When You Come [PART 1]

when-you-come-by-qintazshk

qintazshk’s present

  When You Come  

staring

Im Yoona and Oh Sehun 

PG-13 ||  chaptered  ||  Fantasy/Romance ||  Poster by missfishyjazz

prequel fiction from [ficlet] You in here 

you can read another pairing in here and here

Enjoy this fanfiction and create your imagination ^^ 

WHEN YOU COME

Gedung kampus itu hampir kosong saat seorang gadis berjalan di koridor yang gelap itu. Perempuan itu menenteng tas selempang cokelatnya dan beberapa lembar kertas di tangannya.

Suara hig heels-nya bertubrukan dengan lantai, membuat bunyi “tuk-tuk” yang nyaring terdengar. Perempuan itu mempercepat langkahnya saat mendengar bunyi sepatu lain yang terdengar dari dekat.

“Yoona!”

Perempuan itu menoleh. Ia langsung menghembuskan napas lega saat melihat orang yang memanggilnya. Gadis dengan gaun selutut berwarna cokelat muda berlari menghampirinya.

“kau darimana saja, Yul?”

“aku ada urusan dengan Minho tadi. Kau sendiri?”

“kau kan tahu sendiri kalau aku lebih suka sendiri. ayo pulang!”

Celana hitam ketat yang dipakai Yoona dirasanya sudah cukup menutupi tubuhnya dari dinginnya musim gugur kali ini. Coat hitamnya berterbangan tertiup angin yang cukup kencang.

“tadi sore aku dengar ada benda luar angkasa menimpa bumi. Kau tahu?”

“mana mungkin aku tahu berita burung semacam itu jika aku sibuk berkutat dengan kertas gambarku?” Yoona mendengus pelan sambil berusaha mengiringi langkah kaki Yuri yang lambat.

“ya siapa tahu kalau benda itu jatuh di dekat rumahmu. Kau juga yang harus melihat wujud alien yang menyeramkan. Hii,” Yoona menepuk keras lengan Yuri. “jangan bicara yang tidak-tidak. Terlalu kekanak-kanakkan untuk membahas tentang alien di tengah kesibukan ujian, Yul.”

“menyebalkan. Aku juga sibuk mempersiapkan bahan ujian untuk yang lain.” Yuri memukul pelan lengan Yoona lalu tersenyum. Sisa perjalanan mereka menuju halte bus dihabiskan oleh candaan dan obrolan tanpa jeda mereka.

Keduanya segera menaiki bus yang terakhir lewat di jalanan Seoul. Jam pulang yang terlalu malam memang untuk perempuan, tapi jadwal mereka yang memaksa mereka untuk pulang larut malam seperti ini.

“hati-hati, Yoona-ya.

Yuri melambaikan tangannya pada Yoona yang sudah berdiri saat bus berhenti di halte dekat rumahnya. “kau juga, Yuri-ya. Salam untuk pangeranmu, ya.” Yoona terkikik pelan sedangkan Yuri melemparkan pandangan tajamnya pada Yoona yang sudah menggodanya.

Bulu kuduk Yoona meremang kembali seturunnya ia dari bus. Terlalu menakutkan untuk berjalan sendirian di jalan Seoul yang sudah sepi malam ini.

Alis Yoona berkerut saat melihat aspal yang ia pijakinya sekarang retak. Berbeda dengan saat sebelum ia pergi. Tubuhnya menegang saat mengingat ucapan Yuri tentang alien tadi.

“tidak, Im Yoona. Tidak ada alien disini.”

Yoona meneruskan langkahnya menuju rumahnya yang letaknya masih cukup jauh dari persimpangan ini. Langkahnya melebar saat kata-kata Yuri terus terngiang di telinganya.

Dasar bocah, mana ada alien. Umpat Yoona dalam hati.

“ah-“

Yoona membekap mulutnya saat matanya menangkap sesosok laki-laki yang sedang duduk di pinggir jalan dengan kaki kanan terlentang. Ada darah yang menembus celana putih lelaki itu, dan baju putihnya sudah kotor.

Tapi bukan itu yang membuat Yoona menjerit tertahan.

Lelaki itu langsung menoleh saat mendengar jeritan pelan Yoona dan sayap putih lebar yang ada di punggungnya hilang. Mata laki-laki itu membulat saat menyadari –mungkin saja Yoona melihat sayapnya.

Tatapan Yoona bertubrukan dengan tatapan laki-laki yang matanya ditempa sinar lampu kuning. Rambut cokelatnya itu berkilauan, begitu pula dengan matanya. Walau sinar di matanya sedikit meredup.

