The Time Machine 1

time machine

Im Yoona, Oh Sehun and Kim Jongin

Friendship, Fantasy, Alternate Universe and Teenagers

Cast belong to God, but the story was purely mine

[2.260± words]

.

.

copyright © 2014 luckyspazzer

apa yang terjadi bila kau memiliki mesin waktu?


the time machine 1st part

Yoona memangku dagunya, malas. Sehun dan Jongin—si duo bandel ini memang karakter jam karet! Sudah dua jam lebih dia menunggu di kafe Le Café—sebuah kafe dengan gaya victoria yang dipadu dengan sedikit ‘sentuhan’ minimalis—dengan royal tea favoritnya dan jangan lupa! Cheesecake rasa blueberry yang direkomendasikan oleh sahabat ‘Dewi Makan’-nya; Sooyoung!

Lonceng diujung pintu itu berdenting, Yoona memotong cheesake blueberry-nya dengan pisau, lalu dia meraih sendok dan menyuapkan sedikit cheesecake itu ke mulutnya, enak. Ah, rekomendasi sesama shiksin memang tidak pernah salah!

“Kau makan-makan tanpa kami?” tanya sebuah suara berat, yang ia kenal. Sehun!

Yoona melirik pria itu jengkel, “Kalian terlalu lama, aku lapar, tahu,” kata Yoona sebal, lalu menyuapkan cheesecake blueberry-nya.

Baik Sehun maupun Jongin saling melirik. “Dua jam, aku menunggu selama dua jam,” tukas gadis itu, lalu melirik keduanya kalem. “Duduk, apa yang ingin kalian bicarakan denganku?” tanya Yoona.

“Kita harus mengerjakan tugas diskusi sekolah, bawel,” kata Sehun. “Dimana kita harus mengerjakannya?” tanya Sehun.

Yoona berpikir, “Apartemen Jongin?” usulnya. “Kita setiap diskusi pasti ke apartemenku atau tidak ke Oh Manor—rumah keluarga Oh.”

“Apartemenku?” kata Jongin. Pria itu mengusap-usap rambut miliknya. Melirik Sehun, lalu mengganguk. “Tugasnya harus dikumpulkan lusa, jadi kita selesaikan besok!”

Yoona mengernyit, “Apa? Besok? Jongin! Itu buang-buang waktu, sekarang saja. Setelah dari sini, ya?” kata Yoona.

Sehun mengganguk, lalu mengambil sendok dan menyuap sedikit bagian dari cheesecake blueberry Yoona. “Ini enak!” komentarnya, lalu mengambil sesuap lagi dan sesuap lagi, sampai akhirnya Yoona sadar bahwa cheesecake blueberry ukuran mediumnya telah lenyap dimakan Sehun.

“SEHUN!” teriaknya.

“Kau tampak tak sabaran masuk apartemenmu, Jongin-ah,” komentar Yoona, ketika melihat jari Jongin secara tak sabaran mengetikkan kata sandi. “Tarik napas sebentar, kita toh tidak akan mau menghancurkan apartemenmu.”

Sehun tampak lebih tenang ketika akhirnya pintu Jongin terbuka, dan Jongin menyerobot masuk, bahkan sebelum Yoona sempat masuk ke dalamnya. Yoona melirik ke arah Sehun yang asyik melihat-lihat apartemen Jongin. “Dia kenapa, sih? Dia, kan, tahu, kita tidak akan menghancurkan apartemennya.”

Sehun mengedikkan bahu. “Tidak tahu.”

Jongin datang kembali, ekspresi wajahnya menyiratkan bahwa ia sudah tenang. “Kita kerjakan dimana?” tanya Yoona.

“Kamarku!” kata Jongin, mantap.

Kamar Jongin seperti kamar laki-laki pada umumnya. Berantakan—itu apa yang ada dibenaknya ketika pintu kamar Jongin terbuka baginya. Kaus-kaus berserakan, mulai dari pakaian kotor sampai pakaian bersih. Suasana seperti itu membuat kesan bahwa kamar ini pengap dan sempit, padahal nyatanya tidak begitu.

“Kau tahu? Kamarmu seperti gudang buatku, kita rapihkan saja,” kata Yoona memberi usul dan segera meraih pegangan lemari Jongin, hendak membukanya.

