BACK IN TIME 5

sOONG-JOONG-KI-87

 

Tittle : BACK IN TIME

AUTHOrs : Rifda Harmidah,Firda Auliana

MAIN CASTS :Im Yoona,Xi Luhan,Song Jong Ki,Lee Min Ho | MINOR CASTS :-

GENRE : Romance | RATING :PG 14

Desclaimer: Cast belong to God. But this story and poster are mine.

                                                            Enjoy This!

Don’t be siders!

Plagiator? Doesn’t allowed here

WARNING : Typo,GAJE

***********

Lee Min Ho’s POV

Kumatikan lampu kamar Yoona, saat yakin gadis itu telah terlelap. Tak lupa, aku membenarkan letak selimut, agar Yoona tak kedinginan. Lagi, aku kembali melakukan ritualku di malam hari, saat Yoona tengah terlelap, mengecup lembut keningnya, mencoba memberikan mimpi indah di setiap malamnya.

Kulangkahkan kakiku keluar kamarnya, dan kembali ke kamarku. Kuhempaskan tubuhku di ranjangku. Hari ini sepertinya merupakan hari yang berat bagi kami. Aku harus mengatasi pasien yang terus-menerus menolak untuk diobati, dan Yoona harus berhadapan dengan si Gila itu.

Luhan. Xi Luhan. Salah satu nama yang paling kubenci di dunia ini. Hanya dengan mengingat namanya saja mampu membuatku sakit kepala. Dia, sifatnya mirip seperti Ayahnya, dan aku benci itu.

Aku berusaha memejamkan mataku, namun ingatan tentang bagaimana ia dan Yoona saling berdekatan saat itu kembali datang dan membuatku gagal untuk mengistirahatkan mataku. Aku bangkit dari tidurku, tanganku sudah mengepal keras entah sejak kapan. Rasanya aku ingin sekali merealisasikan apa yang tadi kukatakan pada Yoona saat makan malam. Aku ingin membunuhnya, membunuh pria yang sudah merebut segalanya dariku juga keluargaku, dan aku bersumpah, dia tidak akan pernah bisa merebut Yoona dariku, tidak, bahkan saat aku sudah mati sekalipun.

Aku mulai bergerak menuju meja bacaku, membuka salah satu laci di meja itu, dan mendapati sebuah bingkai foto. Foto keluargaku, dimana ada aku-Ibu-Ayahku dalam satu bingkai tengah tersenyum lebar. Aku masih ingat saat itu, dan suasana yang tercipta saat itu. Kami hidup bahagia, sebelum dia hadir dalam kehidupan kami, juga sebelum Nenekku meninggal, menyusul Kakekku yang telah pergi dua tahun lebih awal darinya.

Tanganku perlahan bergerak maju, mengusap wajah Ibu yang tengah tersenyum manis. Senyum ini, aku merindukannya, sangat. Aku beralih ke Ayahku, senyumnya tidak selebar senyumku, namun terlihat jelas binar kebahagiaan di matanya. Fokusku tetap pada wajahnya, sebelum beralih ke satu sosok yang sangat familiar bagiku. Ya, aku saat masih kecil ternyata jauh lebih manis jika tengah tersenyum seperti itu. Tidak seperti saat ini, aku bahkan merindukan senyumku yang seperti itu saat ini. Yoona memang membuatku bahagia saat ini, sungguh, namun entah mengapa aku masih merasakan ada sesuatu yang kurang dalam diriku saat ini. Aku.. seakan kehilangan jiwaku bersama mereka.

Tanpa sadar air mataku bergerak turun, membasahi lekuk pipiku, tanganku mulai gemetar, kakiku terasa lemah, hingga kini aku sudah jatuh terduduk di lantai kamarku, pasti saat ini aku terlihat begitu menyedihkan.

“Eomma, Appa, aku harus bagaimana? Akal sehatku sebentar lagi akan hilang, dan pasti tanganku akan bergerak untuk menohok sebilah pisau di jantung mereka. Apakah aku boleh melakukan itu? Melakukan apa yang sudah dia lakukan kepada kalian, membunuh.” Ujarku disela tangisku. Tanganku semakin terkepal keras saat ingatan itu kembali datang. Melihat bagaimana Ibu dan Ayahku harus meregang nyawa sementara aku harus bertahan hidup seorang diri di dunia ini.

Tiba-tiba ingatan itu kembali datang menyerang, membuatku kembali terisak. Saat itu, suasana sebelum kejadian itu, dan teriakan itu.

FLASHBACK

“Eomma, kita mau kemana?” tanyaku saat melihat Ibuku tengah melesakkan beberapa pasang baju ke dalam tasku.

“kita akan berlibur ke pulau Nami. Apa kau suka, Minnie-ah?” jawab Eomma dengan binar bahagia di matanya.

Mataku membulat seketika, “jeongmal?!” pekikku kaget, dan segera disambut anggukan mantap dari Eomma.

“itu benar, Min Ho-ah. Kalian akan berlibur. Paman sudah menyiapkan segala keperluan kalian disana. Kau suka?” tanya Paman Xi yang merupakan adik satu-satunya dari Ayahku.

“aku sangat suka, Ahjussi! Gamsahamnida!” seruku seraya menghambur ke arahnya, memeluknya erat. Dia satu-satunya Paman yang kusukai. Dia sangat baik hati.

Paman mengusap kepalaku lembut, “ne, cheonmaneyeo, Min Ho-ah. Bersenang-senanglah disana. Arraseo?”

Aku mengangguk mantap, “eum! Tentu saja aku akan bersenang-senang disana!”

Ibu juga Paman Xi tertawa melihat tingkahku yang kini sudah berloncat-loncat ringan mengelilingi setiap sudut kamarku, aku suka itu.

“gomapta, Oppa.” ujar Eomma pada Paman Xi.

Aku melihat paman Xi mengangguk seraya tersenyum, tak lupa dia juga mengusap lembut bahu Ibuku, membuatku semakin bahagia memiliki keluarga yang rukun seperti ini.

“Ahjussi, apa Ahjussi menginginkan sesuatu sebagai oleh-oleh nanti?” tanyaku seraya kembali menghambur ke arahnya.

Paman Xi terlihat berpikir sejenak, sebelum menggeleng kecil. “tidak ada, hanya ingin kalian tiba dengan selamat, dan kembali dengan selamat. Bisakah kau pastikan itu pada Ahjussi, Min Ho-ah?”

Aku mengangguk mantap, “tentu saja, Ahjussi. Aku akan membuat kami tiba disana dan kembali ke Seoul dengan selamat. Aku akan menjaga mereka. Kau tahu, aku ini memiliki kekuatan sihir sama halnya dengan Harry Potter, Ahjussi. Jadi, aku akan membuat apa saja menjadi mungkin. Aku juga akan membangunkan istana yang megah untuk Ahjussi juga Eomma. Percayalah.”

Lagi-lagi Paman Xi juga Ibuku tertawa menghadapi tingkahku, ada apa dengan mereka. Aku sungguh bisa menggunakan sihir. Apa kalian juga tidak percaya denganku?

“apa hanya untuk Ahjussi dan Eomma mu saja, Minnie-ah? Kau tidak ingin membangunkan satu untuk Appa mu ini, eum?” tiba-tiba suara Appa memenuhi kamarku, membuatku menoleh ke arah pintu, dan mendapatinya tengah berjalan menghampiri Eomma juga Paman Xi.

Aku mengeluarkan cengiran khasku yang kini mengundang tawa dari Appa juga Paman Xi, sementara Eomma hanya tersenyum padaku.

“hehe, Joseunghamnida, Appa. Aku lupa. Baiklah, Appa akan mendapatkan istana yang jauh lebih besar dari istana Ahjussi. Aku akan membangunkannya untukmu. Tunggu saja sampai ilmu sihirku sudah hebat, Appa.” Ujarku mantap, sementara Appa menghampiriku, lalu mengusap lembut puncak kepalaku.

