Reincarnation

reincarnationReincarnation

Sequel of Beautiful Ghost

by cloverqua | main cast Park Chanyeol – Im Yoona

other cast Oh Sehun

genre Family – Fantasy – Married Life – Romance | rating PG 15 | length Oneshot

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

Pagi sunyi, menyelimuti sebuah rumah yang berpenghuni 3 orang. Sepasang suami-istri, serta adik sepupu dari pemilik rumah tersebut. Dan masih ada yang menghuni rumah itu, walaupun wujudnya berbeda. Roh anak kecil yang senantiasa menemani ketiganya.

Rumah tersebut adalah rumah milik keluarga Park Chanyeol beserta istrinya, Im Yoona—wanita yang sudah dinikahinya sejak 2 tahun silam. Adik sepupu Chanyeol bernama Oh Sehun, yang beberapa bulan lalu telah lulus dari pendidikan universitasnya. Sementara roh anak kecil itu bernama Jongin.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Chanyeol masih tertidur di ranjang kamarnya. Bisnis restoran miliknya yang berkembang pesat—sangat menyita waktu Chanyeol untuk beristirahat. Tak heran jika ia memiliki waktu yang minim untuk tidur. Jika sudah begini, Yoona yang harus selalu mengingatkan suaminya untuk beristirahat cukup agar tidak jatuh sakit.

Chanyeol mengerjapkan kedua matanya, ketika ia menyadari sang istri sudah bangun lebih dulu. Benar saja. Yoona memang tidak ada di sebelahnya. Hal itu lantas mendorong Chanyeol bangkit dari ranjang dan bergegas menuju dapur. Ia mendapati Yoona tengah menyiapkan sarapan untuknya dan juga Sehun.

“Yoona?” Chanyeol menatapi istrinya yang sibuk berkutat dengan peralatan dapur. Ia langsung menghampiri Yoona dan menarik sebuah kursi. Menyuruh Yoona duduk dan mengambil alih pekerjaan istrinya.

“Sudah kubilang, biar aku yang menyiapkan sarapan,” ucap Chanyeol mengingatkan.

“Tapi—”

“Aku tidak mau kau kelelahan. Jika terjadi apa-apa dengan kandunganmu bagaimana?” lanjut Chanyeol tersenyum simpul. Ia lalu mengusap perut Yoona yang sudah dalam kondisi membesar. Ya, saat ini Yoona memang tengah mengandung anak pertama mereka. Usia kehamilan itu sudah memasuki bulan ke-9. Artinya, tak lama lagi anak mereka akan segera lahir.

Yoona tersenyum geli. Ia mengusap kedua pipi Chanyeol dengan lembut.

“Kau manis sekali, Yeol,” puji Yoona atas perhatian yang diberikan Chanyeol untuknya. Pujiannya itu sukses membuat wajah Chanyeol memerah.

Seperti mendapat suntikan kekuatan, rasa kantuk yang mendera Chanyeol langsung hilang. Chanyeol terlihat cekatan menggantikan tugas Yoona menyiapkan sarapan.

Yoona memandangi suaminya dengan wajah yang bahagia. Sesekali ia mengusap perutnya. Ia merasakan tendangan kecil yang membuatnya kaget.

“Yeol, dia menendang!” teriak Yoona senang dan disambut Chanyeol antusias. Pria itu segera mendekatkan telinganya pada perut Yoona. Wajahnya kembali sumringah setelah mendengar suara dari dalam perut Yoona. Chanyeol mengusap lagi perut Yoona dengan lembut dan penuh kasih sayang.

“Saat ini appa tengah menyiapkan sarapan untuk ibumu. Kau jangan membuat ibumu kesulitan ya?” ujar Chanyeol seperti biasa selalu mengajak bayi yang berada di kandungan Yoona berbicara. Yoona tersenyum melihat sikap Chanyeol tersebut.

“Selalu saja setiap pagi aku melihat pemandangan yang membosankan . . .” tiba-tiba terdengar suara bass yang berhasil membuat Chanyeol menoleh tajam—pada sepupunya yang kini telah berusia 22 tahun.

“Diamlah, Oh Sehun! Jika kau banyak protes, aku jamin kau tidak akan mendapatkan jatah sarapanmu,” balas Chanyeol galak.

Wajah Sehun yang tadinya tampak jahil—berubah 180 derajat. Kini ia memasang wajah melas dan memeluk lengan Chanyeol. Sama seperti sebelumnya, Sehun bertingkah dengan manjanya—meminta kakak sepupunya itu untuk memaafkan sikap jahil yang dilakukannya.

Yoona tak bisa menahan tawanya. Ia melihat yang dilakukan Sehun terhadap Chanyeol, persis seperti kucing peliharaan yang meminta makan pada majikannya.

Sesaat Yoona menghentikan tawanya, ketika ia menyadari kehadiran Jongin di dapur. Wajah Jongin yang murung tak seperti biasa—yang selalu ceria, membuat Yoona penasaran dengan kondisi roh anak kecil itu.

“Jongin-ah?” Yoona memanggil Jongin untuk mendekat. Jongin hanya mendongakkan kepala lalu menggeleng pelan. Hal itu semakin menambah rasa penasaran Yoona.

“Ada apa?” tanya Yoona lagi. Ia mencemaskan Jongin, meskipun wujud mereka berbeda. Jongin sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Tak hanya Yoona dan Sehun, Chanyeol yang kini sudah terbiasa berinteraksi dengan roh juga sangat sayang terhadap Jongin.

Jongin berjalan dengan langkah pelan dan tak bersemangat. Kepalanya tertunduk sampai ia berhenti di depan Yoona. Jongin terdiam, Yoona masih menunggunya untuk berbicara. Namun yang terjadi kemudian, hanya tangis Jongin yang terdengar.

Tentu reaksinya itu membuat Yoona kaget bukan main. Begitu pun Chanyeol dan Sehun—yang sebelumnya masih beradu mulut sampai tidak menyadari kehadiran Jongin. Kini ketiga orang itu hanya saling menatap dengan raut kebingungan di wajah masing-masing. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Jongin?

.

.

.

Suasana sarapan di ruang makan sedikit kaku. Bukan karena ada pertengkaran yang terjadi dalam rumah itu. Semua orang hanya tengah terdiam—menatapi salah satu penghuni rumah yang kini masih terisak di hadapan mereka.

“Jongin-ah?” suara Chanyeol terdengar memecah keheningan. “Kenapa kau menangis?” lanjutnya.

Hening. Belum ada tanda-tanda keluarnya suara Jongin. Ia masih terdiam dan berulang kali menggelengkan kepala.

Sehun yang duduk di sebelah Jongin mulai tak sabar, “Katakan saja pada kami.”

Jongin menatap Yoona dan Chanyeol. Keduanya mengangguk kompak—setuju dengan ucapan Sehun.

“Aku—” Jongin akhirnya mulai bersuara, “Aku merindukan keluargaku.”

“Ha?”

