2nd Unperfect

unperfect2
.

UNPERFECT

by chiharu

Cast

Im Yoona | Xi Luhan | Annalise Dync (OC) | Kim Jongin | Oh Sehun

Genre

Psycho | School-life | Romance | Friendship | Drama

Rating

PG15

Disclaimer

Pure mine, don’t claim this as yours.

“Hey kalian!”

Mata mereka mendapati sesosok gadis berambut pirang tengah melongo di pintu. Gadis itu menyunggingkan senyumnya, seolah tak ada lagi kesempatan menunjukkan senyuman terbaiknya di lain waktu.

“Hey!” Luhan membalas sambil menyunggingkan senyum.

Yoona hanya diam, ia menyadari sesuatu, ya… Mereka sudah saling mengenal.

“Ada apa kalian disini? Apa sedang berlatih bermain piano?” gadis itu bertanya dengan matanya yang terlihat antusias dan mengkilat.

“Kami sedang bernyanyi.” Luhan menjawab.

Huft. Yoona sama sekali tidak berminat untuk menjawab pertanyaan gadis itu—ia juga tidak tahu itu pertanyaan yang benar datang dari hati atau hanya untuk sekedar berbasa-basi guna mendapatkan perhatian sang pangeran. Yoona muak dengan gadis itu, Anna.

“Hmmm… Kedengarannya itu sangat bagus, bagaimana kalau kita bernyanyi saja.”

“Sekarang?” Yoona menatap Anna dengan mata yang penuh kilat, seolah memberikan sanggahan pada gadis itu. Cih! Dasar munafik. Gestur tubuhnya menunjukkan kalau dia tidak suka dengan Anna, dengan kehadiran Anna.

“Mmm… Terserah.” jawab gadis itu dengan santai. “Luhan oppa, maukah kau memainkan satu lagu untukku?” gadis itu meminta layaknya kucing yang sangat cantik. Tiba-tiba mata Yoona mengekor kearah Luhan dan mendapati lelaki itu tersenyum. Biasa. Luhan akan memberikan senyuman itu kepada siapapun.

“Baiklah.”

///

Jam istirahat terasa sangat membosankan. Ini adalah istirahat kedua. Yoona masih diam dan memilih duduk di bangku kelasnya. Tidak ada siapa-siapa disana.

Ia masih terfikir tentang surat bodoh di majalah dinding tadi pagi. Dan beruntung, dia tidak langsung menyerang gadis itu saat gadis itu datang menghampirinya, menghampiri mereka.

Bodoh. Akan sangat bodoh jika ia melakukannya. Biarkan saja semuanya berjalan, sejauh apa akting gadis London itu? Setebal apakah kulit wajahnya? Kita lihat saja nanti.

“Sedang apa?”

Yoona mendongkak dan sedikit tercengang. Satu detik kemudian, ia tersenyum simpul. Tipis. Tak ada ekspresi berarti di wajahnya.

“Kenapa kau senang duduk dekat jendela?” Lelaki berkaca mata tebal itu melontarkan pertanyaan. Lelaki itu adalah teman sekelas Yoona, hanya saja Yoona belum kenal betul atau ‘tidak mau kenal’ dengannya.

“Aku hanya suka.” jawab Yoona dengan singkat. Ia tidak suka berbasa-basi, terlebih dengan orang-orang di sekolahnya ini, orang. bukan teman.

“Apa kau punya buku bagus untuk dibaca?”

Yoona mengernyit dan mendengkur dalam hati. Lelaki berkaca mata tebal ini sepertinya sedang mewawancarainya. Yoona tidak suka. Kelas kosong bukan ajang untuk berbasa-basi tidak penting. Terdengar sadis dan egois, memang. Toh mungkin esok atau mungkin beberapa jam lagi tidak akan ada yang menyapanya di sekolah, mungkin jika lelaki ini berpapasan dengannya ditengah-tengah murid, lelaki itu mungkin akan diam saja, mengabaikannya, melupakannya. Jadi, menurut seorang Im Yoona yang ‘alergi’ dengan orang-orang sekolah yang menurutnya munafik, ini tidak ada gunanya. Tambahan! Ada pengecualian, Luhan tidak munafik.

Yoona? Seperti ini? menurutnya salahkan saja dia… Si gadis berambut pirang, Annalise Dync. Yang telah mengubah semuanya.

“Hei, kenapa melamun?” Lelaki itu memekik membuat Yoona sadar dan kembali fokus terhadap lelaki ber-name tag Oh Sehun itu.

“Kurasa aku lupa, semua buku di perpustakaan bagus, kau bisa meminjamnya.” jawab Yoona yang mungkin sudah ingin mengakhiri percakapan ini. Ia menatap keluar jendela dan menemukan sosok yang menarik perhatiannya. Mungkin ini bisa menjadi alasan menghindar dari topik aneh dan tidak jelas ini. Ya.

“Sehun-ssi, maaf. Aku permisi dulu.”

