雨女 (Ameonna)

large

title : 雨女 (Ameonna) | author : FN | main cast : Yoona and Luhan | genre : sad, happy, hurt and others

poster : weheartit

desclaimer : terinspirasi dari manga  dan ada perubahan

note : mian jika ada typo, alur gaje dsb🙂

—-

I saw her perfection in a rainy days

—-

Author pov

“pagi Luhan!!”

“pagi Xiumin!”

“pagi Lu!”

“pagi Chen!”

“hey rusa!”

“dasar panda!”

“pagi, Lu oppa”

“pagi”

“hey! Luhan-ah!!”

“hey, Sehun” balas lelaki bernama Luhan itu menyapa teman-temannya

“sialan! Di pagi hari seperti ini harus hujan! Lihatlah jaketku basah dan celanaku juga hampir basah. Menyebalkan!” runtuk Sehun

“well, tadi hujan memang datang tiba-tiba” jawab Luhan santai

“kenapa kau terlihat tak basah sedikitpun?” tanya Sehun menatap Luhan yang terlihat kering dari ujung kepala sampai ujung kaki

“aku selalu membawa payung ditasku, jadi tak masalah jika tiba-tiba hujan seperti ini. Tak kering semua, sepatuku di loker cukup kotor karena genangan air.” jawab Luhan

Luhan masih bersandar di dinding sekolahnya menunggu Sehun yang tengah sibuk dengan seragamnya hingga manik matanya menatap seorang wanita yang tengah melipat payungnya dan meletakkannya ditempat payung. Dia pendiam, sangat pendiam daripada yang lain dan matanya selalu terlihat kesepian. Im Yoona, dia teman sekelas Luhan dan Sehun, tempat duduknya selalu di pojok nomer 2 dari belakang tepat sebelah jendela. Dia tak begitu berbaur dengan orang lain bahkan Luhan yakin bahwa seorang Im Yoona tak tahu tentang siapa namanya

Tak ada yang istimewa dari gadis itu. Cantik? Ya, memang cantik sebenarnya. Pintar? Tak terlalu. Bahkan banyak gadis yang jauh ‘lebih’ dari Yoona.

‘Im Yoona’ batin Luhan menatap Yoona sambil tersenyum kecil

“kajja! Kita kekelas!” tarik Sehun yang terpaksa membuyarkan pandangan Luhan.

Ketika dia berjalan dengan Sehun, temannya yang lain ikut bergabung dengan mereka hingga Luhan memperkecil langkahnya dan memutar tubuhnya hingga dia menemukan sosok Yoona tengah berjalan kearahnya, bukan berjalan kearahnya tetapi berjalan tak jauh darinya karena mereka memang sekelas. Dengan sedikit senyuman kecil Luhan langsung berbalik dan berlari ke arah teman-temannya sambil bersenda gurau. Entah kenapa, setiap dia menatap wajah diam itu, hatinya terasa begitu tenang.

Luhan atau biasa disebut Xiao Lu Ge, dia bukan seorang penguntit ataupun stalker dari Im Yoona, dia hanya sebatas mengamati semua perilaku Yoona. entah itu saat makan siang ataupun sedang olah raga atau saat Yoona berdiam diri didalam kelas tak melakukan apapun. Apapun yang dilakukan gadis itu sangat menarik perhatiannya. Ketika Yoona memperhatikan ke arah guru yang sedang mengajar, ketika Yoona menulis catatan, ketika Yoona melakukan tugas piket, ketika Yoona membantu guru untuk membawakan buku tugas seluruh teman sekelasnya

Pernah sekali, Luhan ditegur oleh Park sonsaengnim karena dia terlalu tenggelam memperhatikan semua pergerakan yang Yoona lakukan, alhasil dia dihukum keluar kelas hingga pelajaran Park sonsaengnim berakhir.

.

.

.

“Im Yoona, tolong ambilkan bola itu” perintah Kim sonsaengnim

Ya. Saat ini adalah jam pelajaran olah raga dan Kim sonsaengnim sedang mengambil nilai untuk permainan bola voli putri sedangkan untuk para namja mereka bebas karena mereka sudah menyelesaikannya minggu yang lalu

Luhan yang mendengar perintah dari Kim sonsaengnim itu langsung menghentikan dribble-an bolanya dan melemparkannya pada Sehun yang terlihat bebas, dia langsung menatap Yoona tanpa berkedip sedikitpun

“Luhan! Awass!!!”

