(Freelance) Threeshot : Why? (Yoona Version)

why yoon

Sekuel of Rented Womb

 

Title : Why?

Scriptwriter : ohlala / @Lalalilulelooo

Main Cast : Im Yoona, Oh Sehun, Oh Bum Geum.

Lenght : Threeshoot

Rating : PG -15

Genre : Romance, Sad

Disclaimer : This story is pure by mine. Don’t be a plagiator. Also posted at my blog http://storyoflalakarisma.wordpress.com

The Point of Side is from Yoona side. Ini adalah cerita lanjutan dari Rented Womb

*

 

                Aku menatap mentari yang terbit di ujung sungai ini, sungai yang menjadi kebanggaan warga Seoul. Ini tahun ketiga aku dalam kesendirian, sendiri, sepi dan sunyi. Aku teringat akan keadaan Ibu dan adikku, mereka pasti mencariku kini tapi apa yang harus kuperbuat. Aku tidak berani menemui mereka dengan keadaan seperti ini, aku merasa sangat kotor telah mengandung tanpa pernikahan tetapi aku merasa sangat senang telah berhasil melahirkan malaikan kecil itu. Oh Bum Geum. Aku mengetahui nama indah yang diberikan Sehun padanya, lelaki itu berhasil mendidik Bum Geum dengan baik, ia tampak tumbuh dengan sehat bahkan Bum Geum sangat lincah.

“Bagaimana keadaan Bum Geum sekarang?” gumamku sendiri, aku seharusnya sibuk untuk menata kue beras yang ada di keranjangku sekarang tetapi aku malah melamun memikirkan nasib bayi yang aku lahirkan itu.

Ini hari minggu, biasanya pada hari ini banyak yang membeli kue berasku dan berkunjung ke Sungai Han. “Yoona! Bum Geum bukan siapa-siapamu. Kau tidak usah memikirkannya lagi, ia hanya menumpang hidup dirahimmu dulu” hardikku pada diriku sendiri. Sadarlah Yoon, Bum Geum bukan siapa-siapa.

Eonnie aku beli kue berasnya 3” pinta seorang gadis kecil yang bisa aku perkirakan berumur 3 tahun. Sama dengan Bum Geum.

“Ya, eonnie bungkuskan dulu ya” balasku, aku melihat seorang pria kecil berlarian mengejar gadis kecil tadi.

“Lauren, kau meninggalkanku” pria kecil itu menggembungkan pipi, aku ingin sekali mencubit pipinya yang tembam itu. Mungkin seperti ini Bum Geumku. Bum Geum bukan milikmu Yoona, ingatlah itu!

“Maaf Bummie, habisnya Lauren tidak sabar untuk membeli kue beras”

“Jangan lupa belikan untuk appa Bummie

Ne” Aku hanya mendengar percakapan keduanya, lelaki kecil ini memang lebih pendek daripada seorang gadis kecil yang memasan kepadaku tadi tetapi ia terlihat lebih dewasa dari ukurannya.

Eonnie mana kue berasnya?” tanya gadis kecil tadi.

“Ma, maafkan eonnie. Ini kue beras untuk gadis cantik dan pangeran tampan” ujarku yang membuat keduanya melebarkan senyum mereka.

Noona untuk appa-ku ada kan?” tanya lelaki kecil tadi, kenapa lelaki ini sangat cerewet? Tampaknya ia terlalu memperhatikan ayahnya.

“Tentu saja”

Gomapta eonnie” keduanya berlari kecil meninggalkanku setelah membayar kue beras mereka, aku hanya terpaku melihat lelaki kecil yang sangat memperhatikan ayahnya itu. Sangat lucu dan menggemaskan.

*

Sore sudah beranjak, pertanda aku harus bersegera pulang untuk menyongsong hari esok. Saat ini aku masih terpikir akan lelaki kecil tadi pagi. Mengapa aku tidak mempertahankan bayiku saja? Jika memiliki anak seperti ia pasti akan sangat seru, mengapa aku tidak mempunyai anak sepertinya? Mengapa aku meninggalkan bayiku bersama Sehun dulu? Dan Mengapa aku memilih untuk menyewakan rahimku? Semuanya memang tinggal mengapa, mengapa aku mempertanyakannya sekarang? Mengapa tidak sejak dulu? Mengapa baru menyesal sekarang? Yoong, semuanya sudah tidak dapat diubah kembali. Kau hanya tinggal melaksanakan takdir yang menunggu dihadapanmu bukan menyesali perbuatanmu di masa lalu.

BRUK! Aku merasakan sesuatu yang kecil menghantam pahaku dari belakang, aku menoleh dan melihat sesosok kecil dengan linangan air mata di mata bulatnya yang bersinar. “Noona

“Wah, kau lelaki kecil yang tadi pagi?” ia mengangguk menjawab pertanyaanku. “Kenapa menangis sayang?” tanyaku lembut, ia tersedu-sedu mencoba menghentikan tangisnya.

