(Freelance) Remember That I Love You (Chapter 3)

remembar-that-i-love-you

Author : Shuangludeer [SLD]

Tittle : Remember that I love you [Chapter 3]

Main Cast : Im Yoon Ah , Oh Sehun & Byun Baekhyun

Other Cast : find by yourself

Genre : School life, Romance, Friendship, Comedy(?), sad

Length : Chapter

Rating : PG 13

Desclaimer : Cerita ini murni dari pemikiran dan pemerasan/? otak ku.

Cast hanya milik Tuhan, keluarga, dan agensinya.

Warning!! Typo bertebaran

Tulisan italic = kata-kata dalam hati

Awesome Poster by : D.A Grace Young @ PosterChannel❤

Happy Reading^^

YOONA POV

“Aigoo, Mau sampai kapan kau menangis? Dan mau sampai kapan kau menyimpan sapu tanganku? Dan kenapa kau memanggilku anak kecil? Apa harus kubuktikan bahwa aku sudah dewasa? Dan– kenapa kau mengajakku bukannya bersama namjachingumu itu?” Sehun mencerca pertanyaan bertubi – tubi padaku tanpa menatap langsung wajahku. malah memandang lurus kedepan. Sifatnya kembali lagi oh tuhan.

“oh sehun– DALAM WAKTU BEGINI KAU MASIH MEMIKIRKAN SAPU TANGAN ITU?! APA KAU TAK MELIHAT KEADAANKU SAAT INI HAH? Dan soal namjachinguku– itu bukan urusanmu!” Protesku padanya. terdengar sekali ia menelan sulit salivanya.

“Hei, tak perlu membentakku seperti itu” Jawabnya singkat. Setelah itu Ia tak merespon dan kami bergelut dalam keheningan selama beberapa menit.

“Aku tau kau hanya bersandiwara” Aku memalingkan wajahku menatapnya. Ia tetap pada pandangan satu arahnya.

“Maksudmu– Apa kau mendengarkan percakapanku dengan luhan– Tentang rencana kami?” Tanyaku intens. Bisa mati aku jika sehun memberi tahu hal ini pada baekhyun.

“Kau pandai terpancing. Aku hanya memancingmu untuk mengetes kebenaran pendengaranku tadi. Dari kecanggunganmu sebelum Luhan hyung berbisik, aku sudah tau” Sekarang terbalik. Aku yang lebih sulit menelan salivaku. Mengapa kau harus datang di hidupku Oh Sehun?

“Lalu– Apa kau akan memberitahu baekhyun tentang ini?” Dag Dig Dug jederr. Kini aku menahan nafas untuk bersiaga menanti jawaban dari oh sehun namja menyebalkan ini. Tangan yang ku kepalkan pun siap melakukan apa tugasnya sebentar lagi.

“Tidak. Tapi ada pengecualian. Kita akan adakan perjanjian. Jika kau tak menepati perjanjian ini, aku akan memberi tau baekhyun hyung agar ia memusuhimu, hahaha. Jadi– ? ” baru saja aku dapat menghembuskan nafas dan melepas kepalan tanganku. Naas, Ia menggantungkan kalimatnya.

“Pengecualian untuk apa? Tolong jangan beritahu baekhyun, sehuna” Ia terus diam dan tak bergerak. Kupikir dia sedang memikirkan apa perjanjiannya. berbekal kedua tangan yang ku kepal, bersujud di depannya, mungkin bisa ia membatalkan atau mempermudah perjanjian itu.

Sebagai pembantunya selama 1 tahun, Membersihkan toilet namja, aih! Itu semua keterlaluan.

“bagaimana?” Tanyaku tetap dengan posisiku. Ia melirikku sebentar lalu kembali menatap kosong satu arah.

“Kau hanya perlu datang seperti yang kusuruh tadi. Oh ya, jangan lupa berdandanlah yang cantik. Pantas saja baekhyun hyung tak mau padamu. berdirilah, kau lebay ” Jawabnya dingin. Lantas aku langsung berdiri dan menepuk-nepuk rok ku.

“Kalau saja kau bilang dari tadi aku tak akan melakukannya pabo! Dasar bubble tea penuh aegyo” Aku mencubit pipi imutnya. Aigoo lembut sekali

“YA! aku bukan anak kecil yang bisa kau cubit pipinya sembarangan” Ia terlihat sangat lucu ketika ia berteriak dan berusaha melepaskan cubitanku. Aku hanya tertawa ria melihatnya.

“YA! berhenti! Yeoja macam apa kau hah? Sini kubalas kau” Sekarang ia yang membalas mencubit pipiku. Apa ini yang kau sebut dewasa, Oh Sehun?. Kami saling mencubit pipi hampir selama 5 menit. Lalu bel pulang memisahkan kami, membuat kami berhenti melakukan aktivitas dan langsung pergi ke kelas untuk mengambil Tas.

