당신의 꿈

img1413268547204_2

Shaquila’s Present

당신의 꿈

Im Yoon Ah // Lu han

Romance // Friendship // School-Life

PG-15

<><><>

“A-aku kalah,”

Yoona menghentikan aktivitas membacanya. Terdiam sebentar lalu menutup novel bersampul biru tersebut dan mendongak, menatap mata rusa yang terlihat sayu dihadapannya itu.

“Timku kalah, dan semua teman-temanku menganggap akulah penyebabnya Yoong,” ulangnya lagi. Yoona menghela nafas dan menghembusannya pelan, sudah kuduga, pikirnya.

Tangan ramping putih bak susu milik Yoona terangkat. Menggenggam pergelangan tangan laki-laki yang merupakan sahabat dekatnya itu, “Duduklah Lu,” ajak Yoona santai dan langsung dituruti oleh laki-laki berdarah China yang bernama Luhan itu.

“Aku benar-benar takut Yoong, aku takut teman-temanku memusuhiku dan aku dikeluarkan dari tim sepak bola oleh pelatih,” suara Luhan bergetar. Menandakan bahwa lelaki itu memang ketakutan. Yoona tersenyum, lalu tangannya terulur merangkul bahu Luhan, mencoba menyalurkan ketenangan lewat dirinya.

“Apa alasan teman-temanmu menganggap kaulah penyebab kekalahan tim?” Yoona bertanya perlahan. Ia tidak mau Luhan tersinggung karena Yoona sendiri juga sebenarnya sependapat dengan teman-temannya itu.

“Mereka bilang, selama hari-hari sebelum pertandingan dilaksanakan, aku jarang berlatih dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Jinri, apa memang seperti itu Yoong?”

Senyum Yoona luntur seketika. Ingin sekali Yoona berkata ‘iya’ dan memberikan teguran kepada Luhan. Ia juga ingin berkata bahwa Luhan juga perlahan melupakan Yoona. Tapi siapa dirinya? Bahkan Yoona sendiri yakin bahwa dirinya tidak lebih penting dari Jinri, kekasih Luhan.

Jadi, Yoona menarik nafas dalam, mencoba merendam rasa sakit yang menjalar direlung hatinya. “Aku pikir teman-temanmu ada benarnya. Seharusnya kau meluangkan waktu untuk berlatih, namun tak sepenuhnya kau salah, karena bagaimanapun Jinri kekasihmu yang juga butuh waktu denganmu.”

Setiap kata yang terucap dari bibir Yoona tadi menimbulkan titik-titik kecil kesakitan yang menyesakan dada Yoona. Anggaplah Yoona itu perempuan munafik, tapi apa salah jika Yoona melakukan itu demi sahabatnya?

Luhan menatap Yoona dengan takjub, entah mengapa kalimat yang berasal dari perempuan itu membuat dirinya tenang. Bahkan kalimatnya tidak pernah ia dengar dari Jinri, kekasihnya sendiri. Dan tanpa Luhan sadari, ketenangan itu merupakan sebuah perasaan yang memang tidak akan Luhan ketahui, mungkin.

Dengan satu tarikan, Yoona kini sudah berada dalam dekapan hangat Luhan. Yoona hanya diam, bibirnya terasa kaku untuk berbicara dan tubuhnya juga terasa susah digerakan akibat efek detak jantung yang kini bekerja lebih cepat. “Terimakasih Yoong, kau memang yang paling mengerti diriku.”

Yoona tersenyum kecut, jika memang dirinyalah yang bisa mengerti Luhan, mengapa lelaki itu hanya menganggap Yoona sebatas—

Perempuan beriris madu itu segera menepis pikirannya. Yoona tidak boleh terlalu berharap pada Luhan. Luhan memang ditakdirkan hanya sebagai sahabat, pikir Yoona cepat. Jadi, perempuan bermarga Im itu memilih melingkarkan tangannya dipunggung Luhan, membalas pelukannya. “Kita bersahabat bukan?”

Luhan terkekeh geli. “Tentu saja,” jawabnya semangat. “Tapi—“

Yoona mengeryit. Lalu melepas tautan tubuhnya terlebih dulu karena mendengar ucapan Luhan yang menggantung. “Apa?”

“Bagaimana jika aku benar-benar dikeluarkan oleh pelatih?”

“Masih ada pertandingan kedua yang diselenggarakan oleh sekolah kita bukan? Aku akan berbicara dengan pelatih dan kau bisa menggunakan kesempatan itu untuk memperbaikinya.”