Duukk

“aahh” rintih Luhan pelan memegang sebelah kepalanya dan tubuhnya terpaku pada sosok Yoona yang berjalan mendekat melewatinya untuk mengambil bola yang tak jauh dari Luhan

DEG

DEG

Wajahnya terasa memanas, detak jantungnya berdegup kencang, Luhan langsung menutup wajahnya dengan punggung tangannya, hingga Yoona kembali melewatinya dia masih tetap menutup wajahnya. ‘kenapa aku merasa sangat tegang ketika aku berada dekat dengannya?’

“hey, Lu, gwenchana?” tanya Chanyeol menghampiri Luhan yang masih berdiri ditempatnya

“mwo? eh? Yee, gwenchana” jawab Luhan berlari ketengah lapangan lagi dan memainkan bola basket yang tengah terhenti karena fokusnya terganggu.

Luhan pov

Aku tak tahu apa yang sedang terjadi denganku, semuanya terasa begitu nyata, ketika aku menatap matanya, ketika mata kami tak sengaja bertemu dan keteganganku ketika dia berada dekat denganku. Aku benar-benar tak fokus saat ini, aku memang tak pernah sekalipun dekat dengannya bahkan berbicara pun tak pernah tapi entah kenapa sisi diamnya itu benar-benar menarik perhatianku sejak pertama kali aku menjadi siswa di SMU ini—ehm…

Tapi dia tak pernah menatapku seperti aku menatapnya. Ironi

Duuk

“aahh” rintihku lagi

Dua kali aku terkena bola basket hingga aku menjatuhkan diriku sendiri ke lapangan

“Luhan, apa yang terjadi denganmu?” tanya Sehun dan teman-teman yang lain menghampiriku

“tak biasanya kau begini?”

“gwenchana, aku istirahat sebentar, kalian lanjutkan saja” jawabku berlari ke pinggir lapangan

Bodoh, konsentrasiku buyar dan mataku kembali menatap ke arah Yoona yang sedang melakukan servis untuk pengambilan nilai permainan bola voli yang sedang dilakukan oleh Kim sonsaengnim

“yes!” sorakku, hanya dengan sekali percobaan dia langsung berhasil melakukannya, dia langsung mendapatkan 5 point dalam setiap pukulannya. Beberapa teman disana bersorak senang dan tersenyum kearahnya tapi dia hanya terdiam menunduk hingga sorot matanya bertemu denganku

‘omona!’.

.

.

.

“masih tetap hujankah?” tanya Sehun memasang sepatunya

“tak deras seperti tadi pagi tapi mungkin sebentar lagi akan deras, aku pikir awannya masih terlihat mendung” jawabku

“huh, aku jadi teringat tentang mitologi Jepang. Apa Youkai sedang berkeliaran disini?”

“kau pikir ada yang seperti itu? kau terlalu banyak membaca komik” tegurku geleng-geleng

“tsk, yasudah, aku duluan, ne?!” seru Sehun, “ah! Besok tolong bawakan aku komik Jekyll and Hyde-mu!” seru Sehun lagi berlari pergi dengan menutup kepalanya dengan tasnya

Aku mengangkat jempolku sebagai tanda setuju. Aku mengambil sepatuku dan memakainya. Aku mengambil payung lipatku dan memasukkannya kedalam tasku karena menurutku tak begitu deras diluar

DEG!

Ketika aku tak sengaja menatap teras depan sekolah aku melihat sosoknya tengah berdiri diam sambil memegangi payungnya, dia terlihat seperti belum ingin beranjak dari tempatnya berdiri. Dengan ragu aku menghampirinya pelan

“annyeong, Yoona-ssi” sapaku pelan, hanya sebuah anggukan kecil sebagai jawaban, itu sudah membuatku cukup tenang

“ehmm—ehmm—Yoona-ssi—sepertinya sebentar lagi akan hujan deras, lebih baik kau segera pulang” kataku memberinya saran

Sungguh ini benar-benar terasa aneh!