Ketiga orang itu memperlihatkan reaksi yang sama. Dahi berkerut dan bola mata yang membesar. Wajah mereka tampak bingung.

“Melihat kebersamaan kalian, aku jadi merindukan keluargku,” lanjut Jongin.

“Keluargamu?” ulang Yoona dan dibalas anggukan Jongin.

“Sebentar—” Sehun mencoba menengahi pembicaraan yang sedikit membingungkan tersebut. “Kau belum pernah bercerita pada kami tentang kehidupanmu sebelumnya. Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

Jongin mengangguk patuh, “Ne, katakan saja hyung.”

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa—kau berakhir dalam wujud roh seperti sekarang dan tinggal di rumah ini?” tanya Sehun terlihat seperti detektif yang tengah menginterogasi.

“Sebenarnya—” Jongin menatap ketiga orang di sekitarnya dengan sorot mata serius. “Aku sudah tinggal di sini selama 100 tahun.”

“100 tahun?!”

Jongin terkekeh pelan melihat reaksi semua orang yang begitu kaget dengan pengakuannya.

“Kau tidak sedang bercanda kan?” tanya Chanyeol tidak percaya.

Sehun menatapi Jongin yang tersenyum simpul, “Sudah kuduga. Kau sepertinya memang telah lama menghuni rumah ini. Aku bisa menebaknya dari pakaian yang kau kenakan. Lebih terlihat kuno dan ketinggalan zaman.”

Yoona menelisik satu per satu tubuh Jongin—termasuk pakaian yang dikenakannya. benar yang dikatakan Sehun, pakaian Jongin memang terlihat sangat kuno.

“Mungkin lebih tepatnya—Jongin sudah lama tinggal di tanah tempat rumah ini dibangun. Tidak mungkin rumah ini sudah ada sejak 100 tahun yang lalu kan?”

Chanyeol mengangguk, “Ne, kau benar. Seingatku, rumah ini dibangun ayahku semenjak kami pindah ke Seoul. Sebelumnya kami tinggal di Incheon dan saat kami pindah ke sini, kata ayahku yang ada hanyalah sebuah tanah kosong.”

“Lalu—apa yang terjadi saat 100 tahun yang lalu?” tanya Sehun kian penasaran.

Jongin terdiam sejenak sambil memandangi semua orang yang menatap ke arahnya.

“Rumahku—berada di atas tanah ini. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan juga pamanku. Pamanku adalah sepupu dari ayahku yang ikut tinggal bersama kami. Kehidupan kami selalu diwarnai kebahagiaan. Suasana di rumah sangat kental dengan kekeluargaan,” ucap Jongin mulai menjelaskan kisahnya.

“Ibuku sangat cantik, seperti Yoona-noona. Sedangkan ayahku, dia jauh lebih tampan dari Chanyeol-hyung,” lanjut Jongin dengan nada bercanda. Yoona dan Sehun terkekeh mendengar ucapannya.

Chanyeol mendesah pelan sambil melahap makanannya, “Dasar. Kau tetap saja meledekku.”

Jongin tertawa sampai pipinya menggembung. Terlihat sangat menggemaskan.

“Kalau pamanmu bagaimana?” tanya Sehun.

“Dia sama jahilnya seperti dirimu, hyung. Yang selalu menjahili Chanyeol-hyung setiap hari,” jawab Jongin.

“Ternyata di masa lalu ada juga orang seperti dirimu,” sahut Chanyeol tajam dan dibalas tatapan malas Sehun.

“Apa yang terjadi denganmu dan juga keluargamu?” giliran Yoona yang bertanya. Sesekali ia mengusap perutnya sambil mendengarkan cerita dari Jongin.

“Suatu hari, tepatnya pada hari Minggu. Aku tidak ingat tanggal pastinya kapan. Waktu itu, kami menikmati kebersamaan kami selama seharian penuh di rumah. Aku bermain petak umpet dengan pamanku. Aku bersembunyi di gudang rumah karena yakin pamanku tidak akan berhasil menemukanku di sana. Sementara ayah dan ibuku sedang menyiapkan sarapan,” ucap Jongin.

“Saat itu aku tidak menduga, sebuah bencana besar akan terjadi dan mengguncang daerah kami,” lanjut Jongin.

“Bencana besar?”

“Aku yang tengah bersembunyi di antara tumpukan barang di gudang, merasakan ada getaran hebat di bawahku. Tanah yang kupijaki terasa bergoyang. Semakin lama guncangan itu semakin kuat, sampai beberapa barang yang ada di gudang berjatuhan menimpaku. Aku bingung dan menangis ketakutan sambil berteriak memanggil orang tuaku dan juga pamanku. Tapi aku sama sekali tidak mendengar suara dari mereka,” ujar Jongin.

“Bencana gempa bumi?” tebak Sehun. “Ah, aku pernah membaca sebuah berita lama. 100 tahun yang lalu, daerah di sini memang pernah terkena gempa bumi yang sangat dahsyat. Hampir seluruh penduduknya tewas akibat bencana tersebut. Dalam berita juga disampaikan bahwa daerah terparah adalah daerah di sini. Semua bangunan tidak ada yang tersisa dan rata dengan tanah.”

“Jadi—kau meninggal karena bencana itu?” Yoona tak mampu menahan air mata yang mengaliri pipinya. Ia merasa iba dengan kisah Jongin. Hal yang sama juga terlihat dari raut wajah Chanyeol dan Sehun.

Jongin mengangguk, “Selain tertimpa barang di gudang, tubuhku juga tertimpa bangunan gudang yang roboh. Aku menangis sekeras mungkin, berusaha memanggil orang tua dan juga pamanku. Tapi tak satupun yang datang menghampiriku. Beratnya beban yang menimpaku, membuatku tidak sanggup untuk membuka mata. Saat itu, aku berasumsi jika aku hanya tertidur karena terlalu lelah. Namun, saat aku membuka mataku kembali, aku sudah didatangi oleh seseorang dengan pakaian serba putih. Tubuhnya diselimuti cahaya yang sangat menyilaukan mata.”

Chanyeol bisa merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri. Pria itu menelan saliva-nya. Meski sudah terbiasa dengan hal berbau mistis—Chanyeol tetap tidak bisa menghilangkan rasa takutnya. Ia kembali teringat dengan kejadian di masa lalu, saat pertemuan pertamanya dengan Yoona.

Yoona dan Sehun saling memandang. Keduanya yakin jika seseorang yang mendatangi Jongin adalah malaikat.

“Dia datang padaku dengan senyum di wajahnya. Aku bertanya padanya, di mana orang tua dan juga pamanku. Orang itu hanya tersenyum dan semakin berjalan mendekatiku,” lanjut Jongin.

“BOOM!”