“Sekali, lagi terima kasih Yoong.”

“Iya, Luhan-ah.”

<><><>

“Im Yoon Ah,” seorang pria tinggi berwajah tampan kini menatap dalam Yoona yang tengah duduk dengan tenangnya diruang olahraga. Hanya ada mereka berdua.

“Kau selalu melakukan hal ini hanya demi Lu Han, siswa pemalas itu!” nadanya meninngi. Namun Yoona bukannya takut ia malah angkat bicara, “Dia bukan siswa pemalas, pelatih Choi!” ada sedikit penekanan yang terkandung dalam kalimat Yoona, namun perempuan itu mencoba lebih tenang.

“Iya itu bagimu, namun apakah orang lain juga menganggapnya seperti itu, hm?”

Yoona berdecak kesal. “Terserah apa katamu! Aku kesini hanya ingin memintamu agar tidak mengeluarkan Luhan dari klub sepak bola.”

Pelatih Choi tersenyum miring, lalu kedua tangannya dipertemukan hingga menimbulkan suara tepukan, “Woah, nyalimu tinggi juga. Padahal selama ini tidak ada yang berani berbicara terang-terangan seperti ini, apa lagi seorang perempuan.”

“Jadi apa yang bisa meyakinkanku agar Luhan tetap bertahan dalam klub sepak bola sekolah ini?” lanjutnya.

Yoona memejamkan mata, mencoba menyusun kata-kata yang akan ia keluarkan, lalu membukanya kembali. “Impian.”

Pelatih Choi mengeryit.

“Luhan mempunyai mimpi ingin menjadi pemain sepak bola internasional. Sejak kecil, ayahnya selalu melatih Luhan dengan keras agar mimpinya terwujud—“ Yoona memberikan jeda sejenak, mencoba mengambil nafas.

“Namun saking kerasnya berlatih, lama kelamaan Luhan menjadi lelah dan butuh waktu untuk berisirahat. Namun karena ego ayahnya, Luhan dilarang berisitirahat dan harus terus berlatih. Sejak saat itulah dia jadi sedikit menghindari sepak bola.”

“Tapi mengapa Luhan mengikuti klub sepak bola disekolah ini?” Tanya pelatih Choi sedikit bingung.

“Lagi-lagi karena ayahnya. Luhan dipaksa masuk klub sepak bola disekolah ini. Kurasa pelatihan disekolah ini cukup baik dan tidak terlalu memaksakan, hingga Luhan bisa kembali beradaptasi dengan sepak bola.” Jawab Yoona.

“Begitukah? Namun aku mendapat laporan dari teman satu timnya bahwa menjelang pertandingan sepak bola, dia jarang berlatih, bahkan hanya satu-dua hari saja dia berlatih.”

Yoona membuang nafas kasar. “Percayalah, Luhan seperti itu bukan karena ia anak yang pemalas. Itu hanya faktor dari pergaulannya saja, dan kurasa ia bisa memperbaiki itu jika kau memberikan kesempatan pada Luhan agar ia tetap menjadi bagian dari klub sepak bola.”

Pelatih Choi tersenyum, kali ini terasa lebih tulus. “Sungguh aku takjub denganmu. Keberanianmu benar-benar diluar dugaanku. Dan Luhan harus banyak berterima kasih padamu, karena berkatmu aku tidak akan mengeluarkan Luhan dari klub sepak bola.”

Mata Yoona berbinar, dan senyum cerah tercetak dibibirnya. “Benarkah?”

Pelatih Choi mengangguk membuat Yoona merasa sangat senang. “Terimakasih banyak,” ucap Yoona menjabat tangan Pelatih choi dengan semangat. Pelatih Choi berdehem pelan, membuat Yoona segera melepas jabatan tangannya. “Apa aku boleh tahu mengapa kau sangat gigih membujukku hanya demi Luhan?”

Yoona tersenyum paksa, lalu sorot matanya melemah. “Karena dia, sahabatku.”

Dan pelatih Choi melihat, ada keraguan dibalik mata Yoona saat perempuan itu mengucapkannya.

<><><>

Sehari setelah Yoona memberitahukan kepada Luhan bahwa lelaki itu akan tetap menjadi anggota diklub sepak bola, reaksi Luhan benar-benar tidak terduga. Ia melompat-lompat kegirangan, lalu menggendong Yoona dan memutar-mutarkan perempuan itu hingga mengundang banyak mata disana.