Bibir pucat lelaki itu membentuk lengkungan senyum tipis saat melihat Yoona yang masih menatapnya tak percaya. Saat itu juga Yoona membalas senyuman –yang menurut Yoona manis itu.

“kau… siapa?”

Suara Yoona tercekat.

Ia terlalu takut untuk mengeluarkan suaranya saat melihat tatapan laki-laki itu menatapnya serius. Ia hanya tidak ingin pergi begitu saja dan meninggalkan lelaki yang mungkin saja membutuhkan bantuannya.

“kau baik-baik saja?”

Yoona memutuskan untuk bertanya lagi saat lelaki yang ditanyainya tidak menjawab pertanyaannya. Lelaki itu menggeleng lemah sebagai jawaban dari pertanyaan Yoona.

Yoona merogoh tasnya lalu mengeluarkan sebotol air minum yang ia simpan. Ia membuka tutup botol itu lalu berjalan mendekati lelaki yang masih terduduk lemas di bahu jalan itu.

Perempuan itu masih menjaga jaraknya dengan lelaki itu. Mengingat saat pertama kali ia melihat lelaki itu, sayap di tubuhnya terlihat begitu nyata. Seperti peri-peri dan tiba-tiba sayap indahnya menghilang saat melihat Yoona.

Kemungkinan bahwa lelaki ini mungkin bukan manusia, membuat Yoona harus mengumpulkan lagi nyalinya. Bagaimana jika tiba-tiba lelaki itu berubah menjadi sosok yang menyeramkan dan berbeda 180 derajat dengan lelaki tampan yang ada di hadapannya sekarang? Mimpi buruk.

Tangan lelaki itu terjulur saat Yoona menyodorkan botol minumnya. Lengan laki-laki itu kembali turun sesaat sebelum sampai untuk meraih botol minum itu. Pria itu menggigit bibir bawahnya saat merasakan nyeri yang menjalar di tangannya.

“tanganmu sakit, ya? Aku bisa membantumu,”

Yoona mendekatkan jaraknya dengan lelaki itu. entahlah. Perasaan takutnya hilang begitu saja saat laki-laki tampan itu mendesah kesakitan.

Yoona menahan tengkuk lelaki yang berkeringat itu dan mendekatkan mulut botol dengan bibir pucat lelaki itu. Pria itu menghembuskan napasnya lega saat beberapa teguk minuman Yoona membasahi tenggorokannya yang kering.

gomawo,”

 

WHEN YOU COME

 

Yoona hampir saja menjerit senang saat mendengar suara bass lelaki itu. Suara lelaki itu sudah sedari tadi Yoona tunggu untuk didengar, dan akhirnya lelaki itu buka suara. Suara yang menurut Yoona sangat … merdu.

“bukan apa-apa,”

Yoona mengeluarkan senyum terbaiknya untuk lelaki tampan di hadapannya kini. Suara dan senyum lemah pria tadi sudah membuat mood Yoona yang sedang sedikit berantakan hari ini menjadi lebih baik. Cukup senyuman lelaki itu saja sudah membuat Yoona girang bukan main.

“pulanglah, sudah malam.”

Oh, astaga. Lelaki ini mengkhawatirkanku. Girang Yoona dalam hati. Berlebihan, Im Yoona. Laki-laki memang begitu jika ada perempuan. Hal biasa.

Tapi berbeda kalau yang mengucapkannya adalah lelaki tampan seperti yang dihadapannya.  

“kau sendiri? Rumahmu dimana?”

Lelaki itu menggaruk tengkuknya, bingung.

“sepertinya kau datang dari tempat yang jauh sekali ya, kan? Aku bisa membantumu mengobati dulu kaki dan tanganmu.”

Pria itu terkesiap.

Berarti perempuan ini sudah melihat sayapku, batin lelaki itu.

Yoona mengambil beberapa lembar tisu yang ada di tangannya dan memberikannya pada lelaki itu. Pria itu mengambil tisu yang diulurkan oleh Yoona  dan mulai mengusap keringat  yang membanjiri wajahnya.

“lukamu bisa infeksi kalau kau diam disini terus.”

Pria itu menatap Yoona kebingungan.

“ayo, ikut aku.”

Yoona berdiri sembari menyodorkan lengan kanannya pada lelaki itu. Senyum lebar tidak juga lepas dari bibir Yoona yang kemerahan itu. Rona di pipinya juga serupa dengan bibirnya. Lengannya yang terjulur gemetar karena gugup menunggu sambutan tangan dari laki-laki di hadapannya. Tapi ia sudah memantapkan hati jika saja laki-laki itu-

“terima kasih,”

Lelaki itu menggenggam erat lengan Yoona.

