(Freelance) Before Sunrise

before sunrise2

Poster :  Park Nukyeon {Thanks!} 

Before Sunrise 

Written by Nikkireed

Casts

Lu Han and Im YoonA with Oh Sehun 

Yoona sudah berdiri sekitar 8 menit di balkon lantai 2 rumahnya. Ia memakai gaun putih selutut dan tanpa lengan dengan kerah pita yang terkesan manis. Ia tersenyum memandang kejauhan.

Luhan sedang mencuci mobilnya di halaman depan sambil menatap Yoona dari tempatnya. Entah mengapa Luhan sudah berkali-kali mencuri pandang untuk melihatnya tapi Yoona sama sekali tidak membalas tatapan Luhan. Apa karena Luhan hanya memakai kaus lusuh dan celana pendek, sehingga Yoona kurang tertarik melihat Luhan? Atau karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya di kejauhan sana? Entahlah.

Akhirnya Luhan mengikuti arah pandangan Yoona. Dari yang Luhan lihat, Yoona melihat ke arah jalan keluar komplek perumahan. Apa yang begitu menarik sehingga Luhan yang memandangnya dari bawah sini tidak dihiraukannya?

Yang Luhan tahu, Yoona bersama orangtuanya adalah penghuni rumah baru di sebrang rumah Luhan. Ia sudah pindah sekitar tiga hari yang lalu tapi Luhan belum sempat berkenalan. Ibu Luhan pernah menyuruhnya untuk mengantarkan kue selamat datang untuk keluarga Im tapi karena Luhan terburu-buru menuju tempat latihan, Luhan menolak.

Yoona masih tersenyum. Rambut coklat hazel-nya tergerai dan angin pagi bertiup ke arahnya sehingga rambutnya sedikit tertiup menampar pipi meronanya. Ia juga tidak menghiraukan rambut-rambutnya yang mengganggu pemandangannya.

“Luhan, kau melamun?” Eomma – Ibunya tahu-tahu sudah berdiri di depannya, melambai-lambaikan tangannya di depan mata Luhan. Luhan terkaget dari penglihatannya.

Eomma!”

“Kau memandangi siapa?” Eomma mengikuti arah pandang anaknya. Luhan langsung berbalik, ketahuan sedang menatap Yoona di rumah sebrang itu rasanya…….

“Oh, Yoona. Kau sedang menatap Yoona? Sampai melamun begitu? Aigoo.” Ibunya berjalan mengikuti Luhan. Luhan sudah menyalakan pipa air untuk menyemprotkan air ke mobilnya. Baru disadari mobilnya ternyata sudah selesai dicuci, entah sudah berapa Luhan melamun memandang Yoona diatas itu.

“Yoona?” – Jadi namanya Yoona? batinnya.

“Benar. Putri keluarga Im yang baru pindah itu.” Jelas Eomma sambil melipat tangan di depan dada memandangi anaknya menyemprotkan air ke mobil yang jelas-jelas sudah bersih.

“Kau sudah tau?” Tanya Luhan sedikit penasaran.

“Tentu saja. Kau sendiri yang menolak untuk mengantarkan kue kemarin. Sudahlah, ayo masuk kita sarapan.” Ajak Ibunya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

“Ish, Eomma! Aku sedang terburu-buru untuk pergi ke tempat latihan kemarin.” Jawab Luhan yang sudah tidak didengar ibunya.

Luhan akhirnya mematikan kran air dan menggulung pipa air itu tersebut. Matanya kembali menatap ke arah balkon tersebut, tapi Yoona sudah hilang.

Dengan asal Luhan mengelap tangannya di celana dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Hyung, aku pinjam skateboardmu.” Sehun berteriak dari kamar Luhan, dengan cepat Luhan membuka pintu kamar. Sehun sedang mengobrak-abrik isi lemari.

“Ambil saja.” Jawab Luhan cuek begitu masuk ke kamar. Luhan menghempaskan diri di kasurnya, memandang langit-langit kamar.

Hyung, kau kenapa? Biasanya kau selalu marah jika aku meminjam skateboardmu.” Sehun sudah duduk di sebelah Luhan memegang skateboard. Skateboard ini hadiah dari Seohyun waktu Luhan ulang tahun kemarin. Skateboard berwarna hitam dengan corak berwarna hijau stabilo bertulisan WOLFM.

Sehun memandangi skateboard yang ia pegang, “Aku tidak jadi pinjam deh, Hyung.”

Luhan terbangun dari kasurnya. Memandangi Sehun yang berubah menjadi aneh setelah menatap skateboard ini. “Waeyo?”