Luhan malah tertawa keras dan langsung mengucapkan banyak terima kasih kepada Yoona dan ia berjanji, kali ini ia akan terus berlatih dengan rajin tanpa mengosongkan jadwal latihan satu kalipun.

Namun Yoona dengan pengertiannya berkata, “Kau juga harus menjaga kesehatanmu Lu, jangan terlalu memaksakan.”

Dan sepertinya Luhan menepati janjinya, setelah pulang sekolah, ia langsung mengikuti pelatihan dan dengan setia Yoona selalu menemaninya.

Jinri?

Entahlah, akhir-akhir ini Luhan jarang bertemu dengannya. Sekali bertemu, Jinri selalu menolak ajakan Luhan untuk berkencan dengan alasan sangat sibuk.

Namun Jinri berbohong dan Yoona tahu itu. Apakah bisa dikatakan sibuk jika Jinri malah berkencan dengan lelaki lain ditempat yang berbeda-beda? Iya mungkin sibuk, sibuk berselingkuh lebih tepatnya. Namun Yoona lebih memilih tutup mulut karena ia takut hal itu malah mengganggu konsentrasi Luhan untuk berlatih.

Dan Yoona yakin, ada saatnya Luhan mengetahui itu tanpa perantara dirinya.

<><><>

“Kita akan segera pindah dari rumah ini sayang”

“A-apa? Tapi kemana, Ibu?”

“Ke tempat ayahmu berada sekarang tentu saja.”

“Jangan bilang bahwa kita akan pindah ke—“

“London. Kita harus tinggal disana karena Ayahmu berkata bahwa ia akan ditugaskan dinegara itu untuk waktu yang lama. Dan sekolahmu tentu saja juga akan dipindahkan.”

Yoona menatap lurus pemandangan dihadapannya tanpa konsentrasi sedikitpun. Pikirannya melayang pada kejadian kemarin malam yang benar-benar membuat kepalanya pening.

Yoona takut, ia benar-benar takut untuk pindah dari Negara ini. Bukan, bukan karena ia akan kesulitan mencari teman jika sudah pindah ke London, yang ia takutkan adalah ia harus berpisah dari sahabat laki-lakinya yang kini tengah berlatih.

Luhan.

Kecemasan itu menjadi-jadi manakala kalimat Ibunya kembali terngiang-ngiang dikepalanya seperti sebuah film. Yoona tidak tahu ia akan sanggup atau tidak berpisah dengan Luhan.

Karena sejujurnya, Yoona tahu bahwa dirinya memiliki perasaan lebih kepada Luhan.

“Yoona-ya!” panggilan itu membuyarkan lamunan Yoona. Si pemilik nama langsung menoleh kearah kiri, dan melihat laki-laki yang menjadi pikirannya saat ini tengah berlari kecil menuju arahnya.

“Kau sudah selesai?” tanya Yoona berbasa-basi sambil menyodorkan sebotol air mineral. Luhan mengangguk lalu mengambil cepat botol itu dan meneguknya.

“Apakah sangat lelah? Kau terlihat pucat, Lu.” Yoona mengambil sapu tangan ditasnya lalu mengelap peluh yang membasahi wajah Luhan yang terlihat pucat.

“Iya, sangat lelah. Tapi tak apa, ini adalah latihan terakhirku karena besok adalah pertandingan diaksanakan.”

Yoona menghentikan aktivitasnya. Besok? Tunggu-tunggu besok adalah hari Rabu, jadi—APA?! Besok juga adalah hari keberangkatan Yoona pergi meninggalkan Korea. Jadi Yoona tidak bisa menonton pertandingan yang sangat penting bagi Luhan itu?

“Hei, kau kenapa?” cepat-cepat Yoona sadar dan kembali membersihkan wajah Luhan. “Ti-tidak apa.”

Tiba-tiba Luhan menggenggam pergelangan tangan Yoona membuat perempuan itu terkesiap. Luhan menatap mata yang sama dengannya itu dalam dengan perlahan mendekatkan wajahnya membuat Yoona semakin terkesiap dibuatnya.

“Yoona-ya,”

“Ke-kenapa?”

“Bolehkah aku—” Luhan menggantungkan kalimatnya seraya kepalanya yang semakin dekat dengan wajah Yoona dimiringkan, Yoona sangat gugup ia hanya bisa terdiam menunggu lanjutan kalimat Luhan. “—bolehkah aku tidur sebentar?”

Seiring dengan itu juga gerakan kepala Luhan terhenti, Yoona mematung cukup lama hingga seriangan jahil Luhan tercetak diwajah lelaki itu.

“YAK!”

