(Freelance) Ficlet : Moments

MomentsMoments

Artposter and Story by Nawafil

PG-15+

 Ficlet

Romance, sad, angst

Starring by GG’s Yoona – EXO’s Sehun

Disclaimer : All cast belong to God , the plot of this story is mine. If you don’t like don’t read. Don’t bash Please. This is just a fiction and forever will be a fiction.

A/N : Hope you guys like it^^

Aku keluar dari ruangan tempatku menari, sebenarnya aku tidak berlatih sendiri. Hanya saja teman-temanku sudah pulang lebih dulu, dan beginilah akhirnya—Aku yang terakhir pulang.

Aku berjalan menyusuri koridor kampusku sedangkan tanganku mengelap keringat yang masih mengucur hingga saat ini. Wajar saja, hari ini aku latihan hampir 6 jam.

“Ah sial, aku tak membawa payung” umpatku saat menyadari diluar sedang turun hujan.

Aku melirik jam putih yang melingkar dipergelangan tanganku, dan itu membuatku semakin kesal.

Ternyata sudah jam 8 malam.

Great, lalu bagaimana aku pulang?” Aku menghembuskan nafas panjang. Daritadi tidak ada taksi yang lewat.

Tiba-tiba ponselku bergetar, aku merogohnya disaku celanaku lalu melihat pesan yang masuk.

From : Oh Sehun

Yoong, kau ada dimana? Kenapa tidak ada dirumah? Tunggu aku, aku akan menjemputmu.

“Ah, senangnya!” aku berteriak sambil tersenyum riang, kemudian membalas pesan Sehun. Setelah itu, aku memasukkannya kembali ke dalam saku celanaku.

“Dan sekarang, aku tinggal menunggu Sehun” ucapku seraya menggosokkan kedua telapak tanganku. Anginnya sangat dingin, terasa seperti menusuk tulang-tulangku.

5 menit

Aku masih bersemangat menunggunya sembari menghangatkan tubuhku.

10 menit

Walaupun sudah mulai membosankan, aku tetap menunggunya.

20 menit

Ya Tuhan, kenapa makhluk satu itu tak juga muncul? Aku sudah sangat bosan. Lama Sekali.

“Sehun lama sekali” gerutuku sambil menengok ke kanan-kiri, tak terasa sudah 30 menit aku berdiri disini. Tapi mobilnya tak muncul juga.

“Hei, sayang” Aku terlonjak mendengar suara itu lalu menolehkan kepalaku.

“Sehun?!” Anak ini, selalu saja memanggilku dengan kata menjijikan itu. Sayang apanya? Ada-ada saja.

“Kau ke sini naik apa?” Lanjutku lalu melihat ke belakangnya, tak ada kendaraan sama sekali.

“Dengan kakiku” jawabnya polos.

Aku tersenyum mendengar jawaban konyolnya “Jangan bercanda, hun-ah”

“Aku tidak bercanda, lagi pula aku membawa payung. Kita tidak akan terkena air hujan” Aku mengedikkan bahuku, ya sudahlah. Yang penting tidak terkena air hujan, benar kata Sehun.

“Lalu mana payungku?”

“Im Yoona, kau tidak pernah lihat didrama-drama, huh? Tentu saja kita memakai payung ini berdua!” Aku membulatkan mataku.

Apa katanya? Berdua? Payung sekecil itu?

“Payungnya kec—“ Sehun memotong ucapanku, dia menarik tubuhku begitu saja mendekat ke tubuhnya.

Dalam perjalanan, aku maupun Sehun sama-sama diam.

Yeah, I have nothing to say.

Hingga terdengar suara gigiku yang bergemelatukan.

“Kau kedinginan?” Aku pun mengangguk saat Sehun bertanya padaku seperti itu.

“Ini, mantelku cukup tebal” Sehun memakaikan mantelnya padaku.

“Lalu kau?” Sehun tak menjawab pertanyaanku lalu kembali berjalan disebelahku, dan…

Ia memegang tanganku.

Sangat erat.

Hingga aku terpaku melihat wajahnya. Dan Sehun, aku baru menyadari bahwa dia sangat tampa—

“Hei, kenapa kau memandangku seperti itu? Ayo cepat masuk. Diluar dingin” Aku terlonjak kaget. Sial, harusnya aku tadi tak memandangnya seperti itu. Dengan cepat aku memasuki rumahku lalu menutup pintunya.

Tok Tok Tok

Aku memutar mataku. Baru saja sampai, bahkan melangkahpun aku belum sempat, tapi sudah ada yang mau bertamu malam-malam begini.

Dengan malas aku membuka pintunya lagi.

“Sehun? Kenapa kau belum pergi?” Ia menerobos masuk melewatiku.

“Mulai sekarang aku akan tinggal disini” ucapnya datar.

