Roxanne Chapter 3

roxanne 11

ROXANNE
Chapter III
Cerfymour a.k.a Quorralicious
PG17+ || Romance
Yoona SNSD as Roxanne (Yoona’s english name) dan Tao EXO as Edison (Tao’s english name)

Chapter satu chapter dua
It’s my imagination, MINE! so don’t be ridiculous say that my fanfic is yours the cast is belong to their parents,agencies, and god.
Kay at shinelightseeker.wordprees.com
WARNING NO PLAGIARISM, DON’T BASH, DON’T COPY without my permission. Typo bertebaran
a.n: Semoga suka😀 aku tunggu komentarnya. Maaf lama untuk update-an setiap FF yang belum selesai. Untuk yang tidak suka jangan dibaca ya dilahkan klik atau tekna tombol back, mudah kan? Jangan bash ya ^^ mohon kerjasamanya, ditungguin komentarnya.
Previously
“Kau gila. Apa kau tahu siapa sebenarnya pacar Roxanne itu? Bahkan aku pun tak berani lagi mengganggu Roxanne setelah tahu asal usul lelaki yang bernama Sehun itu,” ucapan Kai membuat Edison berhenti sejenak mengurusi pakaian yang dibawakan Kai. Lalu hanya tiga kata yang terucap dari mulutnya dengan tatapan yang tajam, Edison bergumam “ I Don’t care”

Chapter 3
… bukan hanya Sehun yang akan kau hadapi tetapi ayahnya juga yang mempunyai kekuasaan lebih.” Lanjut Kai dengan nada suara yang begitu didramatisir karena membayangkan betapa menakutkannya bertemu dengan seseorang yang tidak kau harapkan.
.
.
.
“Jaga diri baik-baik, hyung! Aku akan segera kembali,” ucap Kai setelah menurunkan kakak sepupunya tepat didepan gerbang apartment mewah milik Edison.
Setelah kemarin seharian menemani Edison di Rumah sakit, akhirnya Kai bisa mengantar kakak Sepupunya itu untuk segera pulang kembali ke apartment miliknya dengan wajah yang bengkak dibeberapa bagian.
Kakinya yang panjang dengan tanpa canggung menancap gas mobil sport mewah miliknya dan seperti biasanya, mobil merah terang itu selalu melewati toko bunga yang terletak tak jauh dari apartment miliknya. Mata Kai seakan terpaku pada satu titik dimana tak ada sosok manapun yang bisa dilihat melalui indera penglihatannya.
‘Aku merindukanmu, Yuri’ gumam Kai dalam hati ketika matanya tetap fokus pada bangunan yang menjadi saksi bisunya.

Bukan Edison saja yang mengalami patah hati yang begitu dalam. Kai yang notabene adalah anak seorang pengusaha Korea yang kaya dan terkenal rupanya memendam rasa sakit. Terukir jelas bagaikan kejadian tersebut terjadi beberapa hari yang lalu, kejadian yang menimpanya dan calon istrinya Yuri empat tahun yang lalu.

Flashback
“Ayah, tolong restui kami. Aku ingin menikahi Yuri.” Kai mengatakannya dengan lantang. Digenggamnya dengan erat tangan mungil calon mempelai wanitanya yang kini berdiri disampingnya. Menanti dengan resah, sama seperti apa yang dirasakan olehnya sendiri.
“Akan Ayah restui, tetapi dengan syarat kau harus melanjutkan bisnis perhotelan Ayahmu ini.”
Jawaban Ayahnya benar-benar memberikan angin segar pada hubungan Kai dan Yuri, tetapi dibelakang mereka berdua Ayahnya ternyata tidak benar-benar merestui keduanya. Hal ini terdengar oleh Kai saat tak sengaja melewati kamar utama dimana Ayahnya tidur, Kai bisa mendengar Ayahnya berbicara dengan assisten pribadinya untuk segera melenyapkan Yuri yang baru saja beberapa hari ini menjadi tunangannya.
Karena panik dan tidak ingin kehilangan Yuri, terlebih setelah dengan rela akhirnya dia mengorbankan keinginan menjadi penari demi Yuri. Kai pun pergi bersama Yuri malam itu juga, dengan berbekal pakaian seadanya dan tidak uang secukupnya malam itu Kai langsung membawa Yuri kabur sebelum assisten Ayahnya benar-benar membunuh Yuri tanpa jejak.
Namun nahas, mobil mereka mengalami kecelakaan karena tergelincir oleh oli mobil truck depan mereka yang ternyata bocor. Membuat mobil yang ditumpangi keduanya tidak bisa dikendalikan dan jatuh ke jurang yang tak jauh dari jalanan pegunungan yang berliku-liku. Sayang, sekali Tuhan sangat menyayangi nyawa Yuri dan memanggilnya untuk pergi ke sisi-Nya dan meninggalkan Kai seorang diri di dunia yang masih bergelut dengan waktu.
Flashback OFF