(…)

“Yoongie, dari mana saja kau?” Langkahku terhenti saat Yuri memanggilku. Aku menengok sejenak ke belakang lalu meneruskan langkahku ke kelas.

“Matamu terlihat bengkak. Waeyo?” Ternyata ia mengikutiku dari belakang dan terus bertanya.

“Tadi aku bersama sehun. Bengkak, benarkah? Gwaenchanhayo. Dimana baekhyun?” Jelasku padanya. Ia hanya mengerutkan dahi-nya.

“Ada apa?” tanyaku padanya.

“Aniyo, Akhir – akhir ini kau sering bersama sehun. Soal baekhyun, aku tak tau” benarkah aku sering bersama sehun? Ahh hahahaha.ingin sekali aku tertawa mendengrnya.

“Ntah lah. Okay, Mari pulang” Aku menarik tangan yuri untuk pulang. Namun ia tetap diam pada tempatnya.

“Hari ini aku diantar luhan” Aku memutar kedua bola mataku. Apa aku harus pulang sendiri hari ini?

“baiklah” Jawabku singkat. Yuri mengangguk lalu pergi meninggalkanku

(…)

Ini sudah pukul 16.00. hampir setengah jam aku jalan kaki. Herannya, aku tak sampai sampai ke rumah. Bis sialan itu meninggalkanku dan menyisakan aku seorang diri di sekolah. Karena ini sudah lumayan sore, bis jarang lewat dan akhirnya aku memutuskan memilih untuk berjalan seorang diri ke rumah. Aku menendang – nendang kaleng minuman yang ada untuk mengatasi kebosananku. Tapi saat aku akan mendang kaleng itu untuk yang ke enam kalinya, ada yang menarik tanganku dan menutup mataku.

“Hei lepaskan aku! Kau pikir tidak pusing melihat pemandangan hitam kelam, hah?! Lepaskan tanganmu! Tanganmu sangat bau!” Teriakku seraya berusaha melepaskan tangan itu dari wajahku. Ku rasa aku telah dibawa jauh dari tempatku yang semula.

“Tadaa!! Apa kau bisa melihatku? Aku menyiapkan ini untukmu! Bukankah kita sudah lama tidak kesini? Jadi ku ajak kau pergi kesini. Maafkan aku jika aku bersikap aneh dan– apa tanganku benar-benar bau?” Setelah beberapa kali aku mengerjap – ngerjapkan mataku, aku dapat melihat dengan jelas siapa orang di depanku– sebut saja byun baekhyun, dan tempat apa ini. Ini– bisa dibilang tempat aku, baekhyun dan Yuri berkumpul. Hampir saja aku melupakan tempat yang sangat indah ini. Berada di dekat danau, tak begitu jauh dari sekolah kami, rumah pohon, bangku kayu, lapangan kecil, Dedaunan dan bunga-bunga indah di sekelilingnya memberikan kesan sempurna untuk tempat ini. Wajar saja kami memilih tempat sempurna ini sebagai tempat bersama-sama kami. Jangan lupa, ini tempat rahasia dan hanya kami yang mengetahuinya.

Lambaian tangan baekhyun sukses membuyarkan lamunanku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk menstabilkan penglihatanku.

“Gwaenchanha? Duduk lah. Oh ya, yuri tak dapat datang ke sini. Ia bilang ia ada janji dengan luhan. Jadi– kita hanya berdua” Tanyanya. Sontak aku langsung berdiri dan berteriak

“arasso. HANYA BERDUA?!” baekhyun mengerutkan dahinya dan memiringkan kepalanya kekiri lalu menatapku. Hanya berdua, hanya berdua, hanya berdua, HANYA BERDUA.

“Waeyo?” Apa katanya? Waeyo? Apa ia tak berpikiran yang sama denganku? Aku hanya menggelengkan kepalaku dan ia tak merespon balik. Biarkan aku menjelaskan, ini adalah tempat dimana kami pertama kali kisseu. Saat itu kami sedang bersantai bertiga disana. Saat yuri sibuk memilih bunga-bunga di sekitar, tiba-tiba baekhyun menciumku lalu tersenyum. Ekspresiku? hanya diam dan tak bergerak.

Kami Saling bungkam selama kurang lebih 2 menit. Tiba-tiba kudengar baekhyun bernyanyi.

