FACE OFF [4]

req-fn

title : FACE OFF

author : FN

main cast : Park Chanyeol, Im Yoona, Mun Joo Won

other cast : Lay, Baekhyun, Seohyun, Sehun and others

genre : action, family, marriage life, little romance, friendship hurt and others

length : chapter

rating : PG 15

poster : arin yessy @ indo ff arts

desclaimer : di cerita ini author terinspirasi dari 3 film barat dan 1 drama korea. judul filmya Face Off, Enemy Of The States dan Taken (1 & 2). buat dramanya dari drama Korea judulnya Ghost (drakor favorit author, yang castnya Soo Ji Sub <= salah satu aktor fav author ini xD).

author’s note : di cerita ini mungkin cukup jauh dari kata romance antara main cast tapi romancenya tetep ada dan mungkin agak sedikit lebih fokus ke main cast namjanya. mianhe jika ada typo dan kesalahan teknis lainnya 🙂

Joo Won memandang undangan berwarna cerah didepannya ini dengan wajah mengkerut. Siapa lagi yang mengundangnya? Setelah kedua orang tuanya pergi, dia memang jarang mendapatkan surat kecuali saja itu surat penting untuk perusahaan. Tanpa berpikir lebih panjang Joo Won membuka surat itu

“undangan pernikahan Kang Minhyuk dan Jung Soo Jung?” gumam Joo Won mengkerut, pasalnya dia tak mengenal kedua pasangan ini sama sekali, mendengar namanya saja tak pernah, justru ini pertama kali dia mendengarnya

“tuan Jung Min Wook?” gumam Joo Won lagi, “apa aku mengenalnya?”

“ehm–tuan Kang In? Ah! Kang In! Aku tahu jika orang ini, dia—ya—bisa dikatakan teman bisnis appa. Jadi dia yang mengundangku? Baiklah aku akan datang, tak ada alasan lain untuk menolak bukan?” gumam Joo Won tersenyum kecil

Joo Won mencari ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat dan mengirimkannya pada Baekhyun, tak perlu menunggu waktu lama, satu menit setelah itu ponsel Joo Won berbunyi menerima pesan jika dia bersedia menemani tuannya itu pergi kepesta pernikahan teman tuan besar Mun.

Joo Won benar-benar datang, ke pesta itu. tuan Kang menyambutnya dengan senyum merekah ketika dia mengetahui Joo Won datang kepestanya. Setelah sedikit bercakap dengan tuan Kim, Joo Won dan Baekhyun langsung mencari sebuah tempat duduk, seorang pelayan menawarkan minuman yang tentu saja tak ditolak oleh mereka berdua

“hyung” panggil Baekhyun, Joo Won menoleh sambil tetap membawa gelasnya, “bukankah itu—wanita—yang kau suruh aku untuk mencari informasinya? Posisi jarum jam 12” tanyanya

Joo Won langsung menoleh mengikuti petunjuk yang diberikan pada Baekhyun, Joo Won sedikit memincingkan matanya agar bisa melihat lekat wanita yang dimaksud Baekhyun tapi tak perlu waktu lama karena Joo Won tahu betul—wanita itu memanglah Yoona

“aku kes—”

Belum sempat Joo Won menyelesaikan perkataannya seorang lelaki tengah berdiri disamping Yoona dan memeluk pinggang rampingnya itu sambil tersenyum lebar menatap lawan bicaranya. Fokusnya bukan Yoona—tapi namja disampingnya—namja itu—

“ini yang ingin aku informasikan padamu” kata Baekhyun yang tahu jika Joo Won tak jadi mendekat kearah Yoona, “dia istri dari Park Chanyeol, detektif sekaligus polisi yang selama ini mengejarmu dan ingin membunuhmu” lanjutnya

“jangan bercanda” jawabku lirih, mendengar itu Baekhyun mengeluarkan smartphonennya dan membuka sesuatu disana lalu menunjukkan pada Joo Won

“itu foto mereka ketika menikah dan itu kedua anaknya, anak pertama bernama Seohyun dan anak kedua bernama Lio” jelas Baekhyun

“mwo?! Lio? Anak kedua? Apa maksudmu?” tanya Joo Won tak mengerti

“ne, mereka sebenarnya memiliki dua orang anak tapi salah satu dari mereka mati karena tabrak lari sekitar 3 tahun yang lalu” jawab Baekhyun

“bagaimana bisa? Aku tak pernah mendengarnya bercerita tentang anak keduanya” tanya Joo Won

“kau tahu bukan rasaya kehilangan? Seperti kau kehilangan kedua orang tuamu, itu yang dirasakan Yoona ketika dia kehilangan Park kecilnya” jawab Baekhyun

‘Park Chanyeol suami Im Yoona?’ batin Joo Won masih tak percaya

Ingin rasanya dia benar-benar membunuh Chanyeol, selain kenyataan bahwa Park Chanyeol adalah Yoon Jaeyoung, teman Joo Won semasa kecil dan sekarang kenyataan lain berjalan merambat padanya. Yoona wanita yang dia cintai itu adalah istri dari Park Chanyeol

Tak ada yang bisa Joo Won lakukan selain hanya melihatnya melempar senyum pada semua tamu undangan malam ini.