Kai mengerjap, sesekali telinganya merasa mendengar suara decitan ban mobil belakangnya tepat seperti disaat dia mengalami hal yang menakutkan yang membuat Yuri meregang nyawa ketika duduk disamping kemudi. Tanpa Kai sadari, sepatu boot mewah kecokelatan miliknya sudah membawanya mendekat kedalam toko bunga yang biasa dia datangi.
“Oppa? Kenapa kau disini?” suara manis gadis cantik yang sedari tadi ada didepannya itu membuat Kai memalingkan wajahnya. “Eoh, Irene-ah. Apakabarmu?” tanya Kai tak memedulikan pertanyaan adik manis dari tunangannya yang telah tiada itu.

 

Lesung pipi nya terlihat manis saat senyumannya mengembang, dielusnya lembut pipi wajah dari gadis yang menyerupai wajah kakaknya.

“Oppa hanya merindukan kakakmu saja.” Ucapan Kai membuat Irene sedikit tersentak dan mendongak kearah Kai sembari mengulurkan bunga Lily yang sedari tadi dia pegang dan awalnya hendak ia rangkai bersama bunga lain dalam keranjang.
“Relakanlah Eonnieku, Oppa. Kau tidak harus selalu bersedih dan menyia-nyiakan hidupmu sendiri. Jika Eonnie melihatmu seperti ini saat dia meninggalkanmu, kurasa dia pun akan bersedih. Lagipula, Oppa tahu kan paman sudah meminta maaf kepada seluruh keluargaku perihal ini.Dan kudengar paman ikut bersedih melihat hidupmu yang hancur begitu saja setelah Yuri Eonni tiada. Berhentilah bermabuk-mabukan dan bermain wanita Oppa. Masih ada wanita lain yang pantas untuk Oppa cintai. Oppa, himnaeseyo.” Ucap Irene sembari memotongi bunga mawar merah yang dia ambil dari ember berisi air.

“Kau terlihat sibuk,” ucap Kai setelah Irene mengakhiri ucapannya. “hmm..” jawab Irene masih fokus pada bunga-bunga yang dia rangkai. “Keluarga Oh sebentar lagi akan mengadakan pesta pertunangan anaknya, Kyungsoo.” Ucap Irene dengan nada suara sedih.
“Kyungsoo? Teman kuliahmu itu?” tanya Kai saat mendengar nama yang tak asing ditelinganya. Matanya tetap tertuju pada sosok Irene yang masih menampakkan raut wajah sedih.

“Ne, Oppa. Dia sudah dijodohkan dengan Joy putri dari pengusaha Lee.”
“Interesting,” gumam Kai. ‘Oh Seunghwan sudah mengikat anak keduanya dengan tali pertunangan. Kurasa ini ada hubungannya dengan perusahaan OSH miliknya. Sebentar lagi jabatannya sebagai Perdana Menteri akan usai, kurasa dia cukup bijak dalam memainkan bidak catur untuk melanjutkan hidupnya. Dan Kyungsoo adalah alatnya.’ Ucap Kai dalam hati.

“Lalu, kenapa kau tidak di undang? Bukankah kau salah satu teman terdekatnya?”
“A-aku diundang.” Ucap Irene gugup dan matanya mengarah pada Kai yang masih menunggu jawaban sesungguhnya. “Aku tidak berniat untuk pergi. Bunga-bunga ini akan diantarkan oleh kakak sepupuku.”
“Bagaimana kalau aku saja yang menemanimu?”
“Tidak Oppa.” Tolak Irene dengan suara halus.
“Ouh ayolah. Patah hatimu pasti akan segera sembuh. Tidak baik untuk menyembunyikannya terlalu lama.” Goda Kai, sudah lama dia menyadari ada perasaan lain yang lebih dari sekedar teman dekat antara Kyungsoo dan Irene.
“Baiklah,” ucap Irene dengan wajah cemberut.