“baiklah, Appa akan menunggu untuk itu.”

“janji?” ujarku seraya menyodorkan jari kelingkingku yang segera disambut jari kelingking Appa.

“janji!”

“baiklah, Hyung. Aku akan mengecek pekerjaan mereka, mereka sedang mengecek kelengkapan mobil yang akan membawamu.” Ujar Paman Xi pada Appa.

Appa mengangguk, “eoh, gomawo. Kau sangat perhatian padaku juga keluargaku.”

Paman Xi menepuk pelan bahu Appa, “aish, kenapa kau berterima kasih? Anggap saja ini sebagai balas budiku terhadapmu juga keluargamu karena selalu menjaga Luhannie saat kami sibuk di luar negeri. Selamat berlibur, dan bersenang-senanglah. Aku akan mengurus perusahaanmu di sini. Lagi pula, sejauh ini perusahaan kita tak pernah mengalami kendala apapun, bukan?”

Appa mengangguk mantap, “ya, kau benar. Perusahaan saat ini dalam keadaan stabil. Terima kasih sudah mau repot-repot mengurusnya untukku.”

Paman Xi kali ini berdecak, “Hyung, kan sudah kukatakan, tidak perlu berterima kasih. Sudahlah, aku harus mengecek pekerjaan mereka. Aku tidak mau mereka lalai dan menyebabkan kesulitan nanti untukmu juga keluargamu.”

Appa mengangguk sebelum Paman Xi berjalan keluar kamarku.

**

Dari sini aku tengah memperhatikan Paman Xi yang tengah menghampiri salah satu pegawai yang tengah mengecek keadaan mobil yang akan aku tumpangi. Meskipun tak bisa mendengar apa yang tengah mereka bicarakan, aku bisa mengetahui bahwa Paman Xi tengah memberi arahan seperti harus mengecek tekanan ban depan dan belakang mobil, juga hal-hal lainnya.

Sepeninggal Paman Xi, aku kembali memperhatikan pegawai itu, tapi aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Kenapa pria itu terus menoleh ke kiri dan kanan dengan wajah seperti itu? Seperti sedang mencuri saja. Aneh.

“Minnie-ah.” Panggil Eomma yang menghentikkan pemikiran bak detektifku.  Bukankah aku ini sedikit berlebihan?

Aku menoleh, mendapati Eomma dengan kopernya menghampiriku.

“apa kau sudah siap? Ayo kita turun, dan berpamitan pada Ahjussi, Ahjumma, juga Luhan.” Ajak Eomma.

Aku mengangguk riang, dan segera menyampirkan ranselku di bahuku. “kajja!” seruku riang, seraya mengamit tangan Eomma.

“kami pergi dulu, ya.” Pamit Appa pada Paman Xi juga keluarganya.

Paman Xi mengangguk, “bersenang-senanglah. Semoga perjalananmu menyenangkan. Berhati-hatilah di perjalanan, dan jangan khawatirkan masalah perusahaan, biar aku yang mengatur segalanya untukmu, Hyung.”

Kali ini Appa yang mengangguk, “ne, gomawo.”

“annyeong, Ahjussi.” Pamitku seraya melambaikan tanganku ke arahnya. “Annyeong, Luhan-ah.” Pamitku pada anak nakal itu. Dia hanya menekuk wajahnya, lalu bersembunyi di balik tubuh Ahjumma. Dasar anak manja!

Sebelum aku masuk ke dalam mobil mengikuti Eomma dan Appaku, aku sempat melihat pegawai itu. Pegawai yang tadi terlihat begitu mencurigakan. Saat kami bertemu tatap, dia segera menunduk dalam. Ada apa dengannya?

**

Kami bernyanyi bersama sepanjang perjalanan, sepertinya hanya aku saja yang bersemangat bernyanyi meskipun aku tahu suaraku tak sebagus itu untuk didengarkan. Entahlah, aku suka menyanyi, mungkin itu bakat yang diturunkan dari gen Ibuku yang memang warga negara Korea asli yang merupakan penyanyi pada event pernikahan, dan sudah membuat Appaku yang merupakan warga negara Cina rela mengganti status kewarganegaraannya menjadi warga negara Korea Selatan demi menikahi Ibuku dan menetap di negara ini.

Kami kembali bernyanyi, menghibur dan menyemangati Appa yang tengah mengendarai mobil ini. Hingga aku dengan sifatku yang terkenal jahil ini mulai membagi fokus Appa ku, lantaran aku mulai membuatnya harus memakan semua cemilan yang kumakan. Hingga terdengarlah suara jeritan tertahan dari Eomma, yang membuat Appa kembali menatap jalan di hadapan kami, tidak, bukan jalan, melainkan sebuah truk besar.

“aaarrgghh..” jeritku bersamaan dengan jeritan Eomma, sementara Appa terus berusaha menginjak pedal rem, namun sepertinya benda itu tak bekerja saat ini.

Crash.. hanya suara itu yang terdengar samar sebelum aku menutup rapat mataku. Dan saat mataku kembali terbuka, aku sudah berada di atas jalan raya, dan dikepung oleh beberapa orang. Aku berusaha bangkit, meski kakiku terasa mati, dan kepalaku terasa dihantam godam. Aku terus mencari sosok Eomma dan Appaku, dan hanya mendapati beberapa orang yang memenuhi satu titik, aku berusaha menyelusup ke dalam gerombolan orang itu, dan kakiku lemas seketika saat mendapati sosok Eomma yang sudah bermandikan darah di sekujur tubuhnya, juga Appa yang terlihat tak jauh berbeda dari keadaan Eomma.

Air mataku mengalir seketika tanpa bisa di rem, namun tak ada isakan yang keluar dari mulutku. Lidahku seakan kelu. Mengguncang pelan tubuh Eomma, hanya itulah yang bisa kulakukan dengan jiwa dan raga yang tak sinkron seperti saat ini.

“Eomma, ireona. Eomma!” seruku masih seraya mengguncang tubuh Eomma yang terbujur kaku di atas jalanan yang kini berubah warna menjadi merah karena darah Eomma yang terus mengalir keluar.

“Appa! Bangun! Appa! Ayo kita bawa Eomma ke rumah sakit! Appa! Kau bisa mendengarku!? Bangun, Appa!” kali ini aku berpindah ke Appa dan melakukan hal yang sama pada Eomma.

Nihil. Tak satu pun dari mereka yang membuka matanya, membuat tanganku semakin bergetar takut. Otakku yang biasanya cerdas, seakan tak memiliki saraf motorik juga sensorik, sehingga hanya terpaku yang bisa kulakukan saat ini, dengan air mata mengalir di pipiku, dan lagi tanpa isak tangis.

Apakah aku akan sendirian di dunia ini? Apakah mereka meninggalkanku? Hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang terus memenuhi kepalaku.

“Eomma! Appa!” aku mulai berteriak frustasi di tengah mereka yang seakan semakin ingin membuatku gila karena tak kunjung membuka matanya, dan mengatakan kalau ini hanya candaan Appa yang biasanya ia lakukan saat aku sedang merajuk pada mereka.

“Eomma!!!” teriakku lagi. Mati, mati sudah jiwa dan ragaku saat ini.

FLASHBACK END

“Min Ho oppa!” aku merasakan sesuatu mengguncang tubuhku. Perlahan suara itu membawa ketenangan tersendiri padaku.

“Min Ho oppa!” suara itu mulai memenuhi otakku, membawakan kembali kesadaranku.

Mataku mengerjap pelan, mendapati sosok Yoona tengah menatapku cemas.

“Oppa, gwenchana?” tanyanya panik.

“Oppa? gwenchana? Kenapa diam saja? Kenapa kau tidur di lantai? Ada apa? Kenapa kau terus berteriak memanggil Eomma mu? Apa kau bermimpi buruk?” Yoona kembali memborbardirku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Aku tersenyum kecil, seraya berusaha bangkit dari tidurku, rupanya semalam aku tertidur di lantai.