—-

Setelah acara itu selesai Yoona dan Chanyeol langsung memasuki mobil mereka, Kang Minhyuk adalah sahabat Yoona dan Chanyeol jadi mereka terpaksa datang bersama agar tak menimbulkan kecurigaan. Sebenarnya Yoona muak dengan skenario tadi ketika pesta tapi dalam hatinya dia benar-benar menangis, dia tak ingin bersikap seperti ini pada suaminya dan yang dia merasa lega, dia telah mengeluarkan apa yang dipendamnya selama ini meskipun tamparan keras itu menghantam wajahnya

Chanyeol menyetir tanpa suara, dia diam fokus menatap jalanan panjang yang disinari lampu jalan itu sambil berulang kali mengusap wajahnya. Dia tak tahu apa harus pulang hari ini atau pergi menginap ke hotel lain.

Yoona pov

Aku menenteng heels hitamku lesu dan berjalan menuju kamar Lio, setelah kejadian beberapa hari yang lalu itu Chanyeol tak pulang dan aku tak tahu dia menginap dimana sekarang. Apa dia bersama selingkuhannya?! Aish! Jangan bodoh Im Yoona, percayalah Chanyeol tak akan melakukan hal zina seperti itu tapi kenapa hatiku terasa ragu sekarang?

“eomma?” panggil Seohyun melongok kekamar, aku tersenyum melihatnya, “wae?” tanyaku lembut

“aku tadi memasak bersama Lee ajhumma, eomma mau makan malam bersamaku, Lee ajhumma dan Shin ajhussi?” tawarnya

Aku mengelus rambut cokelatnya, hanya dia satu-satunya permataku saat ini, hanya dia yang berarti dalam hidupku saat ini, setelah kematian Lio semua hidupku hancur tapi ketika aku melihat Seohyun pikiranku terbuka karena Tuhan masih memberiku sebuah permata lagi, permata yang sangat bersinar menyinari hari-hariku saat ini. bukan aku melupakan Lio tapi Seohyun juga anakku dan aku tak akan bisa mengatakan jika aku lebih menyayangi Lio daripada Seohyun

“ne, eomma ganti baju dulu, nanti eomma turun dan kita makan bersama” jawabku tersenyum

Dia tersenyum merekah melihatku, ini—senyuman Seohyun adalah kelemahanku jika aku akan menolak semua permintaannya. Dia tersenyum seakan-akan aku melihat duniaku cerah karenanya.

“nyonya, apa tak apa jika kami ikut makan malam seperti ini?” tanya Shin ajhussi menatapku, aku tertawa kecil mendengarnya

“memangnya kenapa, ajhussi? Tak masalah bukan? ajhussi sudah bersamaku sejak aku belum menikah” jawabku

“tapi—”

Aku mendengar derap kaki berjalan dengan tempo normal mendekat, setelah aku tahu, itu Chanyeol, dia menatap kami sekilas kemudian berjalan pergi—ya, mungkin saja dia kekamar. Ingin sekali aku menanyakannya darimana saja dia selama ini tapi—aku masih ingat kejadian hari itu

“eomma, cepat makan”, aku menoleh kearah Seohyun dan tersenyum mengangguk.

—-

Tengah malam, aku merasa ada orang masuk kekamar Lio, aku memang sengaja mematikan lampunya agar aku bisa tenang jika tidur tapi suara langkah kaki mendekat itu mengusikku. Mataku terbuka berusaha melihat gerak-geriknya meskipun sangat samar, aku merasa dia duduk disamping ranjangku. Merasakan hal itu aku langsung menutup kembali mataku berpura-pura tidur.

Aku tetap dalam posisiku dan aku mulai merasakan hembusan nafas hangat dan juga bau parfum yang sangat khas yang aku kenali—Chanyeol—aku yakin 100% laki-laki ini adalah suamiku sendiri

Cup

Cukup terperanjat sebenarnya tapi aku diam saja, lalu aku merasakan tangannya mulai menggenggamku lembut dan menciumnya

“minhe, aku hanya tak ingin kehilangan salah satu dari keluarga kita lagi—Yoong—kau—kau tak tahu tentang siapa laki-laki itu yang sebenarnya, aku melarangmu dan Seohyun karena aku punya suatu alasan yang belum bisa aku beritahukan padamu. Aku tak melarang jika kau atau Seohyun berteman dengan siapapun tapi—jangan dengan lelaki itu” gumamnya sangat pelan tapi aku masih bisa mendengarnya walaupun hanya samar-samar

“saranghaeyo” ucapnya lagi dan mencium keningku

Sepeninggalnya, aku menangis, ini benar-benar bukan keluargaku, keluargaku bukan seperti ini. keluargaku selalu penuh dengan senyuman dan keceriaan bukan seperti ini.