“HUWAA!” Chanyeol berteriak kaget saat Sehun tiba-tiba mengejutkannya dengan teriakan keras. Ia menatap tajam ke arah Sehun yang tertawa terbahak-bahak. Rupanya pria itu sengaja mengagetkan Chanyeol yang begitu serius mendengarkan cerita Jongin. Namun tawanya langsung berhenti ketika Sehun mendapat tatapan tajam dari Yoona. Sorot mata Yoona menyiratkan perintah diam untuknya. Sehun mengangguk pelan, namun sesekali masih terkekeh karena mengingat ekspresi wajah Chanyeol yang begitu lucu.

Jongin ikut tersenyum melihat kelakuan Sehun terhadap Chanyeol. Ia tahu, Sehun sengaja melakukannya supaya suasana tidak terlalu tegang.

“Lanjutkan Jongin,” pinta Yoona.

“Orang itu hanya mengatakan, jika aku ingin bertemu lagi dengan keluargaku, aku harus tetap tinggal di sini selama 100 tahun,” lanjut Jongin. “Tadinya aku bingung, mana mungkin aku bisa tinggal selama 100 tahun. Lalu, orang itu kembali mengatakan bahwa itu sangat mungkin karena wujudku sudah menjadi roh. Barulah saat itu aku menyadari jika aku telah menemui ajalku. Dan karena suatu hal, aku tidak bisa pergi ke nirwana. Dia hanya mengatakan padaku jika setelah 100 tahun berakhir, aku akan kembali terlahir di dunia dan mendapatkan kembali kebahagiaan yang kuinginkan.”

“Kebahagiaan yang kau inginkan, apa itu?” tanya Sehun.

Jongin tersenyum, “Berkumpul lagi bersama keluargaku. Ayah, ibu dan juga pamanku. Tentu keluargaku yang lainnya, seperti kakek dan juga nenekku. Ya, walaupun dulu kami tidak tinggal bersama dengan kakak dan nenek, tapi aku juga merindukan mereka semua.”

“Jadi, saat ini kau sudah memasuki tahun ke-100, seperti yang dikatakan orang itu padamu?” tanya Chanyeol.

Ne, tepat hari ini. Aku sudah memasuki masa 100 tahun tinggal dalam wujud roh di sini,” jawab Jongin.

Yoona mengusap kedua matanya. Ia tersenyum tipis pada Jongin, “Artinya, apa kau akan segera pergi meninggalkan kami?”

Chanyeol dan Sehun terdiam, begitu juga dengan Jongin. Ia tersenyum simpul seraya mengusap matanya.

“Sebenarnya aku tidak ingin pergi meninggalkan kalian. Aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku. Banyak kenangan yang aku dapatkan di sini. Dulu saat Chanyeol-hyung dan Sehun-hyung masih kecil, aku selalu mengikuti kalian berdua. Saat itu kalian berdua belum bisa melihatku,” ucap Jongin.

“Kau tinggal bersama Chanyeol sejak kecil?” tanya Yoona pada Sehun. Pria itu mengangguk pelan.

“Aku tinggal bersama Chanyeol-hyung sejak usiaku 6 tahun. Kedua orang tuaku harus tinggal di Jerman demi pekerjaan. Mereka tidak mau, aku dibesarkan di negara lain dengan kebudayaan yang berbeda. Itulah sebabnya aku dititipkan pada Chansung-ahjussi yang merupakan kakak ibuku,” ucap Sehun.

“Waktu itu, aku belum berani memperlihatkan wujudku di hadapan kalian semua, Sampai akhirnya Sehun-hyung memiliki kemampuan indra keenamnya. Juga sampai aku bertemu dengan Yoona-noona,” lanjut Jongin. “Ah, termasuk ketika Chanyeol-hyung bisa melihat roh seperti kami. Aku sangat senang bisa berinteraksi dengan kalian.”

Chanyeol tersenyum tipis, “Jika kau pergi, kami pasti akan merindukanmu.”

Yoona dan Sehun mengangguk kompak, sependapat dengan Chanyeol. Jongin kembali terisak. Ia sendiri tak mau berpisah dengan mereka.

“Aku tidak tahu, kapan aku akan segera menghilang dari hadapan kalian untuk terlahir kembali di dunia ini,” ujar Jongin sedih. “Jika aku boleh memilih, aku ingin terlahir kembali di keluarga ini. Hidup bahagia bersama kalian semua.”

Semua orang terharu mendengar ucapan Jongin, yang secara tidak langsung adalah ucapan perpisahannya. Di sela-sela keharuan dalam rumah tersebut, mendadak Yoona merintih kesakitan sembari memegangi perutnya.

“A—aduh . . .” raut wajah Yoona terlihat menahan sakit, namun juga bingung dengan kondisi yang menimpanya.

“Yoong, kau kenapa?” Chanyeol pun panik dan segera memeluk Yoona yang sedari tadi memegangi perutnya.

“Entahlah, Yeol. Tiba-tiba perutku terasa sakit sekali,” jawab Yoona. Perlahan ia semakin mengaduh kesakitan.

“Jangan-jangan, noona akan segera melahirkan?”

Chanyeol dan Yoona menoleh kaget ke arah Sehun. Pria itu sepertinya berhasil menganalisa situasi dengan tepat. Hal itu membuat Chanyeol yakin dan sependapat dengan pernyataan Sehun. Terlebih saat melihat Yoona semakin kesakitan sambil meremas lengannya.

“Sehun, kau benar,” Chanyeol seketika berubah panik. Ia beranjak dari kursinya dan entah kenapa justru berjalan mondar-mandir di dekat meja.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Chanyeol menjadi heboh sendiri dan terlihat sibuk mengeluarkan ponselnya.

“Kau sedang apa, hyung?” tanya Sehun bingung.

“Menelepon taksi,” jawab Chanyeol singkat.

Sehun merebut ponsel Chanyeol dan menatap gemas kakak sepupunya itu, “Untuk apa? Kita harus segera mengantar istrimu ke rumah sakit.”

“Lalu kita ke sana naik apa?” tanya Chanyeol setengah berteriak.

“Tentu saja mobilmu, hyung,” jawab Sehun semakin gemas. Astaga, Chanyeol terlihat begitu polos dan bodoh karena terlalu panik.

“Oh, benar juga,” lanjut Chanyeol kemudian segera keluar dari ruang makan. “Aku akan mengeluarkan mobilnya sekarang.”

“Memangnya kau sudah membawa kunci mobilnya, hyung?

Chanyeol menghentikan langkahnya dan menoleh pada Sehun. Ia memperlihatkan benda yang berada di tangannya.

Sehun menghela nafas seraya menutupi wajahnya, “Itu bukan kunci, hyung. Tapi garpu.”

Chanyeol membelakkan matanya. Benar saja yang dikatakan Sehun. Ia salah mengambil kunci mobil dan justru mengambil garpu dari atas meja.

Aigo, mau sampai kapan kalian berdebat?” Yoona mulai tak tahan dengan rasa sakit yang menderanya. Jongin yang sedari tadi melihat kelakuan Chanyeol dan Sehun hanya tersenyum geli.

“Sudahlah, biar aku yang ambil alih!” ucap Sehun tegas. “Aku akan mengeluarkan mobil dan juga barang untuk persiapan Yoona-noona melahirkan. Kalian sudah menyiapkannya kan?”