“apa kau harus melontarkan banyak sekali pertanyaan di pagi hari, Yoongie-ah? Otakku bahkan belum bangun saat ini untuk menjawab semua pertanyaanmu.” Candaku, membuat dia mempoutkan bibirnya lucu.

“aku baik-baik saja. Aku hanya bermimpi buruk. Selebihnya aku baik-baik saja. Jangan khawatir, oke?” lanjutku, membuatnya sedikit tersenyum lega.

“syukurlah.” Ujarnya.

**

Aku melangkah lemah menyusuri setiap koridor rumah sakit. Tidak seperti biasanya, saat jam kerjaku berakhir biasanya aku dengan semangat melangkahkan kakiku untuk segera tiba di Apartemenku untuk segera melihat senyum yang kurindukan sepanjang hari, senyum dari seorang Im Yoon Ah. Namun kini keadaan berbanding jauh, kepalaku terasa amat berat, sehingga membuatku kesulitan bahkan hanya untuk berjalan ke area parkir pegawai pun rasanya sulit dan jauh ditempuh.

Frustasi. Aku sendiri bahkan tidak mengerti apa yang salah padaku hari ini. Seharian ini aku tak fokus merawat para pasien, seakan jiwaku masih tertinggal di zona masa lalu kelamku yang baru saja kubukan kembali tadi malam lewat mimpi mengerikan itu.

Perlahan kududukan diriku di salah satu kursi di salah satu sudut koridor ini, dan tanganku mulai merogoh saku kemejaku, hingga mendapati ponselku. Senyum manis gadis itu yang pertama kali tersaji di hadapanku saat kunci ponsel berhasil kubuka. Yoona. Bahkan senyum itu saat ini kuyakini memiliki kekuatan magic yang perlahan mampu mengurangi kegundahan dan kerisauan hatiku saat ini.

“Yoona, hanya kau yang kumiliki saat ini. Kumohon, tetaplah di sisiku sampai akhir.” Gumamku seraya mengusap lembut layar ponselku, sebagai ganti mengusap lembut pipinya yang saat ini tak bisa kugapai.

Kembali aku bangkit dari dudukku, satu yang membuatku kuat untuk melanjutkan kembali langkahku menuju mobilku yang terparkir adalah, aku harus melihat senyumnya. Ya, hanya itu yang mampu sedikit mengobati semua kepedihan ini.

**

“annyeong, Yoo..”

Sapaanku menggantung saat diriku harus mencelat lantaran bukan Yoona ku yang membukakan pintu Apartemenku, melainkan pria itu. Sial, kenapa dia harus datang saat aku benar-benar ingin menghabisi nyawanya. Semoga aku bisa menahan setan dalam jiwaku ini, setidaknya hanya untuk malam ini.

“kau sudah datang?” tanyanya tanpa embel-embel Hyung. Benar-benar membuatku naik pitam.

“kenapa kau ada di sini, eoh!? Apa kau tidak punya rumah?!” sinisku.

Alih-alih menjawab, dia malah masuk ke dalam Apartemenku, seakan aku hanyalah petugas kebersihan Apartemen. Halo, apa dia lupa siapa pemilik sah Apartemen ini?! Menyebalkan.

“Oppa, kau sudah datang?” suara Yoona menahan mulutku yang baru akan melontarkan beribu kata-kata INDAH untuk makhluk ini.

Aku menoleh, mendapatinya dengan setelan santai khasnya, terlihat simple namun sangat menawan bagiku. Ah, rasanya hanya dengan melihatnya saja semua rasa kesalku karena pria brengsek itu hilang begitu saja. Benar-benar magic.

Aku berjalan menghampirinya, senyum manisnya mengiringi langkahku, membuatku semakin mempercepat langkahku. Tanpa berpikir panjang, aku segera merengkuhnya dalam pelukku. Hangat dan nyaman, itulah yang kurasakan saat ini.

“Oppa? Gwenchana?” tanyanya seraya mengusap punggungku. Ah, benar-benar seperti malaikat.

Aku menggumam tak jelas sebagai jawaban, dan semakin memeluknya erat, meski aku tahu kami sedang memiliki TAMU ISTIMEWA saat ini yang tengah memperhatikan kami. Aku tahu itu dari sudut mataku. Dia milikku, Xi Luhan. Hanya milikku, batinku.

“Oppa, kau harus makan sesuatu. Apa kau akan terus seperti ini sampai besok?” Yoona mengingatkanku, sepertinya sudah terlalu lama aku memeluknya seperti itu, dan sepertinya Yoona sedikit merasa canggung akan hal itu.

Dengan terpaksa aku melepasnya, dan menggantinya dengan mengusap lembut puncak kepalanya, membuatnya menatapku serba salah. Apa dia sedang malu? Ah, kuharap seperti itu. Setidaknya aku masih memiliki harapan atas cintanya.

“kau masak apa hari ini?” tanyaku lembut seraya merangkulnya menuju ruang makan kami.

“Oppa, maaf. Aku hanya sempat memasak Ramyun untuk kami bertiga. Aku terlalu lelah untuk memasak makan malam hari ini. Terlebih..” Yoona mengedikkan kepalanya menuju Luhan, dan segera memasang wajah kesalnya. Ah, pasti setan itulah yang membuat Yoona ku lelah hari ini.

“hei, tamu tak diundang! Untuk apa kau kemari?” tanyaku sinis seraya meletakkan tas kantorku di salah satu kursi makan.

Dia menghampiri kami, “siapa yang kau maksud tamu tak diundang?” balasnya.

“tentu saja kau, bodoh!” cibirku. Dia memang bodoh. Hanya bermodalkan parasnya yang terbilang lumayan itulah dia bisa bertahan hidup selama ini.

Dia mulai menunjukkan ekspresi geramnya, namun sama sekali tak membuatku gentar.

“aku hanya mengantarkan Yoona pulang. Apa itu jadi masalah untukmu? Kau bahkan bukan kekasihnya, jadi kau tidak berhak melarangku.” Ujarnya santai, membuatku menatapnya tajam.

“itulah yang jadi masalah untukku, Sajangnim yang terhormat!” sahut Yoona yang membuatku diam-diam mengembangkan senyum kemenangan.

“aish.. gadis ini. Apa ini caramu berterima kasih pada atasanmu yang berbaik hati ingin mengantarmu pulang di saat sudah malam hari?! Benar-benar hebat!”

“aku tidak pernah memintamu untuk mengantarku, Sajangnim yang baik hati!” balas Yoona dengan menggunakan penekanan pada empat kata terakhirnya. Rasakan itu, Xi Luhan.

Aku mendengar Luhan mendesah kesal, dan mulai menarik satu kursi di hadapanku.

“sudahlah, sekarang berikan aku makanan. Aku sangat lapar. Kalian tidak bisa membiarkan seorang tamu kelaparan, bukan?” ujarnya santai.

Aku menoleh pada Yoona yang sudah menekuk wajahnya, kesal. Namun tangannya masih bergerak untuk menuangkan Ramyun ke dalam mangkuk Luhan. Ah, kenapa hanya melihat hal itu saja mampu membuatku kesal setengah mati seperti ini?!

Diam. Kami menghabiskan makan malam kami dengan saling diam. Sibuk dengan argumen masing-masing, dan aku, sibuk menahan setan dalam jiwaku untuk tidak menusukkan pisau di hadapanku ini ke jantung Luhan saat tangannya mulai terangkat untuk membersihkan potongan kecil Ramyun yang menempel di sudut bibir Yoona kala itu.

Akhirnya setelah menghabiskan waktu beberapa menit setelah acara makan malam yang sangat menyebalkan bagiku, setan itu pun akhirnya pergi dari Apartemenku yang damai ini. Kuhempaskan tubuhku pada salah satu sofa ruang tamu, dan segera disusul Yoona.

Saat ini Yoona tengah menyandarkan kepalanya di atas pahaku, membuatku tak bisa untuk menahan senyumku lebih lama. Rasanya bagaikan ada jutaan kupu-kupu tengah menari-nari dalam perutku.