“Machi amugeotdo moreuneun airo geureoke dasi taeeonan sungan gachi

     Jamsi kkumilkkabwa han beon deo nun gamatda tteo boni

   Yeoksi neomu ganjeolhaetdeon ne ape gidohadeut seo isseo

   Dan han beonman ne yeopeseo bareul matchwo georeo bogopa han

   beon, ttak han beonmanyo
Neoui sesangeuro yeorin barameul tago

        Ne gyeoteuro eodieseo wannyago

       Haemarkge mutneun nege bimirira malhaesseo

       Manyang idaero hamkke georeumyeon Eodideun cheongugilteni”

Suara emasnya seakan-akan membawaku terbang. Bait demi bait yang begitu manis membuatku merasa orang yang paling beruntung mendapatkan sebuah nyanyian dari orang yang telah lama disukai. Jika memang lagu itu untukku. Apa aku harus bertanya lagu itu untuk siapa?

 

“Apa kau tak mau bertanya untuk siapa lagu itu?” Tanyanya. Ia menatapku sejenak. Lantas aku tetap bergeming dengan pikiranku sendiri.

“Untuk siapa?” Akhirnya dengan berbagai kumpulan kepercayaan diri dan keyakinan, ku beranikan bertanya padanya.

“Apa kau tak lihat disini ada berapa orang?” GOTCHA! Kurasa hatiku akan meledak. Ingin sekali aku berteriak dan meloncat dari Namsan tower?! Ohh tidak, jiwa menghayalku kambuh. Tak tau harus menjawab apa, aku memilih untuk diam.

“Untukmu” Jawabnya singkat. Tiba-tiba ia memelukku. Kau tau? Pelukannya sangat hangat , bau parfum wanginya– hingga membuatku melupakan hari yang semakin lama semakin larut dan berjam-jam kami disini. Dan sialnya, Ponsel perusak suasana milikku bergetar.

Alhasil ia melepaskan pelukannya.

“Sebentar, aku akan menerima telpon dulu” Ucapku. Ia mengangguk lalu aku menjauh darinya.

“Yoboseyeo?”

“…”

“bukannya jam 8 malam?

“…”

“Diralat? Maksudmu?”

“…”

“JAM 7 MALAM?! YAK Oh SEHUN! Ok ok. Mungkin aku akan terlambat beberapa menit”

“…”

Aku kembali mendekati tempat baekhyun. Baekhyun terlihat hanya duduk dan berkutik dengan ponselnya. Setelah aku berada dekat dengannya ia beralih menatapku.

“Apa tadi telpon dari eommamu? Ahh mianhe. kita terlalu lama disini. Sebagai permintaan maaf, biar ku antar” Tanyanya lalu mengambil tas nya dan menggandeng tanganku lalu pergi beranjak menaiki motornya.

“Untuk apa minta maaf. Kau tak melakukan kesalahan apapun. Bukan eomma, tapi temanku” Jelasku. Ia hanya tersenyum manis. Aku takut ia mengartikan ‘Untuk apa minta maaf. Kau tak melakukan kesalahan apapun’ bahwa aku menyukai perlakuannya tadi. kurasa aku mulai menggila kali ini.

Selang beberapa menit, kami sampai. Ia melambaikan tangannya lalu mengegas motornya sehingga cepat sekali menghilang dari pandanganku. Aku masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap, aku takut sekali dimarahi eomma. Untung saja tak ada yang menyadari kepulanganku.

Baiklah, mari kita mandi lalu berdandan!

“YOONA” Peringatan pertama! Saatnya jurus seribu kakiku bekerja. Baru saja aku melangkahkan kaki untuk tangga yang ke 7, eommaku meneriakiku. Aku melemparkan tasku sembarangan dan langsung pergi masuk ke kamar mandi.

(…)

“Baru kali ini eomma melihatmu memakai highheels dan dress pink selutut pemberian appamu” Tanya eommaku. Aku hanya tersenyum masam.

“ Aku hanya ingin seperti yeoja feminim seperti yang lain, eomma.” Jawabku malas. Eomma hanya tertawa lalu membetulkan ponytailku.

“Aish Jinjja. Anak eomma tak pernah menyisir rambut kah?” Tanya eommaku pelan. Aku hanya terkekeh kecil.

“Memangnya kau mau pergi kemana dan dengan siapa?”

“Aku ada janji dengan Sehun”

“Sehun? Namjachingumu? Kekeke. Akhirnya gadis eomma sudah terobsesi dengan namja. Tapi sepertinya eomma pernah mendengar nama itu sebelumnya”

Seketika aku terdiam. Eomma, apa maksudmu anakmu ini tidak normal atau terlambat normal?

Maksud eomma kau dulu jarang sekali dekat dengan namja. kecuali baekhyun pastinya” Terang eommaku yang masih setia memperbaiki sedetail mungkin penampilanku.