Yoona mengangguk, “Ada di dalam kamar kami. Tas besar berwarna cokelat.”

Hyung, sebaiknya kau memapah Yoona-noona sampai di depan rumah. Aku akan bergegas,” titah Sehun. Chanyeol tak berkata banyak dan menuruti perintah Sehun.

Noona . . .” Jongin merasa khawatir dengan kondisi Yoona yang begitu kesakitan.

Yoona tersenyum pada Jongin, “Jangan khawatir, Jongin. Aku akan baik-baik saja. Tunggu kami sampai kembali, ne?

Jongin mengangguk. Ia membiarkan Chanyeol dan Yoona berjalan keluar dari ruang makan. Jongin mengikuti mereka sampai di depan rumah.

Chanyeol berusaha menguatkan Yoona untuk bertahan. Sementara Sehun sudah keluar sambil membawa tas besar berwarna cokelat yang langsung dimasukkannya ke dalam mobil. Pria itu segera duduk di kursi pengemudi dan mengeluarkan mobil yang terparkir di halaman rumah.

Chanyeol membantu Yoona masuk ke dalam mobil. Keduanya duduk di area tengah. Sehun pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit Seoul.

Jongin menatap sedih ke arah mobil yang semakin menjauh darinya. Ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Bukan kondisi Yoona, melainkan ia menyadari, ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir mereka.

.

.

.

Setibanya di rumah sakit Seoul, Yoona langsung dibawa ke ruang bersalin. Chanyeol dan Sehun menunggu di depan ruangan. Tadinya Chanyeol ingin menemani Yoona di dalam ruangan. Namun atas saran Sehun—mengingat Chanyeol menjadi kacau sebelum tiba di rumah sakit, ia menyuruh kakak sepupunya itu menunggu di luar ruangan. Wajah Chanyeol terlihat tegang. Ia begitu khawatir dengan kondisi Yoona.

“Tenanglah, hyung. Dia akan baik-baik saja. Proses persalinannya pasti akan berjalan lancar. Dan putramu akan lahir dengan selamat,” ucap Sehun menenangkan Chanyeol yang berdiri di dekat pintu ruang bersalin.

Chanyeol mengangguk, “Ne, kuharap juga begitu, Sehun.”

Beberapa jam setelah Yoona masuk ke ruang bersalin, ayah Yoona tiba di rumah sakit Seoul. Ia mendapat berita tersebut dari Sehun, karena Chanyeol terlalu fokus dengan kondisi Yoona. Sementara kedua orang tua Chanyeol sendiri baru saja kembali ke luar negeri, setelah 1 minggu yang lalu datang mengunjungi Chanyeol dan Yoona.

“Bagaimana?” Tuan Im langsung menepuk bahu Chanyeol. Wajahnya terlihat cemas, tak jauh berbeda dari Chanyeol.

Chanyeol menggeleng, “Sudah hampir 3 jam, tapi kenapa aku belum mendengar suara tangisan bayi? Kenapa belum ada suster yang keluar dan memberitahuku jika putraku sudah lahir, appa?

Tuan Im tersenyum melihat reaksi kepanikan Chanyeol yang begitu berlebihan. Reaksi yang sangat wajar, mengingat sang menantu begitu mencintai putrinya. Perhatiannya selalu tercurahkan untuk Yoona—juga putra pertama mereka yang sebentar lagi akan lahir.

“Di saat seperti ini, kau harus tenang, Yeol,” ucap Tuan Im. “Yoona pasti baik-baik saja, begitu juga dengan putramu. Dia akan lahir dengan selamat.”

Appa . . .” Chanyeol menghela nafas pelan dan mulai mengendalikan diri. Ia memijat keningnya yang berkeringat.

Tuan Im kembali tersenyum simpul, sambil menepuk pelan bahu Chanyeol. Diajaknya Chanyeol untuk duduk di deretan kursi tunggu, dekat ruang bersalin. Menantunya itu memang terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya. Sehun yang masih berdiam diri di dekat pintu ruang bersalin, akhirnya mengikuti Tuan Im dan Chanyeol. Ketiganya menunggu, sambil memanjatkan doa untuk keselamatan Yoona dan juga bayinya.

.

.

.

Jongin memandangi halaman depan rumah Chanyeol. Kondisi rumah tampak sepi, setelah semua orang pergi ke rumah sakit Seoul, untuk proses persalinan Yoona.

“Kuharap Yoona-noona baik-baik saja,” gumam Jongin seraya memainkan bola miliknya. Bola kesayangannya yang selalu ia mainkan bersama ayahnya dulu—sebelum mereka tewas akibat bencana gempa bumi 100 tahun silam.

Langit tiba-tiba berubah menjadi gelap. Jongin mendongakkan kepalanya. Ia bisa melihat awan kelabu yang begitu pekat di atasnya. Angin yang semula tak terlalu kencang, kini berubah kecepatannya dan terasa sangat kencang. Jongin mengerjapkan matanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.

Kemudian muncul sebuah cahaya yang menyilaukan. Jongin segera menutup matanya karena tak kuat dengan cahaya tersebut. Perlahan cahaya itu memudar, hingga memperlihatkan sosok wanita yang begitu cantik dengan pakaian serba putih. Jongin mengenali wanita itu, yang membuatnya berteriak senang.

Noona . . .

Wanita itu tersenyum, “Aku datang untuk memenuhi janjiku padamu.”

Jongin terdiam sejenak. Ia teringat dengan pesan wanita itu yang disampaikan padanya 100 tahun silam.

“Apakah—ini waktunya bagiku untuk terlahir kembali?”

Wanita itu mengangguk, “Kim Jongin. Waktu 100 tahunmu telah berakhir. Kini saatnya bagimu untuk terlahir kembali ke dunia ini. Mendapatkan kebahagiaan yang selama ini kau inginkan—berkumpul kembali bersama keluargamu.”

Jongin tersenyum. Ia memandangi sekitarnya. Perlahan ada rasa haru dalam yang menyelimuti diri Jongin. Sulit baginya untuk berpisah dengan Chanyeol, Yoona dan Sehun, yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Meski wujudnya berbeda, Jongin merasa nyaman selama berinteraksi dengan mereka.

“Jika aku boleh memilih, aku ingin terlahir kembali di rumah ini. Agar aku bisa hidup bahagia bersama kalian semua,” ucap Jongin sedih.

Setelah puas memandangi rumah Chanyeol, Jongin kembali menghadap wanita yang masih menunggunya.

“Kau sudah siap?” tanya wanita itu memastikan.

Jongin mengangguk semangat, “Ne, aku sudah siap.”

Wanita itu menggerakkan tangannya. Tiba-tiba muncul sebuah pintu misterius yang terbuka dan memperlihatkan ruang dengan cahaya berkilauan. Jongin berjalan perlahan mendekati pintu. Ia berhenti sejenak, mengucapkan pesan perpisahan yang hanya bisa diucapkannya dalam hati.

