Misconception [PART 5]

misconception1

qintazshks present

  Misconception 

staring

Luhan and Im Yoona 

Lay as additional cast

PG-17 ||  chaptered  ||  Romance-Sad and Friendship ||  Poster by Arin Yessy {Thanks unnie <3}

Author Note 

you can read this fanfiction with another pairing in here and here

♥ leave your review for better fanfiction in the future from me ♥

[TEASER] [PART 1]  [PART 2] [PART 3] [PART 4]

Enjoy this fanfiction and create your imagination ^^ 

MISCONCEPTION

Luhan-ah, cepat bangun.”

Oh, ayolah. Kau masih tertidur, Choi Luhan. Suara lembut Yoona tadi hanyalah ilusi. Percayalah. Lagipula, mana mungkin Yoona datang kalau-

“hey, Choi Deer. Mau sampai kapan kau tidur?”

Aku membuka mataku dengan cepat saat mendengar suara Yoona yang sangat dekat di telingaku. Berbisik malahan. Dan ternyata Yoona benar-benar disini!

“Yoon-Yoona? Kapan kau datang?”

“tumben sekali kau bertanya. Ayolah, sudah berapa lama aku punya kebiasaan untuk membangunkanmu? Sudah lebih dari dua puluh tahun. Jadi, hari ini kau mau pergi ke kantor atau tidak?”

“iya,” aku menyampirkan selimut yang menempel di tubuhku dan segera bangkit dari tidurku. “ah,” aku meringis saat merasakan sakit di kepala yang begitu kentara terasa. Pasti aku lupa menutup pintu kemarin malam.

“kau sakit?”

“aku baik-baik sa-“

Tangan Yoona yang dingin itu menempel di dahiku.

Entah aku yang sedang kedinginan atau memang Yoona yang terlalu panas. Tapi yang jelas sentuhannya membuat pipiku terasa panas. Astaga, aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri.

“badanmu panas!”

Tiba-tiba saja Yoona memukul lenganku. “kau pasti lupa menutup pintu balkon, kan?” bahkan ia sudah tahu jawabannya. Aku tersenyum kikuk dan menganggukkan kepalaku.

“tunggu disini. Aku ambil es untuk kepalamu.”

“tunggu,”

Aku meraih lengan Yoona sebelum ia pergi. Ia berbalik dan aku bersumpah kalau aku melihat raut wajahnya semakin khawatir.

“kau tidak akan pergi ke kantor?”

“tidak. Aku akan menemanimu sampai kau sembuh.”

 

MISCONCEPTION

-author pov-

 

Yoona memeras handuk basah yang ada di genggamannya lalu dengan hati-hati menempelkannya di dahi Luhan. Lelaki itu sedikit menggeliat saat handuk itu melekat di dahinya yang panas.

Yoona –masih dengan langkah yang hati-hati menutupi tubuh Luhan dengan selimut sampai sebatas dadanya. Perempuan itu meraih ponselnya yang ia taruh di nakas lalu duduk di sofa.

Eonjebuteo neowa hamkke haewasseulkka

“yoboseoyo?”

“Yoona-ya, kau dimana?”

Yoona tersenyum saat terdengar suara lembut Lay menjawabnya. “aku di rumah Luhan. Kenapa?”

“kau tahu? Aku sudah menunggumu di depan kantormu seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Kenapa kau tidak ke kantor?”

Mata Yoona menangkap badan Luhan yang masih tergeletak di kasurnya yang empuk. Yoona tersenyum senang –lagi saat mendapati Luhan sudah lebih baik.

kau kira aku bisa bebas beraktivitas kalau pikiranku terus memikirkan tentang Luhan yang sakit? Yang benar saja,”

“jadi, acara makan malam kita hari ini ditunda, begitu?”

“kau mainlah ke rumah Luhan. Kau tidak mau menjenguk temanmu yang sakit, eoh?”

“astaga, Im Yoona. Kau akan menjaga Luhan sampai malam?”

“ralat, sampai Luhan sembuh. Kapanpun itu, Lay.”

Terdengar desahan napas di seberang telepon dan Yoona tertawa pelan mendengarnya. “kenapa?”

“aku iri. Harusnya aku yang ada di posisi Luhan saat ini.”

“hah?” Yoona hampir saja berteriak setelah mendengar kata-kata Lay yang terdengar sedih tadi.

“iya, aku iri. Harusnya hari ini, kau sebagai pacarku, makan malam bersamaku, tahu.”

Alih-alih tertawa seperti apa yang dilakukan Lay, Yoona malah membungkam mulutnya. Mata bulan sabit itu memandang Luhan dengan seksama.

“Yoona? Kau kenapa?”