“ne?”

Tanpa menjawab perkatannya aku langsung berlari pergi dan merutuki diriku sendiri kenapa dengan bodohnya aku mengatakan hal seperti itu?! kenapa aku tidak bisa mengatakan hal yang jauh lebih meyenangkan daripada kata-kata yang aku ucapkan tadi?

Dan yang paling aneh—kenapa aku harus berlari seperti ini?

Aku menatap awan yang berada diatasku, masih mendung tapi hanya rintik-rintik yang turun dan membasahi puncak kepalaku saat ini

Jujur, jika sekarang kau bisa menyentuh apa yang terjadi dengan jantungku, kau pasti akan tahu apa yang aku rasakan sekarang

Ah… Im Yoona.

.

.

.

Keesokan harinya aku kembali melakukan aktivitasku seperti biasa, sebenarnya aku malas membawa payung saat pergi sekolah tapi eommaku selalu meneriakiku untuk membawa payung lipat itu dan tepat ketika aku melangkahkan kakiku keluar, awan terlihat cerah jadi aku pikir tak akan hujan nanti ketika pulang sekolah

Youkai? Jinjayo? Kenapa aku kepikiran kata-kata bocah tengil itu?

‘cuaca hari ini cerah’ batinku, aku beranjak pergi ke halte bus yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumahku dan menunggu bus yang biasa aku tumpangi untuk pergi kesekolah.

Aku cukup pagi untuk sampai disekolah, aku tak bertemu Sehun ataupun Xiumin ataupun Chanyeol hari ini. aku bergegas untuk bisa kekelas karena alasan lain hari ini aku sedang piket. jika aku tak piket, ketua kelas bak tiang listrik berjalan itu pasti akan memotong uang sakuku karena itu memang sudah menjadi perjanjian dikelas

“Luhan-ssi”

Gerakanku terhenti tatkala sebuah suara pelan memanggilku, aku memalingkan kepalaku dan menatap seorang yang tengah memanggilku tadi

“soal pelatih basket, kau yang melakukannya bukan?” tanya Yoona

“ah—ne, aku diberitahu kemarin” jawabku canggung

Argh!! Awkward!!!

“dan—soal kemarin—ehm—aku dijuluki Ameonna. Jadi, aku selalu membawa payung kemana-mana—kau tak perlu khawatir akan hal itu—tapi gamsahamnida untuk kebaikanmu mengingatkanku tentang hal itu kemarin”

Mwo? jinja? Dia mengetahui namaku? Dan dia berteterima kasih padaku soal apa yang aku katakan kemarin. Tak bisa dipercaya bukan? bahkan kemarin aku menganggap kata-kataku adalah sebuah kata-kata yang bodoh tapi tidak—Yoona menyikapinya dengan baik. Benar-benar diluar dugaanku

‘aku seorang Ameonna’

Ayolah, sekarang pikirkanlah tentang sesuatu yang dia ucapkan tadi. ‘ameonna’?. Aku tahu definisi arti kata itu, ameonna sama seperti Youkai yang dikatakan Sehun kemarin tapi dia bukanlah seorang hantu atau arwah seperti yang tertulis di internet tapi menurutku dia seperti seorang peri, peri hujan

Rambut hitamnya yang lurus dan berkilau

Kulit putihnya yang halus bak porselen

Setiap tutur kata yang keluar dari bibir tipisnya

Dia benar-benar…dia benar-benar

Menawan.

‘Ameonna’

‘seorang wanita yang selalu diikuti hujan kemanapun dia berada’

‘gadis hujan’

‘Peri Hujan’

“Lu, apa yang sedang kau lakukan?”

Sontak aku langsung tersadar dari lamunanku dan menatap Sehun yang tengah berdiri sambil memasang wajah bloonnya

Kemana Yoona?

Kepalaku berputar mencarinya tapi dia sudah tak berada didepanku lagi seperti tadi. Bodoh. Aku terlalu larut dalam pikiranku sendiri hingga aku tak menyadari bahwa dia telah berlalu dari hadapanku dan sekarang menampilkan bocah tengil ini

Pltaak!