Sehun menatap hyung-nya seperti merasa bersalah, “Aku mengingatkanmu pada Seohyun Nunna ya?”

Luhan terkaget dengan jawaban Sehun. Apa Luhan baru saja bernostalgia moment-momentnya bersama Seohyun? Apa Luhan terlihat seperti baru saja mengingat Seohyun? Apa Luhan terlihat seperti pecundang yang tidak berani mengaku bahwa ia memang sedikit merindukannya? Bahkan sebagai seorang teman, bukan mantan pacar? Entalah.

Luhan menggeleng dan tersenyum, “Tidak.”

Sehun bangkit berdiri dengan tiba-tiba, “Kalau begitu, ayo ikut aku. Kita bermain skateboard di lapangan komplek sana.” Ajaknya sambil menarik tangan Luhan.

Reflek Luhan kaget karena Sehun mengajaknya berdiri dan menarik tangannya. “Sehun, tunggu. Baik, tunggu aku diluar.”

“Aku menghitung sampai sepuluh jika kau tidak keluar, kau harus mentraktirku bubble, yaksok, Hyung?” Sehun berjalan menuju pintu sambil membawa skateboard itu.

Luhan tersenyum lalu beralih menggambil sepatu dan jaket serta memakai topi kenzo kesayangannya. Ia juga sempat mengaca memastikan tidak ada apa-apa dengan wajahnya lalu keluar dari kamar menyusul Sehun.

Begitu Luhan mengejar Sehun keluar dari rumah, Yoona juga sedang menutup pintu. Saat Luhan memandanginya dari jauh, Yoona bahkan tidak melihatnya. Apa Luhan setidak-kelihatannya begitu?

Sehun menengok ke belakang memastikan hyung-nya masih mengejarnya. Lalu ia berhenti begitu melihat Luhan sedang menatap Yoona.

Hyung?” panggilnya, Luhan yang masih memandang Yoona. Ia cantik. Cantik sekali.

Hyung?” Sehun kembali memanggil. Dan kali ini Luhan tersadar ia kembali tersihir sedikit melamun saat menatap Yoona.

“Hah?” tanyanya pada Sehun, Sehun bahkan sudah berada disamping Luhan.

“Kau sedang melihat Yoona Nunna?” pertanyaan Sehun membuat Luhan melihat ke arahnya. Bahkan Sehun sudah mengenalnya.

“Kau mengenalnya?”

Sehun mengangguk sebentar, “Kemarin Eomma mengajakku untuk mengantarkan kue ke rumahnya.”

Sepersekian detik Luhan menyesali penolakannya untuk mengantarkan kue kemarin. Jadi semua orang mengenalinya kecuali Luhan?

“Dia cantik.” Renung Luhan tanpa sadar, masih menatap yeoja itu yang berjalan keluar dari halaman rumahnya, membawa stick kecil.

“Hmm. Tapi dia buta, Hyung.” Sehun berbisik di telinga Luhan dan menutup dengan tangannya.

Mata Luhan yang terbelalak melihat stick kecil yang Yoona ayunkan berubah menjadi tongkat yang agak panjang sekitar 1 meter. Lalu ia berjalan dengan dibantu tongkat tersebut.

Pernyataan Sehun membuat Luhan kaget bukan main. Ia langsung melihat Sehun memberikan tatapan *BENARKAH?*

Sehun mengangguk lagi lalu mendekat di telinga Luhan, “Dari lahir.”

Kenyataan ini membuat Luhan merasa hening. Melihatnya berjalan sendiri dan dibantu dengan tongkat ajaib itu, membuat Luhan merasa semakin tersihir.

Ohooooo! Itu sebabnya ia tidak merasa tidak terganggu saat aku menatapnya dari bawah. Dan itu sebabnya mengapa ia tidak membalas tatapanku. Bukan karena aku tidak terlihat atau kenyataan bahwa aku tidak menarik. Tentu saja, banyak dongsaeng dan sunbae di kampus yang masih mengincar nomor teleponku, dan beberapa fans yang terhitung ekstrim mengirimiku kado di lockerku. Batin Luhan berbicara pada dirinya sendiri.

“Aku belum mengenalnya.” Jawab Luhan masih menatap Yoona. Ia berjalan ke jalan setapak. Entah karena kesalahan apa, ia sedikit terjengkal dan hampir jatuh. Detik itu juga Luhan bergerak seperti ingin menahannya agar tidak sampai terjatuh.

Melihat reflek hyung-nya yang aneh, Sehun menahan tawanya. “Ayo, Hyung, kuajak kau berkenalan dengannya.” Sehun menarik tangan Luhan seperti yang ia lakukan tadi.