“Jinjja? Haha. tidak lucu. Eomma, gomawo sudah membantuku. Sampai jumpa” Aku tertawa seadanya lalu melambaikan tangan kemudian keluar dari area rumahku. Eomma membalas lambaian tanganku lalu menutup pintu. Aku berdiri seorang diri di depan rumah. Rumah ku berada di tepi jalan raya. Jadi, tak perlu masuk ke pelosok untuk pergi ke rumahku. Letak yang cukup strategis.

 

Hampir sepuluh menit aku berdiri. Tapi – Dimana sehun? Apa ia tak menjemputku?

Drrt drrtt ponselku bergetar. Terlihat nama pengirim pesan di layar homescreenku. Dari Sehun.

   From : Sehunaaaaaah

   “Hei, kenapa kau lama sekali?Aku bosan disini sendiri.

Tolong jangan katakan kau menungguku sedari tadi. Apa tadi aku mengatakan akan menjemputmu? Tidak. Aku tak akan menjemputmu pabo.”

OH SEHUN! KU BUNUH KAU!! NAMJA MACAM APA KAU HAH!!

JIKA SAJA KAU ADA DISINI, SUDAH KU PASTIKAN KAU JADI GEPENG.

~’’~

Apa boleh buat, Aku naik taksi kesana. Kalau saja ini tak menyangkut tentang perjanjian itu, Aku tak akan datang. Tadi nyaris saja aku ingin naik sepedah dan mengubah dressku menjadi kaos dan celana training. Untung saja hanya nyaris, kalau tidak aku sudah berlumuran keringat sampai disana karena jauhnya jarak rumahku ke Sungai Han.

“Permisi, kita sudah sampai” Ujar supir taksi yang kutumpangi.

“Kamsahabnida” Aku mengagguk lalu memberikan ongkos kemudian keluar dari taksi.

Aigoo~ Lihat ini, Dia duduk asyik meminum bubble tea dan menonton pemandangan. Ey! Aku punya ide. Tuhan, bisakah aku lancar menjalankan ide jahilku ini? Tolong lah sekali saja. Aku berdiri di belakangnya. Aku yakin ia tak menyadariku. Lihat saja, ia sibuk main game di ponselnya.

“Kau kira aku tak sadar, hm? Kau terlihat dari pantulan layar ponselku nona Im. Tiba-tiba ia berdiri berbalik menghadapku. Gagal, ya ini memang gagal. Aku hanya berpout ria. Sehun, dia memandangiku dari bawah hingga atas.

“Memangnya ada yang aneh dengan penampilanku? Jelek? Arraso arraso”

“Kau terlihat berbeda. Lumayan lah” Jawabnya blak blakan plus wink mematikan miliknya. UWAA!! Baru kali ini aku mendapatkan kedipan mata sesexy kedipan sehun. Mari kalian bayangkan. Memakai snapback, sepatu sneakers, Hairstyle-nya yang begitu WOW, T-shirt hitam , kemeja kotak-kotak merah yang hanya dia ikat di pinggangnya dan– celana selutut?! Mungkin kurang mendukung.

“Melamun nona? Aku tau kau mabuk wink ku, haha. Ambil ini, tadi waktu aku menunggumu kusempatkan beli bubble tea untukku dan untukmu juga” Ledeknya kemudian menyodorkan bubble tea rasa taro kepadaku.

“Untuk apa kau mengajakku kesini?” Tanyaku padanya.

“Tidak ada” Jawabnya singkat lalu kembali menyeruput bubble teanya. Aku pun begitu, kembali menyeruput minumanku. Tapi ada yang janggal.

“Sehun”

hm”

“Jika kau berpakaian seperti itu kenapa kau menyuruhku berdandan seperti ini” Tanyaku lagi lalu memandangnya sebentar kemudian kembali menyeruput. Ia menoleh sebentar.

“Aku menyuruhmu berdandan yang cantik. Bukannya aku menyuruhmu memakai dress yeoja feminism seperti itu. Kau mengerti maksudku? Lagi pula– tanpa make up kau tampak cantik”

CJUHH

Tak sengaja aku memuncratkan isi minuman bubble tea ku. Aku yakin ini sangat memalukan.

“Kau cantik tapi jorok nuna-ya” Ujarnya dengan tatapan seperti = :3 lantas kubalas dengan tatapan = -_-“

“Mian mian. Kau juga yang salah, berbicara di waktu yang salah” Jawabku lalu memutar bola mataku kesal.

“Kau yang salah pabo ya. Yasudah, mau jalan-jalan?” Ajaknya. Aku mengangguk kemudian kami menelusuri jalan di sekitar Sungai Han. Kau tau yang ada di pikiranku? Aku merasa sedang kencan dengan sehun. Ia memandangku sejenak, langsung saja ku palingkan wajahku menatapnya. Eh, ia memalingkan tatapanku. Aneh memang. Ini seperti kencan yang aneh.