“Tapi sebagai gantinya, kau harus mau untuk mendatangi kencan buta yang Eomonim buat untukmu,” permintaan yang tidak seberapa namun membuat hati Kai tertohok.
Karena itu dengan malas dia menjawab, “Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti malam tepat pukul tujuh. Sampai nanti.” Kai pun melewati pintu depan toko bunga tersebut, tangannya sibuk menunggu jawaban telpon dari kakak sepupunya Edison.
“Hyung, aku ada acara mendadak malam ini. Kau tidak apa sendiri?”
“Tidak apa, lagipula Ibuku akan datang dari New York.”
“Maafkan adikmu ini Hyung,” ucap Kai dan langsung menutup telpon setelah mendengar Edison menjawabnya, “It’s alright.”
.
.
.
Sehun menggeram, dia menutup telpon yang baru saja diterimanya sesaat tidurnya yang nyenyak telah terganggu di pagi hari. Aroma makanan tercium dari ruangan belakang dimana dapur berada.
“Roxanne,” gumamnya menyadari kebiasaan lama mereka berdau kembali seperti biasa. Sehun terlihat menyisir rambut berantakan dengan jari tangan kanannya, dengan langkah pelan dia menghampiri Roxanne yang sedang membuatkan Sandwich tuna dan omelet kesukaannya setiap pagi.
“Morning Dear,” sapa Sehun dengan tangan yang menggelayut manja dan berpindah melingkar dipinggang ramping Roxanne.

Roxanne tersenyum melihat sikap manja kekasihnya, “Sebentar lagi selesai. Kau duduklah,” ucap Roxanne yang meminta Sehun untuk bersabar dan dirinya terlihat cukup terganggu dengan tangan Sehun yang semakin memeluknya erat dari belakang sementara tangannya masih memotong salad untuk disusun dalam Sandwich special miliknya.
Bukannya duduk seperti yang Roxanne perintahkan, Sehun malah membalikkan tubuh yang sedang dia peluk. “Mana morning kiss untukku?” rajuknya protes.
Semalam memang tidak terjadi apa-apa diantara keduanya, mereka hanya melewatkan malam bersama di tempat tidur mereka masing-masing. Roxanne menatap wajah manja Sehun yang sudah bersiap dan menutup matanya dengan bibir yang siap menerima kecupan dari kekasihnya yang cantik.
Roxanne memandang cukup lama, hingga akhirnya Sehun mendengus kesal dan membuka sebelah matanya mengintip wajah Roxanne yang hanya memandanginya. Lantas Sehun pun segera melepaskan pelukannya.
“Hem… Baiklah, aku akan menuruti perintahmu,” ujarnya seakan teringat sendiri dengan janji semalam.
Tidak bisa merasakan kebiasaan seperti dulu lagi dimana biasanya mereka selalu tidur bersama saling berdekapan dan memberikan kehangatan juga tidak mendapatkan morning kissnya rupanya Sehun cukup sabar dengan semua itu.

Sepertinya Roxanne butuh waktu untuk kembali pada kebiasaan lama pikirnya dalam hati dan menolak rasa curiga dan rasa kehilangan disetiap perbedaan sikap yang Roxanne perlihatkan.
Roxanne malah terkekeh pelan melihat raut wajah kecewa Sehun yang tidak dibuat-buat. “Ayo sarapan dulu,” ucapnya ditengah kekehan kecilnya.
“Kau sudah menggosok gigimu?” selidik Roxanne sambil berpura-pura mengernyitkan dahinya, Sehun yang memang belum merasa menggosok gigi pun tersipu malu dan hanya berlari kearah kamar mandi miliknya yang berada diruang samping dapur. Suara gesekan sikat gigi pada gigi Sehun terdengar tidak berirama dan terkesan buru-buru, Sehun pun terdengar berkumur dan mencuci wajahnya dengan secepat kilat.

TADA! Dia pun keluar dengan senyuman indahnya dan nafasnya yang segar.
“Sudah,” jawab Sehun yang seperti bocah baru melapor pada ibunya sendiri.
“Cuci tangan?”
“Sudah,” ucap Sehun kembali, terlihat tidak senang. “Ouh ayolah, aku bukan anak kecil sayang.” Protesnya.

Roxanne tidak menjawabnya, dalam diam dia hanya tersenyum sambil mendorong pelan piring berisi Sandwich dan omelet andalannya serta menuangkan segelas kopi pahit Americano buatannya yang memang terasa lebih berbeda. Lebih terasa enak dan nikmat.
Keduanya langsung memulai acara sarapan dengan Sandwich dan omelet.
“Kau terlihat badmood. Ada apa?” tanya Roxanne to the point. Roxanne bisa merasakan perilaku Sehun yang terasa dibuat-buat terutama saat tiba-tiba dia mendapatkan back hug dari kekasih yang sudah lama tidak dia temui itu.