“Chanyeol-hyung, Yoona-noona dan Sehun-hyung, selamat tinggal. Terima kasih sudah menjadi temanku. Semoga kelak, kita bisa bertemu dan berkumpul bersama kembali.”

Jongin melangkahkan kakinya melewati pintu misterius tersebut. Setelah ia masuk, pintu langsung tertutup dan menghilang bersama cahaya putih. Wanita yang datang menjemput Jongin itu tersenyum. Ia gerakkan tangannya kembali dan seketika menghilang tanpa jejak.

Langit yang semula gelap, perlahan kembali cerah seperti sebelumnya. Rumah Chanyeol pun semakin terasa sunyi, setelah kepergian Jongin—untuk terlahir kembali ke dunia.

.

.

.

Chanyeol membulatkan matanya, saat ia mendengar suara tangisan bayi yang begitu keras. Pria itu lekas bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati pintu ruang bersalin. Tangisan itu terdengar semakin keras dari dalam ruang bersalin. Mata Chanyeol berkaca-kaca. Senyum sumringah terus menghiasi wajahnya.

Appa?” Chanyeol langsung memeluk Tuan Im yang ikut berdiri di sebelahnya. Pria paruh baya itu juga tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

Sehun yang berdiri di belakang Chanyeol langsung merangkul kakak sepupunya tersebut. Wajahnya terlihat bahagia, “Selamat, hyung. Kau sudah menjadi ayah.”

Chanyeol tersenyum dan memeluk Sehun. Ketiga pria itu terlihat bahagia dan sudah tak sabar ingin segera melihat anggota baru keluarga mereka.

KLEK!

Hampir 1 jam setelah terdengar tangisan bayi, pintu ruang bersalin terbuka. Tampak seorang suster datang sambil menggendong bayi laki-laki yang sudah dibalut kain hangat.

“Selamat, Tuan Park. Bayi laki-laki yang sehat dan tampan,” ucap suster tersebut.

Chanyeol menggendong putra pertamanya yang baru lahir. Ia tersenyum bahagia dan penuh haru. Melihat wajah polos dari sang putra yang kini tertidur dalam gendongannya. Tuan Im dan Sehun turut bahagia melihat putra pertama Chanyeol dan Yoona.

“Cucuku benar-benar tampan,” ucap Tuan Im senang dan dibalas anggukan Sehun.

Chanyeol tak bisa berhenti tersenyum. Ia masuk ke ruang bersalin untuk menemui Yoona. Istrinya itu masih mendapatkan perawatan pasca melakukan proses persalinan yang cukup melelahkan.

“Dokter Lee, terima kasih atas bantuanmu,” ucap Chanyeol pada dokter yang membantu proses persalinan Yoona.

Dokter Lee mengangguk dan tersenyum, “Sekali lagi selamat untuk kalian, Tuan dan Nyonya Park. Aku turut bahagia atas kelahiran putra pertama kalian.”

Chanyeol tersenyum, lalu menatapi Yoona yang masih terbaring lemah. Wajahnya berkeringat dan juga nafasnya terengah-engah. Ia mencoba tetap tersenyum—walaupun kelelahan usai melahirkan.

“Lihatlah, wajahnya sangat tampan. Benar-benar mirip denganku kan?” tanya Chanyeol memperlihatkan putra pertama mereka pada Yoona.

Yoona mengangguk, “Ne, dia memang mirip denganmu. Tapi—sepertinya jauh lebih tampan darimu, Yeol.”

Bibir Chanyeol merengut. Di saat seperti ini, Yoona masih sempat melempar ledekan. Istrinya itu hanya tertawa pelan, melihat ekpsresi wajah Chanyeol yang tampak cemburu terhadap putra mereka.

Chanyeol mengecup wajah putra mereka dengan penuh kasih sayang. Lalu beralih menatapi Yoona yang tak berhenti tersenyum.

“Kau sudah berjuang dengan baik, terima kasih,” puji Chanyeol seraya mengecup kening Yoona. Ia lalu menyeka air mata yang mengaliri pipi istrinya. Yoona kembali tersenyum dan menatap haru ke arah Chanyeol.

Yoona membiarkan Chanyeol membaringkan putra mereka yang kini tertidur lelap, dalam balutan selimut yang hangat. Yoona memandangi bayi mungil di sebelahnya. Ia mengusap wajah sang putra dengan lembut. Sementara Chanyeol menarik sebuah kursi yang ada di dekatnya.

“Kau sudah menyiapkan nama untuk anak kita?” tanya Yoona kemudian.

Chanyeol mengangguk, “Tentu saja sudah. Kita beri nama, Chanwoo. Park Chanwoo. Bagaimana?”

“Chanwoo? Nama yang bagus,” sambut Yoona gembira. Ia memandangi lagi wajah sang putra yang kini telah resmi diberi nama Park Chanwoo. Saat melihat wajah Chanwoo, mendadak Yoona teringat dengan Jongin.

“Garis wajah Chanwoo, sekilas mirip dengan Jongin,” ucap Yoona. Chanyeol menelisik satu per satu bagian wajah Chanwoo. Pria itu mengangguk, sependapat dengan Yoona.

“Kau benar. Wajahnya sekilas memang mirip dengan Jongin,” sahut Chanyeol.

Yoona terdiam. Ia kembali mengusap wajah Chanwoo yang masih terlelap tidur.

“Apa menurutmu—Jongin masih ada di rumah kita?” tanya Yoona lagi.

Chanyeol tersenyum, “Entahlah. Jika nanti setelah kita kembali ke rumah, kita tidak menemukan keberadaan Jongin, itu artinya dia sudah pergi. Mungkin—Jongin sudah terlahir kembali di dunia ini.”

Yoona memejamkan matanya saat Chanyeol kembali mengecup keningnya. ia tersenyum, “Jika dia memang telah terlahir kembali, kuharap kita bisa bertemu lagi dengannya.”

Ne, semoga saja . . .”

.

.

.

.

.

.

6 years later

Appa, ayo bangun!”

Suara keras seorang anak kecil berhasil membuat Chanyeol membuka matanya. Pria itu masih tertidur di atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia belum bereaksi saat putranya—Park Chanwoo, sudah berdiri di samping ranjang.

Gemas karena sang ayah tak kunjung bangun, Chanwoo yang kini sudah berusia 6 tahun itu langsung naik ke atas ranjang. Tanpa ragu ia melompat-lompat sambil berteriak memanggil ayahnya.

Appa, appa!

Chanyeol kembali membuka matanya dan melirik Chanwoo yang masih melompat-lompat di ranjangnya. Ia menarik tangan Jongin sampai putranya itu terjatuh di dada Chanyeol.

Appa, ayo bangun!” Chanwoo sama sekali tidak takut dengan wajah ayahnya yang terlihat kesal. Ia justru kembali menyuruh ayahnya bangun dengan wajah polosnya.