Yeah, terserah maumu”

Well, dia selalu melakukan apapun yang ia suka. Lagipula ini bukan pertama kalinya dia menginap disini. Aku berjalan memasuki kamar lalu mengganti bajuku.

“Baju-bajumu ada dikamar biasa!” Aku berteriak dari dalam kamar.

“Aku tahu!” teriaknya membalas teriakanku.

Ah, rasanya tubuhku mau remuk saja. Mataku berbinar-binar melihat tempat tidur.

Baby, I’m coming!

Satu.

Dua.

Tig—

“Yoong, aku lapar!”

Ya tuhan! Anak ini benar-benar mengganggu, aku keluar kamar dan menghampirinya menuju dapur. Aku menjitaknya keras, dengan tatapan tajam dan kedua tangan yang bertengger dipinggang aku berkata, “kau lapar?”

Dengan wajah innocentnya ia menganggukkan kepalanya.

“Dan kau ingin makan?”

Matanya berbinar, ia menganggukkan kepalanya lagi.

Aku menghelas nafasku pelan.

Dasar, mengganggu saja.

“Ada daging di lemari es” ucapku seraya meninggalkan dapur dan beranjak ke kamar. Maaafkan aku Oh Sehun, tapi kasurku sudah menunggu.

“Sehun, ayo bangun!” Aku membuka dengan kasar pintu kamar Sehun lalu menggoyangkan badannya yang masih saja belum bangun dari tidurnya.

“Aku masih ngantuk” Ucap Sehun menaikkan selimutnya.

“Dasar pemalas” gumamku

“SEHUUUUUUUUUN!!” Aku berteriak tepat di samping telinga Sehun, bahkan sangat dekat.

“Im Yoona! Aku masih ingin tidur, jangan menggangguku” Aku menghela nafas, dengan perlahan aku berjalan mendekati tempat tidurnya dan duduk di sampingnya.

“Sehun-ah, Ireona” ucapku lembut dan menggoyangkan tubuh Sehun pelan, tidak sekasar tadi. Mungkin saja dia bisa bangun jika dengan cara seperti itu—walaupun sepertinya mustahil.

Sehun yang mendengarnya tersenyum – masih dengan mata tertutup. Dan dengan sekali hentakan ia bangun dari posisinya dan wajahnya sangat dekat dengan wajahku.

Terlampau dekat.

Sangat dekat.

GLEK

Aku meneguk salivaku.

Darahku seakan mengalir sangat cepat.

Ya tuhan, bagaimana ini? Aku bahkan tak bisa mengatur degup jantungku.

Entah apa yang mendorongku melakukannya, aku menutup mataku perlahan.

1

2

3

4

5

“Tenang saja, aku tak akan mengambil first kissmu, sayang”

Tubuh Yoona membeku. Sehun turun dengan santainya dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi, meninggalkan Yoona dengan ekspresi wajahnya yang masih sama seperti saat Sehun hampir mengecupnya tadi.

“AAAAAAAAAAAAAA!”

“Tenang saja, aku tak akan mengambil first kissmu, sayang”

Ah, kenapa kata-kata itu masih terngiang-ngiang dikepalaku?!

Dasar Oh Sehun, bagaimana bisa dia memperlakukanku seperti itu?

“Hey, ada apa nona?” Aku menolehkan kepalaku.

Oh Sehun.

Tak mempedulikannya, aku terus mengolesi rotiku dengan mentega. Dia hanya tersenyum lalu mengambil rotinya dan duduk dimeja makan.

“Kau lahap sekali” aku berhenti makan, lalu mendelik sebal tetapi tak menjawab komentarnya barusan.

“Hey, ayolah. Kemarin aku hanya bercanda”

Siapa peduli? Hal yang paling penting adalah ia-sudah-membuatku-malu.

“Yoong, Jebal

Ya tuhan, dia merengek, seperti anak kecil saja.

Noona, maafkan aku”

Freeze.

Ya, tubuhku diam membeku. Apa? Dia baru saja mengucapkan apa?

Noona?” ulangku.

Sehun mengangguk “Aku minta maaf, noona

Oh my god, dia memperlihatkan senyum manisnya.

Aku membalas senyumannya dengan tak kalah manis.

“Kau sangat cantik saat tersenyum, noona

Dan pada saat itu, rasanya tubuhku mati untuk sejenak.

Aku berjalan melewati kerumunan para gadis. Sebenarnya aku sangat heran, apa yang mereka lihat hingga bisa membuat mereka seperti orang gila seperti itu? Berteriak tak karuan, melompat tidak jelas. Ayolah, hanya tim basket saja sampai membuat mereka seperti itu.

“Hai, Yoong” Aku menoleh, lalu tersenyum.

“Hai, Luhan”

“Apa boleh aku berjalan bersamamu?” Aku terkekeh, hal kecil seperti itu masih saja ia tanyakan.