“Apa?”

Mereka hanya perlu menyebrang jalanan sepi lalu sampai dihadapan yeoja itu. Bahkan kecantikannya lebih terlihat jika berjarak dekat. Yoona memiliki mata yang berwarna coklat pekat. Astaga, kenapa Tuhan tega menciptakan yeoja secantik ini tapi buta?

“Yoona Nunna?” Sehun memanggilnya begitu mereka sudah berada di hadapannya. Sempat ia berhenti dari langkahnya.

“Eh?”

Nunna, Aku Sehun yang kemarin datang kerumahmu bersama Eomma. Luhan Hyung ingin berkenalan denganmu. Kemarin ia tidak sempat berkenalan denganmu.” Sehun membuat Luhan mati gaya. Apa-apaan ini.

Luhan tersenyum canggung. Walaupun ia tersipu malu semacam anak gadis yang baru berkenalan dengan oppa, ia tidak bisa melihatnya.

Yoona menatap ke arah Luhan, tapi tidak ke arah pastinya. “Oh annyonghasseo. Im Yoon imnida.” Ia membungkuk dan tersenyum.

Luhan juga sedikit menunduk. “Luhan imnida.”

Nunna mau pergi kemana? Aku dan Luhan Hyung ingin bermain skateboard di lapangan komplek sana.” Bodohnya Sehun adalah menunjuk ke salah satu arah yang jelas-jelas ia tidak lihat.

“Oh, aku hanya ingin berjalan-jalan saja.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Kalau begitu ikutlah dengan kami.” Sehun langsung mengajak tanpa basa-basi.

Sehun sedang berlatih skateboard dengan Jong-in dan Chanyeol. Luhan duduk di ujung lapangan dibawah pohon, menemani Yoona.

“Hmm, Luhan-ssi?”

Luhan mendongak ke arah Yoona yang duduk di sebelahnya, tangan Yoona memainkan stick ajaibnya yang sekarang berubah menjadi pendek.

“Berapa umurmu?” tanyanya pelan disertai senyum indahnya.

“Aku? Oh ya, a.. aku 24.” Jawab Luhan sedikit terkejut mendapatkan pertanyaan mengenai umur dari seorang yeoja.

Jinjja? Aku juga 24. Sehun?” Ia sedikit tertawa mengetahui Luhan berumur sama dengannya.

“Sehun 20.” Jawab Luhan singkat.

“Sehun tidak terlihat seperti 20 ya.”

Sepersekian detik Luhan mencerna kalimat barusan yang Yoona lontarkan. Terlihat.

“Apakah ia tidak seperti bocah berumur 20 tahun?” Tanya Luhan sedikit canggung. Tidak ingin menggunakan kata terlihat.

Yoona menangguk cepat, “Ne. Aku melihatnya seperti lebih tua dariku.”

Kali ini kecurigaan Luhan memuncak. Yoona buta. Menggunakan stick ajaib untuk membantu berjalan. Tapi sekarang ia bercanda menggunakan kata terlihat tanpa merasa errrrrr sesuatu.

“Kau… melihatnya?” Tanya Luhan dengan pelan seperti angin, dengan sangat hati-hati.

Yoona tertawa keras. Apa Luhan terlalu serius?

“Ya, Luhan-ssi. Tentu saja aku melihatnya.”

Hening.

Yoona masih berbicara tanpa menatap Luhan, “Aku memang buta. Tapi dulu.”

“PRK. Aku menderita penyakit PRK.”

Mereka sedang berjalan pulang. Sehun dan teman-temannya sudah berjalan terlebih dahulu. Entah karena alasan apa, Sehun pulang meninggalkan Luhan dengan Yoona.

Ne?”

Mereka berjalan bersampingan dengan pelan. Rok yang dikenakan Yoona sedikit tertiup karena angin. Satu tangannya memegang tongkat stick sedangkan roknya sedikit tertiup angin. Ia ingin menahan roknya dengan tangan tapi sticknya bagaimana. Melihatnya begitu risih, Luhan melepaskan jaketnya dan Yoona menerima jaket tersebut. Lalu ia memakaikan dipinggangnya untuk menahan roknya agar tidak terlalu tertiup angin. Gentleman.

Gumawo.” Yoona tersenyum walaupun matanya tidak sepenuhnya tertuju pada Luhan.

Luhan hanya mengangguk dan tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan.

“PRK itu Photorefractive Keratectomy. Cacat kornea. Aku buta dari lahir dan Eomma-Appa mencari cara bagaimana agar aku bisa melihat.” – Yoona terdiam sebentar.

Lalu ia tertawa bergemerincing memenuhi jalan setapak ini.