Appa jahat, dia tidak mau membawa eomma di hari ulang tahunku besok”

“Memangnya eomma-mu kemana?”

Lelaki kecil ini kembali menangis dan lebih kencang, sebaiknya aku membawanya ketempat yang lebih tenang agar tangisnya mereda. “Sebaiknya kita duduk dulu ya” ia mengangguk menyetujui. “Ayo ceritakan pada noona”

 

                “Hiks, aku tidak tahu noona. Sejak kecil aku tidak mempunyai eomma dan kemarin tadi aku meminta eomma sebagai hadiah ulang tahun tetapi appa tidak menyetujuinya dan aku pergi kesini” adunya padaku, sungguh menyedihkan. Ia tidak bertemu dengan eommanya sejak kecil, aku jadi teringat pada Bum Geum anakku bersama Sehun. Ia pasti juga merasakan seperti yang dirasakan bocah lelaki ini, atau apa Sehun sudah mempunyai wanita sebagai pendampingnya?

“Semua teman-temanku memiliki ibu, hanya aku saja yang tidak” adunya lagi padaku yang membuat aku semakin tersentuh padanya.

“Lalu? Kau tidak ingin memiliki appa dengan tidak kembali kerumah?” tanyaku, bocah ini menggeleng.

“Tidak! Bummie ingin memiliki appa”

 

                “Sekarang bagaimana kalau noona mengantarkanmu pulang?” tawarku yang dibalas gelengan olehnya. “Kau ingin kehilangan appa-mu ya?” tanyaku menakuti.

“Tidak! Bummie hanya malas saja bertemu appa, bagaimana kalau noona membelikanku es krim. Aku sangat menyukainya”

“Huh? Tapi kau berjanji akan mau pulang ya” lelaki kecil ini terlihat sangat berpikir keras dengan ucapanku dan akhirnya ia menyetujuinya.

“Tapi aku ingin 3 es krim” ujarnya dan menunjukkan 4 jarinya. Setelah itu aku tertawa terpingkal-pingkal melihat bocah ini.

“Ini tiga bukan empat, kalau tiga seperti ini” aku menurunkan jari manisnya dan menjadikan tiga jari yang terangkat ke atas.

“Ya, 3 es krim!” ia masih melakukan hal yang sama.

“Kau masih melakukannya!”

“Hehe, jari yang ini tidak mau ditekuk noona” ujarnya sembari menyengir.

Noona hanya akan membelikan satu, jika kau memakan terlalu banyak es krim maka kau akan menjadi siluman es krim. Apa kau mau?”

Noona sama dengan appa. Appa sering kali menyebutkan siluman es krim dan Bummie tidak takut, es krim itu lucu” Aku menggaruk kepala belakangku, anak ini pintar sekali.

“Kau bisa sakit perut”

“Tidak, bahkan terakhir kali Bummie makan 5 bungkus es krim”

“Yasudah, tunggu disini dulu” lama-lama aku dibuat kesal oleh bocah ini, ada saja kalimatnya untuk membalas ucapanku dan aku terpaks membelikannya tiga bungkus es krim, semoga ia tidak sakit dan ayahnya tidak akan menuntutku.

*

“Wah, es krimnya enak noona” pujinya padaku sembari menjilat-jilat es krim miliknya. Aku memandangi bocah ini sembari tersenyum, ia sangat tampan dan pipinya sangat besar sepertinya benar ia sering memakan es krim setiap hari. “Noona jangan melihatiku, nanti noona naksir padaku” tegurnya dengan sangat narsis, bocah ini.

“Uh, noona tidak akan tertarik dengan bocah kecil sepertimu”

“Oh ya? Apa noona tertarik menjadi pacar Appa?” apa-apaan pertanyaannya, bocah kecil dibawah umur 5 tahun bisa menanyakan hal yang seperti ini? Apa yang ayahnya ajarkan?

Mwo? Siapa yang mengajarkanmu berbicara seperti itu?” tanyaku tergagap.

Nae Appa”

“Bummie!” aku dan bocah kecil tadi menoleh saat mendengar suara berat itu, aku seperti mengenalinya. Suara berat yang selalu memanggil namaku dulu.

“Sehun!”

“Appa!” lontar kami bersamaan, jadi ini appa-nya? Apa ini Bum Geum putraku? Aku menoleh pada bocah lelaki disebelahku dengan mata berkaca lalu menatap Sehun yang terpaku melihatku sedangkan Bum Geum terlihat gugup dengan menyembunyikan es krim miliknya.

*

“Yoona” aku mendengarnya memanggil namaku lagi, Sehun. “Kau sejak tadi bersama Bum Geum?” tanya Sehun, aku tak berani menjawab apapun. Setelah sekian lama tidak bertemu aku menjadi gugup saat berbicara dengannya atau ini karna efek lain?