“Ada apa?” tanyaku padanya. ia hanya menggeleng memegangi tengkuknya yang kukira tidak gatal.

“Sehuna, aku kedinginan” biar ku tes anak ini. Rela berkorbankah dia?. Ia membuka kemeja kotak-kotak merah itu dari pinggangnya kemudian menyodorkannya padaku. Lantas aku tersenyum dan mengambil barang sodorannya tadi. haa~ ia baik sekali rupanya.

“Dasar merepotkan”

Aku tarik ucapanku tadi. Karakternya benar benar saling berlawanan. Cool tapi asyik, menyebalkan tapi ngangenin, uhuk.

“Apa masih kedinginan?” Tanyanya lembut. Aku kembali mengetes. Aku mengangguk. Tapi lewat dari dugaanku. Tiba – tiba ia mendekapku hingga bubble tea kami jatuh. Astaga, pelukannya melebihi kehangatan pelukan appa ku. Nafasnya yang teratur berhembus di atas kepalaku. Ntah lah tapi aku rasa aku mengalami heartbeat. Detakan jantungnya teratur berbeda denganku. Beberapa menit kemudian ia bertanya

“belum hangat?” Aku menggeleng. Kami masih dengan posisi yang tetap.

“Sehuna, ini sudah cukup” Kataku lalu mendorong dada bidangnya lembut agar menjauh. Ia tersenyum. Kurasa pipiku berwarna pink merona detik ini juga. Oh tidak apa yang akan terjadi padaku selanjutnya?.

“ini sudah lumayan malam. Mari kuantar kau pulang” Ajaknya lalu menarik lenganku agar mengikutinya. Setelah sampai di dekat mobil sehun, hampir saja aku akan masuk namun sehun kembali menarik lenganku.

“Nuna-ya” Mata pure hazel-nya menatap dalam mataku. Apa maksudnya?

   “Aku–”

belum sempat ia menyelesaikan omongannya, teriakan seseorang memanggil namaku berhasil mengalihkan perhatian kami.

“sedang apa disini? eoh! Anak ini juga bersamamu. Hai sehun”

“Luhan , Yuri. Kami hanya jalan-jalan. Kalian?” Jawabku lalu balik bertanya pada mereka.

“Kami sedang berkencan. Apa dia sudah tau rencana kita?” Tanya Luhan sambil menunjuk sehun. Sehun hanya berdehem.

“Nuna. Mari pulang” ujarnya lalu masuk ke dalam mobil.

“Ne. See ya Yul! Nikmati kencan kalian!” yuri membalas tersenyum.

“Nikmati juga kencan kalian! Kkkk” ledeknya. Aku hanya memutar kedua bola mataku 3600. Ingin sekali highheelsku terbang dan berhenti tepat di wajah yuri.

Di dalam perjalanan keheningan menyelimuti kami. Pergantian Lantunan lagu dari mellow ke lagu b.a.p – stop it membuat kami terhasut ikut bernyanyi dan menghapus suasana keheningan. Konyol, suara kami sama-sama tidak begitu bagus. Gelengan kepala kami membuat kesan ‘gila’. itu membuat kami tertawa terbahak-bahak saat lagu itu selesai.

“Suaramu lucu”

“Suaramu lebih lucu”

“Tidak. Suaraku sangat manly, jadi tidak lucu.”

“Suaraku rock. Jadi juga tidak lucu”

.

.

.

Kami kembali tertawa. Tawa kami terhenti beberapa menit kemudian sebab kami telah sampai. Aku dan sehun pun keluar dari mobil. Kemudian aku melihat sekeliling. ini–

INI BUKAN RUMAHKU. INI APARTEMEN SEHUN..

Kami saling bertatapan mata tanpa di selingi percakapan.

“Mianhe. Aku lupa. Cepat masuk kembali”

.

.

.

.

“HAHAHAHAHAHA! Kau sangat lucu sehuna!” Kali ini tawaku lebih meledak. Apa anak ini tidak focus saat menyetir? kkkk.

“benarkah? Ternyata aku memiliki bakat terpendam. Haha, mari kuantar kau ke rumah mu yang benar” Kami pun kembali masuk ke mobil. Kali ini jalan yang kami tempuh benar, jalan menuju rumahku.

Setelah beberapa menit kami bergeming dalam keheningan, sehun yang pertama membuka percakapan antara kami.

“apa kau masih sering mimisan?”

“Ani. Wae?”

“kapan terakhir Check up?”

“ 2 bulan yang lalu”

“besok kuantar”

“begini, bukannya aku menolak bantuanmu, tapi aku harus bersama eommaku”

“untuk apa dia ikut” Perkataan yang baru saja meluncur dari mulutnya itu langsung membuatku ingin sekali memberi stempel memar berwarna ungu di pipinya. Yoona-ya, kau harus sabar dengan anak ini.