///

“Kai, kau minum berapa gelas? Kau kelihatan sangat hancur kali ini.”

Lelaki yang dipanggil Kai itu hanya tersenyum. Terkekeh tidak peduli. Sebenarnya namanya Kim Jongin, hanya saja dirinya lebih populer dengan nama Kai dikalangan teman-temannya.

“Walaupun sudah mandi, kau kelihatan sangat hancur, Bro.” lelaki yang sedari tadi mengoceh itu menepuk pundaknya dibarengi dengan sedikit kekehan lalu menatapnya, seolah meminta seorang Kai bercerita.

“Ini masalah biasa.” jawabnya dengan tenang, tapi matanya tidak mnunjukkan ketenangan itu. Sendu. Tapi terlihat ingin berontak dan masih menunjukkan kekuatannya.

“Hmmm…. Aku mengerti, maafkan aku.” balas rekannya dengan raut wajah menyesal.

“Hidup dalam keluarga besar itu tidak mudah, Yeol.” gumam Kai masih dengan ekspresi yang sama. Seorang Park Chanyeol—rekannya menolehkan kepala lagi kearahnya seolah memintanya bicara lagi. “Terkadang apa yang kita suka belum tentu membuat keluarga senang dan bangga. Contohnya seperti nenek dan kakekku.” ucap Kai yang kemudian tersenyum getir.

Ia tidak suka dengan kehidupan keluarganya. Tinggal bersama kakek dan nenek juga satu orang sepupunya, seumuran. Mereka selalu menyebut nama itu, membanggakan si pemilik nama itu. Tapi mereka lebih sering menyebut namanya ‘Kim Jongin’ beserta hal-hal negatif, menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, urakan, tidak jelas, tidak pintar, berandal dan kata-kata tidak jauh dari sejenisnya.

Ia akui itu memang benar, ia seorang yang urakan. Kim Jongin yang dimata keluarga dikenal dengan cap seperti itu, senyumannya luntur karena satu nama lagi, nama sepupunya. Ya, sepupunya yang lebih banyak menorehkan prestasi ‘bergengsi’ dan lebih baik daripada prestasi milik Kai.

Ia sering mendengar sepupunya menyukai namanya, Si Rusa—yang sering disebut dengan kebanggan—Xi Luhan.

Tapi berbeda dengan seorang Kai, ia tidak suka nama aslinya. Ia benci orang-orang memanggilnya Kim Jongin—yang selalu dibuntuti dengan hal-hal tidak baik. Padahal, ia hanya berontak.

Ia tidak suka nama aslinya, ia benci Kim Jongin.

///

Hari ini kelas sudah selesai. Seorang Annalise Dync tengah terduduk di bangku taman depan kelas Yoona. Ya, mereka pergi dan pulang sekolah bersama. Ia sengaja duduk untuk menunggu Yoona—yang kebetulan kelasnya belum keluar.

Ia teringat akan surat itu. Tadi pagi.

Hari itu, ia mencoba masuk ke dalam kamar Yoona. Ruangan yang begitu menarik perhatiannya karena penasaran. Yoona jarang keluar dari ruangan itu. Ia menemukan sebuah diary dan membacanya dengan lancang. Ah, ia tidak peduli.

Ia begitu tertarik saat ada isi dari diary itu hampir sama dengan isi ambisinya, yang ia katakan sebagai isi perasaanya. Ya, Yoona menyukai Luhan, sama seperti dia.

Entah pikiran gila apa, yang jelas ide itu mucul menari-nari di dalam otaknya. Ia akan membawa selembar tulisan tentang Luhan dari dalam diary Yoona. Ya, ia pikir akan berhasil. Tapi murid-murid sudah cukup, mereka menertawakan Yoona. Tapi ada satu hal yang ia sayangkan… Masih kurang.

Yoona tidak menyerangnya dan bersikap tenang, walaupun dingin. Seperti biasa.

Ugh… Kenapa? Ia selalu iri saat melihat Yoona. Padahal siapa dia? Hanya anak pembantunya.

Gadis itu pandai merangkai kata-kata.

Gadis itu dekat dengan Luhan.

Gadis itu pandai menggambar dan melukis.

Gadis itu pandai menari.

Pffffffft! Entah kenapa menyadari fakta-fakta itu, Anna merasa ingin bertanding dengan Yoona, seolah-olah merebut apa yang gadis itu miliki, mengubah imagenya di sekolah semenjak dua bulan yang lalu.

Dan bagusnya…

Mereka percaya. Mereka mendukung aksi Anna yang tadinya agak ia ragukan. Tapi tetap saja…

Ia merasa iri pada gadis itu. Apa yang dia miliki, apa yang dia bisa.

Huft, ia lelah.

“Ayo kita pulang.”

Anna mendongkak dan mendapati wajah datar milik Im Yoona.

Huh. Rupanya orangnya sudah datang.

“Baiklah.” ia bangkit dan berjalan lebih dulu. “Ohya, sekarang kita naik taksi. Biar aku saja yang bayar.”