Yoona tersadar oleh suara Lay lalu segera mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. “gwenchana,”

oh ya, ngomong-ngomong, kau sudah membicarakan hubungan kita dengan Luhan?”

Yoona hampir saja menangis lagi saat melihat Luhan.

Ya, harusnya aku sudah membicarakan hal ini denganmu, Luhan.

kau belum bilang kalau kau sekarang adalah pacar resmi dari seorang Zhang Yixing pada Luhan, hem?”

“en-entahlah,” Yoona mendesahkan lagi napasnya untuk ratusan kalinya hari ini.

“aku belum siap memberi tahu Luhan.”

 

MISCONCEPTION

 

“kau yang masak bubur ini untukku, Yoong?”

“tentu saja. Siapa lagi yang mau memasakkan makanan untuk anak manja yang sedang sakit sepertimu selain aku, hem?”

ya!” Luhan melemparkan bantal kecil yang ada di pangkuannya ke Yoona yang  sedang duduk di sebelahnya. “aku bukan anak manja, tahu.”

“benarkah? Lalu permintaanmu yang segudang tadi apa maksudnya?”

Yoona menaruh kembali bantal yang Luhan lemparkan padanya lalu mengambil bubur yang ia taruh di kursi. Luhan tersenyum saat melihat Yoona yang dengan telatennya meniup bubur itu agar tidak panas.

“aaa,”

Luhan membuka mulutnya dengan senang dan bubur buatan Yoona masuk ke tenggorokannya.

“kau kenapa, sih, Lu? Senyummu itu seperti orang gila,”

“aku tersenyum? Mana mungkin,”

“yang benar saja. Kau dari tadi tersenyum seperti anak kecil yang mendapat permen dari ibunya. Kau tidak sakit jiwa, kan?” Yoona tersenyum kecil dan itu membuat Luhan makin mengembangkan senyumnya.

“tentu saja tidak. Kau mau tahu kenapa?”

Yoona tentu saja penasaran dengan alasan di balik senyum Luhan yang tak kunjung surut sejak tadi. Apalagi nada suara Luhan tadi makin membuatnya penasaran.

“karna akhirnya kau datang lagi ke sini sejak lama.” Yoona mengerutkan dahinya bingung. Masih tidak mengerti maksud dari ucapan Luhan.

“ya, semenjak kau kenal Lay, kau jarang ke sini, kan? Berangkat bersama ke kantor pun sudah jarang.” Perasaan bersalah mulai menggerogoti hati Yoona saat melihat senyum Luhan lagi.

“siapa yang bisa berhenti tersenyum kalau kau akhirnya kembali ke sini?”

Yoona menahan napasnya saat merasa matanya sudah basah karena air mata. Ia tidak ingin air matanya jatuh di hadapan Luhan yang sedang tersenyum selebar mungkin. Yoona tahu betul kalau Luhan sedang dalam mood yang terbaik dan ia tidak mau menghancurkan senyum Luhan saat ini.

“ya, kenapa menangis?”

Sia-sia. Usaha Yoona untuk menyembunyikan air matanya tentu saja sia-sia jika sudah berhadapan dengan Luhan. Luhan mendekatkan tubuhnya pada Yoona dan mengusap perlahan air mata yang jatuh di pipi Yoona.

“kenapa? Kata-kataku salah, ya?”

Luhan mengelus rambut Yoona yang tersinari sinar matahari sore. Lelaki itu bahkan merasa bersalah karena Yoona menitikkan air mata di hadapannya. Air mata yang Luhan sendiri tidak tahu apa maksud di balik air mata yang mengalir di wajah cantik Yoona.

Yoona mencoba mengambil napasnya sebelum bicara.

“sebenarnya, apa maksud dari kata-katamu tadi, Luhan?”

“maksudku? Itu maksudnya aku merindukanmu, Yoong.”

Luhan semakin panic saat air mata Yoona mengalir kian deras. Tanpa menunggu lagi, Yoona memeluk Luhan. Lengan Yoona memeluk leher Luhan erat dan Luhan membalas pelukan Yoona.

“aku juga merindukanmu, Lu.”

 

MISCONCEPTION

 

“Luhan, yang ada di depan itu bukannya Lay?”

Pft. Luhan memuncratkan air yang sedang di teguknya setelah mendengar kata-kata Minho. “Lay?”

Kakak lelakinya itu mengangguk ragu.

“Lay sudah datang, oppa?

Luhan dan Minho serentak memandang Yoona yang datang dari kebun belakang dengan tergesa-gesa. “i-iya. Memangnya kau yang janjian dengan Lay? Bukan Luhan?”

“iya, oppa. Sebentar ya,”

Yoona melesat menuju ruang tamu dengan cepat. Meninggalkan Luhan dan Minho  yang kebingungan. “kau yakin tak ada sesuatu antara Yoona dan Lay?”