Jongin menggeleng, “Jangan. Nanti saja! Palingan Sehun bakal membuat kamar ini lebih rusak lagi, maka itu tidak kubereskan,” kata Jongin. “O ya, Sehun pernah ke sini empat atau tujuh kali, bahkan lebih.”

Yoona manggut-manggut, “Jongin, kau mencatat hal apa saja yang didiskusikan, iya, bukan?” tanya Yoona.

Jongin mengganguk, “Ya, hanya saja aku lupa menaruhnya dimana.”

“Mau kucarikan?” tanya Yoona. Jongin dengan asalnya mengganguk dan menyalakan televisi, sedangkan Sehun melirik meja belajar Jongin sebentar, lalu mengerang.

Dude!” erangnya. Tapi Jongin tampaknya tidak mengubris erangan mengerikan Sehun, dan dia malah asyik menonton acara-acara di saluran televisi-nya.

Yoona menggobrak-abrik meja belajar Jongin. Well, disana kurang lebih ada buku pelajaran, buku-buku kurang penting, alat tulis, foto tim basket Jongin —yang menang tipis melawan tim basket Jangmi Academy— yang sudah rusak terkena air, handphone Jongin yang sekarat karena kekurangan baterai, daftar mantan-mantan menyebalkan Jongin —catat; dia itu cassanova, dan ah! Daftar hal yang harus diskusikan! Yoona baru saja melenggang pergi, tapi ‘sesuatu’ telah menarik perhatiannya.

Kunci emas bertuliskan; TIME.

Yoona melangkah ke arah Jongin dan Sehun yang sedang asyik menonton televisi. “Ini daftar diskusi-nya,” kata Yoona. “Dan, ini apa?” tanya Yoona, memegang kunci emas itu dan menunjukannya kepada Jongin dan Sehun.

Mata Jongin membulat, sedangkan Sehun memandangnya dengan tatapan datar. Jongin buru-buru merebut kunci itu. “Kunci duplikat rumah halmoeniku! Pasti meninggalkannya minggu lalu!” pekiknya.

“Kenapa tulisannya Time?” tanya Yoona bingung.

“Hobi halmoeni, hobinya menuliskan kutipan waktu,” jawab Jongin. “Tapi waktu itu halmoeni kehabisan ide untuk membuat kutipan tentang waktu saat ingin mengukirkannya disini, jadi hanya menuliskan Time.”

Yoona manggut-manggut. Sedangkan Sehun melirik Jongin melalui ekor matanya. “Kau tahu? Lambat laun, dia akan tahu,” jawab Sehun kalem.

Yoona mengernyit, “Apa yang akan kutahu?” tanya Yoona bingung.

Jongin melotot, memandang Sehun. “Sehun! Kau tahu!” desahnya, “hanya orang yang dekat denganku yang boleh tahu rahasia ini!”

“Yoona dekat dengan kita,” jawab Sehun. “Sudah, tunjukkan saja padanya.”

“Apa yang ingin kalian tunjukkan padaku, sih?” tanya Yoona heran. “Kalian menyembunyikan sesuatu? Serius, kalian kenapa?” Yoona melirik kedua mahluk dihadapannya.

Jongin menarik napasnya panjang-panjang, “Baiklah, Yoona, kuperkenalkan padamu,” kata Jongin, lalu membuka lemari pakaiannya. Dia ingin menunjukan pakaian besi super canggih yang hanya bisa dipakai dengan kunci emas bertuliskan Time itu? Atau ….,

“Ini dia—mesin waktu.”

Mesin waktu berukuran besar itu nyaris menghabiskan banyak tempat di lemari pakaian Jongin yang sempit dan kecil —berhubung Jongin bukanlah orang yang senang shopping dan membeli baju, warnanya metalik dan terdapat pintu kaca, pandangan di belakangnya buram. Tampak jelas lubang kunci berwarna emas dibawah gagang pintu. “Time, oh, ini jelas sekali bukan kunci halmoeniku, kan?” kata Jongin.

“Ini alasan kalian terlambat ke kafe, ya?” tanya Yoona.

