ia cantik sekali.

Aku menggeleng dan menghentikan senyumku. Kenapa Yoona menjadi galak seperti ini? Apa ini juga termasuk fase triwulan ibu hamil?

TING TONG!

Suara bel berbunyi tentu saja aku tau siapa yang datang, Yoona melirikku, “Aku yang buka.”

Yoona berjalan menuju pintu. Ahjussi dan Eomma datang seperti perkiraanku. Suasana langsung menjadi heboh. Sedangkan aku masih berkutat di dapur menunggu pasta ini matang.

Ye, eomunim. Aku sedang ingin makan pasta. Aku juga membuat untuk kalian. Kita makan siang bersama ye, Ahjussi, Eomunim?” Yoona tersenyum mengajak mereka masuk.

“Yoona-ya, sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan. Bagaimana kalau kita piknik? Cuaca hari ini mendukung sekali.” Eomma memegang tangan Yoona begitu mereka sampai di dapur.

Aku berjalan melewati dapur untuk mengambil garpu, mereka sontak melirikku yang bergerak canggung.

“Oh ye. Ide bagus. Bagaimana, Lu?” Yoona bertanya padaku, aku berbalik untuk memeriksa pasta itu.

“Kalau kau mau pergi, pergilah.” LUHAN! Kenapa kau jawab seperti itu? Aku langsung menyesalinya.

“Ikutlah, Luhan-ah.” Ahjussi yang muncul entah darimana, mendukung mereka. Tentu aku kalah, satu lawan tiga.

Aku hanya mendeham-deham tidak jelas.

Eomunim, tunggu di depan saja. Aku akan menyiapkan makanannya terlebih dahulu, eohh?” Yoona mengajak Eomma menuju ruang tamu dan mempersilakan duduk.

Aku membuang air rebusan pasta ke dalam bak pencucian dan Yoona berdiri di sampingku, “Kau kenapa Lu?” pertanyaan Yoona membuaku bingung.

Aniyeo.” Jawabku cuek, Yoona mengambil panci dari lemari atas untuk membuat saus pasta-nya. Karena ini saus instant, ia hanya menuang saus putih itu ke dalam panci dan memasukan daging yang ia potong tadi.

Aku membantunya memasukkan beberapa potong wortel dan brokoli. Kami bekerja dengan diam, aku bisa merasakan Eomma dan Ahjussi sedang memerhatikan dibelakang kami dari ruang tamu.

“Yoong.” Panggilku pelan.

Yoona mendongak ke arahku, “Tolong ambilkan keju di kulkas, Lulu-ah.”

Aku menuruti dan melakukan seperti yang Yoona katakan. Lalu memberikan botol keju itu pada Yoona, ia langsung menuang saus keju itu ke dalam panci. Lalu mengaduk-ngaduk isi panci itu.

“Kau coba.” Yoona menyendokkan sausnya sedikit ke mulutku.

“Enak.” Memang enak! Jika jalan terbaik menuju hati pria lewat makanan, Yoona pasti sudah masuk ke hati banyak pria, kurasa.

Yoona meraih tisu di meja pantry lalu mengelap mulutku yang terkena saus. Ini canggung dan Yoona masih mengelap mulutku dengan polos. Sedangkan aku, merasa sedang diperhatikan Eomma dan Ahjussi dari ruang tamu bergerak gelisah dan mengambil tisu tersebut dari tangan Yoona.

“Ehm, lebih baik aku menyiapkan keperluan yang lain.” Aku berjalan menuju lantai atas melewati Eomma dan Ahjussi yang duduk diruang tamu sambil tersenyum-senyum.

Aneh.

Mengapa aku merasa canggung? Apa yang salah denganku? Apa aku malu? Terhadap Yoona? Tentu tidak!

Atau Eomma? Ahjussi? Karena selama ini hubungan kami tidak seperti yang lain?

Aku melangkah menuju lantai bawah dengan membawa satu travel bag MCM berwarna coklat. Sudah kuisi dengan beberapa helai kain tebal dan selimut. Aku juga menyiapkan jaket tipis untuk Yoona.

“Kau sudah selesai?” Tanyaku pada Yoona. Yoona mengangguk bahagia. Mereka bertiga sudah menunggu.

Aku menyerahkan jaket itu pada Yoona dan Yoona langsung memakainya.

“Baik. Kajja!” Ajak Ahjussi sambil berjalan mendahului kami lalu disusul Eomma. Aku menahan tangan Yoona untuk tidak melangkah terlebih dahulu.

Yoona mendongak ketika tangannya kutahan, “Gwenchana?” tanyaku pelan, hanya memeriksa.

Yoona tersenyum, “I’m fine. Kau terlalu khawatir, Lulu.” Tangannya menyentuh pipiku lembut.

Benarkah? Tentu saja! Jika sesuatu terjadi padamu, karena itu, aku tidak akan memaafkan diriku.

Kami sampai di taman, tidak jauh dari rumah. Aku mengenal taman ini, dulu sebelum Appa meninggal, kami sering bermain ditaman ini. Appa akan menceritakan misteri ayunan dibawah pohon itu yang sebenarnya tidak ada apa-apa, Appa juga akan menceritakan mengapa danau ini terlihat dangkal padahal tidak, lalu bercerita mengapa banyak orang masih memancing padahal tidak ada ikan.