Yoona tidak menjawab, mereka tetap berjalan menuju gerbang sekolah dengan tenang. Tidak ada yang membuka percakapan. Tidak ada yang berminat sama sekali. Dua orang yang saling membenci. Rasanya menyedihkan jika harus terlihat bersama. Ha!

///

Yoona menyetop taksi yang lewat. Kebetulan sore ini hujan cukup deras. Mereka berdua masuk ke dalam taksi.

“Pak, tunggu. Aku buru-buru. Mmmm… Bisakah kalian, nona-nona, mengalah untukku?”

“Apa? Tidak bisa!” tukas Anna dengan cepat. Enak saja, mereka yang duluan menyetop dan sudah masuk ke dalamnya.

“Tidak bisa. Aku sudah ditunggu.” lelaki itu tetap bersikeras. Oh ayolah, seorang lelaki memohon kepada perempuan?!

“Tidak bisa. Kurasa kau harus cari taksi yang lain.” kali ini giliran Yoona yang bicara. Ia menatap lelaki itu dengan tatapan yang heran.

“Aku seorang dancer, kau tahu? Kehadiranku sangat dibutuhkan sekarang…. Oh ayolah, hujan semakin besar, bisa-bisa bajuku basah.” timpal lelaki itu tidak mau kalah. Benar-benar keras kepala! Masa bodohlah dengan air hujan yang mengenainya. Yoona dan Anna tidak peduli.

“Baiklah, aku saja yang turun. Yoona, kau minta bayar saja pada lelaki ini.” ucap Anna yang langsung membuat Yoona tercengang. Dengan cepat, Anna keluar dan tidak tahu pulang naik apa. Dan dengan bodohnya, lelaki itu naik tanpa dosa dan menyuruh sang sopir untuk jalan.

Yoona menatap kebelakang memastikan Anna, lalu ia menatap lelaki itu kesal. Oh ayolah, mungkin Anna adalah rivalnya, tapi perempuan bukankah harus diutamakan daripada laki-laki?! Dasar lelaki aneh!

Sepanjang perjalanan, Yoona melihat orang itu dengan tatapan aneh. Lelaki itu menggunakan jaket yang berbahan jeans—jaketnya sudah agak kusut, dan celana jelans hitam yang pekat. Ia sedikit ragu kalau lelaki itu bisa membayarkannya ongkos taksi ini.

“Sebentar lagi aku turun.”

Lelaki itu menoleh dengan tatapan aneh, keningnya berkerut.

“Memangnya kenapa?” lelaki itu bertanya dengan sedikit kekehan.

“Kau harus membayarkanku ongkos taksi ini, bukankah begitu?”

“Wah! Siapa yang bilang?!”

Yoona memutar bola matanya. Kesal.

“Aku yang mau. Memangnya kenapa?”

Lelaki itu terkekeh dan menatap Yoona seolah-olah Yoona adalah orang bodoh. Ckck. Yoona mendecik. “Ini serius.”

Lelaki itu berhenti saat melihat mata Yoona yang menatap tajam padanya. Wow, cool!

“Aku tidak ingin satu taksi denganmu, dan kau memaksa lalu membiarkan… Temanku mengalah. Where’s gentleman? Ow, gentlemvn!”

Lelaki itu tersenyum menanggapi perkataan Yoona. “Kau bahkan tidak tahu namaku, kau berani meminta uang dariku?” ucapnya dengan kekehan, lagi.

“Bagiku tidak penting tahu siapa namamu.”

“Wow! Cool gurl! Apa benar? Kau tidak ingin tahu namaku?”

Yoona mendelik tidak menjawab. Ia merasa terkutuk satu taksi dengan orang aneh ini.

“Namaku Kai.”

Yoona mengangkat alisnya. Nama yang bagus, unik. Pikirnya dalam hati.

“Berhenti disini, pak. Aku turun dulu, jangan lupa bayar ongkosku. Terima kasih, mmm… Kai.” ucap Yoona yang kemudian turun dengan cuek dari dalam taksi.

Jelas. Itu membuat Kai terkekeh, lagi. “What a freak girl!”

.

.

To be continuou

.

.

Haloooooo~ udah lama ini ga apdet. Unperfect chap 2 keluar nih! Ayo baca wkwkwkwk. Maaf ya baru apdet, soalnya sibuk sama urusan sekolah.

Ohya, selamat hari Sumpah Pemuda!😀

ini ceritanya gimana? Aneh? Complicated? Atau freak? Bhaaaaq

iya udah deh, segitu aja. Ditunggu chap selanjutnya yaaa😀

48 thoughts on “2nd Unperfect

  1. semoga Luhan nya juga suka sama Yoona.
    dan semoga Kai juga suka sama Yoona…:p
    huhhh.ijin baca chapter 3 nya yah thor. aku ketinggalan jauh sama reader lain-_-
    oke thor,keep writing and fighting yeah^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s