“Oppa, apa kau ada masalah?” tiba-tiba dia bertanya, menghentikkan aktifitas ilegal yang selalu kulakukan jika dia sedang berada di dekatku, mengamatinya diam-diam.

“eum?”

“kau terlihat suntuk sejak tadi pagi, apa ada sesuatu yang salah? Kau bisa berbaginya denganku kalau kau mau.”

Aku tersenyum lembut seraya membelai rambut halusnya, “tidak ada apa-apa, Yoongie-ah. Jangan khawatir.” Kilahku. Tentu saja aku tak ingin dia khawatir.

“pembohong!” tukasnya, membuat senyum di wajahku perlahan memudar.

Dia bangkit dari tidurnya, kemudian berjalan ke kamarnya begitu saja meninggalkanku. Aku menghela napas berat saat terdengar suara dentuman yang lumayan keras lantaran dia membanting pintu kamarnya keras.

“maafkan aku, Yoongie-ah. Tapi ini adalah masalah pribadiku, yang tidak seharusnya kau ketahui. Aku takut kau akan semakin terjebak dalam kesulitan dan rasa cemas yang berlebih jika kau mengetahuinya.” Lirihku.

Lee Min Ho’s POV End

Yoona’s POV

Aku berlari di sepanjang koridor rumah sakit begitu aku tiba di rumah sakit ini. Mataku terus bergerak gelisah, mencari sebuah ruangan yang sebelumnya diberitahukan kepadaku melalui panggilan yang dilakukan salah satu perawat di rumah sakit ini.

“permisi, aku adiknya Dokter Lee Min Ho. Apa kau tahu dimana dia di rawat saat ini? Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa tadi dia tak sadarkan diri di ruangannya.” Tanyaku saat seorang perawat tengah berjalan di hadapanku.

“ah, kau adiknya Dokter Min Ho. Beliau sedang mendapatkan perawatan di Paviliun Lavender, kamar 101.” Jelas perawat itu.

“terima kasih.” Ujarku cepat, tak lupa aku sedikit menunduk hormat sebelum kembali melanjutkan langkahku.

Ceklek. Aku membuka gerendel pintu ruangan itu perlahan. Mataku membulat seketika mendapati Min Ho oppa tengah terbaring lemah di ranjang putih khas rumah sakit dengan selang infus menempel di lengannya.

Aku bergerak maju mendekatinya yang masih menutup rapat matanya. Sebenarnya apa yang membuatnya rapuh seperti ini?

“Oppa..” bisikku di telinganya seraya membelai lembut rambutnya.

Perlahan jemariku mulai mengisi setiap ruang di sela jarinya, menggenggam erat tangannya. Sungguh, aku tak bisa membayangkan jika pada akhirnya Min Ho oppa juga akan meninggalkanku sendirian seperti orang-orang di masa laluku, yang bahkan sampai saat ini belum bisa kuingat sedikitpun, kecuali nama itu, Song Joong Ki.

“Oppa..” bisikku lagi, “sadarlah. Kumohon. Jangan tinggalkan aku.”

Perlahan namun pasti aku bisa merasakan pergerakan jemarinya di tanganku, dan kelopak matanya mulai bergetar ringan, menandakan kedua orbs cokelat itu akan segera menyambutku. Benar, tak butuh waktu lama Min Ho oppa sudah mengerjapkan matanya perlahan, mungkin sedang mengatur kejelasan jarak pandangnya.

“Oppa?” aku berusaha membuatnya menyadari kehadiranku.

Berhasil. Dia menoleh ke arahku, dan segera mengeluarkan senyumnya, meski tak selebar biasanya.

“gwenchana?” tanyaku lagi. Satu anggukan lemah darinya sedikit mengurangi rasa cemasku. Syukurlah, batinku.

Aku membenarkan letak selimut yang membungkus tubuhnya, sebelum mengatur alat penghangat suhu ruangan yang bertengger manis di salah satu meja tak jauh dari ranjang Min Ho oppa.

“Yoona.” Panggilnya lemah, membuatku menoleh seketika. “apa yang membuatmu ke sini? Bukankah kau sangat membenci rumah sakit?”

Aku tersenyum, bisa-bisanya dia mengeluarkan candaan dalam keadaan terbaring lemah seperti saat ini. Setidaknya hal itu membuatku tersenyum lega, pasalnya Min Ho oppa agaknya sudah kembali seperti Min Ho oppa sebelumnya, setelah sudah hampir tiga hari ini terlihat bagaikan mayat hidup.

“ini juga karenamu, Oppa.” Sahutku dengan nada khasku, berusaha mengimbangi candaannya.

Dia tersenyum, meski bibirnya terlihat sangat pucat. Aku jadi menerka-nerka, apakah dia benar-benar tidak makan apapun tiga hari terakhir ini? Tubuhnya terlihat agak kurus, juga bibir serta wajahnya pucat. Saat ini dia benar-benar terlihat seperti Zombie.

“Oppa, apa kau sedang mengikuti program diet?”

Dia mengernyit menganggapi ocehanku.

“apa kau benar-benar tidak memakan apapun tiga hari ini? Di rumah kau tidak mau makan juga minum apapun. Selalu saja beralasan sudah kenyang atau sudah terlambat masuk kerja, dan meyakinkanku bahwa kau akan sarapan di kantin rumah sakit. Apa kau sedang diet dan berniat ingin merubah bentuk tubuhmu seperti para anggota Girl Band Girls’ Generation itu, eoh!?” omelku.

Dia terkekeh pelan, kemudian mengangguk lucu. Aigoo, pria ini benar-benar. Sungguh, aku sama sekali tak berkutik ketika dia mulai menunjukkan sifatnya yang seperti ini. Selalu saja berusaha membuatku tertawa, meski dirinya sendiri sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.

“Oppa, jika kau memiliki masalah, kau bisa menceritakannya padaku. Tidak perlu menyiksa dirimu sendiri seperti ini.” Aku berusaha membujuknya.

Rupanya dia masih enggan menceritakannya padaku, kembali membuatku menjadi manusia paling tak berguna di dunia ini. Bahkan hanya untuk meyakinkannya bahwa aku juga bisa menjadi pendengar yang baik dan bisa membantunya menopang setengah beban hidupnya saja aku tak bisa. Benar-benar parasit. Hanya bisa bergantung hidup pada orang lain yang mungkin juga mengalami kesulitan. Aku merasa bahwa diriku adalah parasit menyebalkan saat ini.

“apa Oppa tidak percaya padaku?” lirihku. Jujur saja, setiap Oppa menolak berbagi masalah hidupnya denganku, hatiku terasa sangat sakit.

Min Ho oppa berusaha bangkit dari tidurnya, kemudian meraih tanganku untuk dia genggam.

“bukannya aku tidak mempercayaimu, Yoongie-ah. Hanya saja aku..”

“tidak ingin membuatku khawatir. Itu yang ingin kau katakan, Oppa? Omong kosong!” selaku. Air mataku sudah menumpuk di pelupuk mataku.

“Yoongie-ah..”

“sudahlah, Oppa. Jika kau beranggapan aku bukan orang yang tepat untuk membantumu dengan semua masalahmu. Mengapa tidak kau suruh saja aku keluar dari Apartemenmu saat ini juga. Toh, aku sama sekali tidak berguna untukmu.” Aku kembali menyela perkataan Min Ho oppa, dan kali ini air mataku sudah tumpah membasahi pipiku.

Aku mendengar Oppa menghela napas berat, apakah aku benar-benar beban bagi hidupnya?

“Yoongie-ah, kumohon berhenti menyela perkataanku.” Ujarnya, seraya meraih daguku, hingga saat ini aku tengah menatap matanya yang tengah menatapku dalam.

