Okay? [3]

poster okay 3

Presented By Cicil

Yoona with EXO

Genre: Romance, angst, hurt

Rated: SU

Length: Chapter

Disclaimer: I dont own the cast, but the story is actually mine.

 

 

{Yoona agak terharu mendapati eratnya pertemanan di antara mereka, meski masing-masing tidak tahu orangtua kandung mereka siapa, dan kenapa mereka dipertemukan di rumah ini, mereka bahkan telah menjadi lebih dari yang seharusnya saudara lakukan.}

 

 

 

Im Yoona terbangun pada pagi buta dengan hati berbunga layaknya saat musim semi. Senyum kunjung merekah di bibirnya, tak ayal tawa kecil terumbar setelahnya—mengingat kejadian kemarin malam. Rasanya, malam awal bulan Oktober tidak pernah semanis ini, tidak pernah sedewasa ini dan tidak pernah semandiri ini.

Wajahnya tampak cerah meski mentari belum sedia bertandang. Pun irisnya makin mengkilat petanda semangat begitu menggelora dalam dadanya.

Yoona sebenarnya enggan untuk membiasakan diri menjadi wanita keibuan, dia masih ingin minta dibelikan sesuatu oleh ibu atau mengajak ayah pergi berolahraga bersama. Dia masih mencintai profesinya sebagai anak remaja. Tapi, tinggal di rumah panti asuhan bibi Hong selama sehari penuh saja sudah membuatnya kalang kabut, dia harus bisa memasak dalam jumlah banyak dan mengajari anak-anak seperti guru di sekolah.

Walaupun Chanyeol membantu sedikit sih.

Kemarin mereka pulang jam satu dini hari, sehabis melepas penat dan membuang sejenak beban dipunggungnya. Mengobrol panjang dengan sang kekasih merupakan pilihan terbaik, apalagi ditemani ombak pantai yang malam itu tampak menggebu-gebu. Berbagi kasih bersama terasa seperti dipeluk boneka beruang besar yang ada di kamarnya—hangat dan nyaman.

Ia masih penasaran dengan ‘sesuatu’ dari Chanyeol. Pikirannya tanpa dapat dikontrol telah melayang tinggi ke awan-awan fajar. Matanya menutup, membayangkan apa saja yang mungkin untuk diberikan Chanyeol padanya. Yoona bergumul dalam setiap rasa ingin tahu pagi itu.

Namun dirinya punya satu masalah pagi ini. Dan baru menyadarinya sepuluh menit setelah dia berangan-angan tinggi di atas tempat tidur..! ugh, gadis itu langsung bangun dan berlari ke kamar mandi. Tanpa perlu melihat jam dinding, Yoona tahu matahari mulai mengembol dari ufuk sana, langit tampak memutih tanpa diduga dan dia bisa menyembabkan seluruh anak telat pergi ke sekolah kalau tidak segera bergegeas.

 

Good morning, honey.” Chanyeol memeluk pinggang kekasihnya, menyandarkan dagu pada pundaknya, erat namun nyaman seperti anak koala memeluk ibundanya. Kemudian lelaki itu menghirup aroma jasmine dari parfum Yoona yang membuat pikirannya tenang.  Pagi yang sempurna.

Satu yang Chanyeol tidaksadari bahwa Yoona sedang tergesa-gesa membalik telur dadar di penggorengan.

Morning too,” Yoona melepas pelukan tangan Chanyeol lembut, seraya poni tanggungnya keluar dari kunciran. “Ugh, pagi yang menyibukan.” Gerutunya sambil memperbaiki ikatan rambut dan berlari ke lemari es untuk mengambil beberapa telur lagi.

Dan Chanyeol berdiri di sana. Dengan pelukan yang telah terlepas. Dia bergeming seraya pinggulnya menyandar pada meja makan. Mulutnya agak menganga, matanya mengekor sosok Im Yoona yang mondar-mandir mirip setrika.

Ia ingin membantu sebenarnya, tapi Chanyeol paling benci soal dapur bahkan memecahkan sebutir telur saja dia kerepotan.

“Dobi, aku lupa berapa jumlah anak-anak di sini. Tolong sebutkan padaku.” Yoona bergumam sembari menaruh mentega tambahan di penggorengan. Gerakannya bisa dibilang cukup gesit karena dikejar waktu,  “Oh, ada sepuluh. Termasuk Baek—“

“Thanks,” hawa udara dapur makin panas pagi itu, meski cuaca di luar tampak sejuk. Yoona melepaskan celemeknya ketika sembilan piring kecil bertengger apik di meja makan. Dia menaruh celemek tersebut di meja samping tempat cuci piring, kemudian melangkah mendekati Chanyeol dan berhenti ketika mereka telah berhadapan dalam jarak setengah meter. Tarikan nafasnya kedengaran lelah, namun tetap ia paksakan sebesit senyum menawan pada Chanyeol.