Author pov

Yoona sedikit menimang-nimang ketika dia melihat ponselnya bergetar dan itu dari Joo Won, agak ragu dia mengangkatnya

“dok, saya pulang dulu” pamit suster Kwon, Yoona hanya mengangguk memberi persetujuan

Matanya kembali menatap layar ponselnya yang bercahaya dan dengan sedikit nafas kecil yang dia hembuskan pelan dia mengangkat teleponnya dengan sedikit takut

“ne, yeoboseyo?”

“ini, aku, kau dimana?” tanya Joo Won langsung

“waeyo?” tanya Yoona pelan

“tadi Seohyun menelponku, dia memintaku menjemputnya karena ponselmu tak bisa dihubungi tapi ketika aku datang kesekolahnya dan ketempat temannya Seohyun tak berada disana”

Mendengar penjelasan itu kaki Yoona terasa melemas, “mwo? Kau yakin?” tanya Yoona cemas

“ne, kau dimana? Kau sudah coba menelponnya? Aku berusaha menelponnya tapi dia tak mengangkat ponselnya” jawab Joo Won terdengar tak sabaran

Yoona terdiam, dia tak membawa mobil hari ini dan berencana menelpon Shin ajhussi agar menjemputnya tapi ketika mendengar nama Seohyun tadi dia merasa ingin mengubah semua rencananya, “kau bisa menjemputku? Bantu aku mencarinya” pinta Yoona tanpa pikir panjang

“ne, aku akan kerumah sakit” jawab Joo Won

‘semoga tak ada lagi sesuatu yang lebih buruk terjadi’ batin Yoona.

Yoona berusaha menelpon Seohyun tapi tetap saja tak diangkat, dia merasa benar-benar hampir mati saat ini ketika ponselnya mendapat pesan dari Seohyun yang memintanya menjemputnya karena dia ada tambahan pelajaran. Joo Won yang melihat itu hanya diam dan tetap fokus mencari Seohyun, sebenarnya bisa saja dia menggunakan alat pelacaknya tapi ada Yoona disampingnya dan dia tak mungkin melakukan hal itu bukan? apalagi jika nanti Yoona bertanya lebih jauh

Drrt…drttt

Ponsel segi panjang milik Joo Won itu bergetar diatas dasbord mobil yang membuat keduanya langsung teralih karena terkejut. Joo Won langsung mengambilnya dan melihat layar ponselnya

“ne? Seohyun, Eodiga?” tanya Joo Won langsung

“…”

Mendengar nama anaknya disebut Yoona langsung menoleh kearah Joo Won penuh arti

“syukurlah” kata Joo Won memutus sambungan teleponnya

“dimana Seohyun sekarang?” tanya Yoona

“tenang saja, Seohyun sekarang sudah berada dirumah. tadi dia bertemu appanya dan pulang bersama appanya” jawab Joo Won, “sekarang aku antar kau pulang”.

Ingin Yoona menolak perkataan Joo Won tapi dia merasa tak enak bagaimanapun juga, Joo Won pernah membuat Seohyun tersenyum seharian tapi suaminya? Dia tak bisa memikirkan itu terus-terusan dan dia paling bersyukur karena Seohyun pulang bersama appanya. Sesampainya didepan rumahnya, Joo Won tak keluar dari mobil, dia hanya membuka kaca mobilnya dan tersenyum pada Yoona yang kemudian pamit untuk masuk, hendak menutup kaca mobilnya lagi sebuah tangan menahannya

Joo Won membuang nafas ketika dia tahu siapa pemilik tangan panjang itu, siapalagi jika bukan Park Chanyeol yang sekarang ini tengah menatapnya tajam

“jangan coba-coba kau dekati keluargaku” ancamnya

Joo Won tertawa kecil mendengarnya, “kau mengancamku pun itu tak berarti apa-apa bagiku detektif Park” jawabnya mencibir

“apa yang kau inginkan? Setelah aku mendapatkan bukti yang kuat untuk menarikmu kedalam penjara, kau akan menghilang selamanya dan tak akan ada yang mengingatmu sebagai manusia!”

“kau mencoba mengancamku?” tanya Joo Won terdengar santai, “sudah aku katakan, itu tak akan berarti apa-apa sebab, aku yang lebih berkuasa disini dibandingkan denganmu yang hanya berkedudukan sebagai detektif” lanjut Joo Won menutup kaca mobilnya dan pergi meninggalkan Chanyeol

Chanyeol benar-benar marah sekarang, istrinya pulang bersama berandalan itu dan tak ada cara lain untuk memberitahu yang sebenarnya jika lelaki yang dianggapnya teman itulah yang telah membunuh anaknya, Lio.