Ia melihat ke arah Luhan lagi, tapi tidak jelas melihat ke arah Luhan.

Waeyo?” tanyanya bingung, tatapannya sedikit seperti mengejek.

“Aku sudah tidak buta sekarang. Hanya cacat bagian kornea. Buram. Aku melihat segalanya blur.”

“Kau.. Kau bisa melihat?” Luhan sedikit terkejut. Itu berarti Yoona melihat Luhan salah tingkah saat ingin berkenalan dengannya.

“Ya. Walaupun tidak jelas. Itulah mengapa Appa masih menyuruhku menggunakan stick ini.” Yoona mengayunkan tongkat ajaibnya itu.

“Karena kau masih belum bisa melihat dengan jelas?”

“Benar. Appa takut aku terjatuh jika berjalan tanpa tongkat seperti ini. Walaupun sebenarnya tidak perlu.” Ia menjatuhkan tongkatnya. Luhan tersontak kaget dan berhenti.

Karena Yoona memakai rok tidak mungkin ia berjongkok dan errrrrrrr. Luhan mengambilkan untuknya tapi saat ia ingin memberikan tongkat tersebut kepada Yoona, ia malah berjalan dengan lancar. Atau mungkin karena jalan ini lurus jadi Yoona tidak perlu menggunakan tongkat untuk membantunya?

Satu pikiran Luhan saat melihatnya berjalan tanpa bantuan tongkat ini adalah bahwa Yoona akan baik-baik saja atau mungkin ia sedang dalam masa terapi tanpa menggunakan tongkat. Tapi SALAH!

Yoona terjatuh karena tersandung. Luhan secara reflek langsung berlari mengejarnya saat ia tengah terduduk di jalanan. Lutut Yoona sedikit berdarah.

“Yoona? Kau berdarah.” Seru Luhan sedikit panik.

Jinjja?” Yoona tersenyum tanpa merasa kesakitan sedikitpun menyentuh bagian lututnya yang tidak berdarah.

Jadi Luhan yang sedikit menyeka darah segar meluncur dari lututnya. “Yoona? Sebaiknya kita cepat pulang. Kau berdarah.” Ulangnya sekali lagi.

Luhan membantu Yoona bangkit berdiri dan kami berjalan pulang dengan cepat.

Luhan baru saja mengenal Yoona kurang dari 12 jam. Dan kecelakaan kecil ini membuat Luhan merasa bersalah. Setelah Luhan mengantarkan Yoona pulang ke rumahnya dan merasa bersalah karena Eomma-Appa-nya Yoona khawatir. Mereka tidak memarahi Luhan tapi mereka malah meminta-maaf karena merasa Yoona merepotkannya, yang jelas-jelas tidak.

“Kau darimana saja, Hyung?” Suara Sehun, begitu Luhan pulang kerumah.

“Yoona-ssi terjatuh. Jadi aku mengantarnya pulang.” Jelas Luhan lalu duduk di meja makan. Tidak terasa sudah waktunya untuk makan malam.

Meja makan untuk delapan orang sudah terisi dengan Appa, Eomma dan Sehun. Ditambah dengan makanan diatas meja. Luhan duduk melepaskan topi.

“Kau sudah bertemu dengan Yoona?” tanya Eomma-nya begitu datang dengan sepiring besar ayam goreng.

“Ayam goreng dan bir?” Sehun bersemangat mengambil ayam goreng di atas meja.

Ye. Baru saja.” Jawab Luhan pendek.

“Tanpa bir, Sehunnie tanpa bir.” Jawab Appa-nya sedikit tertawa.

“Luhan Hyung boleh minum bir? Aku sudah 20 tahun, Appa.” Sehun mengeluarkan gelagat manjanya.

“Belum saatnya.” Eomma menambahkan kalimat Appa untuk Sehun. Lalu Ibunya mendongak ke arahnya lagi, “Lalu bagaimana Yoona bisa terjatuh? Kau tidak tahu ia buta?” Eomma mengecilkan suaranya.

Luhan hanya mengangguk. “Aku tahu. Bukan buta.” Ia melihat ke arah Sehun. “Ia sudah tidak buta. Tapi hanya cacat kornea.” Sebal karena Sehun memberitahu Luhan bahwa Yoona buta dan ia sudah terlanjur salah tingkah di depan Yoona. Sehun hanya terkikik tanpa dosa.

“Sudah sudah. Ayo kita makan.” Ucap Appa memecahkan suasana sambil mengambil ayam goreng.

Hyung, kau masih memikirkan Seohyun Nunna?” Sehun masuk ke kamar Luhan tanpa mengetuk.