“Nothing,” kilah Sehun yang enggan menceritakan bahwa barusan dia menerima telpon dari ajudan Ayahnya, Perdana Menteri Oh.
“Kau ada acara siang ini?” tanya Sehun mengalihkan topik pembicaraan sambil menatap kagum pada sisa potongan Sandwich yang baru dia masukkan kedalam mulutnya. “Upgraded.”
“Apa?”
“Sandwich Tunamu mengalami perkembangan yang cukup pesat.” Roxanne terkekeh mendengar pujian polos Sehun. “Ah kau bisa saja. Masih sama kok.” Ucap Roxanne dengan pipi bersemu merah. “But thank you untuk pujian yang kau berikan itu.” Sehun menanggapinya dengan senyuman. “Aku hari ini harus ke butik milik Victoria.”
“Untuk apa?” tanya Sehun, meski begitu dia dengan cepat langusng mengambil kartu kredit unlimited miliknya. “Kau sangat mengerti diriku,” puji Roxanne yang menerima kartu tersebut dengan senang hati.
“Kenapa kau menanyakan jadwalku siang ini?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin makan siang denganmu setelah mengecek dan mengatur keadaan dikantorku.”
“Apa perusahaanmu baik-baik saja?” Roxanne menerka dengan asal. “Tentu baik-baik saja. Kenapa kau terlihat begitu khawatir?” giliran Sehun yang tidak mengerti pertanyaan Roxanne. “Tidak, hanya saja sejak kau mendapat telepon tadi pagi, suasana hatimu menjadi buruk.”
“Tadi Appa menelponku.” Gumam Sehun pelan.
“Mr. Clark?” tanya Roxanne, setahunya ayah adopsi Sehun tidak pernah membawa masalah hingga serumit ini bahkan Sehun sampai terlihat tak bersemangat. Respon yang diberikan hanya gelengan pelan,”Ayah kandungku.”
Kini Roxanne yang terlihat begitu terkejut, selama dia tinggal bersama dengan Sehun dia sudah cukup tahu asal usul keluarga kekasihnya yang sudah menjadi anak adopsi dari keluarga Clark selama ini, dan setahu Roxanne hanya sekali Sehun berhubungan dengan Ayah kandungnya itupun saat Sehun dengan keras menentang keinginan Ayahnya untuk dijodohkan dengan anak kerabatnya.
Tentu saja, Mr. Clark selaku ayah adopsinya tidak bisa berbuat apa-apa, bagaimana pun Oh Seunghwan masih merasa memiliki hak mengatur kehidupan anak yang telah dibuangnya selama ini. Anak yang tidak pernah dia harapkan untuk muncul saat dia bersenang-senang dengan ibu kandung Sehun, Lee Mijae.
“Kali ini untuk apalagi?” tanya Roxanne dengan nada suara penuh kehati-hatian.
“Dia ingin aku mengelola perusahaannya, selama Kyungsoo masih belajar beradaptasi. Nanti malam acara pertunangan Kyungsoo dengan Joy.

Dan kurasa aku harus menghadirinya untuk diperkenalkan sebagai Direktur bagian pemasaran, bukan sebagai anaknya.”
Nada suara Sehun tercekat saat mencoba menyelesaikan setiap rangkaian kata yang ia coba susun. Bahkan untuk mengucapkan kalimat terakhir ada terselip rasa kecewa saat ayahnya masih enggan untuk mengenalkannya sebagai seorang anak dari keluarga Oh.
“Lalu, kau harus kembali ke Korea setelah malam ini?” tebakan Roxanne benar-benar jitu, dengan sekali anggukan Sehun, Roxanne bisa tahu apa yang akan dia hadapi kedepannya.
“Aku ingin kau pergi bersamaku.” Ucap Sehun tanpa ada nada permintaan didalam ucapannya. Sehun sama sekali tidak bisa lepas dari pesona Roxanne, dan jika Sehun harus terbang kembali ke negeri asalnya begitupun dengan Roxanne yang harus kembali mengingat kenangan pahit saat berada di negeri ginseng tersebut, luka dihatinya bahkan belum sepenuhnya sembuh.
.
.
.
“Aish, anak itu tidak bertanggung jawab sama sekali,” gerutu Edison yang kesusahan mencari makanan di apartmentnya.

Keadaannya tidak begitu beruntung, karena orangtuanya yang berencana untuk menjenguknya di London ternyata batal untuk hadir dikarenakan seminar kedokteran yang sangat penting.
Dering ponsel yang dia masukkan kedalam saku celananya membuatnya harus dengan segera merogoh ponsel tersebut.
“Hello.”
“Ah, Catalleya. Long time no see you,” pekik Edison yang kegirangan menemukan bahwa teman masa kecilnya tiba-tiba menelponnya.
“Uhm, party? Aku sedang tidak enak badan, Cat. Im sorry.” Tolak Edison yang ternyata diajak oleh Cathrine untuk menemaninya ke acara pesta pertunangan bos nya. Dan rengekan manja Cathrine pun terdengar. Edison hanya mengulas senyum membayangkan temannya melakukan semuanya.