“Yoo—“

Tanpa menunggu Yoona memeluknya, menyandarkan kepalanya pada bidang dada Chanyeol. Seraya berujar, “Oh ya ampun, akhirnya selesai juga.”

Chanyeol menempelkan kedua tangannya di punggung Yoona, bermaksud membalas sambil menepuk-nepuk pelan. “Kenapa sih terburu-buru begitu? Jam masih terlalu pagi untuk pergi ke sekolah, Yoong.”

“Satu jam lagi, oke. Kau bilang itu terlalu pagi? Kita—“

“Ooh oke oke, ayo bangunkan anak-anak. Aku ke kamar sebelah kiri dan kau yang kanan.”

Mereka lepas berpelukan. Chanyeol telah melesat menelusuri lorong pendek menuju kamar anak-anak. Meninggalkan Yoona dengan decakan tawa. Laki-laki itu memang tidak ingin cari perdebatan kalau hari baru dimulai. Katanya, itu bisa merusak sesuatu yang seharusnya indah, seperti mengubah seluruh jam pada harimu saat itu menjadi mendung dan kusam.

Beberapa detik mencibir kekasihnya, Yoona ikut melangkah kaki untuk membantu Chanyeol membangunkan anak-anak. Bukankah, orang-orang bilang anak kecil itu paling susah dibangunkan untuk sekolah?

 

 

“Astaga Im Yoona apa saja yang sedari tadi kau lakukan, hmm?” Chanyeol berkacak pinggang di sana, menempelkan sisi kanannya pada kusen pintu. Wajahnya tampak kesal.

Kamar sebelah kiri berisi Junmyoon, Jongin, Kyungsoo, dan Sehun. Kamar sebelah kanan berisi sisanya. Chanyeol sudah membuat seluruh anak di kamar kiri menggerutu dalam langkah pergi ke kamar mandi tapi Im Yoona masih berkecimpung mati gaya melihat anak-anak lucu di kamar kanan tertidur pulas.

Kenyataannya, Im Yoona belum membangunkan satu anak pun dari kamar itu.

“Dobi, kenapa mereka harus bangun sepagi ini untuk sekolah? Aku rasanya tidak ingin membangunkan.” Yoona menepuk-nepuk kaki Yixing dan memanggil namanya—salah satu bentuk cara membangunkan anak-anak yang paling tidak ampuh menurut Park Chanyeol.

Lantas  rasa gemas muncul pada Chanyeol, ugh kalian tidak tahu kan bagaimana cara Chanyeol membangunkan empat anak tadi? Ke-jam-se-ka-li. (untuk ukuran anak kecil tentunya.)

Mau tidak mau, sebenarnya harus. Chanyeol melangkah masuk ke dalam kamar dan menarik kaki Chen-chen, buat anak itu mengeliat kasar dan hampir menangis. “Hyung!” Chen-chen merasa tidak adil karena dia yang pertama sadar dari mimpi, tangan kecilnya sudah terkepal seperti ingin memukul wajah Chanyeol.

Tapi tarikan Chanyeol memang benar-benar penuh tenaga tadi dan dalam hati kecil Chen-chen takut badan juga wajahnya menyentuh lantai keramik yang dingin. Makanya dia langsung membuka mata kaget, tanpa angan-angan untuk kembali pada mimpi.

Chen-chen sudah merajut langkah keluar dari kamar, setelah diancam tidak dapat sarapan kalau dia terus memaksa untuk tidur kembali. Dan tangan ‘menyeramkan’ Chanyeol siap menarik kaki Minnie.

Satu persatu dari mereka mulai bersungut-sungut dan beranjak menghilang di balik pintu. Im Yoona cuma bisa memandangi tindakan Chanyeol dengan sorot melongo.

Apa sebenarnya Chanyeol berpengalaman dalam membangunkan anak kecil, ya? kok dia lihai sekali.

Tersisa Yixing dan Luhan di sana, sedang memeluk guling dan yang satunya lagi mengumpat di balik selimut. Chanyeol secara impulsif mengulurkan tangannya, yang kali ini bertujuan menjangkau kaki Yixing.

Namun ketika Chanyeol menariknya sampai di ujung ranjang, Yixing tidak juga mengeliat. Bahkan sampai tubuhnya menempel pada lantai keramik, Yixing hanya mengeliat kecil karena suhu lantai pagi itu agak membeku, namun lantas tidak membuatnya bangun. Yixing kembali melanjutkan mimpinya yang agak ‘goyah’ tanpa berkata-kata atau mengumpat Chanyeol.

“Ya ampun anak ini,” Chanyeol menggaruk leher belakangnya, tidak habis pikir mengenai adanya sifat anak kecil yang ‘gila’ tidur, bahkan meski mereka harus tiduran di atas lantai dingin.

Im Yoona cekikikan melihatnya. Sementara Chanyeol beralih pada Luhan.