“ya! Aku bertanya, kenapa kau malah menatap linglung kearahku?” tanya Sehun yang membuatku sebal

“dasar! Tak perlu memukulku, bodoh!” runtukku berjalan pergi meninggalkannya

Sesampainya dikelas, aku melihatnya sudah duduk rapi dibangkunya dan matanya menatap ke arah luar jendela

Hm? Ameonna? Benarkah? Bukankah julukan itu cukup jahat? Bahkan menurutku kau jauh lebih indah daripada seorang peri sekalipun

“apa yang sedang kau lihat?”

Sontak aku langsung mengalihkan pandanganku ketika mendengar suara Chanyeol menegurku, aku sangat gugup jika Chanyeol tahu apa yang sedang aku perhatikan sejak tadi. Aku mendundukkan kepalaku, aku sedikit—malu

“hey! Lu! Kau sudah piket belum?!” tanya Chanyeol, aku mengangkat wajahku dan mendengus menatapnya malas

“belum, aku akan piket sepulang sekolah nanti” jawabku berusaha menghilangkan rasa maluku

“ya! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu!? seharusnya kau melakukannya kemarin sebelum pulang sekolah atau tadi pagi tapi kenapa kau malah akan melakukannya nanti sepulang sekolah. Dasar kau ini”

“tenanglah, Yeol, aku tak akan lari dari piketku. Sungguh” jawabku malas

Aku yakin seisi kelas saat ini tengah memperhatikan kami, tapi aku tak peduli dan ketika aku menoleh kembali pada wanita dipojok kelas itu. pandangannya tak beralih untuk melihat keributan dikelas melainkan tetap seperti tatapannya tadi

Apa yang membuatmu begitu tertarik dengan pemandangan luar jendela itu?.

.

.

.

‘From : eomma

Lu, pulang sekolah belilah 2 potong roti cokelat di Takgu’s Bakery. Adikmu membutuhkannya’

Tsk, selalu seperti ini. aku tak menjawab pesan itu dan langsung memasukkannya kedalam saku celanaku dan bergegas pergi ke Takgu’s Bakery, sama seperti apa yang diperintahkan oleh eommaku tadi.

-0-

“gamsahamnida, telah berkunjung ke toko kami”

Aku menatap sekantung roti yang aku beli tadi

Dresss

Selalu disaat yang tidak tepat, ketika aku akan pulang sekolah. Padahal cuaca tadi pagi benar-benar cerah dan sekarang? Bagaimana bisa tiba-tiba hujan deras seperti ini? tsk, menyebalkan

Aku berdiri didepan toko roti itu sambil menendang pelan ujung sepatuku. Aku tidak ingin pulang sekarang. Entahlah, aku masih ingin berada disini, meskipun aku tahu aku memiliki payung lipat didalam tasku. Aku enggan mengeluarkannya

Hmm? Hujan?

Apa ameonna sedang berada disekitar sini?

Lucu

Dreep

‘bukankah dia—guru muda yang baru pindah disekolahku?’ batinku menatap seorang lelaki yang tengah berdiri tak jauh dariku, sepertinya sama sepertiku, mencari tempat untuk berteduh

Drap…drap…drap…

“hey!”

Aku menatap ke arah seseorang dengan payung yang menutupi wajahnya. Bukan. maksudku, aku menatap payung yang digunakannya, aku seperti mengenali payung itu. payung yang tak begitu asing dari ingatanku. Itu seperti payung—

DEG

Yoona?

Dia memberikan payung itu pada lelaki tadi, pandangan kami saling bertemu tapi—dia menatapku tanpa ekspresi

“kau sudah datang?” tanya sonsaengnim itu tersenyum menampilkan lesung pipinya sedangkan Yoona hanya mengangguk pelan

Oh—aku tahu tentang satu hal

Lelaki itu sedang menunggunya dan mereka—apa hubungan mereka?

Kenapa ini terasa begitu menyakitkan untukku?.

.

.

.