“Karena menurutku ia perlu ada di sampingku. Ahh ya, tadi kau mau bilang apa?”

“Yang mana?” tanyanya cepat dan tetap menyetir dengan stabil.

“Sebelum yuri dan luhan datang” Jawabku. Kali ini ia menurunkan kecepatan mobilnya.

“Oh. Lupakan itu”

“baiklah terserah apa katamu”

-Remember That I Love You (~’3’)~-

“Terima kasih sudah mengantarkanku” Aku membungkukkan badan kepadanya.

“Seharusnya aku yang berterima kasih. Masuk lah, maaf ini terlalu malam. Sampai jumpa.” Ia membungkukkan badan kemudian tersenyum kepadaku dan kembali masuk ke mobilnya. Memangnya ini jam berapa?. Aku merogoh ponselku lalu menghidupkannya.

Astaga, 22.10. Eomma tolong jangan mengunci rumah dan bukakan pintu untukku..

 

EOMMA-YA! ANAK MU ADA DI LUAR! TOLONG BUKA PINTUNYA!” teriakku dari luar dan menggedor-gedor pintu rumah berharap eomma membukakan pintu. Yeah, ada yang membuka pintu.

“OMONA!!” Teriakku. Siapa anak ini?

“Ah nuna. Cepat masuklah sebelum ku kunci kembali” bocah ini punya karakter yang hamper sama dengan sehun, Aish! . Aku buru-buru masuk lalu memegang bocah itu.

“Kau siapa dan kenapa kau ada di rumahku?” Aku mengintrogasinya serius dan mensejajarkan tinggiku dengannya. Ia hanya menatap ku malas. Benar-benar anak ini!

“Namaku Mino, Oh Mino. Sampai jumpa dan tidur nyenyak” Aku langsung membulatkan mataku. Mendengar nama marganya saja langsung berhasil membuatku terkejut. Ia berpaling menjauhiku. aku menarik lengannya sebelum ia pergi lebih jauh.

“Mino, apa kau akan menginap disini?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu menguap.

“Apa kau memiliki hyung?” Tanyaku lagi. Ia kembali mengangguk malas.

“Apa dia bernama Oh Sehun?”

“benar. Masih ada pertanyaan lain? Aku mengantuk” Cletuknya. Aku menariknya ke sofa dan duduk menonton tv. Jujur aku tertarik untuk meluncurkan beberapa pertanyaan padanya.

“Duduk atau tidur disini. Aku akan banyak bertanya padamu malam ini, tenang saja aku akan menyiapkan beberapa camilan. Oke, Ada apa sampai-sampai kau menginap disini?”

“Pertama, eommaku menitipkanku kepada eommamu karena eomma dan appaku akan sibuk selama beberapa bulan kedepan. Eommaku adalah sahabat eommamu, apa kau tidak tahu? Kedua, aku tidak mungkin tinggal bersama hyungku. Aku tak menyukai karakternya, ia mungkin tak akan memperdulikanku. Apa ada pertanyaan lagi?” Jelasnya padaku. Aku hanya mengangguk-angguk berusaha mengerti.

“Sikapmu dan hyungmu sama saja” Ujarku singkat. Ia menoleh menatap wajahku.

“Apa kalian saling kenal? Ahh, ku harap kau tak akan menyukainya” Ucapannya barusan membuat tenggorokanku terasa gatal. Batuk, aku batuk.

“baiklah kau boleh tidur sekarang, jaljayo mino-ah” Ia meregahkan badannya yang mungil di sofa. Tak lama kemudian ia terlelap. Wajahnya hamper mirip dengan sehun, hanya saja pipi mino lebih chubby. Aku mulai merasa kantuk juga. Lalu aku tidur bersebelahan dengannya. Belum saja beberapa detik aku mencoba menutup mataku, ponselku bergetar.

From : Sehunaaaaah

Apa mino ada di rumahmu? titip, tolong jaga dia. Mungkin aku akan sering ke rumahmu sekarang. Selamat malam, Jaljayo”

Ntah kenapa aku tersenyum membaca pesan dari sehun. Aku tak membalas pesan darinya dan memilih tidur. Tapi sebelum aku terlelap, aku hanya ingin bertanya pada Mino namun sayang mino sudah berkeliaran di alam mimpinya.

Mino, apa benar hyungmu tak memperdulikanmu?