“Kenapa selalu membangunkan appa dengan cara seperti ini?” tanya Chanyeol gemas.

Chanwoo tersenyum lebar, “Karena aku senang melakukannya.”

Rasa gemas Chanyeol menjadi. Ia langsung menggeletiki sang putra hingga tertawa terpingkal-pingkal.

Appa, hentikan! Kau membuatku geli,” pinta Chanwoo karena tak kuat menahan tawa.

KLEK!

Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Muncul sosok Yoona yang sekarang terlihat lebih dewasa. Ia mengenakan celemek karena baru saja selesai menyiapkan sarapan. Melihat sang suami beserta anaknya masih asyik bermain di atas ranjang, wanita itu hanya menggelengkan kepala.

“Chanwoo, eomma menyuruhmu untuk membangunkan appa. Kenapa kau justru bermain dengan appa?” tanyanya heran.

Chanwoo menggeleng, “Aku sudah melakukan tugasku dengan baik, eomma. Tapi, appa tidak segera bangun. Aku melompat-lompat di atas ranjang untuk membangunkannya. Appa justru menggelitiku sampai aku tertawa geli, eomma,” jawab Chanwoo melaporkan situasi yang sebenarnya.

Yoona menatapi Chanyeol yang terkekeh pelan. Wanita itu pun berjalan mendekati Chanyeol. Lalu dengan santainya ia mencubit pipi Chanyeol hingga pria itu berteriak kesakitan.

“Sakit!” rengek Chanyeol. Meskipun sudah berusia 31 tahun, pria itu tetap kekanakkan.

Yoona menaruh tangannya di pinggang sambil memicingkan matanya, “Siapa suruh kau membuat Chanwoo kegelian?”

“Aku hanya bermain dengan Chanwoo, memangnya tidak boleh?” Chanyeol masih berusaha mengelak.

Yoona tersenyum menyeringai, lalu mengusapkan kedua tangannya di pipi Chanyeol. Tangannya bergerak lentur agar wajah Chanyeol terlihat aneh dan konyol. Chanwoo tersenyum geli sambil menutup mulutnya. Entah kenapa, kebiasaan pagi yang selalu dilakukan oleh orang tuanya berhasil membuatnya senang.

“Sudahlah, ayo bangun dan segera sarapan,” titah Yoona. “Atau kami sarapan lebih dulu,” lanjutnya sambil menarik Chanwoo keluar dari kamar.

Chanyeol mendengus, “Baiklah, baiklah. Aku akan segera bangun. Dasar ibu dan anak sama saja. Selalu membuat hari Mingguku tidak tenang.”­

Seperti itulah, kebiasaan di hari Minggu yang dilalui keluarga kecil Chanyeol. Chanwoo memang selalu bersemangat menyambut hari libur tersebut. Karena itu merupakan hari dimana ia bisa menghabiskan waktu bersama orang tua dan juga pamannya selama seharian penuh.

.

.

.

Usai menikmati sarapan pagi bersama, Chanyeol dan Chanwoo terlihat sibuk berkebun di taman. Chanyeol memperlihatkan cara menggali tanah pada Chanwoo, sebelum putranya tersebut menggali tanah sendiri.

“Bagaimana? Tidak sulit kan?” tanya Chanyeol saat melihat wajah antusias Chanwoo.

Ne, sama sekali tidak sulit. Aku bisa melakukannya sendiri, appa,” jawab Chanwoo. Ia segera mengenakan sarung tangan yang sudah disiapkan, lalu mengambil sekop kecil untuk menggali tanah.

Chanyeol melepas sarung tangan miliknya. Ia mengusap kepala Chanwoo dengan lembut. Bibirnya melengkung sempurna, melihat betapa gigihnya Chanwoo dalam menggali tanah untuk bunga yang akan mereka tanam.

Di sela-sela kebersamaan mereka, Sehun yang tak terlihat dalam sarapan bersama, muncul sambil membawa sebuah buku di tangannya. Chanyeol langsung berdiri dan menghampiri adik sepupunya tersebut.

“Kau dari mana?” tanya Chanyeol begitu melihat kedatangan Sehun.

“Perpustakaan kota. Aku mencari sebuah informasi yang membuatku penasaran,” jawab Sehun.

“Oh, kukira kau pergi berkencan,” ledek Chanyeol. “Ingat, Sehun. Kau ini sudah berusia 28 tahun. memangnya tidak ingin segera berkeluarga?”

Sehun hanya terkekeh dan menganggukan kepalanya, “Meskipun aku sudah mapan, sampai sekarang masih belum ada wanita yang tepat untuk menjadi pendampingku. Aku tidak mau salah pilih, hyung.”

“Dasar, terserah kau sajalah,” lanjut Chanyeol. “Memangnya informasi apa yang membuatmu penasaran?”

“Kau masih ingat dengan Jongin kan?” tanya Sehun. “Roh anak kecil yang sebelumnya tinggal di sini selama 100 tahun.”

Chanyeol mengangguk, “Ne, tentu aku masih ingat. Kenapa?”

“Aku penasaran dengan kisahnya. Dari dulu aku ingin mencari informasi tentang kisah anak itu. Tercatat atau tidak dalam sejarah,” jawab Sehun. “Setelah aku berkutat di perpustakaan, aku tidak sengaja menemukan artikel ini.”

Sehun menyodorkan sebuah artikel dalam koran lama yang sudah ditempel di sebuah buku arsip.

“Buku arsip ini memuat berita-berita yang berkaitan dengan gempa bumi 100 tahun lalu di daerah sini. Ada sebuah kisah yang menarik,” lanjut Sehun.

“Benarkah?” tanya Chanyeol kaget dan segera membuka artikel yang dimaksudkan Sehun.

“Salah satu keluarga yang tewas dalam bencana itu adalah sepasang suami istri—Kim Yeolgu dan Han Danhe, lalu kerabat mereka Lee Seungjae dan putra tunggal mereka—Kim Jongin,” ucap Sehun.

Chanyeol menoleh kaget, “Kim Jongin? Maksudmu—Jongin roh anak kecil itu?”

“Aku tidak yakin, tapi sepertinya memang dia,” jawab Sehun. “Dalam artikel itu dijelaskan, saat gempa bumi terjadi, satu keluarga itu tewas karena tertimbun bangunan rumah yang roboh. Jenazah Kim Yeolgu, Han Danhe dan Lee Seungjae berhasil ditemukan. Tapi, tidak dengan Kim Jongin. Petugas yang berusaha mencari keberadaan jenazahnya tak berhasil menemukannya. Padahal mereka sudah menelusuri setiap reruntuhan bangunan rumah, bahkan mendengar tangisannya. Namun petugas tetap tidak berhasil menemukan Jongin. Sungguh mengherankan dan aneh.”

Chanyeol membaca sampai selesai artikel yang menjelaskan, ketidakberhasilan petugas dalam mencari keberadaan tubuh Kim Jongin—korban tewas gempa bumi yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

“Kejadian yang tragis dan memprihatinkan. Kuharap mereka semua sudah tenang di sana,” ujar Chanyeol lalu mengembalikan buku arsip tersebut pada Sehun. “Aish, kenapa kau menceritakannya padaku? Bulu kudukku merinding setiap mengingat kejadian mistis itu.”