Ia sedang bersandar di kepala ranjang dengan kacamata baca dan buku di pangkuan. “Ani.”

“Lalu mengapa kau masih terlihat..” – Sehun mencari kata yang tepat, “bingung?”

“Apa aku terlihat bingung?” Luhan melepaskan kacamatanya dan menutup buku dengan pembatas. Sehun berjalan menuju meja belajar dan duduk di kursi.

“Entahlah, Hyung. Kau tahu, aku dan Eomma kurang suka kau dengan Seohyun Nunna. Aku tahu ia can—“

“Sehunnie. Aku dan Seohyun toh sudah tidak ada apa-apa lagi.” Potong Luhan sambil merebahkan diri masuk ke dalam selimut nyamannya.

Keure. Lagipula sekarang sudah ada Yoona Nunna. Iya kan?” Sehun bangkit berdiri dan ada perubahan dalam nada suaranya. Seperti lebih ceria.

“Aigoo, Sehun. Aku belum ada apa-apa dengannya.” Jawab Luhan dari dalam selimut.

Sehun berjalan menuju pintu, “Belum, bukan berarti tidak.”

“Ya Sehun! Aku—“ Luhan keluar dari selimutnya, ingin memaki Sehun tapi, “Selamat malam, Hyung.” Potong Sehun lalu melesat keluar dari kamar.

“Apa cita-citamu, Luhan-ssi?” Yoona bertanya dengan penuh keingintahuan.

Mereka sedang berjalan menyusuri pantai Eurwangni. Tinggal di tengah-tengah kota Seoul dan Incheon bukan menjadi alasan mereka tidak mengunjungi pantai indah ini. Dan karena liburan musim panas, pantai ini menjadi tempat favorit liburan.

Karena Sehun bersikeras mengajak keluarga Im, maka ikutlah mereka.

Sekarang belum sepenuhnya pagi. Sekitar pukul 04.00 pagi. Karena mereka tidak menyewa hotel dan hanya bermaksud untuk menginap semalam, Appa-nya Luhan membawa tenda.

Luhan sudah bangun karena Appa dengan Ahjussi Im ingin memancing katanya. Setidaknya untuk mencari kerang. Yoona sudah terbangun. Sedangkan Eomma dan Ahjumma Im sedang sibuk menyiapkan sarapan sederhana di luar tenda. Hanya Sehun yang masih tertidur pulas di tenda.

Eomma menyuruh mereka mencari kayu disekitar pantai. Dan disinilah mereka berdua.

“Oh aku.. aku..” Selalu kaget dengan pertanyaan Yoona. Matinya, Luhan belum tahu pasti apa cita-citanya.

“Aku ingin menjadi nahkoda. Aku selalu bermimpi suatu saat aku akan membawa kapal berlayar. Entah kapalku atau kapal siapapun. Aku ingin melihat matahari terbit dan terbenam dari atas kapal.” Jawab Yoona sambil sedikit menerawang, melihat ke arah pantai dan ombak-ombaknya.

“Nahkoda? Pelaut?” Tanya Luhan sangat terkejut. Deburan ombak ditambah angin sejuk tidak menyadarkan kekagetannya atas jawaban Yoona.

Ne, nahkoda. Pelaut.” Ia menjawab dengan serius disertai anggukkan bersemangat.

Luhan memunguti beberapa potong kayu yang pendek-pendek.

“Jika suatu hari aku berhasil berlayar sebuah kapal, kau harus ikut menjadi penumpangnya, eoh?” Yoona tertawa.

Luhan hanya tersenyum mengangguk menerima tawaran Yoona sambil membayangkan ia berlayar membawa kapal.

Yoona ikut memunguti kayu yang ia rasa seperti kayu. Lalu ia terhenti.

“Matahari terbit itu seperti apa?” tanya Yoona tiba-tiba lagi, “Matahari yang kulihat adalah setitik warna orange dan blur. Aku sangat ingin melihat matahari terbit yang sesungguhnya.”

“Kau akan melihatnya segera, Yoona.” Jawab Luhan dalam hati.

Dear all readers, aku kembali dengan ff-ku ini. Setelah dipikir, aku
ga perlu out dari dunia nulis cause it’s all about hobby.Dan hobi itu
ga bisa ditahan-tahan. Iya kan?
Mengenai masalah inspirasi, I’ll found it anyway. But still Luhan my
bias, my inspiration.
Ini ff asli dari otakku. Cerita bebas ngarang, hehehehe.
Maaf hanya sepanjang ini.
Still wait for ya’ll comments.
XOXO, nikkireed

30 thoughts on “(Freelance) Before Sunrise

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s