 

(…)

Author POV

Matahari telah menapakkan cahayanya, namun rumah yoona masih saja terlihat sepi. Tak ada akivitas yang terjadi di dalam rumah itu. Namun tak lama kemudian, suasana berubah. terjadi acara teriak-teriak antara seorang namja kecil tampan nan chubby dengan seorang yeoja berperawakan ‘tinggi kurus cacingan’ yang masih saja terlelap di sofa dengan makanan ringan yang berserakan di sekitarnya. “YOONA! IREONA! Aish, dasar yeoja sikshin jorok. Jika aku sudah dewasa kupastikan aku tak akan memilih yeoja sepertimu. Aku bersumpah” Sudah berbagai cara ia lakukan untuk membangunkan yeoja shikshin dihadapannya yang masih bergelut dengan bantal rilakkumanya. Mulai dari menggoncang-goncangkan lengannya, memukulnya dengan bantal, namun usahanya tetap gagal. Namun ucapan mino beberapa detik yang lalu berhasil mengusik tidur yoona.

“SIAPA YANG MENGAJARIMU TIDAK SOPAN ADIK KECIL?! APA HARUS KU AJARI KAU AGAR MEMANGGILKU NUNA?!” teriak yoona sambil berdiri di atas sofa.

“Ne, ahjumma” Jawab mino enteng. Seolah-olah ia tak memiliki kesalahan. Kedua tangan yoona terlihat meremas piama tidurnya.

Anak.ini.sangat.menyebalkan.seperti.kau.ohsehun’ runtuk yoona dalam hati.

“baik, apa maumu oh sehun kecil?” Tanya yoona lembut dengan senyum paksaannya. Mino menggandeng jari-jari yoona. Ia memberi isyarat agar yoona mengikutinya. Setelah sampai tujuan, mino menunjuk pintu rumah yoona. Yoona bingung apa yang dilakukan mino.

“buka saja pintunya. Hyung akan kesini” Tutur mino polos. Yoona menatap mino tanpa kedipan beberapa detik. Mino pun begitu. Mereka yang polos, atau hanya mino yang polos?

“Mino sayang, aku tahu kau bisa membuka pintu sendiri, jadi–” yoona menghela nafasnya sebentar.

“kenapa kau harus menyuruhku untuk membukakannya?” Lanjut yoona.

“Apa kau tak tau kunci pintu itu disimpan di atas lemari oleh Im ahjumma?” Jawab mino. Wajahnya yang menggemaskan tak mengubah kesan ‘menyebalkan’ bagi yoona.

“Ahh ya. aku lupa” yoona mengabil kunci itu lalu membukakan pintu untuk mino.

“Memangnya eomma kemana?”

“Aku tak tahu”

“baiklah. Mari makan”

(…)

Yoona POV

“Hyung!” Teriak mino kemudian langsung berlari dari meja makan.

“Eomma, dari mana saja tadi pagi?” Tanyaku sambil mengunyah sarapan pagiku.

“Habis bertemu Nyonya Xi, sahabat eomma” Jawab eomma. aku hanya mengangguk-angguk mendengarnya. Dari arah pintu terlihat seseorang tengah menggandeng mino, oh sehun rupanya.

“Permisi ajhumma, bolehkah aku sarapan disini?” Tanyanya sopan pada eommaku. Kami sempat eyes contact sebentar sebelum aku membuang muka.

“Kami membolehkan siapa saja bergabung. Mino, apa dia hyungmu?” ey eomma, kenapa kau mengizinkannya ikut sarapan pagi bersama kita? Aku jadi tidak nafsu makan.

“Ne. Dia Oh sehun, hyungku. Hyung, duduklah” Jawab mino menyuruh sehun duduk. Sehun menundukkan badannya dulu sebelum duduk.

“Eomma, aku berangkat ke sekolah dulu. Nanti titipkan salam jika appa sudah datang. Annyeong eomma, mino” salamku lalu beranjak pergi dari meja makan.

“Ahjumma, kalau begitu aku juga pamit. Nuna, berangkat denganku?” Ajak sehun.

“Tidak terima kasih.”

Eomma buru-buru menyuruh kami kembali duduk. “Hei kalian ada apa? Habiskan dulu sarapannya. Sehun– apa kau yang mengajak yoona keluar malam itu? ” Tanya eomma. Sehun hanya mengagguk lalu memakan sepotong roti yang ada di depannya.

(…)

“Ahjumma, Kamsahabnida. Kami pergi dulu”

“Eomma, mino. Sampai jumpaaa”

Setelah berpamitan, kami melangkah masuk ke mobil. Sebenarnya aku sudah menolak ajakan sehun. Hanya saja eomma menyuruhku agar berangkat bersamanya.

“Apa mino bersikap manis di depanmu?” Tanya sehun di tengah perjalanan.

“Tidak. Sifatnya sama sepertimu, menyebalkan” Jawabku ketus. Ia hanya tersenyum sendiri dan tetap focus pada jalan. Aku memandang sehun aneh.