Pagi harinya aku bangun seperti biasa, melakukan kegiatanku seperti biasa. Kejadian kemarin masih teringat jelas di otakku. Pertanyaan itu terus saja muncul, bahkan aku yakin aku tak cukup nyenyak tidur semalam. Setahuku, Yoona tak pernah dekat dengan siapapun apalagi seorang namja, yeoja saja dia terlihat sedikit menjauh dan Siwon sonsaengnim? Jinjayo? Bahkan sonsaengnim itu adalah guru baru yang baru saja mengajar pelajaran sejarah Korea sekitar 2 bulan yang lalu

Siapa Choi sonsaengnim itu?

Apa hubungannya dengan Yoona?

Apa dia kekasih Yoona?

Tapi dia seorang guru! Apa boleh mereka berhubungan sebagai sepasang kekasih?!

“arggh!!!”

“apa yang terjadi? Kau terlihat sangat kusut?” tanya Xiumin menepuk bahuku, aku menggeleng lemas dan tepat saat itu Yoona berjalan melewatiku dengan kepala tertunduk. Aku terdiam di posisiku, aku benar-benar merasa ingin mengejarnya dan menanyakan apa hubungannya dengan lelaki kemarin—tunggu—tapi apa hubunganku dengannya?

Ehm—

Kami tak memiliki hubungan sedikitpun

Ya

Itu yang sebenarnya

Jadi aku tak memiliki sebuah alasan untuk bertanya hal seperti itu padanya dan aku juga tak berhak menanyakannya. Jika aku melakukannya, yang ada hanya akan menimbulkan keadaan yang sangat tidak diinginkan

“hey, Lu! 5 menit lagi bel akan berbunyi, aku kekelas dulu” pamit Xiumin berjalan mendahuluiku

Kenapa terasa sangat berat untukku?

Aduh… sesak sekali.

Author pov

Luhan menjadi sangat diam dikelas. Dari tadi pagi hingga pulang sekolah, wajahnya terlihat lesu dan bertambah lesu ketika dia tahu bahwa hujan kembali turun. Entah kenapa hujan mengingatkannya pada gadis itu, gadis dengan sebutan Ameonna. Gadis hujan. Bukan, Yoona lebih tepat disebut sebgai Peri Hujan. Kenapa Ameonna? Karena sejak kecil Yoona memang sudah diberi julukan seperti itu oleh kedua orang tuanya

Alasan lain?

Karena setiap kali Yoona pergi keluar entah itu bersekolah ataupun saat pergi bermain bersama teman-temannya pasti setelah pulang tubuh Yoona akan kebasahan karena hujan, hingga akhirnya ibunya menyebutnya ‘Ameonna’ atau Gadis Hujan. Kedua orang tua Yoona dulu tinggal di Jepang, maka dari itu mereka masih percaya tentang hal seperti itu.

“hey!”

Luhan menoleh mendengar suara itu dan matanya membulat sempurna ketika dia tahu bahwa yang menyapanya tadi adalah lelaki yang bersama Yoona kemarin dari toko roti

“cepat pulang, sebelum hujan bertambah deras. Lihatlah awannya semakin menghitam”

Bukan menjawab Luhan justri terdiam sambil menatap lelaki itu tajam

“waeyo? Apakah ada yang salah?” tanya lelaki itu tersenyum kikuk sambil menggosok tengkuknya merasa aneh dengan tatapan salah satu muridnya

Luhan menggeleng kaku dan menolehkan pandangannya pada rintik hujan yang mulai turun

“Yuri-ya, mianhe, membuatmu repot datang jauh kemari. Dan kau, nak! Sampai jumpa besok senin”

“mwo? ne? Eh—yee” jawab Luhan kaku

Mata Luhan kembali menatap kearah wanita yang baru datang dengan menggunakan payung didepannya. Ketika payung itu berputar, disana ada seorang wanita yang sangat mirip dengan seseorang yang dia kenal, dengan rambut dikuncir kuda, dengan mata yang sama dia—seseorang yang membuatnya tak berhenti untuk menatapnya

“dia eonniku” sahut sebuah suara ketika Choi sonsaengnim dan wanita itu sudah pergi

DEG

“dan dia istri Choi sonsaengnim”

DEG

“jadi, kau salah tentang dugaanmu akan hubungan kami berdua”

DEG

“dia lelaki yang baik”

DEG

“dan—dia bukan seorang cassanova”

DEG

Luhan terdiam masih terus menatap kearah Yoona yang berdiri disampingnya sembari menatap langit yang benar-benar sudah mendung. Tapi ada yang berbeda, ada sesuatu yang kurang dari barang yang dia selalu bawa saat sekolah. Tepat ketika Luhan beralih lagi, hujan turun dengan sangat deras

“kau—kau tak membawa payung?” tanya Luhan pelan

“aniyo” jawabnya pelan

“waeyo?” tanya Luhan penasaran

“karena aku tahu, eonni pulang dan dia pasti akan datang untuk menjemputnya”

apa maksudnya?