Chanyeol berhasil menarik kaki Luhan. Tapi di tengah perjalanan, sebelum pungguk anak itu jatuh ke keramik seperti Yixing. Tiba-tiba Luhan bangun dan dengan tenaga—entah dari mana—dia mendorong Chanyeol untuk kembali memeluk gulingnya. Yoona tertawa lebih keras dari cekikikan menyaksikan kekasihnya limbung hanya karena didorong anak kecil.

Chanyeol jatuh dan merebahkan dirinya di samping Luhan.

“Mereka gila tidur, ya.” laki-laki itu mulai malas menarik kaki-kaki mereka. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Namun Yoona selalu berpikir waktu adalah kesempatan, baginya waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan melamun. Seperti yang Chanyeol lakukang saat ini. Maka dari itu dia mengulurkan tangan dari posisinya berdiri di hadapan Chanyeol, supaya si laki-laki dapat meraihnya dan lekas kembali bangun untuk mengerjakan setumpuk aktifitas lainnya.

Hurry up, Dobi.”

“Kau sekarang pintar berbahasa Inggris ya,” Chanyeol merengkuh tangan mungil tersebut untuk menariknya. Dan dalam sedetik pekikan terkejut meluncur dari mulut Yoona.

“Aaaah!”

Yoona malah ikut terjatuh ke tempat tidur karena Chanyeol menariknya, bukan dia menarik Chanyeol.

“kkkkk~”

“Dobi kenapa kau menarik—“ suara Yoona mencekat tiba-tiba, tak ayal semenjak matanya bersiborok dengan iris kehitaman itu, iris yang lebar namun pekat, begitu candu dan yang telah membuatnya jatuh cinta.

Jantungnya segera berpacu dalam gugup luar biasa. Dia telah jatuh di sebelah Chanyeol dan laki-laki itu memeluknya dalam jarak setipis angin dan senyum seindah bunga. Yoona sudah ratusan kali merasakan jantungnya tidak karuan ketika bersama Chanyeol. Namun rasa itu masih saja seperti baru petama kali dan tidak bosan untuk membuat pipinya merah karena malu.

“Tetaplah seperti ini, aku mencintaimu Yoona.”

“…”

“Hei, kau tidak pingsan karena aku memelukmu terlalu erat ‘kan?”

“…”

“…”

“…”

“…” Chanyeol menutup matanya, berusaha menghirup udara segar yang tersaji.

“…”

“..—“

“Hyung kau sedang apa?”

“Oh!” keduanya langsung melepaskan pelukan dan duduk di ranjang. Sehun telah rapih dengan seragam, berdiri di ambang pintu dengan wajah polos. Anak itu cukup pas untuk diibaratkan seperti kertas putih bersih.

Yoona langsung berdiri dan pergi ke meja makan, anak-anak yang lain pasti tengah sarapan dan akan menimbulkan kekacauan kalau tidak ada dirinya. “H-hunnie, ayo kita sarapan.” Dia merangkul punggung anak tersebut dan membawanya meninggalkan kamar tidur sebelah kanan dengan sedikit senyum mati gaya sebelum hilang di belokan pintu.

Sebekas Yoona pergi, Chanyeol memegang dadanya sebentar. Ia melayangkan sedikit gerutu karena Sehun muncul tadi tapi—oh iya, membangunkan Yixing dan Luhan lebih penting dari membahas apa yang mereka lakukan tadi. Dia berpikir dirinya bodoh sekali karena terlalu mencintai Yoona>.<

 

 

Hari itu Chanyeol menghabiskan waktu bersama Yoona dan anak-anak panti. Mereka bermain tebak gambar, lomba lari, berenang di bibir pantai, membangun istana pasir walaupun tidak jadi. Hari itu hari kamis. Terasa lebih menyenangkan dari kemarin. Tawa tulus berkali-kali lolos dari bibir mereka, lelucon mewarnai tiap detiknya, dan masing-masing berlomba bergurau saat menunggu camilan sore di ruang teve.

Kebetulan Yoona membuat kue kering dari bahan-bahan yang ada. Untuk menemani mereka sambil mengerjakan PR.

“Jadi dua dikali sembilan itu hasilnya delapan belas.”

“Apa itu harus dihafal, hyung?”

“Tentu saja—kue keringnya datang!” semua mengerumuni piring yang baru saja Yoona taruh di meja.

Yoona melirik Chanyeol.

Chanyeol meliriknya balik,

“Apa kau menyisakan sebagian di dapur untuku?” Yoona memutar matanya sekilas, dia pikir Chanyeol mau bicara serius karena tatapan matanya agak menjurus ke sana tadi. Tapi ternyata laki-laki itu malah menanyakan tentang kue kering.

“Tidak, aku lupa.” Ujar Yoona, duduk di sebelah Chanyeol dengan melihat anak-anak berebutan kue. “Jongin jangan mendorong-dorong begitu. Zitao, kau mengambil banyak sekali! Ya ampun, Kyungsoo mulutmu belepotan.”