“Aku mencarimu dari dulu” lanjutnya, aku lebih memilih menghiraukan ucapan Sehun dan hanya memperhatikan putraku melahap es krim ketiganya. Ia terlihat lebih bersemangat setelah Sehun tidak memarahinya saat ketahuan memakan es krim.

“Apa kau sudah puas Bummie?” tanyaku yang masih menghiraukan Sehun.

Ne, sangat puas” Bum Geum tersenyum lebar yang membautku ingin memeluknya saat itu juga, putraku tumbuh dengan baik atas asuhan Sehun. Aku sangat senang mengetahuinya, percayalah bahwa aku sangat menyayanginya walaupun aku baru bertemu setelah melahirkannya empat tahun yang lalu.

“Bummie senang bermain dengan Ahjumma ini?” kini Sehun bertanya pada putranya dan Bum Geum mengangguk cepat, aku tersenyum setelah mengetahuinya.

Appa, bagaimana kalau noona menjadi pacar appa?” tanya Bum Geum dengan bersemangat, ia tampaknya sangat senang dan aku pantas tersenyum akan kebahagiannya.

“Maksudmu ahjumma ini?” tanya Sehun sembari melirikku.

Ne! Katanya ia tidak naksir padaku saat aku menawarkan Appa menjadi pacaranya noona hanya diam” Sehun setelah itu tersenyum melihatku, kemudian ia mengusap bahuku.

“Apa kau mau menjadi ibu Bum Geum?” tanya Sehun, aku sama sekali tidak melihatnya. Perjanjian beberapa tahun lalu kembali terlintas dikepalaku. Sehun saat itu ingin menyewa rahimku untuk mengandung anaknya dan sekarang ia memintaku untuk menjadi ibu dari anaknya.

“Katakan mau noona” seru Bum Geum dengan meloncat-loncat dari tempatnya.

“Kita bisa membicarakannya nanti Hun, aku harus pulang” Aku memilih berdiri dari kursi taman ini untuk meninggalkan keduanya, aku merasa tidak pantas disana, aku terlalu buruk untuk menjadi ibu dari Bum Geum.

“Kau tidak ingin menghabiskan waktu dengan anakmu?” Sehun melirik Bum Geum yang menatapku dengan mata bulatnya yang berbinar.

“Apa itu boleh?”

“Kau lupakan perjanjian kita yang dulu dan tentu saja kau bisa bermain dengan putramu, putra kita” perkataan Sehun membuatku ingin menitikkan air mata saat ini juga, aku terharu pada ucapan Sehun. Aku ingin memeluk Bum Geum saat ini juga.

Eomma menyayangimu Bummie”

“Apa kau eomma Bummie?” aku hanya bisa mengangguk dengan ia didalam pelukanku, ternyata ini hangatnya saat memeluk putramu sendiri dan Sehun beruntung bisa bersama Bum Geum 4 tahun terakhir ini.

“Iya, dia eomma-mu yang selalu kau cari”

“Yeeee! Bummie punya eomma” sorak Bum Geum lalu mengecup pipiku sekilas. “Bummie sayang pada eomma” ia kembali memelukku, aku sangat senang bahkan ini melebihi kata senang jika ada yang mendeskripsikan kata-kata itu.

“Boleh appa bergabung?”

“Tentu saja, appa ayo peluk Bummie dan eomma” aku tidak bisa menghentikan Sehun memeluk kama berdua, ya, kami bertiga berpelukan di sebuah taman saat matahari tepat tiba di ufuk barat. Adakah hari yang lebih menyenangkan daripada hari ini? Sungguh, aku sangat senang.

FIN for Yoona Version

Selanjutnya mau dari viewnya siapa? Bum Geum atau Sehun?

50 thoughts on “(Freelance) Threeshot : Why? (Yoona Version)

  1. Oow, so.sweet banget. Liat keluarga kecil nya yoona sama sehun. Tapi kapan sehun mau nikahin yoona? Aku penasaran. Daebak thor

  2. hwwaaaaaa .. Untung ad lanjutannya .. Akhirnya mreka bisa berkumpul bersama .. AWalnya kasian sama bum geum krna dia besar tanpa yoona .. Untung sehun bisa ngerawat bum geum dgan baik .. Dan pasti bum geum lucu banget .. Pengen dbuat dr sisi sehun dong thor .. Mksih yaaaa ..

  3. So sweet.. Awalnya sih rada nyesek. Tapi ternyata akhirnya mereka ketemu satu sama lain. Lucu anaknya ya, imut kaya aku -_- Next..Sehun dulu deh, buat YoonHun jatuh cinta. Nah part terakhir BumGeum side😀 Ho ho

  4. Akhirnyaaa…. ada squelnya… senenggg bgt… loncat2 dipelukan sehun n baekhyun..hehe… mw view yg mana aja dah yg pnting ok.. apalg klo beum geum dbikinin adek baru..hehe..pst seruuuu… kutungu thor.. fighting!!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s