Yoona memukul bahu Luhan berkali-kali hingga lelaki itu merasakan sedikit nyeri diahunya. “Yak! Aduh ini sakit, berhentilah kumohon.”

Yoona akhirnya menghentikan aksinya, lalu memberikan death glare andalannya, membuat Luhan bergidik. “Maaf Yoong, tadi hanya bercanda.”

Kedua bola matanya terputar dan hembusan nafas kasar keluar begitu saja. Luhan tahu, itu pertanda Yoona sudah memaafkannya walaupun kekesalan itu masih ada. Tanpa aba-aba Luhan segera memposisikan kepalanya untuk tertidur dipaha Yoona, dan badannya terlentang dikursi panjang yang sedang mereka duduki. Awalnya Yoona terkejut, namun segera ia membenarkan posisinya agar Luhan terasa nyaman.

“Yoona-ya,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Besok kau berjanji ‘kan akan datang untuk melihatku bertanding?” tanya Luhan menatap Yoona dengan serius. Yoona terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat, mencoba tersenyum. “Iya Luhan-ah, pasti aku datang.”

Senyum merekah diwajah Luhan, ia segera menggenggam tengan Yoona dan menempatkannya didada Luhan. “Aku percaya, kau akan menepati janjimu itu. Biarkan aku tidur dengan posisi seperti ini Yoong, sepuluh menit saja.”

Dan yang bisa Yoona lakukan hanyalah mengangguk, mengiyakan pernyataan Luhan. Tak berapa lama mata Luhan terpejam hingga dengkuran halus lelaki itu terdengar menandakan bahwa ia benar-benar tertidur.

Yoona menatap sedih wajah tampan sekaligus baby face yang terpampang jelas dibawahnya. Tangan kirinya masih digenggam Luhan dan ditepatkan didada lelaki itu. Dan tangan kanannya terulur, menelusuri wajah itu. Dahinya, hidung, kedua pipi putih, hingga terhenti pada bibir tipis itu. Yoona terdiam, hingga perlahan wajahnya menunduk. Merasakan hembusan nafas Luhan yang teratur. Dan tak lama, bibirnya sudah melekat sempurna pada bibir Luhan. Hanya sebuah kecupan dan Yoona langsung melepaskannya. Satu cairan bening yang sedari tadi Yoona tahan akhirnya menetes juga.

Aku mencintaimu, Luhan-ah.

<><><>

Suara tepuk tangan dan teriakan disekolah itu terdengar riuh layaknya backsound yang kini mengiringi jalannya pertandingan sepak bola antar sekolah itu.

Selama pertandingan berlangsung, kedua tim yang berasal dari tim tuan rumah(yang salah satu anggotanya adalah Luhan) dan tim dari sekolah lain, terlihat bermain dengan sportif, tidak ada kecurangan terjadi hingga membuat penonton berteriak heboh. Waktu permainan terus berjalan, dan sebentar lagi adalah penghujung permainan namun skor dari kedua tim itu masih sama, 0-0.

Tim tuan rumah terlihat cekatan dalam mendapatkan bola, salah satu yang paling menonjol adalah Luhan. Beberapa kali lelaki itu mempunyai kesempatan hampir memasukkan bola ke gawang, namun lagi-lagi usahanya masih belum berhasil.

“Minseok-ah, kesini-kesini,” teriak Luhan ketika melihat teman setimnya—Minseok—terlihat kesusahan untuk menggiring bola akibat tim lawan yang menghadang. Minseok menoleh kearah sumber suara dan dengan satu tendangan, bola itu sudah berada dikaki Luhan.

Luhan yang sudah mendapatkan bola tersebut langsung menggiringnya menuju gawang. Tatapan matanya terlihat tajam. Ia tahu beberapa menit lagi permainan akan berakhir dan ia tidak ingin jika usahanya kali ini gagal.

Kemenangan ini ingin ia tunjukkan untuk timnya,

Untuk Jinri,

Untuk pelatih,

Untuk ayahnya,

Dan yang paling utama, ia ingin menunjukkan kemenangan ini untuk sahabat perempuannya—Yoona.

Karena Luhan tidak ingin mengecewakan orang yang selalu ada untuknya dan membantunya.

Dan—

SRET

GOAL!!!!!