Sehun terkekeh pelan, kemudian melirik Chanwoo. Ia melihat keponakannya itu tengah asyik menggali tanah untuk tempat tanaman baru.

“Halo, jagoan!” sapa Sehun yang langsung disambut wajah ceria dari Chanwoo.

Chanwoo berlari menghampiri Sehun. “Ahjussi dari mana? Kenapa tidak ikut sarapan denganku?”

Sehun tersenyum seraya membelai kepala Chanwoo, “Ada urusan yang harus ahjussi selesaikan. Apa yang sedang kau lakukan?”

“Menggali tanah untuk menanam bunga ini,” jawab Chanwoo sambil memperlihatkan pot kecil yang sudah ditumbuhi kuncup bunga. “Tapi, aku kesulitan menggalinya. Ada benda yang menghalangi sekopku.”

“Benarkah?” Sehun terlihat mengerutkan dahinya. “Kalau begitu, kita gali sama-sama dan keluarkan benda itu, ne?

Chanwoo mengangguk. Ia menggandeng Sehun berjalan mendekati tanah yang baru saja digalinya.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Yoona datang menghampiri Chanyeol sambil membawa nampan dengan empat gelas minuman dingin. Ia mengikuti Chanyeol yang berjalan mendekati sebuah area khusus untuk bersantai di taman—yang memiliki kursi serta meja, di bawah naungan atap kecil dengan dihiasi berbagai tanaman merambat.

Chanyeol duduk di salah satu kursi—menunggu sang istri selesai meletakkan gelas minuman yang dibawanya. Ia meneguk sejenak minuman dingin tersebut—sebelum menjawab pertanyaan Yoona.

“Yeol, apa yang sedang kalian bicarakan?” Yoona mengulangi pertanyaannya karena terlalu penasaran.

“Jongin,” jawab Chanyeol kemudian. “Kau masih ingat kan?”

Yoona mengangguk sambil meneguk minumannya, “Tentu saja. Aku tidak mungkin melupakannya.”

Chanyeol menoleh ke arah Sehun yang tengah asyik bermain dengan Chanwoo.

“Rupanya, anak itu bernama lengkap Kim Jongin. Dia merupakan putra dari pasangan suami istri Kim Yeolgu dan Han Danhe. Sementara pamannya bernama Lee Seungjae. Mereka merupakan korban tewas dalam gempa bumi 100 tahun silam. Kisah satu keluarga itu sepertinya cukup terkenal, karena sampai dimuat dalam berita koran yang diarsipkan di perpustakaan kota,” jelas Chanyeol panjang lebar.

“Benarkah?” Yoona terlihat antusias dengan mata yang bersinar.

Anggukan pelan Chanyeol membuat Yoona semakin penasaran, “Kau bisa membacanya. Buku arsip itu—Sehun yang membawanya.”

Tangan Yoona meletakkan gelas ke atas meja. Ia tersenyum, “Baiklah, nanti akan kubaca.”

Yoona dan Chanyeol terdiam sejenak. Keduanya sama-sama memandangi Chanwoo yang terlihat ceria di sebelah Sehun.

“Yeol, kau sadar tidak? Wajah Chanwoo, semakin lama terlihat mirip dengan Jongin,” ucap Yoona menoleh ke arah suaminya.

“Benar juga. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?”

Raut wajah Yoona tampak serius, “Mungkinkah, Chanwoo adalah reinkarnasi dari Jongin?”

Chanyeol yang tengah meneguk minumannya langsung tersedak. Ia menoleh kaget ke arah Yoona. Keduanya hanya saling menatap dengan raut wajah penuh keraguan.

“Chanyeol-hyung, Yoona-noona, ke sini!” Sehun tiba-tiba berteriak dan berhasil mengalihkan perhatian sepasang suami-istri itu. Keduanya hanya saling memandang dan tak segera bangkit dari kursi mereka.

Palli!” Sehun kembali berteriak. Wajahnya terlihat serius.

Chanyeol dan Yoona berlari menghampiri Sehun. Dilihatnya pria itu tengah memegang pecahan kaca yang berasal dari dalam tanah. Keduanya melirik tanah yang digali Sehun dan Chanwoo. Mereka melihat, pecahan kaca tersebut menutupi selembar kertas yang menyerupai foto. Foto yang terlihat sudah lama dan usang. Mereka bisa menebak jika benda tersebut adalah bingkai foto yang hancur dan terpendam dalam tanah, dengan kurun waktu yang lama.

Sehun mengambil satu per satu pecahan kaca yang menutupi foto tersebut. Sepertinya bingkai foto yang terbuat dari kayu sudah hancur menjadi tanah. Setelah berhasil menyingkirkan pecahan kaca, Sehun mengambil selembar foto yang terlihat usang. Ia mengerutkan dahi. Bingung kenapa foto itu masih dalam keadaan utuh meski sudah terpendam dalam kurun waktu yang lama.

Ahjussi, itu foto siapa?” tanya Chanwoo penasaran saat Sehun tengah serius melihat foto tersebut.

Hening. Tidak ada jawaban dari Sehun.

Ahjussi?” Chanwoo kembali memanggil Sehun, namun pamannya itu masih diam tak bersuara.

Chanyeol dan Yoona terlihat mengerutkan dahi mereka. Keduanya menjadi penasaran dengan Sehun.

“Sehun-ah, ada apa? Kenapa kau diam saja?” tanya Chanyeol. Ia merebut foto dari tangan Sehun, dengan sangat hati-hati karena takut merusaknya.

“Memangnya foto apa yang kau—” kalimat Chanyeol mendadak terhenti. Bola matanya membulat sempurna ke arah foto yang kini dipegangnya. Reaksi yang sama juga diperlihatkan oleh Yoona. Wanita itu bahkan sampai berdiri mematung di sebelah Chanyeol.

Chanwoo menjadi gemas—melihat ketiga orang itu tak mengatakan apapun tentang foto yang mereka temukan. Tanpa sengaja, foto itu terlepas dari tangan Chanyeol. Chanwoo segera memungutnya. Seketika wajahnya berubah bingung begitu mengenali sosok keluarga dalam foto tersebut.

“Eh, kenapa wajah mereka mirip sekali dengan kita?” tanya Chanwoo bingung. Karena terlalu penasaran, ia mengamati foto tersebut dengan teliti. Chanwoo justru mendapati sebuah tulisan di bagian belakang foto. Meski usianya baru 6 tahun, Chanwoo sudah fasih membaca tulisan Hangeul.

“Kim Yeolgu, Han Danhe, Kim Jongin dan Lee Seungjae,” Chanwoo mengeja tulisan tersebut dan mengatakannya dengan keras. Chanyeol, Yoona dan Sehun langsung menoleh kompak ke arah Chanwoo—setelah ia selesai membaca tulisan pada bagian belakang foto.