“Ah, okay. Tapi jangan salahkan aku jika tiba-tiba aku mengajakmu untuk pergi sebelum acara pestanya berakhir.”
“Oh ya, dan jangan lupa. Kau yang harus menjemput. Okay, see you.” Tambah Edison yang langsung berlari kecil kearah lemari bajunya, menyiapkan pakaiannya di sore hari untuk digunakan tepat pukul 6 nanti.
Hmm, akan lebih baik jika aku bertemu dengan Roxanne nanti. Pikir Edison terlihat sumringah. Dia sempat ingin menolak ajakan Cathrine namun saat dia mendengar bahwa bos dan perusahaan tempat bekerjanya adalah OSH corp, Edison pun dengan segera mengubah keputusannya. Dia tahu cukup banyak dari Kai yang menceritakan secara panjang lebar semua informasi yang dia tahu.

Karena itulah tidak salah jika Edison sangat mengetahuinya, bahwa Perdana Menteri yang Kai maksudn adalah Oh Seunghwan ayah dari seorang anak haram Oh Sehun. Giginya bergemeretak jika mengingat Sehun yang membuatnya babak belur dan menjadi tak berdaya.
Edison dengan rapi nya membawa tuxedo, kemeja dan celana bahan dengan warna kesukaannya abu-abu. Baru saja dia hendak mengambil dasi pilihannya, seseorang memencet tombol bel pintu apartmentnya. Siapa yang mengganggu kegiatanku di sore hari, ucap Edison dalma hati. Matanya melebar saat melihat layar interkom apartmentnya yang memperlihatkan wajah yang selama ini dia jadikan saingan cintanya, Oh.. Sehun.
“Apa maumu?” tanya Edison dengan ketus dan mendengus sebal, saat Sehun belum benar-benar memasuki ruangan apartmentnya.
“Hm, jadi disini Roxanne bersembunyi selama ini.” Gumam Sehun yang tidak memperhatikan pertanyaan Edison. Gumamannya membuat Edison semakin sebal mendengarnya. “Setidaknya ini cukup nyaman hingga Roxanne cukup hampir bisa melupakanmu.” Balas Edison asal. Sehun menatapnya tajam setelah sebelumnya berbalik cepat menghadap kearah Edison yang berada dibelakangnya.
“Apa maumu?” tanya Edison lagi dengan tidak sabar.
“Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Kuharap wajahmu itu bukan satu-satunya aset yang kau miliki,” ujar Sehun rngan sambil menatap tubuh Edison dari ujung rambut hingga ujung kakinya dan menatap lama pada sesuatu yang tertutupi disekitar ujung resleting celana Edison.
“Huh,” jawab Edison yang sama sekali tidka terlihat begitu ingin memaafkan tindakan Sehun.
“Roxanne yang memintaku untuk meminta maaf darimu. Karena aku sudah melakukannya, meski kau terima atau tidak permintaan maafku. Kurasa urusanku disini sudah selesai. Keureom, aku pergi!” ucap Sehun panjang lebar dan membungkuk sedikit hingga tak lama kemudian tangannya memegang putaran pegangan pintu apartment Edison.
“Sampai ketemu dipesta nanti,” racau Edison dibelakang Sehun yang sudah hampir menutup daun pintu apartmentnya. Sehun yang mendengarnya merengut tak mengerti, bagaimana dia bisa tahu mengenai pesta malam ini? Apakah yang dia maksud benar-benar pesta yang sama? Pesta pertunangan adik tiriku Kyungsoo? Hati Sehun bertanya-tanya, dan berharap banyak bahwa pesta yang dimaksud Edison bukanlah pesta yang akan dia datangi malam ini bersama Roxanne. Sehun membenci pertemuan Roxanne dengan Edison, baik itu disengaja maupun tidak disengaja.
Dia membenci sebagian pikiran dan hatinya yang berkata, Roxanne tidak akan lama lagi menjadi miliknya. Takkan selamanya Roxanne berada di sisinya. Dan semua pikiran yang menggelayuti pikirannya semakin sering memenangkan semua hal yang ada dalam saluran kerja otaknya, terlebih disaat Roxanne menolak melakukan kebiasaan yang biasanya mereka lakukan berdua seperti saat tadi pagi sebelum Sehun berangkat kerja, tak ada satu kecupan pun yang mengantarnya pergi bekerja, dan memberikan semangat yang cukup membiarkannya fokus bekerja.
Roxanne tidak mungkin tega meninggalkanku. Pikir Sehun memantapkan hatinya yang tengah kalut. Aku hanya harus menjauhkannya dari Edison, racun yang memasuki sistem kerja hati Roxanne.
Sehun pun berjalan pelan, menelusuri koridor apartment Edison yang lebar dan terlihat mewah. Jadwal selanjutnya adalah bersiap untuk pesta nanti, termasuk memanggil stylist favorit Roxanne untuk datang dan menjadi ibu peri bagi kekasihnya yang memang memiliki kecantikan alami. Ibu peri yang bisa mengubah Roxanne menjadi lebih mempeson dari sebelumnya.