“benar, aku tidak ingin kau khawatir. Maka dari itu aku tidak ingin membaginya denganmu. Bukan dalam arti aku tidak mempercayaimu untuk membantuku dengan masalahku. Aku hanya tidak ingin kau ikut memikirkan masalahku yang pada akhirnya berdampak buruk pada hidupmu juga.” Jelasnya, membuatku membuang pandang ke arah lain, tak sanggup menatap matanya yang sarat akan kepedihan.

“justru dengan kau tidak mengatakan apapun, kau semakin membuatku mencemaskanmu! Kau tahu, Oppa? Aku hampir gila, setiap melihatmu pulang dan berangkat kerja dengan wajah lesu. Aku selalu berpikir keras mengira-ngira apa yang terjadi padamu di saat kau selalu menutup diri dariku, padahal aku selalu menceritakan segala keluh-kesahku padamu. Kau tidak bisa hidup seperti ini terus, Min Ho oppa. Kau juga manusia yang harus hidup dengan bantuan orang lain. Bukan bantuan dalam hal materi, melainkan bantuan untuk sedikit mengenyahkan beban hidupmu.” Tanpa sadar aku membentaknya.

Min Ho oppa menangkup kedua pipiku, seakan memintaku untuk menatap matanya sekali lagi.

“maafkan aku, Yoongie-ah. Maaf. Aku.. aku adalah tipikal orang yang sulit untuk menceritakan beban hidupku pada orang lain, meskipun aku sendiri tak yakin bisa melampaui semua ujian ini sendirian. Aku hanya tidak ingin membuat orang-orang di sekitarku khawatir, sebab mereka sendiri pun punya masalah pribadi yang tengah mereka tanggung. Aku hanya tidak ingin semakin membebani mereka dengan beban hidup yang seharusnya kutanggung sendiri.”

Aku hendak ingin membuka mulut, membalas semua perkataan Min Ho oppa tadi. Namun, sayangnya jari telunjuknya lebih dulu menempel di bibirku, menahan mulutku untuk terbuka.

“sst.. jangan menyela. Tidak baik.” Ujarnya.

“baiklah, aku akan menceritakan intinya saja. Aku merindukan kedua orang tuaku. Hanya itu. Apa kau sudah puas, Nona Sherlock Im?” lanjutnya, yang membuatku terdiam. Hal inilah yang paling tidak bisa kuselesaikan. Pasalnya, aku sendiri pun tak pernah merasakan atau mungkin sudah lupa bagaimana rasanya memiliki sebuah keluarga seperti halnya keluarga yang lain.

“mianhae, Oppa.” Pada akhirnya hanya dua kata itu yang berhasil meluncur dari mulutku.

Aku menatap Min Ho oppa penuh sesal, sementara dia hanya tersenyum sendu.

“mau menemaniku?” tanyanya, membuatku mengernyit.

“kemana?” tanyaku bingung.

“ke rumah orang tuaku.”

**

Dan di sinilah kami saat ini, berdiri di hadapan dua gundukan tanah yang terselimuti rumput hijau dengan rapih, menambah kesan indah pada gundukan-gundukan itu yang tak lain adalah makam kedua orang tua Min Ho oppa. Min Ho oppa meletakkan rangkaian bunga Krysant dan Daisy putih pada makam keduanya. Sementara aku hanya menaburi beberapa potongan bunga di atasnya.

“Appa, Eomma, aku datang.” Ujar Min Ho oppa setelah duduk bersimpuh di depan makam kedua orang tuanya.

Aku hanya bisa terdiam, menyimak dengan baik apa yang dikatakan Min Ho oppa berikutnya.

“bagaimana kabar kalian di sana? Maaf, aku baru sempat mengunjungi kalian, beberapa bulan terakhir ini aku sibuk. Ah, dan aku membawa seorang adik baru ke sini. Dia yang selalu menemaniku. Menghiburku dengan tingkah lucunya, ditambah lagi dia sangat pandai memasak, jadi kalian tak perlu khawatir aku akan kelaparan setiap hari.” Min Ho oppa mulai bercerita.

Angin mulai berhembus lembut di sekitarku, dan sepertinya aku hapal persis perasaan macam apa yang hadir bersamaan dengan angin ini. Sesuatu muncul, namun aku enggan untuk menoleh, memastikan apa yang baru saja muncul di sekitar kami.

Namun, aku merasakan aura yang berbeda kali ini. Aura ini penuh dengan cahaya dan kehangatan, berbeda dengan aura kegelapan yang tercipta saat sosok-sosok putus asa itu muncul di hadapanku.

Kuberanikan diri untuk menoleh ke samping kananku, sementara Min Ho oppa masih melanjutkan ceritanya di depan pusara kedua orang tuanya. Aku bungkam seribu bahasa saat mataku menangkap satu sosok wanita paruh baya diselimuti dengan cahaya putih suci. Cantik, dan matanya mirip dengan seseorang. Dia tersenyum padaku, aku hanya mampu memberikan sedikit gerakan menyerupai menunduk hormat dalam skala kecil, agar Min Ho oppa tak curiga dengan gelagat anehku.

Kutolehkan kembali kepalaku ke arah kiri Min Ho oppa dan mendapati sosok pria paruh baya yang juga diselimuti cahaya putih suci tengah menatap sendu Min Ho oppa. Dari wajahnya aku sudah bisa mengetahui siapa beliau, dan kuyakini Beliau adalah Ayah dari Min Ho oppa, dan wanita di sampingku ini adalah Ibu Min Ho oppa.

“terima kasih, Yoona. Terima kasih sudah menjaga Min Ho kami.” Bisik wanita paruh baya ini, membuatku membalas senyumannya.

Kulihat mereka tengah berusaha menggapai bahu Min Ho oppa, namun mereka harus kembali memasang wajah sendu mereka tatkala hal itu mustahil mereka lakukan. Perlahan tanganku mulai bergerak menyentuh bahu Min Ho oppa saat suaranya terdengar serak, dia sudah menangis, meski tak disertai dengan isak yang kentara. Aku berusaha mewakili kedua orang tua Min Ho oppa yang notabennya sudah berbeda alam dengan kami untuk sedikit mengurangi kesedihan pria yang selalu menyajikan senyum hangatnya di setiap hariku.

“Oppa, sudahlah. Aku yakin saat ini mereka juga mengerti semua yang kau rasakan.  Mereka juga merindukanmu saat ini, dan ingat, mereka takkan pernah lelah untuk mengawasimu dari atas sana. Meskipun kau orang yang baik, yang bahkan tak perlu pengawasan sama sekali karena sikapmu yang bak malaikat tanpa sayap itu. Aku ada di sini, akan selalu menemanimu dalam suka dan duka, meski kau sendiri sulit untuk berbagi segala suka dan duka dalam hidupmu. Aku bisa mengerti itu saat ini.” Ujarku yang segera disambut senyuman dari arwah wanita paruh baya ini yang merupakan Ibu dari Min Ho oppa.

Min Ho oppa menghapus cepat air mata yang sudah membasahi pipinya, dan segera mengusap lembut kepalaku.

“iya, Yoongie-ah. Terima kasih sudah mau menemaniku melalui hari-hariku yang membosankan ini. Maafkan aku selalu membuatmu khawatir.”

Aku tersenyum haru, saat melihat satu sosok yang menurutku begitu tegar sepertinya. Aku segera memeluk tubuh itu, tubuh yang sama sekali tak membalas pelukanku. Biarlah, saat ini aku yang harus menghiburnya.

**

Aku memperhatikan sosok yang kini sepertinya tengah bertransformasi menjadi setrika itu. Dia tengah berjalan dengan arah yang sama sedari tadi di dalam ruangan pribadinya. Membuatku tak henti mencibirnya tanpa suara. Dialah sosok yang hampir membuatku membawa senapan atau samurai ke kantor.

“Im Yoon Ah!” yap, akhirnya dia mulai membuatku menghela napas berat.