Chanyeol diam saja, mendengar segala celotehan Yoona yang duduk di sebelahnya sambil melipat kedua tangan di dada. “Makanya jangan jadikan satu piring,” usul Chanyeol yang sebenarnya sedikit terlambat. Mengingat mereka telah mengerumuni satu piring dengan aksi rebutan ekstrim.

Yoona melirik Chanyeol, menaikan sebelah alisnya seolah berkata ‘Kenapa kau baru bilang sekarang?’

“Oke, oke, jangan marah secepat itu, Yoong.” Chanyeol meringis tawa melihat Yoona yang terlihat garang seperti macam betina dari sudut pandanya saat ini. Seakan gadis itu akan menelan kepalanya karena membuatnya jengkel.

 

Namun Im Yoona mengetahui hal baru hari itu. Menambahkan satu hal penting dalam kamus hidupnya bahwa menjaga anak panti tidak seburuk mengejakan tugas ilmiahnya. Bahkan ia berharap bisa untuk terus begini; bangun pagi, menyiapkan sarapan, pergi berbelanja, mengajar anak-anak, dan bermain bersama.

Semua terasa ringan seperti angin senja.

Malam beranjak menggelap, mengisi seluruh kekosongan langit. Meski hari itu mereka disibukan dengan segala keperluan anak-anak. Yoona tidak pernah bisa berbohong, bahwa dalam lubuk hati kecilnya, ia masih menyimpan segenggam rasa penasaran.

Penasaran pada sesuatu yang Chanyeol ucapkan secara misterius malam kemarin.

Kini, dia sedang duduk di sofa dan menonton acara teve. Chanyeol sedang menidurkan Sehun. Sebenarnya ini tugas Yoona, namun hari itu Chanyeol bersikukuh ingin menidurkan anak-anak. Entahlah.

Beberapa menit membosankan di depan teve akhirnya terbayar saat laki-laki itu menjatuhkan dirinya di sebelah Yoona. Wajahnya kelihatan frustrasi, sedikit. Yoona bersyukur laki-laki itu datang dan menemaninya, sekarang baru pukul sembilan malam dan kantuk belum menyerangnya.

Yoona ingin sekali menanyakan tentang ‘sesuatu’ yang Chanyeol bilang kemarin. Tapi tubuhnya hanya diam dan menatap layar teve, sambil bersedekap. Karena nyatanya ego Im Yoona masih agak kesal karena Chanyeol yang memaksa menidurkan anak-anak, atau Chanyeol yang memaksa mengajari membuat PR sendiri sementara Yoona disuruh membuat camilan.

Gelagat lelaki itu agak aneh hari ini, sejauh mata Yoona memandang.

“Chanyeol”

“Yoong,”

Mereka hampir bersamaan mengucapkannya. Chanyeol terkekeh pelan karena kejadian itu. Namun sejemang kemudian tawanya menghilang, digantikan dengan kaki sebelah kanannya yang bergetar.

Yoona tahu, Chanyeol akan menggetarkan sebelah kakinya jika sedang gugup. Terakhir kali dia melihat Chanyeol melakukan ini adalah saat dia makan malam bersama keluarga Yoona. tapi kejadian itu sudah jauh berminggu-minggu yang lalu.

“Soal, kejutannya—“

Akhirnya, Tuhan.

Akhirnya Yoona melengos juga dalam hati, lantaran Chanyeol mulai membahas perkara satu itu. Yoona tidak ingin bertanya duluan, bukannya tidak berani, hanya saja egonya lebih mendominasi untuk bersikap dingin pada Chanyeol hari ini.

“Kejutannya ada di ruang tidur Baekhyun.”

“Kita bukan akan membangunkan Baekki dan membuat suara tangisnya memenuhi seluruh ruangan, kan?”

“Tentu saja…, tidak.” Yoona menangkap gelagat ragu ketika Chanyeol menjawabnya sepersekian detik yang lalu. Tanpa banyak diberi waktu untuk menganalisis dan berpikir, Chanyeol sudah menarik tangannya menuju ruangan tersebut. “Ayo,”

Yoona tahu, matanya akan dimanjakan dengan tembok-tembok bergambar pohon kartun, atau tokoh Winnie-the-Pooh sedang melindungi madunya dari si Tiger. Anak-anak tidak jarang bermain di kamar itu, karena yang menempati hanyalah Baekki seorang, mereka dengan seenak jidat mengakui bahwa ruangan itu adalah ruangan bermain mereka, meski jelas-jelas ada box bayi cukup besar di sana.

Yoona suka gambar-gambar tersebut, dia menyukai setiap tokoh yang tercetak dan menempel apik menghiasi seluruh dinding. Tadi siang mereka bermain di sini, sembilan anak cerewet itu berebutan perhatiannya. Mereka masing-masing berteriak keras tentang tokoh kartun kesukaan mereka yang ada di dalam ruangan itu. Walaupun Yoona tidak mendengar semuanya sih, karena mereka selalu saling mendahulukan dan berbicara di waktu yang sama.