Roxanne POV
Aku hanya bisa mendesah pelan. Tuntutannya untuk menghadiri pesta ini sangat membebaniku, betapa tidak dia selama ini hanyalah kekasih yang dia sembunyikan rapat-rapat. Sehun benar-benar belum pernah menyebut namaku atau bahkan sedikit menyeret namaku didalma perbincangan perjodohannya dengan ayahnya Oh Seunghwan tahun lalu.
Masih bisa kuingat bagaimana Krystal yang awalnya akan dijodohkan dengan Sehun dengan semangatnya terbang dan memutuskan untuk tinggal di London demi Sehun. Hari itu, hari yang kelam bagiku hari disaat pertemuan pertama Krystal dengan Sehun dan aku. Mengingatnya saja cukup membuat hatiku sakit kembali dengan mata yang memanas menahan airmata untuk jatuh kembali.
“Kau baik-baik saja Nona?” tanya Roy Kim, stylist favoritku. Dia bisa tahu apa yang aku ingin dan bisa sangat mengerti warna apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk wajahku. Sehun selalu senang melihat hasil kerjanya yang nampak di riasan wajahku, hingga tidak akan ada bisa menandingi kecantikanku ucap Sehun acapkali setiap Roy memperlihatkan hasil kerjanya. Aku hanya mengangguk lemah.
“Tidurku tidak cukup banyak,” Edison berputar-putar dalam kepalau. Ingin sekali aku mennayakan kembali kabarnya pada Kai, hanya saja bayangan dan ekspresi cemburu sealigus marah Sehun cukup membuatku bisa menahan dan mengurungkan niatku untuk melakukannya. Dan alhasil, tidurku tidak nyenyak karena tidak tenang, ucapku yang menggantung kalimatku.
“Kau ingin dress hitam, putih atau pink muda?” tanya Roy Kim yang memperlihatkan semua design dress terbarunya.
“Sehun menggunakan jas warna apa?”
“Tuan menggunakan tuxedo hitam.”
“Baiklah kalau begitu aku menggunakan warna putih panjang saja,” ucapku melihat kagum pada semau dress cantik hasil tangan lentik milik Roy. Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya tiba waktuku untuk memakai dress yang telah kupilih. Dengan rambut yang sengaja digelung keatas dengan poni yang mempermanis wajahku, rupanya Roy menyelipkan mahkota kecil diatasnya hingga penampilanku terlihat anggun dan manis.
.
.
“Tuan menanyakan apkaah Nona Roxanne sudah selesai berpakaian?” interupsi assisten Roy mengganggu decak kagum pada hasil tangannya sendiri. “Kau terlihat sangat menawan Nona,” gumamnya. “Tuan Sehun pasti akan menyukainya,” tambah assisten Roy yang bernama Junyoung tersebut. Pandangan keduanya tak henti dan seakan terpaku melihat kearahku dengan tatapan tak percaya. Aku yang mendengar semua pujian itu hanya menunduk dan tersipu malu. Tanpa aku sadari, Sehun sudah berdiri dibelakangku.
“Kau seorang Dewi yang tersesat rupanya,” meski pujian Sehun terdengar cheesy dan berlebihan namun aku menyukainya. Sangat jarang Sehun memperlihatkan sikap manis didepan orang lain.
“Ayo!” ucap Sehun yang langsung melingkarkan lengannya dipinggang, membiarkanku untuk menggamit lengannya dengan manja.
“Selamat bersenang-senang!” ucap Roy Kim yang terdengar setengah berteriak. Sehun tak menjawabnya, dia hanya tersenyum senang dan kemudian langsung membukakan pintu untukku.
.
.
.
Malam yang sangat tenang. Lampu-lampu mulai menguasai perkotaan yang indah ini. Perlahan mobil yang dikemudikan oleh supir Jung menderu, menembus angin malam yang bersemilir memabukkan. Angin yang menghantarkan wangi segar dari sungai Thames.
“Sebentar lagi kita akan tiba Tuan,” ucap supir Jung sementara kami berdua hanya menikmati kebersamaan saat berada didalam mobil dan tidak menyadari waktu yang semakin menghilang seiring dengan tibanya kami.
Pintu masuk ruangan Ballroom yang megah cukup mencolok mata. Red carpet terlihat digelar, menyambut semua tamu undangan yang pastinya merupakan kalangan elit kelas atas sekaligus rekan bisnis dari OSH corp.
“Wow,” aku sedikit tertegun melihat kedalam isi Ballroom yang megah ini.