“iya, aku yakin, hyung. Kalau ada apa-apa, Yoona pasti cerita padaku. Hyung seperti tidak tahu saja Yoona seperti apa,” Luhan kembali meneguk orange juice-nya dengan senang.

“kau belum pulang dari kemarin, huh?”

“kalau Luhan sakit biasanya aku benar-benar akan menunggunya sembuh. Memangnya ada apa?” Yoona menautkan alisnya bingung. Belum genap dua menit Lay datang, lelaki itu sudah mencercanya dengan pertanyaan yang menurut Yoona  tidak perlu untuk dijawab.

“astaga, Im Yoona. Kau bersikap seolah kau adalah kekasih Luhan, tahu.”

Lay mem-pout-kan bibirnya. Lay hanya bercanda saja dan Yoona tahu itu. Tapi rasanya kata-kata itu terlalu membuat Yoona harus memikirkan perkataan Lay.

“Yoona! Ini apa?”

Suara Lay yang melengking membuat Yoona mengalihkan pandangannya. “sejak kapan kau dan Luhan menikah?”

“hey, jangan sembarangan.” Yoona menurunkan lengan Lay yang sedang menunjuk foto ‘pre-wedding’  Yoona dan Luhan. Entah kenapa debaran jantung Yoona berdetak lebih cepat saat menyadari bahwa Lay tahu mengenai foto itu.

“aku saja yang kekasihmu belum pernah foto seperti itu denganmu,”

“sst,” Yoona menempatkan telunjuknya di bibirnya. Meminta agar Lay tak berisik karena gerutuan lelaki itu mungkin saja terdengar oleh Luhan.

“sudah, ayo kita makan.”

“tidak apa, Lay. Sarapan disini saja.”

Sayup-sayup terdengar suara Yoona dari ruang tamu. Luhan mendongak untuk melihat apa yang sedang dilakukan Yoona. Detik berikutnya, setengah badan Yoona  terlihat sedang menarik seseorang.

“sini, Lay!”

Teriakan Luhan yang cukup nyaring membuat Lay akhirnya menyerah. Yoona  menarik lagi lengan Lay agar sampai di ruang makan.

“kapan kau datang?” Tanya Luhan sembari menghampiri Lay dan mengajaknya temannya itu untuk duduk di sebelahnya. Yoona dengan terpaksa harus duduk di sebelah Minho setelah Lay mengambil tempatnya.

ya! Luhan! Kau tidak boleh makan itu. Ya ampun, sudah berapa kali aku bilang kalau kau tidak boleh makan keripik itu, sih?” Yoona dengan gesit merebut kantong plastik berisi keripik-keripik.

“jangan diambil lagi, Yoona. Memangnya kenapa?”

“kau bertanya padaku, hah? Kalau kau sakit lagi, bagaimana?”

Walaupun Luhan bersikeras untuk merebut keripik itu, sekeras itu pula usaha Yoona untuk tidak membiarkan sahabat kesayangannya jatuh sakit lagi.

Keluarga Choi yang lain hanya bisa tersenyum melihat ‘pertengkaran’ antara Yoona  dan Luhan. Aneh jika mereka tidak bertengkar seperti ini.

Lay memandang masam Yoona dan Luhan yang begitu asyik berdebat. Baik Yoona  ataupun Luahn tidak mau mengalah mengenai keripik itu. Lelaki itu akhirnya tersenyum tipis saat Yoona yang memenangkan perdebatan itu.

“oh iya,” perkataan Lay membuat Luhan menghentikan ucapan ‘sumpah serapah’-nya untuk Yoona. “kau bisa ikut aku dengan Yoona, Luhan?”

“hah? Ada acara apa?”

“makan malam biasa. Besok lusa hari minggu, kan?” Luhan dan Yoona  berpandangan sebentar lalu Luhan kembali menatap Lay yang sedang menatapnya. Luhan menangguk ragu.

“baiklah. Besok lusa kita bertiga makan malam bersama.”

 

MISCONCEPTION

-luhan pov-

 

Sesuai ajakan Lay, aku dan Yoona datang untuk memenuhi undangan makan malam yang diberinya. Beruntungnya, ini adalah restoran favorite-ku dengan Yoona.

Aku siap dengan tuksedo hitamku –well, Lay memintaku untuk memakai tuksedo hari ini dan Yoona dengan gaun putihnya yang panjang. Gaun putih yang aku pilihkan untuknya saat ia –dengan alibinya- bilang ada acara penting.

Gaun putih itu menutupi badan langsingnya dari bahu hingga kaki. Bagian bahunya memang sedikit terbuka, tapi aku suka itu.