Chanyeol segera bergegas ke kamar Lio dan mendapati Yoona tengah duduk dipinggiran ranjang, tanpa berkata apa-apa Chanyeol langsung menarik lengan tangan Yoona kasar dan membawanya kekamar mereka. Ingin Yoona memberontak tapi dia benar-benar tak ingin berdebat dengan Chanyeol gara-gara Joo Won yang megantarnya pulang tadi.

“Yoona, dengarkan aku” kata Chanyeol memegangi bahu Yoona sambil berulang kali menarik nafas, “aku sedang mendengarkanmu” jawab Yoona

“Joo Won—Mun Joo Won—dia adalah—laki-laki yang membunuh Lio”

Mata Yoona membulat lebar mendengar perkataan suaminya, dia tak percaya dengan kata-kata yang diucapkan Chanyeol tadi. Boleh dia membenci Joo Won tapi bukan berarti harus mengatakan hal bullshit seperti ini bukan?. Yoona merasa Chanyeol sudah diluar batas hingga dia tega menuduh Joo Won agar dia dan putrinya tak dekat-dekat lagi dengan Joo Won

Yoona tersenyum mengejek menatap Chanyeol, “kau sudah diluar batas, Chanyeol. Kau boleh membencinya tapi tolong jangan katakan omong kosong seperti itu” kata Yoona menatap Chanyeol tak percaya

Chanyeol menutup matanya rapat dan kembali menatap Yoona, “Aku tak bohong Yoong, aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya. Oke, aku memang tak suka kau dekat dengan Joo Won tapi bukan karena alasan lain Yoong! tapi karena Joo Won itu adalah pembunuh Lio yang selama ini aku kejar!”

“cukup Chanyeol! Aku tak mau mendengarkan semua perkataanmu!” balas Yoona berjalan keluar kamar mereka

‘apa yang harus aku lakukan dengan kalian berdua? dia berbahaya dan—argh!’ batin Chanyeol frustasi.

Chanyeol pov

1 weeks ago…

“bos, aku punya sesuatu” kata Lay yang tiba-tiba masuk kedalam ruanganku dan memberiku kode agar mengikutinya keruangannya.

“jadi, apa yang kau dapatkan?” tanyaku ketika sampai kerungannya, “kau berhasil memecahkan kode itu?”

“bukan, bukan tentang kode Joo Won tapi aku mendapatkan email tadi pagi dari seseorang yang tak dikenal, aku berusaha melacak emailnya tapi tak bisa aku dapatkan dugaanku pengirim email ini juga seorang cracker handal seperti Joo Won” jawabnya, dia lalu mengetikkan sesuatu di komputernya seperti biasa

“ini adalah isi email dari pengirim gelap itu” kata Lay

Aku membaca seksama email itu, tak terlalu panjang tapi isinya, isinya yang membuatku benar-benar terkejut. Kode yang akan dipecahkan Lay itu ternyata adalah sebuah bom, jika Lay berhasil menebak kode itu dan kemudian login maka itu akan mengaktifkan bom yang dipasang dibeberapa tempat di kota Seoul

“kau percaya dengan ini?” tanyaku pada Lay, “molla, aku belum bisa tahu sebelum aku bisa membukanya” jawab Lay.

—-

Aku pulang larut seperti biasanya tapi keadaan kantorku sekarang entah kenapa terasa begitu gelap, security yang biasanya duduk di pos di parkiran pun terlihat kosong hanya ruangannya saja yang menyala terang. Daripada memikirkan hal yang tidak-tidak segera saja aku bergegas berlari kemobilku

BUG!

Hitam.

Author pov

Chanyeol membuka matanya perlahan, sebuah sorotan cahaya tepat mengenai wajahnya yang membuatnya mengerjapkan matanya yang mulai ngilu ditambah pandangannya belum terlalu jelas karena dia pingsan. Mata Chanyeol menyipit karena cahaya itu, dia berusaha melihat kesekelilingnya tapi tak bisa

Cteek

Lampu sorotan Chanyeol tadi padam dan digantikan lampu ruangan berwarna putih cerah, Chanyeol menatap sekelilingnya yang ternyata dia berada disebuah apartemen dan—keadannya terikat disebuah kursi makan berwarna cokelat tua dan tali yang rapat mengikat tangan dan kakinya kuat. Terdengar suara gerakan berat langkah kaki mendekati tempatnya sekarang. Matanya berusaha mencari-cari siapa yang melakukan ini padanya

“selamat malam detektif Park”

Mendengar suara yang menyapanya Chanyeol mengutuk geram, dia sangat tahu pemilik suara ini. Berat, halus dan tegas—siapa lagi jika bukan Joo Won. Joo Won berjalan mendekat kearah Chanyeol yang terikat rapat sambil tersenyum dia mengambil tabnya dan memainkannya

“lihat ini” kata Joo Won memberi tahu sebuah gambar rumit di tab yang dia perlihatkan pada Chanyeol, “kau tahu apa ini?” tanya Joo Won lagi. Chanyeol hanya menatap Joo Won garang tanpa menjawab sedikitpun, dia mengumpat pada dirinya sendiri yang tak merasakan keadaan ganjil di parkiran saat dia pulang kerja, jika dia sadar dan melawan dia tak akan berakhir disini bersama namja brengsek seperti Joo Won

“aku tahu kau sangat membenciku” kata Joo Won memulai cerita, “anakmu—cantik” puji Joo Won tersenyum lebar menatap Chanyeol, “jangan coba-coba kau sentuh anakku!”