Sehun mengganguk, “Saat kami menjelajahi waktu ke Paris tahun 95, Jongin secara idiot-nya menjatuhkan smartphone keluaran terbarunya. Jongin bilang bahwa dia akan menyetel mesin itu bahwa waktu di Korea Selatan akan berhenti, tapi anehnya tiba-tiba saat kami berburu smartphone itu, waktunya berjalan kembali,” kata Sehun. “Anjingmu tidur?” tanya Sehun.

“Kau lupa? Kan, kutitipkan pada Taeyeon noona!” kata Jongin. “Kakakku itu pasti tidak mungkin dengan cerobohnya memasukkan Leslie ke dalam apartemenku; apalagi ia tidak tahu kata sandinya!”

Sehun mengedikkan bahu, melirik Yoona. “Pokoknya, itu masih misteri.”

Smartphone?” tanya Yoona. “Smartphone yang itu?” tanya Yoona lagi, menunjuk ke arah smartphone yang sedang sekarat.

Jongin mengganguk, “Baterainya habis dan coba tebak! Kutemukan di pinggir rumah yang masih dihuni! Tidak ada yang mencoba mengambilnya, dan aku ingat, waktu itu aku dan Sehun berjalan-jalan dan aku mengeluarkan kameraku, aku mendengar suara bruk kencang dan aku tidak sadar bahwa itu smartphone-ku!” bangga Jongin.

Yoona mengganguk, “Tampaknya asyik, ya, bisa jalan-jalan menembus waktu. Melihat masa depan bisa tidak, ya?” pikir Yoona.

“Mesin waktu itu ditemukan Jongin saat baru pindah, dan dia menemukan secarik kertas usang bertuliskan; Pintu ‘kan terayun, yakinlah bahwa kau bisa, dan ucapkan pada masa lalu, kemana kau ingin berlabuh!, Jongin butuh waktu sampai akhirnya naik kelas dua, lalu dia berhasil menemukan maksud dari ‘yakin’. Yakin bahwa kita memang bisa melabuhi waktu!” kata Sehun. “Dikertas itu hanya disiratkan masa lalu, yang jelas, aku dan Jongin sama-sama tidak tahu bisa ke masa depan atau tidak.”

Yoona berpikir, “Dan darimana kau tahu bahwa hanya orang terdekatlah yang boleh mengetahui letak mesin waktu ini?” tanya Yoona.

Jongin yang menjawab sekarang, “Dibalik kertasnya ditulis; Mesin waktu ini hanya boleh diketahui oleh orang yang kau kenal dan dekat denganmu!. Ku tahu? Saat kau datang aku panik dan langsung menggeledah pakaianku —alasan mengapa kamarnya menjadi layaknya kapal pecah—, mengeluarkan sebagian dan memasukkan mesin waktu itu,” jelas Jongin.

“Hei! Bagaimana bila kita ke Korea Selatan tahun 89? Dimana Taeyeon noona lahir?” ajak Sehun. “Kita ajak Yoona!”

Yoona mengganguk setuju. Dan Jongin …, dia mengganguk. “Tapi sebelumnya, kita harus selesaikan tugas diskusi ini dahulu,” kata Yoona, dan segera melangkah ke arah daftar ‘apa-yang-bisa-didiskusikan’.

Sehun mengerang, “Kupikir kita bakal bersenang-senang dulu!”

Kyunghee Academy—sekolah tempat tiga sahabat ini bersekolah. Sebuah sekolah dengan pohon rindang disekelilingnya. Sekolah tingkat dengan warna putih dengan pagar besar dengan ukiran ‘KA’ yang diberi kesan mewah. Kyunghee Academy jelas bukanlah gudang bagi para orang pemalas bersekolah, dan herannya bagi Yoona; Sehun dan Jongin bersekolah disana! Pasalnya, kedua murid ini tergolong ‘murid bandel’ di sekolah lama mereka. Bukan murid yang senang mengerjakan tugas dari guru —seperti Yoona, atau rajin masuk sekolah —seperti Yoona.

Bel istirahat berbunyi, dan pintu kelas perlahan terbuka, lautan murid Kyunghee Academy langsung keluar dan berlomba-lomba mencapai kantin paling pertama. Tidak luput dari tiga sahabat ini; Yoona, Sehun, dan Jongin. Mereka bertiga segera berjalan cepat-cepat ke kantin yang terletak disamping kebun sekolah yang asri.