Dan Yoona berteriak kegirangan dalam hati.

 

WHEN YOU COME

 

“itu apa?”

“obat merah,” jawab Yoona pendek saat lelaki bertanya sambil menunjuk botol yang dipegang Yoona. Yoona membasahi kapas yang digenggamnya dengan obat merah lalu mengoleskan kapas itu pada luka menganga di kaki lelaki itu.

“ah,” lelaki itu mendesis lalu menggigit bibir bawahnya. “sakit, ya?” Yoona bertanya dengan perasaan bersalah menyelimutinya. Tapi perasaan itu hilang saat lelaki di hadapannya tersenyum.

“tidak apa. Terima kasih,”

“nah, sudah selesai.” Seru Yoona girang lalu membersihkan peralatan medisnya. Yoona kebingungan saat melihat pakaian lelaki itu.

Pakaian yang dipakainya sudah bersimbah darah di beberapa sudut apalagi lengannya.

Astaga, kenapa aku hanya membersihkan kakinya saja?

“hem, aku lupa tangan dan wajahmu. Ayo, dibersihkan sekarang.”

Yoona meraih lengan berotot laki-laki untuk bangkit. Pria itu mengangguk –walau masih bingung dengan sikap Yoona yang seperti ini. Yoona masih saja betah untuk menggenggam lelaki itu, setidaknya membantu lelaki itu untuk berjalan.

Yoona langsung membawa laki-laki itu untuk berdiri di depan wastafel.

“argh,” ringisan dari mulut lelaki itu sungguh membuat Yoona bingung. “tanganmu masih sakit, ya?” lelaki itu mengangguk pelan dan Yoona menghembuskan napasnya pelan.

Yoona men-setting agar air yang mengalir dari keran itu terasa hangat. Yoona membasahi telapak tangannya dan menampung air itu sedikit. Perempuan itu meraih tengkuk lelaki itu untuk mendekat ke wastafel.

Dengan lembut, Yoona mengusapkan tangannya ke permukaan wajah kotor lelaki itu. lelaki itu mengerjapkan matanya berkali-kali saat tangan halus Yoona menyentuh wajahnya.

Dimulai dari dahinya, pipi dan hidung. Yoona menggosok perlahan sudut bibir lelaki itu, untuk menghilangkan bercak darah yang ada disitu. Tak ayal, lelaki itu meneguk ludahnya susah payah.

“wajahmu kotor sekali, aigoo.

Lelaki itu tertawa saat mendengar gerutuan Yoona. Omelan yang keluar dari bibir Yoona terdengar seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya dan lelaki itu menyukainya.

Bukan. Bukan menyukai Yoona. Tapi menyukai tingkah gadis itu.

“kau senang, hem? Wajahmu sudah bersih sekarang,” Yoona mengambil handuk yang tersampir di pundaknya lalu mengusapnya perlahan di wajah lelaki itu. Wajah lelaki itu bersih sekarang. Seperti peri.

Yoona melanjutkan kegiatannya untuk membersihkan lengan lelaki itu. Setelah beberapa lama Yoona membersihkan wajah lelaki itu –plus tatapan intens lelaki itu, akhirnya Yoona menyelesaikan semuanya.

“sepertinya kau butuh baju ganti,”

Yoona bergumam sendiri saat memperhatikan kaus dan celana lelaki itu yang kotor.

“aku punya kakak lelaki disini, aku akan meminjamkan bajunya untukmu.”

Yoona keluar dari kamar tamu dengan cepat dan meninggalkan lelaki itu sendirian. Dengan tertatih-tatih, pria itu berjalan menuju pintu yang menghubungkan kamar itu dengan balkon.

Udara malam berhembus perlahan menembus kulitnya. Lelaki itu menghisap udara dalam-dalam sembari memejamkan kedua matanya. Damai sekali.

“jadi begini rasanya bernapas normal di bumi,”

“aku sudah punya baju untukmu.”

Lelaki itu mendongak cepat saat mendengar suara Yoona yang terdengar girang. “benarkah? Terima kasih,” Yoona menghampiri pria itu dan menyodorkan kaus berwarna hijau dan celana krem yang di dapatnya.

Lelaki itu berjalan kembali ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya. Berjalan sendiri? Iya. Setelah berdebat sedikit dengan Yoona.

“kenapa aku begitu baik pada lelaki itu, ya?” Yoona berkata pelan sambil memperhatikan pintu kamar mandi yang masih tertutup. “kalau Yuri tahu ini, aku bisa dianggapnya gila. Seenaknya membawa lelaki yang sangat asing ke rumah.”