“wae? Dia lebih sering pergi bersamaku daripada denganmu” kata Joo Won santai, “dan—istrimu juga sangat menarik” imbuhnya

“brengsek!” hardik Chanyeol

Brruuk

Dia tak ingat dengan posisinya yang diikat, mendengar nama seseorang yang dicintainya itu disebut oleh bajingan kakap seperti Joo Won membuat Chanyeol ingin menghajar lelaki itu—bahkan mungkin sampai Joo Won mati pun dia rela. Joo Won menggerakkan jarinya dan seseorang mendekat kearah mereka dan membantu Joo Won mengembalikan posisi duduk Chanyeol seperti tadi

“oke, oke, kita jangan bahas masalah keluargamu yang benar-benar menarik itu, bagaimana jika kita membahas tentang kode yang sedang dipecahkan oleh bawahanmu itu?” tanya Joo Won tersenyum licik

Sekali lagi Joo Won memperlihatkan gambar tadi pada Chanyeol, “ini adalah denah bom yang di pasang untuk beberapa tempat di negara tercintamu ini dan aku dengar Lay sudah berhasil memecahkan 3 kode dari kedua belas kode itu maka—” kata Joo Won menggantung

“BINGO! Dengan sengaja atau tanpa sengaja, kau sudah mulai mengaktifkan 3 bom ditempat yang berbeda itu detektif Park” lanjut Joo Won, “email yang bawahanmu terima kemarin itu adalah email dariku. Aku memberitahunya padamu agar kau bersiap-siap tapi? Kau justru sibuk untuk memikirkan cara menangkapku dan memikirkan cara rujuk dengan keluargamu lagi”

“sialan! Apa yang kau inginkan?!” tanya Chanyeol mulai marah

“hmm? Apa yang aku inginkan? Kau sangat salah memberiku sebuah pertanyaan seperti itu. bukankah sudah aku katakan bahwa aku bisa membeli semua barang yang tak bisa kau beli sedikitpun meskipun ada sedikit cara kotor didalamnya” jawab Joo Won tersenyum

“aku tak sedang main-main” kata Chanyeol menarik ulur nafasnya

“aku ingin kau berhenti mengejarku dan berhenti memiliki obsesi untuk menangkapku dan satu lagi biarkan aku hidup bebas. Permintaan yang mudah bukan?” tanya Joo Won

“heh? Inginmu? Maaf-maaf saja! Setelah kepergian Lio aku bersumpah aku yang akan menggiringmu menuju neraka kematianmu!” desis Chanyeol tajam

“Lio? Ehm? Park Lio? Yang mati tertembak 3 tahun lalu bukan? yang menurut berita karena tabrak lari dari orang yang tak bertanggung jawab padahal sebenarnya anakmu mati tertembak?” tebak Joo Won

“jangan pura-pura! Kau yang membunuhnya brengsek!”

BUG!

Tangan Joo Won berhasil mendarat mulus diwajah Chanyeol yang sekarang ujung bibirnya mengeluarkan darah dan ada bekas membiru dipipinya. Bukan Joo Won marah tapi dia hanya tak terima jika selama ini Chanyeol mengejarnya karena kesalahan yang tak dia buat sedikitpun

“aku memang seorang cracker tapi aku beri tahu satu motto dalam hidupku. ‘Mun Joo Won tidak akan pernah membunuh orang’” kata Joo Won menatap Chanyeol tajam, “dan untuk Sooyoung-mu itu, ya—karena dia memang pantas mendapatkannya karena dia—ya—memang pantas—hanya itu”

“ah… aku beritahu sesuatu. Piranti yang sedang dilacak Lay itu bukanlah piranti milikku, aku tak pernah membuat piranti sesederhana itu bahkan ada orang yang sampai bisa mengcracknya. Kode-kode itu ada 12 dan itu pertanda jika mungkin ada sekitar 4 sampai 5 bom yang terpasang di beberapa tempat di negara ini. Jika kalian berhasil memecahkan kode-kode itu maka, itu berarti kalian sendiri yang menghancurkan negara kalian”

“aku bukan pembuat bom seperti itu tapi aku berhasil mendapatkan copian data dari pembuat bom aslinya dan aku tahu bahwa mereka memakai namaku untuk melancarkan aksi mereka” jelas Joo Won panjang lebar

“mereka?” tanya Chanyeol bingung

“ya, mereka, bawahan saudaraku, maksudku adikku, Mun Ji Won yang 3 tahun lalu kau bunuh dengan meledakkan rumah mewahnya yang dia bangun dengan tangannya sendiri” jawab Joo Won, Chanyeol menatap Joo Won tak percaya. ‘mwo? adik?’ batin Chanyeol