“ne, Sajangnim.” Sahutku malas. Dengan berat hati kutinggalkan kenyamanan kursi kesayanganku. Kursi yang kini mulai jarang kududuki semenjak makhluk aneh dan bertempramen sangat buruk itu mulai membuatku berlalu-lalang ke sana dan kemari hanya untuk memenuhi keinginannya yang menurutku sangat konyol dan sama sekali tak logis untuk dilakukan seorang pegawai kantor ternama seperti Xi Group, sekalipun orang itu Sekretaris pribadi.

“belikan aku Nachos, mayonaise nya jangan terlalu banyak, dan harus dimasak sampai kering. Mengerti?”

Aku kembali dibuatnya terperangah sekaligus berdecak sebal. Hanya dia satu-satunya atasan yang bertingkah konyol. Selalu memberikan tugas yang membuatku berdecak kesal. halo, Nachos? Dimana aku bisa menemukan makanan khas Mexico di Seoul? Jika pun ada, pasti sangat langka. Menyebalkan. Ini tidak bisa dibiarkan lagi.

“Sajangnim. Maaf, bisakah kau ikut membantuku berpikir dimana toko yang menjual Nachos di daerah Gangnam ini?” sindirku membuat manusia menyebalkan itu menyadari betapa gilanya keinginannya saat ini.

Dia mendekatiku, tiba-tiba ingatan tentang hari itu kembali hadir. Hari dimana dia menyudutkanku di sudut meja kerjanya, dan mengancam bisa melakukan apapun terhadapku dalam posisi seperti itu. Entah mengapa hanya dengan mengingat itu, aku sudah bisa merasakan wajahku memanas. Aish, aku dan jantungku pasti sudah gila saat ini.

“Nona Im yang cantik, bukankah kau memiliki otak sendiri? Mengapa aku harus membantumu memikirkan itu? Masih banyak hal yang harus kupikirkan satu hari ini. Mengapa kau ingin membuatku semakin pusing karena memikirkan hal-hal mudah seperti itu? Lagi pula, bukankah kau juga memiliki ponsel canggih yang memiliki aplikasi GPS atau semacamnya?” bisiknya di telingaku, membuatku terperangah mendengarnya. Manusia ini benar-benar menguji kesabaranku.

“baiklah, Sajangnim. Aku mengerti. Sangat!” sahutku ketus seraya menjaga jarak dengannya. Mengantisipasi agar virus menjengkelkannya tidak menular padaku, dan mengakibatkan aku menjadi orang menyebalkan sepertinya.

“baguslah. Tunggu apa lagi, Nona Im? Cepat jalan sekarang!”

Aku menatapnya tajam, seraya bersumpah dalam hati akan membuat pria itu melakukan semua keinginan konyol seperti ini suatu hari nanti.

**

Aku melangkah gontai menyusuri jalanan distrik Gangnam yang terkenal dengan segala kesibukannya. Banyak orang yang berlalu-lalang. Disibukkan oleh aktifitas masing-masing, dan kuyakini hal itu pasti masih berhubungan dengan bisnis dan pekerjaan. Benar-benar membosankan.

Secara tiba-tiba semilir angin berhembus lembut di sekitarku, membawa kembali aura kentara yang sudah sangat kuhapal. Pasti ada sesuatu muncul di sekitarku. Meskipun sedari tadi aku sudah melihat makhluk-makhluk putus asa dan menyeramkan itu berlalu-lalang bagaikan manusia pada umumnya. Namun, kali ini sepertinya berbeda. Auranya cukup hangat, dan terasa sangat kuat. Seakan memiliki keinginan tertentu yang harus segera dilaksanakannya.

Aku menghentikkan langkahku saat aura itu semakin mendekatiku. Aku menelan salivaku, rasa gugup serta takut perlahan mulai menguasaiku. Tanpa sadar tanganku sudah mencengkram erat kantung plastik yang berisi Nachos pesanan Luhan sajangnim. Keringat dingin perlahan mulai turun membasahi pelipisku.

“Yoona.. Im Yoon Ah..” suara itu terdengar samar memanggil namaku. Terdengar lirih dan sarat akan kepedihan. Dan sepertinya suaranya sudah tak asing lagi di telingaku.

Aku menoleh, berusaha menemukan sosok yang baru saja memanggilku dengan lirih. Namun, nihil. Tak seorang pun atau sosok apapun yang memanggilku. Membuatku bertambah gugup.

“bo..go..ship..peo..” ujar suara itu terbata, dan kian terdengar parau.

“siapa kau?” aku berusaha memberanikan diri, dengan mata yang masih mengedarkan pandang ke segala penjuru.

“Yoongie..”

“Yoona..”

“Yoona ku..”

“Im Yoon Ah..”

Suara-suara itu kian menyayat hati, seakan membuka kembali luka lama di hatiku, yang bahkan tidak kuketahui apa itu, beserta penyebabnya.

                “mianhae, Yoong. Oppa ingin sekali, tapi Oppa tidak bisa menemanimu, Oppa ada tugas pengawalan. Kau mau kan mengerti situasi Oppa kan?”

                “terserah Oppa saja! Aku benci Oppa!”

“aarrgghhh..” tiba-tiba secercah ingatan kembali menguak ke permukaan, dan menimbulkan rasa sakit yang amat luar biasa di kepalaku.

Jeritan panik itu, suasana itu, samar aku bisa mengingatnya, meski harus memaksa otakku, dan seakan sebentar lagi otakku akan meledak jika kupaksakan untuk mengingat lebih.

Pasrah. Aku sudah duduk bersimpuh di jalanan, dan menjadi tontonan orang-orang yang berlalu-lalang. Persetan dengan mereka. Aku hanya memperdulikan rasa sakit yang sudah tak bisa kutanggung lagi di kepalaku. Keringat mulai mengalir di pelipisku. Lemas. Seketika seluruh tubuhku lemas, tak berdaya. Setelahnya kegelapan mulai menyelimutiku. Gelap, dan semakin gelap lagi. Setelahnya aku tak bisa mengingat apapun lagi. Hanya suara panggilan tadi yang menemaniku dalam kegelapan. Apa aku sudah mati? Entahlah.

**

Samar aku bisa melihat sekelilingku yang penuh dengan warna putih. Aku mengerjap pelan, berusaha mendapatkan fokus, hingga aku mulai bisa mengenali tempat macam apa ini. Rumah sakit. Aku berada di salah satu bangsal nya. Lagi, dan lagi. Aku selalu berakhir seperti ini saat rasa sakit itu kembali menyerangku, saat aku mencoba mengingat semuanya lagi. Apakah aku harus melupakan semuanya? Entahlah. Aku terlalu lemas untuk memikirkan hal itu.

Hangat. Aku merasakan sesuatu yang hangat di tanganku. Aku menoleh, mendapati sosok Luhan sajangnim yang rupanya tengah menggenggam erat tanganku dengan mata terpejam, sepertinya dia tengah tertidur.

Kuperhatikan wajahnya lekat. Mulai dari matanya yang memiliki kelopak lebih kecil dari orang Korea kebanyakan, namun aku segera tersadar bahwa dia bukanlah keturunan asli Korea. Gennya sudah terkontaminasi Gen orang Mandarin, mengingat Ayahnya adalah orang Mandarin. Hidung nya yang mancung, namun berbentuk sangat lucu bagiku. Pipinya yang terlihat begitu menggemaskan. Dan.. bibirnya. Bentuknya sangat indah, dan berwarna merah merekah, bahkan aku sampai iri dengan warna nya, dan terkadang menerka apakah dia memakai lipstick atau semacamnya.

Ceklek. Aku segera menghentikan lamunanku saat menyadari pintu ruangan ini terbuka. Hingga muncullah sosok Min Ho oppa yang terlihat sangat cemas. Mata kami saling bertemu sebelum dia menghampiriku dengan setengah berlari.

“Yoongie, gwenchana?” tanyanya saat sudah berada di sampingku.

Aku mengangguk lemah, namun menyadari arah tatapan Min Ho oppa yang berubah menjadi tajam ke arah Luhan sajangnim. Lalu, beralih lagi padaku.