“Ayo.” Ucap Sehun yang menarik tanganku pelan, aku yang masih terhipnotis dengan keadaan ruangan ini terpaksa harus mengikuti kemana tarikan tangan Sehun ini akan pergi. Sebuah kelompok orang terlihat tak jauh dari kami berdiri. Sehun membungkuk hormat dan sopan, otomatis akupun melakukannya bersamaan.
“Ah, Sehun-ssi kau hadir rupanya.” Sapa lelaki yang setengah rambutnya dipenuhi oleh uban, suaranya cukup rendah dan mengintimidasi bahkan ucapannya sangat formal pada seseorang sekelas Sehun. Aku masih semapt mengiranya sebagai kerabat dekat saja, hingga seorang lelaki muda dan terlihat tak jauh berbeda usia dengan Sehun memanggil seseorang dengan sebuah panggilan keluarga.
“Appa!” panggil lelaki tersebut.
“Eoh, Kyungsoo-ah kau sudah selesai menyapa semua tamu?” jawaban lelaki yang sudah berumur itu membuatku menegang dan baru kali ini saja aku merasa aku benar-benar tidak bisa berbuat sesuatu yang lebih baik. Tangan Sehun yang mendengar adegan ini pantas saja terasa lebih dingin dan berkeringat. Panggilan sayang antara ayah dan anak ini begitu dia dambakan bisa terjadi antara dirinya dan lelaki itu, yang tak lama ini baru kuketahui bahwa lelaki tersebut adaalh Oh Seunghwan. Kyungsoo menjawabnya dengan anggukan tenang, ringan dan mantap.
“Lalu Appa, siapakah ini?” Mata Kyungsoo terlihat mengarah pada Sehun dan sedikit mendongak Kyungsoo meneliti setiap inchi tubuh Sehun yang lebih tinggi darinya.
“Hmm, aku baru melihatnya,” tambah Kyungsoo yang menyadari wajah yang sedang dia tatap bukanlah wajah yang familiar untuknya.
“D-dia Sehun. Direktur baru untuk bagian pemasaran. Dan perkenalkan Sehun-ssi, ini adalah anakku satu-satunya penerus perusahaan OSH corp yang akan kau bantu untuk beradaptasi nantinya.” Rahang Sehun mengeras dengan tangan yang mengepal dan tangan satunya yang kupegang terasa dingin. Kerongkongannya terlihat tercekat dan begitu kentara saat beberapa kali dia berusaha mengeluarkan suara.
Maka dengan lembut aku mengelus pundak dan punggungnya, “Rilekslah,” bisikku.
“Ya aku Sehun. Senang berkenalan dengan anda. Aku harap aku bisa membantumu untuk masa depan nanti,” akhirnya Sehun bisa dengan lancar memperkenalkan diri dan bahkan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kyungsoo. Aku tersenyum ringan melihat Sehun begitu baik merespon pertemuan pertamanya dengan adik satu ayahnya itu.
“Kerja bagus, Sehun-ah.” Ucapku dengan bangga dan sambil tersenyum saat akhirnya kedua ayah dan anak itu pergi untuk menyapa tamu lainnya yang baru saja tiba.
“Apa kau ingin champagne?” tanyaku menawarkan diri untuk mengambil minuman bagi Sehun. Mataku berkeliling dan cukup terkesiap melihat sosok yang baru saja melewati pintu masuk. Edison terlihat memasuki ruangan dengan seorang wanita yang pastinya bukan seseorang warga negara Korea, mata biru dan rambut pirangnya memberi penjelasan lebih. Aku hampir menjatuhkan dua gelas champagne yang baru aku dapatkan dari pelayan yang beredar.
Bagaimana bisa dia dengan mudahnya bersama wanita lain. Baru satu hari satu malam aku pergi darinya. Sedikit rasa dihatiku terasa tercemar dari fakta yang aku simpulkan sendiri dengan mata kepalaku sendiri.
“Edison,” ucapku dan tidak menyadari sosok Sehun sudah berdiri dihadapanku dan mengikuti ekor mataku yang masih erat memandangi sosok Edison yang begitu berbeda penampilannya. Dalam balutan tuxedo abu-abu, Edison terlihat memukau. Tanpa mengetahui detak jantungku yang terasa lebih ringan dan berirama tidak jelas, kelegaan menyelimuti hatiku. “Syukurlah kalau dia baik-baik saja.” Gumamku, Sehun menatapku tidak suka.
“Pukulanku tidak sekuat itu, Roxanne.” Ucapnya dengan penuh penekanan membuatku merasa bersalah memperlihatkan kelegaan dihadapan kekasihku sendiri yang sudah melukai Edison.