“kau terkejut, eoh? Aku mempunyai seorang adik bernama Mun Ji Won tapi dia lebih dikenal dengan Oh Sehun karena dia memang sengaja dibuang oleh kedua orang tua kami. pertama kali aku tahu tentang hal itu aku juga sama kagetnya denganmu tapi yah—dia memang adikku jadi apa boleh buat” kata Joo Won

“dan dialah yang menembakmu dan Park Lio, Mun Ji Won yang menembakmu bukan Mun Joo Won. Aku tahu kau sudah mencari bukti tentangku yang berada ditempat berbeda tapi dalam waktu, hari, tanggal, bulan dan tahun yang sama. Karena memang benar kami berada ditempat yang berbeda, aku di London dan Ji Won di Korea menembakmu. Sebenarnya sasarannya hanya kau tapi karena anakmu itu terbentur besi penyangga saat dia bermain itu yang membuatnya mati dan kau tetap hidup sampai sekarang” lanjutnya

“ehm–sebenarnya Sooyoung adalah salah satu anggota dari mereka maka dari itu aku membunuhnya tapi justru kau terus mengumpat padaku”

“cih! Adik? Omong kosong! wajah kalian mirip! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu, brengsek?!” tanya Chanyeol marah

“dasar terbelakang! kau ketinggalan zaman hingga tak tahu jika para ilmuwan Amerika sudah bisa membuat topeng yang agar mirip dengan seseorang yang kau inginkan?” tanya Joo Won mencibir

“Baekhyun! Kemari” teriak Joo Won memanggil Baekhyun, Joo Won mengambil sebuah kotak persegi panjang di meja yang tak jauh dari Chanyeol dan mengeluarkan sesuatu berwarna kuning tipis dan diberikannya pada Baekhyun yang berdiri disampingnya, “pakai” perintah Joo Won, Baekhyun menurutinya dan memakai benda lemir itu

“see?” tanya Joo Won ketika Baekhyun selesai menggunakan topeng tipis itu

Chanyeol menganga melihat apa yang terjadi dengan namja didepannya, wajahnya benar-benar sangat mirip dengan Joo Won. Alis matanya, guratan kulit wajahnya benar-benar sangat mirip. “ini tak terlalu mirip sebenarnya tapi Ji Won bisa benar-benar mirip denganku karena kami memiliki bentuk perawakan yang sama” jelas Joo Won lagi

Joo Won menggerakan jari tangannya memberi kode pada Baekhyun agar mendorong kursi yang diduduki oleh Chanyeol. Baekhyun mendorongnya hingga masuk kesebuah kamar, bukan kamar biasa, ada banyak komputer disana. Joo Won mendekati salah satu komputer itu dan mengetikkan sesuatu disana

“ini adalah softcopy data yang aku curi dari bawahan adikku. Aku berhasil memecahkan kodenya karena ini hanya softcopy sedangkan benda yang kau bawa itu adalah benda aslinya, yang bisa memicu bomnya” jelas Joo Won, “aku bersikap baik padamu kali ini. aku memang seorang cracker tapi jika hanya untuk membunuh orang karena terpaksa, aku akan melakukannya” lanjut Joo Won

Joo Won mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya, “kau tahu—aku sudah tak bertahun-tahun menggunakan benda ini tapi tidak, itu bukan motto hidupku jika aku membunuh orang dengan alasan sepele”

Chanyeol menunduk lemas mendengarkan penjelasan panjang lebar Joo Won tadi, jadi dugaan Lay saat itu hampir benar karena wajah mereka mirip tapi mereka tak mirip hanya perawakan mereka yang mirip. Dia kembali teringat Lio yang kala itu berada dalam pelukannya dalam keadaan tak bernyawa. Dia ingat tangisan istri dan anak perempuannya ketika menyambut peti kayu yang berisi jasad anaknya. Air matanya turun pelan di wajahnya, dia menangis, menangis karena dia jika memang benar dia telah melakukan hal yang sangat merugikan selama hidupnya ini bahkan dia rela bertengkar dengan istri dan anaknya

“apa yang—apa yang kau inginkan, Joo Won?” tanya Chanyeol menatap Joo Won tajam

“bekerja sama denganku menghentikan bom itu dan membiarkanku hidup bebas” jawab Joo Won tersenyum smirk.

Yoona pov

Kemana Chanyeol? Ini sudah 2 hari dan dia belum pulang, apa dia berencana benar-benar menginap di kantor? Eh? Tapi, bukankah biasanya Chanyeol juga seperti ini? ayolah Yoong, jangan terlalu berharap karena beberapa hari terakhir ini dia sering pulang

“eomma, aku berangkat dulu” pamit Seohyun mencium pipiku

Yah, mungkin dia memang sedang sibuk dengan kertas-kertasnya di kantor tapi—apa yang dikatakannya waktu itu? Joo Won yang membunuh Lio? Tidak, aku tidak percaya bagaimana bisa lelaki sepertinya menembak orang. daripada aku berpikiran buruk lebih jauh aku segera berangkat kerumah sakit, setidaknya dengan melihat senyuman pasien itu membuatku sedikit tenang.