“hari ini, aku tak mempunyai alasan lain untuk bisa pulang bersamanya”

mwo?

“dan dia pasti akan lebih memilih bersama eonni daripada bersamaku”

Eh?

“tentu saja, dia akan lebih memilih bersama istrinya”

Apa dia…

Dress…dress…dress

Hujan turun bertambah deras hari itu, sekolah sudah mulai menunjukkan tanda-tanda sepi tak ada siswa yang tertinggal kecuali mereka berdua yang masih terdiam didepan sekolah dalam diam

Ohh… Luhan tahu tentang satu hal, satu hal yang disembunyikan oleh gadis disampingnya ini, gadis yang selalu membawa payung setiap harinya.

Hujan benar-benar sangat deras, seperti dibuat oleh seorang peri Hujan yang berdiri disamping Luhan yang memang sengaja mendatangkan hujan ini, dengan sebuah khayalan tentang perasaannya dan keteguhan hatinya dibalik payungnya. Dia menyembunyikan cinta dan perasaannya dibalik sebuah payung yang dijadikannya sebuah alasan untuk bersama orang yang dia cintai

“jika kau tak keberatan” kata Luhan memulai percakapan, “maukah kau berbagi payung denganku dan pulang bersamaku?”

Sama seperti Choi sonsaengnim mengabaikan perasaan yang Yoona miliki

Sama seperti Choi sonsaengim yang tak menyadari tentang perasaan yang Yoona miliki

Sama seperti Choi sonsaengnim yang tanpa bersalah membuat perasaan Yoona tak karuan

Sama seperti yang Yoona rasakan ketika dia tak menyadari tentang perasaan Luhan yang mulai tumbuh untuknya

Dia tak pernah tahu

Karena

Saat ini masih masih tetap hujan

Dan perasaanku

Akan tetap tersembunyi dibalik payung ini

Sama sepertinya.

 

THE END

ameonna : 雨女 atau Ame Onna atau Wanita Hujan dalam bahasa Indonesia adalah 妖怪 (Youkai) wanita yang digambarkan berdiri di tengah hujan, menjilati dirinya sendiri dan bisa memanggil hujan. Dikatakan bahwa asal muasal dari Ame Onna sendiri adalah dari daratan Cina dimana ia adalah seorang biksuni yang dihormati. Namun saat cerita itu dibawa ke Jepang, ia berubah menjadi Youkai. Ameonna untuk sekarang bisa disebut sebagai gadis yang diikuti hujan kemanapun mereka berada.

—-

annyeong chinguu!!!

pendek ya?😀

ff ini author buat waktu author denger berita Luhan out dari EXO tapi baru author post sekarang. ngerti sama maksud dari ceritanya kan? hehe

yaudah segitu dulu aja chingu… tinggalin jejak jangan lupa yaa🙂

annyeong dan ganbattee!!!!

😀

27 thoughts on “雨女 (Ameonna)

  1. eonni, sedih bangett T.T huhuhu
    sequel eonn, sequel, kasian Lu ge😥 tapi daebak thor ff nya, pokoknya keren deh sampe speechless. semangat eonni buat ff2 selanjutnya, ditunggu deh karya2 nya😉

  2. Hemm.. Daebbak!! Kasian dua” x cinta x bertepuk sebelah tangan.. Ngomong” jijik juga ya klo ameonna jilat dirinya sendiri -_- untung aja di sini yoona gak sampek jilat” gituu.. Ngomong” update ff x lama banget thorr Σ(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ƪ 3 hari diri q menunggu dan akhir x yoongexo ngepost ff!!!! Σ(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ƪ

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s