“Kau pesan apa?” tanya Sehun. “Aku akan memilih bulgogi saja. Dan juga lemon tea, kuambilkan pesanannya.”

Yoona mengangkat alis, “Tumben-tumbenan baik,” komentar Yoona. “Aku bulgogi dan lemon tea, sama sepertimu.”

Jjajangmyeon dan lemon tea!” kata Jongin.

Sehun melirik kedua sahabat, “Hello, aku hanya mengambilkan pesanan kalian, bukan membayarnya, tahu!” omelnya dan segera menjulurkan tangan. Yoona dengan malas-malasan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet bergambar Rilakkuma dan juga Kokkuma miliknya. Jongin segera mengeluarkan beberapa lembar won dari sakunya —karena dia malas membawa dompet kemana-mana.

Sehun pun segera berjalan pergi. Dan tak lama kemudian, pria itu dengan susah payah membawa pesanan yang banyak tersebut. “Bulgogi untukku dan Nona Bawel, jjajangmyeon untuk Jongin, dan lemon tea untuk kita semua,” kata Sehun, menyerahkan satu persatu pesanan pada sang owner.

Yoona dengan riangnya menyuapkan bulgogi ke mulutnya sedangkan Jongin sedang melakukan penelitian pada jjajangmyeon miliknya. “Jongin, bagaimanapun juga, jjajangmyeon-mu tidak akan bertambah atau berkurang, mau bagaimanapun kau lihat dari berbagai sudut,” omel Yoona setelah menelan bulgogi miliknya.

“Aku punya julukan baru untuk Yoona!” seru Sehun.

“Apa?” tanya Jongin, berminat. Sedangkan Yoona mengerucutkan bibirnya, paling tidak, julukan yang sama jeleknya dengan julukan ‘Nona Bawel’ yang sudah ia sandang selama 2,5 tahun.

“Nenek Mengomel!” kata Sehun.

Tuh, kan. Tidak sama buruknya dengan ‘Nona Bawel’, tapi lebih parah ‘Nenek Mengomel’, memang dia setua itu, apa?

Yoona menyuapkan bulgogi-nya penuh-penuh sampai mulutnya menggembung. Dan tepat saat itu juga, akhirnya Jongin asyik memakan jjajangmyeon-nya dan Sehun yang mulai asyik meneliti sambil memakan bulgogi-nya.

Sampai lima belas menit kemudian —kurang lebih, mungkin kelebihan 10 detik—, Yoona berhasil menyelesaikan bulgogi-nya. Bertepatan dengan Sehun yang menyelesaikan bulgogi-nya dan menyeruput seruputan lemon tea terakhirnya. Sedangkan Jongin …, dia sudah selesai satu menit yang lalu.

“Jadi, setelah sekolah kami ke apartemenmu?” tanya Yoona, lalu menyeruput lemon tea miliknya.

Jongin mengganguk, “Coba, deh. Padahal aku ingin mencoba ke Amerika tahun 1989,” keluhnya. “Tapi asyik juga, melihat Taeyeon noona waktu kecil.”

“Akan kutunggu kau sehabis sekolah nanti,” kata Jongin. “Ingat, kita ke masa lalu, jangan membawa benda modern yang terlalu mencolok.”

Yoona mengganguk. Sehun tampaknya tidak terlalu peduli dengan ucapan Jongin, karena dia sudah tahu macam-macam aturannya. Yoona menyadari bahwa lemon tea-nya sudah habis, lalu berdiri. “Ingin ke kelas?” tawarnya.

Sehun dan Jongin berpandangan. “Ayo!”

Yoona membuka pintu apartemennya, dan kebetulan sekali apartemen Jongin berada di lantai 4 sedangkan ia sendiri lantai 5; kamar yang memiliki pemandangan yang bagus! Gadis itu merebahkan dirinya di ranjangnya, lalu melepaskan seragamnya lalu memakai sebuah dress berwarna beige bergambar bunga, dan stocking putih selutut. Yoona mematut dirinya di depan cermin, bagus!

Dress ini tidak mencolok, iya, bukan?

Yoona meraih sepatu flat berwarna beige mengkilap. Kita bilang saja; Yoona ingin berdandan klasik kali ini!