Rambut panjang cokelat tergerai sampai punggungnya. Yoona hanya memoleskan sedikit make-up pada wajahnya. Make-up natural yang selalu aku suka darinya. Dandan biasa saja sudah menawan, bagaimana kalau ia berdandan lebih mewah dari ini?

“kau siap?”

Aku membuka seatbelt-ku dan Yoona. Setelah Yoona mengangguk, aku keluar dari mobil dan bergegas menghampiri Yoona yang duduk di bangku penumpang. Aku mengulurkan lenganku agar bisa Yoona genggam saat ia turun.

“wah, sejak kapan aku mendapat perlakuan seperti tuan puteri dari seorang Choi Luhan?”

“sudah sering, nona. Kau tak ingat siapa yang menjadi pangeranmu waktu pesta kelulusan, hem? Itu aku, kan?”

“pangeran tidak ada yang jelek sepertimu.”

Rasanya aku ingin melepas genggaman lengan Yoona yang sedang mengalung di lenganku. “liar. Kau tidak tahu kalau kau mabuk seperti apa, ya?”

“memangnya apa yang aku lakukan jika sedang mabuk?”

“seperti ini,” aku mendekatkan wajahku ke wajah Yoona hingga hanya berjarak beberapa senti saja. “lalu bilang, ‘kau tampan juga, Luhan. Apa nanti suamiku akan tampan sepertimu?’.”

Yoona mendorong kepalaku hingga menjauh darinya.

“mana mungkin, bohong.”

“kau lihat saja pipimu yang bersemu merah itu, Yoona. Itu tanda kalau omonganku memang benar, kan?”

“kalian sudah datang?”

Tahu-tahu, Lay sudah muncul dengan senyumnya di hadapanku dan Yoona dengan tuksedo-nya yang berwarna putih. Warna yang kontras denganku yang memilih tuksedo berwarna hitam.

Aku tersenyum pada Lay yang sejak tadi tak berhenti tersenyum.

Ayolah, apa spesialnya hari ini sampai-sampai ia tidak berhenti tersenyum seperti itu?

Aku merasakan Yoona melepaskan genggamannya dan meraih lengan Lay yang sudah terjulur. Tunggu, ada apa ini?

Sejak kapan Lay dan Yoona jadi sedekat ini?

Jujur saja, aku heran saat masuk ke restoran favorite-ku dan Yoona. Tak terlihat satu pun pengunjung dan ini pertama kalinya dalam hidupku melihat restoran ini benar-benar sepi.

“pengunjung yang lain kemana?”

“aku sengaja memesan restoran ini untuk kalian.”

“hah?” siapa yang tidak kaget dengan pernyataan Lay tadi?

“kalian sudah sering datang kesini, kan?”

Aku mengangguk pelan.

Jadi, Yoona memberi tahu Lay soal restoran ini?

Iyeoreul mollaseo

Tahu-tahu, lagu yang biasa aku mainkan dengan gitar berputar di restoran ini. Siapa yang tahu kalau lagu ini lagu kesukaan Yoona? Lay kah yang meminta agar lagu ini dimainkan disini?

“jadi, Yoona,”

Aku bersumpah bahwa lampu-lampu kecil yang mengitari meja kami terlihat begitu indah. Begitu juga dengan bunga mawar merah yang Lay ulurkan untuk Yoona saat ini.

Hey, bunga? Ada apa ini?

Lay merogoh saku celananya dan lengannya kini menggenggam sebuah kotak kecil beludru berwarna biru dongker. Ada cahaya putih mengilat kecil yang muncul saat kotak itu dibuka.

Lay berdeham dan aku tahu kalau ia gugup.

Untuk apa ia-

“Im Yoona, will you marry me?”

MISCONCEPTION

Hai!

gimana part ini? :p sorry banget karna FF ini post nya telat banget -_- lagi krisis ide aku >.<

Papoi!❤

93 thoughts on “Misconception [PART 5]

  1. Ohmaygaaad masa kai nglamar yoona d dpen sahabtnya yg mencintainyaa…
    Nooooo jangan pleaseee..
    Shock berat lulu pastinya…
    Poor lulu..
    Kpn d ╔╗╔═╦═╗╔╦╦╦══╗
    ║║║║║║║║║║╠╗╔╝
    ║╚╣╦║║╠╝║║║║║
    ╚═╩╩╩╩╩═╩═╝╚╝ niih??

  2. YOONA!!! JANGAN DITERIMA, PLIS!!
    Lay jahat, masa nglamar Yoona didepan Luhan,pasti Luhan galau bgt. Yoong, kpn coba kmu sadar sma perasaanmu-_-
    Greget thor bacanya GREGET!!
    NEXT JAN LAMA-LAMA,OKEH..BYE BYE *menghilang seketika

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s