“apa dia yang membuatmu seperti ini?” tanya Min Ho oppa tajam, membuatku hanya bisa menggeleng ragu. Aku takut dengan ekspresi nya yang seperti ini.

Sejurus kemudian, Min Ho oppa beralih ke sisi Luhan sajangnim. Dia membuatku terperangah saat dia sudah mengguncang tubuh Luhan sajangnim kasar. Ada apa dengan Oppa? batinku.

“Ya! Xi Luhan! Bangunlah! Ini bukan istana kebesaranmu!” serunya tanpa menghentikkan kegiatan ‘mengguncang tubuh Luhan’ nya.

Luhan sajangnim akhirnya membuka matanya, menatapku sebentar, sebelum pandangannya tertuju pada Min Ho oppa yang kini sudah menariknya seraya mencengkram erat kerah bajunya, membuatku membulatkan mataku seketika.

“Ya! Apa masalahmu, eoh!?” seru Luhan sajangnim tak terima dengan perlakuan Min Ho oppa.

“DIAM!” Bentak Min Ho oppa kalap. “apa yang sudah kau lakukan terhadap Yoona, hah?! Bukankah aku sudah memperingatkanmu dulu, sedikit saja kau menyakitinya, aku akan membunuhmu!”

Aku menelan saliva, takut melihat Min Ho oppa seperti ini. Oppa terlihat seperti monster saat ini.

Luhan sajangnim mendengus, dan mulai menatap tajam Min Ho oppa seraya menghempaskan tangan Min Ho oppa, dan menyisakan kerah bajunya yang terlihat agak lusuh saat ini.

“aku tidak pernah menyakitinya. Kau bisa tanyakan sendiri pada Yoona.” ujar Luhan sajangnim mantap, membuat tatapan tajam Min Ho oppa kini beralih padaku. ada apa dengan Min Ho oppa?

“apakah dia menyakitimu, Yoona-ah?” tanya Min Ho oppa tegas.

Aku menggeleng takut, dan tatapan Min Ho oppa kembali beralih pada Luhan sajangnim.

“kali ini aku melepaskanmu. Namun, jika suatu hari kau berani menyentuhnya sehelai rambutnya saja, kau akan mati! Ingat itu!” desis Min Ho oppa tajam, membuatku sontak menelan salivaku, gugup dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Alih-alih takut, Luhan sajangnim malah terkekeh pelan, lalu menepuk bahu Min Ho oppa dengan santai, tanpa memerdulikan tatapan tajam yang seakan enggan beralih.

“siapa kau begitu mengaturnya?” Luhan sajangnim mengeluarkan ucapan bodohnya. Mengapa aku mengatakan hal itu bodoh? Karena dengan mengatakan itu, berarti sepadan dengan nyawanya. Mengingat Min Ho oppa tengah dikuasai amarah yang memuncak.

“kau bukan KEKASIHnya, Bung. KAU HARUS INGAT ITU.” Lanjut Luhan sajangnim dengan menggunakan penekanan pada beberapa kata.

Tatapan tajam itu saling beradu, seakan tengah berlomba siapa yang akan menjadi pemenang kontes mata tajam tahun ini. Membuatku semakin bergidik ngeri, menerka-nerka apa yang akan terjadi berikutnya.

Namun, Luhan sajangnim menyudahi acara tatapan tajamnya, dan malah menatapku lembut.

“gwenchana?” tanyanya lembut. Aku hanya bisa mengangguk kaku, dan aku bisa mendengar Min Ho oppa mendengus kesal.

“syukurlah.” Aku membelalak saat tangannya sudah bergerilya di atas kepalaku. “aku pamit dulu, ya. Masih ada rapat yang harus kuhadiri. Lagi pula..” Luhan sajangnim melirik penuh arti pada Min Ho oppa sebelum melanjutkan ucapannya, “sudah ada yang menjagamu.”

Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk kaku. Entah sejak kapan jantungku sudah berpacu cepat, dan aku bisa merasakan wajahku memanas saat ini. Melihat perlakuan Luhan sajangnim yang seperti ini, membuatku seketika melupakan sosok menyebalkan yang membuatku hampir membawa Body Guard setiap harinya ke kantor.

Setelahnya, Luhan sajangnim sudah menghilang di balik pintu, meninggalkanku dengan Min Ho oppa yang kini menatapku dengan sorot keingintahuan yang tergambar jelas di manik cokelatnya. Membuatku mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.

“kau harus menjelaskan semuanya, Yoongie-ah.” Tebakanku benar.

Yoona’s POV End

Luhan’s POV

Aku mengatukkan kepalaku pada meja kerjaku usai rapat hari ini. Dan otakku tiba-tiba memutar kembali memori kejadian hari ini. Dimana aku tengah membuntuti Yoona yang hendak membelikan Nachos untukku. Entah mengapa kakiku melangkah begitu saja saat dia sudah mulai menghilang di balik pintu ruanganku, hingga membuatku berakhir seperti penculik yang hendak menculik seorang gadis manis sepertinya.

Saat itu aku sempat kehilangan jejaknya, hingga akhirnya aku menemukannya yang sudah tak sadarkan diri di jalan. Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera membawanya ke rumah sakit.

“haaahh..” aku kembali menghela napas panjang, entah sudah yang keberapa kalinya aku melakukan itu.

“Ya! Xi Luhan! Apa yang salah denganmu!? Kenapa kau selalu memikirkan gadis ceroboh itu!? Astaga, apa aku sudah gila?” gerutuku pada diri sendiri. Sepertinya aku benar-benar sudah gila saat ini.

Aku menyandarkan kepalaku pada kepala kursiku, dan mulai memejamkan mataku. Aku rasa aku harus mengistirahakan otakku saat ini, agar aku bisa kembali berpikir jernih. Ya, harus.

**

“Xi Luhan.” Aku menghentikkan langkah kakiku yang baru saja hendak menaiki anak tangga menuju kamarku saat suara tak asing itu mulai memenuhi sudut ruangan ini.

Aku menoleh malas, mendapati pria paruh baya yang kuanggap sebagai pembunuh paling keji di dunia. Dia mulai berjalan mendekatiku, dan mulai memasang senyum menjijikannya.

“bagaimana perusahaan?” tanyanya saat kami sudah bertatap wajah dalam jarak dekat.

Aku mendengus, “bukankah kau selalu mengawasi semua anak perusahaan Xi Group, Presdir yang terhormat? Mengapa harus repot-repot ke sini hanya untuk menanyakan hal itu padaku? suatu kehormatan bagiku.” Sindirku.

Dia menatapku lurus, sebelum akhirnya menghela napas. Apakah dia kalah secepat ini? Hebat.

Tanpa gentar aku membalas setiap tatapannya. Namun, seketika otakku seakan tak bisa berpikir saat tangannya mulai menyentuh bahuku. Mataku sontak mengikuti gerak tangannya yang tengah mengusap bahuku lembut. Ada apa dengan pria ini? Apakah dia sedang menyusun rencana berikutnya agar aku melupakan kejadian itu? Maaf, saja. Aku rasa itu sia-sia.

Aku menghempaskan kasar tangannya dari bahuku, melempar pandang penuh kebencian padanya, dan mulai mengeluarkan kata tajam andalanku.

“anda tidak berhak menyentuh diriku sedikitpun, Tuan.” Tandasku tajam. “aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini. Harap tinggalkan rumah ini sekarang juga, seperti yang kau lakukan beberapa tahun terakhir ini.”

Tanpa buang-buang waktu, aku berlalu begitu saja, mulai menaiki anak tangga tanpa memperdulikan panggilan dari pria menjijikan itu. Blam. Aku membanting pintu kamarku saat aku sudah memasuki kamarku.

Sial. Hari ini terlalu berat untukku, setelah harus melaksanakan rapat tanpa Yoona, dan terlibat dalam perdebatan dengan para Investor menyebalkan itu, dan kini aku harus kembali berdecak kesal saat manusia itu mulai menginjakkan kembali kakinya di rumah ini. Tuhan, apa kau sengaja ingin menguji kesabaranku? Sayang sekali, aku takkan pernah bisa bersabar jika menghadapi pria itu. Tidak akan bisa.