Sehun memberengut dan mengabaikanku, dia meninggalkanku dengan wajah yang masih terlihat sangat kesal. Dengan sadar, aku mulai memperhatikan gerak gerik Edison, dia terlihat bercakap-cakap dan mengenal sebagian pengunjung pesta ini, hingga aku bisa melihatnya tersenyum, tertawa dan menampilkan ekspresi yang berbeda-beda yang begitu kurindukan.
Kai terlihat menyapanya dengan satu tepukan dibahu dan turut masuk dalam percakapan kelompok yang tak jauh dari tempatku berdiri. Mata Kai beradu denganku yang masih tidak bosan melihat Edison yang tidak jauh dari tempatku berdiri, sesaat kemudian Edison memalingkan wajahnya kearahku mengikuti arah mata Kai baru dia akan melangkah mendekatiku namun tangan Kai menahannya, seakan diriku ini patut untuk dibenci dna djauhi karena menjadi penyebab luka diwajahnya dan sekitar tubuhnya.
Perasaan sedih menyelimuti hatiku, rasanya kecewa sudah datang menggantikan perasaan khawatir yang selama ini aku pendam untuk seorang Edison. Reaksi yang ditunjukkannya saat tangan Kai menahannya cukup mampu membuatku merasakan panas didalam ulu hatiku. Aku membutuhkan udara segar.
Kakiku menuntunku untuk membuka pintu balkon pinggir ruangan yang tak jauh dari tempatku berada. Sebuah taman yang indah rupanya tersembunyi disini. Wangi yang segar dari bunga-bunga yang bermekaran membuat nafasku terasa lebih ringan dan seakan mengangkat beban, kecewa dan kesedihan yang bercampur menjadi satu di dadaku.
“Sedang apa kau disini? Kenapa kau tidak begitu menikmati pesta ini?” tegur sebuah suara yang kukenali.
“Edison,” panggilku dengan rasa tercekat. Bisa kurasakan hembusan nafasnya yang terasa sangat dekat saat dia mulai mendekat dan memelukku dari belakang. Dengan menopangkan dagunya dibahuku, kurasa dia mulai terisak sedih.
“Aku merindukanmu. Luka ini tak sebegitu parah dibanding luka yang kau tinggalkan saat dirimu pergi bersamanya,” iska Edison, bahuku terasa dingin oleh airmata tertahan milik Edison.
“Ini yang terbaik.”
“Tidak.”
“Aku tidak ingin kau terluka kembali.”
“It’s Okay. Aku masih bisa menerima hantaman Sehun, as long as you are right here. Beside me.”
“Tidak Edison. Kau tidak bisa menganggap enteng Sehun.” Pintaku, dengan hati yang mulai goyah dengan godaan yang Edison lakukan. Dia mulai menciumi leher jenjangku yang tersibak jelas karena rambutku yang sengaja tergelung.
Edison membalikkan badanku pelan, ditatapnya mataku yang juga ternyata mengeluarkan airmata. Karena masih bisa kuingat betapa hangatnya cinta yang dia suguhkan, tanpa sebuah tuntutan yang mengekang kebebasanku. Bibirku dan bibirnya mulai mendekat, dia mengecupku perlahan dan seakan ingin menautkan bibirnya padaku dikecupan kedua. Tiba-tiba saja aku mendengar suara yang tidak asing lagi, suara yang serak dan dipenuhi rasa amarah. Sehun terlihat menggeram.
“Apa yang sedang kalian lakukan? Hah?!” pekiknya.
.
.
.
To be continue
p.s: Maaf ya kalau kalian menunggu lama. Mohon RCL ya.

34 thoughts on “Roxanne Chapter 3

  1. Oalaaahhh . Sbnernya sehun kasian jugaa gaa d akui sama ayah kandungnya , tp dia tralu protective sama yoona . Omoonaa .. Yoona mulai goyah sama tao udh gitu sehun mergokin mreka lagi kiseeuu bisa2 perang dunia k3 nih . :p

  2. aaa makin keren thor😀 suka liat sehun cemburu, tpi aku pengen nanti nya yoona ama sehun ya thor🙂
    oya maap thor, kenapa harus ada member red pelpet? jujur aku gak suka ama mereka, jdi agak gimana gitu ada di ff ini :3
    tp tetep aku suka ff ini, next chapp ditunggu ya^^

  3. kerenn.. yoona eonni sm edison oppa sling ska ternyata tp karna ada sehun oppa yoona eonni ga berani dket sm edison oppa tkut sehun oppa celakai edison oppa lg.. dtggu ya chap slnjutnya🙂

  4. kerenn.. yoona eonni sm edison oppasling ska ternyata tp karna ada sehun oppa yoona eonni ga berani dket sm edison oppa tkut sehun oppa celakai edison oppa lg.. dtggu ya chap slnjutnya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s