Suara teriakkan penonton seiring dengan peluit dari wasit yang menggema menandakkan bahwa permainan ini berakhir. Luhan menatap bola yang kini masuk kedalam gawang akibat tendangannya dengan tatapan tak percaya. Baru-saja-ia-telah-memasukan-bola, pikirnya lambat. Hingga teriakkan dari teman setimnya dan tubuhnya yang terasa diangkat oleh mereka barulah menyadarkan Luhan. Lelaki itu tersenyum haru, lalu menurunkan tubuhnya dan berlari-larian dilapangan.

Luhan sangat bahagia, dan lelaki itu tak pernah merasakan kebahagiaan ini sebelumnya. Matanya menatap orang-orang yang kini mengelu-elukan namanya satu persatu. Ia sedang mencari seseorang, dan kau pasti tahu siapa orang yang dimaksud Luhan bukan?

Hingga Luhan merasakkan kedua tangan seseorang kini melingkar diperutnya. Membuat pandangan penonton terlihat shock. Luhan mengeryit, lalu melepaskan tangan seseorang itu dan membalikan tubuhnya.

Dihadapannya perempuan cantik dan terkesan manis tengah tersenyum, membuat gigi-gigi kecilnya terlihat. “Oppa, aku turut bahagia, selamat atas kemenanganmu dan tim.”

Luhan menggaruk tengkuknya, ia salah menebak, tadinya ia pikir adalah Yoona. “Terima kasih Jinri-ya.” Luhan memakasakan senyumnya, entah kenapa ia merasa biasa saja atas ucapan Jinri, padahal perempuan itu kekasihnya.

“Luhan-ah!” Luhan menoleh ketika namanya dipanggil. Dan wajah bahagia tampak terlihat ketika ia mengetahui siapa yang berjalan menuju arahnya.

“Ayah?”

<><><>

Perempuan beriris madu itu terdiam menatap pandangan yang terpampang jelas ditengah lapangan itu. Seorang perempuan manis yang tengah memeluk lelaki dari belakang. Namun wajah perempuan madu ini tidak terlihat shock seperti para penonton yang melihatnya. Baginya, hal seperti ini sudah biasa ia lihat dan sudah terbiasa juga dirinya merasakan sakit yang luar biasa hingga membuat dadanya sesak. Selalu seperti ini dan berakhir dengan tangisan.

Hingga tepukan dibahu perempuan itu membuatnya terkesiap dan langsung menoleh. “Nyonya muda, ini sudah waktunya, Nyonya besar Im sudah menunggu dibandara.”

Perempuan itu memaksakan senyumnya, “Paman Han, beri aku waktu lima menit, dan aku akan segera berangkat.”

Paman Han terlihat berpikir, namun akhirnya mengangguk dan berlalu dari situ. Perempuan itu berjalan mendekati seorang pria paruh baya yang berdiri menatap lapangan dengan tatapan haru. “Permisi Tuan, apa kau ayah dari Luhan?”

Pria paruh baya itu mengerutkan kening karena ada yang menanyakan hal ini tiba-tiba, namun akhirnya mengangguk. “Iya, kau benar.”

“Mengapa kau hanya berdiri disini? Kau tidak ingin mengucapkan selamat atas kemenangan putramu?” tanyanya pelan.

“Tidak,”

“Kenapa?”

“Aku takut, putraku sudah membenciku karena aku pernah melakukan kesalahan yang membuatnya trauma akan sepak bola.” Suara pria paruh baya itu bergetar persis Luhan.

“Aku yakin Luhan tidak seperti itu, aku pun sudah pernah mendengar cerita itu dari Luhan, dan yeah awalnya Luhan memang marah, namun seiring berjalannya waktu dia sudah memaafkanmu, dan karena kau sendiri yang juga memasukkan Luhan diklub sepak bola disekolah ini membuatnya kembali bisa beradaptasi dengan bola. Dan sekarang pergilah ,temui Luhan dan ucapkan selamat padanya.”

Ayah Luhan tersenyum mendengar serentetan kalimat yang berhasil membukakan pintu hatinya itu. “Terima kasih anak muda, kau anak yang sangat baik.”

Perempun bersurai coklat itu tersenyum, lalu mengambil sebuah amplop berwarna biru langit dan menyerahkannya pada Ayah Luhan. “Aku ingin meminta tolong agar kau memberikan amplop ini pada Luhan.”

Ayah Luhan menatap seekilas amplop itu dan berkata, “Baiklah.”

<><><>

Luhan tersenyum bahagia dan dengan berlari lalu memeluk ayahnya itu. “Ayah, aku senang kau datang.”