PLAK!

Ingatan tentang tamparan Chanyeol itu kembali merambat tenang dipikiranku. Tanganku mengelus pipi kananku, aku masih bisa merasakan tamparan itu. keras dan menyakitkan tapi ada yang jauh lebih sakit dari itu semua, perasaan dan batinku. Aku tak akan pernah mengira jika Chanyeol akan menamparku saat itu. mataku tergerak ke sebuah frame photo di mejaku, itu aku dan Lio saat eomma dan appa berkunjung kerumahku 4 tahun yang lalu, Lio benar-benar sangat bahagia disana, senyumannya lebar yang menampakkan gigi-gigi putih susunya

“bagaimana kabarmu Lio? Eomma merindukanmu, sangat” gumamku

Aku teringat satu hal dna aku membuka laci mejaku, aku menemukan sebuah miniatur pesawat terbang dan juga ikan paus. Lio sangat senang bermain dengan mainan ini ketika dia datang kerumah sakit karena merindukanku. Aku menatap mainan itu dengan senyum nanar. Seandainya saja dia tak pergi mungkin aku masih bisa melihat senyuman ringanmu yang keluar dari bibir tipismu tapi itu hanya hayalanku sekarang

Aku melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan sebelah kiriku. Aku melepaskan jas putihku, memasukkan kedua mainan tadi kedalam dan bergegas keluar dengan mantel dan kunci mobilku.

Hanya sekitar 30 menit perjalananku ketempat yang aku tuju. Sebuah tempat sepi, rapi nan rindang dengan berbagai batu beton pergi menyembul diatasnya, aku berjalan pelan menuju sebuah batu yang tak jauh dari tempatku berdiri dan tertera sebuah nama yang sangat aku rindukan, Park Lio. Ini makam Lio, sudah sejak terakhir kali aku datang kemari dan sampai sekarang tak ada perubahan, tetap bersih seperti dulu. Aku mengeluarkan kedua mainan tadi dan meletakkannya disebelah batu nisan putih itu

“annyeong, Lio, bagaimana kabarmu sekarang?” tanyaku tersenyum, “kau pasti baik-baik saja bukan? eomma yakin Tuhan pasti selalu menjagamu” lanjutku

Aku belum beranjak dari tempatku, aku masih merasa nyaman berada disini, seakan-akan aku benar-benar menemui Lio dan seakan-akan aku melupakan semua keresahan yang aku rasakan. Aku masih belum tahu dimana Chanyeol tapi jujur—aku merindukannya

“sudah lama?” tanya sebuah suara yang membuatku mendongak kaget, “Chan—Chanyeol”

Chanyeol tersenyum menatapku, dia juga ikut berjongkok disampingku sambil mengelus nisan putih itu lembut. “aku juga merindukannya, bahkan sangat merindukannya” kata Chanyeol

Aku diam tak menanggapinya, mataku belum teralih untuk menatapnya sedikitpun. Tak tahu kenapa tapi setelah aku mengingat tamparannya waktu itu, sekarang aku merasa takut padanya

“Yoong, gwenchana?” tanyanya yang ingin menyentuh pundakku tanpa aku sadar aku langsung mundur kebelakang dan hasilnya aku jatuh terduduk diatas tanah karena menghindari tangannya, “gwenchana” jawabku pelan dan mencoba berdiri

‘jangan takut bodoh!’

‘ada apa dengan wajahmu, Park Chanyeol? Kau baru saja bertengkar?’

Aku mendengar hembusan nafas pelan yang dikeluarkan dari mulutnya, dia melirikku yang tengah berdiri dan kemudian dia ikut berdiri menatapku—sendu

Greepp

“jangan takut, kumohon” lirihnya, “mianhe, aku menamparmu waktu itu. aku bukan bermaksud kasar padamu” lanjutnya

Aku tak membalas pelukannya melainkan hanya terdiam sambil dia yang terus memelukku. “aku minta maaf, Yoong, aku benar-benar minta maaf. aku mencintaimu sungguh” katanya lagi

Bukan menjawab aku justru terisak dan dia semakin memelukku. Hangat tubuhnya merasuk kedalam tubuhku, aku merindukannya—sungguh—aku merindukan sikap lembut Chanyeol. “uljima, jangan menangis didepan Lio. Lio pasti akan membunuhku jika tahu aku telah membuat eommanya menangis”.

Chanyeol pov

bahkan istriku sendiri takut padaku. Argh!