Yoona melirik ke tas tangannya yang mungil. Gadis itu memutuskan mengisi beberapa lembar won didalamnya, kamera fotografi, smartphone miliknya, dan sedikit buku tentang sejarah Korea. Well, jaga-jaga bila di tahun 89 ada sesuatu yang mengasyikkan!

Gadis itu bersenandung kecil dan mengunci pintu apartemennya, dan segera menaiki lift ke lantai 4. Yoona mendapati Sehun dengan jaket berwarna hitam sedang menunggu didepan apartemen Jongin. “Hai!” sapa Yoona.

“Hai,” jawab Sehun. “Dia tampak sedang sibuk,” kata Sehun, berbisik pada telinga Yoona.

Yoona mengganguk, sampai akhirnya Jongin —dengan kemeja kotak-kotak biru toska, kaus putih, dan celana jeans— membuka pintu apartemennya. Sehun tampaknya memakai kaus hiam, senada dengan pakaiannya yang serba hitam. “Menunggu lama?”

“Aku tidak, Sehun yang menunggu lama,” jawab Yoona.

Sehun mengganguk masam, lalu seenaknya melangkah masuk ke apartemen Jongin, menyusul Yoona. Di ruang tamu, mesin waktu itu sudah dipindahkan. Dipojok ruangan, tertutup oleh lemari pajangan benda antik Jongin. Jongin melirik kedua sahabatnya, lalu memasukkan kunci emasnya ke dalam lubang, pintu kaca itu terayun.

“Aku duluan, menyusul Yoona. Sehun, ingat. Ladies first,” kata Jongin.

“Lalu, kenapa kau duluan?” tanya Sehun. Sayangnya, Jongin tidak mengubrisnya. Yoona toh tidak memikirkan mengapa Jongin mengatakan ladies first tapi ia sendiri masuk pertama, dan Yoona terlalu asyik memikirkan tahun 89. Seperti apa disana?

Jongin segera memasuki pintu itu, disusul oleh Yoona, dan terakhir Sehun. Pria itu segera menutupnya perlahan, lalu menyusul ketiga temannya. Dipintu itu muncul sebuah tempat, yang tampak tak asing. “Yoona, kutebak. Kau tahu tempat ini?” kata Sehun.

Yoona mengernyit. “Ah! Kim Alley!  Toko pakaian klasik! Sayang sekali pemiliknya sudah meninggal,” kata Yoona. “Apakah orang-orang di Myeongdong tidak sadar ada kita didalam toko ini?”

“Yoona, lihat etalase-nya,” kata Jongin. “Semua ini ditutup.”

Yoona mengganguk mengerti. “Kita harus ucapkan dimana?”

“Pegangan,” kata Sehun. “Pegang tanganku dan Jongin.”

Yoona mengernyit, apa pria ini berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan, apa? Tapi, yah, mungkin maksud Sehun bukan itu. Yoona memegang tangan Sehun dan tangan Jongin, dan Jongin …

“Korea Selatan! Tahun 1989!” teriak Jongin.

Yoona merasa kepalanya pusing, dan pegangan Sehun dan Jongin mengendur darinya, perlahan bayang-bayang Kim Alley menghilang dari pandangannya. Tubuhnya terasa ringan, lebih ringan daripada udara. Dan …., dia pingsan.

Yoona membuka kelopak matanya, mendapati dirinya di depan sebuah rumah kecil yang tak berpenghuni. Gadis itu panik, tak ada sosok Sehun dan Jongin disampingnya. Tapi, berdasarkan apa yang ia lihat, ia yakin ini Korea Selatan. Tahun 1989. Yoona takut, bagaimana cara ia kembali ke tahun dimana masa dia seharusnya berada? Apakah dia harus menjalani hidup sebagai Yoona yang telah lahir tahun 1989?

Air mata Yoona tumpah, ia takut. Dia sendiri. Jongin dan Sehun jelas terlempar di tempat yang berbeda darinya. Salahnya meragukan Sehun. Tangannya bergetar, Yoona berdiri, dia harus bangkit.

Sehun, Jongin …. Dimana kalian?, bisik Yoona, pelan.

 

To Be Continued

sincerely, luckyspazzer

 

44 thoughts on “The Time Machine 1

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s