Dia mulai gemar bermain di kamar itu, apalagi ada sebuah piano menempati sudut ruangan dekat balkon. Dan tidak dipungkiri, Chanyeol menuntun mereka berdua untuk duduk di sana, di depan piano yang masih tertutup.

“Kau mau memainkan sebuah lagu untuku?” kedengaran antusias, Yoona menatap Chanyeol dengan mata berbinar. Mereka hanya sekali, duakali, bertemu untuk bermain piano. Kadang hanya Yoona yang menjentikan jarinya diantara barisan tuts putih maupun hitam. Jarang sekali mereka membuat moment tentang piano dan duet.

Kendati tanpa diketahui Yoona. Chanyeol ingin berduet dengannya

malam ini.

Laki-laki itu hanya meliriknya sekilas tanpa jawaban ketika menemukan Yoona cukup tertarik dan bertanya padanya. Dia masih ingin Yoona bersabar sedikit lagi, karena dirinnya akan menunjukan satu lagi dan masih banyak lagi untuk kejutan.

Chanyeol membuka piano berwarna hitam itu, kemudian menarik partitur yang tersembunyi dibaliknya—partitur yang sudah dia bawa dari rumah sejak kedatangannya kemarin. Dia memberikannya pada Yoona, meluangkan sedikit waktu untuk Yoona melihat-lihat isinya.

Dua menit setelahnya, Yoona menatap Chanyeol dengan kerutan dahi. Bukan merasa aneh, bukan merasa Chanyeol tidak jelas lagi, tapi Yoona menyuguhkan alisnya yang menyatu bersamaan dengan senyum yang mengembang lebar di bibirnya.

Dia menatap Chanyeol tidak percaya sekaligus terkejut. “Ini duet,” Yoona berkata, diambang rasa senang dan terharu.

Dulu, sebulan setelah mereka jadian, Yoona sempat mengutarakan keinginannya untuk berduet lagu kesukaannya dengan Chanyeol. Tapi saat itu Chanyeol tidak bisa memenuhi karena tiba-tiba Taehyung—teman satu kampusnya—menelpon dan memberitahu sesuatu yang darurat. Dan mereka tidak pernah membahas hal itu lagi sampai sekarang.

“Park Chanyeol, kau serius dengan ini?”

Chanyeol mengangguk, sepersekian sebelum ia mengangkat kedua alisnya dan mulai pemanasan jari dengan memainkan lagu random.

Park Chanyeol telah dikenal sebagai pria multi-talented bidang alat musik.

Im Yoona merasa dirinya diciptakan untuk piano.

Satu kesatuan yang kebetulan dan tidak pernah mereka sadari. Benda itu, benda persegi yang mampu membunyikan nada-nada indah, adalah satu yang mengukir sejarah dalam kisah mereka. Karena dari piano-lah Yoona mengenal Chanyeol. Karena dari piano-lah, Chanyeol jatuh cinta pada Yoona.

Mereka mulai dari lembar pertama. Chanyeol membiarkan Yoona mencoba lagu tersebut beberapa putaran pertama. Kemudian mereka me-variasi-kannya dengan pindahan tangan, membagi jatah bermain yang pas, Yoona bahkan memberi usul untuk mereka bermain secara selang-seling dan masih banyak lagi warna yang diberikan.

Setelah satu jam berlatih, dengan sesekali menengok kearah Baekki, memastikannya masih terlelap dan tidak terganggu dengan kebisingan yang merekaciptakan. Chanyeol—entah ide dari mana—menaruh ponselnya di sudut sebelah barat, dengan kamera menghadap mereka berdua dan piano. Dia ingin mengabadikan moment satu ini.

“Satu dua tiga–“

“Noonaaaaaaa!!!!”

Chanyeol seketika terlonjak kaget dari tempat duduknya, beruntung dia tidak sampai jatuh. Suara itu tiba-tiba mengacaukan mereka yang akan bermain lagu secara utuh. Laki-laki itu beranjak dari kursi piano dan mematikan kamera ponselnya yang menyala, yang tadinya sudah siap untuk merekam duet keduanya.

Yoona telah berlari untuk melihat kejadian apa yang terjadi, dia panik sekali ketika mendengar teriakan itu. Tanpa meminta ijin atau memberitahu Chanyeol, langkahnya langsung melesat keluar dari pintu kamar.

Suara tangis kunjung menyusul tak berapa lama setelah teriakannya. Chanyeol sekali lagi menengok Baekki dan memastikannya tidak terbangun tapi ternyata bayi itu juga sama terkejutnya dan mulai merengek.

Chanyeol mau tidak mau mengangkat Baekki dan menggendongnya, menyanyikan lagu lullaby   yang direkomendasikan sebuah artikel—baru beberapa jam yang lalu, Yoona memberitahunya tentang lagu yang cocok untuk menidurkan bayi—sambil beranjak ke dapur untuk menyiapkan sebotol kecil susu hangat.