“Apa ada yang salah? Apa kau gila?”

“Tidak”

“Baiklah”

Selama 12 menit menempuh perjalanan dengan tingkah ‘absurd’ kami, akhirnya sampai di sekolah. Lihat saja berapa banyak gadis-gadis menyambut kedatangan kami di parkiran. Ralat, menyambut kedatangan sehun maksudku. Saat kami baru saja keluar dari mobil, teriakan histeris ‘penggemar’ sehun mewarnai setiap jalan yang kami lewati.

“OMONA SEHUNAA!”

“SEHUN!”

“HARI INI KAU TAMPAN SEKALI SEHUNA! Tapi– siapa gadis jalang di sampingmu sehuna?“

“Menurutmu?” Tanya sehun lalu memelukku. Sontak aku melepaskan pelukannya. Penggemar sehun hanya diam dengan mulut menganga. Oh tidak baru saja ku lihat baekhyun lewat. Oh tidak.

“Sehuna terima kasih tumpangan tadi. Aku pergi dulu” Aku berlari menyusuri lorong-lorong menuju kelasku. Tak sengaja ataukah beruntung, aku bertemu baekhyun. Ia menatapku sebentar lalu tersenyum.

“Chukkae. Kenapa kau tak bilang sejak kapan kalian berpacaran?” pertanyaannya sukses menepukku.

“Maksudmu–“

“Ya. Kau dan Oh Sehun”

“Kami tidak berpacaran baekhyunah”

“Tadi? Oh okay, aku tak akan mengintrogasimu. Mari ke kelas bersama”

Aku mengangguk, Kemudian kami berjalan bersama. Sesampainya di kelas, bertanya pada baekhyun.

“bagaimana hubunganmu dengan taeyeon unni?”

“hubungan? Berinteraksi saja tidak pernah” Jawabnya singkat. Reaksiku hanya berdiri mematung dengan tatapan kosong.

“Morning deer” Sapa yuri yang baru saja datang. Aku membalasnya dengan senyuman.

“Deer, sepertinya ada yang salah denganmu”

“Aku baik-baik saja”

(…)

Author POV

Bell tanda pulang sekolah bergema. Semua murid-murid di sini berlalu lalang tidak karuan. Di sebrang jalan terlihat seorang gadis yang tengah sibuk mengotak-atik gadgetnya.

“Oh sehun, dimana kau?” rutuknya. Tak lama kemudian ponselnya bergeming.

“Yoboseyeo? Sehuna, aku tak akan check up hari ini. Eommaku sedang pergi, ia menyuruhku menemani mino”

“…”

“Terserah. Aku tutup dulu telfonnya.”

Setelah menutup telfonnya, gadis tersebut berjalan menuju halte bus. Belum saja ia berjalan tak terlalu jauh, ada saja orang yang menabraknya hingga ia terjatuh. Lututnya berdarah, Ia meringis kesakitan.

“Gwaenchanha?” tanya seseorang mendekatinya.

“Aku baik-baik saja. Baekhyun?” baru saja ia menyadari siapa orang yang bertanya padanya. baekhyun buru-buru membantu yoona duduk di samping trotoar. Setelah mereka duduk, Baekhyun menggeledah isi tas miliknya.

“Ini. Pakai ini” tutur baekhyun lalu menyodorkan sebuah handsaplas bergambar doraemon kepada yoona.

“Doraemon?”

“Pakai saja. Tak usah banyak tanya” baekhyun memasangkan handsaplas tepat di luka yoona.

“Kuantar kau pulang”

TBC

Yoyoyo~ Aku kembalii. tiba – tiba aku jadi mood buat ngepanjangin ff ini /? ‘-‘ mungkin ntar di ralat gak tau sampe chapter berapa xD. Oh ya, aku ralat ubah lagi genrenya😄 #dasarlabil /plak/ Makasih Poster menakjubkannya @posterchannel😀

makasih buat readers yang masih mau mantengin ff gaje ku xD maaf untuk segala kekurangan cerita ini. chapter masih kurang panjang/? Kecepetan/? Aku rapopo :’v

maap chapter ini kebanyakan moment yoonhun ‘-‘

Luhan. gak tau dah author :” kayak kehilangan separoh dari kecintaan ke exo :’v soalnya dia top 5 biasku :’3 bye~ Tetep biasain RCL yo~ jangan jadi readers nakal ._. Tunggu next Chap yahh~ Kamsa :*

#StayStrongSNSD

#GetWellSoonLuhan❤

#AlwaysSupportLUHAN

#STAYSTRONGEXOL :”

31 thoughts on “(Freelance) Remember That I Love You (Chapter 3)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s