“Hm” gumamku sebagai jawaban.

“Ah ya, ngomong-ngomong kau jurusan sastra, bukan?”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk, “dan kau?” tanyaku balik.

“Sastra juga” ucapnya singkat.

“Hey! Kita satu jurusan!” dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, membuatku ikut tersenyum juga.

Sangat lucu.

“Kalau begitu, aku duluan. Sampai jumpa nanti” Luhan berjalan meninggalkanku, tentu saja dia mau pulang.

Ketika aku mau melangkahkan kakiku, seseorang menahan tanganku.

“Apa yang kau bicarakan dengannya?” tatapannya serius, sangat dingin.

Aigoo, kau sepertinya sangat lelah setelah bertanding” tanganku tergerak mengusap keringat didahinya, namun dia menepisnya.

“Ayolah, aku hanya—“ kalimatku terpotong kala Sehun lebih memilih untuk berbalik meninggalkanku dengan seribu kebingungan yang aku rasakan.

Ada apa dengannya?

Noona, aku menyukaimu”

Ya tuhan, bagaimana ini? Rentetan kata itu terus mengelilingi pikiranku.

Aku mondar-mandir tidak jelas, berjalan ke sana-ke sini di depan kamarku sendiri, dan sialnya aku terus memikirkan bocah tengil itu.

Bagaimana bisa dia menyatakan perasaannya seperti itu? Maksudku, dengan keadaanku yang bahkan hampir tidak bisa berpijak, bagaimana bisa dia menyatakannya sesantai itu?

Oh God! Bisa kau bayangkan ekspresi wajahku saat itu? Tentu saja kaku, sangat kikuk dan itu memalukan. Pasti sehun menertawakanku saat itu.

“Kau bodoh, Im Yoona!” rutukku pada diriku sendiri.

Belum lagi jawabanku tadi, menyuruhnya untuk menunggu 1 hari?

“Ah tidak! AKU BISA FRUSTASI!”

Seperti biasa, Sehun sudah menungguku di depan pintu—tentu saja kami akan berangkat menuju kampus. Sepanjang perjalan ia sangat relax, sangat terlihat jelas dari kepalanya yang ikut bergerak mendengarkan alunan musik yang—mungkin—berasal dari headseat yang menempel ditelinganya.

“Sehun-ah” panggilku.

Ya tuhan, dia bahkan tak menggubrisku. Ayolah hun, kau harus membuatku menjawabnya dengan mudah, tolong bantu aku.

“Ekhm” akhirnya aku berdehem pelan, dan ternyata hal ini berhasil membuat fokus seorang Oh Sehun teralih padaku.

Dan aku?

Tentu saja gemetaran.

wae?” lagi-lagi ia tetap bersikap seperti itu. Sebenarnya ia serius tidak sih?

“Kenapa kau diam saja, sayang?” Aku hendak membuka mulutku dan mengomel atas kata ‘menjijikan’ yang baru saja ia ucapkan, tapi ia memotongnya.

“Bukankah kau kekasihku? Aku tak ingin mendengar ada penolakan, dan mulai saat ini kau juga harus sering melontarkan kalimat-kalimat manis padaku. Hm?”

Freeze

“Tapi, aku bahkan belum—“

CHU~

Dia mencium pipiku, pipi kiriku.

Jangan katakan, jangan katakan bahwa rona merah dipipiku terlihat dengan sangat jelas, aku bersumpah aku sangat benci keadaan seperti ini.

Sehun keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku. Ia mengulurkan tangannya, aku tersenyum dan menerima uluran tangannya.

Bolehkah aku menjadi sedikit kekanak-kanakkan?

Ya, 08 Oktober 2014

From now, it’s the begin.

Bodoh sekali, menjadi kekasih atau tidak ternyata sama saja, aku pikir dia akan bersikap lembut padaku tapi kenyataannya aku berakhir dirumah besar dan megah ini.

Ya tuhan, Oh Sehun benar-benar kejam!

“Ayolah, jangan memasang muka kusutmu seperti itu. Aku tak mungkin meminta bantuan orang lain kan untuk membersihkan rumah seluas ini?” Sehun mengomeliku sambil mengepel lantai rumahnya yang hampir terlihat seperti lautan terigu—penuh tepung dan pecahan telur.

“Lagipula siapa yang menyuruhmu merayakan ulang tahun sahabatmu itu di sini? Menyebalkan” gerutuku tanpa henti.

YAK!” teriak Sehun.

“MWO?!” Aku membalasnya dengan tak kalah sengit.

Wajahnya terlihat sangat frustasi, ia menarikku pelan dan memasukkanku ke kamar mandi.

“Bersihkan tubuhmu, jangan tampil berantakan malam ini”

BRUK!

Ia sedikit menutup pintunya dengan keras. Dasar, bisanya marah-marah saja.