Ayah Luhan tersenyum dan melepas pelukannya. “Iya nak. Aku juga senang kau bisa memenangkan pertandingan ini. Maafkan ayah yang dulu sering memaksamu agar terus—“

“Aku sudah memaafkanmu. Aku juga mengerti kau melakukan itu hanya karena ingin yang terbaik untuku.” Potong Luhan cepat.

Ayah Luhan tersenyum lalau merogoh sesuatu disaku celananya. “Ada seorang perempuan yang menitipkan ini untukmu, nak.”

Luhan mengeryit lalu mengambil sebuah amplop berwarna biru langit itu dari ayahnya. “Apa ini?” tanya Luhan menimang-nimang amplop itu.

“Entahlah, buka saja.”

Luhan mengangguk, lalu meminggirkan diri disamping lapangan dan duduk dikursi. Perlahan ia membuka amplop itu. “Surat?” gumamnya lalu dengan segera membacanya.

Dear, Luhan.

Hai Luhannie! Kau pasti heran mengapa aku mengirim surat seperti ini? Baiklah akan kuceritakan dan kau hanya perlu duduk manis dan tidak boleh menangis, arraseo?

Hari ini adalah hari terakhirku berada di Korea, karena aku bersama keluarga akan pindah dari Negara ini. Maafkan aku karena aku tidak memberitahukanmu soal kepindahanku, aku hanya tak ingin hal ini akan mengganggu konsentrasi latihanmu.

Saat kemarin kau memberitahuku jika pertandinganmu akan dilangsungkan hari ini aku sangat terkejut, karena hari ini adalah keberangkatanku ke London, otomatis aku juga tak bisa melihatmu bertanding): namun aku membujuk Ibuku agar mengijinkanku untuk datang kesekolah ini untuk melihat permainanmu. aku sudah menepati janji pertamaku yaaa(;

Aku bangga melihat caramu bermain bola, kau sangat hebat melakukan teknik yang entah apa namanya. Dan sejak awal aku percaya bahwa kau bisa menjadi seorang juara dan akhirya terwujud.

Aku juga ingin memberitahukan satu hal yang sudah lama aku pendam(tolong jangan terkejut ya) sebenarnya aku memiliki perasaan lebih padamu. Aku menyayangimu Luhan, bukan perasaan sayang kepada sahabat, namun sebuah perasaan seperti seorang perempuan kepada lelaki. Tolong jangan memusuhiku setelah kau membaca ini, dan kau dengan Jinri harus tetap bersama ya;)

Sudahlah, aku pegal menulis surat ini. Kuharap kau jangan menangis Lu, aku yakin suatu saat nanti kita dapat bertemu lagi, dan itu adalah janji keduaku Lu(: 

Aku menyayangimu,

Deer Yoona^^

Tetes demi tetes air mata menuruni pipi lembut Luhan. Ia benar-benar sedih. Seakan kepergian Yoona adalah hal yang menyakitkan untuk dirinya. Ia juga tidak menyangka jika Yoona mempunyai perasaan lebih padanya dan Luhan merasa bersalah akan itu.

Luhan tidak akan lagi melihat senyuman Yoona, tawa lebarnya, tidak ada lagi yang menghiburnya jika ia sedang bertengkar dengan temannya atau Jinri, dan yang pasti tidak akan ada lagi pelukan hangat dari perempuan itu.

Yoona-ya maafkan aku.

END

 

Hhh masih shock tentang berita luhan keluar, tapi aku sih percaya luhan ngelakuin itu karena pengen yang terbaik buat dia, jadi yaudahlah aku gamau galauin terus, ya walaupun kalo nginget mood aku jd gabagus lg=_=

Dan inilah akibatnya-,- ff jd ini gajelas dan monoton bgt_- tapi please jangan sakit mata ya abis baca ini ff.  Maaf juga untuk typo(s) yang membuat readers ga nyaman. Tapi udah aku perbaiki seteliti mungkin tapi kalo masih ada yaudahlah/?

Don’t forget leave comment and like, okay? Seeya!

Love, Shaquila~

34 thoughts on “당신의 꿈

  1. Luhan-ah sedih stp dgr atau sebut nama dia. Bias utama soalnya… my lulu oppa
    Bagus kok ff nya chingu
    Moga kelak luyoon bs bersatu…
    Luhan hwaiting, Exo L hwaiting, yoona hwaiting, author hwaiting

  2. Aku sdh bisa move on kok.. Move on ke siapa lg kalo bukan ke evil maknae oh sehun (´▽`ʃƪ) hahahaha.. Jd skg lebih fokus ke yoonhun deh😄 bnyk” bikin ff yoonhun yaa😄

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s