**

“selamat datang, Sajangnim.” Sambut suara yang sudah kurindukan selama dua hari ini.

Entah sejak kapan aku mulai mengembangkan senyumku untuk makhluk manis yang satu ini.

“annyeong, Yoongie-ah.” Sahutku, membuatnya terperangah. Seketika aku tersadar, saat beberapa pegawai yang tengah berlalu-lalang, dan sepertinya tak sengaja mendengar ocehan tak bermutu ku tadi langsung menatap kami dengan berbagai persepsi mereka masing-masing.

Aku berdeham kecil untuk menetralkan suasana.

“maksudku, pagi, Yoona-ssi. Pagi, semuanya.” Ulangku, dan sepertinya orang-orang itu mulai tak memperdulikan kami lagi. Syukurlah.

Namun, sialnya gadis ini masih menatapku lekat, membuatku tak bisa bernapas untuk beberapa detik, hingga kini aku harus mengendurkan sedikit ikatan dasiku, dan kembali berdeham kecil, untuk membuatnya berhenti menatapku dengan matanya yang terlihat bagaikan anak kucing yang manis.

“Yoona-ssi, berhenti menatap atasanmu dengan tidak sopan seperti itu! Atau kau akan kupecat!” akhirnya aku terpaksa mengeluarkan ancamanku, tentu saja hanya bualan.

Akhirnya dia mengalihkan arah pandangnya, dan mulai tertunduk dalam. Hingga aku bisa tersenyum menahan tawa tanpa perlu khawatir akan disadarinya, dan membuatnya mulai mengoceh pagi ini.

Aku melangkahkan kakiku menuju ruanganku, dan aku mulai terkekeh kecil saat pintu ruanganku sudah tertutup rapat. Wajahnya lucu sekali, sangat manis. Tunggu dulu, apa yang baru saja kupikirkan tadi? Manis? Gadis yang garang sepertinya terlihat manis? Aish. Aku benar-benar sudah tidak waras.

Luhan’s POV End

Yoona’s POV

“Ambilkan aku berkas 2 minggu lalu saat kita bertemu dengan para pemegang saham”. Aku mengangguk memenuhi perintah dari Luhan. Selalu saja ia berbuat sesuka hatinya, bahkan lemari  berkas pun tak jauh dari meja nya. Aku terlalu banyak menggerutu, padahal aku adalah sekretarisnya. Im Yoona sabarkan hatimu, ini memang tugasmu. Aku pun bergegas menuju lemari buku yang tak jauh dari meja Pria itu.

Ah, sial. Siapa yang menaruh berkas itu pada rak paling atas!? Aku berbalik ingin meminta bantuan Sajangnim, tapi karena kulihat ia sibuk, aku tak berani mengganggunya. Jadilah aku yang harus berusaha untuk mengambil berkas itu. Walaupun aku harus melompat dengan High Hills agar dapat mengambil berkas itu. Tetap saja, aku tak mampu mendapatkannya, aku menarik nafas panjang. Hingga ku rasakan seseoraang berada di belakangku dengan tangan yang menjulur mengambil berkas itu dari rak tersebut. Ini seperti Back Hug yang sering kulihat di drama-drama Romantis yang selalu menghiasi TV ku.

Takut terjadi hal yang tak diinginkan aku pun segera berbalik, dan tepat seperti perkiraanku. Luhan sanjangnim lah yang melakukan ini. Ia menatapku, tangannya masih terpaku di atas, ia tersenyum. Tunggu.. senyuman ini? i..ini bukan senyuman tapi seriangai-an.

BRUKK

Berkas itu terkapar begitu saja di lantai.

“apa yang kau lakukan, Sajangnim? kenapa kau membuang dokumennya lagi?”. Aku mulai panik, saat wajah Luhan semakin dekat.

“sstt.. diamlah.. aku hanya ingin mengamatimu dari dekat.” ujarnya. Jantungku kembali berdebar tak karuan.

“ ke..kenapa kau ingin mengamatiku? Apa aku berbuat salah?” tanyaku, Luhan menggeleng kecil.

“ya, salahmu adalah terlahir sebagi gadis yang sangat cantik, kau berhasil menghipnotisku, Yoona-ah.” bisik Luhan di telingaku, membuat sebuah desiran memenuhi daun telingaku.

Aku semakin menunduk kala wajah Luhan semakin dekat ke wajahku, sangat dekat.

“Sajangnim—“ Ucapanku terhenti seketika saat bibir Luhan sudah mendarat manis di bibirku. Aku menahan nafas, bibir basah itu sudah menempel tepat di bibirku. Namun saat aku merasakan Luhan ingin memberikan lumatan, kegitan Luhan sajangnim terhenti kala kaca pada salah satu jendela di ruangan ini pecah seketika, membuatku dan Luhan terlonjak kaget. Ia langsung memelukku dengan erat untuk melindungiku dari pecahan kaca, yang bisa saja dari serpihan itu melukai dirinya.

“Sajangnim, gwenchana?” tanyaku saat ia mulai melepas pelukannya.

“nan gwenchana.” Jawabnya seraya menatap heran pada salah satu jendela yang kaca nya baru saja pecah tanpa adanya penyebab yang pasti.

Yoona’s POV End

Author’s POV

Joong ki menatap Yoona yang tengah berkerja di mejanya, tak henti-hentinya senyuman itu terukir indah di bibir roh ini. Sosok yang sangat ia rindukan kini berada di pandangannya. Ya, Song Joong Ki menatap Yoona dari sudut ruangan kerja tersebut. Menatap lekat gadis itu, seakan tak ingin melepaskannya. Ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat bersama Yoona lagi, tapi persetan dengan itu semua. Ia tak mau kalau gadisnya di ambil oleh orang lain, ia tak peduli jika mereka hanya Bumi dan Langit yang sampai kapanpun yang sampai kapan pun tak dapat di satukan lagi.

“ Ambilkan aku berkas 2 minggu lalu saat kita bertemu dengan para pemegang saham”. Joong ki mengalihkan tatapannya saat ia mendengar suara Pria yang ia yakini adalah atasan Yoona.

BRUKK

Joong Ki mengalihkan tatapannya, saat melihat Luhan yang tengah menghimpit Yoona. Tatapan tajamnya seakan ingin melempar jauh Pria yang berani menyentuh gadisnya. Tangannya mengepal, rahangangnya mengeras. Saat Luhan mencium Yoona tepat di bibir itu. bibir yang hanya boleh dimiliki oleh Joong Ki seorang.

“jangan sentuh Yoona ku!!” marah Joong Ki, emosi nya sudah memuncak, ia tak sudi melihat gadisnya harus di cium oleh Pria selain dirinya.

PRANG..

******

Gekioko Punpunmaru

Ah.. maaf atas lamanya publis ff ini. akhir-akhir inibenar-benar  author benar-benar sibuk dengan urusan sekolah. Gag bisa ngurusin ff dalam waktu dekat ini,tugas betumpuk :3 . Oh ya ada yang udah MID gag.. kalau ada yang sudah selesai,semoga nilainya bagus2 semua😀 kalau ada yang belum.. berjuanglah..Fighting.. !! Ah ya.. rifda eonni (selaku author ),eonni ini punya peran penting pada ff ini,soalnya dia yang banyak ngetik..hehehe.. Bagi reader tolong jangan kompalin yah.. karna kebanyakan Minho Yoona nya.. itu udah jadi dialog yang berpengaruh dalam ff ini. tenang saja.. kamiakan membuat moment Luyoon sebanyak-banyaknya.

Emm terkahir kata, tolong jangan pada galau,dan sedih atas luhan,itulah yang terbaik,walaupun terasa berat bagi kita..😀 . Jangan lupa komentarnya.. jangan jadi ssttt… silent readers

46 thoughts on “BACK IN TIME 5

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s