Dan kurang dari 1 jam aku sudah siap dengan gaun sederhanaku—tapi membuat setiap orang yang melihatnya terpesona.

Jujur saja, gaun ini tiba-tiba saja berada di atas kasur kamarku—Aku punya satu kamar khusus di rumah Sehun. Dan 99,9999999% aku yakin sehun ingin aku memakainya.

And see?

Betapa menakjubkannya kau Im Yoona. Aku menyunggingkan senyumku, lihat saja Oh Sehun yang terhormat, kau akan benar-benar terpesona.

.

.

.

.

Aku tiba di tempat yang Sehun maksud, ia sudah menyediakan supir untuk mengantarku ke sini. Lagipula aku tidak tahu tempat ini.

Ketika aku berjalan masuk, sambutan dari pelayannya sangat hangat.

Dan, wow!

Jujur saja aku terkejut. Lilin dimana-mana dan mawar putih hampir tak terhitung jumlahnya. Amazing!

“Silahkan nona” ucap salah satu pelayan wanita. Ia mempersilahkanku menaiki tangga, dan ketika aku sampai di sana, ada seorang pria bertuxedo hitam rapi dengan topeng diwajahnya.

Musik mulai mengalun, dan aku rasa aku kenal lagu ini.

It’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do
Hey Baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes,Or is it this dancing juice?
Who cares baby,I think I wanna marry you.

Oh gosh, lagu ini!

Well I know this little chapel on the boulevard we can go.
No one will know,Come on girl
.
Who cares if we’re trashed got a pocket full of cash we can blow.
Shots of patron, and it’s on girl.

Pria itu menggerakkan tubuhnya dengan lihai, tariannya yang simple namun sangat indah dipandang mata. Benar-benar indah!

Don’t say no, no, no, no, no
Just say yeah, yeah, yeah, yeah, yeah
And we’ll go, go, go, go, go
If you’re ready, like I’m ready.

Ah, tidak! Ya tuhan! Mungkin dia akan benar – benar membunuhku dengan pesonanya. Sungguh, aku tak bisa mengatakan apapun lagi.

Dia terus menari beberapa saat, bagaikan satu irama dengan musiknya.

Aku benar – benar melting dibuatnya.

Omo! Dia berjalan mendekatiku. Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan?! Bagaimana ini? Aku bahkan tak bisa bergerak sama sekali, sungguh ini hal yang sangat memalukan Im Yoona!

Cause it’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do.
Hey baby,I think I wanna marry you.

Is it the look in your eyes,Or is it this dancing juice?
Who cares baby,I think I wanna marry you

P-pria i-ni, dia.. dia berada tepat dihadapanku. Memandangku dan…

Dia mengeluarkan sebuket bunga mawar berwarna merah.

Nafasnya terengah – engah, aku tahu pasti hal tadi sangat melelahkan.

Aku terpaku.

Sudut bibirnya tergerak ke atas, membentuk senyuman indah bagaikan bulan sabit dimalam hari. Ciptaan tuhan yang sempurna.

Perlahan, dia membuka topengnya.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

4 det—

“MWO?! KAU?!” Aku terlonjak kaget.

“Ayolah, aku ini kekasihmu. Kenapa kau bersikap kasar seperti itu?” Pria ini—Sehun—membelai rambutku lembut.

“Maukah kau menikah denganku?”

Lagi, lagi dan lagi tubuhku kembali membeku. Rasanya aliran darahku berhenti, aku tak bisa degup jantungku, nafasku tak beraturan.

Apakah ini benar?

Oh Sehun, dia melamarku?

Dan pada saat itu juga, aku berkata..

“Ya, aku mau”

END

Entah kayaknya aku selalu minta maaf karena alur kecepetan dan FF gaje ini._. huhu, mohon maaf banget ya readers. Okay, aku ga memaksa kalian untuk meninggalkan jejak yang penting terimakasih sudah mau membaca^^

30 thoughts on “(Freelance) Ficlet : Moments

  1. Yang aku pikirkan dari ff ini pertama adalah :
    1) cerita awal nya aku jadi ingat adegan di the heirs antara kim woobin sama park sinhye
    2) yang adegan terakhir aku jadi ingat waktu yoona dance sama sehun nyanyi marry you juga di bagian akhir lagu nya..

    Dan yang mau aku bilang sebenarnya adalah..thor sepertinya genre nya perlu di ganti karena kaya nya nggak sesuai..aku kira ini ceritanya bakal banyak konflik dan berakhir di………sad ending,eh ternyata enggak..

    Tapi overall bagus kok thor…
    Jadi KEEP WRITING Thor..

  2. Pas pertama liat genre nya sad – angst
    aku rasa genrenya itu harus diganti deh krn ga sesuai.
    Awalnya mikir bakal sad ending eh ternyata happy ending
    Alurnya juga kecepeten sih..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s