“uljima, jangan menangis didepan Lio. Lio pasti akan membunuhku jika tahu aku telah membuat eommanya menangis” kataku, “aku minta maaf karena menamparmu waktu itu, sungguh maafkan aku” ulangku lagi

Dia melepaskan pelukanku dan menatapku, tangaku tergerak mengusap wajahnya yang berair. Aku tak ingin melihat istriku menangis karena kelakuanku. “kajja, aku antar kembali ke rumah sakit” ajakku, dia menggeleng, “aku naik mobil, jadi tak perlu” jawabnya, aku tersenyum menatapnya dan kemudian mengambil ponselku dan mengirim pesan pada Shin ajhussi agar mengambil mobil Yoona dimakam

“beres, sekarang aku akan mengantarmu” kataku tersenyum menggenggam tangannya, tangannya sedikit dingin dan kaku tapi aku tetap saja menggengamnya

“ada apa dengan wajahmu?” tanya Yoona, “seperti biasa” jawabku tersenyum, dia hanya mengangguk tak bertanya lebih dalam lagi tentang luka diwajahku.

Ketika sampai dirumah sakit dia langsung bergegas turun tapi aku menarik tangannya, “Yoong” panggilku, “kau belum mengatakan kau memaafkanku atau tidak” lanjutku, dia menatapku hening, “apapun yang kau lakukan tak ada alasanku untuk tidak bisa memaafkanmu” jawabnya sedikit menyunggingkan senyumannya

“aku senang mendengarnya. Nanti kita pulang bersama” kataku, dia mengangkat alisnya menatapku. Tsk, pasti dia ragu seperti biasanya. “aku benar-benar akan menjemputmu” lanjutku, dia mengangguk singkat dan kemudian berjalan pergi meninggalkanku yang masih saja menatap punggungnya yang kemudian hilang oleh pintu kaca rumah sakit tempatnya bekerja.

Joo Won pov

Aku terus berputar dikursiku, berulang kali aku memainkan AC diruanganku, aku matikan lalu aku nyalakan lagi. Begitu seterusnya. Aku masih tak bisa menemukan dimana keberadaan anak buah Ji Won, entah apa yang dilakukan anak itu hingga membuat semua anak buahnya melanjutkan apa yang dilakukannya. Ji Won sudah mati bukan—maksudku Oh Sehun tapi tetap saja nama itu terlalu sulit untuk aku ungkapkan karena sejak pertama kali aku bertemu dengannya aku memanggilnya Ji Won

Flashback

Aku duduk disebuah cafe dengan Americano didepanku yang hangat serta beberapa potong biskuit yang memang sengaja aku pesan, setelah aku mengetahui jika aku memiliki seorang adik, aku dengan segera menyelesaikan semua sekolahku disini dan lulus paling cepat diantara murid yang lain, bahkan aku lebih dulu lulus dari senior-seniorku. Mun Ji Won, itu namanya, aku belum pernah menemuinya sama sekali. Eomma pernah mengatakan padaku jika wajah kami tak sama hanya perawakan kami yang sama

Aku tak menyadari jika seseorang tengah berdiri dan kemudian menarik kursi duduk bersebrangan denganku. Oh! Tubuh tinggi tegap, wajah lonjong, putih dan sempurna! Benar-benar mi—mirip denganku

“kau hyungku?” tanyanya dingin, aku diam saja tak menjawab sambil tetap menatapnya dingin (sama sepertinya)

“apa yang kau inginkan?” tanyanya lagi, aku tetap terdiam

Mengetahui aku tak merespon sedikitpun, dia mendengus kesal dan beranjak meninggalkanku

“aku hanya ingin tahu seperti apa wajah adikku, apakah dia jauh lebih tampan dariku?” kataku akhirnya yang membuatnya terdiam dari tempatnya kembali menarik kursi dan duduk didepanku dengan tatapan mengejeknya. ‘sepertinya sifatnya tak jauh beda dariku’ batinku ketika melihat gurat wajahnya

“cih, tak berguna. Kau membuang-buang waktuku tuan” jawabnya tersenyum sinis, “karna itu memang tujuanku” jawabku santai sambil melipat kedua tanganku

“Mun Ji Won”

“namaku bukan Mun Ji Won tapi Oh Sehun” jawabnya menatapku tajam

“aku tak peduli” sahutku

“kau mendapatkan apa yang kau inginkan? sekarang aku akan pergi dan katakan pada kedua orangtuamu jangan mengatakan hal menjijikkan dengan mengatakan bahwa aku anak mereka” katanya sarkatis

“mereka memang orang tuamu” ralatku

“aku tidak memiliki orang tua” jawabnya

“ah… ne, dia bukan orang tuamu melainkan orang tuaku” kataku tertawa kecil

“menyedihkan” desisnya kemudian meninggalkanku

justru kau yang terlihat menyedihkan dibandingkan denganku.

Flashback off.

 

TBC

tinggalin jejak ya chingu🙂

Ganbatte buat semuanya yaa!!!

kelamaan updatenya? mian, sibuk banget, apalagi seminggu kemaren aku UTS.

see you!🙂

29 thoughts on “FACE OFF [4]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s