Pada lain sisi, Yoona lekas membuka kenop pintu kamar sebelah kanan dengan tergesa-gesa kemudian menemukan satu anak laki-laki menangis dari anatara kelimanya. Tanpa pikir panjang lagi, dinyalakannya lampu untuk dapat melihat keadaan lebih jelas lagi. Untuk melihat siapa pemilik suara yang memanggilnya keras-keras tadi.

Luhan.

Beruntung anak yang lain hanya mengeliat kecil dan kembali terlelap, hanya ada Yixing di sana yang duduk di samping Luhan sambil menepuk punggungnya. Si Yixing kecil dengan raut polos, bersedia meminjamkan telapak tangan kecilnya untuk menenangkan sahabatnya. (Yoona agak terharu mendapati eratnya pertemanan di antara mereka, meski masing-masing tidak tahu orangtua kandung mereka siapa, dan kenapa mereka dipertemukan di rumah ini, mereka bahkan telah menjadi lebih dari yang seharusnya saudara lakukan.)

Detik setelahnya Luhan langsung berhambur ke pelukan Yoona. tepat ketika anak kecil berlinang air mata itu melihat lampu menyala dan mendapati Yoona terengah-engah di sisi kusen pintu.

Dia masuk ke dalam gendongan Yoona dan menyembunyikan wajahnya dalam-dalam. Seraya suara Yoona jelas terdengar, sedang menyuruh Yixing untuk kembali tidur. Beberapa waktu berlalu untuk Yixing agar dia tidak lagi khawatir pada sahabatnya dan mulai beranjak ke alam mimpi.

Yoona membiarkan Luhan dalam dekapannya. Tadinya Yoona ingin menyuruh Luhan tidur lagi di samping Yixing, namun anak itu menolak dan mulai menangis lagi. Dia enggan melepaskan pelukannya pada Yoona, dan menggeleng keras saat disuruh.

Dengan terpaksa, Yoona membawanya serta ke ruangan Baekki. Mereka mendapati Chanyeol sedang menimang Baekki dan berusaha menidurkannya kembali. Secara otomatis Yoona mengerti; acara bermain piano duet—yang sudah lama ia inginkan–harus ditunda beberapa saat demi anak-anak kecil ini.

Kecewa, memang benar Yoona kecewa mengetahui ia harus mengurungkan sebentar niatnya berduet dengan Chanyeol. Namun dia masih tersenyum lembut pada Luhan dan mereka duduk di salah satu sisi ruangan tersebut.

Selagi Chanyeol menidurkan Baekki, ada baiknya Yoona menghabiskan sisa waktu bersama Luhan.

Dia melihat jelas wajah Luhan yang basah, mata anak itu merah dan jejak-jejak air mata belum hilang sepenuhnya. Perlahan, Yoona mencoba bertanya apa gerangan yang membuat anak itu berteriak kaget.

Walaupun dia sudah tahu, jawabannya adalah mimpi buruk. Tapi Yoona bersedia menjadi tempat cerita Luhan tentang mimpinya. Yoona jelas mengerti, yang akan bercerita padanya saat ini adalah anak kecil seumur jagung. Dan cerita mereka selalu dapat ditebak dengan mudah, namun gadis itu tidak pernah bosan meski yang berbicara dengannya adalah anak-anak. Yoona akan dengan senang hati meminjamkan telinga dan responnya untuk Luhan.

Karena sebenarnya Yoona suka menjadi pendengar, dan menjadi pendengar kemudian memberikan usul atau sekadar simpati bukanlah sesuatu yang tidak berguna.

Beberapa saat kemudian, jam telah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Tiga puluh menit lagi menuju pergantian hari. Luhan sudah tidak menangis lagi, anak laki-laki itu bahkan mungkin sudah lupa tentang mimpinya, karena sekarang, sejauh mata Yoona memandang, Luhan sedang bermain mobil-mobilan di sebelahnya, tanpa sedikit pun mengeluh tentang kantuk. Lagipula mata anak itu kelihatan cerah sekali seperti saat siang hari.

Jadi Yoona memutuskan untuk membiarkannya bermain, dan dia tidak ingin mendesak Luhan untuk segera tidur—atau anak itu akan mimpi buruk lagi dan dia lelah mendiami anak kecil yang menangis.

Chanyeol tidak mengacuhkan keberadaan Luhan. Setelah Baekki dipastikan tertidur, dia mengajak Yoona kembali pada piano dan segala tentang not balok. Mereka tadinya menemukan masalah; keberadaan Luhan yang ingin terus bersama Yoona. Tapi akhirnya, jalan keluar tentang duduk diatas bangku piano bertiga adalah pilihan terbaik.

Meski tidak seromantis yang tadi. Yoona cukup terhibur dengan adanya Luhan. Anak itu sesekali mengutarakan lelucon yang bahkan dia tidak mengerti atau menjadi bahan tertawaan Chanyeol karena tingkahnya yang polos.