“Disini saja.” Ahjussi mencari tempat yang nyaman. Aku mengeluarkan kain besar untuk menjadi dasar. Lalu kami berempat duduk disana.

Eomma dan Yoona sibuk membuka beberapa kotak makanan yang sudah terisi pasta. Aku dan Ahjussi masih menggelar beberapa kain lagi. Aku mengeluarkan kain untuk Yoona, karena ia memakai dress dan harus duduk di lantai.

Yoona menyampirkan kain itu diatas pahanya lalu tersenyum padaku. Ya Tuhan, apakah ada larangan untuk wanita ini tidak tersenyum menggoda seperti ini?

Eomunim, kau suka?” tanya Yoona begitu ia memberikan sepiring pasta pada Eomma dan Ahjussi.

“Hmm. Kau pintar masak, Yoona-ya. Ini enak.” Puji Eomma tulus, Yoona hanya tersenyum. Ahjussi mengeluarkan sebotol bir dari kantong plastik yang ia bawa.

“Mari sama-sama rayakan.” Ahjussi menghebohkan suasana. Ia mengeluarkan tiga gelas plastik.

Aku terdiam melihat Ahjussi menuang bir. Yoona sibuk mencari sesuatu dari kantong plastik yang lain. Lalu ia menemukan yang ia cari. Sebuah jus jeruk kotak.

“Aku minum ini.” Yoona tertawa, malu karena ia harus minum jus jeruk sendiri.

“Tidak apa, Yoona. Jus jeruk sehat untukmu dan bayimu.” Eomma mendukung dan tersenyum pada Yoona.

Hatiku terasa legah karena tanpa diminta, Yoona menolak untuk minum bir bersama kami. Ia menyayangi bayi itu.

Aku menerima gelas plastik dari Eomma. “Ganpei!”

Tiga gelas plastik dan satu kotak jus jeruk bertemu di udara disertai suara heboh kami berempat.

“Kapan kalian menikah?” Pertanyaan Eomma membuat langkahku berhenti. Kami sedang berjalan pulang, karena dekat, tanpa mobil.

Yoona berjalan disamping Eomma, tangannya menggandeng tangan Eomma, mereka sudah terlihat seperti ibu-anak yang sudah lama tidak bertemu.

Sedangkan Ahjussi terkikik melihatku menghentikan langkahku.

“Kalian belum menikah?” Eomma bertanya pada Yoona yang terdiam disampingnya. “Aigoo, cepatlah menikah. Sebelum ada orang lain yang mengetahui kau sedang hamil, Yoona.”

Yoona tersenyum canggung. Ahjussi tertawa meledak tanpa bisa ia tahan. “Mereka sudah tinggal bersama selama di Korea, Xu Yan-ssi. Pertama kalinya aku melihat Luhan membawa yeoja ke apartment nya waktu itu.”

Tamatlah sudah.

Yoona memutar matanya dan tersenyum. Aku melanjutkan langkahku dan berjalan menyusul Ahjussi didepan.

“Kalian harus cepat menikah, eoh? Bagaimana orangtua-mu? Apa mereka setuju?” Eomma bertanya pelan pada Yoona.

Eomma sudah meninggal. Dan Appa.. Appa di Korea.” Suara Yoona pecah. Kenapa Eomma harus bertanya mengenai hal seperti ini?

“Kalau begitu, ni-Appa tidak tahu kau datang ke Beijing?” Eomma bertanya lagi.

Appa malah menitipkanku pada Luhan.” Yoona tersenyum dan mendongak ke belakang untuk melirikku.

Eomma juga ikut melirikku yang berjalan di belakangnya, “Oh begitu rupanya. Yasudah, kita harus cepat menyiapkan pernikahan kalian ya.”

Aku dan Yoona mengantar Eomma dan Ahjussi ke mobil mereka yang terparkir didepan rumah kami.

Eomunim pulang dulu, eoh. Pikirkan tanggal penikahan ya.” Eomma memeluk Yoona sebelum masuk ke dalam mobil dan duduk di jok penumpang. Ahjussi memasukkan beberapa plastik ke jok belakang lalu masuk ke mobil.

Josimhaseyo.” Kami berdua membungkukkan badan lalu mobil itu berjalan pergi.

Dear all the readers, Ini yang keempat sebelum terakhir di lima. Aku mau ngucapin makasih karena udah ngikutin ff aku terus, walopun ff aku terhitung pendek hehehe. Soalnya kalo aku bikin semua jadi oneshoot ntar yang baca jadi keder hahaha. Jadi aku bagi jadi chapter. Buat next project aku bikin oneshoot yang panjang deh.

 Ditunggu komennya lagi ya.

XOXO, nikkireed

47 thoughts on “(Freelance) Unrevealed Story [4]

  1. Masih penasaran ma ceritanya. Itu beneran eomma si luhsn atau gmna,? Koq curiga ada yg aneh ma ahjussi ya? Next chapter jng lama ya thor. Fighting,!!!

  2. keren thor!! aah aku selalu suka couple ino sampai kapanpun!!

    LUYOON!!!

    Keep writing thor! ditunggu karya lainnya!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s