Appa, mereka siapa? Kenapa wajah mereka sangat mirip sekali dengan kita?” tanya Chanwoo penasaran.

“Tidak mungkin . . .” Sehun tampak tak percaya dan langsung mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Sementara Yoona beralih menatapi Chanyeol yang terdiam membisu.

“Bagaimana ini bisa—” Yoona menutup mulutnya karena terlalu kaget dengan apa yang baru saja mereka temukan.

Chanwoo memandangi anggota keluarganya dengan sorot mata bingung. Ia meremas tangan Chanyeol agar pria itu segera menjawab pertanyaannya.

Appa!” Chanwoo mulai tidak sabar dan semakin penasaran.

Chanyeol menggelengkan kepala sambil menelan saliva­-nya. Wajahnya terlihat pucat karena terlalu shock.

“Mustahil,” Chanyeol memijat keningnya yang berkeringat.

Hanya Chanwoo yang tidak mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi dengan anggota keluarga mereka. Ia tak berhasil mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

Chanyeol, Yoona dan Sehun, mereka telah menemukan sebuah fakta yang mengejutkan dari foto yang terpendam, dalam tanah yang berada di taman rumah mereka. Inilah alasan dibalik bungkamnya orang tua dan paman Chanwoo, saat ia ingin tahu siapa keluarga dalam foto yang baru saja mereka temukan itu.

Ketiganya terdiam, seolah tengah sibuk berpikir, menganalisa semua informasi yang mereka miliki untuk memecahkan teka-teki tersebut. Jika mengingat kembali kisah yang pernah diceritakan oleh Jongin, serta nama anggota keluarga Jongin yang tercatat dalam artikel koran lama, maka sudah jelas. Foto itu adalah foto Jongin bersama keluarganya.

Tapi, kenapa wajah Jongin dan keluarganya, sangat mirip atau bahkan sama dengan keluarga Chanyeol? Yang membedakan hanyalah pakaian yang mereka kenakan, lebih terlihat kuno dan ketinggalan zaman.

Mereka ingat, ucapan Jongin yang mengaku bahwa ia akan terlahir kembali ke dunia, setelah menunggu selama 100 tahun lamanya.

3 hari setelah Yoona melahirkan Chanwoo, mereka tidak mendapati keberadaan Jongin di rumah mereka. Hal itu membuat mereka yakin jika Jongin telah pergi dan terlahir kembali ke dunia. Setelah melihat Chanwoo bertumbuh besar dan wajahnya semakin mirip dengan Jongin, mereka meyakini jika Chanwoo adalah reinkarnasi Jongin.

Lalu, bagaimana dengan kedua orang tua Jongin dan juga pamannya? Wajah mereka sangat mirip dengan Chanyeol, Yoona dan Sehun.

Sulit untuk mempercayainya namun kenyataan itu ada di depan mata. Mau tidak mau, mereka harus mengakui kebenaran bahwa mereka semua adalah reinkarnasi dari keluarga Jongin—yang tewas 100 tahun silam akibat bencana gempa bumi. Sebuah fakta yang mengejutkan. Bahkan mereka berkumpul kembali menjadi satu keluarga.

Appa, keluarga mereka terlihat begitu bahagia,” ucap Chanwoo mengalihkan perhatian ketiga anggota keluarganya. “Apakah—kita yang berwajah mirip dengan mereka juga harus hidup bahagia? Seperti mereka?”

Chanyeol dan Yoona menatapi Chanwoo yang tersenyum pada keduanya. Mendengar ucapan putra mereka, keduanya tersenyum. Chanyeol langsung menggendong Chanwoo. Sementara Yoona merangkul suami dan anaknya tersebut. Sehun yang berdiri di depan mereka turut tersenyum mendengar ucapan Chanwoo.

Ne, Chanwoo. Kita juga harus hidup bahagia, seperti keluarga itu,” ucap Chanyeol yang langsung mendapat kecupan sayang dari Chanwoo. Ia pun balas mengecup pipi Chanwoo yang membuat putranya merasa geli.

Semua orang tertawa senang dengan kebersamaan mereka. Sehun mengambil kembali foto yang dipegang Chanwoo. Ia mengembalikan foto tersebut ke dalam lubang tanah sebelumnya, kemudian menguburnya kembali bersama pecahan-pecahan kaca itu. Barulah ia menyusul Chanyeol, Yoona dan Chanwoo.

Terlepas dari apa yang baru saja mereka ketahui, tak peduli bagaimana pun kehidupan mereka di masa lalu, yang harus mereka hadapi adalah kehidupan di masa sekarang. Tentunya—sama seperti keluarga Jongin, mereka pun juga harus hidup bahagia bersama, untuk selamanya.

.

.

.

.

.

.

­-THE END-

Hai, aku kembali membawa ff oneshot. Ini merupakan sequel dari ff Beautiful Ghost.

Ada yang masih inget sama tokoh Jongin di FF Beautiful Ghost? Itu lho, roh anak kecil yang selalu kompak jahilnya bareng Sehun😄

Nah, setelah baca2 FF BG lagi, nggak tahu kenapa aku pengen aja kalo si Jongin itu jadi anak Chanyeol dan Yoona. Berhubung FF sebelumnya genre Fantasy dan si Jongin berwujud roh, jadinya konsep ceritanya seperti ini. Hehe, aku tahu ini kayaknya totally absurd😄 . Maklum, efek ngumpulin bahan untuk aplikasi skripsi yang bejibun bikin otak jadi puyeng *plak*mulai ngaco😄

Maaf banget kalau kurang memuaskan, khususnya bagi yang pengen moment Chanyeol-Yoona lebih romantis. Karena di FF ini memang lebih memfokuskan sama karakter Jongin yang akhirnya terlahir kembali sebagai Chanwoo (anak Chanyeol-Yoona). Di akhir kisah juga dijelaskan bahwa ternyata mereka semua itu adalah reinkarnasi dari keluarganya Jongin. Gitulah kesimpulannya😀

Oh iya, FF ini sebagai FF terakhir (mungkin) sebelum aku bener-bener hiatus penuh dalam menulis FF YoongEXO. Aku tahu aku masih ada utang FF (Destiny+Sense of Love+2 Hearts). Ya, tapi mau bagaimana lagi, aku nggak bisa lagi ngeduain skripsiku (duileh bahasanya😄 ). Kali ini harus fokus total supaya targetnya bisa tercapai. Pengennya sih awal 2015 udah bisa kelar *amin*

Jadi, mohon maaf banget ya buat readers yang nungguin kelanjutan FF-q. Mungkin akan lama sekali kelanjutan FF-nya publish. Aku usahain jika ada waktu luang (khususnya kalau libur panjang) mudah2an bisa aku sempatin lanjut. Sekali lagi mohon maaf ya, readers *bow*

Terima kasih sudah membaca FF ini😉❤

-cloverqua-

42 thoughts on “Reincarnation

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s