Setelah latihan beberapa kali, dan dirasa cukup matang, Chanyeol menyalakan kameranya, dia menghitung satu sampai tiga (sebelumnya keduanya sudah membuat perjanjian dengan Luhan untuk tidak menekan tuts-tuts piano jika dia masih tidak ingin tidur.)

Dan lagu itu melayang indah di tengah malam. Melantun sempurna untuk sebuah pujian pada masing-masing permainan. Kedengaran apik bahkan ketika tidak ada yang menyaksikan kecuali keduanya dan Luhan—anak itu diyakini tidak mengerti apa-apa tentang segalanya yang terjadi malam itu.

 

 

Pagi kembali menyambut. Chanyeol mengeluarkan strategi lain untuk membangunkan Luhan dan Yixing. Yoona melambaikan tangan ketika mereka siap pergi ke sekolah. Sesuatu yang terjadi kemarin malam akan mereka simpan baik-baik dalam lubuk hati, tanpa perlu menunjukannya di depan anak-anak (atau nanti Sehun akan menangkap basah mereka lagi dan Bibi Hong tidak segan memarahi keduanya yang telah mencemari sebagian pikiran anak-anak)

“Menyenangkan,” Chanyeol menghempaskan dirinya di sofa, Yoona tak ayal datang dengan dua gelas jus jeruk lantas ikut bergabung bersama kekasihnya. “Sebentar lagi aku mau menyapu lantai, sementara kau harus mencuci seragam mereka yang kemarin, oke?”

Pagi belum berakhir, mereka bahkan belum merapikan piring-piring bekas sarapan dan melihat Baekki yang masih tidur. Iris hitam milik si laki-laki sedikit membulat, sedetik kemudian mengetahui ia akan kembali bergelut dalam busa dan sabun seperti hari sebelumnya. Sebenarnya sabun itu membuat kakinya gatal dan merah-merah, tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah membagi tugas semenjak hari pertama—

 

Tok tok tok.

Mereka kedatangan tamu pagi itu. Sepasang suami-istri muda bernama Jimin dan Eunji. Keduanya membuat Yoona agak terkejut karena dua hari sebelumnya panti asuhan Bibi Hong tidak pernah dikunjungi orangtua manapun. Entah yang hendak benar-benar mengambil anak, atau hanya melihat-lihat saja dan memberikan sedikit bantuan finansial.

Yoona menjelaskan bahwa anak-anak baru saja pergi ke sekolah, ia menangkap raut kecewa dari dua sejoli itu, namun hal tersebut tidak mengecilkan niat mereka untuk melihat-lihat isi panti asuhan.

Mereka duduk di sofa tamu, sedikit-sedikit mengobrol tentang keadaan di sekitar sini, sebelum gadis itu menawarkan diri untuk mengambilkan data diri anak-anak yang ada dalam bentuk tulisan kertas.

Ketika ia kembali, sudah ada Chanyeol sedang menemani berbincang. Yoona hanya bisa diam ketika laki-laki dan perempuan tersebut mengamati satu persatu lampiran data anak yang ada di panti.

Entah dari mana. Entah sejak kapan. Entah mengapa. Entah bagaimana, ia berharap setinggi-tingginya dalam hati untuk sesuatu yang seharusnya tidak. Untuk sesuatu yang seharusnya akan membuat masa depan anak-anak lebih cerah.

Seharusnya Yoona senang ada orangtua yang berkunjung, hendak menjemput salah satu dari mereka dan menyajikan sesuatu yang lebih daripada yang ada di panti ini. Harusnya Yoona bahagia mengetahui kumpulan sepuluh anak yang membuatnya repot bukan main itu akan berkurang sedikit dan meringankan bebannya.

Namun nyatanya tidak. Ia malah berharap, berdoa dalam hati terdalamnya untuk Tuhan agar tidak membawa pergi salah satu pun dari sepuluh anak itu. Supaya mereka tetap bersama.

“Eunji, kau berpikir yang sama denganku?” laki-laki itu memanggil istrinya dan melakukan kontak mata, lirikan keduanya tampak begitu lurus dan seperti ada alat komunikasi tersendiri di antara keduanya. Senyum tak ayal merekah layaknya berkadar abadi dalam bibir mereka.

Yoona berpikir ini buruk. Iya, ini buruk baginya. Senyum itu berdampak terlalu buruk bagi hatinya.

Jangan, jangan mengambil satu pun anak dari sini, tolong.

Yoona menangis dalam hati, memohon dalam lengkungan matanya. “Kami sebenarnya sudah memiliki satu pilihan, namun kami memutuskan untuk menunggu mereka pulang dan melihat secara langsung.”

Iris cokelat Yoona membesar, kaca-kaca tipis melindungi matanya. Sebelah tangannya meremas tangan milik Chanyeol. Mereka akan mengambilnya? Mereka akan menjemput masa depan cerah untuk salah satu dari sepuluh anak nakal itu?

Yoona menggeleng keras dalam hati. Namun tersenyum tenang di depan, “Baiklah, empat jam lagi mereka akan pulang. Anda bisa pergi sarapan terlebih dahulu atau ingin melihat-lihat kamar mereka?”