“tunggu,” perempuan itu kembali berpikir. “aku hanya membantunya saja. Tidak apa-apa, kan?” perempuan itu mengangguk lalu tersenyum senang setelah mengambil jawaban atas pertanyaannya. Jawabannya sendiri.

Yoona kembali berdiri saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.

Yoona membeku saat melihat pandangan di hadapannya. Lelaki itu sudah membuka kausnya dan menunjukkan badannya yang berotot. Bahkan Yoona berani bersumpah bahwa otot-otot yang terlihat di perut lelaki itu terlalu mengagumkan.

Yoona langsung menutupi wajahnya. Ia yakin bahwa wajahnya sudah merona saat merasakan ada aliran panas yang menjalari pipinya.

“ke-kenapa kau tidak memakai kausnya?”

“aku tidak suka warnanya. Bisa minta yang berwarna biru? Biru langit lebih bagus lagi. terima kasih,” Yoona mendengus kesal. Bisa-bisanya lelaki itu meminta lagi yang lain. Tapi ia menurut juga saat lelaki itu tersennyum lebar yang membuat pipinya semakin merona.

Setelah beberapa detik menunggu, Yoona datang dengan kaus berwarna biru langit. Sesuai dengan apa yang diminta lelaki itu. Yoona menyodorkannya dan lelaki itu menyambutnya dengan antusias.

“astaga!”

Pekikan keras dari Yoona membuat gerakan lelaki itu terhenti. Lelaki itu menoleh pada Yoona yang ada di belakangnya. Alisnya berkerut heran melihat Yoona yang sudah menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“kenapa? Apa yang terjadi?”

“a-ada luka di punggungmu.”

“ah, pasti luka karn aku harus kehilangan sayapku-“ bodoh. Kenapa kau menyebut soal sayap. Bisa-bisa- “diobati dulu.”

Yoona kembali meraih kotak peralatan medisnya lalu memulai pengobatan untuk lelaki itu. Yoona meringis saat menempelkan obat merah di luka lelaki itu. Lukanya terlihat mengerikan dan Yoona tidak suka itu sebenarnya.

“sudah,” Yoona menempelkan perekat pada perban di luka lelaki itu. lelaki itu mengacungkan jempol sebentar lalu memakai kausnya.

“terima kasih.”

“kenapa kau senang sekali berkata ‘terima kasih’, sih? Lima kali kau mengucapkan terima kasih hari ini. itu terlalu berlebihan tahu.”

“tapi kau sudah membantuku. Bahkan menyelamatkanku. Dan perlakuanmu itu tidak bisa dibalas hanya ucapan terima kasih walaupun aku sudah mengucapkannya ribuan kali.”

Yoona membeku saat lelaki itu menghampirinya. Mendekatinya. Bahkan kini, wajah lelaki itu hanya berjarak tiga jengkal dari wajahnya. Bahaya.

“jadi, terima kasih, nona…”

“Im Yoona. Kau bisa memanggilku Yoona.”

Yoona menyambut uluran tangan lelaki itu yang mengajaknya untuk berjabatan tangan. “iya, terima kasih sebanyak-banyaknya, Im Yoona.”

Yoona berusaha untuk menahan gejolak dalam dirinya yang sudah siap meledak ketika lelaki itu mengucapkan namanya. Terlalu menyenangkan dan Yoona tidak akan melupakan suara lelaki itu. Seumur hidup.

“tidak perlu sungkan, tuan…”

Jantung Yoona makin berdegup kencang saat lelaki itu tersenyum senang. Senyum bahagian yang membuat siapapun akan membalas senyumannya. Senyuman malaikatnya. Dan Yoona juga melakukan hal yang sama.

“Sehun. Oh Sehun.”

 

WHEN YOU COME

Halo!😀

awalnya aku mau post dulu FF yg Misconception, tapi karena posternya belum jadi, jadinya aku post FF aku dulu yang ini :p dan aku juga mau post FF ini minggu kemarin, tapi banyak yang UTS kan? gimana UTSnya? sukses kan? ^^

ada project juga buat di YoongEXO, choose one!

chosen “CHOSEN” or “OUR CHOICE” our-choice

 

oke, aku tahu ini pendek banget -_- karena ini cuma 7 pages doang, padahal biasanya 10 pages.. nikmatin dulu aja yaa, kan baru part 1😀 dan aku berharap banget ngga ada typo nama cast nya karena aku bikin ini buat pairing lain juga-_-

Papoi!❤

123 thoughts on “When You Come [PART 1]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s