Matanya meneteskan air mata sedetik setelah sepasang orangtua muda itu pamit tinggal untuk mencari sarapan di daerah sekitar. Yoona menangis, menguras air matanya, menenggelamkan kepalanya dalam peluk Chanyeol, berusaha menenangkan hati dalam kegelisahan yang merambat. Sesuatu kegundahan yang menerobos perasaannya tanpa ijin.

Mereka baru menetapkan, Yoong. Ada kemungkinan mereka tidak jadi.

“Yoona, kenapa kau jadi semelankolis ini?” Chanyeol bertanya. Kedengaran klise, sambil mengusap pelan punggung Yoona.

Mentari kurang bersinar pagi itu, pun udara makin menusuk mendingin menurutnya, bukan lagi sejuk seperti kemarin. Yoona mengangguk, berkali-kali tanpa peduli air matanya mengalir lebih deras.

“Aku mencintai mereka bersama, Chanyeol. Aku mencintai setiap tingkah laku mereka yang membuatku pusing. Aku pikir ini aneh, padahal baru beberapa hari kita di sini, tapi aku merasa seperti sudah mengurus mereka bertahun-tahun. Mereka bukan lagi sekadar sahabat, mereka sudah seperti saudara yang saling melengkapi.”

Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya, kali ini—untuk pertama kalinya—senyum itu nampak dewasa, penuh dengan aura tenang dan sendu. Semuanya seperti gerimis, keadaan bisa membaik tapi bisa memburuk. Semua diambang ketidak-jelasan seperti warna abu-abu.

Im Yoona menyayangi setiap anak itu. Berjam-jam bersama mereka, telah membuatnya hafal setiap senti wajah mereka bahkan kebiasaan masing-masing. Namun sebuah fakta baru dengan telak menghantam hatinya seperti ada sebuah batu besar menimpuknya dari belakang. Sebuah fakta tentang hak yang sebenarnya Yoona maupun Chanyeol tidak miliki.

“Kita tidak bisa menghalangi mereka, Chanyeol.”

 

 

Empat jam bukan yang tersingkat, tapi Yoona merasa seperti waktu tidak berpihak padanya. Seakan waktu adalah hal terkejam di dunia; mereka terus berjalan, mereka tidak mau berhenti. Im Yoona benci akan tiap detiknya waktu. Yoona telah memastikan dirinya untuk memusuhi waktu mulai sekarang.

Dia tidak suka keadaan yang menyebabkan hatinya sesak, apalagi seperti yang kali ini melanda perasaannya.

Eunji dan Jimin sedang melihat-lihat kamar mereka, dan foto-foto lucu yang ada di album. Sementara Yoona tetap setia menenggerkan kakinya pada depan pagar rumah. Menunggu Chanyeol yang akan segera kembali, membawa anak-anak pulang ke rumah.

Detik-detik berlalu. Mereka melihat anak-anak itu kembali, dan Yoona dengan senyum palsu mengenalkan anak-anak tersebut pada Eunji dan Jimin. Mungkin mereka sudah tahu maksud kedatangan dua pasangan itu, mungkin mereka sudah pernah kehilangan seperti yang akan terjadi sebentar lagi.

Tiba-tiba saja, Eunji mendatangi Yoona yang setengah melamun, pikirannya melayang jauh entah ke mana. Dan jantung Yoona berdetak tidak karuan setelah mendengar salah satu dari nama sepuluh anak itu disebutkan.

Mereka memilih satu yang paling cocok, mereka bilang perasaan mereka yang menuntun untuk memilih. Tidak ada faktor tertentu yang mendorong. Eunji sedikit bercerita tentang dirinya yang tidak bisa punya anak, dia sudah mengetahui hal itu sejak belia namun suaminya masih saja mau menikah dengannya. Dan begitu mereka resmi mengikatkan takdir pada jalan yang sama, keduanya memutuskan untuk pergi kemari.

Yoona tidak mendengarkan secara penuh cerita Eunji. Perasaannya sudah jatuh ke ujung jurang, terhempas kasar, juga terluka menimbulkan perih. Yoona tidak bisa memungkiri bahwa dia begitu menyayangi Luhan.

 

 

 

 

To Be Continued

 

 

Sebenernya aku mau berbagi sedikit tentang lagu yang dimainkan Yoona dan Chayeol di duet piano mereka, bisa kalian lihat dan bayangkan lagunya seperti disini.  lagunya enak dan bikin terharu terus deskripsi tentang cara bermain duet mereka juga bisa dilihat di sana.

Chapter 4 dipastikan akan keluar sebentar lagi, jangan bosan menunggu yaa^^ maaf lanjutan kali ini lama banget karena alurnya tiba-tiba berubah begitu keputusan Luhan dipublikasikan. Thankyou for reading and comment are really welcome^o^)/

30 thoughts on “Okay? [3]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s